-3- Bunga Layu Saat April

Episode sebelumnya di sini.

***

“Tumben lo ngajak gue ngafe, Del.”

“Eh…akhirnya dateng juga lo. Kapan sih bisa on time?”

“Ngapain sih on time kalo ngaret pun lo masih nungguin gue?” Aku melempar satu sachet brown sugar ke arah Damar. Lelaki itu seringkali memang kurang ajar, tapi setidaknya aku selalu bisa tertawa saat bersamanya.

“Mau pesen apa?”

“Ngga ah, minta punya lo aja.”

“Dasar kere.” Sahutku menggoda, yang ditanggapinya dengan tertawa renyah.

“Lo kek murung gitu sih Del akhir-akhir ini?”

“Masa sih? Perhatian juga ya lo sama gue, gue mesti bilang wow sambil koprol ngga?”

“Au ah…”

“Deu…ngambek, PMS ya lo?” tanyaku, yang dijawabnya dengan melemparkan si sachet brown sugar tadi ke arahku. Detik berikutnya Damar mengacak-ngacak rambutku gemas, lantas kami tertawa, seperti biasanya.

“Lo lagi ada masalah? Apa lagi jatuh cinta?”

“Mmm….jatuh cinta pun bisa jadi masalah kan Mar?”

“Yaa… itu mah pilihan lo sendiri, mau dibikin masalah atau ngga.” Damar menatapku, rambutnya yang dibiarkan acak-acakan selalu membuatnya seperti berandalan yang tampan. Eh…bukannya para gadis lebih suka cowok bertambang bad boy seperti dia ya? “Jadi lo lagi jatuh cinta sama siapa?” Pertanyaan Damar membuatku kembali mengaduk-aduk kopi yang mulai mendingin.

“Lo pernah ga sih kepengen mati?”

“Apa? Lo nyimeng lg ya Del?”

“Sialan lo. Gue kan udah tobat.” Kataku sedikit kesal, “Kalo gue mati pas kecelakaan waktu itu, mungkin hidup gue ga akan serumit sekarang.” Damar menatapku tak berkedip.

“Heh, ngomong apa sih lo. Udah bagus lo bisa bangun dari koma, malah kepengen mati.” Ada kilatan marah dari mata Damar saat mengatakan kalimat itu. Apakah dia betul-betul marah saat aku bilang aku ingin mati?

“Ada yang lo ga tau Mar.”

“Misalnya?”

“Misalnya di kecelakaan itu gue nyelakain orang, sampe kakinya kudu diamputasi dan sekarang gue berhutang selamanya sama dia.”

“Kok gue bisa ngga tau urusan ini ya?” Damar terlihat tidak suka aku menyembunyikan rahasia ini darinya.

“Lo tau sendiri lah Mar, bokap nyokap gue.” Damar mengangguk-anggguk. Dia sudah maklum papa mama-ku adalah duo pengusaha-pejabat yang tidak mungkin membiarkan anaknya terlibat semacam skandal, walaupun rasanya kasusku ini tak bisa juga disebut sebagai skandal, bukan? Tapi aku bersyukur Damar sepertinya bisa mengerti kenapa aku tidak memberitahunya sejak awal, matanya kembali tenang menatapku.

“Jadi?”

“Jadi cewek itu, yang ga sengaja gue tabrak dan sekarang harus bergantung di kursi roda itu, tinggal di rumah villa kami di Bandung sekarang.”

“Terus?”

“Gue ngga tau lah kesepakatan bokap nyokap sama si Kak Seruni ini gimana detailnya, tapi sebagai biang kerok, gue terlanjur berjanji sama dia akan melakukan apapun yang bisa gue lakukan buat dia.”

“Mmmh…pantes aja lo kepengen mati.” That’s it! Damar selalu bisa mengerti aku. “Lagian ngapain sih janji kek gitu segala?”

“Udahlah Mar, itu ngga penting lagi kan?”

“Emang apa yang mesti lo lakukan buat dia?”

“Menyelidiki mantan pacarnya. Lebih tepatnya, mencari tahu siapa nama ayah lelaki itu.”

“Wow… Jadi detektif maksudnya?”

“Semacam itulah.”

“Ah, gue tau. Dalam misi ini, lo malah jatuh cinta beneran sama si cowok mantan pacar cewek itu ya? Ish…belibet amat ya kalimat gue.” Damar menertawakan dirinya sendiri. Aku menertawakan dia yang sedang tertawa. Sejak kapan aku seperti buku terbuka yang mudah dibaca bagi Damar, ya? Aku menatap Damar heran. Tawa kami terhenti saat Damar menatapku, tampang seriusnya terlihat lucu.

“Kok serius amat tampang lo, Mar.”

“Siapa cowok itu Del?”

“Namanya Bramantyo al Ghani.”

“Serius? Pemain basket terkenal itu?” Aku mengangguk cepat, tidak menyangka Damar ternyata tahu mas Ghani, setahuku dia suka sepak bola, bukan basket. “Jadi lo jatuh cinta sama si Bram itu?”

“Mas Ghani, gue manggil dia mas Ghani.”

“Mas Ghani??” Rahang Damar mengeras, dan semoga cuma perasaanku saja dia bertanya dengan intonasi tinggi. “Lo…lo jatuh cinta sama si mas Ghani itu?” Damar menatapku dengan kilatan aneh yang tidak bisa aku mengerti. Kenapa dia seperti marah begitu?

“Mungkin…entahlah…” jawabku tidak yakin setelah terdiam beberapa saat. Melihat Damar –yang sepertinya- marah membuatku bingung. Ada yang tak biasa dari sikapnya sore ini, dan aku tidak suka. Aku ingin Damar sahabat kecilku yang biasanya, yang selalu bisa membuatku tertawa, yang selalu menghiburku, yang akan bilang semua baik-baik saja.

“Sorry Del. Gue cabut dulu ya. Lupa kalo gue punya janji lain.”

“Hah? Apa-apain lo Mar? Gue yang nungguin lo telat trus sekarang mo duluan cabut kek gitu?” Aneh sekali sikap Damar hari ini, tidak mungkin ‘kan dia betul-betul PMS??

Damar tetap beranjak, tidak peduli padaku yang terkejut dan kesal. Berjalan tergesa menuju pintu keluar. Untuk kemudian berbalik lagi menghampiriku detik berikutnya.

“Delia, ini bulan April ‘kan?” Aku hanya mengangguk walau tidak mengerti, sekarang dia juga amnesia tidak tahu ini bulan apa? “Lo masih nyimpen bunga edelweiss yang gue kasih waktu lo baru bangun dari koma itu?” Lagi-lagi aku mengangguk, masih dalam ketidakmengertian yang sama, edelweiss itu masih –dan akan terus- menghiasi kamarku.

“Kenapa Mar?”

“Sepertinya sekarang bunga itu sudah layu…” Damar bergumam pelan, dan betul-betul melangkah ke luar café meninggalkan aku yang termangu. Aku sungguh tak mengerti sejak kapan edelweiss, yang konon adalah perlambang cinta abadi itu, bisa layu, terlebih di bulan April, waktu dimana dia biasanya muncul.

Café terasa lebih sepi saat aku merasa sendiri.

Bersambung…

***

Note : 830 kata

Panjang bangeeeed, coz judulnya susah. Ralat, maksudnya susah nge-adjust si cerita biar nyambung sama judul hihihihi *balada penulis amatir* 😛

14 thoughts on “-3- Bunga Layu Saat April

  1. Okeh…rahasia mulai terkuak *jyaaaahh* lanjod ya teh orin 😉
    Gk mau nebak ah *walopun gatel mau nebak*, nunggu crita sambungannya aje hihihii
    ___
    masalahnya adalah, aku jg ga bs nebak lanjutannya gmn hahahaha

    Like

  2. Seru-seru-seruuuu…. Bakalan ada tokoh baru lagi gak yaaa?
    Dirimu keren Rin bikin ceritanya. Nyambunginnya baguus bener.
    ___
    heuheuheu…. tengkyu lho Dan apreasiasinya^^

    Like

  3. mba orin kuncinya apa bisa bikin cerpen keren kaya gitu?
    ceritanya pada nyambung, di tunggu cerpen-cerpen barunya mba 🙂
    ___
    Waduh…saya jg masih belajar mas, sering latihan aja kali ya kuncinya he he.
    Terima kasih apresiasinya^^

    Like

  4. hmm aku bs merasakan ‘kegalauan’ teteh saat menentukan isi cerita dg judul di atas, meski terkesan ‘maksa’ di ending tp openingnya bagus 😀

    tinggal bingung deh gmn nyambungin bunga edelweis yg layu dg next story 😀
    ___
    Tokoh si Damar ini dipaksakan bgt Sarah, mudah2an besok2 dia bisa dimunculkan lagi hihihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s