[Review + Giveaway] Panduan Cepat Mendapatkan Buah Hati

Enam tahun menunggu malaikat kecil-malaikat kecil yang akan meramaikan rumah mungil kami, membuat saya menyibukkan diri untuk mengupayakan segala sesuatu yang bisa saya lakukan. Saya percaya, seperti halnya rezeki-jodoh-kematian, semuanya hanyalah wewenang Sang Penggenggam Kehidupan semata, maka saya hanya diwajibkan berikhtiar, bukan? Pun soal momongan ini, siapa tahu, setelah melihat perjuangan saya, Tuhan kasihan gitu ya sama saya :).

Dalam rangka busy while waiting saya ini, membaca buku yang berkaitan dengan program kehamilan adalah salah satu upaya saya. Nah, kebetulan nih Stilleto Book baru saja meluncurkan buku “Panduan Cepat mendapatkan Buah Hati” karya Yulinda Puspita. Sangat tepat untuk saya baca kan ya.

Mari saya tuliskan blurbnya.

*

Judul : Panduan Cepat Mendapatkan Buah Hati
Author : Yulinda Puspita
Pembaca Ahli : Bidan Ainun Nufus
Desain Cover : Pungki Letizya
Penerbit : Stiletto Book
Halaman : xiv + 230 hlm
Cetakan : Pertama, 2016
ISBN : 978-602-7572-59-1
Panduan Cepat Mendapatkan Buah Hati merupakan buku yang sangat tepat Anda baca jika saat ini sedang menunggu kehadiran si kecil di tengah keluarga. Dalam buku ini, semuanya dijabarkan dengan tuntas mengenai pemahaman dasar tentang kehamilan sampai tip-tip yang bisa Anda dan pasangan Anda lakukan, di antaranya:
  • Pemahaman tentang sistem reproduksi
  • Cara mengenali masa subur
  • Faktor penghambat kehamilan beserta solusinya
  • Yoga kesuburan yang bisa Anda lakukan
  • Herbal alami untuk meningkatkan kesuburan
  • Tip agar tetap harmonis bersama pasangan
  • Sampai, alternatif lain mendapatkan buah hati

Benar, anak adalah titipan Tuhan. Namun, kita sebagai manusia sudah sepatutnya berikhtiar dan berdoa. Salah satunya adalah dengan membaca dan mempraktikkan apa yang sudah ada di dalam buku ini.

*

Review saya sederhana saja. Bahwa setelah membaca buku ini, ternyata masih baaaanyak sekali yang belum saya tahu tentang seluk beluk kehamilan ini. Misalnya nih, ternyata ada alat (semacam testpack) untuk mengetes apakah kita (yang perempuan-perempuan tentunya :P) sedang dalam masa ovulasi atau tidak lho!  Cara menggunakannya sama. Serius ini saya baru tahu hahahaha. Sepertinya akan langsung saya hunting nih alat ini. Jadi setelah menggunakan system kalender, bisa langsung panggil AM alias pak suami kan ya kalau saya ternyata sedang masa subur #eh hihihihi.

Seperti poin-poin yang sudah tertulis di dalam blurb, demikianlah buku kecil ini memaparkan setiap poin dengan jelas di setiap bab. Ada sembilan bab berikut dalam buku berwarna pink yang unyu-unyu ini.

  1. Pengetahuan Dasar Tentang Kehamilan
  2. Pemahaman Tentang Sistem Reproduksi
  3. Mempersiapkan Kehamilan
  4. Zat Dan Makanan Untuk Meningkatkan Kesuburan
  5. Herbal Alami Untuk Meningkatkan Kesuburan
  6. Tip-Tip Meningkatkan Kesempatan Hamil
  7. Alternatif Lain Mendapatkan Buah Hati
  8. Mitos-Mitos Seputar Kehamilan
  9. Mendapatkan Buah Hati Sesuai Dengan Jenis Kelamin Yang Dibutuhkan
Di setiap bab-nya, teman-teman bisa memperoleh insight baru. Ada beberapa hal yang dituliskan di buku memang sudah saya lakukan sekarang, seperti gaya hidup sehat dan berolahraga secara teratur, misalnya. Atau memilih bahan makanan yang bisa memicu produksi sel telur dengan baik. Atau kesukaan saya akhir-akhir ini untuk beryoga ria, karena ada yoga kesuburan, mesti private ke guru yoga saya nih, minta diajarin pose yang khusus untuk itu hihihihi.
Selanjutnya, ada yang membuat saya shock di bab Mitos-mitos seputar kehamilan. Di sana disebutkan bahwa memang perempuan yang sedang melakukan program hamil sebaiknya mengurangi kopi. Huwaaaaahhhh!! Duh, padahal saya berharap itu memang cuma mitos lho, ternyata faktanya memang begitu hiks hiks *menatap nanar secangkir kopi yang tidak bisa lagi saya nikmati sering-sering* *lebay*. Nama pun usaha yes? Nggak apa-apalah ya puasa ngopi dulu :D.
Ada juga waktu yang tepat untuk bercinta lho! Jangan saya sebutkan di sinilah ya, nanti khawatir … *ilang sinyal*.
Banyaklah pengetahuan-pengetahuan lain yang bisa teman-teman pelajari dari buku ini. Alhamdulillah banget ada buku seperti iini, terima kasih ya, Mbak Yul *sok ikrib* *ketjup*.

Giveaway Time! Saya punya satu buku kece ini untuk teman-teman dengan komentar terbaik di postingan ini. Syaratnya gampil, seperti berikut:
  1. Peserta memiliki alamat pengiriman di Indonesia
  2. Follow Twitter @Stiletto_Book, dan @rindrianie. Yang punya IG boleh lho follow akun stiletto_book dan akun @neng_orin yaa (modus hihihihi)
  3. Jangan Lupa untuk like Facebook Fanpage Stiletto Book
  4. Share info GA ini disalah satu media sosial yang kamu punya. Jangan lupa untuk mention akun Stiletto Book dan saya di twitter dengan hastag #CepatMendapatkanBuahHati
  5. Jawab Pertanyaan di kolom komentar dengan format : nama, akun twitter, dan jawabanmu.

Pertanyaannya adalah:

“Apa mitos tentang kehamilan yang kamu tahu? ”

Misalnya nih, saya pernah disuruh Mamah menginjak jempol orang yang lagi hamil biar ketularan hamil, entah sudah berapa jempol orang hamiil yang menjadi korban injakan saya hahaha. Nah, gampil kan ya pertanyaannya, bisa tanya mbah gugel lho ya. Pokoknya jawaban mitos yang paling unik yang akan saya pilih sebagai pemenang :D.

Giveaway ini berlangsung dari 3 Oktober – 7 Oktober 2016 pukul 24.00 saja yaa. Pengumuman pemenang akan saya posting di sini pada 8 Oktober 2016. Ditungguuuu :-*

[Mini Giveaway] A Beautiful Mistake

A-Beautiful-Mistake

Barangkali ada yang pengen bacaan ringan tentang cecintaan, mari yuk ikutan mini giveaway saya :).

***

Blurb:

Seorang laki-laki harus berani bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, Ricky tahu itu. Meskipun taruhannya adalah diusir dari rumahnya nan mewah, Ricky harus berani menerima konsekuensinya. Dia tidak mau meninggalkan Lasya dalam keadaan mengandung.

Sementara Lasya sendiri dihadapkan pada kebingungan. Harus memilih antara Ricky dan Yuda, laki-laki yang amat mencintainya dan bersedia menerima kehamilannya.

Cinta sejati selalu bisa menemukan jalannya. Siapakah sejatinya tempat Lasya berlabuh?

***

Jadi begini temans, saya punya 3 eksemplar novel A Beautiful Mistake karya Saviana Jose ini. Yang satu tentu saja sudah dibuka dan dibaca, nah berhubung dua yang lain pun isinya pasti sama saja *menurut lo, Rin? qiqiqiqi*, jadi saya akan memberikannya secara cuma-cuma pada kamyu dan kamyuuu :D.

Caranya gampil kok, cukup dengan berkomentar di postingan ini, kejadian atau peristiwa atau adegan atau sesuatu apa sih yang menjadi ‘a beautiful mistake’ dalam hidupmu? Pasti ada kan ya? Yang benar-benar terjadi lho ya, jangan fiktif!

Contoh? Ish, masa kayak begitu aja mesti dikasih contoh 😛

Okelah, misalnya nih, kamu salah naik jurusan kopaja, eh terus ketemu cowok/cewek cakep, terus kenalan, terus jadian deh, asoy banget yah hihihihi. Atau misalnya nih, kamu pernah melawan keputusan si Bos di kantor, tapi ternyata perlawanan kamu itu justru menyelamatkan perusahaan, eh jadi dipromosiin deh. Yah yang semacam itulah, pokoknya kesalahan-kesalahan (besar atau kecil sebetulnya kan relatif ya, IMHO :D) yang setelah diingat kembali, kesalahan itu memang indah adanya *tsaaaah*.

Saya tunggu sampai Senin malam, yes? 😉

Aku Akan Menunggu

Aku mengerjap. Silau. Ruangan putih benderang yang terlampau luas ini membuatku segera tahu, aku sudah mati. Tapi, sejak kapan?

“Baru saja,” jawab sesosok makhluk putih yang berdiri di samping kananku, seolah menjawab pertanyaan yang aku yakin betul hanya berdengung di kepalaku. Pasti makhluk ini malaikat, gumamku sendiri.

“Bisa dibilang begitu,” katanya lagi seraya tersenyum, membuatku salah tingkah. Tentu saja, dia bisa tahu apa yang aku pikirkan. Aku tidak akan bisa menyembunyikan apapun darinya. Baiklah, aku akan berkata jujur dan berterus terang saja padanya.

“A-apakah kau yakin aku sudah harus betul-betul mati?” tanyaku kurang ajar. Makhluk itu, ralat, malaikat itu menatapku kaget.

“Kau tidak akan berada di sini dan bisa melihatku seperti ini jika belum benar-benar mati.” Sudah kuduga, pertanyaan kurang ajarku pasti membuatnya kesal. Atau, jika sesosok malaikat tidak bisa merasa kesal, malaikat di depanku ini sekarang terlihat sedikit tersinggung.

Aku berdeham, mencoba menenangkan diri. “Maksudku, a-aku sebetulnya tidak bermaksud untuk mati.”

“Kau ingat kan apa yang terakhir kali kau lakukan sebelum berada di sini?” tanyanya tak sabar. Aku mengangguk cepat.

Aku ingat betul apa yang kulakukan. Sebetulnya bukan sesuatu yang bisa aku banggakan, bukan tindakan heroik sama sekali. Aku hanya meminum semua pil dan tablet dan kapsul dan obat sirup yang ada di kotak obat. Awalnya ingin kuminum juga betadine dan boorwater dan minyak telon yang ada di sana, tapi urung karena kepalaku terlanjur pusing. Itu saja. Aku tidak menyangka hal sesederhana itu bisa mengantarkanku menuju kematian.

“Obat-obatan itu memang belum membunuhmu. Kau juga terjatuh dari tangga karena kepalamu yang terlanjur pusing itu. Begitu sampai di bawah, otakmu mengalami pendarahan karena selain terjatuh juga membentur guci keramik besar yang akhirnya hancur berkeping. Tapi terlepas dari semua penyebab yang memungkinkan kematianmu, memang sudah ditentukan hidupmu berakhir saat itu, kau tak bisa berlari atau bersembunyi.”

Aku mengangguk cepat, lantas tertunduk, malu. Tapi malaikat itu rupanya belum selesai, “Dan tidak perlu protes segala!”

Ah, kepalaku semakin dalam tertunduk. Padahal aku tidak bermaksud protes, hanya bertanya. Aku tahu kok, aku sendiri yang salah, bermain-main dengan kehidupan hanya karena aku merasa kehidupan telah sering mempermainkanku lebih dulu. Aku hanya ingin perhatian orang tuaku kembali tertuju pada diriku, anak semata wayang yang dulu pernah menjadi gadis kecil kesayangan mereka. Aku hanya ingin rumah kami damai dan bahagia seperti sebelumnya. Aku hanya ingin keluargaku baik-baik saja.

Sepertinya aku terlalu kecil untuk berharap bisa melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan itu. Toh hingga detik ini pun aku tidak mengerti apa masalah kedua orang tuaku, apa penyebab pertengkaran-pertengkaran di antara mereka, menjadi orang dewasa seperti mereka rupanya jauh lebih sulit daripada menyelesaikan persamaan integral. Mungkin seharusnya aku hanya perlu menangis keras-keras seperti remaja lainnya. Atau kabur dari rumah menginap di rumah teman berhari-hari. Atau bolos sekolah dan bermain di jalanan. Atau apalah. Tapi bukan meminum banyak obat yang berujung pada kematian semacam ini.

Aku menghela napas panjang. Penyesalanku tidak berguna lagi. Aku terlanjur mati.

“Maaf…” kataku akhirnya, lirih, nyaris tak terdengar telingaku sendiri, bahkan tak lagi berani menatap sesosok putih di samping kananku itu. Permintaan maafku itu pun rasanya tidak tepat jika aku tujukan pada Sang Malaikat. Ah, entahlah. Aku mencoba berhenti berpikir. Aku harus bisa menerima keadaan, bahwa ruang putih luas tanpa dinding inilah rumahku sekarang.

“Aku bisa membawamu turun sebentar kalau kau mau.”

“Eh?” Aku mendongak, dan sang malaikat tengah tersenyum padaku, lantas mengangguk.

“Kedua orang tuamu mengerti pesan yang ingin kau sampaikan.”

“Benarkah?” Aku sumringah. Membayangkan Ayah yang akan pulang lebih cepat, tanpa bau alkohol di pakaiannya, dan tersenyum lebar merentangkan tangannya menunggu untuk kupeluk seperti saat aku kecil dulu, lantas mengecup kening Ibu malu-malu. Membayangkan Ibu dengan apron putih yang bersenandung ceria di dapur, mencipta masakan dan kue yang membuatku mendeguk ludah, tidak lagi melempar piring dan mengirim caci dan berteriak murka pada Ayah.

Benarkah kehidupan bahagia itu akan kembali lagi di rumahku?

Entah bagaimana, aku tidak lagi berada di ruangan putih luas tak berdinding itu. Aku berada di kamarku, keadaannya masih persis seperti yang kuingat. Berantakan sepert biasanya. Dan di sana, di ambang pintu, kulihat Ayah dan Ibu yang saling menggenggam tangan, memandang kamarku dengan senyum samar di bibir, juga isak tertahan dan air mata yang mengaliri pipi.

“Aku minta maaf, Mas.”

“Tidak, aku yang minta maaf, Dik.”

“…”

“…”

Aku tidak bisa lagi menangkap obrolan Ayah dan Ibu, tapi aku tahu, keduanya akan kembali mencoba bergembira dalam kebahagiaan yang damai. Syukurlah, rencanaku berhasil. Tak ada kata terlambat bagi Ayah dan Ibu untuk memulai kembali saling menyayangi seperti dulu. Yahh…walaupun harus tanpa aku di sana.

Seandainya saja kematianku bisa…

“Tidak bisa. Kematianmu tidak bisa dibatalkan.” Ha ha, aku tersenyum masam pada Sang Malaikat di sampingku yang lagi-lagi memotong pikiran di kepalaku. Kami sudah kembali di ruangan putih luas tak berdinding ini lagi. Imaji Ayah dan Ibu di kamarku tadi sudah terpatri jelas di kepalaku. Ah, belum apa-apa aku sudah merindukan keduanya. Tapi tak apa, aku akan bersabar menunggu Ayah dan Ibu di surga.

***

Note: 801 kata. Ditulis khusus untuk GA-nya Bang Riga “AttarAndHisMind First Giveaway”

Si Anak Sehat

Temans, masih ingat kah pada si gadis imut-imut berpose eiylekhan ini? *kedipkedip* 😀

Melihat foto ini lagi, membuat ingatan saya terbang ke masa itu. Kalau tidak salah mengingat *saya kadang suka amnesia parsial hihihihi*, saat itu saya sudah sekolah TK. Zaman itu, masih belum banyak sekolah TK di kampung saya, TK saya itu -namanya TK Budi Asih- merupakan satu-satunya TK di kecamatan Leuwimunding. Walaupun sudah berbeda desa, TK ini tidak terlalu jauh dari rumah, sekitar 10 menit saja naik motor. Cukup dekat dengan kantor Bapak, hanya harus menyeberangi sebuah lapangan bola besar, tapi yaa untuk ukuran anak umur 5 tahun si lapangan bola itu luas sangat, saya ingat saya akan merasa sangat hebat saat melewati si lapangan besar itu sendirian hehehe.

Ingatan saya di masa itu cukup random. Saya ingat seringkali merasa sedih karena bekal saya adalah makanan rumah (biasanya menu sarapan) bukan snack-snack yang terlihat lezat milik teman-teman. Saya ingat pernah ‘kabur’ dari sekolah dengan seorang teman lantas dikejar-kejar ibu guru di lapangan bola itu. Saya ingat saya suka sekali berlama-lama menikmati buku-buku di sana saat menunggu Bapak menjemput. Saya ingat betapa terpukaunya saya akan boneka tangan dan cerita yang didongengkan ibu guru di depan kelas. Saya juga ingat betapa saya -dan teman sekelas- bersemangat menyanyi lagu “gelang sipatu gelang” saat mendekati waktu pulang.

Nah, mumpung hari ini adalah Hari Anak Nasional, mari saya ceritakan sebuah kisah di hari itu yang cukup membekas di ingatan saya.

Entah kenapa atau bagaimana, saya tiba-tiba saja mewakili TK kami mengikuti lomba anak sehat di Kabupaten (Majalengka). Saya sama sekali tidak ingat proses kenapa saya yang terpilih, tapi saya ingat waktu ‘lomba’ di sana itu seperti apa. Saya disuruh menyanyi, disuruh mewarnai gambar, disuruh menirukan gerakan-gerakan senam, disuruh baca huruf, disuruh berhitung, dan sebagainya dan semacamnya.

Ada 2 hal yang paling saya ingat. Pertama, saat pemeriksaan gigi. Si ibu penguji (?) mengatakan gigi saya bagus sekali, tidak ada yang bolong, tidak ada yang hitam-hitam, rapi lah. Si Ibu berkata “karena giginya bagus, harus banyak-banyak tersenyum ya”, mungkin kalimat itu yang membuat saya senang tersenyum dan memamerkan gigi saat berfoto ya *berdalih* hihihihi.

Kedua, saat penimbangan badan. Saat kecil, saya lumayan susah makan, tidak mau minum susu, tidak suka ngemil, jadilah kurus walaupun tidak berkategori kerempeng. Lagi-lagi, ibu penguji (orangnya berbeda) berkata “harus rajin minum susu, banyak emam, biar sehat”, terima kasih pada si ibu, sekarang saya sehat banget nih hahahaha 😛

Rasanya sih saya tidak menang ya, terbukti dengan tidak ada piala yang saya bawa ke rumah. Ingatan saya hanya betapa melelahkan perjalanan ke Majalengka itu (sebetulnya cuma 1 jam-an sih, tapi buat saya yang masih imut-imut lama banget ‘kan? :P). Juga tentang si kaos berwarna orange bertuliskan “Lomba Anak Sehat se-Kabupaten Majalengka tahun 1987” itu, yang selalu membuat saya bangga saat memakainya karena hanya saya sendiri yang memilikinya.

Si anak sehat itu sekarang sudah menjadi emak-emak yang terlalu sehat! hihihihi. Bagaimana kenanganmu semasa Tk temans? 😉

***

“Mak,ane ikutan giveaway-nya ye,mak! Kasih ane hadiahnya yang T-shirt official merchandise EURO 2012, ya!”

Bermain di Ladang

Blog yang cool and smart? Eh..itu mah blog saya ‘kan ya? *plaaaak*, abaikan kenarsisan saya itu temans.

Keren dan cerdas, menurut saya adalah dua hal yang tidak selalu bisa seiring sejalan. Ada seorang teman di masa lalu yang penampilannya keren abeeezzz, tapi ya begitulah, bingung mengajaknya ngobrol karena seringkali perbincangan dengannya berakhir dengan status ‘Jaka Sembung bawa golok’ itu. Atau, stereotip yang berlaku di masyarakat, bahwa mereka-mereka yang pintar (dan atau cerdas) cenderung nerd, aneh bla..bla…bla… Tapi, blog tentu saja berbeda dari manusia, bukan?

Teman-teman tentunya sudah tahu para selebblog yang tidak diragukan lagi ke-cool and smart-annya, Pakdhe yang itu, Om yang itu, Bunda yang itu, Uda yang itu, Ummi yang itu, Mba yang itu, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Berkunjung ke blog mereka seperti bersilaturahmi ke rumah sahabat, yang selalu dijamu dengan ‘makanan’ yang menyehatkan, dan terkadang diberi ‘oleh-oleh’ yang menyegarkan.

Izinkan saya menceritakan sebuah blog -yang bagi saya pribadi- adalah sebuah tempat yang paling menyenangkan untuk di kunjungi. Ladang Jiwa!! Bagi saya, namanya saja sudah bermakna filosofis, karena berbeda dengan sawah yang identik hanya ditanami padi, kita bisa menemukan banyak hal di ladang. Jagung, tomat, cabe, singkong, dan sebagainya dan seterusnya. Itu jugalah yang sering saya temui saat saya bermain di sana, bermacam-macam beraneka rupa, puisi-foto-postingan di sana membuat saya lupa pulang dan selalu ingin kembali datang.

“warna jingga pada senja adalah cara matahari mengucapkan selamat malam pada kita..” begitu salah satu komen saya dalam sebuah postingan dibalas oleh sang pemilik ladang. Kalimat indah yang sejujurnya membuat saya diam termenung beberapa detik lamanya setelah membacanya, menikmati meresapi makna yang tak sederhana di dalamnya. Mungkin kesannya lebay surabay ya, tapi -sekali lagi- bagi saya, sebuah kalimat pendek sederhana yang sanggup ‘menggerakkan’ adalah sangat keren binti cerdas.

Hal cool and smart lainnya adalah, blog ini memiliki alter ego! Karena eMak, LJ, Rhein, Ngai, Reras, Pak tuo -dan rasanya masih ada lagi nama lain- bisa menemani saya bergantian saat bermain di ladang. Membuat ladang semakin berwarna, menjadikan hari lebih pelangi, dan seringkali menginspirasi saya untuk mencoba keren dan smart dengan cara saya sendiri (yang tidak selalu berhasil hahaha :P).

Begitulah cerita saya, bagaimana blog yang cool and smart menurutmu, temans? 😉

“Artikel ini disertakan pada Cool and Smart Blogger Giveaway yang diadakan oleh KakaAkin”

Gara-gara Spongebob

Sebelum bekerja di kantor yang sekarang ini, saya sempat menjadi pengajar bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus. Kenapa lulusan bahasa Jepang malah mengajar bahasa Inggris? Itulah hidup teman *tsaaah* hihihihi. Tapi saya bahagia sudah pernah tersesat seperti itu, karena telah membuat saya banyak belajar. Salah satunya tentang bagaimana berteman dengan anak kecil.

Sebagian besar murid saya saat itu memang anak-anak usia SD, diperlukan kreatifitas tingkat tinggi untuk membuat mereka mau dan suka belajar, juga segudang kesabaran saat menjalankan prosesnya, sering sekali saya ingin menyerah, berhenti mengajar dan mencari pekerjaan lain. Tapi tetap saja, pekerjaan menjadi guru tersebut saya tekuni hingga kurang lebih satu tahun lamanya he he.

Selain kelas-kelas besar yang berisi 40 orang anak, ada juga kelas kecil yang hanya berisi 10-15 murid dan kelas private. Nah, pembelajaran “berteman dengan anak kecil” ini saya aplikasikan terlebih dulu kepada dua orang murid private saya. Kita sebut saja Ade (lelaki, kelas 1 SD), dan Kakak (perempuan, kelas 5 SD).

Awalnya, setiap saya datang saat jadwal belajar mereka, Ade dan Kakak selalu berulah. Menangis tidak mau belajar, berpura-pura masih ingin bobo siang dan tidur di sofa, atau berantem hebat hingga kejar-kejaran keliling rumah. Jika pada akhirnya bisa duduk manis di depan whiteboard pun, tetap saja mereka sering kali ogah-ogahan belajar, selalu (berlagak) lupa apa yang sudah saya ajarkan sebelumnya, sering bilang tidak tahu saat saya bertanya, dan pasti tidak mau mengerjakan tugas atau latihan yang saya berikan. Duh 😦

Tidak bisa dibiarkan begitu terus, bukan? Apalagi saya memang membiasakan diri membuat progress perkembangan para murid setiap kelas berakhir. Saya mencoba berbagai macam cara metode pengajaran yang semenarik mungkin. Membuat sendiri papan ular tangga, membuat kartu bergambar, membuat puzzle, hingga membawa boneka tangan untuk storytelling pendek. Sedikit demi sedikit saya bisa mengambil hati Ade dan Kakak. Walaupun tetap saja mereka moody dalam belajar, tapi lumayan lah dibandingkan sebelumnya.

Hingga suatu hari, saat saya leyeh-leyeh di kostan, anak salah satu teman kost saya membajak TV yang sedang saya tonton. “Tanteee, nonton Spongebob ya”, begitu kata si bocah usia 4 tahun itu. Lantas kemudian dia seru sekali menjelaskan pada saya yang merah jambu itu Patrick, menunjukkan yang mana Mr. Krabs, dan menceritakan kalau dia tidak suka Squidward yang suka jahat sama Spongebob. Wow, saya takjub sekali mendengarkan Adit -nama si bocah kecil- tentang film kartun spon kuning bercelana kotak itu, dan terinspirasi 😉

Kelas private berikutnya, saya telah memiliki amunisi untuk ‘melawan’ Ade dan Kakak saat mereka enggan belajar. Betul saja, mereka berdua sangat sangat sangat menyukai si Spongebob itu. Maka saya pun berimprovisasi memberi contoh kalimat dengan subject Sandy si tupai, menjadikan Gary -siput peliharaan Spongebob- sebagai salah satu tokoh dalam story telling, menyuruh mereka mendeskripsikan setiap karakter dalam bahasa Inggris.

Alhamdulillah yaa, sesuatu banget. Gara-gara Spongebob, Ade dan Kakak jadi semangat sekali setiap kelas berlangsung. Apalagi saat saya mendengarkan dengan serius saat mereka menceritakan kembali episode yang baru mereka tonton. Saya selingi dengan pertanyaan ini itu, dan ajaibnya bisa saja mereka jawab dengan benar (pertanyaan dan jawaban dalam bahasa inggris dunk ya :P).

Lantas saya pun menggunakan metode yang kurang lebih sama pada kelas-kelas saya yang lain. Saya pun selalu menonton Spongebob saat saya tidak ada kelas, bahkan menambah daftar tontonan film kartun lainnya -semacam Dora the Explorer- yang sedang diminati anak-anak saat itu sebagai salah satu bahan ajar.

Ternyata, akan lebih mudah berkomunikasi, menjadi teman mereka, dan mengajari anak-anak itu, saat saya mau mengikhlaskan diri melihat dunia dari kacamata mereka, menyukai yang mereka sukai, dan belajar darinya. Gara-gara Spongebob, saya menjadi salah satu guru favorit bagi murid-murid kecil saya saat itu lho *halah narsis* hahahaha…

Fathan suka Spongebob, ngga? 🙂

Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Pertama Anakku Sayang di Rumah Mauna.

Tentang Ateis

“Rin, gue mau kembali ke titik nol!”

“Maksudnya?”

“Gue akan meninggalkan semua atribut keagamaan gue.”

“Hoh??”

“He-eh, gue akan mulai mencari Tuhan.”

“Eh? Mencari Tuhan? Emangnya pernah ilang?”

“Ah elo Rin, ngerti lah maksud gue apa. Gue pengen menemukan Tuhan yang sebenarnya”

“Tuhan yang sebenarnya? Emang selama ini palsu??”

“Mungkin aja kan?”

“Jadi maksudnya sekarang elo udah ga percaya Tuhan nih ceritanya?”

“Kayaknya sih gitu ya, coz gua berasumsi, sebetulnya Tuhan itu ngga ada, inget aforisme-nya Marx yang ‘agama itu candu’ kan? Dengan kata lain, Tuhan cuma khayalan orang-orang yang putus asa atas kehidupan yang tidak seperti harapannya.”

“Apa???”

“Iya, jadilah Tuhan ‘diciptakan’ sama orang-orang ini, buat jadi kambing hitam dan bisa berdalih dengan bilang ‘ini sudah kehendak Tuhan’ bla…bla…bla…”

“…”

Percakapan di atas betul-betul terjadi, tahun 2000 lalu dengan seorang teman saya. Saat itu, saya tidak bisa menjadi ‘lawan’ bicara sang teman yang sejajar, karena pengetahuan agama saya hanya sekedarnya (mmm…mungkin sekarang juga masih begitu ya, hiks), iman saya pun bisa dibilang masih labil, dan bahkan saat itu saya belum berhijab. Saya lupa tepatnya diskusi itu berakhir bagaimana, tapi pastinya kami bertengkar, saling menyalahkan dan sama-sama membela pendapat masing-masing lah yang paling benar.

Teman ini merupakan sahabat berdiskusi yang cerdas bagi saya, sedikit berbeda dari kebanyakan teman-teman kami saat itu, diskusi kami mungkin bisa dikategorikan ‘berat’, bicara tentang filsafat, politik, hidup dan kehidupan, impian, pokonya selain cinta-cintaan khas abege labil atau yang sejenisnya. Saya mengenalnya saat kami masuk  SMP, kemudian sama-sama melanjutkan SMU di Cirebon, walaupun berbeda sekolah tapi kami tinggal di asrama yang sama. Diskusi-diksusi itu terus berlanjut, hingga kami terpisahkan saat melanjutkan kuliah. Dia kuliah di Jakarta, sementara saya memilih kuliah di Bandung.

Saat itu, entah teman ini bisa dikategorikan sebagai atheis atau bukan dengan pernyataan-pernyataan tadi. Tapi tidak lama setelah perbincangan tersebut, dia betul-betul melakukan ‘pencarian’ dan semua yang dikatakannya pada saya. Menyimpan mukenanya di dasar lemari, memakan makanan yang diharamkan, mengikuti misa di katedral, berkunjung ke klenteng, dan sebagainya dan seterusnya.

Seandainya saja, saya dulu sudah membaca buku Menjawab Ateis Indonesia karya Eko Aryawan ini, mungkin endingnya akan menjadi lain. Mungkin saja saya bisa membalikkan semua penyangkalan-penyangkalan sang teman dengan lebih logis, mungkin juga saya akan bisa berargumen dengan lebih meyakinkan mematahkan semua pernyataan absurdnya tentang Tuhan. Tapi tentu saja, berandai-andai dan bermungkin-mungkin belumlah menjadi sebuah solusi.

Saya hanya ingin menasehati diri saya sendiri, untuk membekali diri ini dengan berbagai ilmu, salah satunya tentang ateis ini. Mudah-mudahan saja saya bisa mendapatkan buku ini secara gratis dari mba Fanny *ups* hehehehe.

Karena bukan tidak mungkin, suatu saat nanti saya akan kembali bertemu dengan ‘sang teman’ dalam wujud yang lain, seseorang yang sedang ‘mencari’, seseorang yang sedang mempertanyakan Tuhan. Semoga, jika saat itu datang, saya akan lebih siap untuk ‘bertempur’, karena Tuhan itu ada, dan mengenalNYA adalah indah. Bagaimana menurutmu teman? 😉

***

Tidak seperti review ya he he. Tapi tulisan ini saya buat khusus untuk giveawaynya mba Fanny yang terbaru. Ternyata tadi paragraf akhirnya hilang, pantas saja banyak komentar aneh, maafkan ya teman 🙂

First Love ~ Allysa

Deg. Cewek itu duduk di sana, di bangku yang sama tempat gua dan Alice sering duduk dulu, saat kita masih TK. Perlahan gua dekati, aroma shampo yang sama menguar di udara hingga hidung gua pun tidak bisa tidak bernostalgia ke masa lalu. Alice kah dia?

“Sorry… gua Keven. Lo kan yang tadi ngabarin gua Cia ga bisa dateng?” Ya, gua ke situ karena cewek itu -yang gua belum tau siapa- kirim sms ke gua, bilang kalau Cia tidak bisa datang, dan dia yang akan mewakili Cia untuk bertemu gua. Satu-satunya identitas si pengirim sms adalah inisial huruf “AW”. Well, aneh memang, karena AW adalah inisial Cia, namanya kan Alicia Wijaya. Tapi ya entah kenapa juga gua malah meng-iya-kan. Lagipula gua pikir, darimana dia tau nomor hape gua kalau bukan dari Cia, iya kan? Mungkin cewek ini temennya Cia di Aussie sana.

Eniwey, gua sudah tidak sabar ingin tahu kenapa Cia tidak jadi datang. Padahal gua ingin secepatnya bilang kalau gua juga sayang sama dia, cinta sama dia, jawaban yang mungkin dia tunggu-tunggu. Memberanikan diri, gua duduk di samping si cewek.

“Hai Kev, namaku Allysa. Kamu bisa panggil aku Al.” Cewek itu menoleh sedikit.

“Oh… Hai Al. Errr… jadi…” Gua sungkan bertanya to the point mengenai Cia. Dan Al ini pun entah bagaimana mengingatkan gua pada Cia. Baiklah gua akui, gadis ini tidak hanya mengingatkan gua pada Cia, tapi juga Alice!

“Cia tidak bisa datang.” Ucapnya pelan. Sekali lagi angin berhembus perlahan, mengibarkan rambut panjang Al, yang menguarkan wangi shampo Alice.

“Kenapa?” Tanya gua singkat.

Dan jeda yang cukup lama. Al merubah posisi duduknya, menghembuskan nafas panjang. Gua terpaku terdiam menanti sesuatu yang entah apa.

“Apakah kamu mencintai Cia, Kev?” Pertanyaan yang tidak gua duga.

“Emangnya kenapa Al?”

“Atau kamu masih mencintai Alice si cinta pertama kamu itu?” Tanya Al lagi sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan gua sebelumnya. Kalau Allysa ini temannya Cia, kenapa dia bisa tahu soal Alice segala? Sebegitu dekatkah persahabatan Cia dan Al sehingga cerita soal Alice ini pun diketahuinya?

“Alice dan Cia sama-sama menderita karenamu Al.”

“Hah? Maksud lo, Al?”

“Aku yang menyuruh Alice untuk ikut orang tuanya ke Aussie agar dia bisa jauh dari kamu. Setelah beberapa lama, akhirnya bisa juga dia melupakanmu. Aku sungguh bergembira. Tapi kemudian justru Cia membiarkan dirinya ditemukan olehmu. Mengulangi kesalahan yang sama, mencintai seorang Keven. Perjuanganku menjadi sia-sia belaka.” Kata-kata itu mengalir cepat dan penuh emosi. Al seperti bicara pada dirinya sendiri. Tapi gua bisa melihat dengan amat sangat jelas, Al marah. Dan gua-lah sumber kemarahan dia.

“Sorry Al, gua ga ngerti. Lo kenal juga sama Alice? Gua bingung, bagaimana bisa lo kenal mereka berdua?”

“Karena aku, Alice, dan Cia adalah satu orang yang sama Kev!” Jawabnya cepat. Lantas berdiri untuk kemudian menatap gua dalam amarah dan kebencian.

Hah???? Hawa dingin Bandung di sore hari biasanya tidak pernah membuat gua menggigil seperti ini. Gua shock.

“Ma….maksud lo…  lo… Alice… Cia…”

“Kamu pernah dengar Shirley Ardell Mason? Lebih dikenal dengan nama Sybil, seorang wanita dengan 16 kepribadian.” Gua yakin saat ini muka gua sudah sepucat mayat. Ini bukan cerita novel kan? Ini hidup gua kan? Alice Wijaya. Alicia Wijaya, dan gua yakin betul inisial AW yang Al tulis di sms tadi pagi itu merupakan singkatan Allysa Wijaya. Oh crap.

“Atau kamu lebih mengenal si Billy alias William Stanley Milligan, Kev? Yeah…dia memang lebih hebat. Lelaki itu memiliki 24 kepribadian dalam dirinya.” Ya Tuhaaan…apa yang sebetulnya sedang terjadi? Gua ga percaya ini. Gua berharap gua cuma sedang bermimpi buruk dan akan segera terbangun.

Gua akui, duduk diam di hadapan seorang wanita yang dipenuhi amarah sangatlah menakutkan. Tapi fakta yang sedang dijelaskan Al ke gua sekarang ini jauh lebih menyeramkan. Gua akhirnya bisa mengingat dengan jelas foto yang Cia kirimkan ke gua dulu, dia mirip Alice, entah apanya. Walaupun saat itu gua yakin mereka berdua adalah dua manusia yang berbeda satu sama lain. Dan sekarang, saat gua seolah terhipnotis di depan Allysa, melihat mukanya yang sedang murka gua juga merasa dia mirip dengan Alice, dan Cia sekaligus.

Tapi, gua menyadari satu hal, bahwa Alice, Cia, dan Al memang berbeda. Alica dan Cia memanggil gua dengan sebutan ‘Ven’, bukan ‘Kev’ seperti Al. Alice dan Cia juga selalu ber gua-elo saat kami berkomunikasi, tapi Al ber-aku kamu, sangat formal. Alice dan Cia cantik feminin, sepertinya Al cenderung maskulin. Alice selalu ceria, Cia sangat manis, sementara Al…

“Kev, dengarkan aku. Kamu tidak perlu membanding-bandingkan aku dengan Alice ataupun Cia!!!” Hah? Gua seperti maling jemuran yang kepergok si tuan rumah. Al berbisik, tapi suara pelan penuh tekanan itu justru membuat jantung gua berdenyut lebih cepat.

“Al…” Gua ingin berdiri menyamakan posisi dengan Al yang dengan gagahnya menjulang di depan gua. Tapi kaki gua seolah tertanam ke tanah, tenaga gua lenyap mengasap, bahkan lidah dan mulut gua enggan bersuara. Bagaimana caranya gua mengkonfirmasi asumsi gua tentang Alice-Cia-Al?

“Iya, dugaan kamu benar Kev.” Duh, apakah Al memang bisa membaca pikiran gua?

“Jadi elo…”

“Ya. Alter ego, the other I, kepribadian ganda, multiple personality disorder, apalah…terserah kamu menyebutnya apa Kev.”

“Kenapa?” Karena setahu gua Sybil begitu akibat penganiayaan ibunya sejak kecil, begitu juga Billy yang selalu disiksa ayah tirinya. Tapi kenapa Alice-Cia-Al begitu? Apa pemicunya??

“Kamu tidak pernah betul-betul memahami kami Kev…” suara Al melunak, “Tapi aku tidak perlu menjelaskannya padamu.”kini suara itu kembali dipenuhi amarah, “Aku tidak ingin jatuh cinta, pada siapa pun. Aku tidak akan membiarkan Alice atau Cia untuk jatuh cinta. Aku tidak ingin kecewa, sakit hati, atau berduka karena mencintai. Aku benci kamu Kev!”

“Tapi Al…” gua menelan ludah dengan susah payah. Al mulai menangis. Bukan…bukan menangis, gua hanya melihat ada air mata di pipinya, dia tidak sedang menangis, hanya meneteskan air mata. Apa yang harus gua katakan padanya? Gua dulu pernah mencintai Alice dengan sepenuh hati. Dan sebelum kesini gua akui gua telah jatuh cinta pada Cia. Tapi mungkinkah gua bisa mencintai mereka berdua? Ralat, mereka bertiga sekaligus??

“Aku tidak ingin melakukan ini Kev, tapi aku harus. Demi Alice. Demi Cia. Demi diriku sendiri. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Semoga kamu berbahagia Kev.” Entah kapan pistol itu ada di tangan Allysa. Gua hanya merasakan moncongnya menempel keras di kening gua beberapa saat.

Dan kemudian panas menghampiri.

Lantas gelap.

Lalu dingin.

Dan hening.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba “First Love ~ Create Your Own Ending” yg diadakan oleh Emotional Flutter dan Sequin Sakura

And, The Winners Are…

Tanpa perlu basa basi, berikut adalah nama para pemenang dari 1st Giveaway : The Sweetest Memories.

  • Kategori foto dan kisah paling menarik

1. Mba Rina : Kenangan Indah di Bulan Oktober

2. Bu Irma : Selamat Jalan, Ibu

3. Kak Jul : Sebelum Berpisah

Masing-masing mendapatkan satu buah buku Habibie-Ainun

  • Kategori foto paling ‘bercerita’

1. Teh Hilsya : Senyum SejutaDollar

2. Mba Susindra : Ikatan Dua Hati – Sweetest Memories

Masing-masing mendapatkan satu buah buku berjudul Ayahku (Bukan) Pembohong

  • Kategori foto paling jadul

Om NH : Memorable Moment

Mendapatkan satu buah buku berjudul Jepun Negerinya Hiroko

  • Kategori foto dan kisah paling menginspirasi

1. Mas Arman : Galau Membawa Berkah

2. @brus : Ikhti@r

3. Dhila : Meskipun Engkau Buta, Dik

Secara berurutan mendapatkan buku 200 Kisah Terindah Sepanjang Masa dari China, 101 Cerita Bijak dari Korea, Surat Kecil Untuk Tuhan

*Kategori foto dan kisah terfavorit ditiadakan karena jumlah pemilih berimbang.

Setiap pemenang juga akan menerima bingkisan menarik berupa sandal jepang hand made dari kain perca dan tambang seperti dalam foto berikut (motif berbeda-beda).

Bagi para pemenang silahkan mengirimkan alamat kirim ke email saya : rinrin.indrianie@yahoo.com, atau meng-inbox ke FB. Saya tunggu yaa 😉

Terima kasih banyak untuk Pakdhe Cholik dan Bunda Lily Suhana yang sudah memberikan tali asih tambahan, dan terima kasih yang tak terhingga untuk para peserta 1st Giveaway : The Sweetest Memories. Bagi saya, persahabatan ini betul-betul ‘sesuatu banget’ hihihihi 😀

Luv fou full, Pals 😉

Terima kasih Temans

9 hari, 64 postingan, dan buanyak foto. Duh…alhamdulillah yaah, sesuatu banget. Yeah, akhirnya statement absurd yang entah bagaimana sangat menyebalkan aneh  itu muncul juga di sini hehehe.

Tapi demikianlah adanya temans, pertama kali ini saya membuat (semacam) giveaway, dengan ide dadakan, dengan konsep seadanya, dengan tidak terlalu banyak berharap. Tetapi ternyata, tidak saja jumlah peserta yang jauuuuuuh melebihi ekspektasi saya (awalnya saya pikir yang ikutan paling yaa…10 orang lah he he), tetapi saya juga banyak memiliki teman baru dari ajang ini, dan yang paling mengharukan adalah, dengan postingan-postingan itu saya -dan teman lainnya- bisa lebih saling mengenal satu sama lain, bahkan diajak bernostalgia ke masa-masa sebelum kita saling mengenal. Indah ya 😉

Sahabat bisa membaca dan memaknai setiap foto beserta kisahnya di sini. ke-64 postingan yang sarat makna, kenangan terindah bagi masing-masing penulis, karena merekam berbagai macam kisah, cinta-duka-persahabatan-keluarga bahkan passion dan cita-cita, kisah-kisah yang saya yakin bisa menginspirasi setiap kita yang membaca. Bahwa setiap diri kita adalah berharga, berarti ‘sesuatu’, dan selalu menjadi ‘seseorang’.

Satu hal yang kurang menyenangkan bagi kami -saya dan suami, yaitu bingung dan sangat sulit menentukan pemenang!!Hiks… Ada tambahan 6 buah buku sebagai hadiah dari 2 orang sahabat yang saya yakin banyak dari sahabat bisa menebaknya (itu lhooo…pemilik galaxi dan dia yang tak pernah khawatir *ups* he he he), sehingga pemenang pun tidak hanya 4 orang nantinya. Tapi tetap saja, sampai postingan ini dituliskan, masih terlalu banyak kandidat pemenang 😦

Saya tidak akan pernah bosan berkata. TERIMA KASIH banyak temans, untuk doa dan persahabatan ini 🙂

***

PS : InsyaALLAH pengumumannya besok malam yaa… ^^