Di Ujung Perjalanan

“Kita mau kemana, Hans?”

Hans geming. Matanya tetap fokus menatap ke depan, tangannya tetap mencengkeram kemudi.

“Hans?” Setelah hening beberapa jenak, Si Perempuan menuntut jawab, meski Hans seolah tak mendengar perempuannya mengajukan tanya.

“Jalanan ini menuju kemana, Hans? Tujuan kita kemana?”

“Bisakah kau diam saja dan menikmati perjalanan ini, Liz?!” bentak Hans.

Giliran Liz yang tertunduk bisu. Dia hanya ingin tahu kemana mereka akan menuju, kenapa lelakinya tak suka sedemikian rupa? Detik berlarian dalam senyap. Hans diam, Liz sunyi, hanya derung mobil yang meluncur pelan di jalanan lurus seolah tak berujung.

“Apakah kau ingin mengakhiri hubungan kita?” Akhirnya Liz bertanya, membuat kening Hans mengernyit, apa hubungannya dengan perjalanan ini?

“Maksudmu?”

“Seperti perjalanan ini, kau tidak merencanakannya, juga tidak tahu hendak kemana. Mirip sama hubungan kita, iya kan?”

Sekali lagi Hans diam, dia tidak berani membantah, meski mengiyakan pernyataan Liz barusan hanya akan menjatuhkan harga dirinya.

“Bagimu, bertemu denganku hanya ketidaksengajaan yang menyenangkan, bahkan hubungan kita sekadar petualangan singkat belaka. Benar ‘kan?”

Hans semakin bungkam. Dia tak pernah menyangka Liz bisa membaca dirinya seperti itu. Apakah Liz juga tahu, bahwa Hans sudah merasa bosan dan ingin terlepas darinya?

“Tapi sayangnya, Hans, aku terlampau mencintaimu,” lanjut Liz seperti bermonolog dengan dirinya sendiri. “Aku tidak bisa, dan tidak mau, melepasmu pergi.”

“Tapi Liz…”

“Aku mencintaimu, Hans,” potong Liz cepat. “Jika kau tak mau hidup bersamaku, izinkan aku mati bersamamu, Hans.”

“A-apa, Liz?”

“Maafkan aku karena sudah memotong kabel rem mobilmu, Hans,” ujar Liz seraya menunjukkan sebuah gunting dan seutas kabel. “Bawalah aku kemanapun kau suka. Tapi setahuku, di ujung jalan ini ada sebuah jurang yang akan sangat sulit kauhindari. Dan pada akhirnya, cintaku padamu akan abadi.”

“Gi-gila kamu, Liz!”

Liz hanya tersenyum, terus tersenyum, tetap tersenyum bahkan saat Hans berteriak panik ketika jalanan aspal lurus itu habis, dan mobil mereka mulai tergelincir jatuh.

***

Note: 300 kata, untuk Monday Flash Fiction, Prompt #71: This Journey with You

Advertisement

25 thoughts on “Di Ujung Perjalanan

  1. Orin…ada kontradiksi yang sangat kentara dalam cerita ini. Di bagian awal tokoh Liz bertanya, “Jalanan ini menuju kemana, Hans? Lalu tiba-tiba pada bagian berikutnya dia sudah tahu jawaban pertanyaannya sendiri. “Tapi setahuku, di ujung jalan ini ada sebuah jurang…” Begitu kata Liz.

    Kejanggalan lain -buatku- adalah di awal tokoh Liz juga tidak tahu akan ke mana hubungannya dengan Hans bermuara. Kenapa dia merusak rem mobil? Liz ini cenayang?

    Berikutnya, bayangkanlah lokasi ceritanya. Adakah sebuah jalan yang dibuat dengan ujung sebuah jurang? Apa yang terjadi? Gempa dahsyat hingga tanah amblas? *kebayang film 2012 deh..

    Dan yang terakhir, kata ‘derung’ menurut KBBI artinya mengeluarkan bunyi seperti bunyi genderang. Hm…apakah ada yang menabuh genderang di dalam mesin mobilnya? 😉

    Salam…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s