[FF250Kata] Seharusnya..

Seharusnya aku memang tidak perlu berdekatan dengan lelaki semacam dirinya. Bahkan di pertemuan pertama, aku mencium aroma bahaya yang menguar dari tubuhnya. Tapi bagaikan laron yang memuja cahaya, aku terperangkap dalam pesona cinta berbahaya miliknya.

“Sejak kapan kau memilikinya?” tanyaku menunjuk lukanya. Lelaki itu hanya tertawa. Bekas luka itu begitu panjang, dari pangkal paha dalam dan baru berakhir saat hampir menyentuh lutut. Kusentuh luka itu perlahan, dari ujung ke ujung, lelaki itu terlihat begitu menikmatinya, mengerang pelan seraya memejamkan mata.

“Usiaku sepuluh saat luka itu hadir,” jawabnya kemudian.

“Kau melakukannya sendiri?” Lelaki itu tertawa lagi tanpa menjawab apapun, dan aku tahu itu artinya ‘iya’.

“Kau mau tahu bagaimana rasanya?” Aku memandangnya, tak mengerti. “Terkadang rasa sakit itu memberikan kenikmatan yang…tak tergambarkan.”

Kudeguk ludah. Takut, jeri, sekaligus penasaran. Apalagi saat tatapan matanya seolah menyihirku untuk segera mengangguk. Maka siatan pertama -yang cukup panjang meski tidak terlalu dalam seperti miliknya- terlukis di punggungku saat malam hampir bertemu pagi.

***

Seharusnya aku memang tidak perlu berdekatan dengan lelaki semacam dirinya. Lelaki itu seperti candu yang membuatku ingin terus menerus mabuk, seperti racun yang rela kutenggak berkali-kali, seperti api yang membakarku perlahan hingga menjelma abu.

Tapi aku terlanjur cinta.

Lihatlah,dia sedang mengayun-ayunkan pemukul kasti dengan senyumnya yang menawan. Tongkat itu sebelumnya sudah kuhantamkan ke kepalanya, berkali-kali, hingga tawa nikmatnya berderai terdengar. Sekarang giliranku, dia akan segera membedal kepalaku!

Kkkkrrraaaakkkk.

Kurasakan tongkat kayu itu seperti pecah persis di belakang kepalaku. Tak ada lagi yang kuingat selain tawa puasnya yang bergema sesaat sebelum aku rebeh ke lantai.

***

Note:

Siat : iris tipis,sayat

Bedal : memukul (dengan tongkat,rotan,dsb)

Rebeh : terkulai

31 thoughts on “[FF250Kata] Seharusnya..

  1. Ketika cinta tak lagi mengenal logika, rasa sakit yang bertubi-tubi yang ditimbulkan olehnya pun, tak lagi terasa menyiksa… Aih cinta… kenapa kau begitu misteria?

    Like

  2. Teh Orin demen bgt ama kisah cinta yg sadis2 ya? hehehe beberapa kali yg aku ingat demikian. Di kisah ini ada beberapa gaya bahasa yang aku suka, salah satunya ‘menjelma abu’, top. Tapi entah mengapa merasa penulisannya sedikit berantakan, apa karena terburu2 ya Teh jadi beberapa tulisan ada yg tersuguhkan tanpa spasi, but overall, nice :bd

    Like

  3. Pingback: (FF250kata) – Skenario | Rumah Ide Ajen

  4. Pingback: [FF250Kata] Baju Baru | AttarAndHisMind

  5. Pingback: kalau cinta, mengapa menyakiti? | SURAUPUSAKA

  6. Pingback: [#ff250kata] SEQUEL: CEMBURU | JUNIORANGER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s