Tentang Perceraian

Saya kepikiran membuat postingan ini saat menulis FF Lelaki Sempurna hari Rabu lalu itu. Setelah maju mundur antara ditulis atau tidak, akhirnya ya sudahlah ya, daripada kepikiran terus hehehe. Bukannya apa-apa, saya khawatir postingan ini mengundang pro dan kontra dan sebagainya dan seterusnya bla bla bla. Maka harus saya tekankan di awal, ini hanyalah pemikiran sederhana saya saja ya, temans. Jangan terlalu dianggap serius ya, seriously!

Hingga lulus kuliah, saya masih tidak bisa percaya ada orang yang menikah dan kemudian bercerai. Serius lho. Mungkin karena di keluarga besar hampir tidak ada kasus ini ya, jadi saya merasa sangat asing dengan konsep ini. Sampai-sampai berpikir “Lah? Ngapain dulu memutuskan menikah kalau akhirnya bercerai?”. Iya, saya senaif itu.

Pemikiran itu berubah setelah satu sahabat saya saat kuliah bercerai.

Continue reading

Advertisement

Sekali Lagi Tentang Tempe

Saya sedang membaca ulang trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Novel ini sudah saya baca saat kuliah dulu, berarti sekitar 15 tahun yang lalu. Dan dari sekian banyak kesan yang tertanam kuat di benak dari cerita dalam novel, fenomena keracunan tempe bongkrek adalah salah satunya.

Dalam novel, Santayib -Bapak dari Srintil sang Ronggeng- adalah pembuat dan penjual tempe bongkrek di Dukuh Paruk. Hingga suatu saat, tempe bongkrek yang dibuatnya mengandung racun, dan membunuh sembilan orang dewasa (termasuk kedua orang tua Rasus, sang tokoh utama pria dalam novel) dan sebelas anak-anak. Kesalahan tentu saja seharusnya ditujukan pada bakteria jenis pseudomonas coccovenenans yang ikut tumbuh dalam proses peragian, meskipun warga Dukuh Paruh lebih percaya bahwa moyang mereka Ki Secamenggala sedang meminta tumbal dari anak cucunya.

Cerita dalam sebuah novel tidak selalu seluruhnya bersifat fiktif, pada kisaran tahun 1940an (setting waktu dalam novel saat warga Dukuh Paruk keracunan), tempe yang terbuat dari bungkil kacang kedelai dan ampas kelapa itu memang lazim dikonsumsi di daerah Jawa Tengah. Dan keracunan pada 34 orang warga kecamatan Lumbir, Banyumas benar-benar terjadi pada tahun 1988. Sehingga Pemerintah melarang masyarakat untuk memproduksi, mengonsumsi dan menjual tempe berjenis bongkrek ini.

Prolog yang sangat panjang :).

sumber gambar : wikimedia

Tapi tempe (secara keseluruhan) memang sangat fenomenal. Dalam sebuah diskusi bersama Mas Arie Parikesit sang ahli kuliner, tempe sudah dikonsumsi sejak zaman Majapahit! Jika tempe masih bertahan dan tetap dikonsumsi hingga sekarang, maka ada sesuatu yang ‘ajaib’ di dalam sekotak tempe ini.

Mari kita telusuri kandungan gizi dan manfaatnya.

Terbuat dari kacang kedelai yang difermentasikan dengan jamur Rhizopus oligosporus, maka tempe memiliki hampir seluruh gizi dari kedelai. Misalnya kandungan protein nabati yang tinggi (20,8 gr), serat (1,4 gr), kalsium (155 mg), vitamin B1 (0,19 gr), lemak (8,8 gr), fosfor (326 mg), karoten (34 mikrogram) dan zat besi (4 gr) di setiap 100 gramnya.

Manfaatnya? Banyaaak. Sebagai sumber protein sudah jelaslah ya, ada 18 jenis protein dan asam amino yang mudah diserap tubuh. Menurunkan risiko serangan jantung, karena bisa menetralkan efek negatif kolesterol jahat dengan kandungan lemak tak jenuh majemuk (PUFA), niasin, Omega 3 dan 6. Menangkal radikal bebas karena mengandung antioksidan kuat. Bahkan bersifat Hipokolesterolemik yaitu menurunkan lipid atau lemak dalam darah.

Tidak heran tempe seringkali menjadi menu andalan saat diet. Bahkan kabarnya Miley Cyrus juga mengonsumsi tempe sebagai salah satu menu dietnya lho. Atau program Food Combining yang kekinian, menjadi lebih mudah dijalankan bagi si penyuka tempe karena makanan ini tidak perlu dihindari. Bahkan dalam diet mayo yang happening saat ini, tempe pun menjadi salah satu jenis makanan yang boleh tetap dikonsumsi.

Makanan rakyat ini pun sangat mudah diolah. Digoreng seperti tempe mendoan, dibuat keripik, dibacem, ditumis biasa bersama sayur mayur, bahkan bisa dijadikan ‘daging’ burger bagi vegan. Bahkan di sebuah tayangan berita sore tadi, di Malang seorang pengusaha rumahan memproduksi coklat tempe! Menjadikan tempe yang sudah dipotong kecil2 dan digoreng (atau disangrai? lupa :D) sebagai pengganti kacang (mete, tanah, macadamia, dll) di dalam coklat. Penjualannya sudah sampai ke Singapura segala lho. Tidak mustahil, di masa depan akan tumbuh banyak inovasi kuliner berbahan dasar tempe.

Meskipun, nutrisi dari tempe lebih optimal jika tempe diolah dengan cara direbus-dikukus-ditumis, karena poses menggoreng memang terkadang bisa menghilangkan berbagai nutrisi baik pada bahan makanan.

Mendunia? Kurang mendunia gimana lagi sih kalau sudah penyanyi sekaliber Miley Cyrus menjadikan tempe sebagai menu diet? hehehehe. Tapi saya ingat pada Sofue san, salah satu expatriate di kantor saya dulu, yang selalu menyukai tempe hingga tidak keberatan membeli makan siang di warteg seperti kami para anak buah. Bahkan saat beliau kembali ke Jepang, dia bisa saja tiba-tiba menelepon dan bilang kangen makan gorengan tempe di abang-abang gerobak hahahaha.

Dan jika dikaitkan dengan novel Ronggeng Dukuh Paruk yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, bahasa Jerman, bahasa Belanda dan bahasa Inggris, bahkan menjadi bahan untuk lebih dari 50 skripsi dan Thesis di universitas-universitas di Swedia, bukankah menjadikan sang tempe sudah sangat mendunia dengan sendirinya?

Meskipun ada yang sedikit mengganjal di hati saya perihal sebuah frase ‘mental tempe’ yang definisinya sedikit negatif, bahwa manusia yang ditempeli predikat demikian seolah lemah dan tidak memiliki daya juang yang tinggi. Padahal, filosofi tempe sangatlah kuat. Dia hidup sejak zaman baheula hingga sekarang, bisa beradaptasi dengan baik (karena bisa diolah menjadi hampir semua jenis masakan), dan memiliki manfaat yang sangat banyak. Seharusnya mental tempe mewakili mereka yang tahan banting, kreatif, dan berguna bagi kebaikan umat ya kan, ya kan? *maksa* hihihihi.

Mari kita sudahi saja postingan yang sudah terlampau panjang ini, dengan sebuat pernyataan sederhana bahwa saya bahagia terlahir di Indonesia di mana tempe bertumbuh dan mengada *tsaaah*.

***

Tulian ini diikutsertakan dalam lomba blog Jelazah Gizi 3

Sumber data:

https://id.wikipedia.org

farrago.co.id

Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari

asliindonesia.net

Nasi Tutug Oncom

Kenapa saya tiba-tiba saja membahas nasi tutug oncom, karena teman blogger yang berada di LA sana rupanya belum pernah mendengar makanan ini *sedih* hehehehe. Padahal, saat saya hadir dalam sebuah event dan Nasi Tutug Oncom merupakan salah satu menu, beberapa mister bule sampai nambah dua kali karena menurutnya nasi ini enak. Nah kan!

Padahal, kuliner khas sunda itu tidak melulu soal karedok, lotek, nasi timbel, es cendol, atau surabi saja lho. Cobalah Nasi Tutug Oncom, dan bersiaplah untuk ketagihan!

Barangkali ada yang belum tahu, tutug itu artinya tumbuk dalam bahasa Sunda. Jadi secara harfiah nasi tutug oncom memang adalah nasi beserta oncom yang sudah ditumbuk.

Awalnya, nasi tutug oncom ini banyak dikonsumsi rakyat jelata. Harga oncom yang terbilang lebih murah dibandingkan tempe atau tahu, menjadi pilihan menu bagi teman nasi putih. Apalagi kuliner ini bisa dimakan tanpa tambahan lauk apa pun, karena si oncom sudah dibumbui sebelum dicampurkan dengan nasi jadi bisa langsung dimakan begitu saja.

Nasi Tutug Oncom

sumber foto : dokumen pribadi

Meskipun tentu saja, beberapa tahun terakhir nasi tutug oncom sudah ‘naik kelas’, karena bisa dijumpai di restoran-restoran mahal (meskipun bukan restoran khusus makanan Sunda), bahkan menjadi salah satu jenis nasi khas Indonesia yang pasti ada di festival-festival kuliner nusantara. Dengan tambahan lauk tahu-tempe goreng, kering kentang, ayam kremes, peyek kacang dan sambal+lalapan, sepiring nasi tutug oncom buat saya bisa membawa pada imaji makan di saung di tengah-tengah sawah :).

Pada dasarnya ada dua jenis oncom, yaitu oncom merah dan oncom hitam. Keduanya dibedakan dari bahan yang dipakai dan jenis kapang. Pengertian kapang sendiri adalah mikroorganisme yang termasuk dalam kingdom fungi (jamur) yang membentuk hifa. Kapang biasa digunakan dalam makanan fermentasi seperti tempe, tahu, dan oncom.

Oncom merah biasanya terbuat dari bungkil tahu, yaitu ampas dari pembuatan tahu. Dalam proses pembuatan oncom merah dihasilkan oleh kapang neuro sporasitophila yang memiliki strain warna jingga, merah, merah muda, dan peach. Oncom merah biasanya lezat dijadikan sambal oncom, ditumis dengan leunca atau genjer juga enak, dipepes atau menjadi isian combro pun tidak kalah nikmat.

Sementara Oncom Hitam diambil dari bungkil kacang tanah yang dengan campuran ampas singkong atau tepung tapioka. Dalam proses pembuatannya, oncom hitam dihasilkan oleh kapang rhizopus oligosporus. Oncom jenis ini teksturnya lebih keras. Biasanya oncom hitam ini dijadikan taburan di atas serabi, digoreng kering dengan tepung, dipepes, dan dijadikan nasi tutug oncom.

Meskipun makanan ‘rakyat’, ternyata kandungan gizi dari sebongkah oncom cukuplah banyak, antara lain sebagai berikut:

  • Air = 87,46%
  • Energi = 187 kkal
  • Protein = 13 gr
  • Lemak = 6 gr
  • Karbohidrat = 22,6 gr
  • Kalsium = 96 mg
  • Fosfor = 115 mg
  • Zat Besi = 27 mg
  • Vitamin A = 0 IU
  • Vitamin B1 = 0,09 mg

Bahkan manfaatnya pun cukup mencengangkan, misalnya saja bisa mencegah perut kembung, proses fermentasi oleh kapang Neurospora sitophila dan Rhizopus oligosporus telah terbukti dalam mencegah terjadinya flatulensi (kembung perut). Bisa juga menjaga sistem pencernaan hingga mengurangi kolesterol, hal ini karena oncom kaya akan kandungan protein. Kandungan seratnya dapat merangsang produksi rantai pendek asam lemak oleh mikroflora usus, yang sangat berpengaruh pada pengurangan kolesterol yang disebabkan oleh efek kolaboratif pepsin, protein, isoflavon aglikon.

Pembuatan Nasi Tutug Oncom sangatlah sederhana. Oncom (sebaiknya oncom hitam) dibakar sebentar, lantas ditumbuk dengan berbagai bumbu seperti kencur, bawang merah-putih, garam, dan cabe rawit (jika ingin pedas) yang telah ditumis. Selanjutnya tinggal dicampurkan dengan nasi putih pulen. Bisa dibakar kembali setelah dibungkus daun pisang, atau langsung dimakan pun (tanpa dibakar lagi) tetaplah nikmat. Apalagi jika dimakan dengan menggunakan tangan, duduk lesehan sambil ngobrol ngalor ngidul bersama orang-orang tercinta, pasti tambah nikmat hehehe.

Ditambah segala manfaat yang diperoleh dari nasi dan lauk pelengkap, kuliner khas ini menjadi kombo gizi yang baik bagi tubuh. Nasi Tutug Oncom mungkin belum sepopuler Nasi Goreng yang bahkan dikangeni Presiden Obama, tapi mudah-mudahan saja Nasi Tutug Oncom ini suatu saat bisa mendunia, karena percayalah, nasi yang satu ini raos pisan, sodara-sodara! 🙂

***

Tulian ini diikutsertakan dalam lomba blog Jelazah Gizi 3

 

Sumber data:

manfaat.co.id

wikipedia.org

aguskrinoblog.wordpress.com

Alhamdulillah..

Ternyata mini giveaway saya banyak juga yang ikutan ya, terharu lho sayaaa. Terima kasih banyak ya *elap air mata* *lebay*. Bukannya apa-apa, dengan maraknya lomba blog berhadiah gadget atau pun giveaway dengan reward uang tunai sekian jeti, sebuah buku pastinya bagaikan serpihan debu di sepatu lusuh yang sulit terlihat keberadaannya. Baiklah, analoginya terlampau berlebihan memang hihihihi.

Eniwey, karena komentarnya lumayan banyak, rencana yang sebelumnya kedua pemenang akan saya umumkan malam ini juga, gagal total. Saya masih ingin membaca ulang setiap kisah yang ada, seraya mencoba meresapi makna masing-masing beautiful mistake itu, terima kasih ya sudah berkenan membagi kisah ;).

Jadi pengumumannya kapan? Kapan-kapan! hahahaha *ditimpuk berjamaah*. Insyaalloh besok ya, temans. Sudah ada kandidatnya kok, tapi ya itu tadi, lebih dari dua komentar, jadilah eike galau memilih yang mana hihihihi. Kendala lainnya adalah, saya baru selesai membalas setiap ucapan selamat ulang tahun di fesbuk, banyak ajaaaa *lap keringet*. Etapi Alhamdulillah banget, saya beruntung sekali dikelilingi manusia-manusia baik yang mendoakan kebaikan bagi saya seperti itu. Memang benar ya, nikmat Tuhan yang mana lagi sih yang bisa saya dustakan? *self toyor*.

Ya sudah begitu dulu curcol malam ini, temans. Sekali lagi, terima kasih banyak ya 🙂

 

Donor Darah

Meskipun usia saya sudah cukup banyak, tetap saja masih banyak hal yang belum pernah saya lakukan. Salah satunya adalah menjadi pendonor darah.

Bukan, bukan karena saya takut jarum atau ngeri melihat darah (ya, iya juga sih, tapi masih bisa ditahan lah :P), tapi banyak sekali alasan kenapa saya ditolak berkali-kali saat ingin melakukan aktivitas tersebut.

Kesempatan pertama waktu masih SMU dulu, ditolak karena saya belum berusia 17 tahun hihihi. Kesempatan berikutnya waktu kuliah, dan ternyata tekanan darah saya terlalu rendah untuk bisa menjadi pendonor darah. Padahal saya punya teman baik anak SAR, ngiri banget sama dia secara saya kepengen jadi anak SAR tapi ga mampu, boro-boro nyari yang hilang di hutan, di kota gede aja saya tersesat *blah*. Jadi cuma bisa sering main ke basecamp mereka, dan berpikir setidaknya saya bisalah ya sekadar donor darah doang mah. Tapi ya gitu, saya selalu ditolak. Pedih.

Dan pada begitu banyak kesempatan berikutnya, alasan si tensi rendah ini entah kenapa selalu membuat saya belum juga bisa mewujudkan keinginan menjadi pendonor.

Padahal, banyak lho manfaat donor darah ini, misalnya :

  • Menurunkan berat badan
  • Melindungi jantung
  • Meningkatkan sel darah merah
  • Mencegah stroke
  • Meningkatkan kesehatan psikologis
  • Memperbarui sel darah baru
  • Mencegah resiko terkena penyakit langka
  • Menurunkan resiko kanker
  • Meningkatkan produksi darah
  • Pikiran menjadi lebih stabil
  • Menurunkan kolesterol

Bahkan bagi perempuan, menjadi pendonor darah memiliki manfaat lain, yaitu mencegah stres yang seringkali menjadi pemicu penuaan dini, menjaga berat badan ideal dan menjaga kulit tetap kencang lho. Jadi tambah mupeng dong ya.

Etapi tentu saja niat awalnya adalah harus untuk menolong sesama ya manteman, konon, satu kali mendonorkan darah bisa menolong 3 nyawa kan? Kalau kita sehat dan masuk pada kategori bisa menjadi pendonor, kenapa tidak? Iya kan, iya kan? *nyari temen* hihihihi.

Alhamdulillah, akhirnya kemarin, tanggal 10 September 2015, saya bisa juga mendonorkan darah! *tebar confetti, tumpengan*. Meskipun agak-agak drama juga sih. Dan untuk pengingat saya pribadi, saya akan menuliskannya di sini, nggak apa-apa ya? 🙂

Begini ceritanya.

Hari itu saya harus memperpanjang STNK Si Kupi. Samsat dan PMI cabang Bekasi itu tidak seberapa jauh, jadi meskipun tidak direncanakan sebelumnya, saya langsung ke PMI setelah urusan di Samsat selesai. Sejujurnya saya memang skeptis duluan, paling juga ditolak lagi karena tensinya rendah, begitu saya pikir.

Ndilalah ternyata tensi darah saya memungkinkan untuk mendonor saat itu juga. Ih seneng banget deh saya, pokoknya langsung oke mendonor saat itu juga. Setelah dicek ini itu dan sebagainya dan sebagainya, singkat cerita saya sudah berbaring di kursi lengkung khusus itu. Jarumnya yang (ternyata) gede banget itu tidak membuat nyali saya ciut, dan karena Mbaknya sudah ahli, tidak seberapa lama prosesi pemindahan darah dari tubuh saya ke kantung darah sudah berlangsung, tidak ada drama sulit mencari nadi dan salah tusuk semacamnya.

Mbak petugas mengatakan paling sekitar lima-sepuluh menit juga selesai. Saya yang masih dalam euforia senang akhirnya bisa mendonor merasa sangat santai. Anteng saja tuh mainan IG/Twitter, wasap-an haha hihi dengan teman-teman, dan ngerumpi sama Mbak-mbak petugas yang sedang  nonton sinetron-entah-apa-yang-dari-Turki-itu, sembari meremas-remas bola karet karena tangan (kiri) saya sedikit terasa kesemutan saat pemindahan darah berlangsung.

Tapi kemudian dalam sekejap semuanya berubah *beuh, lebay bener, Rin! ha ha*. Saya mulai pusing. Keringat dingin mulai mengucur. Mual serasa ingin (maaf) muntah dan pup. Pandangan saya berubah menjadi tidak fokus, ngeblur sodara-sodara. Saya tanya pada si Mbak, kurang berapa lagi darahnya? Dan saya katakan kalau saya merasa sangat pusing. Tinggal 40cc lagi, sedikit lagi Mbak, tahan ya sebentar lagi, katanya begitu.

Lantas saya pun mencoba mengalihkan pikiran, memerhatikan sekeliling, memandang jam dinding-AC-buku-buku di meja-dan sebagainya dan seterusnya. Tapi sepertinya ada saat dimana saya memang ‘hilang’ alias pingsan, karena ketika saya menoleh ke arah Mbak petugas, jarum di tangan saya sudah dilepas, si Mbak menatap saya dengan senyuman sambil berkata “Sudah selesai mbak, kaget juga tadi mbak kelojotan.”

Waitaminute, kelojotan?!?!

Terlepas dari pemilihan kata Mbak petugas yang mengingatkan saya pada detik-detik seekor ayam meregang nyawa pasca disembelih, saya merasa malu hati. Eyampun rupanya saya memang sempat pingsan, temans hahahaha. Dih, badan aja gede, donor darah 350cc aja cemen *nyengir*.

Menurut Mbak petugas, hal semacam demikian wajar saja dialami seorang pendonor yang baru pertama kali mendonorkan darah. Sarapan saya pagi itu mungkin sudah habis karena urusan di Samsat, ditambah saat itu saya bermotor ria di bawah terik matahari pukul 1an Bekasi yang cihui banget kan panasnya. Jadi ya begitulah :P.

Eniwey, setelah menghabiskan segelas teh manis hangat dan menciumi kapas berlumur alkohol, saya berniat pulang, lapar bok. Tapi begitu sampai di parkiran, si rasa pusing itu datang lagi, kan nggak lucu kalau saya pingsan di jalanan ya. Jadi saya buru-buru masuk lagi dengan kunci motor masih tergantung di motor. Minum susu kok ya malah mual, jadi cuma minum air putih banyak-banyak, keluar lagi mengambil kunc tiduran sekitar setengah jam baru pulang.

Perjalanan pulang kurang lebih setengah jam cukup lancar.  Setelah makan (saya malah kepengen bakso malang hahahaha), malah sempat mampir belanja dulu ke minimarket, dan baik-baik saja sih Alhamdulillah.

Duh, panjang juga ternyata ya. Baiklah mari kita sudahi saja. Intinya sih saya senang sekali akhirnya bisa mendonorkan darah, dan tidak kapok, dan berencana melakukannya secara rutin. Semoga tensinya normal dan nggak pake acara pingsan lagi, yes?

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Yeay, akhirnya punya kartu ini 😀

Ada yang punya cerita menjadi pendonor darah nggak nih?

Mencuri (?)

Baiklah, mumpung hari Senin saya mau nyinyir *lho?* hihihihi.

Jadi seperti biasa, saya dan AM belanja bulanan di toko besar temennya Nobita itu malam minggu kemarin. Penuh mah sudah pasti ya, nama pun baru gajian, tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan.

Akang suami ini suka sekali buah lengkeng. Bisalah dia makan sekilo sendirian dalam satu waktu sambil nonton TV hihihi. Di pasar harganya masih 25 ribu sekilo. Pas belanja kemarin itu cuma 20 ribu sekian-sekian begitulah harganya, langsung beli dong ya tanpa berpikir lagi, lumayan Bu selisihnya buat beli cabe #eeaaa :P.

Sudah diduga si lengkeng ini laris manis, bersama saya, berdiri 6-8 orang yang ikut memilih dan memasukkan lengkeng dari batangnya ke dalam plastik sebelum ditimbang. Proses pemilihan ini agak merepotkan juga ternyata, karena di dalam kotak banyak juga kulit + biji lengkeng di sana!

Sudah bisa menebak belum kenyinyiran apa yang ingin saya bahas? 😀

Rupanya, para calon pembeli lengkeng ini memilih sambil ‘mencicipi’nya dengan santai, nggak cuma 1-2 bijik, tapi banyaaaak. Bahkan saya lihat ada seorang ibu yang dengan sengaja memanggil suami dan anak-anaknya untuk juga ikut mencicipi. Dan berhubung saya sedang nyinyir, saya perhatikan hampir semuanya melakukan hal yang sama lho (baca : memakan lengkeng).

Padahal, di plang di atasnya, persis bersebelahan dengan papan penunjuk harga, tertera kalimat yang isinya kurang lebih “terima kasih untuk tidak mencicipi”. Tapi ya gimana, kalimat itu bukan larangan sih ya, cuma nggak dikasih terima kasih doang mah nggak apa-apa kali ya, jadi cicipi saja toh sepuasnya?

Pencurian buah lengkeng rasanya terlampau berlebihan ya, kan ‘cuma’ mencicipi, masa nggak boleh? Tapi masalahnya adalah, yang jual ridlo nggak tuh? Logikanya, kalau si penjual ridlo (sudah dimasukkan ke dalam post ‘kerugian’ di neraca keuangan oleh pihak toko, misalnya), mereka tidak akan memasang plang ‘himbauan’ semacam itu kan?

Berbeda kalau belanja di pasar, atau sama si abang-abang tukang buah di pinggir jalan, kita kan bisa minta izin dulu ya buat nyicip, dan keterlaluan kalau nggak boleh (ga usah jadi beli aja! hahaha), jadi ijab kabulnya jelas, transaksinya tahu sama tahu. Definisi ‘mencicipi’ ini juga ambigu sih ya, seberapa banyak? Satu buah? Lima butir? Atau sekenyangnya? Tujuan mencicipi itu apa? Ingin mencoba sebelum membeli kan? Tapi memangnya ada lengkeng yang nggak manis? *serius nanya*.

Yah, nama pun nyinyir, jangan dianggap terlalu serius ya, temans hehehe. Kembali ke individu masing-masing saja sih tentunya. Dan mari kita ngemil lengkeng :).

Ketika Seorang Nomophobia Nonton di Bioskop

Meni panjang yah judulnya :P.

Barangkali ada yang belum tahu, nomophobia adalah rasa takut berlebihan untuk jauh-jauh dari ponsel, misalnya saat si ponsel ketinggalan, tidak ada sinyal, atau habis baterai, penderita nomophobia akan menunjukkan gejala orang ketakutan. Misalnya saja berkeringat dingin, gelisah, dan yang lainnya. Sejak bangun tidur yang dicari ponsel, seharian tak pernah lepas dengan ponsel, sebelum terlelap pun memegang ponsel.

Kasihan? Banget. Tapi ternyata lebih dari 50% populasi dunia pengguna ponsel, katanya adalah nomophobia lho. Mungkin karena zaman teknologi seperti ini hampir seluruh orang memerlukan gadget dalam kehidupan sehari-hari ya, dan efek negatifnya adalah ketergantungan yang berlebihan pada si gadget, seolah beberapa jam ‘berpisah’ dengannya saja, akan berakibat matahari berhenti berputar *beuh, lebay nian bahasa eikeh* hihihi.

Tapi begitulah maksud postingin ini temans.

Jadi ceritanya, seminggu lalu saya dan AM menonton filmnya Om Kece itu lho (Mission Impossible maksudnya ya :P), dan sepertinya ada seorang nomophobia di bangku barisan depan kami. Meskipun studio sudah gelap, si mas ini masih saja menyalakan ponselnya (walaupun ditutupi jaket), sampai-sampai ada seorang bapak-bapak di barisan saya yang menegurnya, baru si mas mematikannya.

Dan karena tempat duduknya di barisan persis di depan saya (1 bangku ke sebelah kanan dari bangku depan saya), sesekali, iseng saya memerhatikan gerak geriknya saat film berlangsung. Dan iya lho, 1-2 kali dia menyalakan ponselnya meski ngumpet-ngumpet. Si ponsel tetap berada di genggaman tangannya, dan begitu film hampir habis (studio masih gelap), cepat-cepat dia mengecek ponselnya. Saya intip dong apa yang dicek, ternyata facebook sodara-sodara hihihihi *kepo banget sayah :P*.

Iya, agak-agak nyinyir nih memang jadinya saya ya, tapi atulah, film paling seberapa lama sih, katakanlah 2 jam, tidak akan terlalu ketinggalan banyak jika harus ‘puasa’ mengecek gadget selama 2 jam kan ya?

Tapi detik berikutnya saya juga mencari ponsel di tas, dan si ponsel tidak ada! Panik dong ya, meskipun ponsel saya tidak seberapa pintar, kan sayang kalau hilang. Setelah mengeluarkan isi tas dan si ponsel tetap tidak ada, buru-buru saya balik lagi ke bangku saat nonton, dan si ponsel tergeletak di kolong bangku. Alhamdulillah. Rupanya si ponsel terjatuh saat saya masukkan ke dalam tas. Kepanikan yang sesaat itu bisa diartikan sebagai nomophobia nggak tuh? hahahaha

Kejadian di bioskop ini membuat saya berpikir, mungkin tanpa kita sadari, kita (saya tepatnya) juga sudah seperti nomophobia ya, tidak bisa hidup tanpa ponsel atau gadget *nyengir*.

Tapi kalau boleh saya minta tolong, saat nonton di bioskop ponselnya dimatikan dulu sebentar ya, temans ;).

Seberapa Drama Hidupmu?

Genggeus banget nggak sih judulnya? Tapi lebih ngeselin nggak kalau pertanyaan itu benar-benar diajukan dan ditunggu jawabannya apa? Sok atuh, ada yang mau jawab? *dikeplak berjamaah*.

Jadi ceritanya begini, temans. Ada seorang teman yang ingin saya menuliskan cerita hidupnya. Cerita teman saya ini memang drama banget sih, bahkan lebih dari layak untuk dijadikan sinetron 300 episode mah *iya, ini lebay*. Tapi bagi saya, kisahnya itu memang drama banget, yang sulit bisa saya percayai benar-benar terjadi dan dialami teman saya.

Eh, ceritanya mah nggak usah diceritain di sini lah ya, kan mau saya jadiin cerita *dikeplak berjamaah lagi*.

Maksud saya menulis postingan ini adalah, karena teman saya tadi, yang sudah lama ingin menceritakan kisah hidupnya tapi tidak bisa menulis itu, bertanya (kurang lebih) begini “Rin, kenapa lo nggak nulis cerita hidupmu sendiri sih?”. Pertanyaan sederhana yang tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya, sehingga tidak bisa saya segera saya jawab.

Kemudian setelah berpikir beberapa saat, saya sampai pada kesimpulan bahwa hidup saya memang tidak se-drama itu untuk bisa dijadikan sebuah cerita. Entah ini membanggakan atau menyedihkan sih ya hahahaha.

Tapi itulah jawaban yang saya berikan pada teman saya, bahwa hidup saya rupanya tak seberapa drama, setidaknya dibandingkan hidupnya yang penuh drama itu. Alhamdulillah.

Temans, ada yang hidupnya drama banget? Sini atuh saya tulis :D.

Postingan Impulsif

Kabar gembira untuk kita semua, ternyata tidak hanya shopping yang bisa impulsif, tapi menulis postingan juga lho!*halah* hihihihi.

Istilah ini digulirkan Emaknya Sidqi di twitter seperti berikut,

postingan impulsif

Dan saya sepakat, bahwa terkadang ide bisa tiba-tiba muncul saat kita membaca postingan teman blogger, dan secara impulsif langsung lancar meramunya dalam sebuah postingan di blog sendiri. Sudah berkali-kali saya buktikan sendiri. Di tengah galau gundah gulana mencari bahan postingan yang tak kunjung datang, setelah bersilaturahim ke rumah maya teman-teman, ternyata cling lampu bohlam di kepala langsung menyala.

Walaupun, postingan ini tidak bisa dikatakan impulsif sih ya, karena justru ditulis berjam-jam setelah saya ‘terpukau’ oleh istilah postingan impulsif yang dikatakan Mbak Nurul pagi tadi hihihihi. Tapi maksud saya adalah, jika teman-teman sedang nge-blank atau blogger’s block (sepupunya writer’s block maksud saya :P) atau apalah, blogwalking sajaaa, siapa tahu, justru menemukan ilham untuk menulis postingan impulsif semacam itu he he he.

Oh iya, barangkali penasaran dengan cerpen yang dimaksud, silakan lho, mampir ke Lebaran Sebentar Lagi *ujung-ujungnya promosi* hihihihi.

Yang Tak Tertahankan Saat Puasa

Puasa -yang berasal dari kata shaum  dan siyam- memiliki makna  menahan diri, menjauhkan diri dari sesuatu,  atau mencegah diri. Dari apa? Dari lapar dan dahaga, dari amarah, dari nafsu birahi, dari banyak hal yang biasanya diperbolehkan di hari-hari lain.

Teman kantor saya dulu misalnya, mengaku dirinya sulit sekali untuk menahan diri agar tidak marah-marah (atau paling tidak mengomel) selama puasa. Wajar juga sih, dengan kondisi jalanan ibu kota yang … yaa gitu deh, dan pressure di kantor yang sami mawon di semua bulan, membuat teman saya ini susah menjadi orang sabar meskipun sedang berpuasa.

Bagi saya, yang paling sulit ditahan saat berpuasa itu justru adalah rasa haus. Serupa anak kecil yang baru belajar puasa memang. Tapi begitulah faktanya, mungkin karena saya memang suka minum air putih, jadi merasa tersiksa sekali saat tidak bisa minum di siang hari yang biasanya merupakan porsi terbesar untuk minum. Keluhan pun menjadi bermacam-macam: tenggorokan kering, mulut terasa lengket, ujung-ujungnya jadi emosi juga sih ingin marah hahahaha.

Kenapa saya suka minum air putih? Karena dulu, waktu saya SMP, sempat ada endapan batu di ginjal saya gara-gara kurang minum. Meskipun ‘cuma’ endapan, sakit sekali lho. Saya ingat betul harus bolak balik ke dokter lumayan lama. Tidak diperbolehkan makan ini dilarang minum itu dan aturan lainnya juga banyak. Mungkin itulah kenapa saya jadi gila-gilaan minum air putih sampai sekarang, daripada sakit, jauh lebih baik mencegahnya sebelum terjadi, bukan?

Kembali lagi ke masalah haus bin dahaga yang merajalela selama puasa, buat saya ini memang ujian terbesar. Apalagi menjelang berbuka saya biasanya masak makanan berbuka, tidak sedang berpuasa saja yang namanya di depan kompor itu kan panas, ya? Jadi haus kuadrat dong kalau sedang berpuasa begini. Itulah yang membuat saya kadang-kadang kalap minum begitu azan maghrib terdengar. Pernah lho ditegur Pak Suami segala karena saya dianggap lupa berdoa, padahal sih udaaaah, dalam hati aja tapi hihihihi.

Nah, kenapa sih saat berpuasa rasa haus itu seperti berkali-kali lipat? Karena tubuh kita sekitar 60%nya terdiri dari komponen air! Sementara waktu minum air kita ‘terampas’ karena tidak diperbolehkan minum sejak fajar hingga maghrib, asupan berkurang padahal kebutuhan air di dalam tubuh tetap sama. Wajar dong ya kalau puasa bisa menimbulkan dehidrasi.

Paling minimal, sehari semalam tubuh kita memerlukan 2 liter air atau setara dengan 8 gelas, lebih banyak tentu lebih bagus. Kenapa? Karena fungsi pentingnya di dalam tubuh antara lain sebagai berikut:

  • sebagai pembentuk sel dan cairan tubuh
  • sebagai pengatur suhu tubuh
  • sebagai pelarut
  • sebagai pelumas dan bantalan
  • sebagai media transportasi
  • sebagai media toksin dan produk sisa metabolisme

Dehidrasi ringan akibat kekurangan cairan bisa berdampak serius lho. Yang paling mudah dilihat adalah bibir kering hingga pecah-pecah. Meskipun sepele, bibir kering dan pecah-pecah ini kan sakit ya, dan tentu saja mengganggu penampilan, betul? (Penting banget ini :D). Dalam skala yang lebih tinggi, kekurangan air ini bisa berakibat kejang dan halusinasi segala! Serem yah. Jadi kekurangan air tidak bisa dianggap sepele. Toh, ajara puasa seharusnya membuat kita jauh lebih sehat, bukan?

presentase kehilangan air tubuh dan gejalanya

Cara menyiasati rasa haus yang mendera saat siang ini adalah sebisa mungkin saya tidak tidur saat berpuasa, karena bangun tidur itu saya suka merasa haus banget sodara-sodara. Kenapa begitu? Ternyata saat tidur, seluruh sel dalam tubuh kita meregenerasi diri, sehingga oksigen dalam tubuh pun banyak menghilang sehingga bisa dipastikan saat terbangun kita merasa haus. Jadi sudah tahu kan kenapa tidak dianjurkan untuk selalu tidur saat berpuasa? Jangan terus bersembunyi pada dalih “tidurnya orang berpuasa itu berpahala” ah, move on dong, tetap bekerja, atau melakukan ibadah ramadan yang lain juga kan bisa, iya kan? Iya kan? hehehehe.

Cara lainnya ya memperbanyak minum, meskipun sistem tubuh kita tidak seperti unta ya, yang bisa menampung air banyak untuk dimanfaatkan sedikit demi sedikit, toh meskipun seharian berpuasa (baca: tidak minum sama sekali) pasti kita pipis kan 2-3 kali? :). Biasanya, saat tarawih, saya pasti membawa bekal air minum minimal sebanyak 500 mililiter. Tidak perlu malulah bawa-bawa air minum ke mesjid seperti anak kecil, itu artinya kita menyayangi tubuh amanah dari Alloh SWT juga kan? Dan saat sahur, selain minum air putih yang cukup, saya juga tidak lupa memakan buah segar (seperti melon atau pepaya atau semangka) yang memiliki kandungan air yang cukup banyak.

Atau, kalau mau dibuat ‘rumus’nya, mari kita gunakan formula 2+4+2, yaitu 2 gelas saat berbuka + 4 gelas saat malam + 2 gelas saat sahur. Alhamdulillah sih, cara-cara itu berhasil. Jadi meskipun saya ada kegiatan siang-siang dan atau panas-panasan, tidak sampai membatalkan puasa karena kehausan.

Air putihnya juga jangan sembarangan dong ya, pilih yang terpercaya, yang sumbernya dari mata air alami, diproses secara higienis dan sudah tersertifikasi halal. AQUA sudah terpercaya sejak kemunculannya di tahun 1973, brandingnya sudah tidak diragukan lagi. Coba deh beli air mineral di pinggir jalan, pasti kalimatnya adalah “aquanya satu, bang” meskipun terkadang minuman yang dijual bermerk lain, iya kan? hahahaha.

 

Oh iya, hati-hati perihal ‘berbuka dengan yang manis’ itu ya. 2-3 butir kurma seharusnya sudah cukup, tapi ngaku deh, kadang ditambah segelas sirup dan atau secangkir kopi plus sebotol teh kemasan juga kan? Minuman berpemanis buatan dan atau mengandung gula yang banyak kurang baik bagi tubuh, minuman-minuman itu kaya akan karbohidrat sederhana yang meningkatkan kadar gula darah, yang justru memicu rasa lapar. Nah, ketauan deh sekarang kenapa puasa malah tambah ndut ya? hahahaha. Sudahlah, kalau minum ya air putih saja temans, sesekali ya boleh, tapi porsinya tetap harus lebih banyak air putih.

Dengan berpuasa dan tetap menjaga kesehatan tubuh termasuk asupan air dengan rumus 2-4-2 seperti ini, mudah-mudahan saja puasa Ramadan kali ini semakin berkah ya teman-teman. Aamiin. Buat temans muslim, apa sih yang tak bisa tertahankan saat kalian puasa? Share dong :).