Mie Aceh Buzz

Adakah yang suka hunting kuliner baru saat berakhir pekan bersama keluarga? Cobain Mie Aceh Buzz deh, pasti deudeuieun kalau kata orang Sunda mah, alias mau lagi mau lagi hihihihi.

Jadi ceritanya, wiken lalu, saya diajak Yeye untuk mencicipi Mie Aceh Buzz di salah satu gerainya yang berlokasi di area Foodwalk Mega Bekasi. Dan ternyata, banyak juga blogger yang datang, asyik deh kalau kopdar ada sponsornya begitu ya *ups* hihihihi. Jadi dengan senang hati berangkat deh sama Akang Matahari ke Mega Bekasi, tadinya sih mau nonton dulu, tapi berhubung sudah jam 1 ya sudah langsung ke tekape ajah, nggak sabar juga ingin mencicip Mie Aceh yang konon katanya memiliki cita rasa otentik.

Waktu saya datang, sudah ada Yeye (tentu saja :P), Yani, Mia, Ayu, dan Mumut. Tak lama datang Dani yang rupanya tidak mengenali saya (hahahaha :P), lantas Pungki dan Desi yang rupanya sama-sama orang Bekasi hehehe. Beberapa di antara mereka baru kali ini saya kenal, tapi namapun blogger ya, bisa langsung nyambung-nyambung aja ngobrol, meskipun tetep ya, saya sepertinya yang paling pendiam dan pemalu *ngumpet di bawah meja* hihihhi. Semuanya datang bersama pasangan masing-masing dan para krucil, jadi kebayang dong ya ramenya itu meja di depan gerai Mie Aceh Buzz, semoga pengunjung lain yang merasa terganggu diberi hati yang lapang untuk menerima kehebohan tersebut hihihihi.

Santapan yang pertama kami cicip adalah martabaknya, dengan kuah kari yang gurih, enak banget lho ternyata. Biasanya saya tidak terlalu suka makanan setipe kari-karian begitu, tapi kemarin si martabak itu saya habis 3 potong sih hahahaha. Ada juga roti cane dengan topping coklat-keju-susu, saking enaknya, saya bungkus juga buat dimakan di rumah he he. Santapan berikutnya nasi goreng Aceh, ini terpaksa saya skip, karena saya dan AM brunch jam 10 pagi, jadi kalo jam 1 udah makan nasi lagi kok ya gimanaaaa gitu ya, meski pun tetep weeeeh makan Mie Acehnya sampai kandas :P.

Mie Acehnya memang enak, berbeda dengan mie aceh-mie aceh sebelumnya yang pernah saya cicipi. Lain kali sepertinya saya harus coba mie rebusnya nih, penasaraaaan. Rasanya spicy-spicy enak *halah*, lumayan pedes buat lidah saya, padahal saya doyan pedes juga, tapi entah kenapa kepedasan Mie Aceh Buzz terasa berbeda, sampai harus dibantu minum terus dan wajah saya memerah dengan sukses hihihi. Mungkin, rempah-rempah yang otentik khas Aceh belum berkenalan baik dengan lidah saya yang terlampau sunda ini ya :D. Untungnya, tidak lama ada Teh Tarik juga yang manis, jadi bisa menetralisir kepedasan mie goreng.

 Saya sedikit bertanya pada Baskoro, sang pemilik Mie Aceh Buzz yang hari itu juga ikut sibuk menemani kami menikmati hidangan. Dan sejarah dibalik berdirinya Mie Aceh Buzz -menurut saya- sangatlah heroic. Kenapa? Begini ceritanya temans. Sebelumnya, Bas membuka restoran Mie Aceh bersama teman-temannya di Bandung. Tapi karena satu dan lain hal, Bas memilih keluar dan merelakan sejumlah modal yang dia investasikan untuk gerai Mie Aceh tersebut. Kemudian pada suatu hari yang biasa-biasa saja (deuh, mulai lebay qiqiqiqi), salah satu koki di sana yang sudah dikenal baik oleh Bas, meminta pekerjaan pada Bas. Jadilah Bas mendirikan lagi warung Mie Aceh dengan benderanya sendiri demi membantu sang chef yang adalah temannya tadi memiliki pekerjaan. Dan sekarang, Mie Aceh Buzz sudah punya 3 lokasi, selain di Foodwalk Mega Bekasi, ada juga di Bekasi Square dan BCP, berawal dari sekadar membantu teman. Canggih banget kan itu? *mupeng* hehehehe.

Ya sudah begitu saja temans, kalau main-main ke Bekasi, mampirlah ke Mie Aceh Buzz, dijamin halal, enak mengenyangkan, dan masih bisa dikunjungi saat tanggal tua macam begini (nggak mahal maksutnyah ya hihihihi). Dengan konsep open kitchen, kita bisa melihat langsung proses pembuatan setiap pesanan, bahkan mie-nya pun bikin sendiri lho, fresh dibuat setiap harinya. Dan kalau perlu teman, boleh kok ajak-ajak saya makan di sana #eaaa hahahaha.

Advertisements

Sumarecon Bekasi

Iyaa…akhirnya di Bekasi ada Sumarecon! hehehe.

Dulu, saat saya -dan Akang Matahari tentu saja- akhirnya memilih untuk tinggal di Bekasi, seorang sahabat sempat protes, karena menurutnya Bekasi itu negeri antah berantah yang begitu jauh dari Jakarta, sehingga kami mungkin akan sulit bertemu. Well, mungkin kekhawatiran sahabat saya tadi sedikit lebay sih, meskipun sepertinya memang benar juga ya hihihi. Tapi jangan salah kawan, di Bekasi pun sekarang ada Sumarecon lho, dan tentunya hal ini mengurangi sedikit stigma ‘antah berantah’ yang terlanjur disematkan pada sebuah kota bernama Bekasi.

Kenapa? Karena -terima kasih pada Sumarecon- flyover KH.Noer Ali yang cantik ini hanya berjarak beberapa meter saja dari gerbang tol Bekasi Barat. Jadi darimana pun Anda, Jakarta-Depok-Bogor bahkan Bandung bisa datang ke Bekasi Sumarecon dengan mudah. Jika teman lebih suka moda transportasi kereta api, maka Sumarecon pun bisa dibilang cukup dekat dari stasiun Bekasi, tinggal naik CommuterLine dari Jakarta-Depok-Bogor deh. Saat ini memang belum ada sarana transportasi langsung dari stasiun, tapi kabarnya nanti akan disediakan shuttle bus.

Ini dia flyover KH Noer Ali nan megah  sepanjang 1 km itu.

saya pinjam foto milik Sumarecon, agak-agak sulit mengambil potret saat mengendarai motor 🙂

Jalannya yang licin mulus membuat jiwa Valentino Rossi dalam diri saya keluar, asyik lho ngebut di sini, sampai hampir lupa ngerem, jadilah niat saya memotret si fly over hanya bisa begini hasilnya 😀

IMG_20140526_110305
Salah satu keasyikan menjadi blogger, adalah menghadiri berbagai event menarik, dan tanggal 19 April 2014 lalu, saya berkesempatan hadir di acara yang diadakan Summarecon -One day Tour with Blogger- yang tidak saja merupakan ajang silaturahim bagi kami para blogger, tapi juga bisa having fun dan menambah pengetahuan.

Sebelum berkeliling Sumarecon, kami berkumpul di Marketing Gallery. Di sana para blogger yang jumlahnya hampir sekitar 70 orang, menerima penjelasan mengenai ‘sejarah’nya Sumarecon Bekasi terbentuk, konsep dan desainnya, berbagai fasilitasnya, hingga rencana-rencana pembangunan di masa depan. Presentasi dari tiga narasumber yaitu Pak Taufick Hardy (Design & Planning Manager Summarecon), Pak Dani Indra (Marketing Manager Summarecon) dan Pak Agus Purnawan (Operational Manager Summarecon Mal Bekasi) berjalan lancar, bahkan bisa dibilang seru, karena tim event mengadakan lomba live tweet selama acara, sibuklah para blogger ini menari jari selain tetap berkonsentrasi menyimak he he.

Setelahnya, kami diajak melihat rumah contoh type Lotus yang ada di Marketing gallery, yang tentu saja bikin mupeng beraaaat, sudah tahulah ya bagaimana kualitas Sumarecon dalam membangun hunian berkualitas, meskipun yaa harganya bikin gigit jari sih hihihihi. Tapi tak apa kawan, mari kita tetap bermimpi (mumpung ngga disuruh bayar), dan paling tidak, berpotret di depan sang rumah impian hihihihi.

Kemudian dengan dua buah shuttle bus, kami diajak ke Water Treatment Plant, yaitu sebuah bangunan khusus untuk memroses air bersih untuk penghuni Sumarecon. Prosesnya kurang lebih begini, air PAM yang dibeli curah oleh tim di water treatment disaring lagi menggunakan disc filter yang bisa menyaring partikel kotoran hingga yang berukuran kecil. Bahkan di sana ada ruang ultraviolet yang bisa membunuh kuman setelah air disaring. Meskipun saat ini belum sampai tahap air bersih tersebut bisa langsung diminum, tapi pihak Sumarecon sudah memiliki water reservoir, yang sedang dalam proses pengembangan, sehingga bukan tidak mungkin air di Sumarecon sudah bisa layak langsung minum.

Dengan water treatment ini juga, air limbah diolah dan bisa digunakan kembali untuk menyiram tanaman di banyak taman yang tersebar di kawasan terpadu Sumarecon, juga bisa digunakan untuk air penyiram di toilet. Ada tiga buah danau besar di titik-titik tertentu Sumarecon, sebagai pengendali banjir dan drainase, dan tentu saja sebagai taman air yang indah. Sebagai kawasan hijau, selain banyak taman dan pohon hijau di kanan kiri, di jalanan Sumarecon terdapat jalur khusus sepeda hingga jogging track.

Jalur sepeda dan taman hijau di kanan kiri jalan

Jalur sepeda dan taman hijau di kanan kiri jalan

Setelah dari water treatment, kami di ajak mengelilingi kawasan hunian Mapple, Bluebell, dan Acacia, yang kemudian singgah di Lotus Lakeside Residence. Rumah-rumah tak berpagar dengan taman dan rumput hijau di masing-masing halaman ini betul-betul jadi rumah impian saya deh, semoga suatu saat bisa kesampaian, Aamiin 🙂 Nah,di kawasan Lotus ini, kami juga diajak melihat fasilitas Club House. Ada kolam renang yang bebas digunakan para penghuni kapan pun, hingga semacam aula yang bisa digunakan untuk rapat atau acara-acara lain.

Foto milik Sumarecon

Foto milik Sumarecon

Kemudian, sekolah Islam dan Mesjid Al-Azhar, Rukan dan Pasar Modern Sinpasa. Tujuan akhir -dan utama he he- adalah Summarecon Mal Bekasi, sebelumnya kami diajak ke The Downtown Walk dan Show Unit The Springlake Apartment yang terletak di Lantai 3. Oh iya, mesjid Al-Azhar ini dirancang oleh Pak Ridwan Kamil lho, saya suka bangunan merah ini, kesannya vintage gimanaaaa gituh heuheu.

IMG_20140526_110749

Oh iya, berikut adalah pyramida landmark yang canggih, kalau malam dihiasi lampu (ada 300 buah lampu!!) gemerlap berwarna warni, bahkan konon katanya diiringi lagu tema yang berbeda-beda. Sayang saya cuma punya foto pas siang-siang, jadi PR tersendiri nih, untuk bisa memotret si piramida berkelap kelap, harus ke sana lagi kan ya berarti hihihihi *tetep modus* 😛

Sumarecon Mall Bekasi (untuk selanjutnya kita sebut SMB aja ya) adalah mall hijau yang ramah lingkungan dan serba ada. Maksud saya nih, seperti kawasan Sumarecon, keseluruhan mall dihiasi dengan banyak tanaman hijau, mall sendiri dikelilingi taman yang cukup luas. Beberapa dinding dihiasi tanaman rambat, bahkan di berbagai sudut mall bisa kita lihat bunga dan tanaman. Selain tentu saja banyak toko pilihan belanja ATM center yang berada di berbagai sudut strategis di SMB, banyak tempat makan (misalnya downtown walk, food temptation dan Bekasi Food City) yang bervariatif, SMB juga menyediakan mother’s room dan mushola. Jadi buibu yang membawa krucil bisa tetap belanja belanji lho ya, dan kaum muslim tidak harus skip sholat karena keasyikan shopping karena musholanya besar dan sangat nyaman.

Selain itu, SMB juga bekerja sama dengan Yayasan Budha Tzu Xhi, membuat sebuah program daur ulang sampah plastik dan kertas, yang nantinya akan difungsikan kembali menjad sebuah kegiatan kemanusiaan. Bahkan, SMB melarang penggunakan stereofoam yang memang sangat sulit terurai pada semua tenant, jadi semua gerai makanan di SMB aman dari stereofoam.

Dulu, waktu SMB baru buka, saya dan AM sengaja ke sana saat masih sepi. Berhubung pertama kali, kami pun belum tahu pintu masuk dan parkiran motor, yang ternyata jauuuuuuuh di belakang, hampir mengitari satu blok area mall sendiri. Saya sempat berpikir begini “Waduh, mall orang kayah euy ini mah, ngga ramah biker” hihihihi. Tapi ternyata saya salah, parkiran motor di SMB sangat beradab, bukan di basement yang pengap, atau di area terbuka yang super panas. Tidak seperti parkiran motor di beberapa mall yang sangat tidak motorwi *halah* :P.

Si Kupi dan teman-temannya tidak kepanasan :) Oh iya, FYI, foto ini diambil hari senin jam 11 siang, jadi masih sepiiii

Si Kupi dan teman-temannya tidak kepanasan 🙂 Oh iya, FYI, foto ini diambil hari senin jam 11 siang, jadi masih sepiiii

SMB juga sering mengadakan banyak event menarik. Salah satunya pasar senggol yang kemarin dilaksanakan dari 17 April hingga 11 Mei, semacam festival kuliner dengan 119 gerai kuliner dengan beratus-ratus ragam makanan khas yang mungkin sudah sangat sulit ditemukan. Misalnya saja, es goyang! Jajanan waktu saya kecil tuh heuheu. Ada juga bianglala, tong setan, kicir-kicir, becak mini dan banyak permainan lain yang sangat menyenangkan bagi anak-anak. Bahkan konsep pembayaran di Pasar Senggol dibuat khusus, jadi kita seperti latihan redenominasi, menggunakan uang dengan nominal terbesar 10 saja! hohohoho. Untuk lebih menambah nuansa nostalgia, di Pasar Senggol ini kita akan menemukan lancar tancap dengan pemutaran film Warkop DKI lhoooo, seru lah pokonya mah. Semoga event Pasar Senggol ini bisa diadakan kembali ya SMB, belum puas nih, waktu saya dan AM ke sana sudah terlalu malam karena sepulang nonton bioskop, jadi buru-buru udahan deh.

Ada juga World of Latern, yang masih berlangsung hingga 29 Juni nanti. Untuk tahu lebih detail, sila klik www.malbekasi.com ini yaa, semuanya lengkap di sana.

Dan SMB ini memang surga belanja banget deh, hampir semua brand terkenal ada di sini, salah satunya payless, toko sepatu favorit saya, meskipun flatshoes yang saya beli di sana sudah terhanyutkan banjir sih hihihihi. Dan SMB ini desain interiornya memang bagus, jadi kadang jiwa narsis saya tiba-tiba saja muncul dan dengan tidak tahu malunya berpotret ria ha ha 😛

Ya sudah, segitu dulu ya laporan saya mengenai One Day Tour with Blogger dan Sumarecon ini, jika temans ingin berkunjung ke sana, jangan sungkan hubungi saya ya, siapa tahu kita bisa kopdaran di sana nanti hohohoho.

Foto milik Sumarecon

Foto milik Sumarecon

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Keep Calm & Write Blog Writing Competition 2014

Keep-Calm-and-Writing-SMB

 

Kopdar Surabaya

Alhamdulillah, acara ngebolang minggu lalu memungkinkan saya -akhirnya- bisa sowan ke Galaxy. Walaupun sangat meleset dari jadwal dan rencana sebelumnya, dan tiba di rumah Pakdhe hampir setengah 9 malam.

Tadinya, berdasarkan itinerary dari EO trip, acara di Malang (setelah menanti sunrise di Bromo, menuju pasir berbisik dan lain-lain) selesai paling lambat pukul 11 hari Minggu. Makanya kami sudah booking untuk ikut tour Museum Sampoerna di Surabaya yang dimulai pukul 3 sore, dan mengkonfirmasi undangan Pakdhe untuk Kopdar Galaxy ba’da maghrib.

Ndilalah, baru sampai di homestay jam 1 siang. Baru berangkat menuju terminal Malang sekitar satu jam berikutnya, hujan dan akhir pekan rupanya juga membuat perjalanan Malang-Surabaya muacet pwol. Jadilah tiba di Terminal Bungursari hampir jam 8 malam, membuat saya menelepon Pakdhe (biasanya ‘cuma’ sms-an) mengabarkan bahwa kami baru sampai. Sebetulnya saya menelepon itu hendak membatalkan kedatangan saya, dan menggantinya dengan silaturahim ke Galaxy besok paginya. Tapi Pakdhe bilang teman-teman yang sudah datang di Galaxy masih menunggu dan belum makan malam! Huwaaahhh… Jadilah langsung meminta pak supir taxi ke Galaxy hihihihi.

Di sana sudah ada kang Yayat, Mas Insan, Mas Ridwan, Mas Indra, dan tentu saja sang tuan rumah Pakdhe dan Budhe Ipung yang ramah, sayang Bella sang bola bekel sudah tidur (yaiyalaaah, sudah jam berapa itu ya? hihihihi). Dalam pertemuan tersebut saya merasa betul-betul sedang bercengkrama dengan keluarga saya sendiri, begitu akrab dan hangat. Saya merasa betul-betul memiliki ‘pakdhe’ dalam arti yang sebenarnya 🙂

Saking serunya obrolan kami, saya sampai lupa mengabadikan pertemuan tersebut dengan kamera kami sendiri *tepok jidat*. jadi ya sudahlah saya terpaksa pinjam foto-fotonya dari Pakdhe ya hehehe.

Senangnya punya Pakdhe^^

Kang Yayat-Pakdhe-Budhe-saya-Akang Matahari-Mas Insan

Kalau diperhatikan, pipi saya semerah tomat *halah*, selain karena kepanasan-keujanan-kepanasan lagi dalam acara ngebolang di Malang, saat itu sebetulnya saya sedang sedikit demam, jadi itu pake jaket bukan gaya-gayaan lho ya hihihihi.

Besoknya, karena Surabaya mendung kami cuma jalan-jalan (kaki) berkeliling di sekitar penginapan di daerah Pasar Atom. Naik becak ke Jembatan Merah melewati kya-kya, hingga sampai di depan Tugu Pahlawan dan kehujanan, lantas kembali pulang.

Sebelum ke bandara, saya menelepon mba Yuni mengajaknya ketemuan. Untunglah beliau arek suroboyo banget, jadi bersedia datang ke Carrefour yang sangat dekat dengan penginapan. Dengan mba Yuni pun saya merasa seperti ngobrol dengan sahabat yang sudah lama tak bersua. Hebooooh hihihihihi.

_DSC0901

 

Ngeblog itu memang menyenangkan ya temans. Terima kasih untuk Pakdhe sekeluarga, dan teman-teman blogger yang sudah menyempatkan diri untuk kopdar ya *kiss kiss*. Semoga suatu saat saya bisa berkunjung ke Surabaya lagi 🙂

Bunda Lily

“Orin juuuuuuuuus…”

“Bundaaaaaaa….”

“Si akang mana?”

“Ngga ikut Bun, kan Orin pergi bareng para emak-emak, jadi ga diajakin. Salam aja katanya.”

“Iiih….mantu Bunda malah ga dateng.”

“Lain kali ya Bun…”

“Iya… lain kali si akang diajakin yaa.”

522695_4948173176074_1588680092_n (1)

Para emak-emak, dipotret oleh mas @applausr yang paling ganteng 🙂

Sepenggal canda bersama Bunda Lily, yang ternyata langsung mengenali saya *terharu*. Seorang Bunda yang tidak khawatir, dan memilih menjadi the best survivor.

Banyak yang ingin saya ceritakan tentang kebersamaan kami yang terlalu singkat kemarin siang. Tentang sosoknya yang selalu ceria (dan juga cerewet) *ups* hihihihi. Tentang pastanya yang enak (walaupun sungkan nambah lagi hahahaha). Tentang omelannya saat saya (dan Teh Nchie) keukeuh mau cuci piring, sampai-sampai didaulat jadi anak bandel karena tidak mau menuruti perkataan ’emak’nya. Tentang pembagian ‘paksa’ sang dukuh-jeruk-salak ke masing-masing orang.

Tapi satu hal terpenting adalah, ‘mengenal’ seorang Bunda Lily, dan kemudian diizinkan Tuhan bisa menemui beliau di kediamannya kemarin siang, telah membuat saya (sekali lagi) percaya, bahwa hidup terlalu mulia untuk disiakan begitu saja, dan tak ada hal lain untuk berterima kasih padaNYA akan hidup yang telah dititipkan pada saya, selain bersyukur dan ikhlas menjalaninya, walaupun apapun. Titik.

IMG-20130310-WA0000

Ini teh yang mana emaknya sih? hihihihi

Bundaaaa… ai lap yu pulll *peyuuuuk* 😉

Teawalk itu…

Teawalk itu menyenangkan. Teawalk itu hijau menyegarkan. Teawalk itu cararangkeul bitis (baca : betis pegal). Teawalk itu selalu ngangenin. Apalagi jika teawalk bersama sahabat dunia maya, yang selama ini hanya bertegur sapa lewat kotak sebesar 14 inch, sesuatu lah pokoknya mah he he.

Sudah baca laporan Teh Nchi di postingan yang ini, bukan? Nah, ceritanya di postingan ini saya harus melanjutkan cerita Teh Nchie di sana.

Sedikit bercerita, kenapa saya begitu keukeuh dan menyengajakan pergi ke Bandung (dari Bekasi) hanya untuk sekedar kopdar + teawalk, adalah karena saya memang suka berpetualang di alam seperti itu, embel-embel silaturahim dengan para sahabat tentu saja menjadi nilai lain yang membuat saya bertambah ingin pergi.

Maka walaupun tanpa suami (tapi suami saya mengizinkan saya pergi kok :P), walaupun harus merayu sohib gila saya untuk menemani ke sana, walaupun harus bangun jam 4 pagi demi mengejar bus jadwal jam 5, walaupun harus terkena macet di Bandung dan baru pulang ke rumah setengah 10 malam, walaupun muka saya terbakar hingga diledek teman-teman kantor dengan julukan ‘Orin rebus’, saya rela sodara-sodara *tsaaahhh…

Nah, silahkan dinikmati sebagian reportase-nya ya he he.

Setelah sarapan nasi liwet ditemani lalapan, sambel buatan Teh Nchie, ikan asin, tahu parongpong, tempe mendoan dan tumis buncis-tahu, kami bersiap-siap untuk ke menu utama, yaitu Teawalk di Taman Sukawana. Sebelum berangkat, sebagai ibu Pos yang baik, saya menyerahkan titipan surat dari Puteri, yang dibacakan di depan khalayak oleh Ibu-nya Fauzan 🙂

Ibu Dey, yang sedang membacakan surat dari Pu

Siap-siap

Dek Anin main panjat-panjatan dulu 🙂

Mbah-nya Fauzan...pengen ikutan teawalk katanya, tapi harus jagain helm hihihihi *piss ya Mbah*

Mulai berjalaaaan, melihat hijau di kanan kiri, dengan udara yang suejuk 😉

Sempat mendung, dan kemudian gerimis, membuat susana manis bertambah magis #beuh

Berjumpa petani tomat

Menikmati padang rumput

Cerah kembali (bahkan panas) 😀

Setengah perjalanan, pada kecapean tuuuh 😛

Ini lhoooo kebun tehnya, mupeng ga hayooo 😛

Ehem, masih banyak foto-fotonya, masih banyak juga cerita-cerita yang menyertainya, tapi apa daya harus tetap diakhiri kan ya he he. Tapi jangan khawatir, ikuti kelanjutan kisah teawalk ini di blognya mas Jier, nanti mampir ke sana ya teman-teman 😉

Terima kasih Bu Dey, karena sudah menyediakan diri menjadi tuan rumah yang ramah bin baik hati, juga guide yang menyenangkan, dan mentraktir saya cimol (hehehehe). Terima kasih Teh Nchie, yang sudah membuat sambal uenak, dan menjadi teman bernarsis ria, maafkan tertular kegilaan sohib Orin ya (hihihihi). Terima kasih Abang, yang sudah ikut-ikutan menjepret Orin, obyek yang keren memang ya (hahahaha). Terima kasih mas Jier, yang sudah dengan senang hati membawa pulang makanan ke kostan (hohohoho).

Tidak ketinggalan, para pemeran pendamping dalam kopdar tea walk kali ini. Bapak Fikri yang sudah mengantar jemput. Fauzan yang lucu dan ceria. Olive yang selalu kabur saat difoto. Papa Olive sang fotografer. Ummi yang sudah membawakan tempe mentah. Kakak Bibin yang gi ngambek. Adek Anin yang selalu ramai, dan Mbah yang pandai membuat wayang :). Oh ya, juga sohib setia saya yang selalu kocak bin narsis, kapan2 kita berpetuang lagi ya Neng he he.

Sekian laporan hari ini teman, sampai jumpa di laporan kopdar berikutnya 😀

Kopdar Besqi

Meminjam istilahnya Putri, sabtu kemarin terlaksana sebuah kopdar warga Bekesong 😉 di Bekasi Square, yang menurut Teh Lidya istilah kerennya ‘Besqi’ hehehe…

So, tanpa banyak basa basi, silahkan dinikmati saja laporannya di slide berikut ya 😉

This slideshow requires JavaScript.

Siapa lagi nih blogger asal Bekasi? Kita kopdar yuuuuuks 😉

Soto Ceker, Tali Asih + Kopdar, dan Permintaan Maaf

Entah untuk yang ke berapa kali-nya, maafkan pemilihan judulnya ya teman 😀

***

Ada yang bingung memilih menu untuk makan malam? Semoga penampakan yang satu ini bisa menjadi inspirasi ya *halah* hihihi.

soto ceker pak Gendut

Awalnya saya tidak suka ceker. Kalau mamah memasak sop dengan ceker misalnya, ya tidak saya ambil, hanya memakan sayur-sayuran dan daging ayamnya saja (kalau ada). Mungkin ini karena doktrin salah yang banyak menyebar saat saya kecil dulu : “Jangan makan ceker ayam, nanti tulisan tangannya jelek (mirip ceker ayam)”. Padahal, makan atau pun tidak si ceker ayam ini, tulisan tangan saya memang jauh dari kategori bagus 😛

Jadi entah kapan tepatnya, saya jadi cukup sering makan bahkan memasak sendiri si ceker ayam ini. Apalagi sekarang suami saya pun penggemar ceker, dan konon ceker ayam ini cukup bermanfaat untuk dikonsumsi. Sayang sekali saya belum menemukan datanya he he.

Lantas apa hubungannya Soto Ceker Pak Gendut yang -bagi saya- cukup maknyuss ini dengan Tali Asih?

Karena sabtu kemarin, saya berhasil mencegat Dhila -salah satu pemenang giveaway- yang baru pulang bertugas dari Kendari, untuk ketemuan di Soto Ceker. Saat Dhila mengirimkan email menginformasikan alamat tali asih, ternyata rumahnya tidak terlalu jauh dari daerah rumah kontrakan saya. Ya sudah, daripada sang tali asih dikirim, kenapa tidak sekalian bersilaturahim dengan berkopdar ria, bukan? Apalagi ternyata bonus dari kopdar ini adalah  soto ceker dan jus stroberi gratisan ditraktir Dhila *ups* hihihihi. Makasih ya Neng 😉

Dhila yang malu-malu belum berani tenar he he

Lalu, permintaan maafnya untuk apa?

Untuk kesalahan saya karena masih belum juga mengirimkan tali asih bagi para pemenang lainnya. Semua hadiah sudah terkumpul, alamat-alamat sudah diprint, masalah datang saat prosesi bungkus membungkus. Si sendal jepang itu memang tidak ada kotaknya, sehingga saat disatukan dengan buku, bentuknya jadi jelek. Beginilah kalau jadi perfeksionis amatir 😛

Sudah saya coba masukkan ke amplop besar dengan harapan mereka bisa bekerja sama dengan baik membentuk sebuah paket yang cantik, tapi masih belum bisa memuaskan hati. Mencari kotak yang pas akan menjadikannya sempurna, tapi karena ke-bising-an yang sedang saya alami, pencarian itu belum sampai kemana-mana.

Sabtu kemarin akhirnya saya berniat cuek bebek saja mengirimkan paket tali asih tak berbentuk itu. Tapi apalah daya, sejak pagi saya sudah harus ini itu sehingga tidak bisa ke kantor pos, baru kembali ke rumah sekitar jam 4 sore. JNE dekat rumah saya tidak buka di hari minggu, dia masih tutup saat saya berangkat kantor, dan sudah tutup saat saya pulang kantor. Beuh #_#

Maka, dari lubuk hati yang paling dalam, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya bagi para pemenang (kecuali Dhila tentu saja) karena saya belum sempat mengirimkan tali asih yang tidak seberapa itu. InsyaALLAH wiken ini saya selesaikan. Mohon bersabar ya teman-teman..