#FFRabu – Dendam Sang Istri Kedua

“Kapan kau bisa bercerai dengannya?”

Lelaki itu mengesah. “Aku mencintainya lebih dulu, bahkan jauuuuh sebelum aku mengenalmu,” tukasnya ketus.

“Oh? Aku baru sadar ternyata aku cuma istri kedua.”

“Ck!” Si Lelaki melirik perempuan di sebelahnya tak suka. Lantas dengan sengaja mengirimkan serombongan kepulan asap pada istrinya. “Lagi pula, sejak kapan kau keberatan?”

“Sejak asap-asap sialan ini membuat paru-paruku semakin membusuk!” umpatnya keras, seraya terbatuk-batuk.

“Blah! Berlebihan sekali!”

“Hei, kamu tahu kan kalau perokok pasif lebih dirugikan?”

Si Lelaki tersenyum, lantas mengulurkan rokoknya yang masih separuh. “Merokoklah, Sayang!”

Murka, Si Perempuan mengambil rokok itu, mematikan apinya, lantas mengunyahnya dengan penuh dendam.

***

Note : 100 kata, untuk tantangan menulis #FFRabu di @MondayFF

Introducing: EcoCash iSiaga!

Psssttt…ada yang punya sampah elektronik nggak sih di rumah?

Waktu kebanjiran kemarin, banyak banget tuh sampah eletronik di rumah saya hahaha. Printer, radio-tape, TV yang memang ikut-ikutan kecebur, sampai kamera saku yang ada di dalam laci pun terendam beberapa lama karena tidak ada orang di rumah yang bisa menyelamatkan mereka saat sang air itu datang. TV sih sempat diservice ya, meskipun akhirnya menyerah sajalah beli TV baru karena si TV tidak mungkin membaik seperti sedia kala. Tapi untuk barang-barang lainnya, terpaksa berakhir di abang-abang tukang rongsok yang sering kali berkeliling komplek.

Seandainya saat itu saya sudah mengenai www.iSiaga.com, mungkin membuang sampah elektronik akan lebih menyenangkan. Apa (atau siapa) mereka? Mari saya jelaskan temans.

Hari Senin lalu, bertempat di Pong me! Lounge di daerah Gunawarman, saya menghadiri acara “Media & Blogger Sharing: iSiaga ECOCASH – Turn Your e-Trash into cash”. Seperti tagline-nya the ultimate digital solution, iSiaga ini semacam one stop digital assistance gitulah ya. Komputer rusak atau ngaco? Telepon aja mereka, dan tim iSiaga akan segera datang ke rumah. Perlu website untuk bisnis online baru? Gampilll, bisa juga meminta bantuan mereka. Design dan printing juga sami mawon, mereka punya teknologi untuk bisa mencetak foto selfie kita di atas foam yang suka dijadikan topping di atas minuman itu lho hohoho.

webisiaga

Tapi dalam postingan ini, sesuai judul yang sudah saya tulis, kita akan membahas lebih lanjut tentang program Recycle mereka. Yang mengambil slogan turn your trash to cash dengan menggunakan layanan EcoCash yang mereka gagas. Buang sampah bisa dapet duit bok! *langsung ijo* hihihihi

iSiaga (sila stalk twitnya di @iSiaga), yang diwakili oleh Mas Amrit Gurbani mengatakan, dengan teknologi yang pergantiannya sangat cepat di zaman ini, maka timbul juga masalah baru: sampah elektronik yang tidak sedikit! Bayangin aja, itu si para produsen ponsel pintar, dalam satu tahun aja bisa mengeluarkan beberapa seri kan ya? heuheu. Maka EcoCash mencoba memberikan solusi dari permasalahan sampah elektronik ini. Mereka sudah punya pengepul sendiri, yang akan mendaur ulang sampah-sampah elektronik ini sehingga tidak akan mencemari lingkungan.

Tidak hanya ponsel tentu saja, sampah elektronik yang bisa mereka terima antara lain sebagai berikut, lengkap dengan daftar harga, tergantung merk dan jenis kerusakan tentunya yaa.

product we accept

Langkah berikutnya untuk EcoCash adalah sebagai berikut:

  1. Check Prices Online. Seperti dalam skrinsyut di atas, kita bisa tahu harga jual dari sampah elektronik yang kita miliki, meskipun nantinya pasti ada pengecekan ulang dari iSiaga ya. Selain via website seperti itu, EcoCash juga melayani via telpon kok, hubungi saja nomor 0812 900 900 69 atau kirimkan email di info@isiaga.com
  2. Confirm Items. Selanjutnya EcoCash akan menghubungi kita melalui telpon dan menjemput barang secepatnya. Jadi meskipun proses penjualan melalui online, untuk memastikan keadaan sampah elektronik serta lokasi pick up mereka akan menelepon lagi untuk konfirmasi ulang. Sejauh ini layanan ini baru di Jakarta dan Tangerang, lokasi lainnya akan dikenakan biaya penjemputan yang nominalnya akan langsung dideduksi dari harga sampah yang ditukar. *Semoga saja layanan ini akan lebih luas nantinya ya*.
  3. Get Paid or Donate. Setelah pemeriksaan sampah elektronik, EcoCash akan mentransfer sejumlah uang sesuai kesepakatan ke rekening kita. ATAU, kita bisa mendonasikan hasil penjualan ini. Yahh … katakanlah tukar dua buah henpon jadul yang bahkan udah nggak bisa dicharge, jumlahnya 100 ribu. Nggak berpengaruh banyak kayaknya sama jumlah saldo di rekening tabungan ya? Mendingan langsung didonasikan aja, yes?

Untuk masalah donasi inilah mas Farhan mengambil peran. Benar sekali sodara-sodara, iSiaga dengan layanan EcoCash ini bekerja sama dengan YCAB (Yayasan Cinta Anak Bangsa)-nya mas Farhan. Yayasan nirlaba yang berdiri sejak tahun 1999 ini fokusnya memang pada anak-anak Indonesia. Meskipun programnya banyak, dan hasil donasi dari EcoCash akan diperuntukkan bagi program HOPE, yaitu salah satu program @ycabfoundation bagi pengembangan wirausaha bagi perempuan daerah miskin kota.

 Jadi begitulah, selain kita bisa ikut ber-go green ria dengan me-recycle sampah-sampah elektronik, tapi juga bisa berdonasi. Ini semacam ditraktir makan bakso bonus es cincau gitu nggak sih? #eeaaa, ketauan lagi laper hihihihi.

Saya ingin mencoba sendiri nih temans, tapi 3 hari ini mencari-cari si sampah elektronik kok ya belum nemu. Mungkin harus minta ke tetangga ya hihihi. Nanti kalau sudah saya coba sendiri, mudah-mudahan akan ada postingan berikutnya agar lebih mudah step by stepnya si EcoCash ini ya.

Ya sudah, begitu dulu reportase ini sebelum terlalu panjang hehehe.

Have a nice day, Pals ;)

#FFRabu – Dijual Cepat!

“Mari kita jual saja toko ini, Nak,” kataku parau.

Anak lelakiku hanya menatapku. Seperti tidak percaya pada apa yang didengarnya, seperti tidak yakin pada apa yang baru saja kuputuskan. Aku pun bimbang, tapi tidak punya pilihan.

Suamiku terlanjur bejat. Entah perbuatan busuk apa yang sudah dilakukannya hingga dia dijebloskan ke penjara. Rumah kami juga disita, kendaraan diambil, kami mantan orang kaya yang sebentar lagi menjadi gembel.

Maka toko kelontong yang nyaris kosong ini mungkin bisa menyelamatkan kami berdua. Gegas, kuambil selembar karton, lantas mulai menulis dengan tangan gemetar.

“DIJUAL CEPAT! TOKO KELONTONG DAN SEMUA ISINYA, BESERTA SELURUH PENGHUNI DI DALAMNYA.”

***

Note : 100 kata, untuk tantangan menulis #FFRabu di @MondayFF

Tentang Telinga

Maafkanlah judulnya yang terlampau biasa hingga sulit dimengerti itu temans hihihihi.

Jadi begini, beberapa waktu lalu saya menghadiri sebuah talkshow edukasi kesehatan yang diadakan oleh SOHO Global Health #BetterU di Rumah Sakit Khusus THT-Bedah di Jalan Proklamasi 43. Rumah sakit ini letaknya persisi di seberang Tugu Proklamasi itu lho, entah sudah seberapa sering saya melewatinya. Tapi berhubung nggak pernah ngeh kalau itu namanya jalan Proklamasi (apalagi kalau ada rumah sakit di situ), teteup ya saya nyasar-nyasar dulu, sampai ke Jalan Surabaya segala hahahaha *ya udah weh sekalian liat-liat koper ya :P*.

IMG_20150305_103455

Rupanya temans, tanggal 3 Maret merupakan International Ear Care Day, untuk itulah talkshow edukasi yang kali ini bertajuk “Waspada Bahaya Ketulian Akibat Radang Telinga Tengah” ini digelar. Kami mendapat penjelasan singkat mengenai Radang telinga tengah (otitis media) atau sering disebut ‘congek’ dari Prof. dr. Zainul A. Djaafar, SpTHT-KL selaku wakil dari RS Khusus THT.

Di awal presentasi, Prof. Djaafar yang memang sudah sepuh ini sedikit mengingatkan peserta, bahwa terkadang telinga ini kehadirannya -seolah- disepelekan. Seperti ada dan tidak ada, tidak terlalu dianggap serius. Misalnya saja, kita rajin secara teratur memeriksakan gigi (meskipun tidak ada keluhan sakit), atau lumayan sering datang ke optik/dokter mata. Tapi ngaku deh, paling ke dokter THT pas annual medical check up aja kan? Saya sih begitu ya heuheu *tutup muka*.

Jadi intinya sih temans, kedua pasang telinga ini harus juga kita jaga dengan baik ya. Anugerah indah dari Sang Maha Mendengar, yang memungkinkan kita juga untuk bisa mendengar semesta beserta semua keindahannya. Mmm… kenapa jadi serius begitu? :D. Baiklah, mari kita lanjutkan lagi ke radang telinga tengah itu ya hehehe.

Peradangan ini biasanya diawali dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga bagian tengah melalui saluran eustachius. Saluran ini adalah saluran yang menghubungkan telinga bagian tengah dengan rongga di belakang hidung dan tenggorokan bagian atas. Ugh, jadi inget pelajaran Biologi waktu sekolah dulu nggak sih? hohohoho.

Otitis media rentan terjadi padi bayi dan anak-anak, jadi kalau mereka sedang mengalami ISPA dan tidak sembuh atau berlanjut, hati-hati ya temans, segera hubungi dokter THT juga. Kenapa? Karena pada saat anak-anak menderita ISPA, saluran tuba di telinga tengah yang menghubungkan dengan tenggorokan, memiliki jarak yang sangat dekat dan datar pada saat itu, sehingga resiko terkena otitis media lebih besar dibandingkan saat tubuh dalam kondisi sehat.

Prof. Djafaar menjelaskan, gejala otitis media di antaranya adalah rasa nyeri pada telinga, gangguan pendengaran, pusing, demam, gangguan keseimbangan, dan gelisah. Mencegahnya cukup mudah sebetulnya, hanya dengan menjaga kondisi kesehatan dengan berolahraga teratur, asupan gizi seimbang sehingga terhindar dari penyakit ISPA yang nantinya bisa memicu otitis media. Menjaga daya tahan tubuh serta kebersihan diri, menjaga kebersihan udara (ventilasi yang cukup, menghindari asap rokok). Pencegahan pada bayi bisa dilakukan dengan pemberian ASI minimal selama  6 bulan, serta menghindari memberikan usu di botol ketika bayi sedang berbaring.

Di sesi tanya jawab, ada informasi menarik mngenai membersihkan telinga dengan cotton bud. Prof. Djaafar menjelaskan, sebetulnya jika telinga tidak terasa gatal, atau nyeri, atau berair, dalam arti normal-normal saja, telinga tidak perlu dibersihkan. Meskipun tidak apa-apa juga jika ingin membersihkannya dengan cotton bud, tapi harus yang harus diperhatikan adalah caranya cukup menempelkan cotton bud untuk menyerap cairan/kotoran, membersihkan di bagian cuping telinga, tapi tidak perlu dimasukkan terlalu dalam.

Sekian reportase kali ini temans, kita jaga baik-baik yuk telinga kita. Kebayang nggak kalau semesta ini sunyi senyap tanpa suara apa pun yang bisa kita dengar? Kalau sudah begitu pasti teringat kalimat “maka nikmat Tuhan yang mana kah yang kamu dustakan?” ya? :)

Have a great day.

Novel Keroyokan

Temans, ada yang sudah baca novel Traveler’s Tale? Atau Lenka barangkali? Belum? Ah, baiklah akan saya ceritakan sedikit. Jadi kedua novel tersebut berjenis novel keroyokan. Traveler’s Tale ditulis 4 orang, salah duanya adalah pasangan Aditya Mulya dan Ninit Yunita, sementara Lenka ditulis…11 orang! hahaha, salah satunya adalah Andina Dwi Fatma yang menulis novel Semusim, dan Semusim lagi.

Nah, postingan ini adalah untuk memberitahu temans (well, sekalian curhat sebetulnya #eeaa) bahwa saya sedang menulis novel keroyokan semacam demikian itu.

Masih ingat kah temans akan postingan saya yang berjudul Tiba-tiba Galau beberapa waktu lalu? Di sana saya bercerita bahwa saya mengirimkan outline calon novel saya itu untuk mengikuti audisi workshop menulis yang diadakan oleh Elexmedia berikut:

10862593_10206012992390545_8834328206000001299_o

Singkat cerita, saya terpilih menjadi satu dari 50 orang yang berkesempatan hadir di Workshop tersebut. Sharing dengan dua orang penulis romance Mbak Indah Hanaco dan Jenny Thalia, lantas setelah makan siang kami dibagi menjadi sepuluh kelompok untuk … membuat outline baru!

Sejujurnya, saya sudah hopeless, tadinya saya pikir outline yang saya kirimkan untuk mendaftar itu yang -kalau terpilih- akan diterbitkan Elexmedia. Tapi ndilalah, outline terbaik dari 10 kelompok ini lah yang akan diterbitkan nantinya. Hedehhh, bingung pun, lahhh baru ketemu dan kenal pada saat itu kan ya, bagaimana coba menentukan ide cerita, konfliknya apa, karakter tokohnya gimana aja dan sebagainya dan seterusnya? Bukannya apa-apa temans, saya saja kadang berantem sama diri saya sendiri kalau nulis *ups* hahahaha.

Jadi begitulah, dalam waktu kurang lebih 2 jam, kami berlima harus menuliskan outline lengkap untuk calon novel berjumlah 150-250 halaman. Tiap kelompok harus menamai kelompoknya sendiri dengan nama kota yang akan menjadi setting cerita. Ketentuan lain adalah harus bertema play list, entah lagu atau hanya sebagian lirik. Dan tentu saja, harus cerita romance! du du du du.

Ya sudahlah yaa, meskipun berantem dengan canggung (karena sama-sama nggak kenal ya bok :P), saling mengalah sekaligus keukeuh dengan pendapat sendiri *kek bijimane cuba? qiqiqi*, saya dan empat teman sekelompok berhasil juga membuat outline yang diminta. Saya mah pasrah aja sih, karena sudah bisa membayangkan bagaimana itu riweuhnya menyatukan 5 kepala dalam sebuah cerita?

Tapi ya mau bagaimana lagi temans, di hari pengumuman, kelompok saya ternyata terpilih. Semacam blessing in disguise gitu sih kalau buat saya, senang tentu saja bisa terpilih, sekaligus pusing dan stres duluan itu gimana coba nulisnyaaaa hahahaha *sambil nangis*.

Yesterday in Bandung itu tuh yang punya kelompok saya hihihihi

Yesterday in Bandung itu tuh yang punya kelompok saya hihihihi

Saat postingan ini dibuat, draft 5 bab pertama sudah disubmit ke mbak editor untuk dikoreksi dan diberi masukan. Masih berjuang untuk beberapa bab berikutnya yang bikin degdegan karena deadlinenya tanggal 23 April sodara-sodara! *pengsan*. Seru sih ternyata nulis keroyokan begini, karena meskipun sama-sama berlima, Little Stories kemarin itu kan cerpen, yang masing-masing nulis weh sendiri nggak perlu saling ‘mengganggu’. Tapi yang ini tidak bisa begitulah ya, benar-benar harus menekan ego untuk menulis sesuai keinginan saya :D.

Ya sudah begitu saja temans, curcolnya sudah kepanjangan sepertinya nih hihihihi. Jadi kalau beberapa bulan mendatang temans ke tokbuk dan ada novel berjudul Yesterday in Bandung, sok atuh beli ajalah ya, kan katanya kita temenan, yes? bhuahahahaha *dan kemudian kabur sebelum disambit*.

***

Note : kecuali foto dengan frame, foto dan image lainnya saya pinjam dari elexmedia.co.id (@elexmedia)

Serunya Kuliner Nusantara di Mall

Ngaku deh, kalau ke mall pasti seringnya pilih makanan yang western atau makanan khas Korea-Jepang gitu kan ya? Yahh…setidaknya kalau saya nih, rasanya belum pernah pergi ke mall karena kepengen beli lumpiah basah seperti yang dijual abang-abang gerobak di depan gerbang Unpad, karena nggak akan ada yang jual juga sih hihihihi.

Abaikan intronya yang ngaco itu temans.

Jadi ceritanya, akhir pekan kemarin saya berkesempatan hadir di FoodPark yang terletak di lantai Grand Galaxi Park (GGP), Bekasi. Saya baru sekali itu ke GGP, kudet pisan lah sebagai orang yang mengaku jadi orang Bekasi :D.

FoodPark

Berlokasi di lantai 2 GGP, ternyata di FoodPark ini -untuk pertama kalinya di Indonesia- merupakan semacam foodcourt yang dengan sengaja khusus menyediakan kuliner lokal khas nusantara. Misalnya saja pecel madiun, gudeg yogya, woku manado, ayam taliwang lombok, dan sebagainya dan seterusnya. Para tenant ini adalah hasil kurasi dari Pak Bondan Winarno lho, jadi setiap tenant yang ada di sana sudah mengantongi label ‘MakNyus’ dari beliau. Tidak hanya makanan berkategori ‘berat’ ada juga jamu tradisional, es doger, bahkan es krim rujak untuk camilan hore *err….nyemil jamu sounds weird sih yaa hihihii*.

Kenapa konsep kuliner nusantara di Mall ini digagas, adalah karena banyaknya produsen makanan khas nusantara yang biasanya hanya berupa pengusaha menengah atau UKM, tidak mampu menyewa kedai di mal-mal besar. Padahal, mall adalah sebuah tempat yang tepat untuk bisa melestarikan dan mengenalkan kembali kuliner nusantara pada masyarakat. Maka Agung Sedayu Group yang bertemu dengan Pak Bondan serupa jomblo yang bertemu sang kekasih, jodoh sodara-sodara! he he :). Mudah-mudahan saja banyak foodcourt serupa ini nantinya ya, temans.

Mas Arie Parikesit (@arieparikesit, cari saja #KelanaRasa di TL twitter untuk tahu lebih lanjut) yang sangat concern dengan kuliner nusantara mengatakan dirinya terkadang miris, karena kuliner nusantara justru seperti tamu di negerinya sendiri. Peryataan ini memaksa saya untuk membuat sebuah pengakuan, bahwa saya baru tahu Bekasi memiliki kuliner khas bernama gabus pucung, dan saya belum sempat mencicipinya *nyengir*. Padahal di luar negeri, kuliner dari Indonesia sudah cukup punya nama, mereka penasaran bagaimana rasanya rendang, bahkan terpesona akan teknologi canggih dari tempe. Saya baru tahu tempe ini ternyata sudah dikonsumsi dari zaman kerajaan Majapahit dulu *takjub*.

Semoga, dengan dibukanya FoodPark ini, anak-anak muda atau keluarga yang biasanya hanya tertarik mencoba kuliner luar, akan kembali ke selera nusantara yang rasanya tidak kalah enak ya. Tempatnya dingin dan nyaman, menggunakan deposit card yang bisa direfund, dan makanan masih fresh karena baru dibuat setelah kita order.

Hayuk, siapa yang mau makan-makan di sana? Saya nggak nolak lho kalau diajakin hihihihi.