Pertemuan dengan Ro

Lanjutan dari cerita Hari Pertama Qy.

**

Seperti yang telah Xa katakan sebelum mereka bertarung, tak perlu waktu lama untuk Qy bisa mengalahkan Xa. Lelaki itu tumbang akibat tendangan Qy yang telak mendarat di dadanya. Xa roboh, terjengkang lantas terkulai nyaris telentang. Tak bergerak. Tak bernyawa.

Qy menatap Xa beberapa detik tanpa berkedip. Manusia pertama yang ditemuinya, dan terpaksa harus dibunuhnya, hanya karena Qy tak ingin mati di hari pertama dia hidup. Rasa bersalah merayap perlahan.

Di atas mereka, dua suara berseru-seru heboh.

“Ah, si Botak akhirnya mati juga, Kak.”

“Iya, aku pikir dia manusia yang lumayan kuat, Dik.”

“Manusia baru itu keren juga.”

“Betul, dan karena rambutnya pun sedikit meskipun nggak sebotak si Botak, mari kita namai manusia baru itu si Gundul!”

“Si Gundul!”

Derai tawa terdengar. Qy merah padam. Seenaknya saja kedua pohon beringin itu menamainya si Gundul. Sialan!

Tapi kemarahan Qy harus menunggu, ada yang jauh lebih penting daripada sebutan menyebalkan itu. Menurut penjelasan Xa, hidupnya di negeri pepohonan ini hanyalah sebagai mainan mereka. Dan kalau Qy masih ingin hidup, dia harus membunuh Xa-Xa yang lain.

“Membunuh atau dibunuh, sesederhana itu, Qy.” Kalimat Xa seolah telah menempel kuat di benak Qy. Tapi Qy menolak percaya, dia harus mencari cara bagaimana keluar dari kotak mainan ini, atau pergi dari negeri pepohonan ini, atau ….

Saat dia masih berpikir, rupanya salah satu pohon beringin –entah si Kakak atau si Adik- membawa pindah kotak tempatnya berada. Membuat Qy terjatuh, lantas merayap untuk berpegangan pada dinding bening yang terasa dingin di tangannya.

Si pohon beringin meletakkannya pada sebuah dataran yang terlihat begitu luas di mata Qy. Bisa dilihatnya kini, di sekelilingnya banyak sekali kotak-kotak serupa kotaknya. Berdinding transparan, dengan tanah pasir keabuan di dasarnya. Tak semua kotak berisi manusia sepertinya, tapi di kotak sebelah kanannya, Qy melihat seseorang, rambut ikalnya panjang hampir menyentuh bahu. Pakaiannya koyak, luka menyebar di sekujur tubuhnya, mirip Xa.

Lelaki itu berdiri tegap, dengan tangan bersedekap di depan dada, menatap Qy yang memang tengah memerhatikannya. Qy jeri, jika benar yang pernah dikatakan Xa, maka lelaki itu adalah ….

“Nah, Gundul, sekarang kamu akan bertarung dengan si Ikal.” Sepasang ranting kurus menarik tubuh Qy keluar kotak. Qy yang terlampau kaget hanya bisa berteriak parau saat dia seolah terbang melayang, kemudian meluncur jatuh pada pasir keabuan di bawahnya.

Pekikan Qy menggantung di udara saat lelaki bersedekap itu menyapanya. “Jadi kamu yang membunuh Xa?” suaranya begitu dingin, sangat berbeda dengan Xa yang menyapanya dengan hangat, bahkan memeluknya erat saat keduanya bertemu.

Qy mendeguk ludah susah payah. “A-aku Qy, dan aku tidak bermaksud membunuhnya.”

Lelaki itu hanya mendengus, “namaku Ro, dan aku mungkin saja akan terbunuh di tanganmu seperti Xa sebentar lagi, atau kedua pohon beringin itu akan melakukan sesuatu yang buruk pada kita berdua.”

Qy geming.

“Qy, pohon-pohon itu tidur saat siang, berjanjilah padaku, kau akan mencari cara untuk pergi dari negeri ini!”

“Bagaimana caranya?”

Pertanyaan Qy belum sempat terjawab saat kotak mereka terguncang keras. “Ayo cepat bertarung!” seruan geram itu membuat Qy dan Ro tak punya pilihan. Keduanya saling menatap lantas memasang kuda-kuda siap bertarung.

**

Note : 499 kata, untuk prompt #111 – Dunia yang Sebaliknya, dan sepertinya masih bersambung 😀

Advertisements

3 thoughts on “Pertemuan dengan Ro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s