Alika

Kebebasan selalu layak dirayakan. Maka selepas keluar penjara, yang diinginkan ialah mengunjungi kedai kopi ini. Kebahagiaan akan semakin lengkap bila dinikmati dengan secangkir kopi. Hanya di kedai kopi ini ia bisa menikmati kopi terbaik yang disajikan dengan cara yang paling baik.

Walaupun sesaat tadi ia sebetulnya sempat ragu, atau malu, atau mungkin campuran di antara keduanya. Penyebabnya tak lain tak bukan adalah seorang jelita bernama Alika. Dulu sekali ia pernah berpikir, alangkah miripnya nama itu dengan ‘torabika’ atau ‘jamaika’, seolah Alika memang diciptakan Tuhan bagi lelaki pencinta kopi seperti dirinya.

Continue reading

#YesterdayinBandung Menurut Mereka

SAMSUNG CAMERA PICTURES

(dari kiri ke kanan): Ariestanabirah – Delisa Novarina – Puji P. Rahayu – Pradita Seti (Editor) – NR Ristianti – Rinrin Indrianie

Yup, postingan ini adalah kumpulan review-resensi-ulasan tentang novel kolaborasi Yesterday in Bandung. Jadi manteman yang masih ragu untuk membeli (dan kemudian membaca) novel ini, mudah-mudahan jadi tertarik setelah membaca beberapa pendapat mereka yang sudah membaca ya hehehehe.

Continue reading

#FFKamis – Gerimis Terakhir

“Wah, gerimis!” ujar Si Anak Kecil terkesima.

Si Pak tua hanya mendengus. Kota ini hampir selalu kemarau. Setiap hari, sepanjang tahun, seolah selamanya. Gerimis kecil semacam ini hanya akan segera menguap dengan cepat, seperti selalu.

“Pak, kemarilah. Gerimis sepertinya akan menjelma hujan,” seru Si Anak Kecil lebih lantang, menari riang di bawah rinai yang semakin merintik.

Pak Tua hanya mencibir sambil berkata sinis, “Gerimis di kota ini tak akan pernah menjadi hujan, kecuali kalau aku sudah mati.”

“Paaaak, hujan, Pak,” seru Si Anak Kecil gembira, menari di bawah hujan untuk pertama kali dalam hidupnya. Sayangnya, Si Pak Tua terlanjur mati.

#FFKamis – Gara-gara Kopi

Aku urung membuka pagar saat bisikan Yu Parni terdengar jelas.

“Jadi betul begitu?”

” Nggak nyangka yah, padahal kan tampangnya inosen gituh.” Itu pasti suara Budhe Ayu yang suka keminggris.

“Memang udah ajalnya ibu-ibu.” Suara abang tukang sayur entah-siapa-namanya. Setidaknya ada yang membelaku, meskipun sesi gosip masih berlanjut.

“Jadi betul gara-gara kopi?” Aku tidak bisa mengenali suara itu, mungkin mbak Tyas, atau Ibu Retno?

Meskipun sungkan, rasa penasaran membuatku berani mati, menampakkan diri di hadapan para penggosip yang seketika terdiam.

Oh, Ibu Retno rupanya.

Aku menghela napas sebelum membuat sebuah pengakuan.

“Saya nggak tahu perkutut bisa mati kalo diberi minum kopi…”

Cita-Cita Ning

“Siapa yang ingin jadi dokteeeer?”

Seorang perempuan yang selayaknya disebut ‘ibu guru’ berseru di depan sekumpulan bocah. Beberapa tangan mungil segera terangkat tinggi, diiringi teriakan ‘sayaaaa’ yang memekakkan telinga. Begitu pun saat ibu guru bertanya siapa yang ingin menjadi pilot, presiden, penyanyi, dan sebagainya dan seterusnya.

Tapi tak sekali pun, Ning mengangkat tangannya. Tak ada satu pun yang menarik perhatiannya, profesi-profesi yang disebutkan perempuan yang selayaknya dia panggil sebagai ibu guru itu terlampau biasa, tak ada yang istimewa.

Maka Ning akhirnya mengangkat tangan, ingin bertanya, kenapa satu cita-cita yang selalu tersimpan dengan baik di benak Ning, belum juga disebutkan olehnya. Tapi perempuan itu lebih dulu menanyainya.

“Ya, Ning? Kamu juga ingin menjadi Astronot?” Ning menggeleng cepat, dia tidak ingin mengapung di ruang hampa udara dan tak bisa menjejakkan kaki di atas tanah yang pernah menjadi tempatnya berlari.

“Mau jadi wartawan?” Sekali lagi Ning menggelengkan kepala. Dia tidak ingin mengejar-ngejar orang yang tidak ingin menjawab pertanyaan yang diajukan seperti yang sering dilihatnya di televisi.

“Atau mau jadi perawat?” Ning menggelengkan kepala pelan, kali ini sambil tersenyum. Menjadi perempuan berpakaian serba putih sepertinya menyenangkan juga, tapi bukan itu yang Ning inginkan.

“Jadi? Apa cita-citamu, Ning?

Ning geming. Menatap perempuan dewasa yang beberapa hari ini telah menjadi ibu guru bagi mereka di sini.

“Beritahu Ibu apa cita-citamu, Ning!”

“Mmm ….”

“Semua orang boleh punya cita-cita, Ning, setiap anak-anak seperti kalian harus memiliki mimpi,” ujar perempuan itu ceria. Meskipun Ning, dan semua anak-anak di sana tahu betul, perempuan itu hanya ingin menghibur mereka.

Tapi itu juga yang membuat Ning akhirnya berani bicara. “Saya … saya mau jadi balerina, Bu.”

Hening.

Perempuan dewasa yang selayaknya disebut ibu guru itu tersenyum, miris. Menatap kaki Ning yang berakhir di lutut dan masih berbalut perban setelah amputasi terkena meriam. Menatap mata bening seluruh bocah yang tengah menatapnya di tenda pengungsian.

***

300 kata. Ditulis untuk Prompt #101 – Sang Balerina

#FFRabu – Kakak Perempuan

Serupa menunggangi seekor kuda putih bersayap dalam dongeng, aku tahu yang sedang berada di dalam perut Ibu tidak mungkin keluar menjadi kakak perempuanku. Dan Ibu malah meninggal saat melahirkan, tanpa adik bayi, atau pun seorang kakak perempuan yang selalu aku idamkan.

Aku tidak lagi punya Ibu, tapi tetap saja menggharapkan kehadiran seorang kakak perempuan. Dan tak kusangka, Ayah rupanya mengabulkan keinginan yang sebelumnya kuanggap mustahil itu. Seorang gadis muda yang -sepertinya- lebih tua 3-4 tahun dariku diajaknya ke rumah. Aku sangat gembira, akhirnya aku punya kakak perempuan.

Meskipun anehnya, si gadis itu berkata padaku, “aku akan menjadi istri ayahmu sebentar lagi.”

***

Note : 100 kata, untuk tantangan menulis #FFRabu di @MondayFF

Seperti Kisah Cinta yang Lain

“Ning, jadi gimana keputusanmu? Sudah dipikirkan toh?”

Naning tidak segera menjawab, dia hanya menatap Jojo beberapa detik, lantas tertunduk. Dia tahu maksud pertanyaan Jojo, dan dia juga tahu bagaimana dia harus menjawab. Tapi….

“Kamu masih inget nikahan Mbak Ayu nggak sih, Jo?”

“Hah? Apa?” Jojo mengernyit. Bukannya menjawab pertanyaannya, Naning malah mempertanyakan sesuatu yang lain sama sekali. “Kenapa memangnya, Ning?”

“Masih inget kamu?”

“Masih, nggak mungkin banget kayaknya bisa dilupain. Iya kan?”

“Iya juga ya, nggak mungkin banget bisa dilupain.” Kemudian Naning hening, seperti berpikir sendiri. Membuat Jojo ikut diam, tidak mengerti kenapa pertanyaannya diabaikan Naning.

Continue reading

#FFRabu – Potret Keluarga

“Bu, lihat yang aku temukan di loteng!”

“Apa, Nak?”

“Potret keluarga Ayah, Bu. Lihat ini, Eyang Kakung dan Eyang Putri, Ayah dan Pakdhe yang masih muda.”

Si Ibu melihatnya sekilas, tersenyum sebentar, lantas kembali memotong sayuran.

“Pasti Ayahmu senang kau bisa menemukan foto itu, Nak.”

“Ayah dan Pakdhe dari dulu memang beda ya, Bu.”

“Iya, Ayahmu putih, tapi Pakdhemu lebih mancung.”

“Kalau dilihat-lihat, mas Danu mirip sekali sama Pakdhe di foto ini ya, Bu. Lihatlah, bahkan rambut mas Danu ikal seperti Pakdhe.”

Si Ibu terkesiap, lantas terbata menjawab, “Namanya juga keluarga, Nak, wajar saja kakakmu itu mirip Pakdhe, iya kan?”

***

Note : 100 kata, untuk tantangan menulis #FFRabu di @MondayFF

#FFRabu – Lelaki Sempurna

“Kapan kau akan menikah, Nak?”

“Kalau sudah kutemukan lelaki yang sempurna, Bu”

“Tidak ada yang seperti itu, Nak, seperti juga dirimu yang hanya manusia biasa, tidak akan ada lelaki yang benar-benar sempurna.”

“Sempurna di mataku sederhana saja, Bu.”

“Seperti apa?”

“Dia harus menyayangiku sepenuh jiwanya, Bu.”

“Ah, pasti ada pemuda yang seperti itu. Carilah, maka kau akan dipertemukan dengannya.”

“Tunggu dulu, Bu. Lelaki itu juga harus menomorsatukanku, menjadikanku  semesta dalam hidupnya, bahkan dia akan rela mati untukku.”

“Hmm … Itu lebih serupa tokoh dalam dongeng, Nak, tak ada lelaki yang sesempurna itu rasanya.”

“Ada, Bu.”

“Siapa?”

“Ayah. Mungkin aku harus menikahinya.”

***

Note : 100 kata, untuk tantangan menulis #FFRabu di @MondayFF

 

 

#FFRabu – Gadis Kecil dan Boneka Berkepang Dua

Anak itu berdiri sendiri di balik sebuah manekin, tangannya mendekap boneka barbie berkepang dua.

“Hai, bonekamu sepertiku, ya,” kataku ramah, sambil menunjukkan kedua kepang rambutku padanya.

Si gadis kecil hanya geming menatapku, meski tidak terlihat takut saat kudekati. Hatiku bersorak, menculiknya akan mudah saja.

“Boleh kakak pinjam bonekanya?” tanyaku sambil tersenyum. Tangan kananku sudah terulur. Begitu boneka itu ada di tanganku, gampang saja mengajaknya pergi.

Entah dia mengerti apa yang kukatakan atau tidak, tapi kulihat dia mematahkan tangan kanan bonekanya hingga terlepas dari tubuh, lantas mengulurkan boneka tak berlengan itu padaku. Dan aku terpekik, tangan kananku telah tergeletak di lantai.

***

Note : 100 kata, untuk tantangan menulis #FFRabu di @MondayFF