[Berani Cerita #30] Gadis Berkacamata

Gadis berkacamata itu datang lagi, mempesona seperti seharusnya.

Kali ini t-shirtnya bergambar minion, entah kentang entah pisang, si minion berwarna kuning berkacamata bercelana biru yang sedang nyengir itu begitu lucu buatku. Apalagi si gadis juga kini berkacamata bulat, seperti sengaja ini memilih model yang persis sama dengan si minion. Yang jelas, dirinya begitu berbeda, membuatku bisa menemukannya dengan mudah di antara orang-orang yang berdesakan hilir mudik di peron dari sudutku berdiri.

Celana jeans-nya masih yang kemarin. Aku tahu dia akan mengganti celana jeans-nya setiap dua hari sekali, khas anak kost yang menghemat cucian. Aku belum pernah sekalipun melihat si gadis memakai rok. Mungkin dia tidak menyukainya, atau dia tidak memilikinya? Entahlah, aku tak pernah bertanya.

Sneakernya semakin coklat, entah kapan terakhir kali si gadis mencuci sepatunya itu. Tapi bisa dimengerti, cuaca sedang tak menentu akhir-akhir ini, sebentar hujan sebentar panas, lantas untuk apa mencuci sepatu yang memang kotor melulu?

Seperti biasa, kalau beruntung, dia memilih duduk di kursi dekat tiang, walaupun tentunya keberuntungan semacam itu jarang sekali terjadi. Tapi dia suka sekali menyandarkan kepalanya ke tiang itu saat menunggu keretanya datang, . Sepertinya hari ini dia cukup lelah di kampus, ranselnya terlihat lebih berat, buku-buku besar di tangannya lebih banyak. Tak lama si gadis terpejam dengan telinga yang tetap tersumpal earphone, entah mendengarkan lagu apa.

Aku mendekatinya dengan sedikit ragu, sedikit gembira, sedikit was-was, juga sedikit takut. Mungkin ada sedikit malu juga.

Gadis ini sudah aku amati selama satu bulan! Rekor tersendiri buatku, karena biasanya, aku akan memberanikan diri setelah 3 hari pengamatan, paling lama satu minggu. Tapi gadis berkacamata ini memang berbeda. Ada sesuatu dalam dirinya yang selalu sanggup membuatku membatalkan niatku padanya. Mungkin dia mengingatkanku pada adik perempuanku sendiri di kampung, yang dengan beraninya bermimpi ingin menjadi dokter.

Tapi demi adikku itu juga, aku tak bisa menunggu selamanya.

Kemarin lusa, tak sengaja mata kami bersirobok, membuat jantungku seperti hendak melompat dan lari karena kaget. Tapi untungnya dia tak curiga, dan lantas tak acuh melanjutkan bersenandung sendiri mengikuti musik di telinganya.

Maka setelah meyakinkan diri seharian kemarin, aku memantapkan hati untuk melakukannya hari ini, tidak bisa ditunda lagi. Besok aku harus berpindah ke peron stasiun lain, tak bisa selamanya di sini. Manusia seperti aku selalu tak punya banyak pilihan.

Si gadis berkacamata terbangun sebentar, melirik jam tangannya, menatap ke arah rel yang belum juga mengantarkan kereta yang sedang ditunggunya, lantas menyandarkan kepalanya lagi dan tak lama terpejam kembali.

Perlahan dan sangat hati-hati, kumasukan tanganku ke saku celana belakangnya. Dengan perhitungan akurat dan latihan berkali-kali, dompet sang gadis kini sudah berada di tanganku.

“Copeeeeeeeeeeeeeeeeeeeetttttt.” Si gadis berteriak tak lama setelah aku beranjak. Membuatku menyelinap di antara kerumunan orang dengan lebih cepat, mengambil beberapa lembar uang yang ada di dalamnya, kemudian melempar dompet kosong ke tempat sampah terdekat.

Maafkan aku wahai gadis, desisku dalam hati, aku memerlukan uang ini agak adikku kelak bisa kuliah sepertimu.

Note : 474 kata, sila klik bannernya untuk ikut Berani Cerita yaa 🙂

17 thoughts on “[Berani Cerita #30] Gadis Berkacamata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s