Bio Oil: Solusi Berbagai Masalah Kulit

Pssttt, seminggu lalu teman-teman yang sudah menjadi follower akun IG saya @neng_orin (yang belum silakan lho ya difollow :P) pasti sudah melihat foto berikut kan ya?

Yup, seminggu lalu saya bersama Emak-emak Blogger berkesempatan hadir di Watsons Mal Kelapa Gading, untuk mengikuti Blogger Gathering yang diselenggarakan Bio Oil. Saya berkenalan dengan Bio Oil tepat dua tahun lalu. Dan setia menjadi penggunanya hingga sekarang, serius lho ya, ini bukan iklan hahahaha. Bio Oil ini cocok bagi jenis kulit saya yang super sensitif soalnya.

(Cerita saya mengenai BIo Oil dua tahun lalu bisa di baca di sini)

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Artis cantik Gisela Anastasia, rupanya juga menjadi pemakai setia Bio Oil. Dari kehamilan putrinya Gempi hingga sekarang, bahkan mbak Gisel tidak pernah lupa memasukkan Bio Oil ukuran 60 ml saat traveling lho.

Salah satu pembicara di acara tersebut, dokter spesial kulit dr. Febby Karina, secara singkat menjelaskan masalah kulit terbesar bagi kita. Yaitu Scars (bekas luka pada jaringan terluar kulit), Dehydrated Skin (kulit yang kelembaban alaminya berkurang), Aging (sel kulit yang sudah tidak bisa meregenerasi secara sempurna), Strech Marks (peregangan kulit), dan Unevent Skin Tone (warna kulit yang tidak merata).

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Duh, itu semua masalah kok ada di saya semua ya? hihihihi. Tapi untunglah ya, karena Bio Oil bisa menjadi solusi bagi seluruh masalah kulit yang disebutkan tersebut.

Kenapa Bio Oil ini cocok bagi segala jenis kulit (bahkan yang sensitif sekali pun), adalah karena kandungannya yang super lengkap, manteman, seperti berikut:

  • Vitamin A,  memacu pembentukan kolagen baru dan membantu peremajaan kulit, meningkatkan elastisitas, juga memperbaiki tekstur dan warna kulit
  • Antioksidan, membantu melindungi kulit dari efek radikal bebas yang bisa menyebabkan kerusakan kulit dan penuaan dini.
  • PurCellin Oil yang mengurangi kepekatan formulasi dan menjadikannya ringan saat diaplikasikan ke kulit. Berfungsi juga sebagai emolien yang membuat kulit halus, kenyal dan lembut.
  • Minyak Rosemary yang membantu menjaga dan menenangkan kulit, serta menjadi antiseptik ringan.
  • Minyak Lavender sebagai penyejuk kulit serta dapat melembutkan dan mengencangkan kulit serta dapat menjadi antiseptik alami.
  • Minyak Kalendula yang bisa meregenerasi sel kulit dan dapat digunakan untuk merawat kulit sensitif, rusak atau terbakar sinar matahari. Dapat mengurangi peradangan dan dapat digunakan untuk mengurangi iritasi dan ruam ringan.
  • Minyak Kamomil sebagai anti-peradangan, memberikan manfaat menenangkan kulit dan sangat bermanfaat untuk kulit yang sensitif.

Tambahan ilmu dari ibu dokter, ternyata menggunakan sunblock/sunscreen setiap hari itu wajib, meskipun kita tidak berada di bawah sinar matahari langsung, efek buruk ultra violetnya memang harus dihindari. PR nih buat saya, saya pikir pakai pelembab atau day cream sebelum keluar rumah itu sudah lebih dari cukup, ternyata belum.

Penggunaan Bio Oil ini mudah saja kok, tinggal dioleskan saja pada kulit bermasalah setidaknya dua kali sehari, pijat perlahan agar minyal terserap kulit dengan sempurna ya. Bio Oil aman untuk Ibu hamil sekali pun, tapi BUKAN baby oil, jadi sebaiknya tidak digunakan untuk anak kecil di bawah usia satu tahun yaa.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Nah ini nih yang juga tidak kalah penting. Bio Oil ini bisa diaplikasikan from head to toe banget. Selain di kulit wajah, leher, siku, lipatan lutut hingga bisa untuk ujung-ujung jari penguat kuku lho!

Ah tambah cinta deh sama si Bio Oil ini. Oh iya, barangkali ada yang belum tahu, Bio OIl ini bisa dibeli di seluruh Watsons di Indonesia ya. Harganya mungkin sedikit lebih mahal, tapi worthed banget lah kalau menurut saya mah, gih cobain ;).

15631170_1489738234388907_354441027_o

Advertisements

Sejak dulu saya termasuk orang yang blak-blakan soal usia. Meskipun beberapa tahun terakhir usia saya sudah masuk kategori ‘tua’, tetap saja saya tidak berupaya ‘menyembunyikan’nya, kalau ada yang bertanya tentang usia, saya jawab apa adanya saja. Iyaaaa, usia saya tahun ini 35 tahun! Terlihat lebih muda? Ehem, mungkin karena saya selalu berupaya untuk tetap bahagia :).

Konon, di usia 30-an perempuan telah ‘menemukan’ dirinya sendiri. Berbeda dengan perempuan di usia 20an yang masih penuh gejolak, perempuan usia 30an cenderung sudah tahu apa impiannya, di mana passionnya, atau bagaimana mereka menggapai cita-cita masa mudanya. Tidak jarang, perempuan-perempuan ini bahkan sudah berada di posisi “living their own dream”, sehingga hidup dan kehidupan bagi mereka memang sudah pejal adanya. Tak lagi ngoyo mengejar sesuatu, nyaman atas hidup yang dijalani, walaupun tentu saja selalu ada impian baru-impian baru yang ingin diraih.

Bagaimana dengan saya? Mari saya ceritakan, teman.

Dulu, katakanlah sepuluh tahun yang lalu, rasanya bermimpi pun saya tidak berani. Membayangkan saya berada di belakang kemudi menyetir mobil saya sendiri, serupa menyaksikan kuda putih bersayap yang tengah berjalan di atas pelangi. Lebay ya? He he he. Tapi saya memang baru belajar nyetir beberapa bulan yang lalu, dan memang baru bisa memiliki mobil sendiri beberapa bulan yang lalu juga. Maka ketika itu benar-benar terjadi, rasanya begitu … entah. Impian –yang sebelumnya bahkan tak berani saya mimpikan—telah mewujud.

Dan di usia yang tak lagi muda, ternyata saya mampu mengalahkan rasa malu saya untuk ikut kursus menyetir, dan akhirnya punya SIM A bersama adik-adik yang masih belia itu!

Cerita lain adalah kembalinya saya bekerja kantoran. Dua tahun lalu, saya memutuskan untuk resign dan menjadi full time wife yang berkegiatan di rumah. Salah satu alasannya memang saya ingin segera hamil sehingga membatasi diri untuk tidak terlalu lelah. Alasan lainnya adalah saya ingin fokus menjadi penulis. Novel kolaborasi saya memang diterbitkan Februari 2016 lalu menyusul buku antologi kumpulan cerpen Februari 2014, tapi saya kurang beruntung dengan kehamilan yang tak kunjung datang. Hingga kemudian saya pun nekat menjadi karyawan kantoran lagi.

Kenapa nekat? Karena usia saya yang sudah 35 tahun itu. Memang benar saya punya –setidaknya—9 tahun pengalaman kerja, tapi bukankah para gadis belia kinyis-kinyis fresh graduaters itu lebih ‘menguntungkan’ bagi perusahaan? Tapi toh, alhamdulillah, saya diterima bekerja. Dengan gaji dan posisi yang lebih tinggi daripada pekerjaan sebelumnya saat saya resign dua tahun lalu. See? Usia telah terbukti bukan jadi halangan jika kita tetap berupaya.

Cerita terakhir adalah sebuah passion yang baru saya sadari belakangan. Beryoga. Hal ini bukan hal baru sebetulnya, sejak bertahun-tahun lalu saya sudah ikut latihan dan memang menyukainya. Tapi ya sudah, begitu saja, seperti mendengarkan sebuah lagu enak di radio untuk kemudian segera lupa siapa penyanyi atau apa judulnya ketika lagu berakhir. Kali ini saya betul-betul menikmati yoga sebagai self healing, dan ingin tenggelam bersamanya.

Di luar jadwal rutin setiap selasa dan Jumat, seringkali saya berlatih sendiri (sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan) di rumah atau di kantor. Saya ikut komunitas yoga, bahkan dengan senang hati berangkat selepas shubuh dari Karawang ke Jakarta hanya untuk ikut pelatihan yoga.

Lantas, apakah saya sudah menjadi seorang yogini yang mumpuni? Tentu saja tidak! Hahahaha.

Tubuh saya masih terlampau kaku untuk bisa membungkuk mencium lutut dengan dua kaki yang lurus tanpa tertekuk. Tangan saya belum mampu melentur sempurna untuk saling berkait di belakang punggung. Kepala saya sama sekali tidak kuat menahan tubuh saya ber-headstand ria.

Tapi toh intinya bukan itu. Intinya adalah saya berani mempelajari sesuatu yang baru, dari awal, dari nol, bahwa di #usiacantik ini saya tidak takut ditertawakan serupa anak kecil yang terjatuh saat belajar naik sepeda roda tiga.

Dan kesukaan saya beryoga ternyata berimbas pada aura yang –katanya—membuat saya terlihat lebih muda daripada usia saya yang sebenarnya. Mungkin meditasi yang saya lakukan sebelum dan setelah beryoga memang memiliki andil membuat kulit wajah belum dihiasi kerutan ya. Walaupun tentu saja saya harus mencari bantuan lain untuk membuat saya terlihat cantik lebih lama *tsaaah*.

Cantik lebih lama meski “angka usia” terus merambat naik tentu butuh perawatan kulit yang serius dan ekstra perhatian. Dan saya memilih #RevitaliftDermalift dari L’Oreal Paris Skin Expert. Mengandung Centella Asiatica, Pro-Retinol A dan Dermalift Technology yang terkandung di dalamnya tidak hanya mampu mengurangi kerutan sebanyak 27%, tetapi sekaligus meningkatkan kekencangan kulit wajah sebanyak 35%.

Untuk mendapatkannya sangat mudah, bisa langsung kunjungi http://bit.ly/UsiaCantik saja ya. Semuanya lengkap di sana.

Menua memang sebuah keniscayaan, serupa apel yang pasti terjatuh ke tanah akibat kepatuhannya terhadap hukum gravitasi, demikian pula usia. Tak bisa selamanya kita muda. Tapi tak ada salahnya tetap cantik di berapa pun usia kita, bukan?

Kunci penting untuk selalu ber-#usiacantik (setidaknya bagi saya) adalah, BAHAGIA. Bahwa apa yang terjadi (juga tidak terjadi) pada saya adalah sebuah kebahagiaan yang harus saya syukuri. Bahwa seluruh yang saya miliki (beserta semua yang belum bisa saya miliki) adalah sebuah anugerah. Bahwa hidup dan kehidupan saya adalah berkah terindah Sang Maha Penggenggam Semesta.

Sebelum saya akhiri, saya juga ingin mengajak teman untuk sharing #usiacantik versimu sendiri di lomba berikut bit.ly/usiacantik_blogcomp . Siapa tahu kisahmu bisa menginspirasi perempuan cantik lainnya, bukan? Yuk ah buruan daftar, karena banyak haduah cantik menanti dari L’Oreal Paris Skin Expert ;).

Ya sudah, sebegitu dululah ya postingan kali ini. Jadi siapa nih yang ber-#usiacantik seperti saya? 🙂

 

 

Tentang Stiker Romlah

Huwaaahhh, kangen ngeblog euy. Tapi saya bukan sedang mencari-cari alasan, kesibukan di dunia nyata saya memang sedang gila-gilaan belakangan ini. Boro-boro ngeblog, jam istirahat saya saja kadang tercuri oleh meeting yang molor. Begitulah, dinikmati saja, yes? 🙂 *pasrah*.

Draft postingan ini usianya sudah seminggu lebih, tepatnya sehari setelah fiksi saya Jodoh Romlah itu terbit. Basi sih jadinya, tapi tak apalah ya, daripada saya mikir tema postingan baru hehehe.

Jadi begini, dari beberapa komentar dalam postingan tersebut, saya menangkap bahwa stiker yang memang sengaja dijadikan sebagai prompt itu, sepintas seperti hasil editan. Wajar saja sih sebetulnya, stiker tersebut terlampau … apa ya, konyol, mungkin :D.

whatsapp-image-2016-10-06-at-12-45-01-pm

Memang ‘gila’ banget kan ya stiker ini, ada notelnya segala pulak! Meskipun saya pikir itu nomornya nggak mungkin aktif sih, atau ada yang mau coba hubungi? hihihihihi.

Stiker tersebut benar-benar ada. Mobil itu melaju persis di depan saya, yang tentu saja membuat saya bersegera mencari ponsel dan memotretnya meskipun saat itu saya sedang menyetir. Biasanya saya tidak bermain-main ponsel saat menyetir lho ya, tapi saat itu pun memang jalanan masih sepi (karena masih pagi-pagi dan baru saja hujan), juga bukan di jalan raya besar yang lalu lintasnya ramai, sehingga saya berani memotret. Dan mungkin jiwa ‘reporter’ saya pun sedang muncul ke permukaan, sehingga dengan nekatnya langsung memotret si stiker hanya dengan dua kali percobaan yang disertai deg-degan hihihihi.

Ini dia foto aslinya dari ponsel saya. Foto yang di atas itu setelah saya edit untuk diaplod ke IG saya (akun @neng_orin, sila follow kalau belum, ihiks). Dan sengaja saya coret nopol-nya yaa :). Lokasinya di jalan Tuparev Karawang, meskipun si mobil ini platnya ‘B’, mungkin sedang jalan-jalan saja di Karawang hehehehe.

whatsapp-image-2016-10-10-at-2-45-47-pm

Nah, gimana? Demikianlah, foto itu bukan photoshop dan benar-benar ada. Apakah pak supir yang mengendarai si Gran Max betul-betul beristrikan Romlah, saya tidak tahu. Dan meskipun stiker itu hanya sebuah joke belaka, saya salut pada siapa pun pak sopir yang mengizinkan stiker tersebut tertempel di belakang mobil :D.

Ya sudah sebegitu dulu postingan random kali ini ;).

#FFKamis – Jodoh Romlah

Perihal “jodoh tak kan lari ke mana” itu sudah Romlah pahami betul. Mas Paijo suaminya itu, yang sudah ditolak entah berapa ratus kali, tetap saja mengejar Romlah hingga perempuan itu luluh. Padahal Romlah sempat pacaran sama Tommy, tapi semesta memihak Paijo untuk berjodoh dengannya.

Romlah cinta sama Mas Paijo, tapi belakangan Romlah curiga suaminya itu selingkuh, hingga dia nekat menempelkan stiker konyol di belakang mobil Mas Paijo pagi tadi. Tapi saat ada telepon masuk dari nomor tak dikenal, Romlah cemas, apakah benar suaminya itu kawin lagi?

Penasaran, akhirnya Romlah menerima telepon.

“Halo?”

“Rom, ini Tommy. Kapan kamu jadi janda, Rom?”

whatsapp-image-2016-10-06-at-12-45-01-pm

Note: 100 kata, mestinya lebih panjang sih tapi…*ilangsinyal* hihihihi

Resmi Ber-#UsiaCantik

Iyaaa, hari ini saya ulang tahun, temans. 35 tahun! Udah tua ya bok! bhuahahahaha.

Mari saya ceritakan sedikit betapa di usia ini saya -akhirnya- mengakui (kemarin-kemarin mah kayak masih denial gitu lah ya hahaha) kalau saya memang sudah menua.

Uban

Jadi begini, rambut saya itu lurus, lebat dan hitam. Tetap demikian meski saya telah berhijab, agak-agak rontok sedikit kalau rambut saya sudah terlalu panjang. Nah, setiap kali saya creambath atau potong rambut, tahun-tahun belakangan ini saya pasti nanya mbaknya, “ada uban nggak mbak?”.

Secara yaa, kalau diperiksa sendiri mah kan ya susah, dan karena rambut saya juga emang lurus-lurus aja, nggak sisiran seharian pun tak mengapa (emang males nyisir aja sih hihihihi). Intinya sih so far saya belum pernah berhasil menemukan selarik uban saat bercermin menyisir rambut.

Sebelum-sebelumnya, jawaban dari pertanyaan tersebut adalah “tidak”, tak ada sehelai uban pun di kumpulan rambut yang tumbuh di kepala saya. Sampai kemudian dua minggu lalu, tepatnya hari Minggu, 2 Oktober 2016, saat saya nyalon dan menanyakan pertanyaan yang sama, si mbaknya bilang, “Iya ada nih, mbak, satu uban,” bhuahahaha. Resmilah sudah, saya ubanan! :P.

Iya sih, saya tau kok, perihal uban bukan sebuah keniscayaan seseorang dikategorikan ‘tua’, hawong AM sejak awal kami menikah aja udah ubanan lho, awet tua dong ya kategorinya hihihihi. Tapi yaa…setidaknya, sehelai uban di rambut saya seolah menjadi petunjuk, bahwa rambut saya telah tunduk patuh pada semesta, bahwa produksi melanosit yang menurun seiring bertambahnya usia (yang konon menjadi penyebab berubahnya warna pada rambut), juga terjadi di tubuh saya.

Keriput

Selain kantung mata yang memang sepertinya menurun dari Mamah saya, sepintas wajah saya tidak terlihat mengeriput. Yaa kalau dilihat pake kaca pembesar mah ya pasti berkerut keriut juga sih ya hahaha. Tapi maksud saya nih, saya kan suka membandingkan dengan AM (usia kami selisih satu tahun) ya, di ujung matanya terlihat sekali kalau banyak kerutannya, sementara kalau saya ngaca, ya nggak keliatan kerutan di ujung mata saya.

Mungkin karena kulit saya sangat berminyak ya, yang meskipun imbas negatifnya adalah saya jerawatan mulu (hihihihi, terima nasib aja), tapi konon katanya membuat kulit tidak mudah keriput.

Hal lain yang berkenaan dengan kulit ini adalah saya baru terpikirkan untuk memakai krim anti-aging! hahaha telat banget sih ya, nama pun ‘anti’ ya harusnya sebelum ‘aging’nya terjadi dong ya :P. Tapi late better than never katanya mah kan? Meskipun saya tidak bisa melawan gravitasi yang membuat oksigen di tubuh saya terus menerus berkurang sehingga lambat laun mengakibatkan kulit mengeriput, tapi yaa … setidaknya menjaga kulit saya tetap sehat lebih lama lah, ya toh? 😀

Mudah Lelah

Sudah baca cerita saya berlatih Capoeira kemarin kan ya? Pagi harinya itu saya luar biasa lelah, di kantor pun seharian bawaannya lemes gitulah. Walaupun kemarin itu tetap aja saya yoga, dan jadilah tambah cuapek ruarrr biasa, nyampe rumah langsung tidur (biasanya masih sempat nonton TV/baca buku dulu), bahkan nggak sanggup lagi masak pagi seperti biasa dan memilih tidur lagi setelah sholat shubuh.

Pertanda apa lagi ini selain tubuh saya memang tak lagi sekuat dulu? *tsaaah* *mulailebay*.

 

Sudah sih, tiga hal itu saja rasanya. Soal hamil, saya sudah tahu dari dulu kalau di usia saya ini sangat rawan untuk kehamilan pertama, jangankan 35, menginjak usia 30 saja katanya sudah beresiko tinggi ya. Tapi ya gimana atuh ya kalau belum waktunya mah? 🙂 Doakan saja Tuhan jenuh mendengar rengekan saya ya hehehe.

Intinya, saya sungguh sangat bersyukur saya diizinkan Tuhan untuk hidup hingga hari ini. Doa saya adalah, saya ingin semakin disayang Tuhan, dan semoga saya semakin sayang sesama dan semesta, juga selalu sehat dan bahagia. Aamiin.

Perubahan signifikan tentu saja ada di berat badan yang semakin memberat dan pipi yang semakin menggembung sepertinya ya hihihihi. Ya sudahlah ya, yang penting di #usiacantik ini saya tetap cantik jiwa ragalah ya *menghibur diri* :).

Aamiin.

 

Berkenalan dengan Capoeira

Pertama kali saya melihat seni bela diri ini adalah di channel NatGeo, entah berapa tahun lalu, dan saya menyukai konsepnya yang lebih ke arah ‘menghindari’ perkelahian. Coba deh bayangkan, bela diri yang fokus mengajarkan mengelak gitu lho, kalau terpaksa baru deh menyerang hihihihi.

Berikutnya, saya pernah melihat langsung beberapa orang yang melakukan capoeira di pameran JCC 2013 lalu. Saya ingat betul, saya asyik sendiri anteng aja nonton (sambil motret) mbak dan mas ini bercapoeira ria sampai lupa pulang dan diomelin AM *ups* :P. Tapi ya gimana ya, kayaknya indah aja gitu, bela diri yang seperti menari ini memang terlihat indah walaupun sebetulnya mematikan. ‘Serangan’ Capoeira berada pada tendangan yang ditujukan pada titik vital lawan, misalnya: kepala!

belajar memotret obyek bergerak :P

belajar memotret obyek bergerak 😛

Setelah saya gugling, rupanya Capoeira ini awalnya bela diri yang sering dilakukan para budak negro di Brazil pada abad ke-17! Eyampun udah lama banget ternyata. Sejarahnya lumayan berdarah-darah kalau ada hubungannya dengan slavery ya, monggo digugling sendiri aja ya, temans *kabur sebelum ditimpuk berjamaah* hihihi. Intinya sih, Capoeira sempat dilarang pemerintah Brazil karena dianggap bela diri-nya penjahat dan kaum anarkis, sempat diragukan kemampuannya karena terlihat seperti tarian, hingga pada 26 November 2014 UNESCO melindungi capoeira sebagai “intangible cultural heritage”.

Kenapa saya sampai buat postingan tentang Capoeira segala? Karena saya sedang menulis fiksi dengan tokoh yang juga menyukai Capoeira sebagai alat bela dirinya. Itu alasan pertama. Alasan berikutnya adalah semalam saya mencoba berlatih Capoeira! Senaaaaang.

Jadi di tempat fitness, akhir-akhir ini sering diadakan kelas khusus. Kelas reguler semacam yoga-zumba-cardio dance-aerobic-body strike-spinning biasanya rutin 1-2 kali seminggu. Nah si kelas khusus ini hanya sebulan sekali, mungkin agar tidak bosan kalau banyak variasi pilihan kelas ya.

Bulan lalu kelas khususnya adalah Taebo (Taekwondo – Boxing), saya sempat ikut juga dong, beneran ampun-ampunan deh itu latihannya. Walaupun karena kelas pemula ya memang hanya diajarkan yang paling dasarnya saja sih. Termasuk latihan Capoeira semalam. Saya tidak tahu sebelumnya jadwal ini (memang suka kudet hihihihi), beruntung bangetlah saya pas nge-gym semalam itu, karena jadwal saya kan memang selasa dan Jumat (untuk yoga), hari lain saya datang kalau lagi rajin aja :D.

Nah, pas diberitahu ada kelas Capoeira, saya langsung mau ikut dong. Meski nggak berani di barisan paling depan (iya, saya mah cemen anaknya :P), saya sungguh-sungguh mengikuti arahan mas instruktur. Semalam itu kami ‘cuma’ diajari 3 gerakan super basic:

  1. kuda-kuda (entah saya lupa istilahnya), seperti bela diri pada umumnya, kuda-kuda ini sepertinya memang hal pertama yang harus dipelajari ya. Posisinya kurang lebih begini, kedua kaki direntangkan selebar bahu, dan badan diturunkan seperti hendak duduk (lutut sedikit ditekuk), berat tubuh berada di kedua kaki. Tubuh tegak menghadap ke depan, kedua tangan bersilang berada di depan muka. Terbayang nggak? hihihihi. Disuruh naik turun 5x hitungan di posisi ini juga sudah ngos-ngosan sodara-sodara!
  2. Gerakan berikutnya adalah … lagi-lagi saya lupa namanya hahahaha. Saya gugling kok ya nggak ada yang tertulis ‘mirip’ dengan yang diucapkan mas instruktur semalam. Biarlah ini jadi PR saya ya, mudah-mudahan saya ada kesempatan lain untuk berlatih lagi. Gerakan ini adalah gerakan mengelak, dengan posisi kaki di kuda-kuda yang sama, tapi salah satu tangan menutupi muka (melindungi kepala) dan tangan yang lain ke belakang untuk antisipasi jika sampai in touch dengan lawan jadi tidak sampai jatuh. Tubuh tetap tegak dan menghadap ke depan.
  3. Gerakan ketiga adalah Ginga (yeaay akhirnya saya ingat namanya! ha ha). Ini adalah menggerakan salah satu kaki ke belakang tubuh secara bergantian, dari posisi kuda-kuda tadi. Kalau kaki kanan yang ke belakang, tangan kiri yang melindungi wajah, dan vice versa. Coba 5 kali balikan, dan alhamdulillah kaos langsung basah hahaha 😛

Padahal nih ya, gerakannya cenderung mudah, tapi kok ya tetep cape. Bahkan menurut seorang teman yang hanya menonton kami dari luar ruangan, gerakan ginga itu kok ya sepintas mirip jaipongan *ups keplak aja Awan, teman saya itu qiqiqiqi*. Setelah hampir satu jam, mas pelatih memberikan juga gerakan menendang yang paling dasar (sekali lagi, saya lupa namanya). tendangan memutar dengan telapak kaki bagian dalam yang menjadi titik tumpu tendangan yang diarahkan ke kepala lawan. Aih seruuuuu.

Sebelum kelas benar-benar berakhir, mas pelatih sempat juga mendemonstrasikan berbagai gerakan Capoeira yang indah itu. Dan handstand (yang sering saya pelajari di kelas yoga) rupanya banyak digunakan, juga posisi seperti kayang, atau standing split saat menendang. Saya tambah sukaaaa, semoga saja Capoeira ini akan dijadikan kelas reguler, saya pasti ikut ndaftar nanti, apalagi katanya cepet banget membakar kalori dan bisa untuk mengecilkan pinggang dengan cepat, tambah mupeng lah saya hehehehe.

Ya sudah begitu saja cerita hari ini. Sejujurnya badan saya serasa habis digebukin orang sekampung (meski tentu saja saya belum pernah benar-benar digebukin orang sekampung ya *halah*) nih, tapi nggak kapok kok untuk ber-Capoeira lagi. Ada yang penasaran seperti apa Martial Art ini? Nih sila tonton videonya, dan masih baaaanyak yang kece-kece di Youtube lho :).

Pssstt…suatu saat badan saya bisa kayak si mbak-nya nggak yah *mulai delusional*

 

Pemenang #Giveaway #CepatMendapatkanBuahHati

Hai… hai… Maafkan keterlambatan pengumuman pemenang #Giveaway   ya, Temans. Biasalah, kalau wiken saya kok ya tambah sibuk ya, sama sekali nggak sempat lho buka laptop. Heran juga sayah hahahaha *abaikan*.

Anyway, terima kasih banyak yang sudah berkenan ikutan giveaway dan komen ini itu yaa. Terutama tentu saja doa baik-doa baik yang saya terima di postingan tersebut perihal kesegeraan saya untuk juga bisa memiliki buah hati. Aamiin ya robbal’alamiin, semoga doa yang sedang melangit ini segera turun ke bumi :).

Nah, prolognya kepanjangan ya hihihihi. Beklah, ini dia dua orang pemenang yang berhak mendapatkan buku Panduan Cepat Mendapatkan Buah Hati dari Stiletto Book tercinta:

  1. Ainhy Edelweiss (@PrinceesAsuna)
  2. Rini Cipta Rahayu (@rinicipta)

Selamat yaaaa. Sila kirim alamat kirim ke rinrin.indrianie@gmail.com secepatnya yah ;). Buku akan langsung dikirimkan oleh tim Stilo dari Yogyakarta, ditunggu aja nanti, ocey.

Terima kasih semuanyaaaaa *ketjup*.