#FFKamis – Bertemu Ayah

Rara bersenandung kecil saat memasuki rumah, wajahnya ceria.

“Rara senang sekali ya tadi di sekolah?” tanya Ibu tersenyum. Gembira melihat Rara akhirnya kembali ceria setelah berbulan-bulan selalu muram.

“Iya, Bu.”

“Kenapa? Dapat hadiah dari Bu Guru?”

Rara menggeleng.

“Terus? Kenapa dong?”

“Tadi Rara dijemput Ayah di sekolah.”

“Rara!” Ibu terpekik kaget. “Ibu kan sudah bilang, Rara harus belajar merelakan Ayah. Ayah kan …”

Rara menangis, kaget mendengar teriakan ibu, sedih karena dimarahi. Lantas berlari ke luar, membiarkan ibunya menangis sambil memanggil-manggil namanya.

Di luar pagar, Rara masih terisak, tapi kemudian berbisik lirih seraya menangadah. “Rara ikut Ayah ke surga, boleh kan?”

 

Advertisements

Reading Challenge : The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared

Iya, temans, judul novelnya memang sepanjang itu! Kalau dibahasa-Indonesiakan akan lebih panjang: Lelaki berusia 100 tahun yang memanjat keluar jendela dan menghilang. Eh, sebelas dua belaslah ya panjangnya hihihi *abaikan*.

Tapi justru karena itulah -menurut saya- novel ini sangat menarik. Saking menariknya, saya merasa harus ‘mengabadikan’ kesan saya terhadap Allan Emmanuel Karlsson dalam novel kolaborasi saya Yesterday in Bandung itu. Nah, jadi ketahuan deh ya saya menulis tokoh siapa di sana hihihihi.

DSC_0012

Baiklah, karena ini reading challenge (yang pertama yang saya ikuti di MFF hihihihi *peace*), mari langsung saja kita jawab pertanyaan dari Jeng Vanda berikut:

Continue reading

#FFKamis – Suara Surga

“Hallo?”

“Hai, Mayang. Gue nih, Tito.”

“Iya, gue tahu. Nomor lo kan ada di contact gue.”

“Oh iya ya.”

Si pemuda tertawa salah tingkah, si gadis terkikik geli.

“Ada apa, To?”

“Nggak. Gue ganggu ya?”

“Nggak juga sih. Tapi kan nggak biasanya lo nelepon gue kalau nggak ada apa-apa.”

“Mmm…”

“Kangen lo sama gue?”

Sebuah gelak terdengar. Parau. Ragu. Malu.

“To? Kenapa?”

“Ngggg … gini, May. Gue lagi ngopi.”

“Terus?”

“Lo tau sendirilah, di kosan gue kopi item banyaaak banget, tapi nggak ada gula.”

“Jadi?”

“Yaa, jadi gue mesti nelepon lo, biar suara surga lo bikin kopi gue terasa manis.”

“Oh?”

Alika

Kebebasan selalu layak dirayakan. Maka selepas keluar penjara, yang diinginkan ialah mengunjungi kedai kopi ini. Kebahagiaan akan semakin lengkap bila dinikmati dengan secangkir kopi. Hanya di kedai kopi ini ia bisa menikmati kopi terbaik yang disajikan dengan cara yang paling baik.

Walaupun sesaat tadi ia sebetulnya sempat ragu, atau malu, atau mungkin campuran di antara keduanya. Penyebabnya tak lain tak bukan adalah seorang jelita bernama Alika. Dulu sekali ia pernah berpikir, alangkah miripnya nama itu dengan ‘torabika’ atau ‘jamaika’, seolah Alika memang diciptakan Tuhan bagi lelaki pencinta kopi seperti dirinya.

Continue reading

#YesterdayinBandung Menurut Mereka

SAMSUNG CAMERA PICTURES

(dari kiri ke kanan): Ariestanabirah – Delisa Novarina – Puji P. Rahayu – Pradita Seti (Editor) – NR Ristianti – Rinrin Indrianie

Yup, postingan ini adalah kumpulan review-resensi-ulasan tentang novel kolaborasi Yesterday in Bandung. Jadi manteman yang masih ragu untuk membeli (dan kemudian membaca) novel ini, mudah-mudahan jadi tertarik setelah membaca beberapa pendapat mereka yang sudah membaca ya hehehehe.

Continue reading

#FFKamis – Gerimis Terakhir

“Wah, gerimis!” ujar Si Anak Kecil terkesima.

Si Pak tua hanya mendengus. Kota ini hampir selalu kemarau. Setiap hari, sepanjang tahun, seolah selamanya. Gerimis kecil semacam ini hanya akan segera menguap dengan cepat, seperti selalu.

“Pak, kemarilah. Gerimis sepertinya akan menjelma hujan,” seru Si Anak Kecil lebih lantang, menari riang di bawah rinai yang semakin merintik.

Pak Tua hanya mencibir sambil berkata sinis, “Gerimis di kota ini tak akan pernah menjadi hujan, kecuali kalau aku sudah mati.”

“Paaaak, hujan, Pak,” seru Si Anak Kecil gembira, menari di bawah hujan untuk pertama kali dalam hidupnya. Sayangnya, Si Pak Tua terlanjur mati.

#FFKamis – Gara-gara Kopi

Aku urung membuka pagar saat bisikan Yu Parni terdengar jelas.

“Jadi betul begitu?”

” Nggak nyangka yah, padahal kan tampangnya inosen gituh.” Itu pasti suara Budhe Ayu yang suka keminggris.

“Memang udah ajalnya ibu-ibu.” Suara abang tukang sayur entah-siapa-namanya. Setidaknya ada yang membelaku, meskipun sesi gosip masih berlanjut.

“Jadi betul gara-gara kopi?” Aku tidak bisa mengenali suara itu, mungkin mbak Tyas, atau Ibu Retno?

Meskipun sungkan, rasa penasaran membuatku berani mati, menampakkan diri di hadapan para penggosip yang seketika terdiam.

Oh, Ibu Retno rupanya.

Aku menghela napas sebelum membuat sebuah pengakuan.

“Saya nggak tahu perkutut bisa mati kalo diberi minum kopi…”