Babak ke-2

Hai temans, tahu tidak bakalan ada #15HariNgeblogFF Part 2?

Iya lho, ternyata Yumin dan Masmin yang baik hati akan mengadakan permainan seru ini mulai tanggal 12 Juni nanti. Info lengkapnya bisa di lihat di sini ya temans. Saya tentu saja merasa tertantang, walaupun nantinya akan terseok-seok *tsaaah* tapi diniatkan saja dulu ya.

Postingan ini juga sekaligus semacam pre-warning karena terhitung tanggal 12 Juni hingga 15 hari berikutnya, blog ini kemungkinan besar akan berisi cerita super pendek geje yang saya buat. Mudah-mudahan saja tidak akan membuat muntah, syukur-syukur bisa cukup menghibur he he.

Hayuk lah temans kita ikut bermain nge-#15HariNgeblogFF part 2 😉

—-

Note : In case ada yang ingin tahu babak ke-1 seperti apa, silahkan lho lihat-lihat di page #15HariNgeblogFF inih #ngingklan 😀

Menulis Fiksi Itu…

Tak tergambarkan dengan kata-kata *lebay dot com*.

Tapi itu betul, setidaknya bagi saya ya hehehe. Berhasil mengikuti tantangan #15HariNgeblogFF adalah pencapaian tersendiri bagi saya. Ternyata, saya bisa mengalahkan mood menulis saya yang masih suka berfluktuasi sesuka hati itu, dan resepnya sama kok, cuma satu dan cukup sederhana : komitmen. Walaupun -bagi saya- aplikasinya selalu lebih sulit daripada sekedar dikatakan.

Saya salut kepada beliau berdua yang kepikiran dan memfasilitasi program seperti ini. Bagi penulis amatiran seperti saya, menentukan judul adalah hal terberat. Maka saat si judul sudah ditentukan, saya akan bersenang hati berpetualang dalam imajinasi di kepala saya untuk menuliskan sebuah cerita. Dari ke-16 cerita yang berhasil saya buat, tidak semuanya memuaskan bagi saya, tapi ya tetap saja, saya menepuk pundak saya sendiri menghormati apa yang sudah berhasil saya lakukan, walaupun masih belum apa-apa sepertinya ya :p

Konon, penggagas tantangan ini mba @WangiMS dan mas @momo_DM, akan membukukan beberapa FF terpilih dari setiap judul. Saya tidak berharap banyak ada tulisan saya yang terpilih, wong cerita saya kebanyakan geje begitu ya *sadar diri*, tapi sekali lagi, ini adalah pencapaian saya pribadi, yang sungguh sangat syukuri, karena saya sedang berproses dan bertumbuh, di jalan -yang semoga- tepat.

Saya ingin berterima kasih pada masmin dan yumin, serta teman-teman yang bersedia membaca cerita-cerita geje saya tersebut, khususnya bagi yang mengapreasiasinya dengan tulus. Entah saya pernah membaca di mana, “kritikan adalah vitamin, pujian adalah cemilan” bagi penulis, yang keduanya bisa menyehatkan, tetapi bisa juga mematikan jika berlebihan, bukan?

Tapi tetap saja, menulis pada awalnya adalah untuk diri sendiri, begitu yang dikatakan Maggie (guru saya waktu pelatihan) waktu itu. Dan saya mengamininya, karena terlepas tulisan itu disukai pembaca atau tidak, proses menulis -dari mulai menelaah ide, berimajinasi, mencari tokoh, memilih karakter, menentukan plot dan setting, menciptakan dialog dan narasi, de es be- itu, adalah kesenangan tersendiri bagi si penulis. Ish…meni gaya ya bahasa saya hahahaha.

Well, impian terbesar saya masih tetap sama, yaitu melihat nama saya di kaver sebuah novel. Pertanyaan berikutnya adalah : kapan? Ugh…izinkan saya ngumpet dulu ya temans mihihihi..

Day#15b Menikahlah Denganku

(semacam) sekuel dari cerita sebelumnya.

***

Menikahlah denganku Ra, pintamu saat itu. Dan aku menjawab pertanyaan itu dengan menamparmu, keras. Lantas meninggalkanmu yang terpana tak mengerti. Tahukah kamu Bayu? Kalimat itu mengingatkanku akan luka yang tak pernah mengering?

Menikmati pantai Senggigi saat senja yang jingga, seharusnya adalah eksotisme yang romantis, tapi aku merasa entah. Mungkinkah aku telah menyakiti diriku sendiri? Aku tahu luka itu akan tetap berada di sana, tapi aku tetap berhak untuk bahagia, bukan? Aku memandang cakrawala di atas pasir dalam sunyi.

”Ra…”

“Bayu?”

“Jangan lari dariku lagi, Ra. Kumohon…”

“Kau tak perlu mencariku, Bay.”

“Tidak bisa kah kau buka hatimu untukku?”

“Tidak bisa kah kau meninggalkan aku?

“Please Ra, jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain.

“Aku tidak punya hati lagi Bay.”

Debur ombak menyapa pasir memecah hening yang seolah abadi.

“Aku tahu mungkin ini sulit bagimu, tapi…izinkan aku mencintaimu, Ra.”

Aku menghentikan inderaku menyentuh senja, ku tatap matamu yang sedang memandangku. Cintakah yang ada di sana? Pantaskah aku menerima cinta itu?

“Kenapa kau mencintaiku, Bay?”

“Perlukah alasan untuk itu?”

“Menurutmu tidak perlu?”

“Aku mencintaimu karena aku mencintaimu. Cukupkah itu bagimu?”

“Itu absurd!”

“Ra, aku bukan Adrian…” Semesta di sekelilingku membeku, rasa sakit itu datang lagi, membuatku menggigil memeluk lutut, aku tidak ingin selamanya seperti ini. Aku pun ingin bahagia, mungkin kah?

Dan kemudian hangat perlahan menjalar di tubuhku saat Bayu mendekapku erat, membelai rambutku lembut, menggenggam tanganku kuat.

“Menikahlah denganku Ra, dan aku akan memelukmu seperti ini, selamanya.” Bisik Bayu lirih di telingaku. Aku terdiam menatap jingga yang semakin temaram. Kurebahkan kepalaku di dadamu, mencoba menikmati rasa hangat ini meresap hingga sanubari. 5 tahun mungkin sudah lebih dari cukup bagiku hidup dalam luka yang terus ku pelihara. Mungkin aku memang pantas menerima cintamu, mungkin aku pun pantas mencecap bahagia bersamamu.

Senggigi beranjak menggelap. Tapi aku tahu, hidupku telah mulai benderang karenamu.

***

*Note : 298 kata.

Yippiee…selesaaaai *tari pom-pom*. Terima kasih telah menemani perjalanan saya ya temans 😉

Day#15a Sah!

Berdebar aku menatap bayanganku sendiri di cermin. Sesosok wanita yang terpantul di sana begitu memukau, begitu bersinar, begitu bahagia, benarkah itu aku? Tak berapa lama lagi aku akan sah menjadi Nyonya Adrian! Aku tersenyum pada bayanganku sendiri, tersipu.

“Siap-siap ya Neng. Akadnya jam 11 kan? Harusnya 15 menit lagi rombongan pengantin pria datang.” Bu Ratih –periasku- datang tergesa, mengecek riasan wajahku yang rasanya sudah sempurna. Aku hanya mengangguk.

“Neng keluar setelah ijab kabul, saat itu Neng sudah sah menjadi istri.” Ucapnya lagi menggodaku, seraya membetulkan rangkaian melati yang menghias rambutku. Lagi, aku hanya mengangguk, kali ini dengan tersenyum gugup.

“Nanti Ibu panggil ya.” Katanya lagi sebelum beranjak, kudengar kesibukan di luar kamarku saat bu Ratih membuka pintu sekejap, dan kemudian kembali sunyi.

Kamarku kini begitu indah, penuh aneka bunga berwarna putih tertata, seprai cantik yang juga berwarna putih, semuanya serba putih, tak berlebihan rasanya aku berangan sedang berada di surga, dan aku adalah bidadari satu-satunya di sana. Ah, selalu seperti ini kah perasaan si pengantin?

15 menit ini seperti selamanya. Tapi 15 menit seharusnya tidaklah selama ini. Kenapa Ibu Ratih tak juga memanggilku? Jam berapa sebetulnya sekarang?

Aku tak bisa melihat ke halaman depan dari jendela kamarku ini, aku pun tak punya keberanian untuk membuka pintu itu dan bertanya kenapa keriuhan tadi pagi kini terdengar ramai dengan aura yang berbeda? Maka aku hanya terpaku menatap sebentuk kolam dengan ikan-ikan kecil berenang-renang ke sana ke mari di luar jendela. Kau pasti datang ‘kan Adrian? Tanyaku pedih.

Adzhan Ashar sayup terdengar. Aku masih mematung menatap ikan warna warni yang seolah tak bisa diam di kolam itu. Aku tahu Bunda berdiri sunyi di belakangku dalam isaknya yang tertahan.

“Ra… Yang kuat ya Sayang?” perlahan Bunda mengambil satu per satu melati di rambutku.

“Apa salah Rara, Bunda?” tanyaku akhirnya. Dan kemudian Bunda hanya memelukku erat dalam tangisnya yang kini menderas. Sementara aku hancur mendebu.

“Sah!” kata itu hanya menggema berdengung dalam imajiku. Selalu ada di sana tanpa pernah bisa melenyap. Aku mengerti, satu-satunya kesalahanku adalah pernah mempercayai lelaki brengsek sepertimu, Adrian.

***

*Note : 337 kata

Rupanya karena ini hari terakhir, kami ditantang untuk membuat 2 judul FF sekaligus! *pengsan*. Saya coba buat sekuel saja untuk cerita berikutnya, karena berimajinasi dan menuliskannya saat menikmati kram perut ternyata tidak mudah hehehe…

Day#13 Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta

Hai, gue Odol. Kalau lo tidak mengenali gue, itu artinya elo ga pernah gosok gigi! Maka menjauhlah dari gue, gue benci gigi-gigi kotor dan jorok itu. Tapi kalau lo mau berterima kasih sama gue –karena sudah membantu membersihkan gigi lo- maka gue senang sekali. Lo boleh deh jadi temen gue he he.

Nah, sekarang gue lagi punya masalah, gue lagi jatuh cinta cyiin!! Jangan tanya kenapa gue –yang notabene hanyalah sebentuk odol- bisa jatuh cinta, tanya saja sama yang menciptakan cinta, kalau lo tidak berani bertanya padaNYA Yang Maha Cinta, simak cerita cinta gue aja gimana?

Lo tahu cinta gue jatuh sama siapa? Sikat gigi!!! Yeah, silahkan tertawa, silahkan hina dina ketololan gue, silahkan saja mencibir merasa kasihan sama gue. Cinta itu gila jendral! Maka gue, adalah sebentuk Odol yang sangat gila, karena gue jatuh cinta dengan teramat sangat padanya, pada si sikat gigi, pada si tooth brush. Lo mau tahu panggilan sayang gue buat dia? Gue kasih tahu ya, panggilannya adalah : Neng Tuti.

Gue akan selalu merindukan momen-momen dimana gue bisa bersentuhan dengan Neng Tuti, walaupun gue akan merasa tertusuk-tusuk saat bulunya menyapa gue, walaupun gue akan dikusek-kusek secara membabi buta olehnya, tapi gue tetap suka, malah gue sangat menikmatinya, gue merindukan kebersamaan itu. Apakah gue termasuk Odol yang masochist? Entahlah ya, yang gue tahu adalah, gue tergila-gila sama Neng Tuti. Titik.

“Cieeeehhh…yang dapet kado sikat gigi dari si Tuti, menghayati bener yang mau gosok gigi doang.” Ah, si Aldo membuyarkan hayalan gue, ga tak tahu apa dia kalau gue lagi ngayal jadi odol? Sialan.

***

Note : 257 kata, dan saya bahkan tak bisa berkata-kata, betapa cerita ini sungguh merana adanya *halaaaahhh*.

Happy Tuesday Pals 😉

.

Day#12 Merindukanmu Itu Seru!

Papih, kapan pulang? Udah Mamih transfer kok uangnya ke Pak Salim.

Kukirimkan sms itu ke nomor handphone Eko, orang kepercayaan suamiku. Lumayan lama sms balasan dari nomor tak dikenal baru masuk, rupanya Eko sedang tidak bertugas.

Sabar ya Mih, masih sedikit rusuh –Papih-

Duh Papih, merindukanmu itu memang selalu seru. Rusuh seperti apakah yang kau maksud? Kenapa sih si Pak Salim itu rese sangat memperlambat dirimu pulang, wahai suamiku? Ah…daripada senewen lebih baik aku shopping.

-o-

Pih, gimana? Jadi kapan nih pulangnya?

Lagi, kukirimkan sms ke nomornya si Eko, mudah-mudahan saja kali ini balasan sms lebih cepat. Benar saja dugaanku, sms langsung dibalas. Kubayangkan Eko sedang menemani suamiku ngopi-ngopi di sana.

Besok Mih. Besok Papih pulang! Jangan kemana-mana lho…

Akhirnyaaa…bak anak kecil aku jingkrak-jingkrak kegirangan. Merindukanmu memang selalu seru seperti ini ya Pih? Aku tersenyum sendiri, malu. Ehem besok si Papih pulang, berarti hari ini ke salon dunk ya? Yuk mareee…

-o-

“Mamiiiih…” awalnya aku kaget. Lelaki berambut gondrong keriting seperti Sudjiwo Tedjo jadi-jadian itu langsung memelukku.

“Papiiiiih… Ih, ngagetin aja.”

“Yey, si Mamih masiiih aja begitu.”

“Kok wig-nya jelek banget sih Pih? Kumisnya juga aneh deh.”

“Justru itu yang dicari Mih, makin aneh makin ga ada yang ngenalin Papih kan?”

“Trus…kenapa si Pak Salim, Pih?”

“Nah itu dia Mih, si Pak Salim kayaknya udah ketauan suka bantuin Papih.”

“Hah? Trus gimana dunk? Papih ga bisa pulang seminggu sekali lagi?”

“Makanya kemaren Papih nego sama Pak Bowo, bosnya Pak Salim.”

“Lebih gede dunk transferannya.”

“Ya pastinya Mih.”

“Trus…kalo si Pak Bowo nanti ketauan juga gimana Pih?”

“Ga mungkin Mih, si Pak Bowo ini salah satu yang nilep duit proyek kok. Jadi kita amaaaan.”

“Bagus deh Pih kalo gitu, ‘kan Mamih kesepian kalo Papih di penjara terus. Tapi kita tetep ke Bali besok?”

“Jangan Mih, kata si Eko di Bali lagi ada event, banyak wartawan. Papih ngga mau ketahuan kayak si itu tuh. Kita ke Singapur ajah.”

“Asyiiik… Tapi, passport Papih gimana?”

“Santai Mih, besok Papih nyamar jadi si Eko.”

Aku memandang suamiku –yang sudah melepas wignya tapi kini berjanggut- dalam diam, membayangkannya berwajah Eko besok, mengimajinasikannya berwajah entah siapa lagi minggu depan. Kau memang selalu membuat rinduku seru, Pih.

***

*Note : 360 kata

Iyaaa…geje sangat cerita ini ihiks.

Day#11 Tentangmu yang Selalu Manis

“Ghe, tim di Mentawai masih kekurangan orang.”

“Tapi kau baru saja pulang dari Rinjani, Nu.”

“Aku tahu, tapi mereka perlu pertolongan Ghe.”

“Ya, tapi tidak harus kamu kan? Banyak anggota SAR yang lain kan?”

“Ghe…”

“Aku lelah selalu mengkhawatirkanmu Ranu!”

“Apakah itu artinya kau tak lagi ingin bersamaku Ghe?”

Episode itu berkelebat lagi di kepalaku, membuatku menangis tanpa air mata, memandang fotomu yang tersenyum padaku, hampa.

“Kau bisa ikutan mati di sana Nu.”

“Aku bisa mati kapan saja Ghe, di mana pun.”

“Tapi Nu…”

“Sudahlah Ghe, bukan sekali ini aku pergi. Aku akan kembali, semoga…”

Episode terakhir yang terrekam memoriku. Aku berhenti bertanya kau pergi ke mana, hal terpenting bagiku adalah kau pulang. Tapi ini adalah hari ke-368 sejak kau pergi, dan sekian hari pula aku merindumu, mengingat segala tentangmu yang selalu manis. Keteguhan hatimu, ke-keras kepala-anmu, kepedulianmu, cintamu yang terlalu besar untuk diberikan hanya buatku. Aku bangga padamu, tapi aku pun menginginkanmu di sini, memelukku mungkin?

Episode lain menghampiri imajiku.

“Kenapa kau ingin menjadi tim SAR, Nu?”

“Karena tidak banyak orang yang bersedia melakukannya Ghe.”

“Lantas?”

“Aku hanya ingin menjadikan diriku berguna.”

“Kau selalu bisa memilih cara lain.”

“Pilihanku menjadi tim SAR.”

“Ada yang bisa merubahnya?”

“Tak ada, seperti tak ada yang bisa merubah rasa cintaku padamu.”

Ah, semua tentangmu selalu manis Ranu. Mungkin itulah kenapa aku pun tak bisa berhenti mencintaimu. Tapi sekarang kau hilang, aku tak bisa mencarimu, kau pun tak pernah menghubungiku, apakah bumi telah menelanmu? Kembali aku menangis tanpa air mata mengingatmu.

“Non, ada tamu..” Bi Inah mengetuk pintu kamar pelan. Aku melihat diriku di cermin sebelum beranjak, tapi yang aku lihat adalah bayanganmu. Mungkinkah aku sudah gila?

“Ghea…” terpaku aku memandang siluetmu dalam senja yang jingga.

“Ranuuuuu…” pekikku bahagia. Ranu-ku pulang. Dan senja tak pernah seindah ini sebelumnya, karena ada kamu dalam pelukku.

***

*Note : 304 kata. Yeayyy….akhirnya bisa juga nulis yang happy ending!

Day#10 Senyum Untukmu yang Lucu

Rambut kriwilmu membuat wajah bulatmu bertambah lucu, membuat siapapun yang melihatmu ingin mencubit gemas pipi gembilmu, atau menciummu dengan sayang, atau sekedar tersenyum ceria padamu, seperti aku. Walaupun tentu saja kau tidak menyadari keberadaanku.

Tapi, hari demi hari, obat-obatan dan semua terapi itu membuat pipimu itu tidak gembil lagi, bahkan helai demi helai rambut kriwilmu itu berjatuhan. Hingga akhirnya kepalamu botak, tak berambut sama sekali. Buatku kau tetap gadis yang lucu tentu saja, tapi tidak begitu bagi mereka. Aku tahu orang-orang yang selalu mondar mandir ke kamarmu itu berduka, melihatmu yang sangat menderita tanpa bisa berbuat apapun. Padahal kau tetap saja tersenyum pada setiap orang yang menjumpaimu, meskipun kau tetap ceria menjalani hari-harimu, seakan tak ada rasa sakit dalam keseharianmu itu. Tapi saat kau sendiri, aku pernah melihatmu menangis, berharap semuanya segera berlalu.

Hingga pada suatu senja yang ceria, aku harus membuat keberadaanku kau ketahui, karena Tuhan mengabulkan yang kau minta. Kudekati kau perlahan, kuberikan senyuman terbaik yang aku punya. Inilah senyumku untukmu yang lucu. Apakah kau malaikat? Tanyamu takjub. Aku tersenyum menjawab tanyamu. Apakah kau akan membawaku ke surga? Tanyamu lagi ragu. Senyuman lain aku berikan padamu. Hingga kemudian kau pun tersenyum, dan kemudian aku pun tersenyum. Hei, aku tidak sakit lagi, katamu lucu. Aku tersenyum, kau memang lucu, kataku.

***

*Note : 211 kata

Met malam mingguan temans 😉

Day#9 Inilah Aku Tanpamu

Pagi ini kau pun tak datang, aku sungguh kecewa. Sebetulnya kemana kau selama ini? 3 hari sudah aku menantimu. Di sini, di tempat yang kita sepakati bersama. Apakah kau telah berpindah ke lain hati? Tapi apa salahku? Inilah aku tanpamu, bingung termenung di pagi yang murung walaupun tanpa mendung. Ah, sepertinya aku perlu secangkir kopi.

Sore yang ceria. Tapi ketidakhadiranmu membuatnya seolah hampa. Kau dimana? Kapan kau akan menemuiku? Bahkan hingga rembulan temaram tiba, tak juga kau datang. Inilah aku tanpamu, muram di malam yang buatku sedikit suram. Ah, sepertinya aku sudah harus pulang.

Pagi ini, kuberanikan diriku mendatangi rumahmu. Aku tahu kau tak akan kemana-kemana sepagi ini di hari minggu, bukan? Dan, disanalah dia berada, terparkir anggun di halaman rumahmu. Sebuah Jazz putih yang elegan. Aku lirik Supra X tahun jebot yang sedang kutunggangi, aku tatap lagi mobil imut di sana itu, ah…tak terbandingkan. Kini aku tahu kenapa kau tak pernah datang, sekarang aku pun mengerti kenapa kau tak lagi menemuiku. Itu semua karena si Jazz putih yang di sana itu, kan? Iya kan? Mobil imut itu seolah menertawakanku.

“Baaangg… ojek kan ya? Ke pasar goceng kan?” Ratapanku terhenti. Seorang ibu gemuk dengan keranjang kosong di tangannya menepuk pundakku. Inilah aku tanpamu, mencari pelanggan lain untuk menggantikanmu. Seorang ibu gemuk pun tak apa, dibayar goceng pun tak mengapa, walaupun segalanya tentu saja berbeda, karena kerinduanku memboncengmu tak akan pernah tergantikan.

***

* Note : 231 kata

Iya, saya tahu kok, semakin geje hahahaha. Tapi entah kenapa saya selalu ingin menuntaskan apa yang sudah saya mulai *tsaaah*, termasuk dalam tantangan #15HariNgeblogFF ini, jadi masih akan ada 6 hari postingan fiksi geje lagi ya temans, semoga dirimu tidak muntah membacanya hihihi.

Saya juga tahu, judul hari ini sangatlah romantis untuk menggalau #eaaa :p tapi lagi-lagi, entah kenapa imajinasi saya menolak mengarah ke sana, dan justru si abang ojek di kepala saya ini berhasil membuat jemari saya mengetik dengan cepat sesaat sebelum saya mematikan laptop kantor. Setidaknya…saya menikmati proses dan perjalanan ini 🙂

Well, have a great weekend, Pals 😉

Day#8 Aku Benci Kamu Hari Ini

Di hari ke-8 ini, ada yang sedikit berbeda, karena saya berkolaborasi *tsaaahhh…meni gaya :P* dengan Kak Niq. Jadi cerita berikut merupakan kelanjutan cerita Aku Benci Kamu Hari Ini versi kak Niq. Tapi tenang saja, kedua cerita masih bisa dinikmati sendiri-sendiri kok 🙂

***

Aku benci kamu hari ini, begitu katamu di parkiran tadi. Dan sepertinya kau akan membenciku selamanya untuk apa yang aku lakukan, Dik…

***

“Maaass…. Ini romantis bangeeeett” pipimu merona, aku masih bisa melihatnya jelas dalam keremangan di meja kecil kita. Candle light dinner. Kado terakhirku untukmu.

“Ini mas pesan khusus untuk merayakan ulang tahun Dik Ning, jadi ngambeknya udahan yaa…” bujukku tulus, kau tersenyum memandangku malu.

“Makasih ya mas. akuuuu…hoalaah, speechless aku mas.” Kami tergelak terbahak.

Aku mencintaimu Dik, bisik hatiku lirih. Aku ingin selalu melihatmu tertawa lepas seperti itu. Aku ingin kau bahagia. Tapi…

“Jadi mas-mu ini udah dimaafin kan ya?” godaku, yang kau jawab dengan mengangguk cepat. Lantas kau bercerita ini itu Dan aku pun berkisah tentang ini itu. Seolah detik berhenti berdetak. Seakan waktu mengkristal beku. Seandainya saja malam ini tak perlu berakhir Dik, pikirku kalut.

Tapi bumi terus berputar dan aku –siap ataupun tidak- ikut berputar dengannya. Kau pasti membenciku, aku tahu itu. Tapi aku juga tahu akan lebih menyakitkan bagiku melihatmu bersedih.

“Sekali lagi, makasih ya mas.” Ucapmu saat kita sudah berada di depan pintu rumahmu. Kau menatapku dengan cinta. Dan aku hanya membalas tatapan itu dengan mendekapmu erat, pelukan terakhir yang bisa aku berikan untukmu, Dik..

“Maafkan mas ya Dik,”

“Maaf kenapa mas?” tanyamu masih dalam dekapanku, membuatku lebih membeku.

“Baik-baik kamu ya, kalo mas ngga ada.”

“Emang mas mau ke mana?”

“Ada deeeeh.” Candaku. Kau merengut, melepaskan pelukanku, menatapku tajam. Ah, betapa aku akan merindukan mata bening itu. “Janji sama mas, kamu akan selalu berbahagia, walaupun apapun.” Kau menatapku tak mengerti.

“Janji macam apa itu mas?”

“Ga mau ya janji seperti itu? Please Dik?” Lantas kau pun mengangguk. Aku mendekapmu sekali lagi. Menyimpan momen ini untuk sewaktu-waktu bisa aku putar kembali dalam imajiku.

***

Aku benci kamu hari ini, kalimatmu itu masih bergema di hatiku. Aku tahu aku pengecut Dik, tapi biarkan mas-mu ini pergi dari kehidupanmu. Karena mas sakit, karena mas akan segera mati. Dan mas tak ingin kau bersedih karena itu. Biarlah kau membenci mas karena pergi tanpa pamit seperti ini, tapi kau akan mengingat malam ini kan? Tapi kau akan menepati janjimu untuk berbahagia,kan?

Kutatap sekali lagi rumah itu sebelum tancap gas. Berbahagialah Dik, pagi tetap akan menjelang, hidup akan tetap terus berjalan, dengan atau tanpa aku di dalamnya.

***

*Note : 380 kata