Photo Challenge: Nostalgia

orin

Iyaaaa,,, ini si Orin kecil, emang kece dari lahir sih sayah, jadi ya tetep cantik gitulah dari dulu *minta dilempar bakiak* hahahaha. Foto itu (kalau saya tidak salah ingat) saya berusia sekitar 5 tahunan gitulah ya, masih anak TK.

Bernostalgia ke zaman kecil, rasanya memang selalu menyenangkan ya. Pas musim hujan begini, saya biasanya main hujan-hujanan di halaman depan rumah sama adik saya sebelum mandi sore. Cuma pakai kaos singlet dan celana dalam, bertelanjang kaki, terus lari-larian deh tuh di bawah pohon rambutan berharap ada yang terjatuh dan bisa kami pungut.

Atau belajar naik sepeda sampai tercebur jatuh ke sawah berlumpur (padahal udah mandi hahaha). Atau berenang (sambil mandi) di sungai sampai adik saya hampir hanyut karena tiba-tiba arusnya menderas. Atau main rumah-rumahan (saya -entah kenapa- hampir selalu berperan sebagai ‘si ayah’) dengan teman-teman. Atau manjat (dan bersembunyi) di pohon mangga, manggil abang-abang jualan yang lewat dan kebingungan siapa yang manggil karena tidak terlihat ada orang hihihihi.

Banyaklah ya nostalgia gilanya, kalau disebutin satu-satu mah bisa sampai besok pagi kayaknya :P.

Melihat kembali foto ini, membuat saya tersadar ternyata sudah jauh sekali saya berlari. Saat ini saya berada di usia yang disebut, menurut si Orin di dalam foto, TUA. Iyalah ya, usia 30an aja rasanya udah tuaaaa banget kan ya, ini apalagi 30-nya udah 35an ke atas huwaaaah.

Tapi … tapi … ketika benar-benar berada di usia 35, kok saya nggak merasa tua-tua banget ya, apa mungkin karena saya masih terlihat cantik ya? *dikeplak berjamaah* hahahaha *abaikan*.

Sebelum bertambah ngaco, mari kita sudahi saja postingan ini. Yang jelas, saya bersyukur berada si #usiacantik ini. Semoga si Orin di dalam foto mengerti, bahwa 30 tahun kemudian pun dia akan baik-baik saja dan bahagia :).

5 year-old me

5 year-old me

Advertisements

All I Ask

Masih episode telat nih. Setelah telat menonton (dan suka banget) sama film Before We Go, saya telat tahu (dan kemudian suka banget juga) sama album 25-nya Mbak Adele!! *sok ikrib banget yah manggil mbak qiqiqiqi*.

Jadi selain lagu Hello, ya paling lagu berikutnya yang saya tahu di album terbaru -yang sebetulnya sudah lama juga sih ya, November 2015 bok!- When We’re Young itu saja. Suara Adele yang khas itu emang juara ya. Meskipun liriknya itu terkadang … apa ya, bukan agak lebay sih, tapi lebay beneran *halah*.

Pasti tahu lagu pertamanya baheula itu kan, yang Someone Like You? Meni susah move on banget kan ya liriknya hihihihi. Saya ingat betul zaman saya baru ngejomblo, terputarlah lagu itu dari laptop, terus sahabat saya ngomel-ngomel dong, “ngapain dengerin lagu kayak begitu? Awas ya jangan terinspirasi Adele sampe nyari-nyari cowok baru yang mirip banget sama mantan!” hahahaha. Lebih heboh sih sebetulnya sahabat saya itu ngomel-ngomelnya, padahal mah saya dengerin lagu itu karena ya emang suka aja kan, nggak ada maksud lain atau apa.

Kembali ke album 25, Lagunya enak-enaaaaak, udah seminggu ini saya belum bosan, terus weeeeeh diputerin si album itu pergi-pulang kantor. Send My Love, Turning Table, Sweetest Devotion. Bahkan lagu ada beberapa lagu yang sangat saya suka hingga bisa diputar 2-3 kali balikan. Misalnya Remedy, dan seperti judul postingan ini, All I Ask.

Meskipun mbak Adele ini orang Inggris yang cenderung lebih mudah dimengerti pelafalan bahasa Inggrisnya, tetep weh kadang saya tidak bisa mengerti secara utuh keseluruhan isi lagunya. Jadilah tanya Om Gugel, dan ampuuuun ya liriknya.

I will leave my heart at the door
I won’t say a word
They’ve all been said before, you know
So why don’t we just play pretend
Like we’re not scared of what is coming next
Or scared of having nothing left

Look, don’t get me wrong
I know there is no tomorrow
All I ask is

If this is my last night with you
Hold me like I’m more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
‘Cause what if I never love again?

I don’t need your honesty
It’s already in your eyes
And I’m sure my eyes, they speak for me
No one knows me like you do
And since you’re the only one that matters
Tell me who do I run to?

Look, don’t get me wrong
I know there is no tomorrow
All I ask is

If this is my last night with you
Hold me like I’m more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
‘Cause what if I never love again?

Let this be our lesson in love
Let this be the way we remember us
I don’t wanna be cruel or vicious
And I ain’t asking for forgiveness
All I ask is

If this is my last night with you
Hold me like I’m more than just your friend
Give me a memory that I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
‘Cause what if I never love again?

Gimana? Kesian banget kan liriknya? 😀

Kenapa saya sedikit ‘tersentuh’ oleh lagu ini, adalah karena salah seorang sahabat saya sedang mengalami persis seperti yang diceritakan dalam lagu. Mencintai sahabatnya yang -sayangnya- mencintai perempuan lain. Pediiiih, sodara-sodara. Hampir tiap hari kami chat, saya cukup bisa mengerti (meskipun terkadang masih gagal paham) tentang mencintai sahabat itu. Mungkin karena saya belum pernah mengalami naksir berat sama sahabat sendiri ya, tapi saat ini saya merasa menyayangi AM seperti layaknya sepasang sahabat dekat. Bingung? Iya sama saya juga hahaha *abaikan*.

Jadi demikianlah temans, kasus ‘all I ask’ ini rupanya terjadi di kehidupan nyata. Tapi ya balik lagi, toh hidup memang berisi pilihan keputusan-pilihan keputusan yang kita ambil. Life goes on, entah sesuai dengan keinginan kita atau tidak, iya kan ya? *nyari temen*. Dinikmati ajalah ya.

Ya sudah begitu saja postingan teu pararuguh hari ini. Jangan lupa ikutan  giveaway yaa hehehe.

Have a great life, Pals ;).

 

 

[Review + Giveaway] Panduan Cepat Mendapatkan Buah Hati

Enam tahun menunggu malaikat kecil-malaikat kecil yang akan meramaikan rumah mungil kami, membuat saya menyibukkan diri untuk mengupayakan segala sesuatu yang bisa saya lakukan. Saya percaya, seperti halnya rezeki-jodoh-kematian, semuanya hanyalah wewenang Sang Penggenggam Kehidupan semata, maka saya hanya diwajibkan berikhtiar, bukan? Pun soal momongan ini, siapa tahu, setelah melihat perjuangan saya, Tuhan kasihan gitu ya sama saya :).

Dalam rangka busy while waiting saya ini, membaca buku yang berkaitan dengan program kehamilan adalah salah satu upaya saya. Nah, kebetulan nih Stilleto Book baru saja meluncurkan buku “Panduan Cepat mendapatkan Buah Hati” karya Yulinda Puspita. Sangat tepat untuk saya baca kan ya.

Mari saya tuliskan blurbnya.

*

Judul : Panduan Cepat Mendapatkan Buah Hati
Author : Yulinda Puspita
Pembaca Ahli : Bidan Ainun Nufus
Desain Cover : Pungki Letizya
Penerbit : Stiletto Book
Halaman : xiv + 230 hlm
Cetakan : Pertama, 2016
ISBN : 978-602-7572-59-1
Panduan Cepat Mendapatkan Buah Hati merupakan buku yang sangat tepat Anda baca jika saat ini sedang menunggu kehadiran si kecil di tengah keluarga. Dalam buku ini, semuanya dijabarkan dengan tuntas mengenai pemahaman dasar tentang kehamilan sampai tip-tip yang bisa Anda dan pasangan Anda lakukan, di antaranya:
  • Pemahaman tentang sistem reproduksi
  • Cara mengenali masa subur
  • Faktor penghambat kehamilan beserta solusinya
  • Yoga kesuburan yang bisa Anda lakukan
  • Herbal alami untuk meningkatkan kesuburan
  • Tip agar tetap harmonis bersama pasangan
  • Sampai, alternatif lain mendapatkan buah hati

Benar, anak adalah titipan Tuhan. Namun, kita sebagai manusia sudah sepatutnya berikhtiar dan berdoa. Salah satunya adalah dengan membaca dan mempraktikkan apa yang sudah ada di dalam buku ini.

*

Review saya sederhana saja. Bahwa setelah membaca buku ini, ternyata masih baaaanyak sekali yang belum saya tahu tentang seluk beluk kehamilan ini. Misalnya nih, ternyata ada alat (semacam testpack) untuk mengetes apakah kita (yang perempuan-perempuan tentunya :P) sedang dalam masa ovulasi atau tidak lho!  Cara menggunakannya sama. Serius ini saya baru tahu hahahaha. Sepertinya akan langsung saya hunting nih alat ini. Jadi setelah menggunakan system kalender, bisa langsung panggil AM alias pak suami kan ya kalau saya ternyata sedang masa subur #eh hihihihi.

Seperti poin-poin yang sudah tertulis di dalam blurb, demikianlah buku kecil ini memaparkan setiap poin dengan jelas di setiap bab. Ada sembilan bab berikut dalam buku berwarna pink yang unyu-unyu ini.

  1. Pengetahuan Dasar Tentang Kehamilan
  2. Pemahaman Tentang Sistem Reproduksi
  3. Mempersiapkan Kehamilan
  4. Zat Dan Makanan Untuk Meningkatkan Kesuburan
  5. Herbal Alami Untuk Meningkatkan Kesuburan
  6. Tip-Tip Meningkatkan Kesempatan Hamil
  7. Alternatif Lain Mendapatkan Buah Hati
  8. Mitos-Mitos Seputar Kehamilan
  9. Mendapatkan Buah Hati Sesuai Dengan Jenis Kelamin Yang Dibutuhkan
Di setiap bab-nya, teman-teman bisa memperoleh insight baru. Ada beberapa hal yang dituliskan di buku memang sudah saya lakukan sekarang, seperti gaya hidup sehat dan berolahraga secara teratur, misalnya. Atau memilih bahan makanan yang bisa memicu produksi sel telur dengan baik. Atau kesukaan saya akhir-akhir ini untuk beryoga ria, karena ada yoga kesuburan, mesti private ke guru yoga saya nih, minta diajarin pose yang khusus untuk itu hihihihi.
Selanjutnya, ada yang membuat saya shock di bab Mitos-mitos seputar kehamilan. Di sana disebutkan bahwa memang perempuan yang sedang melakukan program hamil sebaiknya mengurangi kopi. Huwaaaaahhhh!! Duh, padahal saya berharap itu memang cuma mitos lho, ternyata faktanya memang begitu hiks hiks *menatap nanar secangkir kopi yang tidak bisa lagi saya nikmati sering-sering* *lebay*. Nama pun usaha yes? Nggak apa-apalah ya puasa ngopi dulu :D.
Ada juga waktu yang tepat untuk bercinta lho! Jangan saya sebutkan di sinilah ya, nanti khawatir … *ilang sinyal*.
Banyaklah pengetahuan-pengetahuan lain yang bisa teman-teman pelajari dari buku ini. Alhamdulillah banget ada buku seperti iini, terima kasih ya, Mbak Yul *sok ikrib* *ketjup*.

Giveaway Time! Saya punya satu buku kece ini untuk teman-teman dengan komentar terbaik di postingan ini. Syaratnya gampil, seperti berikut:
  1. Peserta memiliki alamat pengiriman di Indonesia
  2. Follow Twitter @Stiletto_Book, dan @rindrianie. Yang punya IG boleh lho follow akun stiletto_book dan akun @neng_orin yaa (modus hihihihi)
  3. Jangan Lupa untuk like Facebook Fanpage Stiletto Book
  4. Share info GA ini disalah satu media sosial yang kamu punya. Jangan lupa untuk mention akun Stiletto Book dan saya di twitter dengan hastag #CepatMendapatkanBuahHati
  5. Jawab Pertanyaan di kolom komentar dengan format : nama, akun twitter, dan jawabanmu.

Pertanyaannya adalah:

“Apa mitos tentang kehamilan yang kamu tahu? ”

Misalnya nih, saya pernah disuruh Mamah menginjak jempol orang yang lagi hamil biar ketularan hamil, entah sudah berapa jempol orang hamiil yang menjadi korban injakan saya hahaha. Nah, gampil kan ya pertanyaannya, bisa tanya mbah gugel lho ya. Pokoknya jawaban mitos yang paling unik yang akan saya pilih sebagai pemenang :D.

Giveaway ini berlangsung dari 3 Oktober – 7 Oktober 2016 pukul 24.00 saja yaa. Pengumuman pemenang akan saya posting di sini pada 8 Oktober 2016. Ditungguuuu :-*

Before We Go

If you’re committed to somebody, you won’t allow yourself to look for perfection to someone else.” –Nick Vaughan

 

Film lama sih ini, 2015 kalau nggak salah, tapi saya baru menontonnya semalam di TV. Meski sedikit ketinggalan tidak menonton dari awal (yang biasanya langsung saya skip kalau awalnya terlewat), tapi pesona Chris Evan rupanya membuat saya terhipnotis hingga tidak mampu memindahkan channel *halah*.

Ceritanya sederhana, dua orang asing tidak sengaja bertemu, lantas menghabiskan malam bersama dengan ngobrol ngalor ngidul sampai pagi tiba. Klise? Mungkin. Tapi bagi saya justru dialog-dialog sepanjang film itulah yang menarik. Daripada saya berpanjang lebar menceritakan sinopsisnya, sila tonton trailer berikut saja ya.

Baiklah, tulisan berikutnya adalah spoiler, silakan diskip saja jika temans ingin menonton film ini ya hehehe.

Scene favorit saya adalah saat Nick Vaughan (Chris Evan) berdiri terpaku menatap si mantan kekasih yang masih belum bisa dilupakannya dari jarak sekian meter. Seolah semesta di sekitarnya membeku, seluruh suara melenyap, yang ada hanyalah dia dan si perempuan di ujung sana. Lebay ya saya hahahaha.

Tapi serius deh, di freeze time yang cuma beberapa detik itu, saya bisa mengerti bahwa perasaan cinta seorang lelaki bisa sedemikian besar dan tidak bisa begitu saja hilang. Ceritanya kan mereka putus tuh sudah 6 tahun, tapi saat ketemu lagi si mantan , obviously Nick ini masih terlihat cinta mati sama dia.

Scene berikutnya yang sangat membekas di kepala saya adalah saat Brooke Dalton (Alice Eve) bercerita pada Nick soal suaminya yang berselingkuh. Masalah yang menjadi alasan Brooke ‘lari’ ke New York dengan kemarahan yang meluap, tapi saat dia sadar tidak seharusnya dia lari dari masalah dan ingin kembali pulang, tasnya malah dicuri, ketinggalan kereta terakhir hari itu, hingga hapenya terjatuh dan rusak, lantas berakhir dengan menghabiskan waktu dengan Nick tanpa sengaja.

Saat sesi curhat-curhatan itu, Brooke bercerita bahwa dia begitu marah pada Michael yang telah mengkhianati cinta mereka. Meskipun si suaminya itu lebih memilih Brooke dan meminta maaf untuk kesalahannya, Brooke terlanjur sakit hati. Tapi begitulah, Brooke ternyata begitu mencintai Michael. Momen saat Brooke tertawa kecil sambil menggigit ujung kuku dengan air mata yang menitik saat mengatakannya membuat saya … speechless. Sedemikianlah ya kekuatan seorang perempuan mencintai.

“Sometimes you have to just make the choice and jump.”– Brooke Dalton

Nick menemani Brooke menunggu kereta paling pagi. Berjalan kaki menyusuri Manhattan yang nyaris sepi. Bertandang ke rumah bapak tua cenayang, lantas menumpang beristirahat di kamar hotel temannya Nick.

Di kamar hotel berdua-duaan pake piyama handuk biasanya sih ngapa-ngapain ya *halah*. Tapi itulah uniknya film ini, Brooke -meski bisa saja dia ‘balas dendam’ sama suaminya untuk bisa juga having fun sama Nick, misalnya- memilih tetap berkomitmen pada pernikahannya. Nick, yang -menurut penilaian saya sih ya he he- sudah terlihat sayang sama Brooke karena telah membantunya merelakan Hannah sang mantan kekasih, mendukung keputusan Brooke untuk memperjuangkan rumah tangga mereka.

Saya tidak suka endingnya, meskipun memang sudah seharusnya begitulah ending dari cerita ini (hihihihi kontradiktif :P). Film yang didominasi dialog ini memang bertendensi membosankan, tapi bagi saya, dialog-dialognya sangat menarik untuk disimak. Mungkin karena ngobrol sama Cris Evan mah nggak akan ngebosenin sih ya hahahaha *abaikan*.

Ya sudah begitu dulu, have a great weekend yaa.

The Crystal Voice

Postingan pendek di Senin pagi yang (entah kenapa) selalu terasa lebih hectic dibandingkan pagi hari yang lain.

Jadi ceritanya, kantor pusat tempat saya bekerja ini ada di Jepang. Maka berkorespondensi dengan kolega satu divisi di sana ya sering banget, dalam satu hari, bisa saja lebih dari sepuluh kali berkirim-balas email. Lumayan ‘berteman’ lah akhirnya sama kolega yang satu ini, sebut saja Tsukada san (memang nama sebenarnya hihihihi).

Selain pekerjaan, kami ngobrol hal remeh temeh selayaknya dua orang teman. Obrolan semacam cuaca hari itu biasanya mengawali hari. Atau misalnya minggu lalu, saat di Jepang melintas typhon, Tsukada san akan mengabari dia harus pulang cepat terkait antisipasi angin topan tersebut. Atau ketika saya baru membalas emailnya siang karena mobil saya mogok saat mau berangkat ngantor, maka saya pun bercerita accu-nya harus diganti jadi saya datang terlambat.

Obrolan-obrolan itu selalu terjadi by email, hingga suatu saat saya terpaksa harus meneleponnya. Ngobrol di telepon ternyata sedikit canggung, karena saat saya bicara memakai bahasa Jepang, ndilalah Tsukada san malah membalasnya dengan bahasa Inggris. Ya sudahlah yaaa kita nginggris aja kalau begituh :P. Dan saat masalah penting selesai dibicarakan, Tsukada san mengatakan “You have a crystal voice!” (entah itu maksudnya apa) sebelum perbincangan telepon kami akhiri bhuahahahaha.

Udah sih, mau cerita itu aja. Jika di kantor lama seorang teman pernah mengatakan saya memiliki smiling voice yang terdengar ramah di telepon meskipun saya sedang marah-marah, ternyata sekarang ini saya dituduh ber-crystal voice nih hihihihi. Dan kemudian mulai berpikir jangan-jangan saya berbakat jadi penyanyi *abaikan!*

Well, have a great Monday ya, Pals 😉

 

#FFKamis – Seandainya Dul Tahu

Seandainya Dul tahu apa yang akan ditemuinya malam itu, mungkin dia akan menunda kepulangannya hingga esok pagi, atau minggu depan, atau tak usah pulang sekalian.

Seandainya Dul tahu, dia tak perlu terimpit berdesak di bus yang sesesak neraka. Dul juga tak perlu lelah berjalan kaki di malam buta yang gelapnya terlampau keparat.

Tapi yang sudah terjadi terlanjur terjadi. Dul hanya bisa terkejut saat didengarnya desahan laknat suara lelaki bersahut lenguhan istrinya di kamar yang seharusnya hanya miliknya.

Dul tak bisa apa-apa. Maka dipandanginya saja rumah yang baru saja dibakarnya dengan dua calon mayat gosong di dalamnya yang melolong minta tolong.