Kun

Kun berang. Mimpinya masih menggantung-gantung di lipatan tidur, tapi banjir keburu bertandang. Air -entah datang dari mana- meluap, dengan kecepatan yang kurang ajar merendam semua benda yang ada di kamar kecilnya. Keset. Kipas angin. Radio tape. Kardus berisi buku-buku. Karpet kecil yang sobek ujungnya. Bahkan keranjang kecil tempat Kun menaruh cucian kini melayang terapung-apung.

Di luar kamar, teman-teman satu kosnya berteriak-teriak. Terbangun karena basah menyergap lelap mereka. Lantas mereka berjamaah memaki air yang berkunjung tanpa permisi.

Sialan!

Kun pun ikut mengumpat. Dia tersandera di tempat tidur, untungnya dia masih memiliki dipan, tak seperti teman-temannya yang meletakkan si kasur di lantai. Maka sekarang Kun bisa menatap nanar air yang perlahan tapi pasti terus merayap meninggi. Adzan Shubuh bahkan belum berkumandang, tapi Kun sudah merasa lelah sebelum pagi.

Ditatapnya laptop yang masih berkedip-kedip di balik bantal, sisa begadang semalam mengerjakan paper di ambang deadline hingga Kun tertidur. Detik berikutnya Kun khawatir, apakah si tugas yang dikerjakannya semalaman itu bisa dia serahkan di meja dosen tepat waktu? Bagaimana jika dia terjebak di kost dan tak bisa pergi ke kampus? Kun terancam menerima nilai F.

Sialan kuadrat!

Maka Kun meraih laptopnya, dan bersiap melemparkan kegalauannya di jejaring sosial. Status bernada merana terposting di facebook. Di twitter dia berkicau mencaci pemerintah. Kun memotret si radio tape yang dulu dibawanya dari kampung yang kini kelelep, lantas mempostingnya di Instagram, mengucapkan selamat tinggal pada si radio yang telah berpulang. Bahkan kemudian Kun tak bisa menahan diri untuk menumpahkannya di blog, postingan berjudul ‘Serangan fajar’ terbit sudah. Untuk sekejap Kun merasa terhibur, setidaknya, seluruh dunia -dunia Kun tentu saja- sudah tahu Kun sedang kebanjiran.

Kun akhirnya bisa tersenyum.

Masih di atas kasur memeluk guling, Kun menatap layar laptopnya yang kini hanya berpendar-pendar. Dingin menyelimuti pagi yang basah, memaksa Kun memeluk guling lebih erat. Lamat-lamat, sampai di telinga Kun adzhan Shubuh yang entah kenapa kini terdengar begitu sayu mendayu. Sholat itu lebih baik daripada tidur, begitu katanya. Aku sudah bangun, desis Kun dalam hati. Tapi bagaimana aku bisa sholat? Tanyanya lagi sendiri.

Ah, mungkin Kun sudah terlampau banyak dosa, melalaikan banyak shubuh di hari-hari kemarin, mendirikannya di akhir waktu dan atau terlupakan sama sekali. Sibuk. Demikian seringkali Kun berdalih. Hingga kemudian Tuhan berbaik hati membasuh dosanya dengan air yang membanjiri kamar mungil Kun di Shubuh seperti ini.

Detik berikutnya Kun beranjak. Air dingin di kakinya menjalarkan gigil yang terasa beda. Kun mengambil sarung yang tergantung di balik pintu, Shubuh ini dia harus sholat di mesjid. Dia akan bertaubat pada Tuhan, mendaras doa memohon-meminta-mengiba padaNya agar banjir segera surut dan dia bisa pergi ke kampus.

Kun tak sudi menerima nilai F.

***

Note : 430 kata, fiksi iseng karena kebanjiran (lagi) shubuh-shubuh hihihihi.

19 thoughts on “Kun

  1. Like karena ceritanya bagus loh Rin. Bukan karena ada yang kebanjiran. Bagus ih update statusnya. *loh? Bukan ya? Hahaha
    Semoga segera surut ya banjirnyaa..
    ___
    hahahaha…thanks Daaan 🙂

    Like

  2. Jadi ingat kisah Neng Orin kebanjiran dulu, yook sisihkan semaksimal mungkin agar tak terjangkau rembesan air.
    Tetap jaga kesehatan ya Orin. Salam prihatin banjir
    ___
    Iya nih Bu, mulai mplu heuheu. makasih ya Bu 🙂

    Like

  3. serangan petir dimulai tengah malam, sekitar jam setengah satu. Wah pertanda hujan badai, dan ternyata benar. Kun yang tertidur jam segitu mungkin tidak menyadarinya, tapi saya lebih dulu menyadari hujan deras akan segera datang. Sayangnya saya gak tahu nomer telepon Kun hanya untuk sekedar ngasih tahu xixixixi

    Like

  4. listrik nggak padam Rin..?
    ati2 ya.,,
    bahkan banjirpun bisa bikin kreatisfitas mencuat keluar, kt siapa banjir bawa. sengsara ?
    (menghibur diri krn absen tadi udah merah)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s