Who still wants this bill?

Cassan Said Amer tells a story about a lecturer who began a seminar holding up a one dollar bill, and asking:

– Who wants this dollar bill?

Several hands went up, but the lecturer said:

– Before handing it over, there’s something I must do.

He furiously crushed it, and asked again:

– Who still wants this bill?

The hands continued raised.

– And what if I do this?

He threw it against the wall, letting it fall to the floor, kicked it, stamped in it and again held up the bill – all dirty and crumpled. He repeated the question, and the hands continued to be held high.

– You mustn’t ever forget this scene – said the lecturer. – No matter what I do with this money, it’ll still be a one dollar bill.

“Many times in our lives, we are crushed, stamped on, kicked, maltreated, offended; however, in spite of this, we are still worth the same.”

***

Another nice story at http://paulocoelhoblog.com 🙂

Yang paling saya suka adalah statement terakhir, “many times in our lives, we are crushed, stamped on, kicked, maltreated, offended; however, in spite of this, we are still worth the same”, indah ya. Mengingatkan kita -Anda dan saya- untuk selalu bersyukur menjadi ‘diri’ kita yang berharga, walaupun apapun.

Semangaaaattt… 🙂

Advertisement

2010 : Closing Cycle

Maafkan saya. Kembali, saya ingin menampilkan tulisan lain dari Paulo Coelho di blognya http://www.paulocoelhoblog.com

Seminggu lebih tidak berkunjung ke blog-nya, banyak tulisan-tulisan beliau yang ‘terlewat’ saya baca. Salah dua-nya yang paling berkesan sudah dan akan saya tampilkan disini. “Stop being you were, and change into who you are”-nya cocok sekali dengan ‘kegiatan’ introspeksi diri saya, untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Untuk mengikhlaskan yang telah terjadi, untuk merelakan yang pergi tak termiliki, untuk menerima semua yang sudah berlalu.

Semoga terinspirasi 🙂

***

One always has to know when a stage comes to an end. If we insist on staying longer than the necessary time, we lose the happiness and the meaning of the other stages we have to go through. Closing cycles, shutting doors, ending chapters ‐ whatever name we give it, what matters is to leave in the past the moments of life that have finished.
Did you lose your job? Has a loving relationship come to an end? Did you leave your parents’ house? Gone to live abroad? Has a long-lasting friendship ended all of a sudden? You can spend a long time wondering why this has happened.

You can tell yourself you won’t take another step until you find out why certain things that were so important and so solid in your life have turned into dust, just like that. But such an attitude will be awfully stressing for everyone involved: your parents, your husband or wife, your friends, your children, your sister.
Everyone is finishing chapters, turning over new leaves, getting on with life, and they will all feel bad seeing you at a standstill.

Things pass, and the best we can do is to let them really go away.

That is why it is so important (however painful it may be!) to destroy souvenirs, move, give lots of things away to orphanages, sell or donate the books you have at home.

Everything in this visible world is a manifestation of the invisible world, of what is going on in our hearts ‐ and getting rid of certain memories also means making some room for other memories to take their place.
Let things go. Release them. Detach yourself from them.

Nobody plays this life with marked cards, so sometimes we win and sometimes we lose. Do not expect anything in return, do not expect your efforts to be appreciated, your genius to be discovered, your love to be understood.

Stop turning on your emotional television to watch the same program over and over again, the one that shows how much you suffered from a certain loss: that is only poisoning you, nothing else.
Nothing is more dangerous than not accepting love relationships that are broken off, work that is promised but there is no starting date, decisions that are always put off waiting for the “ideal moment.”

Before a new chapter is begun, the old one has to be finished: tell yourself that what has passed will never come back.
Remember that there was a time when you could live without that thing or that person ‐ nothing is irreplaceable, a habit is not a need.
This may sound so obvious, it may even be difficult, but it is very important.

Closing cycles. Not because of pride, incapacity or arrogance, but simply because that no longer fits your life.

Shut the door, change the record, clean the house, shake off the dust.

Stop being who you were, and change into who you are.

HAPPY NEW YEAR!!!

 

Bintang

“We are all of us stars, and we deserve to twinkle.”

Marilyn Monroe

***
Saat membaca quote ini, saya jadi teringat zaman SD dulu, ada sebuah periode dimana kami sangat sangat suka bermain sepeda. Sepulang sekolah, atau sore-sore sebelum maghrib datang, atau menyengajakan diri bersepeda ria di akhir pekan. Saat itu, ada reorang teman yang tidak suka jika saya ikut rombongan. Dan saat saya tetap memaksa ikut, beliau selalu bersepeda mendahului saya, atau jauh di belakang saya, pokonya tidak mau dekat-dekat saya. Padahal, hubungan kami -di luar masalah persepedaan ini- cukup baik, sehingga saya tidak mengerti kenapa beliau bersikap demikian jika menyangkut hobby kami bersepeda.

Hingga suatu hari, saya pun bisa mengerti kenapa beliau tidak suka bersepeda bersama saya. Saat itu rombongan kami melewati segerombolan anak lelaki sepantaran kami yang sedang ‘nongkrong-nongkrong’. Seperti abege-abege pada umumnya, ramai lah para lelaki muda itu menggoda rombongan kami -yang memang perempuan semua- itu. Dan entah bagaimana prosesi goda-menggoda itu kemudian mengerucut hanya pada saya, mereka berteriak iseng “yang baju merah namanya siapa sih?” bla…bla…bla… dan sebagainya dan seterusnya, dengan saya sebagai ‘objek’nya. Lantas teman saya ini pun berkomentar spontan “tuh kan, kalo ada si Rinrin cuma dia aja tuh yang digodain”.

ha ha ha ha…. lucu sekali mengenangnya 😛

Saya tidak tahu kenapa dan bagaimana teman SD saya itu bisa merasa iri atau jealous -kalau boleh saya menganggapnya demikian- terhadap saya, karena rasanya saya tidak pernah merasa demikian terhadap orang lain. Saya tidak pernah merasa ‘paling’ cantik, ‘paling’ pintar, ‘paling baik’ dan ‘paling-paling’ lainnya diantara teman-teman atau lingkungan saya. Tapi terkadang ‘label’ itu entah kenapa seringkali menempel pada saya. Bahwa saya-lah “bintang”nya, saya lah yang “paling”, saya lah yang “bersinar”.  Alhamdulillah, saya selalu mensyukurinya -terlepas benar atau tidaknya label itu-, dan selalu berusaha untuk tidak menjadikan diri ini sombong bin takabur bin tinggi hati karenanya.

Tapi yang ingin saya garis bawahi adalah -merujuk pada statement Marylin Monroe diatas- bukankah setiap diri kita adalah bintang? yang sangat berhak untuk selalu bersinar? Jadi tidak perlu merasa ‘silau’ dengan sinar tetangga kita kan? Karena kita semua adalah bintang 🙂

The Pencil

source : “Like the flowing river” by Paulo Coelho, @ http://paulocoelhoblog.com

A boy was watching his grandmother write a letter. At one point he asked:
‘Are you writing a story about what we’ve done? Is it a story about me?’

His grandmother stopped writing her letter and said to her grandson:
I am writing about you, actually, but more important than the words is the pencil I’m using. I hope you will be like this pencil when you grow up.’

Intrigued, the boy looked at the pencil. It didn’t seem very special.
‘But it’s just like any other pencil I’ve ever seen!’

‘That depends on how you look at things. It has five qualities which, if you manage to hang on them, will make you a person who is always at peace with the world.’

‘First quality: you are capable of great things, but you must never forget that there is a hand guiding your steps. We call that hand God, and He always guides us according to His will.’

‘Second quality: now and then, I have to stop writing and use a sharpener. That makes the pencil suffer a little, but afterward, he’s much sharper. So you, too, must learn to bear certain pains and sorrows, because they will make you a better person.

‘Third quality: the pencil always allows us to use an eraser to rub out any mistakes. This means that correcting something we did is not necessarily a bad thing; it helps to keep us on the road to justice.’

‘Fourth quality: what really matters in a pencil is not its wooden exterior, but the graphite inside. So always pay attention to what is happening inside you.’

‘Finally, the pencil’s fifth quality: it always leaves a mark. in just the same way, you should know that everything you do in life will leave a mark, so try to be conscious of that in your every action’.

***

‘Cerita’ ini saya baca entah kapan, dan sejak itu pula lah paradigma saya terhadap sebuah pensil berubah, hingga detik ini. Betapa benda sekecil itu memiliki ‘kualitas’ tinggi untuk dipelajari maknanya. Betapa terkadang keberadaan sebuah pensil -yang tidak bernyawa- lebih jelas fungsi dan kegunaannya. Betapa saya ingin menjadi sebuah ‘pensil’ seperti itu.

Yang memiliki kesadaran penuh bahwa selalu ada Beliau Yang Maha Menggerakkan, yang akan menahan saya saat hampir terjatuh, mendorong saya untuk tetap melanjutkan, atau menuntun saya ke arah pintu kebaikan.

Yang mengikhlaskan diri saat harus ‘menderita’, karena tanpanya dia akan tumpul dan tidak diperlukan lagi keberadaannya.

Yang dengan segala kerendahan hati mengakui kesalahan, dan menerima segala kritik-nasehat-petunjuk untuk melanjutkan perjalanan hidup dengan lebih baik.

Yang membuat dirinya cemerlang dari dalam, bukan karena topeng yang dipakainya, atau pakaian indah yang dikenakannya, atau apapun yang membungkus dirinya.

Yang selalu bersikap, berperilaku dan berpikir baik.

***

Semoga renungan pensil ini bermanfaat ya 🙂

“What other people think of you is none of your business”

Begitulah salah satu twit dari Paulo Coelho -satu dari sekian penulis favorit saya- hari ini.

Twit ini mengingatkan saya saat kami -saya dan suami tersayang- melakukan perjalan ke Bandung akhir pekan lalu. Dalam sebuah angkot jurusan entah apa -kami sering nyasar dan salah naik angkot hehehe- yang kosong, seperti biasa ada 2 orang pengamen yang mendatangi angkot kami. Penumpang angkot hanyalah kami berdua di bagian belakang, dan seorang mbak lain di depan sebelah pak Supir.

Saya bahkan lupa para pengamen itu menyanyikan lagu apa, yang jelas saya memberikan uang seribu rupiah, yang diterima dengan sumringah oleh mereka. Dan, sesaat sebelum angkot kami melaju karena lampu lalu lintas telah berganti hijau, salah satu dari mereka berkata begini :

“Hatur nuhun Teteh, semoga pacarannya langgeng.”

Omaigat, hanya karena kami saling berpegangan tangan (ya iyalaaah, masa pegangan hidung! hihhihihi), kami ‘dicurigai’ sedang berpacaran?? ckckckck…

Continue reading

The Universe Conspiration

Saling bercerita dengan suami tercinta sebelum kami tertidur, bagi saya adalah sebuah ritual baru yang menyenangkan. Temanya beragam, mulai dari ‘laporan’ kami masing-masing atas yang terjadi hari itu, kisah-kisah zaman baheula yang lucu-sedih-mengesalkan-dsb, berandai bermimpi berharap tentang masa depan, bahkan hal remeh temeh sepele bin tidak penting. Aktivitas ini menggenapi setiap hari-hari saya bersamanya (sedikit lebay boleh ya he he).

Semalam, beliau bercerita tentang keinginannya untuk segera resign di kantor yang tidak membesarkannya itu, keinginan lama yang selalu diperbarui, keinginan yang ingin segera bertransformasi menjadi tak hanya berupa keinginan belaka. Dan saya tiba-tiba saja teringat Santiago-nya Paulo Coelho dalam The Alchemist.

“When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.”

Such a nice line, rite?

Begitu sang Raja menasehati anak itu, saat dia meragu untuk menjual kambing-kambingnya, dan memulai perjalanan yang tidak diakrabinya. Yang akhirnya mampu meyakinkan si anak untuk bermantap hati melakukan apa yang ingin dilakukannya.

Semoga, kalimat yang sama akan berdampak sama terhadapnya. Seluruh alam akan berkonspirasi mewujudkan ingin dan harapnya, karena Beliau Sang Maha Segala mengasihinya.

Amin ya robbal’alamiiinn..

Good luck my Dear *kiss…kiss…

試す人になれ

Pagi ini, seusai meeting rutin mingguan, kami menonton sebuah video peringatan 50 tahun Honda R&D berdiri. Sebuah kisah kenapa kantor R&D didirikan, beragam komentar dari para engineer mengenai pekerjaan mereka selama ini, kesan dan keinginan masyarakat luas terhadap Honda, dan sebagainya dan seterusnya.

Tapi yang begitu ‘nyantol’ dalam ingatan saya selama video berdurasi kurang lebih 15 menit itu, adalah kalimat berikut :

“試す人になれ” => be someone who tries

Continue reading