Day#7 Sepucuk Surat (bukan) Dariku

Sebelumnya, aku tidak pernah menyesal terlahir sebagai orang miskin. Tidak pernah, hingga saat ini. Detik di mana aku berandai-andai berangan, bermimpi dan berkhayal aku bukanlah aku. Jika aku bukan orang miskin, aku punya banyak pilihan. Dan tidak perlu bekerja seperti ini. Dan tidak perlu berada di sini. Dan tidak perlu melakukan ini. Dan tidak perlu…

“Silahkan mas…” wanita cantik di meja itu mempersilakanku masuk ruangan yang satu lagi setelah lima belas menit aku menunggu, memotong mimpiku. “Direktur Utama”, begitu bunyi plang di pintunya. Membuatku berpikir apakah itu artinya ada Direktur Kedua, Ketiga dan seterusnya? Entah sudah berapa ratus kali aku masuk ke ruangan ini, dan sekian ratus kali pula aku selalu terkesima dengan plang direktur utama berwarna emas itu. Rupanya selain miskin aku pun bodoh.

“Mau apa lagi kamu kemari?” bentaknya membuat nyaliku yang sudah ciut semakin mengkerut. Susah payah aku menutup pintu di belakangku tanpa suara. Susah payah pula aku menelan ludahku dan memaksa lidahku berkata. Tapi ternyata yang bisa aku lakukan hanya mendekati meja besar dengan lelaki besar di baliknya –yang sedang mengamatiku dengan wajah garang- perlahan, untuk meletakkan suratyang sedikit basah akibat telapak tanganku yang berkeringat.

 “Da…dari Ibu,Pak” tergagap aku berkata saat lelaki besar itu tak juga bergeming dari kursinya.

“Iya saya tahu.” Ujarnya menggelegar, membuatku harus kembali menelan ludah dengan susah payah karena tenggorokanku yang kerontang. “Kamu bilang sama dia ya. Tidak perlu mengirimkan surat cinta begini sama saya. Saya ini sudah punya istri!!!” Teriakmu semakin memekakkan telinga.

“Kkka.. kalau Bapak belum balas, sssaya besok datang lagi Pak.” Kalimat panjang itu akhirnya terucapkan juga. Membuatku terbirit lari saat si lelaki besar melempar kotak tissue ke arahku.

“Perempuan gilaaaaaa…” teriakan lelaki besar itu masih terdengar saat aku keluar dari ruangan. Aku terengah meredakan degup jantung seraya menatap si wanita cantik yang terkikik di mejanya.

Aku tahu, sepucuk surat (bukan) dariku itu sudah membuat lelaki besar itu gila. Seperti juga aku yang terlanjur gila karena telah lama bekerja untuk seorang perempuan gila.

Miskin. Bodoh. Gila. Rasanya aku tidak punya harapan.

*Note : 329 kata, dan semakin geje :p

Advertisement

Day#6 Ada Dia Di Matamu

“Kenapa sih cowok suka selingkuh?”

“Hah?”

“Emang  gitu kan?”

“Ada juga cewek suka selingkuh ah”

“Tetep aja cowok juaranya”

“Cewek aja yang pinter, kalo selingkuh ga ketauan.”

“Apaan sih lo? Gender banget.”

“Yey, lo yang duluan.”

“Udah ah, pokonya gue lagi keseeeeel banget. Gue yakin Tio selingkuh sama Nina,Ris. Nina!! Lo tau si Nina kan? Eyampun, cantikkan gue kemana-kemana kan dibanding dia?”

“Kok lo bisa seyakin itu sih?”

“Yakin apanya? Kalo gue lebih cantik daripada Nina?”

“Ebuset kepedean amat lo jadi cewek. Yakin kalo Tio selingkuh maksud gue.”

“Gue bisa lihat di mata Tio,Ris. Ada cinta yang bukan gue. Dan gue yakin itu Nina.” Jelas Sophie kecewa.

 Jeda yang membingungkan. Sophie sahabat gue sejak kecil, dan sepanjang gue bisa mengingat, saat dia punya masalah, gue yang selalu dia cari. Gue bagaikan tong sampah tempat dia curhat 24 jam 7 hari seminggu. For free! Etapi kenapa gue jadi itung-itungan pula ya? Ini adalah sesi ke-sekian dia curhat ke gue soal Tio, yang rupanya cinta mati dia, karena walaupun Sophie mondar mandir mengeluh ini itu, tak juga dia pergi dari lelaki itu. Sangat tidak biasa.

 “Kenapa sih lo ga putusin dia Soph? Beres kan?”

“Gue sayang sama dia, Ris. Gue pengen dia yang bakal jadi ayah anak-anak gue kelak.”

“Hoh? Pengen merit juga lo?”

“Sialan lo ya.” Ucapnya seraya mencubit lengan gue keras. “Kurang apa sih gue Ris?”

“Kurang pinter.” Jawab gue ngasal, yang dibalas tunai Sophie dengan cubitan yang lebih mematikan. Ampun deh kenapa ya cewek doyan nyubit?

“Serius ya Ris. Sebagai cowok, lo suka ga sama gue?”

“Kalo gue straight, udah sejak lama kali gue pacarin lo Soph.”

“Thanks ya Bro. Cuma lo satu-satunya cowo yang ga pernah nyakitin hati gue.” Kali ini dia memeluk gue senang.

“Aih, kebanyakan nonton sinetron deh lo Soph.”

“Dasar lo ya, kagak ada romantis-romantisnya. Udah ah gue ke toilet dulu. Habis ini anterin gue pulang ya. Lo bawa mobil kan?” Gue cuma mengangguk dan menatap Sophie beranjak menuju toilet.

Dan tak lama notifikasi BBM berbunyi “Bebeeeeb, aku lihat kamu di Starbuck. Aku ke situ ya. Please wait.” Hah? Kok bisa si Honey Bunny gue ada di mall ini juga? Kaget bin senang gue, sekaligus khawatir.

***

 “Sophie…”

“Tio? Kenapa kamu ada di sini?”

“Aku…”

“Aku tahu, ada dia di matamu. Tapi aku bisa memaafkanmu jika kamu meninggalkannya.”

“Soph, aku..”

“Aku pulang dulu.” Sophie melambaikan tangan memanggil gue dari sana. Dari arah pintu masuk dimana dia bertemu Tio.

“Kita pulang ya Ris.” Ajak Sophie menarik tangan gue.

“Hai Harris.” Sapa Tio, memandang Sophie yang sibuk menarik tangan gue, dan menatap gue yang seolah tidak mau pergi.

“Hai Yo. Gue duluan ya?” Pamit gue ragu.

Baru beberapa langkah, notifikasi pesan baru kembali terdengar, “Bebeb, take care ya. Bilang aku kalo udah di rumah.

“Siapa sih Ris?” Tanya Sophie ingin tahu.

“Bukan siapa-siapa Soph.” jawab gue cepat.

Errr, seandainya Sophie tahu ‘dia’-nya Tio itu adalah gue, apa yang akan terjadi ya?

*Note : 486

*Note (lagi) : Judul hari ke-6 #15HariNgeblogFF ajaib ya. Dan ternyata imajinasi saya bisa sedemikian liar-nya menulis cerita se’gila’ ini. Errr…sepertinya saya memang memiliki alter ego temans hihihihihi

Day#5 Jadilah Milikku, Mau?

Dear Kamila,

 Ini adalah surat ke sekian yang aku tulis untukmu. Dan aku akan tetap menulisnya besok, lusa, minggu depan, selamanya. Hingga tanganku tak mampu lagi menggerakkan pulpen di atas kertas. Hingga kau tahu apa rasaku padamu.

 Aku tahu, aku hanyalah lelaki biasa yang tak sempurna di matamu. Aku juga tahu, aku bukan siapa-siapa yang tidak memiliki apa-apa. Tapi tahukah kau? Aku memiliki cinta yang tak biasa untukmu, yang mungkin akan menyempurnakanmu.

 Wahai kekasih hatiku. Maafkan kelancanganku karena telah mencintaimu. Ampuni ke-tidak tahu diri-anku karena sudah menyayangimu. Maklumi keberanianku karena merinduimu.

 Jadilah milikku, mau?

Kutunggu jawabmu dalam rindu yang membiru.

 –Aku yang selalu mencintaimu-

Aku lipat surat itu hati-hati, berharap kali ini aku bisa menyerahkan surat itu padanya. Tidak seperti nasib ke-seratus surat sebelumnya yang hanya tersusun rapi di lokerku. Pesan yang tak pernah tersampaikan padanya.

Saat aku ingin meletakkan surat itu di samping si boneka Teddy Bear di sudut mejanya, kekasih hatiku itu datang. Rambutnya tergerai begitu saja menguarkan wangi. Blazernya kali ini berwarna peach, senada dengan rok selututnya. Sementara blouse didalamnya secoklat high heel yang dia pakai. Manis. Seperti biasanya.

 “Pagi mas Jonoooo…” sapanya renyah. “Kopiku manna?” tanyanya manja. “Biasa ya, ga pake krimmer en gulanya 1 sendok ajah.” ujarnya lagi. “Teruuuus, nanti tolong dokumen-dokumen ini di-copy yaaa, rangkap 2. Makasiiiih”.

 “I..iya mba…” jawabku gagu. Kemudian berlalu dengan setumpuk kertas di tanganku. Dan secarik surat yang tersimpan malu di saku seragamku. Tapi akan kuteruskan mimpiku itu. Untuk memilikimu.

 *Note : 238 kata

*Note lagi : eeaaa…gombal nian ya temans, saya sampai mau muntah nulisnya hahahaha *efek nulis FF di tengah pekerjaan yang menggila* 😛

Day#3 Kamu Manis, Kataku

Kamu manis, kataku. Aku tahu, jawabmu. Dan kami tergelak bersama. Bahagia

***

Saat itu senja baru menyapa. Kami menikmati orkestra hujan di luar sana dalam diam.

“Kamu mikirin apa sih?” Tanyanya manja setelah sekian menit berlalu.

“Mikirin kamu.” Jawabku cepat, yang dia balas dengan mencubit lenganku lembut.

“Wew, gombal.” Ucapnya. Dan kami tergelak bersama.

“Kamu tahu? dulu aku pernah ingin menerjunkan diriku dari puncak Monas.”

“Oh ya?”

“Atau tertidur di atas rel saat kereta datang.”

“Wow.”

“Atau memasukkan leherku ke lubang tali yang tergantung di pohon nangka.”

“Ckckck…”

“Atau melarutkan bubuk kopiku dalam cairan pembunuh serangga.”

“Ouch.”

“Atau mengiris urat nadiku dengan sebilah silet.”

“Ya ampuuun…”

“Kamu menganggapnya lucu ya?”

“Aku cuma tidak mengerti, kenapa ingin mati saat Tuhan masih memberimu kehidupan?”

“Entahlah, mungkin karena saat itu aku merasa tak ada gunanya juga aku hidup.”

“Begitu ya? Padahal kamu masih bisa melihat pelangi, padahal kamu masih bisa merasakan desau angin, padahal kamu masih bisa menyentuh tanganku, padahal kamu bisa masih bisa mendengarkan nyanyian hujan.” Aku terdiam. Malu.

“Ya, aku tahu. Untunglah aku masih hidup. Dan bertemu denganmu.” dia tersenyum mendengar gombalanku. Senyum yang selalu mampu menghangatkan hatiku. “Kamu tidak pernah merasa begitu?”

“Ingin mengakhiri hidup, maksudmu?”

“Iya.”

“Untuk apa? Jika saatnya tiba aku akan mati, tanpa aku harus menyakiti diriku sendiri, bukan?” Jawabnya tersenyum.

“Dan jika saatmu itu tiba, aku tidak bisa lagi hidup tanpamu” ucapku, “Dan aku akan melakukan kesemua hal tadi untuk membuat diriku mati. Dan aku tetap akan bisa bersamamu di sana”

Senja itu seolah tak pernah berakhir.

***

Kamu manis, kataku. Benarkah, tanyamu. Kenapa meragukanku, ucapku. Karena aku buta, katamu. Dan aku pun tak memiliki kaki, ujarku. Maka izinkan aku berlari untukmu, katamu lagi. Dan biarkan aku menatap bulan untukmu, ucapku lagi.

Kembali, kami tergelak bersama. Bahagia.

*Note : 291 kata

Dag Dig Dug

Gue selalu menantikan saat-saat ini. Saat dimana Gue bisa bertemu pujaan hati gue. Pujaan hati? Ish, sejak kapan gue jadi pujangga ya? Sebodo amat lah, yang penting sebentar lagi pujaan hati gue akan datang, dan gue akan menikmati debar jantung gue yang heboh saat dia dekat gue, dan gue akan terpukau saat memandang wajahnya, dan gue akan…

“Duh…mudah-mudahan aja bu Tati kena diare, atau amnesia lah sekalian, jadi dia ga dateng ke kelas hari ini.” Suara Willy keparat membuyarkan lamunan gue, apa maksudnya ngedoain yang jelek-jelek sama pujaan hati gue coba?

“Apaan sih lo Wil?” gue mendelik.

“PR gue belom kelar Do, lagian heran deh kenapa lo jadi semangat banget kalo pelajaran matematika ya?” Ih, kepo sangat nih teman sebangku. Gue memilih pura-pura tidak mendengarnya. “Do, PR lo mana? Gue nyontek laah” Ebuset ni anak, gue tampol juga lama-lama.

“Selamat siang-anak-anak. Saya harap PR minggu lalu sudah selesai ya. Coba Rani kerjakan nomor 1 di depan” Duh, pujaan hati gue datang. Suaranya yang khas langsung membuat gue tersenyum, melupakan kusut hati gue dengan kelakuan Willy barusan. Langsung bikin gue dag dig dug setengah hidup. Pasti teman-teman sekelas juga sih, tapi dengan alasan yang pastinya berbeda ha ha.

Seperti biasa, pujaan hati gue itu akan berkeliling kelas, meletakkan spidol di meja salah satu siswa atau menjawil bahunya, itu adalah kesepakatan tidak tertulis yang artinya dia meminta si anak mengerjakan soal di depan. Pujaan hati gue itu memang jagonya bikin deg-degan.

Tapi gue suka sama dia. Gue suka saat dia menjelaskan teori matematika yang aseli sebetulnya tidak gue mengerti sama sekali. Gue suka saat tak tuk tak tuk sepatunya menyapa lantai saat dia berkeliling. Gue suka saat dia menjewer teman-teman gue –iya, gue juga pernah kena jewer- saat ketahuan tidak mengerjakan PR. Gue suka saat dia menyindir habis-habisan kalau jawaban yang kami kerjakan di papan tulis salah. Ah, pokonya gue suka sama dia. Titik.

Bodo amat lah kalau Willy –atau siapapun- menertawakan gue. Jika Raffi Ahmad bisa pacaran sama Yuni Shara, maka gue suatu saat bisa pacaran sama Bu Tati!

“Kerjakan nomor 3!” Pujaan hati gue itu menjawil bahu gue!! Omaigat, kesetrum mah lewaaat, sentuhan pujaan hati gue itu rasanya…tidak bisa gue deskripsikan dengan kata-kata.

Maka gue pun gemetar menuliskan si jawaban nomor 3 di papan tulis, saat tiba-tiba pujaan hati gue itu berdiri 5 sentimeter di sebelah gue. Aih mati. Duh, bahkan gue bisa menghirup wangi parfum si pujaan hati gue ini,aroma mint dari mulutnya pun samar bisa tercium. Mau apa dia?

Di saat gue masih belum mengerti itu, pujaan hati gue itu berbisik pelan di telinga gue, “Dado, risleting celana kamu belum ditutup tuh..”

Jleb, gue boleh pingsan kan?

Day#1 Halo, Siapa Namamu?

Iya, ini (ceritanya) ikut tantangan #15hariNgeblogFF itu, tapi kemarin seharian meeting dan meeting sambung menyambung. Dilanjutkan makan malam bersama tamu-tamu itu berhasil membuat saya sampai rumah pukul 11, terlalu larut untuk kembali membuka laptop. Berhubung FFnya sudah berhasil saya buat, tak mengapa lah ya tetap dipublish he he. Mudah-mudah tantangan hari ini tidak terlambat lagi, walaupun sampai saat ini saya masih belum tahu akan menulis apa hihihi…

Enjoy then 😉

***

“Halo, siapa namamu?” Lelaki itu menghampiriku dengan setangkai mawar merah di tangannya.

“Anggrek” jawabku.

“Anggrek?”

“Iya, Anggrek.”

“Anggrek seperti…bunga Anggrek?”

“Anggrek seperti bunga Anggrek.”

“Kenapa tidak mawar?” tanyanya lagi, menyerahkan mawar itu padaku.

“Kau lebih suka mawar?”

“Tidak juga, dia suka bunga tulip.”

“Tulip?” Lelaki itu hanya mengangguk, dan perlahan pergi dengan senyuman. Ternyata Anggrek pun bukan.

 —

“Halo, siapa namamu?” Lelaki itu duduk di sebelahku, menyandarkan punggungnya dan kemudian menengadah menatap langit.

“Laut.” Kataku.

“Laut?”

“Iya. Kau suka laut?”

“Laut? Nama yang tidak biasa, bukan?”

“Mungkin. Apa kau suka laut?”

“Kenapa Laut?”

“Kau tidak suka laut?”

“Aku suka, tapi dia tidak bisa berenang. Jadi kami tak pernah pergi ke laut.” Lelaki itu beranjak, melangkah dalam diam yang sepertinya semakin sunyi.

 —

“Halo, siapa namamu?” gerimis turun ke bumi saat lelaki itu menyapaku.

“Rinai.” Ucapku.

“Rinai?”

“Ya, Rinai. Seperti hujan.”

“Rinai.. Nama yang cantik.”

“Oh ya?”

“Kau pintar membuat nama.”

“Menurutmu begitu?”

“Tapi aku tidak suka hujan.”

“Kau tahu kenapa kau tidak suka hujan?”

“Karena dia pergi saat hujan. Aku tidak pernah suka hujan sejak itu.” Lelaki itu berlari ke arah rinai.

 —

“Halo, siapa namamu?” Siluetnya di sore itu membuatku tertegun. Dia masih muda,tampan, sepertinya baik, tapi kenapa kehidupan membuatnya begitu?

“Senja.” Aku mulai kehabisan nama.

“Ah…aku selalu suka senja.”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu.”

“Kenapa kau tidak tahu?”

“Mungkin karena dia selalu terlihat cantik saat senja.”

“Apakah aku bisa tahu siapa namanya?” Lelaki itu tersenyum, menatapku lama, lantas pergi. Seperti biasanya dan selalu.Permainan ini telah menjadi obsesi buatku.

 —

“Halo, siapa namamu?” Lelaki itu semakin kurus dari hari ke hari.

“Kirana.” Jawabku ragu. Lelaki itu mematung. Matanya meredup. Rupanya ‘dia’ bernama Kirana.

“Nama itu berarti sesuatu untukmu?” tanyaku.

“Kirana berarti segalanya buatku.”

“Apa yang terjadi padanya? Padamu? Pada kalian?” Lelaki itu terdiam, matanya tak lagi hidup.

“Kau mencintainya?” Lelaki itu mengangguk cepat.

“Tapi Kirana tidak mencintaimu?” tanyaku lagi ingin tahu. Kali ini lelaki itu menggeleng.

“Dia mencintaiku lebih daripada aku mencintainya.”

“Lantas?” Lelaki itu kembali terdiam. “Kau mencintai Kirana, Kirana mencintaimu. Dan?” Lelaki itu tetap membisu. Lalu menatapku lama, seperti lelah. Lantas pergi begitu saja. Aku masih belum mengerti.

 —

Pagi cerah saat lelaki itu menghampiriku, dengan tas ransel di punggung, sepatu kets, dan rambut yang disisir rapi. Aku sempat tak mengenalinya. Dan belum ada satu nama lain yang melintas di kepalaku saat ini.

“Halo Suster.” Sapanya ramah.

“Eh?” Bukan pertanyaan yang biasanya. “Halo, kau mau kemana?”

“Pulang.”

“Pulang?”

“Sepertinya kegilaanku harus aku akhiri Sus.”

“Menurutmu begitu?”

“Iya.”

“Kau tahu kenapa?”

“Karena Suster berhasil menebak nama wanita itu.”

“Kirana?”

“Iya, Kirana.”

“Kirana yang membuatmu gila?” lelaki itu tertawa.

“Aku berhenti menjadi orang gila, Sus. Mulai detik ini.” Jawabnya sungguh-sungguh.

“Oh?”

“Aku akan baik-baik saja, Sus.”

“Walaupun tanpa Kirana?”

“Kirana sudah mati. Jauh sebelum aku mengenal suster.” Lelaki itu mulai berkisah. “Tapi itu sudah tidak penting lagi.” Sambungnya, dan bersiap pergi.

“Tapi, kenapa kau tidak bisa bersamanya?” Aku penasaran. Lelaki itu tersenyum, aku menamainya senyum kebebasan.

“Karena Kirana adalah ibuku.” Jawabnya seraya menjauh.

Ah… rupanya cinta memang bisa membuatmu gila.

 *note : 498 kata.