Rahasia Samsudin

Perihal Samsudin yang masih saja melajang di usia sekian, selalu menjadi perbincangan hangat bagi warga kampung. Lelaki itu memang tak seberapa tampan, tapi tidak bisa juga dikatakan buruk rupa. Giginya lumayan teratur bersembunyi di dalam mulut, hidungnya memiliki dua lubang seperti seharusnya, alisnya pun berbulu meski tak seperti serombongan semut yang tengah berbaris. Intinya, dia cukup rupawan untuk bisa mendapatkan seorang perawan.

Maka saat Sam betah melajang hingga rambutnya beruban, hal itu membuat warga kampung menduga yang tidak-tidak. Misalnya saja, lelaki itu memiliki burung yang tak sanggup berdiri. Atau, yang lebih kejam dan sedikit menjijikkan, Samsudin hanya terpikat pada sosok manusia yang berjenis kelamin sama dengan dirinya.

Kedua praduga itu tentu saja sampai juga di telinga Samsudin. Tapi bak seorang sufi yang tak lagi peduli urusan duniawi, Sam hanya tersenyum tanpa mengiyakan atau pun menyangkal. Terkadang tetua kampung berani bertanya kenapa dia tak juga menikah, dan dia hanya akan menjawab dengan kalimat basi semacam “mungkin belum waktunya”, atau “belum ketemu jodohnya” dan kemudian minta didoakan. Tapi jika yang bertanya anak muda kepo yang tak tahu adat, biasanya Samsudin akan membalas dengan kalimat pedas yang sedikit panas seperti : urusi saja urusanmu sendiri!

Hanya padaku dia berani bercerita. Konon karena aku mengingatkannya pada masa lalu yang ingin dilupakannya. Saat malam terlelap seringkali dia datang, lengkap dengan sekarung air mata dan bergelas-gelas kopi yang baru habis menjelang pagi. Mari kuceritakan rahasia Samsudin padamu, kau tidak akan menceritakannya pada siapa pun lagi, bukan?

Begini rahasianya.

Dulu, dia pun memiliki separuh sayap yang tertempel di punggungnya. Seperti lelaki lainnya yang terlahir di semesta, sayap itu kelak akan menemukan pasangannya. Keduanya akan hidup bersama, hingga jika tiba saatnya, sepasang sayap itu akan mengepak hingga ke surga.

Tapi Samsudin belia terjerat jaring perak laba-laba yang membuat sayapnya rusak, bulunya tanggal helai demi helai, perlahan patah, untuk kemudian hilang menguap mengasap seluruhnya. Begitulah. Sam terpikat pesona nyonya-nyonya kaya yang akan memberi segala yang dia minta dengan suka cita. Tugasnya mudah belaka, Sam hanya harus menukar semua itu dengan membiarkan nyonya-nyonya kesepian itu menikmati dirinya.

Meskipun tentu saja, Sam tak bisa selamanya muda, dan lelaki yang mulai menua tak lagi menarik bagi nyonya-nyonya. Terlampau terlambat bagi Sam untuk menyelamatkan sayapnya, dia mengerti, tak ada perempuan yang sudi menerima separuh sayap yang telah hilang. Maka demikianlah, Samsudin menjelma lelaki dalam kisah yang sedang kau baca ini.

Siapa aku, tanyamu? Jika kau sungguh ingin tahu, pergilah ke rumah Samsudin, kau akan menemukanku di salah satu sudut langit-langit kamarnya, bersusah payah memintal jaring mencoba memikat seekor-dua ekor nyamuk yang tersesat.

**

418 kata, untuk prompt #115 – Sayap yang Patah. Ampun banget deh ya itu judulnya  hahahaha:P

Advertisement

Alika

Kebebasan selalu layak dirayakan. Maka selepas keluar penjara, yang diinginkan ialah mengunjungi kedai kopi ini. Kebahagiaan akan semakin lengkap bila dinikmati dengan secangkir kopi. Hanya di kedai kopi ini ia bisa menikmati kopi terbaik yang disajikan dengan cara yang paling baik.

Walaupun sesaat tadi ia sebetulnya sempat ragu, atau malu, atau mungkin campuran di antara keduanya. Penyebabnya tak lain tak bukan adalah seorang jelita bernama Alika. Dulu sekali ia pernah berpikir, alangkah miripnya nama itu dengan ‘torabika’ atau ‘jamaika’, seolah Alika memang diciptakan Tuhan bagi lelaki pencinta kopi seperti dirinya.

Continue reading

Pada Suatu Senja

foto milik Mas Febriyan Lukito

 

Kautahu lelaki di meja sebelahmu tengah gelisah menunggu seseorang yang tak kunjung datang.

“Kekasihmu?” tanyamu menebak. Lelaki di sebelahmu hanya bergumam tidak jelas, kau seharusnya tahu itu semacam pertanda lelaki itu tak ingin diganggu, tapi tentu saja kau hanya tersenyum, dan tetap mengajaknya berbincang.

“Bukankah senja tetap indah meskipun kau menikmatinya sendirian?” tanyamu lagi. Kali ini lelaki di sebelahmu menghela napas panjang, seperti menyerah.

“Aku tidak suka menunggu,” jawabnya ketus.

“Maka tidak perlu kautunggu, kalau begitu.”

“Entah kenapa kekasihku itu suka sekali membuatku menunggu.”

“Oh? Begitu.” Lelaki yang malang, lanjutmu dalam hati.

“Aku hanya ingin menikmati senja indah ini bersamanya. Itu saja.”

“Ah, sebuah keinginan sederhana yang rupanya sulit diwujudkan, betul?”

“Begitulah.”

Kau tersenyum mendengar suara lelaki itu yang terdengar sedih, sekaligus putus asa dan kesal di waktu yang sama. Lelaki itu menyesap anggurnya perlahan, seperti ingin menenangkan diri.

“Apakah kau juga tengah menunggu seseorang?” tanyanya setelah jeda merayap dalam senyap.

Kau menggelengkan kepala cepat. “Tidak, aku lebih suka sendiri.”

“Oh.” Lelaki itu seperti kehabisan kalimat basa basi, mungkin dia berpikir jawabanmu secara tidak langsung menyuruhnya diam.

“Tapi aku suka sekali berbincang,” lanjutmu lagi, tidak ingin kehilangan teman bercakap.

“Jika kau punya seorang kekasih, kau bisa mengajaknya berbincang kapan pun kau mau.”

“Mungkin benar. Tapi perempuan sepertinya terlalu merepotkan, setidaknya bagiku, mohon jangan tersinggung.”

Lelaki itu tergelak, seperti sepakat dengan pendapatmu meskipun enggan mengakuinya.

“Kau menyukai senja?” tanyamu setelah tawa si lelaki itu mereda.

“Selalu.”

“Oh? Ada alasan khusus?”

“Seseorang pernah memberitahuku, bahwa warna jingga pada senja adalah cara matahari mengucapkan selamat malam pada kita. Dan sejak itu aku memaknai senja dengan cara yang berbeda.”

Kau tertegun mendengarnya, kalimat seindah itu belum pernah kaudengar sebelumnya. Kau sudah lama menjadi pemuja senja, tapi kesimpulan sederhana seperti yang baru dikatakan lelaki itu tak pernah sekali pun melintas di benakmu. Lelaki itu benar, bahkan detik ini pun, kau memaknai senja di hadapanmu itu dengan cara yang berbeda.

“Kalimat yang indah,” katamu akhirnya. Lelaki di sebelahmu hanya mengangguk. Matamu diam-diam mengamati siluet wajahnya yang terlihat seperti pahatan patung Yunani yang sempurna dari tempatmu duduk. Lelaki yang rupawan.

Detik berikutnya kau dan dia asyik menatap ke arah senja yang jingganya kian meredup, menonton sang matahari yang perlahan namun pasti seperti bersembunyi di cakrawala, lantas berbisik dalam hati mengucapkan selamat datang pada malam.

“Kekasihmu sepertinya tidak datang,” katamu memecah sunyi. Senja yang menghubungkanmu dengan lelaki itu lenyap sudah. Kau harus bersiap kehilangan teman bercakap.

“Ya, kekasihku sepertinya tidak datang.”

“Kau akan tetap menunggunya?” tanyamu, sedikit cemas. Untungnya lelaki itu menggelengkan kepala.

“Tidak,” jawabnya pendek, namun dia tidak beranjak, tetap duduk di kursi di sebelahmu.

Kau tersenyum, memandang horizon yang kini telah pekat seluruhnya. Sepotong senja yang digantikan malam beserta seorang lelaki rupawan rasanya tetap sempurna.

“Izinkan aku menemanimu,” ujarmu seraya menggeser kursimu mendekati lelaki itu.

***

Note: 459 kata, untuk Monday Flash Fiction Prompt #78: Menikmati Senja

Pertemuan Kembali

IMG_243032605751181

Suatu hari, Udin bertemu dengan Badu.

Dulu, saat keduanya masih berseragam putih merah, seringkali bermain gundu sama-sama, berenang di sungai sama-sama, main layangan sama-sama, hingga bolos sekolah pun sama-sama. Meskipun tidak seperti pinang dibelah dua, Udin dan Badu serupa anak kembar beda ayah ibu.

Maka saat tiba-tiba saja mereka dipertemukan semesta di warung kopi di negeri antah berantah ini, Udin berteriak gembira, Badu terisak penuh haru. Keduanya berangkulan erat dan kuat.

“Aku pikir kamu sudah mati, Du.”

“Lah? Aku pikir kamu yang sudah mati, Din.”

Lantas keduanya tergelak, merasa konyol menganggap sahabatnya sendiri sudah mati, sekaligus bahagia karena bisa berjumpa kembali.

“Jadi bagaimana kabarmu, Din?”

Udin geming, hampir dua dekade mereka tak saling bertukar kabar, bagaimana dia bisa merangkum kehidupannya selama dua puluh tahun terakhir itu dalam satu kalimat pendek yang bisa menjelaskan segalanya? Perlukah dia bercerita dirinya sedang menjadi buronan polisi karena jadi bandar narkoba?

“Baik, Du,” jawab Udin akhirnya. Klise. Basi. “Kalau kamu, Du?”

Badu tersenyum. Benaknya berpikir berputar-putar kabar apa yang ingin didengar sahabat kecilnya itu. Apakah soal dirinya yang pernah menghamili anak gadis orang? Atau si Badu yang hampir mati dikeroyok orang sepasar karena ketauan mencopet?

“Baik, kabarku juga baik, Din.” Badu memilih jawaban aman.

Udin mengangguk-angguk, senang Badu baik-baik saja. Badu tersenyum-senyum, gembira kabar Udin ternyata baik-baik saja.

Hingga kemudian kopi pesanan mereka datang. Keduanya menikmati kopi dalam diam. Badu dan Udin mulai berpikir, pertemuan kembali ini mungkin pertanda, bahwa mereka diberi kesempatan kedua, untuk menjadi manusia dan hidup yang baik-baik saja. Seperti dulu, seperti seharusnya.

***

Note : 251 kata. Selamat ulang tahun kedua untuk MFF-ku tercinta *ketjup*

Di Ujung Perjalanan

“Kita mau kemana, Hans?”

Hans geming. Matanya tetap fokus menatap ke depan, tangannya tetap mencengkeram kemudi.

“Hans?” Setelah hening beberapa jenak, Si Perempuan menuntut jawab, meski Hans seolah tak mendengar perempuannya mengajukan tanya.

“Jalanan ini menuju kemana, Hans? Tujuan kita kemana?”

“Bisakah kau diam saja dan menikmati perjalanan ini, Liz?!” bentak Hans.

Giliran Liz yang tertunduk bisu. Dia hanya ingin tahu kemana mereka akan menuju, kenapa lelakinya tak suka sedemikian rupa? Detik berlarian dalam senyap. Hans diam, Liz sunyi, hanya derung mobil yang meluncur pelan di jalanan lurus seolah tak berujung.

“Apakah kau ingin mengakhiri hubungan kita?” Akhirnya Liz bertanya, membuat kening Hans mengernyit, apa hubungannya dengan perjalanan ini?

“Maksudmu?”

“Seperti perjalanan ini, kau tidak merencanakannya, juga tidak tahu hendak kemana. Mirip sama hubungan kita, iya kan?”

Sekali lagi Hans diam, dia tidak berani membantah, meski mengiyakan pernyataan Liz barusan hanya akan menjatuhkan harga dirinya.

“Bagimu, bertemu denganku hanya ketidaksengajaan yang menyenangkan, bahkan hubungan kita sekadar petualangan singkat belaka. Benar ‘kan?”

Hans semakin bungkam. Dia tak pernah menyangka Liz bisa membaca dirinya seperti itu. Apakah Liz juga tahu, bahwa Hans sudah merasa bosan dan ingin terlepas darinya?

“Tapi sayangnya, Hans, aku terlampau mencintaimu,” lanjut Liz seperti bermonolog dengan dirinya sendiri. “Aku tidak bisa, dan tidak mau, melepasmu pergi.”

“Tapi Liz…”

“Aku mencintaimu, Hans,” potong Liz cepat. “Jika kau tak mau hidup bersamaku, izinkan aku mati bersamamu, Hans.”

“A-apa, Liz?”

“Maafkan aku karena sudah memotong kabel rem mobilmu, Hans,” ujar Liz seraya menunjukkan sebuah gunting dan seutas kabel. “Bawalah aku kemanapun kau suka. Tapi setahuku, di ujung jalan ini ada sebuah jurang yang akan sangat sulit kauhindari. Dan pada akhirnya, cintaku padamu akan abadi.”

“Gi-gila kamu, Liz!”

Liz hanya tersenyum, terus tersenyum, tetap tersenyum bahkan saat Hans berteriak panik ketika jalanan aspal lurus itu habis, dan mobil mereka mulai tergelincir jatuh.

***

Note: 300 kata, untuk Monday Flash Fiction, Prompt #71: This Journey with You

Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Lelaki Tua itu rupanya begitu memuja gerimis di sore hari seperti ini. Seperti aku. Dia akan hadir tak berapa lama setelah gerimis pertama menyapa bumi, tak pernah sekalipun aku melihatnya saat hari benderang riang. Sungguh, aku semakin menyukai gerimis saat ada lelaki tua di tengahnya.

Seperti kemarin, dan kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi, sore ini saat gerimis datang, aku menatapnya diam-diam dari balik jendela berembun. Lelaki Tua itu sudah mulai terlihat di ujung jalan, seperti seharusnya.

Sepeda yang dituntun Si Lelaki Tua pastilah setua dirinya. Pernah, suatu kali, kulihat rantainya tidak tersambung seperti seharusnya, tapi Lelaki Tua itu mengabaikan si rantai yang terkulai, dan tetap berjalan pelan menuntun sepeda yang tampak berat dengan setumpuk jerami (atau rumput? Aku tidak tahu) di atasnya.

Caping yang dipakainya tidak terlalu lebar. Aku sempat khawatir saat gerimis mulai menderas, mungkinkah butir-butir gigilnya akan membasahi wajah keriput yang ramai berkeriut itu? Tidakkah itu akan membuatnya sakit?

Tapi entah bagaimana, aku yakin sekali Lelaki Tua itu adalah jenis lelaki yang kuat. Lihat saja kaos birunya yang terlampau tipis, atau celana pendeknya yang terlampau pendek, atau sandal jepitnya yang terlampau sederhana, atau tubuhnya yang terlampau kurus. Si Lelaki Tua memilih meneruskan perjalanan di tengah hujan, tanpa merasa perlu berhenti untuk sekadar berteduh. Tidak, dari ujung jalan sana, dia akan terus berjalan pelan menuntun sepeda tuanya, melewati rumahku, dan terus berjalan ke ujung jalan satunya, hingga aku tak mampu lagi melihat sosoknya.

Hanya beberapa langkah lagi saja, Lelaki Tua akan melintas persis di depan rumahku. Aku ingin berlari keluar dan menyapanya. Bahkan kalau memungkinkan, aku ingin sekali mengajaknya masuk lantas menawarinya segelas teh manis hangat atau secangkir kopi hitam atau apa sajalah yang diinginkan Si Lelaki Tua. Dan kalau saja boleh, aku ingin sekali bertanya pada Si Lelaki Tua, kenapa –dan sejak kapan- dia menyukai gerimis?

Aku sudah membuka pintu dan hendak melambaikan tangan pada Si Lelaki Tua yang akan segera melintas di depan rumah saat suamiku menyapa, “Sayang, mau kemana?”

“Kau ingat lelaki tua yang menuntun sepeda saat gerimis yang sering kuceritakan?”

Ragu, suamiku mengangguk.

“Lihat! Itu dia lewat di depan rumah kita,” seruku riang, menunjuk pada sosok Lelaki Tua yang saat itu betul-betul sedang melintas. “Aku ingin mengundangnya masuk untuk berteduh. Boleh kan?” ujarku lagi seraya berlari ke halaman tanpa sandal, membuka pintu pagar dan berteriak memanggil Si Lelaki Tua yang baru melintas.

Tapi sepertinya Si Lelaki Tua tidak mendengar seruanku, karena dia terus saja berjalan pelan menuntun sepeda tua dengan setumpuk jerami di atasnya. Aku kecewa, tentu saja.

“Sayang…” Suamiku sudah berdiri di sampingku, juga tanpa sandal, dan ikut hujan-hujanan sepertiku.

“Dia tidak mendengarku,” kataku sedih. Menatap punggung Si Lelaki Tua yang kian mengecil.

“Sayang… tidak ada siapa-siapa di sana, tidak ada lelaki tua menuntun sepeda dengan setumpuk jerami.”

“Tidak ada?”

“Tidak ada.”

Jeda yang lengang. Kutatap suamiku yang sedang menatapku, lantas kembali menatap punggung Si Lelaki Tua di ujung jalan yang kini semakin mengecil menjelma titik. Sungguh, aku tidak mengerti.

***

 Note : 486 kata, untuk prompt #65 Monday Flash Fiction. Padahal ini fotonya punya saya, tapi susah yaa bikin ceritanya hahahaha :P.

FF-Writer of The Month

Temans, ingatkah akan fiksi pendek saya berjudul Si Gadis Jerapah tempo hari itu?

Rupanya, tim juri menyukai fiksi itu, dan mendaulat Si Gadis Jerapah jadi juara pertama dalam quiz di Monday Flash Fiction, dan Alhamdulillah saya menerima satu novel berjudul Bumi karya Tere Liye yang sudah habis saya baca entah kapan hihihihi.

Nah, selain memenangkan quiz, kejutan lainnya adalah fiksi tersebut berhasil meraih voting terbanyak saat pemilihan FF-Writer of the month untuk bulan September lalu, padahal tiga karya lainnya menurut saya sangat bagus. Dengan 15 vote, Si Gadis Jerapah membuat nama saya mejeng di banner kece berikut:

Keren yah, ada mahkotanya segala hohoho. Terima kasih untuk mbakyu Carolina Ratri untuk baner kecenya yaa.

Sila klik sang banner untuk berkunjung langsung ke blog Monday Flash Fiction, dan jika temans menyukai menulis fiksi, jangan sungkan untuk bergabung ya, karena di sana kita bisa belajar menulis fiksi sama-sama lho. Seru deh pastinya *bukan iklan* :))

Ya sudah, begitu dulu saja ya. Happy day, Pals 😉

Si Mata Hijau

Ia menatapku lurus dengan mata hijaunya. Oh, tidak! Apa yang sudah kulakukan? Seharusnya aku segera angkat kaki dari sini.

“Dari mana?” tanyanya angkuh, tanpa senyum. Membuatku urung untuk mendekat, walaupun sepertinya aku tidak bisa pergi.

“Mmm…” Antara gigil dan khawatir, suaraku gemetar.

“Atau, mau kemana?” tanyanya lagi tak sabar karena gumamanku tak bisa dianggap sebagai jawaban. Suaranya yang dingin terdengar penasaran sekaligus tak peduli, dan buatku, terdengar sangat mengintimidasi, bisa membuatku mati berdiri.

Aku belum sanggup menjawab, mata hijaunya seolah menyihirku untuk tetap membisu. Kalau saja hujan tidak turun, seharusnya aku meneruskan perjalanan, tak perlu berhenti di halte kosong seperti ini, apalagi saat dia sudah berada di sini sebelum aku datang. Tapi aku bisa apa? Aku tak lagi muda, usia memaksaku untuk mengalah dari butiran hujan yang bisa kapan saja membuatku mati kedinginan.

“Bisu kau rupanya, atau hanya malas berbincang denganku?” tanyanya lagi, mata hijaunya melirikku sekilas, lantas kembali menatap hujan di depannya.

Aku masih geming, menelan ludah susah payah, mencoba berpikir mengukur kekuatan. Resikonya terlihat sama, entah oleh hujan entah oleh Si Mata Hijau, dua-duanya bisa membuatku berakhir menjadi sesosok makhluk yang tak bernyawa.

“Tenang saja, aku tidak suka tikus kurus renta sepertimu,” ujar Si Mata Hijau, melirikku sekali lagi, tanpa nafsu apapun. “Kau boleh menemaniku sampai hujan berhenti nanti.”

Ah, ternyata Si Mata Hijau ini hanyalah kucing tua, pasti giginya sudah banyak yang tanggal hingga tak bisa mengunyahku di mulutnya, dan mungkin perlu teman bicara untuk bernostalgia. Ha ha! Tak apalah, setidaknya, aku bisa bernapas lega menunggu hujan reda bersamanya.

***

Note : 252 kata, geje banget ini ceritanya hahaha :P. Well, jika ingin ikut bercerita sila klik aja ya ~> Prompt #63: Si Mata Hijau

Gadis Pilihan

“Din, lo pilih yang mana? Gue sih suka banget sama yang paling kanan, gila kulitnya bening banget!”

“Gue suka cewek berambut panjang, gue pilih yang tengah.”

“Dilihat dari belakang aja udah cakep-cakep begitu ya.”

“He-eh, tatanan rambutnya cantik, bajunya cantik. Mereka mirip bidadari surga kali ya?”

“Seandainya kita punya pacar secakep mereka ya, Bro.”

“Ha ha, mimpi ajalah, Jon. Sekarang aja kita cuma berani ngeliat mereka dari kejauhan begini.”

Udin tergelak, Jono terbahak, menertawakan keinginan absurd yang tidak mungkin mewujud. Manalah ada gadis surga yang pantas bagi lelaki jelata seperti mereka. Hingga Iwan datang meredakan tawa keduanya.

“Ngetawain apa sih?”

“Mereka tuh,” jawab Udin seraya menunjuk tiga gadis.

“Yang kanan punya gue, yang tengah milik si Udin,” kata Jono sumringah. “Lo yang paling kiri berarti, Wan.”

“Ogah, buat kalian aja semuanya. Gue ngga doyan lady boy.”

“Hah?!?”

***

Note : 137 kata, maafkan ke-geje-an fiksi ini ya temans *nyengir*. Untuk Monday Flash Fiction prompt #62: Hey Girls!, sumber gambar dari sini.

PS : lady boy adalah istilah yang populer di Thailand untuk waria.

Menunggu Pulang

sumber gambar : deviantart

Seminggu lalu

“Tidak, jangan jemput aku sekarang,” iba perempuan tua itu, menatapku dengan pandangan memohon.

Aku terkejut, bagaimana mungkin dia bisa melihatku? Kusembunyikan wajahku di balik tudung lebih dalam.

“Aku tahu, waktuku sudah menipis, aku sudah akan segera pulang, tapi jangan sekarang,” lanjutnya lagi, mulai terisak. Tapi mungkin dia hanya meracau, mengigau tak jelas karena sakit yang dideranya terlalu lama. Atau, mungkin dia bisa merasakan kehadiranku, tidak dengan inderanya, hanya insting dan praduganya sendiri.

“Aku ingin menunggu anakku pulang, anak lelakiku satu-satunya. Kau bisa menunggu, kan?” tanyanya lagi, kini air matanya berderai-derai. Membuatku semakin bungkam.

Tapi kedatanganku memang bukan untuk menjemputnya, aku hanya sedang berkunjung, nama perempuan itu sudah ada di daftarku, tapi aku tahu waktu kepulangannya bukan sekarang. Aku pergi tanpa kata, meninggalkan perempuan itu tersedu sendiri.

**

Tiga hari lalu

Aku datang lagi, perempuan tua itu semakin tirus. Ada perempuan muda yang sedang menatapnya sedih.

“Sudahlah, Ma. Anggap saja Rico sudah mati, dia sudah jadi penjahat, Ma, dikejar-kejar Polisi.”

“Tapi dia tetap anak Mama, Mia.”

“Iya, tapi Mama tak perlu menunggunya,” ujar si perempuan muda hati-hati.

“Tidak bisa, Mia, Mama ingin bertemu dengannya, sekali lagi saja.”

Hening yang senyap. Perempuan tua itu menoleh ke arahku, diikuti perempuan muda yang terlihat bingung apa yang dilihat ibunya.

“Dia sudah sering datang, Mia.”

“Dia siapa, Ma?”

“Malaikat maut.”

“Mama jangan ngomong begitu,” tukas si perempuan muda cepat, menciumi pipi keriput perempuan tua yang terbaring lemah.

“Waktu Mama sudah hampir habis, Mia. Tapi Mama sudah katakan padanya, Mama ingin menunggu Rico dulu.” Si perempuan muda hanya tersedu, lantas memeluk tubuh ringkih perempuan tua yang sudah seperti jerangkong, hanya tulang yang terbalut kulit, tubuhnya nyaris tipis.

Aku tetap diam. Tanda yang kuperlukan untuk menjemput perempuan tua itu belum ada. Maka aku pergi dalam sunyi.

**

Kemarin

“Rico masih belum pulang, Mia?” tanya perempuan tua itu lemah. Si perempuan muda hanya menggeleng, dan tak berapa lama ibu dan anak itu berangkulan, saling bertukar air mata kepedihan.

“Apa jawabku pada Tuhan kelak jika Dia bertanya tentang Rico, Mia? Aku ibu yang tidak becus mengurus anak.” Perempuan tua itu meratap, berkali-kali memanggil nama anak lelakinya yang entah berada di mana.

Aku mencari-cari tanda, dan belum juga kutemukan. Sekali lagi aku pergi.

**

Lima menit yang lalu

“Aku harus menjemputmu, Ibu,” kataku pada si perempuan tua yang sedang merapal takbir. Dia menoleh, mencari-cariku yang tak bisa dia temukan. Sementara tanda yang kuperlukan untuk menjemputnya sudah terlihat jelas, aku tahu aku harus mengajaknya pulang.

“Tapi….tapi Rico belum pulang, bolehkah aku menunggunya?” isaknya penuh permohonan. Aku tersenyum, miris. Bagaimana mungkin dia lupa aku adalah robot yang tak bisa melawan sistem, budak yang tidak mungkin menolak perintah?

Kuraih tangannya yang keriput, dan perempuan tua itu tidak melawan, dibiarkannya aku memisahkan dirinya dari tubuh jerangkongnya. Perempuan tua itu menatap tubuhnya sendiri untuk terakhir kali, matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya tersenyum.

Aku ikut tersenyum, setiap manusia memang merindukan untuk pulang. “Tenang saja, Ibu, Rico akan segera menemui Ibu nanti,” kataku tenang, membuat perempuan tua itu tersenyum semakin lebar.

Note : 495 kata, ditulis khusus untuk MFF Prompt #55: Sang Penjagal