Karena Hidup Perlu Bekal

Terkadang kita tidak pernah tahu bagaimana hidup mengejutkan kita, betul? Ada dua cerita yang akhir-akhir ini membuat saya merenung dan berpikir ulang tentang hidup dan kehidupan, dan meskipun kita tidak akan pernah bisa tahu apa yang akan terjadi di masa depan, satu jam mendatang sekalipun, maka rasanya jadi sangat masuk akal saat kita ‘mempersiapkan diri’ untuk itu.

Cerita pertama

Beberapa waktu yang lalu saya terpaksa pergi ke dokter, setelah 3 malam berturut-turut suhu badan saya cukup tinggi, dan tenggorokan rasanya sakit sekali, bahkan untuk berbicara sekalipun. Mungkin karena cuaca yang terlampau panas ya, jadi pas siang-siang inginnya minum air dingin terus, duduk di depan kipas angin dengan jarak yang terlampau dekat, jadi kalau malam ya begitu itu lah, faktor usia juga sih sepertinya ya, angka yang beranjak naik berbanding lurus dengan daya tahan tubuh yang pelan-pelan menurun.

Singkat kata, habis maghrib saya pun pergi ke dokter, sendirian saja naik si Kupi, terlalu malam kalau kalau menunggu Akang Suami pulang dulu, lagipula sebetulnya kategori sakit saya masih tergolong ringan, masih bisa mengerjakan ini itu kok, tidak sampai lemas tak terkira dan cuma bisa berbaring di tempat tidur. Berhubung saya memakai kartu asuransi Allianz, maka saya pergi ke antrian khusus, menyerahkan kartu pada mbak petugas, duduk manis deh menunggu dipanggil dan periksa dokter.

Normalnya, setelah diperiksa dokter, pasien membayar biaya konsultasi dokter di kasir terlebih dulu, untuk kemudian pindah ke apotek untuk menebus obat. Tapi -sekali lagi- kartu asuransi saya membuat rute tersebut tidak berlaku bagi saya. Saya langsung diminta menunggu obat di apotek, karena biaya konsultasi dan juga obat sudah tercakup dalam asuransi dari kantor Pak Suami tersebut. Saat saya duduk menunggu obat itulah, ‘kejutan pertama’ datang.

Ada seorang Ibu (mungkin usianya sekitar 50 tahun-an) yang juga menunggu obat seperti saya. Gerak geriknya terlihat gelisah, meskipun tubuhnya terlihat sehat-sehat saja, mungkin beliau menunggu obat untuk anak atau keluarganya yang sakit. Tak berapa lama beliau dipanggil apoteker, resepnya sudah selesai dan dipersilakan untuk membayar. Saya tidak tahu percakapan di depan meja kasir seperti apa, tapi si Ibu kembali duduk tak lama kemudian tanpa obat di tangan, lantas tergesa menelepon seseorang dengan panik, “obatnya mahal, duitku nggak cukup, gimana nih?”. Adegan itu entah berakhir bagaimana karena Ibu itu terburu-buru keluar tanpa membeli obatnya.

Ah, kasihan sekali beliau, Bagaimana jika Ibu itu pada akhirnya tetap tidak bisa menebus obat yang diperlukan? Bagaimana orang yang sakit dan menunggu obat untuk menyembuhkan penyakitnya itu? Apakah obatnya tidak bisa dibeli separuh dulu saja?Apakah Ibu itu tidak punya kartu BPJS atau asuransi untuk meringankan pembelian resep? Banyak pertanyaan berputar-putar di kepala, bahkan hingga saya pulang ke rumah. Meskipun tentu saja, itu membuat saya sangat bersyukur  -dan sangat lega- karena tidak mengeluarkan uang saat berobat (kecuali untuk parkir kendaraan :D), dan sekaligus merasa sedih atas keadaan si Ibu.

Cerita Kedua

Saya punya seorang sahabat (kita sebut saja Mbak M), yang memiliki seorang tante (adik dari ibunya) yang terkena gagal ginjal. Tante ini belum pernah menikah, dan di usia lebih dari 70 tahun, hanya keponakan dan kerabat saja yang merawatnya karena tidak memiliki suami dan anak. Mbak M ini termasuk keponakan yang cukup dekat dengan sang Tante sejak kecil, dan paling banyak menanggung biaya pengobatan Sang Tante, baik itu saat cuci darah yang harus dilakukan seminggu sekali, hingga kamar rumah sakit saat Tante tidak bisa lagi dirawat di rumah.

“Bukannya nggak sayang, Rin, tapi Ibu juga sering sakit-sakitan sekarang…” Demikian Mbak M pernah bercerita pada saya. Maksud dibalik kalimat tersebut tentunya sudah bisa dimengerti ya. Tante-nya mbak M ini padahal guru ngaji/ustadzah yang sebetulnya berkecukupan, tapi ya tetap saja, tabungan dan hartanya lama kelamaan tidak mencukupi lagi sehingga harus dibantu mbak M yang ‘cuma’ keponakan.

Saat Tantenya meninggal setelah beberapa bulan pengobatan, mbak M yang juga masih single di usianya yang hampir 40 ini berkata pada saya, “kalau nyari suami kan susah banget ya, Rin, jadi kayaknya aku mau nyari uang yang banyak aja in case tetap sendiri sampai tua.” Kalimat itu mungkin terdengar konyol, tapi sayangnya, mengandung kebenaran yang tak terbantahkan. Membuat saya juga kembali berpikir, bahwa mau tidak mau, saya pun harus ‘bersiap-siap’ seperti Mbak M. Kenapa? Karena saya (setidaknya untuk sekarang) tidak lagi bekerja, dan belum memiliki putra/putri.

Safety Needs

Maka rasa aman mungkin adalah satu -dari sekian banyak hal krusial lainnya- yang terpenting dalam hidup. Abraham Maslow, dengan teori Hierarchy of Needs-nya yang terkenal, menempatkan rasa aman ini di tahap ke dua, tepat setelah kebutuhan-kebutuhan biologis terpenuhi (kebutuhan akan oksigen, air, makanan, tempat tinggal, segala sesuatu yang berhubungan dengan fisik).

Wajar saja jika saya merasa lega saat saya bisa menebus obat sesuai resep dokter, dan seperti halnya mbak M, ingin sekali punya ‘uang’ banyak untuk nanti saat tak ada lagi medical allowance atau bantuan asuransi karena suami sudah pensiun misalnya. Jadi memang harus menyiapkan bekal detik ini juga, bukan? Toh hidup memang sebuah perjalanan yang tidak bisa kita tahu dimana ujungnya, maka memiliki perbekalan untuk setiap kemungkinan yang akan kita temui dalam perjalanan tersebut menjadi sebuah keniscayaan.

Asuransi pada Setiap Aspek Kehidupan

_DSC0756

Saat ini, bekal yang saya miliki mungkin sudah cukup. Kartu biru yang saya peroleh sebagai istri karyawani di atas, sejauh ini sudah mencukupi kebutuhan rasa aman saya. Setidaknya, Insyaalloh saya akan tetap bisa membeli seluruh obat yang diresepkan dokter untuk penyakit-penyakit yang ditanggung. Memang jumlahnya terbatas, tapi toh saya juga tidak berencana sering-sering sakit kan? hehehehe.

Tapi tentu saja saya perlu bekal yang lain. Mungkin, salah satunya adalah asuransi jiwa TaproKu.  Produk Allianz ini memiliki keunggulan yang cocok bagi saya yang tidak bekerja kantoran lagi ini. Pendaftaran online yang sederhana dan langsung, premi yang sangat terjangkau, tapi bisa melindungi dari 3 resiko (meninggal dunia, cacat total, dan 49 jenis penyakit). Tapi Uang Pertanggungannya  ada yang bisa mencapai 500 juta! Meskipun saya berharap saya bisa meninggal dalam tidur tanpa sakit berat yang merepotkan semua orang, tapi mudah-mudahan saja sejumlah uang tersebut cukup jika saya sakit nanti.

Bekal lain, berhubungan dengan hobi saya dan Pak Suami untuk bertraveling ria. Meskipun so far acara ngebolang kami masih yang dekat-dekat saja, dan kalaupun harus terbang masih menggunakan low budget airlines ya. Tapi kerjasama Garuda Indonesia dengan Allianz untuk travel insurance rasanya bisa dimasukkan ke dalam daftar ‘bekal berikutnya’. Dan Allianz TravelPro bisa menjawab harapan ini. Tidak hanya perjalanan dalam negeri saja, jangkauannya meliputi juga ASEAN plus dan Worldwide. Bahkan pake family menyediakan covering untuk orang dewasa dan anak-anak. Akan sangat menyenangkan jika kita tahu perjalanan kita sudah terlindungi kan, ya?

Sebetulnya masih banyak bekal  lain yang ingin saya masukkan ke dalam bucket list, tapi mungkin satu-satu dulu aja lah ya hahaha. Tapi kenapa saya berpikir Allianz layak dipercaya? Terlepas dari Foster Huntington yang memang memukau saya dalam iklan yang dibintanginya *halah*, tapi juga karena Allianz memang sebuah perusahaan asuransi yang sudah mendunia (ada di 70 negara) dan memiliki 83 juta nasabah pribadi dan korporasi. Di Indonesia sendiri, Allianz pertama kali mendirikan kantor perwakilan pada tahun 1981, dan hingga sekarang didukung oleh lebih dari 1.200 karyawan dan lebih dari 17.000 tenaga penjualan di 93 kantor pemasaran di 46 kota, yang juga sudah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Kantor pusatnya pun terhitung dekat, di Jl. Rasuna Said sana. Tapi websitenya www.alianz.co.id bagi saya sudah lebih dari cukup bagi kita untuk mempelajari setiap produk yang ada, bahkan kita bisa bertanya langsung lewat twitter @AllianzID, atau di fanpage facebook, email hingga call center siap sedia membantu. Intinya, sangat mudah untuk bertanya dan ataupun claim nantinya.

“The fear of death follows from the fear of life. A man who lives fully is prepared to die at any time.”
Mark Twain

Mempersiapkan kematian kesannya mungkin menyeramkan ya, tapi -menurut saya- itu adalah salah satu cara kita untuk merayakan kehidupan.

***

Ditulis untuk Allianz Writing Competition

banner allianz

Sumber tulisan : http://www.allianz.co.id

Advertisements

[Semacam Review] Chocovanilla

Kamu tau Chocovanilla?

Errr….maksudmu es krim rasa coklat dan vanilla? Aku lebih suka yang stroberi.

Bukaaaaan. Itu nama sebuah blog.

Blog? Nama yang tidak biasa untuk sebuah blog, bukan?

Memang. Dan blog itu -setidaknya menurutku- adalah luar biasa.

Oh ya? 

Aku mengenalnya sejak 2011 lalu, dulu (ternyata) aku menyapanya dengan sebutan mba Choco, dan aku lupa tepatnya kapan, aku mulai memanggilnya buCho, entah kenapa.

 choco

Mungkin kemudian kamu menyadari MbaChoc terdengar sedikit tidak tepat diucapkan.

Hahaha…mungkin juga begitu.

So? Apa keistimewaan blognya buCho ini?

Mari aku ceritakan padamu tentangnya. Lihat tag line-nya : Sweety, milky, creamy, crispy, bitter also. Lucu ya?

Untitled

Ehem…terdengar lezat buatku.

Ah, dasar tukang makan! :P. Terlihat sederhana memang, tapi buatku, kalimat itu sesungguhnya memiliki makna filosofi yang dalam, karena demikianlah adanya hidup ini, bukan? Tidak melulu manis, kadang keras dan bahkan pahit menyakitkan.

Dasar tukang mikir! Mungkin maksud sang empunya Chocovanilla, itu hanyalah deskripsi betapa variatif isi blog miliknya. Seperti juga ChocoVanillla, coklat dan vanilla, dua rasa berbeda yang berada dalam satu suapan. Begitu saja. Titik.

Yaa…bisa juga diartikan seperti itu, karena isinya memang nano-nano, enak mantap seperti rujak buatan Yu Minah.

Yu Minah?

Untitled1

Yup, salah satu kategori dalam blog Chocovanilla bertajuk Serial Yu Minah. Postingan ini adalah obrolan buCho selaku sang pemilik blog, dengan seorang tokoh (fiktif?) bernama Yu Minah si tukang rujak. Prosesi pembelian sebungkus dua bungkus rujak (kadang rujak serut, kadang rujak potong) buCho yang selalu memesan ‘pedas tapi ga pake banget’ itu sangat tidak biasa, mengupas topik-topik yang sedang hangat semisal kenaikan BBM hingga plat nomor berwarna, membuat pembaca -aku maksudnya- tahu berita terkini tanpa harus mengerutkan kening dan masih bisa tertawa. Aku pikir, jika saja ada sebuah Production House yang sudah bosan dengan sinetron absurd semacam Tukang Bubur Naik Haji, maka Serial Yu Minah bisa menjadi tontonan bergizi yang menghibur bagi masyarakat Indonesia.

Semacam Bajaj Bajuri?

Bisa jadi.

Wow. Menarik ya, karena sebuah tulisan sederhana sesungguhnya harus melalui proses penulisan yang jauh dari kata sederhana.

Sepakat!

Lantas, apalagi yang menarik dari blog ini?

Selain Yu Minah yang aduhai, tentu saja ndobosan buCho alias cerita-cerita fiksi. Aku banyak belajar dari fiksi-fiksi miliknya, bahwa tak perlu kata berbunga-bunga untuk mendeskripsikan suasana romantis, atau gunakan saja bahasa biasa yang tepat untuk menimbulkan efek luar biasa yang diinginkan. Itulah kenapa aku tak pernah bosan berkunjung ke sana, karena sepulangnya, aku selalu mendapatkan ‘sesuatu’ yang bisa aku pelajari, walaupun mungkin sekadar tersenyum karena banyolannya yang khas.

I see, kalian memiliki minat yang sama, yaitu menulis fiksi.

Tepat sekali. Aku terkagum-kagum membaca serial Marni si bakul jamu eksekutif, Ramuan Cinta, bahkan Lukisan Cinta yang belum tamat. Tapi ada sebuah fakta yang mengejutkanku, karena ternyata buCho belum pernah sekalipun mengirimkan naskah-naskah novel tersebut ke penerbit, padahal menurutku ceritanya sudah ‘utuh’, sayang rasanya jika hanya dipajang di blog.

Tidak seperti ceritamu yang cenderung geje bin teu pararuguh?

Hahahahaha…. semacam itulah. Tapi setidaknya aku sudah ‘satu buku’ dengannya. Dalam kumpulan FF Obituari Oma, tulisan gejeku bisa juga satu rumah dengan karya-karya miliknya. Maka tidak mungkin suatu saat aku dan sang pemilik Chocovanilla menerbitkan sebuah duet novel, iya kan?

Well, silakan bermimpi.

😛

Lantas apa lagi?

Beberapa waktu lalu papanya baru saja kembali ke surga, dan buCho betul-betul mengaplikasi sebuah teori, bahwa menulis sesungguhnya adalah terapi jiwa. Banyak postingan tentang mendiang sang Papa sesaat setelah beliau berpulang, sangat menyentuh, karena kehilangan seseorang yang disayangi tentulah tidak mudah. Tapi dengan menuliskannya di blog, buCho mengajariku, untuk berkompromi dengan rasa duka itu, karena semua makhluk pasti kembali pada Penciptanya, dan hidup tetap harus berlanjut.

Ah, pasti menyenangkan memiliki seorang sahabat seperti itu.

Tentunya.

Apalagi yang diceritakannya di blog?

Hal-hal ringan seputar suaminya (yang buCho sapa dengan panggilan sayang ‘kekasihku’), juga ‘Jenderal G’ alias Ganteng putra pertamanya dan juga  Cantik putrinya yang memang cantik. Atau peristiwa-peristiwa kecil di kantor tempatnya bekerja, hingga berbagi resep es hunkwee saat market day di sekolah Cantik atau resep Carang Gesing peninggalan sang MbahTie yang jago masak.

Bagaimana dengan page rank blognya? Alexa? SEO?

Hah?

Itu adalah hal-hal yang harus ada saat kamu mereview sebuah blog, bukan?

Lihatlah judulnya, tulisan ini hanyalah ‘semacam’ review belaka. Jadi aku tidak akan membahasnya.

Ah, bilang saja kamu tidak mengerti.

Nah. Itu sudah tahu!

Dasar gaptek!

Biarin, wew 😛

Sudahlah. Ceritakan padaku buCho itu seperti apa?

Ehem…buCho rupanya tidak ingin ‘dikenal’ di dunia maya. Tak ada detail dirinya di tab “tentang aku” seperti di blog-blog umumnya, jangankan gambar diri, bahkan namanya sekalipun tak tertulis di sana.

Kenapa?

Pastilah beliau memiliki alasannya tersendiri. Dan aku hanya harus menghormati pilihan keputusannya itu, bukan?

Atau, alasannya adalah simply karena buCho bukan generasi narsis seperti dirimu.

Bah! 😛

Tapi, bukankah sedikit aneh kamu bersahabat dengan seseorang yang ‘samar’ karena buCho meng-anonimus-kan dirinya seperti itu?

Tidak aneh karena aku berhasil berjumpa dengan buCho. Seorang wanita berkepribadian hangat yang menyenangkan, aku merasa nyaman dan dekat di perjumpaan pertama kami. Bahkan waktu itu aku dan Akang Matahari ditraktir makan hihihihi.

Ish…memalukan.

Aku lupa kalau di resto itu bayar dulu baru makan, sudah lama tidak makan di sana, jadi aku…

Alasaaaannn.

Tapi itu betul, aku…

Sudahlah. Aku mau blogwalking ke Chocovanilla.wordpress.com dulu.

Heeei…

IMG-20130628-WA0002

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Blog Review~Saling Berhadapan

Bertumbuh Bersama Mizan

Hobi saya sejak kecil memang membaca. Belum berubah hingga sekarang, dan sepertinya akan tetap sama hingga waktu-waktu yang akan datang.

Seingat saya, sejak TK saya sudah bisa (dan suka) membaca. Maka saat kelas 2 SD, saya tidak terpilih ibu guru untuk mewakili sekolah dalam lomba membaca antar sekolah, saya sempat merasa sakit hati. Lantas melampiaskannya dengan membaca apapun yang bisa saya baca, termasuk kertas bekas pembungkus cabe merah di dapur mamah saya 😛

Tapi saya memang pemimpi, sehingga jenis bacaan saya pun dari dulu lebih banyak yang berupa fiksi, dengan semua derivasinya. Masa-masa SD, saya membaca dongeng rakyat seperti Sangkuring atau semacam legenda terbentuknya Situ Bagendit, misalnya. Novel Trio detektif dan Lima Sekawan, hingga cerita-cerita di majalah Bobo dan Si Kuncung.

Beranjak SMP, saya membaca Wiro Sableng, komik-komik Jepang, bahkan pernah membaca roman-roman lama seperti Layar Terkembang, Atheis, hingga Siti Nurbaya. Walaupun yang terakhir ini tidak sampai habis karena masih menggunakan ejaan lama, membuat saya menyerah karena tidak terbiasa 😀

Saat SMU, saya tinggal di asrama putri. Ibu asrama saya ternyata mengoleksi banyak sekali novel. Mulailah saya melahap novel-novel Shidney Sheldon, Agatha Christie, Danielle Steel, hingga John Grisham, Kahlil Gibran dan Rumi. Walaupun saya tetap juga membaca komik serial cantik (ada yang tahu kan ya komik jenis ini? hehehe), atau majalah-majalah remaja yang ada saat itu.

Kuliah di Fakultas Sastra membuat saya juga ikut-ikutan (sok) nyastra. Saya mulai berkenalan dengan Pramudya Ananta Toer, Taufik Ismail, NH. Dini, Remy Silado, hingga Leo Tolstoy dan Karl May. Di masa-masa ini juga, saya banyak membaca buku-buku islami yang ditulis Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Gola Gong, Pipiet Senja dan yang lainnya.

Pasca kuliah, saya membaca hampir semua buku yang memungkinkan untuk bisa saya pinjam. Saya berkenalan dengan Paulo Coelho, Torey Haiden, Mitch Albom dan serial Harlequin. Sebelumnya saya memang peminjam buku sejati, di sekolah dan kampus, petugas perpustakaan akan dipastikan cukup mengenal saya karena intensitas peminjaman buku saya. Saya pun akan berupaya berteman baik dengan teman-teman kolektor buku. Bukan saya pelit tidak mau membeli buku, tapi memang karena saat itu dananya belum ada hihihihi.

Alhamdulillah, sekarang saya bisa membeli sendiri dan mengoleksi buku-buku yang saya sukai. Seringkali, saya membeli buku yang dulu sudah pernah saya baca. Kalau betul-betul dikumpulkan, mungkin sudah mencapai satu kamar penuh. Walaupun kenyataannya buku-buku tersebut sudah ‘tersebar’. Saya simpan di rumah orang tua saya di Majalengka, beberapa buku yang kurang saya suka biasanya saya hibahkan, banyak yang dipinjam teman dan belum (atau tidak?) dikembalikan, hingga banyak buku juga terpaksa saya buang karena rusak terkena banjir tempo hari.

Sebagian buku yang terselamatkan

Sebagian buku yang terselamatkan

*Buku Dunia Sophie itu pernah saya baca saat kuliah bertahun-tahun lalu (sekitar tahun 2000), tapi baru saya beli sekitar 2 tahun lalu 🙂

Usia saya dan Mizan sepertinya tidak terpaut terlalu jauh, usia saya 30 tahun lebih sedikit kok hehehe. Jadi saya merasa kami betul-betul bertumbuh bersama. Dalam periode yang saya sebutkan sebelumnya, pasti banyak buku-buku terbitan Mizan group yang sudah saya baca, sama seperti foto di atas, yang hampir setengahnya merupakan terbitan Mizan.  Membaca novel-novel islami yang ditulis Asma Nadia dkk semasa kuliah dulu itu, telah menimbulkan keinginan untuk berhijab. Tak perlu lama, memasuki semester tiga saya memutuskan untuk memakai kerudung.

Membaca karya-karya fiksi Dewi Lestari, Tasaro GK, Khrisna Pabichara dan penulis fiksi Mizan lainnya membuat saya tidak pernah berhenti bermimpi suatu saat bisa memiliki karya sebaik mereka. Bahkan tempo hari saya memberanikan diri untuk ikut mengirimkan novel roman saya saat Qanita mengadakan lomba, walaupun tentu saja belum jadi pemenang ya hehehe.

Tapi saya percaya, membaca dan menulis itu seperti dua sisi dalam mata koin yang sama. Tidak bisa dipisahkan untuk berdiri sendiri dan saling terikat satu sama lain. Sehingga membuat saya berkesimpulan, bacaan yang baik akan juga memungkinkan saya menulis dengan sama baiknya. Saya berpengharapan baik, dengan buku-buku terbaik yang diproduksi Mizan, akan menemani saya untuk bertumbuh. Bahkan bukan tidak mungkin, kelak saya bisa menjadi salah satu penulis Mizan (?) 🙂

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba MizanAndMe.

Rikmo Sadhepo

Akhirnya Mudhoiso tewas. Mati. Modar. Arimbi terbahak sebelum layar diturunkan.

Aku sungguh tidak setuju dengan apa yang sudah Arimbi lakukan baru saja, pasti kami bertiga akan segera mendapat masalah. Tapi, kematian Mudhoiso jujur saja membuatku senang, tak akan ada lagi lelaki hidung belang  yang mencoba memuaskan nafsu binatangnya semena-mena. Toh lelaki seperti itu memang sudah seharusnya dihapuskan dari muka bumi.

“Shinta, aku pergi dulu.”

“Kamu tuh kebiasaan Arimbi, lempar batu sembunyi tangan.” Ucapku geram, mencoba menahannya pergi.

“Sudah…biar saja si Rikmo yang menanggungnya.”

“Tapi Bi…Arimbi….” Apa? Dia sudah pergi? Edan tenan!

“Saudari Rikmo Sadhepo, Anda saya tahan sebagai tersangka pembunuhan Mudhoiso yang baru saja terjadi,” Arrghh… Arimbi sungguh tidak punya otak, membunuh Mudhoiso saat ada seorang inspektur Suzana menjadi salah satu penonton? Keterlaluan. Seketika aku panik, dan sebaiknya aku pun bersembunyi.

“Mmm…maaf… ada apa ya Bu Inspektur?” Rikmo menatap Inspektur Suzana bingung. Sebetulnya aku kasihan sama dia, tapi biar sajalah, toh sebetulnya dia sendiri yang mencari-cari masalah.

“Lho? Anda jangan pura-pura bodoh ya. Anda kan yang membunuh Mudhoiso dengan keris luk 9 ini?” Inspektur Suzana menunjukkan sang keris berlumuran darah yang kini sudah berada di dalam plastik sebagai bukti utama pembunuhan.

“Apa? Kangmas Mudhoiso tewas?? Kapan Bu polisi??” Seperti aku duga Rikmo histeris, dia tentunya tidak ingat secuil pun atas apa yang dilakukan Arimbi barusan. Detik berikutnya Rikmo pingsan, kasihan sekali dia.

***

“Saudari Rikmo, sebaiknya Anda mengaku saja.” Rikmo menggigil terduduk di ruang interogasi, “Semua bukti-bukti positif mengarah pada Anda. Motif Anda pun kuat.” Inspektur Suzana terus mendesak, mencondongkan tubuhnya mendekati Rikmo yang ada di seberang meja.

“Demi Tuhan bu Polisi, saya sama sekali tidak mengerti yang sampeyan katakan.” Dengan gemetar Rikmo tetap bertahan. Membuat Inspektur Suzana menggebrak meja dengan putus asa. Sudah 2 jam interogasi ini buntu, Rikmo selalu menyanggah, berulang kali mengatakan dia tidak tahu apa-apa, dia tidak pernah membunuh siapa-siapa.

Akhirnya aku menyerah, mungkin ini saatnya aku harus menolong Rikmo.

“Shinta… kamu jangan sok jadi pahlawan kesiangan begitu.” Arimbi menghadangku geram. Ugh, kapan dia datang? Sepintas aku melihat Rikmo yang semakin pasi di kursi.

“Minggir kamu Arimbi, aku harus beritahu Inspektur Suzana kamulah pelakunya, bukan Rikmo.” Arimbi malah terkekeh. Sialan.

“Kamu pikir si inspektur polisi itu bakalan percaya sama kamu?” Aku diam, karena sesungguhnya aku memang tidak yakin.

“Saudari Rikmo… Saudari Rikmo….” Suara Inspektur Suzana semakin menggelegar di telinga Rikmo yang tertekan. Akhirnya Rikmo pun pergi. Terpaksalah aku yang harus menggantikannya, di saat-saat seperti ini si Arimbi terlalu pengecut untuk menampakkan dirinya.

“Bu polisi… maafkan Rikmo, dia memang tidak tahu apa-apa.” ucapku hati-hati, Inspektur Suzana menatapku tajam, membuat hatiku kebat kebit, teringat perkataan Arimbi tadi untuk tidak perlu jadi pahlawan kesiangan. Tapi sudah terlambat. Rikmo terlanjur pergi dan Arimbi masih menghilang.

“Apa maksud Anda?”

“Iya… anu… Rikmo tidak tahu apa-apa bu Polisi.”

“Rikmo itu Anda sendiri bukan?” Nah, ini dia nih yang ditunggu-tunggu. Aku tidak bisa menjelaskannya pada si ibu polisi menik-menik nan gagah di depanku ini. Sayup aku mendengar Arimbi terbahak di tempat persembunyiannya.

“Bukan bu Polisi.”

“Jadi Anda bukan Rikmo? Lantas siapa kalau begitu?” Alis kanan Inspektur Suzana meninggi. Huh, dia memang tidak percaya rupanya.

“Saya… saya Shinta bu Polisi.”

“Hah? Shinta??”

“Iya, dan yang membunuh Mudhoiso itu bukan Rikmo ataupun saya, tapi Arimbi.”

“Apa? Arimbi siapa??” Aku mencoba memanggil Arimbi, tapi tentu saja dia tidak akan keluar dalam keadaan seperti ini. Bagaimana aku harus memancing Arimbi keluar. “Jelas-jelas di KTP nama Anda adalah Rikmo Sadepho, bukan Shinta apalagi Arimbi. Anda jangan mempermainkan saya.”

*plak*

“Aduh… Apa-apaan Anda menampar saya segala?” Tangan kananku masih panas setelah menampar pipi Inspektur Suzana barusan. Dia spontan berdiri. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Kenapa dia hanya diam saja? Sial, Arimbi juga belum mau keluar.

Aku berdiri tiba-tiba dan mencoba mengambil pistol yang ada di pinggang kanannya. Inspektur Suzana refleks menghindar dan melangkah mundur menjauhi meja. Badanku yang berada di tengah meja dengan tangan kiri terulur dimanfaatkannya untuk berlari ke arahku, menelikung tangan kananku ke belakang punggung, dan menekanku dengan keras hingga meja di depanku terdorong.

Tanpa aku minta Arimbi datang. Tenaganya yang luar biasa besar mampu menghentikan dorongan Inspektur Suzana sebelum si meja menyentuh dinding. Sikut kirinya mengarah pada perut bu Polisi yang terkejut karena tiba-tiba saja tersangkanya itu bisa sekuat itu setelah sesaat sebelumnya hanya menangis dan menangis. Arimbi sekarang yang mendorong Inspektur Suzana ke dinding, tangan kanannya yang telah bebas kini mengunci leher polisi itu hingga semua darah di tubuhnya berkumpul di wajah.

“Oke…. oke… lepaskan saya… kita bisa…kita bisa bicarakan ini baik-baik.” Tersengal-sengal dan susah payah Inspektur Suzana mencoba bernegosiasi. Arimbi tahu-tahu sudah mengambil pistol bu Polisi dan memain-mainkannya dengan tangan kiri.

“Saya tidak segan-segan menembakkan peluru ini ke tempurung kepala Anda bu Polisi.” Ancamnya dingin. Inspektur Suzana mengangguk. Arimbi mengendurkan kunciannya ke leher bu Polisi, lantas duduk dengan pistol mengarah pada Inspektur Suzana yang masih terengah-engah di dinding.

“Izinkan saya menelepon.” Inspektur Suzana menelan ludah sebelum bicara. Arimbi hanya mengangguk tanpa menurunkan pistol di tangannya. Aku akui Arimbi memang hebat, dia sudah membuat bu Polisi ini percaya. “Panggil psikiater ke ruang interogasi segera. Cepat ya!”

Arimbi tersenyum padaku, aku lega. Setidaknya kami tidak perlu berada di penjara, sebuah klinik psikiatri mungkin jauh lebih baik.

***

Kisah ini diikutkan dalam Misteri di Balik Layar BlogCamp.

PS : Terinspirasi dari novel “The Fifth Sally karya Daniel Keyes, yang menceritakan seorang wanita yang memiliki 5 kepribadian.

Bantu Gue El…

“Jadi lo udah putus sama si Prita, El?”

“He-eh.”

“Kenapa? Cantik gilak gitu tu cewek. Prisa Nasution mah lewaaat.”

“Ah, fake banget dia Ris. Aselinya mah biasa aja, cuma pinter dandan.”

“Ngga apa-apa dunk, jadi ga malu-maluin diajak kondangan.”

“Gue nyari cewek yang punya otak juga, ga modal tampang doang.”

“Tapi selama ini kan lo gonta ganti pacar pasti kek model gitu tampangnya El? Emang cewek cantik ada yah yang pinter?”

El terbahak. Gue manyun. Tapi wajar juga sih sebetulnya para sosialita nan jelita itu banyak yang tertarik dan bersedia dijadikan pacar oleh pria seperti El, walau untuk sekejap. Tampangnya kayak Donghae siapalah itu yang boyband Korea, body atletis hasil rajin nge-gym, tongkrongan oke punya, kerjaan mantap, kurang apa coba?

“Makanya gue gonta ganti terus Ris, sampe dapet cewek idaman gue, yang ga cuma cantik tapi ngga bego kayak si Prita ituh.”

Ternyata ada satu sisi El yang baru gue tahu sore itu, membuat kekaguman gue bertambah sekian derajat. Dia bukan playboy cap kabel seperti yang selama ini gue kira.

“Emang penting ya El?”

“Iyalaaaah, lo tau ngga, kepintaran itu diturunkan secara genetik dari ibu. Makanya istri gue nanti mesti kudu wajib pinter.” Aih, berbahagialah siapapun wanita yang nanti dipilih El mendampinginya. “Betewe, lo kok betah banget ngejomblo, Ris?” Ish…kenapa sekarang topiknya berubah ke gue sih?

“Ga repot aja kalo ngejomblo beginih.”

“Halah…bilang aja lo masih belom bisa move on.” Dezigh, keparat juga nih si El, nuduh kok bener banget. Gue langsung pura-pura mengaduk-aduk latte gue yang tinggal setengahnya. “Kalo lo mau sama si Prita, ntar gue promosiin deh.”

“Makasih deh, she is not my type.”

“Gayaa… Lagian dianya juga pasti ogah deh sama lo.” Kurang ajar. Gue manyun lagi. El terbahak lagi. Dia cakep banget sih kalo lagi ketawa lepas begitu? Membuat siapapun yang ada di depannya merasa nyaman. “Emang kenapa sih Ris mantan lo itu mutusin lo?”

“Ralat! Gue yang mutusin dia El.”

“Deuu… putus-putus juga kan akhirnya.” El mencibir. Gue mendelik sewot. “Iya…iya…kenapa lo mutusin dia? Lo yang mutusin, kok lo yang kayaknya patah hati banget gitu sih?”

Duh, pertanyaan El mengusik nostalgia yang pengen gue lupakan selamanya. Tapi sejak gue pindah ke kota ini, El sudah begitu baik sama gue, dan pertanyaan tadi -walaupun kepo banget- hanyalah sebentuk perhatian dia ke gue ‘kan?

“Cinta terlarang El, ngga bisa gue terusin.”

“Hah? Lo macarin bini orang Ris? Gilaaa….” El meninju lengan gue pelan. Entah dia takjub, kesal, atau mungkin kagum dengan pemikirannya itu. Bini orang? Duh, bukan cinta terlarang yang seperti itu Eeeel, rutuk gue sebal. Tapi toh gue ngga bisa ngasih tau dia yang sebenarnya, atau bisa-bisa gue kehilangan El sebagai sahabat gue. “Gimana ceritanya sih Ris?”

Ceritanya adalah mantan gue itu belum se’sakit’ gue dan lebih memilih untuk kembali pada seorang Sophie yang merupakan sahabat kecil gue. Jadi, walaupun gue yang mutusin Tio, tapi gue-lah korban sesungguhnya dari cinta segitiga kami. Apa mungkin cerita ini gue bilang ke El? Rasanya tidak.

“Ntar juga gue move on kok El…” ucap gue akhirnya. “Cuma perlu waktu lah, dikit lagi…” Aselinya sih gue ga yakin bisa.

“Iya deh Bro. Pokoknya kalo seorang Harris perlu bantuan gue, lo tinggal bilang aja, oke?” ujar El seraya mengedipkan sebelah matanya. Dan sikap El barusan membuat gue berpikir sesuatu yang gila. Errr…gimana kalo lo bantu ngegantiin posisi Tio di hati gue, El? Tanya gue dalam hati harap-harap cemas.

Seolah tahu pertanyaan yang gue gumamkan dalam hati, El kembali meninju lengan gue pelan, mengantarkan getaran-getaran ke jantung gue yang selama ini gue udah lupa gimana rasanya. Arrggh…

PS : (semacam) sekuel dari cerita si Harris yang ini 😀

Senggigi, Tunggu Aku!

*Maafkanlah kelebayan judulnya ya temans :)*

Tapi keindahan Senggigi pasti tidak lebay bukan? Maka jika suatu saat saya bisa berkesempatan berlibur ke Lombok, mungkin pantai ini lah yang ingin saya kunjungi pertama kali. Walaupun tentu saja gunung Rinjani yang menawan itu pun sangat menggoda iman *halah*.

Ada alasan lain kenapa pantai Senggigi harus berada di urutan pertama. Tidak lain tidak bukan adalah karena saya ingin tahu apakah senja di Senggigi memang seindah ‘khayalan’ saya tentangnya saat menuliskan cerpen Sepenggal Senja di Senggigi itu, walaupun kalau di lihat dari fotonya Depz ini tidak diragukan lagi keindahannya ya.

Senggigi, tunggu aku yaa 😉

Berlibur di Negeri Sendiri

Seorang sahabat pergi berlibur ke Singapore saat akhir pekan kemarin, dan menurutnya, banyak sekali orang Indonesia yang ditemuinya di sana. Belanja belanji di Orchard Road, bernarsis ria di depan Patung Merlion, berjejalan di Universal Studio, hingga mengantri di Marina bay Sky Park.

Saya belum pernah ke sana, dan berharap suatu saat bisa melihat sendiri ‘kehebohan’nya. Tapi kemudian saya teringat keindahan matahari terbit di puncak Bromo, ademnya telaga warna di Dieng, menawannya sunset di pantai Ujung Genteng, atau serunya belanja di pasar kaget Gasibu. Lantas kenapa semua objek wisata yang -menurut saya- menawan itu terkalahkan pamornya sekedar dengan patung singa menyemburkan air mancur ya?

Rasanya tidak perlu menyalahkan pihak ini atau departemen itu atau kementerian anu kenapa hal semacam demikian bisa terjadi. Saya lebih suka bertanya pada diri saya sendiri, dengan pertanyaan sederhana seperti “kenapa saya lebih tertarik berlibur ke luar negeri ya?”

Saya baru menginjakkan kaki di negara Gajah Putih, itupun hanya di Bangkok saja. Tapi JJ market atau pasar Catuchak itu sangat bersih dan teratur dibandingkan pasar Gasibu. Walaupun memang tidak berair jernih, sungai Chao Phraya tetap mudah ditempuh dengan BTS yang murah meriah dan bebas macet, jauh lebih mudah dibandingkan perjalanan saya ke Pulau Umang yang hanya ada di Banten tapi memerlukan waktu kurang lebih 7 jam (padahal sudah lewat jalan tol) dengan kondisi jalan yang kurang bagus. Mungkin daftar perbandingannya akan menjadi semakin panjang jika harus dibanding-bandingkan sedemikian rupa.

Fakta tersebut membuat saya sedikit berkhayal.

Seandainya banyak di antara kita yang ingin berlibur ke tempat-tempat wisata yang -katakanlah- berkategori ‘kurang terkenal’ semacam Pulau Umang atau Pantai Ujung Genteng, mungkin pemda -atau siapapun yang berwenang- akan malu dan kemudian mulai berpikir untuk memperbaiki sarana transportasi dari dan menuju tempat tersebut.

Homestay, hotel sederhana, atau bahkan restoran kecil dengan kuliner khas setempat akan banyak didirikan di lokasi wisata itu, yang tidak hanya memudahkan para wisatawan, tetapi sekaligus menjadi lahan rezeki lain para penduduk setempat untuk tidak melulu bermigrasi ke kota-kota besar.

Seandainya saja setiap orang yang telah berkesempatan datang ke tempat-tempat indah ini, mau menceritakan kembali betapa negeri Indonesia pun memiliki pesona yang tak kalah jelita, mungkin para sosialita yang menghabiskan es krim potong di negara Singa itu justru akan beralih tertarik pada manisan carica khas Dieng yang maknyus itu.

Semoga saja, khayalan saya itu suatu saat nanti -entah kapan- akan betul-betul mewujud. Semoga saja, upaya saya menuliskan tulisan ini di sini, bisa dianggap sebagai salah satu ‘jalan’ menuju impian itu. Dan semoga saja, pariwisata Indonesia kelak akan menjadi primadona bagi para warganya sendiri. Semoga ya 🙂

Curug Cimahi – Bandung

Berdingin-dingin di Bromo

Hutan buatan di Dago Pakar – Bandung

Sunset di pantai Ujung Genteng – Sukabumi

Belanja belanji di pasar Gasibu-Bandung

Birunya laut di Pulau Umang – Banten

Hutan Situ Cibeureum – Garut

Telaga Warna – Dieng

Masih terlalu sedikit tempat-tempat indah yang sempat saya datangi. Yuk temans, kita berlibur di negeri sendiri 😉

 

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bangkit di BlogCamp.