Tentang Perceraian

Saya kepikiran membuat postingan ini saat menulis FF Lelaki Sempurna hari Rabu lalu itu. Setelah maju mundur antara ditulis atau tidak, akhirnya ya sudahlah ya, daripada kepikiran terus hehehe. Bukannya apa-apa, saya khawatir postingan ini mengundang pro dan kontra dan sebagainya dan seterusnya bla bla bla. Maka harus saya tekankan di awal, ini hanyalah pemikiran sederhana saya saja ya, temans. Jangan terlalu dianggap serius ya, seriously!

Hingga lulus kuliah, saya masih tidak bisa percaya ada orang yang menikah dan kemudian bercerai. Serius lho. Mungkin karena di keluarga besar hampir tidak ada kasus ini ya, jadi saya merasa sangat asing dengan konsep ini. Sampai-sampai berpikir “Lah? Ngapain dulu memutuskan menikah kalau akhirnya bercerai?”. Iya, saya senaif itu.

Pemikiran itu berubah setelah satu sahabat saya saat kuliah bercerai.

Saya tahu betul bagaimana proses ‘pedekate’ keduanya saat akan menikah. Saya datang ke pesta pernikahan mereka yang sangat mengharukan (saat itu mah boro-boro saya kepikiran nikah, pacar aja nggak punya! *halah*). Saya  menjadi ‘tong sampah’ (tidak saja sahabat saya, tapi juga suaminya) saat mereka berselisih, menjadikan saya berada di posisi sulit karena bagaimana pun saya pasti memihak sahabat saya kan ya :P. Saya menjadi tahu (meski serba sedikit) bagaimana prosesi sidang perceraian itu.

Dan begitulah, sahabat saya pun menjadi seorang janda. Dia menikah, menjadi seorang iastri untuk beberapa saat, dan kemudian bercerai. Pemikiran saya dulu kala itu ternyata tidak bisa lagi sepenuhnya saya percayai. Karena ternyata, seperti pada kasus sahabat saya yang tidak bisa saya ceritakan detailnya di sini, terkadang perceraian adalah jalan terbaik bagi semuanya.

Fiuh. *Serius amat postingan kali ini ya * *lap keringet*.

Tambah ke sini, tambah banyak teman, semakin banyaklah kasus perceraian yang saya saksikan. Alasannya sangat-sangat beragam, seperti seluruh alasan yang bisa dipakai setiap pasangan untuk menikah, sebanyak itu pulalah alasan yang bisa dicari untuk mengajukan perceraian. Hidup memang tetang memilih, dan tentu saja perjuangan tanpa henti ya :D.

Saya tahu, tidak ada pasangan mana pun yang berencana untuk bercerai saat mereka menikah. Idealnya tentu saja membangun keluarga berdua, menua bersama dan berbahagia hingga maut memisahkan. Period.

*Maksud saya pernikahan ‘normal’ lah ya, bukan bicara soal kawin kontrak dan teman-temannya itu*

Tapi (kenapa ya kata ‘tapi’ ini diciptakan, by the way :P) sepertinya akan selalu ada tetapi ya. Tapi kalau tidak bahagia dalam pernikahan itu, bagaimana? Pasti diupayakan dulu untuk tetap bersama, pasti ada banyak hal dan cara dilakukan untuk tidak terjadi perpisahan, tapi bukankah kebahagiaan itu penting? Dalam kasus sahabat saya tadi misalnya, dia lebih bahagia jika dia bisa mengakhiri pernikahannya yang telah membuatnya banyak terluka, maka terjadilah. Dan setelah itu, dia benar-benar lebih bahagia.

Jadi inti postingan ini apa, Rin? Errr…nggak tau juga sih *ups* hihihi

Saya sih selalu percaya, bahwa setiap individu-setiap pasangan-setiap keluarga, memiliki ujiannya masing-masing. Tidak ada kegembiraan yang abadi seperti juga semua kepedihan hanya sementara. Jadi ya sudahlah ya, mari kita jalani saja sebaik-baiknya, seraya menikmati hidup ini dengan bahagia. 🙂

28 thoughts on “Tentang Perceraian

  1. hmm… biasanya, banyak alasan bercerai karena sudah tidak ada kecocokan. bukannya, dulu waktu mereka nikah, ngomongnya mereka cocok satu sama lain, ya? hehehe.. dari situ saya jadi bingung 😀

    ah, sudahlah.. smoga pernikahan kita samawa dunia akhirat.. aamiin..

    Like

  2. Jalani saja. Menikah lalu bercerai, kalo memang sudah takdir jalani juga.
    Kata Aa jika kita menganggap sesuatu yang bukan punya kita jadi milik kita disitulah pangkalnya ketidakbahagiaan. Kalo memang sudah gak cocok ya pisah, simpel aja.

    Like

  3. Karena menikah itu bukan hanya menyatukan 2 kepala, tapi 2 keluarga besar…
    Sulit menyatukan 2 keluarga besar itu…

    *menghela napas panjang*

    Like

  4. Saat aku posting tentang mantan, Orin malah cerita perceraian 🙂 Sama Rin, dulu aku mikirnya cetek, ih ngapain merit trus cerai? Tapi ya gitu, deh. Akhirnya aku nyaksiin sendiri ada yang survive meski pernikahannya seperti awet rajet (duh apa atuh padanan bahasa Indonesianya), ada yang berdamai dan melupakan masa lalu, ada juga yang memilih bubar.

    Like

  5. sebagai orang luar kita cuma bisa melihat dan mendoakan yang terbaik..bila memang dirasa untuk berpisah jalan terbaik ya wes…semoga diberikan hidup yang lebih baik… semua pasti dipikir matang :*
    semoga rumah tangga kita baik2 saja aamiin

    Like

  6. Pingback: Locked Away | Rindrianie's Blog

  7. aku dulu takut nikah karena takut cerai atau diselingkuhin hehehehe abis tetangga di rumah ada beberapa yang cerai/diselingkuhin, tanteku ada yang cerai/diselingkuhin juga. TAKUUTTTT. tapi kemudian ya namanya hidup ya, kalaupun susah pasti akan menemukan jalannya sendiri. hiaaattt *tendangan maut* *naon*

    Like

  8. Janji pernikahan harusnya diingat selalu “till death do as part”..lalu pernah dengar pendeta berkotbah bahwa seburuk apapun pasanganmu…”Imanilah itu” artinya bertahanlah. Aku dah liat buktinya bahwa si istri udah disakiti terus menerus tp dia bertahan…and now the live happily together..

    Ya tapi memang menikah gak gampang. Sumpehhh!

    Like

  9. Sebagai perempuan yang masih lajang, aku membayangkan perceraian itu seperti mimpi buruk, Teh. Tapi, (heran juga dengan kata ini 😛 ) bukan berarti jadi ogah nikah. Makin ke sini, dalam pikiranku, cerai itu semacam warning untuk selektif memilih pasangan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s