Pilihan

“Hidup adalah pilihan”, jargon itu mungkin klise bahkan basi, tapi memang demikianlah adanya, setidaknya bagi saya ya. Oh iya, sebelum lanjut membaca, mohon diperhatikan bahwa postingan ini hanyalah curcol geje belaka, sila diskip saja temans, aseli ngga penting :P.

Jadi ceritanya begini. Beberapa waktu yang lalu, sekitar seminggu paska saya resmi resign dan tidak lagi bekerja, seorang teman bertanya kurang lebih begini : Gimana, Rin? Enak ngga jadi IRT? Kalo enak mah saya kepengen ikutan ga mau ngantor lagi.

Nah, untuk menjawab pertanyaan ‘sederhana’ itu saya malah memiliki banyak pertanyaan lain. Seperti misalnya, Bukankah pemilihan keputusan seseorang itu pasti punya alasan tersendiri yang pasti berbeda satu sama lain? Bukankah setiap keputusan pasti memiliki konsekuensinya masing-masing? Bukankah enak atau tidak itu relatif dan tidak bisa disamaratakan pada semua orang? Bukankah… Sudahlah ya, kalau semua pertanyaan di benak saya ditulis postingan ini tidak akan pernah selesai hihihihi.

Oke, alasan saya resign pun -bagi sebagian teman-teman saya- mungkin sedikit membingungkan. Saya bahkan menjawab pertanyaan “kenapa resign?” itu dengan banyak sekali variasi jawaban, Tergantung bagaimana mood saya saat itu, atau tergantung siapa si penanya, tidak pernah sama. Terkadang (biar cepet) saya mengiyakan saja apapun ‘asumsi’ si penanya tentang kenapa saya resign itu tanpa banyak perlawanan.

Lantas, alasan sebenarnya apa?

Kalau alasannya adalah ‘no reason’, mungkin memang terlalu absurd. Tapi saat saya jawab “karena saya merasa waktu bekerja saya di kantor ini sudah expired” pun, saya dituding ikut-ikutan Dewi Lestari saat bilang pernikahannya dengan Marcel sudah kadaluarsa hihihihi.

Jadi, apapun alasan saya, pasti ada saja bantahannya.

Saat saya bilang sudah jenuh karena sudah 9 tahun bekerja di sana, maka akan ada kalimat bantahan “Hah? gue aja udah 15 tahun, jenuh mah pasti, tapi dibuat enjoy aja dong!” atau semacam itu.

Kalau saya bilang ingin mencari jenis pekerjaan baru yang lebih menantang, maka bantahannya kurang lebih seperti ini “Hari gini nyari kerja susah. Lagian lo di situ udah enak, gaji cukup, welfare banyak bla bla bla… Emang lo bisa hidup dari royalti penulis?”

Bahkan saat saya bilang ingin istirahat dulu biar ngga kecapean jadi bisa hamil, seorang teman bilang begini “Serius lo? Kalo udah waktunya hamil mah hamil aja, kerja ga kerja ga ngaruh, emang ga bosen di rumah ngga ngapa-ngapain?”

Errrrr…begitulah ya. Terbayang kan ya situasinya? qiqiqiqi.

Saya jadi teringat guru fisika saya saat SMU, si bapak bilang begini “Kalau kamu sudah masuk ke suatu sistem, secara alamiah kamu pasti bisa mengikuti sistem itu”, kurang lebih begitulah, lupa saya juga itu lagi ngobrolin teori apaan :P. Tapi ‘petuah’ itu saya artikan sebagai perbedaan signifikan antara ‘mau’ dan ‘bisa’. Mungkin analoginya akan jadi seperti ini => Saya bisa saja bekerja (di kantor) sampai kapanpun kalau saya mau. Tapi kalau saya sudah tidak mau, meskipun saya bisa ya tidak akan terjadi.

Mbulet? Iya emang hahahaha.

Yahh…namapun curcol geje yaa, maabh deh kalau jadi muter-muter :P. Intinya sih, ini adalah pilihan saya.ย Pilihan yang saya putuskan dengan banyak (dan memerlukan waktu yang lama) pertimbangan. Dan saya mengerti konsekuensi (positif atau negatif) dari pemilihan keputusan ini. Mungkin saja keputusan saya salah, pilihan saya kurang tepat, tapi izinkan saya menjalaninya dulu. Toh tak apa kita masuk dari pintu yang (ternyata) salah selama berupaya mencari jalan keluar yang benar. Jadi saya tidak akan pernah bisa mengatakan bahwa pilihan saya akan berdampak sama pada siapapun, so make your own choice! Dan jika itu pun sulit dimengerti yaa…well, it’s my life anyway ya *halah* qiqiqiqi.

Ya sudah begitu saja dulu curcol gejenya. Kalau boleh, sayaย inginย mengingatkan, hormati saja keputusan orang lain, oke? ๐Ÿ˜‰

27 thoughts on “Pilihan

  1. Hidup adalah pilihan berarti punya keyakinan diri dan menghargai pilihan yg di buat untuk diri sendiri. Well, itโ€™s my life anyway ๐Ÿ˜€
    ___
    Yup, bismillah aja saat memilih ya ๐Ÿ™‚

    Like

  2. cuma mendoakan, semoga apa pun yang dipilih itu adalah yang terbaik. aamiin.

    namanya juga pilihan, jadi bebas memilih…. bahkan tidak memilih juga adalah sebuah pilihan. jadi pilihlah yang terbaik di pemilu nanti… lho…. koq malah melebar ๐Ÿ˜€
    ___
    Iya bang, tidak memilih pun adalah pilihan, jadi golput aja kan kita? #lho? hahahaha

    Like

  3. Harus berani mengambil pilihan ya Rin, apapun pilihannya selalu ada komentar dari sekeliling ๐Ÿ™‚
    Nikmati saja semua yang sudah menjadi pilihan.
    ___
    Iya Buuu, adaaa aj komentarnya ya hihihihi

    Like

  4. Eh alasannya kenapa Rin? *hahahaha.. Minta ditonjok*
    Yes… Yang perlu dan penting adalah menghargai keputusan orang lain. Apapun itu dan gimanapun anehnya menurut kita karena kita ga berdiri di sepatu mereka. Semangat Rin! ๐Ÿ™‚
    ___
    Iyalah, ga mungkin sepatu lo cukup buat kaki gw Dan #lho? hahahaha

    Like

  5. Lho…lho…lhooo..
    Aku kok malahan baru tau inih kalo Orin resign…
    Emang alasan nya kenapa sih Riiin?
    *kemudian disiram kuah indomie*…hihihi…

    Ya kalo emang udah resign, nikmati aja yah Riiiin…
    Enak kaaaaan…jadi bisa bobok siang ๐Ÿ™‚
    *penting ituh*

    Like

  6. komentar2 gitu wajar tergantung cara kita menyikapinya, sampai kapan pun kayaknya hidup tak akan lepas dri yang namanya komen2 orang yak,hehe

    Like

  7. Aku respek dengan pilihanmu, semua pasti punya alasan kenapa dia memilih sesuatu dan tidak bisa disamakan satu orang dengan lainnya. Kadang kalau sedang banyak tekanan dipekerjaan aku kepikiran utk memilih resign jg ๐Ÿ™‚ dan melakukan sesuatu yg sangat kita senangi dan membuat kita bahagia, hidup cuma sekali bukan?

    Like

  8. iya namanya hidup ama banyak orang mbak, ada yang cuek aja dengan pilihan kita, karena sadar urusannya sendiri banyak, jadi ngapain ikut ngurus urusan orang lain. Ada yang suka pengen tahu aja urusan orang lain. Ada yang suka sok kasih perhatian dan mengorek-orek info, untuk disebarkan dan dapat gelar sebagai yang pertama tahu.

    Apapun pilihan yang sudah mbak buat, jalani saja tanpa memperdulikan omongan orang, toh hidup mbak itu mbak sendiri yang menjalani, orang lain mah bisanya cuma komentar

    Like

  9. ngomong ngomong soal resign, aku jadi inget sama sekolahnya Dija, tante Orin….

    sekolahnya Dija lagi dirundung duka karena akhir tahun ajaran ini, sejumlah guru akan resign secara kolosal.

    Yang dirugikan sudah pasti anak didik dong…. hiks

    tapi resignnya Tante Orin kebalikannya ya, malah memberi manfaat pada keluarga . hehehhehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s