Semusim, dan Semusim Lagi

Iya, di postingan sebelumnya memang saya mengatakan sedang terhipnotis Murakami dengan 1Q84 hingga tahan tidak ‘lompat’ ke buku lain. Tapi memasuki jilid 3, ternyata saya bosan juga ha ha :P.

Jadi, seharian tadi saya membaca novel pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012, dan langsung selesai! Memang tidak terlalu tebal sih, cuma 230 halaman saja. Buku ini merupakan hadiah dari Indah karena cerpen saya konon jadi pemenang favorit dalam Giveaway yang diadakannya bulan lalu, terima kasih banyak ya Ndah *ketjup*.

Tapi maafkan saya temans, ini bukan postingan resensi atau review buku. Saya hanya akan menceritakan kesan saya terhadap novel yang memang sangat layak menjadi pemenang ini.

Keunikan pertama, seperti Gadis Pantai-nya Pramudya Ananta Toer, novel ini juga tetap merahasiakan si tokoh aku, hingga cerita berakhir, saya tidak tahu ‘si aku’ dalam novel bernama siapa.

Keunikan berikutnya, novel ini -menurut saya- nyaris tanpa konflik yang berarti, alurnya tenang mengalir tapi begitu mengikat. Setiap adegan seperti memiliki fungsinya sendiri-sendiri (yang memang sudah seharusnya fiksi yang baik ditulis demikian), hingga si pembaca tidak bisa melepaskan diri, karena lengah sedikit, dia bisa kehilangan ‘momen’, setidaknya bagi saya ya, karena saya betul-betul skip makan siang tadi hihihihi.

Keunikan terakhir, setelah membacanya, saya masih terbayang-bayang *halah…ndangdut banget sih istilahnya :P* pada beberapa tokoh dalam cerita, J.J. Henry, Muara, Joe, terutama si Sobron, yang mana hanyalah seekor ikan mas koki! Tentu saja, karena terbayang-bayang itu tadi, saya jadi punya banyak pertanyaan ini itu, karena sulit percaya ‘si aku’ bisa begini dan penasaran kenapa dia tidak begitu. Dan itu berakhir dengan ingin membuat ending versi saya sendiri #eeaaa.

gambar pinjam dari goodreads

Beberapa waktu yang lalu, saya hampir saja bisa ngobrol-ngobrol dengan Andina di sebuah acara, tapi sayang saya harus segera pulang hingga melewatka momen itu. Padahal, saya ingin sekali menanyakan banyak hal yang ada di benak saya setelah membaca novel itu padanya. Misalnya saja, seberapa jauh riset yang dilakukannya hingga bisa mendeskripsikan penjara dan Rumah Sakit Jiwa dengan demikian nyata.

*Hedehhh…penasaran sayah -__-“*

Jadi begitulah temans, jika ingin membaca sebuah novel yang ‘berbeda’, Semusim, dan Semusim Lagi karya gadis muda ini sangat layak diperhitungkan masuk dalam daftar bacaan Anda ;).

24 thoughts on “Semusim, dan Semusim Lagi

  1. Oriiiiin…
    terus jadi kesimpulannya si ‘aku’ itu teh siapaaaa?
    Sok atuh lah di spoiler aja disiniiih…hihihi…

    Aku pun kalo lagi kagok baca suka males ngapa ngapain Riiin…
    Makanya aku kalo baca malem2 pas anak2 tidur, jadi lebih nyantai 🙂

    Like

  2. Oriiiin…tadi siang saya udah kesini, tapi mau ninggalin komen belum baca posting-nya…hehehe, skarang mah udah atuh, makasih ya udah dikasih rekomendasi buku yang layak dibaca *dan dibeli 😀

    Apa kabar, Rin?
    Sumpah, postingan ini bikin saya penasaran setengah mati…eh, kenapa ini juga kalimatnya ndangdut banget yak!

    Like

  3. Pingback: Novel Keroyokan | Rindrianie's Blog

  4. Pingback: Semacam Rekomendasi Buku | Rindrianie's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s