Bukan Cinta Biasa

“Apa? Kamu mecintainya? Apakah aku tidak salah dengar, Gus?”

“Bukankah cinta tak pernah salah?”

“Mungkin saja.”

“Lantas?”

“Tapi cintamu kali ini gila, Gus. Terlampau gila untuk seorang edan macam kamu sekalipun!”

Aku geming, menunduk menatap lantai di bawah kakiku yang gemetar keriput. Enggan menatap Pras yang tengah melotot, kedua matanya seolah hendak menyantapku sekali telan. Aku tidak bisa mengerti kenapa dia bisa semarah itu. Bukankah dirinya pun pernah jatuh cinta? Berkali-kali, bahkan. Lantas, apa salahnya jika aku jatuh cinta lagi kali ini?

“Sudahlah, lupakan saja dia. Masih ada Magda yang selalu mencuri pandang padamu saat kita makan.”

“Blah! Nenek tua mirip kuda nil itu? Tak sudi aku.”

“Atau si Nora? Kau tahu? Kemarin dulu dia bilang padaku kau mirip sekali dengan lelaki pacar pertamanya berpuluh tahun lalu.”

Aku menggeleng mantap. Nora bukan perempuan tipeku. Lagipula apa maksudnya menyamakanku dengan pacar petamanya begitu? Cih!

“Bagaimana kalau Wulan, Gus? Dia anggun sekali, kan? Mantan pemain film terkenal lho dia.”

Lagi, aku menggeleng.

“Kamu pasti menyukai Ibu Lena, Gus! Dan kalau kau jadi kekasihnya, bisa jadi kamu tidak perlu membayar hingga kamu mati di sini nanti.”

Aku mendelik tidak suka. Memangnya aku tidak mampu bayar sampai harus pacaran dengan pemilik panti segala?

“Percuma saja, Pras. Aku hanya mencintainya. Titik.”

“Tapi, Gus…”

“Sebentar lagi dia datang, Pras. Tidak mungkin setiap hari dia datang menemuiku jika tidak mencintaiku, bukan?”

Pras menggebrak meja lantas berdiri, “tambah tua tambah gila kamu, Gus!” katanya seraya melangkah pergi dengan marah.

Kuabaikan Pras yang masih saja meracau memakiku dengan kalimat-kalimat entah apa. Dia sudah datang. Gaun biru laut dengan bunga-bunga putih yang dikenakannya sore ini membuatnya semakin terlihat cantik. Senyum matahari paginya menghangatkan hatiku, membuatku sanggup segera berdiri untuk menyambutnya meskipun kaki gemetarku riuh mengutuk keinginanku. Cinta rupanya bisa membuatku melakukan hal-hal yang kupikir tak bisa lagi aku lakukan.

“Kakeeeeeeek, aku bawakan coklat kesukaan kakek,” ujarnya seraya memelukku.

“Terima kasih, Cu,” jawabku seraya balik memeluknya. Ingin sekali kucium bibir mungilnya yang merah merekah, tapi mungkin itu bisa membuatnya berhenti menemuiku lagi. Maka kukecup saja keningnya, aku bisa melakukan ciuman itu dalam mimpi nanti malam. Sore ini aku hanya akan menggenggam tangannya, membiarkannya menggelayuti lenganku manja, kemudian mendengarkan cerita-ceritanya, lantas mengelus rambut lembutnya. Seraya berharap gadis kecil di depanku ini bisa benar-benar jadi kekasihku.

Ah, sepertinya Pras memang benar. Aku sudah terlampau gila.

***

Note : 383 kata, untuk Monday Flash Fiction Prompt #68: Judul Lagu

Dikembangkan dari Fiksi mini Na Fatwaningrum : BUKAN CINTA BIASA. Hari ini, dia terlihat sangat cantik dengan baju bunga-bunga dan senyum di wajahnya. Hatiku berdesir hebat. “Kek, mau coklat dong,” katanya sambil menggelayut manja.

26 thoughts on “Bukan Cinta Biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s