Sekali Lagi Tentang THR

Siapakah yang sudah menerima THR? Saya sudah dong hari Jumat minggu lalu hehehe. Alhamdulillah yaa.

Terima kasih pada Permenaker No. 6/2016 yang baru terbit Maret lalu, karena sudah memungkinkan karyawan baru dengan minimal masa kerja 1 bulan sebelum Lebaran, berhak mendapatkan THR dengan proporsional/prorata.

Jadi, menurut peraturan itu, karena lebaran jatuh di bulan Juli sementara saya mulai bekerja Mei, dianggap sudah 3 bulan bekerja, maka nominal THR saya adalah 3/12 kali gaji pokok, CMIIW. Tapiiiii pak bos saya yang orang Jepang itu lagi baik entah emang orang baik deh, THR saya dibayar setengah gaji dong hihihihi. Alhamdulillah banget kan yaa meskipun nggak full *yaiyalah* :D.

Nah, berhubung artikel yang berkenaan dengan mengelola uang THR pasti baaaanyak sekali di luar sana, jadi saya tidak akan membahas hal yang sama, yaaa karena nggak bisa juga sih *halah* hahahaha.

Tapi intinya sih, karena THR ini merupakan pendapatan tahunan jadi ya sudah seharusnyalah dipergunakan untuk pengeluaran tahunan juga, betul? Belanja baju baru harusnya sih nggak termasuk ya buibu, sebulan sekali bukan shoppingnya? hihihihi.

Baiklah, saya akan sedikit berbagi apa yang akan saya lakukan untuk menghabiskan si uang THR (yang cuma setengahnya) itu.

1. Kurban

Iya, Idhul Fitri-nya saja belum sih, tapi sengaja saya sisihkan dulu untuk kurban, kambing tambah mahal euy sodara-sodara. Memang tidak wajib, tapi kalau dananya ada kenapa tidak? Dan ada atau tidaknya dana tersebut saya sendiri yang menentukan, maka si THR ini akan saya simpan untuk itu.

Sedikit bercerita, kenapa saya berupaya keras untuk berkurban setiap tahun, adalah sebuah percakapan yang tidak sengaja saya dengar di sebuah angkot bertahun-tahun lalu.

Saya lupa tepatnya tahun berapa, pokoknya saya naik angkot di sekitar Rawamangun (lupa juga dari mana mau ke mana hihihihi), dan obrolan itu terjadi antara pak sopir dan penumpang di sebelahnya yang mungkin adalah temannya.

Inti dari percakapan itu adalah, bagaimana pak sopir menabung uang lima sampai sepuluh ribu SETIAP HARI untuk tabungan membeli kambing kurban. Kalau penumpang ramai, 10 ribu masuk celengan, kalau sedang sepi, 5 ribu pun jadi, kalikan jumlah itu dengan 365 hari dalam setahun! Pak sopir bilang (kurang lebih) begini, “Ya masa cuma orang kaya aja yang bisa kurban? Karena gue cuma supir angkot nggak bisa qurban, gitu? Beli rokok bisa, makan bisa, jajan ini itu bisa, nyisain segitu doang masa sih nggak bisa buat kurban?”

Dezigh.

Saya benar-benar tertampar. Saat itu saya belum pernah sekali pun berkurban, karena di kepala saya sudah terlanjur tertanam sebuah konsep “toh saya bukan (atau belum) termasuk ‘orang kaya’, nggak apalah tidak berkurban”. Padahal, jika dibandingkan pak sopir, saat percakapan itu terjadi saya sudah bisa menyisakan jauh lebih banyak daripada 5-10 ribu rupiah per hari.

Jadi begitulah, terima kasih pada pak sopir di angkot Rawamangun yang telah menjadi penyampai pesan bagi saya untuk rajin berkurban :).

2. Ke Bengkel

Iyaaaa, minggu lalu mobil saya nabrak! hihihihi. Berkendara itu memang ya ujian banget, meskipun kita sudah sangat berhati-hati, pengguna jalan lain belum tentu melakukan hal yang sama.

Saya sedang berada di belokan ke kiri menuju gerbang tol Karawang Timur. Di depan ada bus yang melambat karena menaikkan penumpang, jadi saya ikut melambat, tapi tidak mengambil jalur kanan karena (saya pikir) itu untuk mereka yang akan putar balik (tidak bisa langsung lurus). Nah, si mobil putih ini (entah dari mana) masuk dari kanan, padahal di saat yang sama, saya sedang pelan-pelan maju (agak ke kanan sedikit) karena si bus itu memberi tanda untuk saya. Saya fokus ke arah kiri, karena tentu saja banyak motor yang masuk ke ‘celah’ yang sedikit terbuka antara bus dan mobil saya, jadi memang tidak melihat ke arah kanan, karena itu satu jalur jadi asumsinya nggak akan ada yang masuk dari kanan. Jadi nabrak lah, kanan depan saya dan belakang kirinya si mobil putih.

Aduh, ternyata susah menjelaskan kejadiannya lewat tulisan, kebayang nggak sih manteman? hahahaha. Begitulah ya pokoknya mah. Ampun deh, deg-degan banget, karena meskipun tidak merasa bersalah (karena saya berada di jalur yang benar),  si mobil putih itu galak banget, klaksonin bertubi-tubi nyuruh saya minggir (padahal saya mau lari ke manalah, hawong padat begitu :P).

Setelah sama-sama minggir, ternyata itu sopir. Meskipun saya bisa mengerti kenapa dia galak banget (karena pasti dimarahin bosnya) tapi saya jadi sebel banget kan ya, hawong dia yang salah kok dia yang marah-marah (>_<). AKhirnya kami bertukar nomor telepon, dan dia whatsapp saya duluan, bertanya mau dibetulin di bengkel mana.

Lucunya, saya pikir dia yang mau betulin mobil saya kan, ternyata dia yang minta ganti hihihihi. Saya nggak mau lah, walaupun dia keukeuh saya yang salah (karena saya yang nabrak), saya juga keukeuh bilang saya nggak akan nabrak kalau dia nggak maksa masuk. Dia minta ketemuan, ya hayuk aja kan, tapi berkali-kali ditelepon tidak pernah diangkat (AM sih yang nelepon, saya nggak berani :P), dan kemudian menghilang begitu saja. Berarti dia juga mengakui kan kalau memang salah hahahaha.

Tapi ya begitulah, jadi ada pengeluaran tak terduga karena si bemper itu jadinya hampir copot dan baret-baret, tidak terlalu parah sih, tapi ya teteup weh ya :D. Karena wiken kemarin (sok) sibuk, baru mau ke bengkel besok, doakan nggak mahal-mahal banget yaa hihihihi.

DSC_0279

3. Angpau 

Ini kalau ada sisanya sih. Ya nama pun si THR cuma setengahnya ya, setengah dari nggak seberapa banyak pula kan hihihihi.

Berhubung sudah tinggal di Karawang, AM ingin tahun ini sholat Ied di Karawang, mumpung nenek masih ada jadi bisa berlebaran dulu dengan beliau. Jadi memang sepertinya angpau yang diperlukan paling untuk adik-adik dan tetangga dekat rumah saja. Pas saya sampai di Majalengka tamu-tamu yang bersilaturahim ke rumah mungkin sudah tidak ada kan he he.

Sudah, si THR kali ini akan saya habiskan untuk tiga poin itu saja sepertinya. Kalau THR-mu bagaimana, temans? 🙂

Advertisements

49 thoughts on “Sekali Lagi Tentang THR

  1. suami dapata sekali gaji THR itupun ludes buat rs dan daftaran sekolah huhu
    untung g pulang kampung jadi masih bisa ngirit makan nasi sambel dirumah *eh
    mamet ngadepin lebaran mak :*

    Like

  2. Trs gw br ngeh klo lu dah balik kerja lg coba huhuhu..

    Btw selamat yak.. Dpt THR.. Dan turut prihatin itu mblnya nabrak 😦

    THR aku blm cair.. Kynya ga cair.. Lha wong ga kerja hahahahaa

    Like

  3. Haa…alhamdulillaah syukuri dulu mba ….
    Rejeki yg sdh didatangkan Allah.
    Karena kebetulan sebulan sebelum lebaran saya resign dari kantor, maka otomatis saya tak punya THR alias gigit jari.
    Tapi tak apalah…rizki Allah melimpah…bukan hanya dlm bentuk uang kan ya? Masih banyak rizki dalam bentuk lain. InsyaAllah. Ambil hikmahnya ya.

    Like

  4. THR ?
    What THR … hahaha …
    Saya baru mulai kerja formal lagi sejak 1 Juni 2016 kemaren.
    Saya tidak tau dapet atau tidak, tapi saya sih setelan hatinya tidak. Karena memang saya sudah biasa tidak dapat THR … hehehe

    (saya baru tau ada peraturan menteri tersebut)
    (check buku tabungan aaahhh …)(sapa tau aja ada uang masuk)

    Mengenai Mobil ?
    Mudah-mudahan ini yang terakhir. Dan tidak terjadi lagi.

    Salam saya Orin

    Like

  5. Huaaaa. Itu kelakuan orang Jakarta yang gak bertanggung jawab ya emang. Eh dan sekitarnya juga sih ya yang pasti gak punya rasa tanggung jawab. Kalo masih ada uang thrnya buat bayar asuransi aja Oriiiin. Hihihi.

    Like

  6. wah…. THRnya besar donk kalau bisa buat itu semua 😀

    alhamdulillah… alhamdulillah…

    kalau saya dapat… maka tahun ini adalah kali pertama PNS dapat THR. cuma belum di tangan 😀

    Like

  7. ahh kesentil sama ucapan bang angkot, hebat banget dia..
    kalau aku ngabisin THR buat bayar daftar ulang anak sekolah mbak -_-
    *baju baru alhamdulillah blm beli, xixi

    Like

  8. Ga dapat THR Rin disini, ya iya soalnya ga ada hari raya😅 tapi dulu pas masih kerja di Indonesia, sebelum THR turunpun sudah dialokasikan buat traveling haha maklum dulu kan masih single ya ga ada tanggungan apa2, jadi jalan2 hantam terus.

    Like

  9. keren banget sopir angkotnya ya Rin.., udah niat banget mau kurban..
    inget opung aku punya celengan kurban, isinya tiap hari dari sisa uang belanja
    kalapun jumlahnya nggak mencukupi kan nambahnya nggak terlalu banyak lagi

    Like

  10. Menohok sekali percakapan abang angkotnya. Hehehehe
    Kalo saya semenjak ada meme beli tiket konser juta-jutaan sanggup, kurban masa gak sanggup. Jadilah diusahakan berkurban tiap tahun. 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s