[Resensi] Di Tanah Lada

IMG_20160301_092542

Judul :  Di Tanah Lada
Penulis :  Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Editor :  Mirna Yulistianti
Genre :  Fiksi
Penerbit :  Gramedia Pustaka Utama  – 2015
ISBN :  978-602-03-1896-7
Tebal :  244 halaman
**

Blurb

Namanya Salva. Panggilannya Ava. Namun Papanya memanggil dia Saliva atau ludah karena menganggapnya tidak berguna.

Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal. Kakek Kia, ayahnya Papa, pernah memberi Ava kamus sebagai hadiah ulang tahun yang ketiga. Sejak itu Ava menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia. Sayangnya, kebanyakan orang dewasa lebih menganggap penting anak yang pintar berbahasa Inggris.

Setelah pindah ke Rusun Nero, Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P. Iya, namanya hanya terdiri dari satu huruf P. Dari pertemuan itulah, petualangan Ava dan P bermula hingga pada akhir yang mengejutkan.

**

Review

Di Tanah Lada adalah jenis novel yang sulit dilupakan, bahkan setelah lama halaman terakhirnya kita tutup, setidaknya bagi saya. Para tokoh dan kisah mereka seperti masih menempel di kepala dan enggan dilupakan begitu saja. Itulah kenapa saya merasa harus menuliskan postingan resensi ini, berharap setelahnya, mereka bisa mengizinkan saya berkenalan dengan tokoh lain dalam cerita lain di buku berikutnya yang ingin saya baca.

Sebelum membaca novel ini, beberapa minggu sebelumnya saya baru saja menyelesaikan To Kill a Mockingbird-nya Harper Lee (yang juga merupakan jenis-novel-yang-sulit-dilupakan versi saya). Saya tidak hendak memperbandingkan kedua novel tersebut, tentu saja, karena keduanya sungguh berbeda. Tapi ada sebuah persamaan yang membuat saya mengagumi kedua novel ini, yaitu penceriteraan dari sudut pandang anak kecil!

Bagi saya, sulit sekali ‘bersuara’ sebagai anak kecil. Mungkin karena saya terlampau lama sudah tidak menjadi anak kecil lagi ya *abaikan* hihihihi. Tapi Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (ini nama asli, by the way) berhasil menuliskannya dengan baik. Saya, sebagai pembaca, benar-benar harus mengerutkan kening-juga menangis dan tertawa, saat mencoba memahami penuturan Ava di dalam cerita.

Tema cerita yang berat, KDRT dari orang tua (terutama Ayah), perjudian, hingga akibat dari seks bebas yang menjadikan anak sebagai korban, ternyata terlihat ringan-ringan saja di mata seorang anak kecil berusia enam tahun.

“Iya, Papaku jahat, sih. Aku sudah biasa.”

“Oh ya? Papaku juga jahat, kok. Mungkin semua Papa memang jahat.”

“Iya juga. Tapi kamu juga kan nanti jadi Papa. Nanti kamu juga jahat, dong?”

“Kalau begitu aku nggak mau jadi Papa, ah. Aku nggak mau jadi jahat.”

“Kamu jadi kakek saja. Kakek Kia baik, soalnya.”

“Boleh. Aku jadi kakek saja. Kamu jadi nenek, ya?”

“Nggak, ah. Aku mau jadi mama. Mama aku baik, soalnya.”

“Oh ya? Mama aku jahat.”

“Masa?”

“Nggak tahu. Tapi kata Papa, sih, dia jahat. Kalau orang jahat bilang orang lain jahat, berarti orang lain itu lebih jahat dari orang jahat itu, kan?”

“Aku nggak mengerti.”

“Ya sudah.”

Mengerti kan ya, maksud saya, setelah membaca kutipan dialog antara Ava dan P di atas? Kalimat sederhana sekaligus kompleks itu bertebaran di sepanjang cerita.

Tokoh Salva, yang hampir selalu membawa ke mana pun kamus pemberian kakeknya, adalah gadis kecil yang merasa bahwa P adalah ayam (karena dia masih telur) yang disayanginya. Sementara P, yang merasa kecewa karena bahkan nama pun dia tak punya (karena P tentu saja bukanlah sebuah nama), merasa Ava adalah adik yang harus dilindunginya. Keduanya masih memandang hidup hanya hitam dan putih, baik dan jahat, bahkan mungkin skeptis.

Seperti judulnya, cerita berakhir di Lampung (yang bahkan tidak pernah disebutkan satu kali pun di dalam novel), saat Ava dan P menuju rumah Nenek Isma (ibu Mamanya Ava), tempat di mana Papa Ava maupun Papa P tidak akan menjahati mereka lagi. Tapi sebelum sampai ke rumah Nenek Isma, P ternyata tahu rahasia hidupnya, yang membuatnya ingin mencari bintang, dengan mengajak Ava. Ava tentu saja mau menemani P, karena mereka akan selalu berdua (bahkan misalnya kalau bereinkarnasi menjadi penguin, mereka akan tetap berdua). Rahasianya apa dan bagaimana mereka mencari bintang, harus dibaca sendiri lah ya hehehehe.

Novel yang menjadi pemenang kedua Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 ini memang layak jadi juara. Bacalah dan bersiap untuk jatuh cinta pada keluguan Ava dan P memandang hidup dan kehidupan.

**

Dapatkan buku ini di  toko buku online Bukupedia

9 thoughts on “[Resensi] Di Tanah Lada

  1. Pingback: Semacam Rekomendasi Buku | Rindrianie's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s