Tentang Ujian Hidup

Ramadhan dan Lebaran tahun ini begitu ‘nano-nano’, banyak peristiwa yang mengejutkan, ada kabar yang gembira, walapun lebih banyak merupakan berita duka. Saya sebutkan beberapa peristiwa yang menyedihkan terlebih dulu.

Dua orang saudara saya dari keluarga besar Bapak meninggal dunia hanya berselang satu minggu saat Ramadhan lalu. Teman lama saya bercerai dengan suaminya setelah 10 tahun pernikahan. Seorang sahabat saya yang lain merasa ingin ‘berlari’ dari pertanyaan “kapan nikah” yang bertubi-tubi nekat bekerja di luar negeri dan dalam proses mengadopsi seorang anak. Seorang teman saya menjual semua harta benda dan kembali tinggal di rumah orang tua karena terjerat hutang.

Berita gembiranya, saudara saya menikah beberapa hari sebelum Lebaran datang. Sepupu dan adik saya akan menikah bulan Oktober nanti. Seorang sahabat dekat saya menanti kelahiran putera ke-dua dalam minggu ini. Teman saya yang lain baru saja berhasil membeli sebuah mobil.

Tentu saja hidup -dan kehidupan- seperti roda berputar yang terus bergerak dari satu posisi ke posisi yang lain, klise memang, tapi demikianlah adanya bukan? Sudah seharusnya kita (saya terutama) mengerti bahwa tidak ada yang permanen, kesedihan itu tidak abadi sebagaimana kebahagiaan tidak bisa selamanya. Karena air mata dan senyuman adalah ujian hidup yang sama, walaupun keduanya menguji kita dalam bentuk yang berbeda.

Maka saya terkadang nyinyir pada manusia-manusia pengeluh yang terlanjur memproklamirkan diri hidup mereka begitu menderita dan menjadi makhluk paling merana sedunia. Walaupun kemudian saya mengerti, mungkin mereka tidak bermaksud demikian, bahkan mungkin saya -entah sadar atau tidak- melakukan ketululan yang sama.

Tapi yang selalu saya pahami adalah, bahwa : setiap keluarga, setiap pasangan, setiap individu, sesungguhnya memiliki ujiannya masing-masing. Jadi tidak perlu menjadi manusia lebay ‘kan? Di atas langit masih ada langit, begitu katanya kan? Yang penting selalu bersyukur, itu saja.

Errr…kenapa postingan pertama setelah libur panjang sok serius dan teu pararuguh begini ya? *ups* hihihihi. Maafkanlah temans, sepertinya saya memang masih merasa kesal atas seorang teman yang masuk dalam kategori manusia lebay di atas. Dan semoga postingan ini bisa selalu mengingatkan saya untuk tidak lupa bersyukur atas ujian hidup yang dihadiahkan Tuhan.

Happy day, Pals πŸ˜‰

19 thoughts on “Tentang Ujian Hidup

  1. Wkwkwk…tadi aku yg ngomel2 di status, sekarang Teteh yg memuntahkan eneg di dada di blogpost :mrgreen: . Dan status ngomelku tadi justru gegara aku gak mau dikasihani. Kalo ada yg malah merasa paling merana sedunia, alamak….rugi amat hidupnya dipake ngeluh & mengasihani diri sendiri, mending dipake ngomel #eh :mrgreen:
    ___
    hahaha…iya Tt chan, gerah sama orang pengeluh yg sok merasa paling merana sedunia, lebay pisan πŸ˜€

    Like

  2. eMak dari senin udah masuk kerja, hiks.. liburannya kurang.. #ngeluh minta ditabok πŸ˜›
    ___
    Orin baru masuk Rabu aja masih ngerasa kurang liburnya Mak *ditabok berjamaah* hihihihi

    Like

  3. Oriiinnn… kangen sama tulisan Orin.
    Semoga kita menjadi mns yg pandai bersyukur, sekaligus bersabar. Jadi gak tergolong yang lebay ya…
    ___
    duh…meni terharu dikangenin hihihi. Aamiin, semoga ya Teh..

    Like

  4. bener, Mbak. Kadang yang sebel juga, setahun ndak ketemu, tanpa komunikasi dan bahkan ndak tau apa yang setahun ini dilalui, eh seenaknya menghakimi macem-macem *jadi curhat*

    hehehe…

    selamat idul fitri, Mbak Orin. Maaf lahir batin yaaa *peluk*
    ___
    Banyak yg kyk gitu Noi, aku lebih baik ga usah ketemu aja drpd senewen *ups* hihihi.
    Mohon maaf lahir batin juga yaa *peluk balik*

    Like

  5. Semua orang punya masalah masing2..cuma terkadang suka banyak yg lupa, seolah cuma dia yg bermasalah didunia ini πŸ˜›
    Setuju banget Orin..bersyukur itu obatnya πŸ˜€
    ___
    Iyaaa…ngeselin sm orang yg kyk gitu >_<

    Like

  6. yah namanya kehidupan ya gitu ya.. pasti selalu ada good and bad news ya… yang penting kita harus selalu bersyukur ama kehidupan kita dan menjadian bad news itu jadi pelajaran…
    ___
    Iya mas, yg penting ga jadi pengeluh πŸ˜€

    Like

  7. Saya juga paling sebel kalo ada orang yang … mengeluuuuhhh terus …
    seolah dia itu orang paling merana se dunia …
    melihat dunia dari sisi gelapnya doang …

    Salam saya Orin
    ___
    Iyaaa…gerah bgt Om, sebisa mungkin jauh2 dari para pengeluh ini. Semoga kita terhindar dari sikap yg demikian ya, Aamiin

    Like

  8. neng orin…minal aidin wal faidzin yachh…maaf baru sempat berkunjung lagi hehehhe…….smoga aku tidak termasuk orang yg suka mengeluh…..(biasanya sy kalo mengeluh sendirian aja sambil nangis…jadi ngga ada yang tau hehehhe…..)
    ___
    iya mba Nia, kalo ngeluh sendirian gpp sepanjang waktu jg hihihihi. Sama2 ya mba, mohon maaf lahir dan batin juga *peluk*

    Like

  9. Jadi tersindir nih mba… πŸ˜€
    Dulu pernah dikritik temen, dia bilang st merasa paling merana sedunia. Padahal saat st cerita permasalahan st, ga ada maksud untuk berlebay2 ria. Ga tau juga ya, mungkin saat itu cerita st bener lebay.. tp sampe saat ini st masih ga rela dengan cara penyampaian kritik teman st yg kalimatnya menyudutkan πŸ˜€ .
    Mungkin dia benar, tp kalau cara penyampaiannya sampai menyudutkan orang yg lagi dlm masalah? Dampaknya malah ga bagus.. qiqiqi jadi curcol nih πŸ˜›
    ___
    Ups, ga bermaksud nyindir lho Sitiiiiii hehehehe.
    Intinya ga boleh berlebihan lah ya, entah curhat atw ngasih kritik, yg sedang2 ajaaa πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s