Pulang

Kang, iraha uih? Abah nanyain akang terus. Udahlah pulang aja ke Sukabumi, Kang.

Lagi-lagi, adiknya Lilis mengirimkan SMS yang membuat Dadang sedikit meradang, sekaligus rindu akan rumahnya bukan kepalang. Dan kali ini pun Dadang hanya membaca SMS itu sekilas, tanpa ada niat untuk membalasnya, walaupun alasan sebenarnya adalah bukan karena Dadang tidak ingin, tapi karena dia memang tak punya pulsa. Ah, jangankan membeli pulsa, untuk makan pun dia nyaris tak punya uang. Detik berikutnya Dadang berpikir untuk betul-betul pulang saja ke kampung halamannya, melupakan mimpinya untuk berpetualang di belantara Jakarta, karena sang ibu kota belum –dan mungkin tidak akan pernah- memberinya apa-apa.

“Dang, ngapain atuh ka Jakarta sagala? Nanti yang ngurusin kambing-kambing Abah siapa kalo Dadang pergi? Masa si Lilis yang mesti ngangon ke kebon?”

“Pengen nyari kerja, Bah.”

“Kan di sini juga Dadang udah punya kerjaan. Bantuan Abah ngangon, nyawah, nemenin Ambu ke pasar.”

“Masa Abah tega Dadang selamanya jadi tukang ngangon kambing? Kan Dadang juga kepengen berhasil kayak orang-orang, Bah. Kayak si Asep tuh punya motor matic. Atau kayak si Agus, yang kerjanya pake dasi dan sepatu mengkilap. Atau kayak si Udin tuh yang bisa beliin ibunya baju bagus. Jadi nanti Abah, Ambu, Lilis, bisa Dadang beliin baju baru.”

“Ah, abah mah ngga kepengen baju bagus, Dang.”

“Pokoknya Dadang mau ngerantau ke Jakarta, Bah. Bosen Dadang mah jadi orang miskin terus.”

“Kata siapa kita orang miskin, Dang? Kan ini ada rumah, ada kambing walopun cuma 10 ekor, kamu bisa makan, bisa sekolah. Harus bersyukur atuh, jangan selalu melihat ke atas.”

“Ah…Abah mah ngga ngerti sih. Pokoknya besok Dadang mau berangkat ke Jakarta sama Saiful. Titik.”

Lagi, nostalgi itu datang tanpa Dadang minta. Obrolan, atau tepatnya, pertengkarannya dengan Abah. Dan tanpa terasa tiga bulan sudah berlalu sejak saat itu terjadi. Dia ingat pagi itu, sehabis Shubuh Abah tak juga kembali dari mesjid hingga matahari meninggi, seperti menolak mengiringi tekad Dadang pergi ke Jakarta. Dadang pun lantas tak sudi menunggu, tetap berangkat ke terminal bersama Saiful tanpa mencium tangan Abah seperti biasanya. Walaupun Ambu memohon mengiba menyuruhnya menunggu Abah. “Pamali, Dang. Harus pamitan dulu sama Abah”, begitu kata Ambu waktu itu. Kini, Dadang mengerti itu adalah awal dari semua petaka.

Baru beberapa menit tiba di terminal Kampung Rambutan, dompetnya raib dicopet orang. Di tengah kepanikannya mencari dompet tempat semua uangnya disimpan, Saiful pun menghilang seperti ditelan bumi, ditelepon tidak diangkat, SMS pun tidak dia balas. Membuat dia berprasangka, Saiful-lah yang telah mengambil semua harta miliknya. Maka lengkap sudah, Dadang sangat merana di hari pertamanya di Jakarta.

Hari-hari berikutnya adalah seperti marathon penderitaan baginya. Bekalnya yang hanya selembar ijasah SMU ternyata tak cukup bermakna untuk mengejar mimpinya menjadi orang kaya. Dadang terpaksa bekerja serabutan, jadi tukang cuci piring di warung, jadi tukang parkir, jadi pedagang asongan, hingga jadi kuli panggul di pasar. Pekerjaan-pekerjaan itu tak pernah lama dijalaninya, Dadang bukannya manja, tapi bukan pekerjaan seperti itu yang diinginkannya.

Malam hari sedikit bersahabat bagi Dadang. Dia pernah menjadi ‘santri kalong’ di kampung hingga usia SMP, maka dia tidak memiliki kesulitan berarti untuk menumpang tidur. Dari satu mesjid ke mesjid lainnya Dadang bisa mengistirahatkan diri dengan aman dan nyaman.

Dan sudah 2 hari ini, dia enggan meninggalkan Mesjid Sunda Kelapa yang asri, bahkan kini Dadang sedang mencoba merayu Pak Halim –sang ketua merbot- untuk menjadikan dirinya sebagai asisten, untuk membantunya membersihkan dan merawat mesjid. Belum ada tanda-tanda permintaannya itu disetujui, tapi tak apa, karena di mesjid ini –entah kenapa- Dadang merasa bisa bermunajat lebih lama, lebih khusyuk. Dia betah berlama-lama berdzikir selepas sholat malam.

“Dang, pulanglah Dang. Karunya Abah. Abah sedih dan kesepian walaupun masih ada Ambu, masih ada Lilis. Pulang nya Dang, da bageur.”

Kening Dadang terantuk tembok, rupanya dia sempat tertidur saat berdzikir tadi. Dan dia merasa Ambu baru saja menemuinya dalam mimpi. Membuat Dadang terisak, dan hatinya terusik untuk segera pulang pada Abah, lelaki tercinta yang sudah dibuatnya sakit hati karena kepergian dirinya yang tanpa restu ini. Pulang pada Ambu, perempuan surga yang telah mengantarkannya ke dunia. Pulang pada Lilis, adik semata wayang yang selalu dikasihinya.

Sebentar lagi Shubuh. Dadang sudah menguatkan tekad, akan dipinjamnya beberapa lembar uang untuk ongkos pulang ke Sukabumi pada Pak Halim, selepas sholat nanti dia akan langsung pulang ke rumah, tempat dimana seharusnya dia berada. Bibirnya sumringah, hatinya merekah, kepulangannya kali ini pasti akan menjadi sebuah kejutan yang menggembirakan untuk keluarga di kampung. Apalagi Ramadhan segera tiba, Dadang tak sabar menjalani ibadah di bulan suci itu bersama Abah, Ambu dan Lilis, seperti biasanya.

Dadang tidak keberatan jika sampai tua nanti dia ‘cuma’ ngangon kambing, dan sesekali membantu Abah merawat sawah mereka yang tidak seberapa luasnya, atau menemani Ambu jualan di pasar, dia sudah mengerti tidak perlu menjadi orang kaya untuk bisa berbahagia.

Matahari pagi ini terasa begitu istimewa. Sinarnya yang hangat mengintip dari celah-celah pepohonan di sekitar mesjid. Pak Halim sudah memberinya sejumlah uang, bukan pinjaman, hadiah katanya, karena Dadang telah memutuskan untuk kembali pulang pada keluarga.

Saat Dadang selesai mengikatkan tali sepatu bututnya, sebuah pemberitahuan SMS masuk berbunyi. Detik berikutnya Dadang teringat untuk membeli pulsa, sehingga dia bisa mengabari adiknya akan kepulangannya ini. Rupanya SMS itu pun memang dari Lilis, sebuah kalimat pendek berikutnya yang tak mampu Dadang maknai.

Kang, Abah ngantunkeun, kang…

Innalillahi… Kenapa Abah tidak menunggu Dadang pulang, Bah? Rintih Dadang pilu.

***

Cerpen di atas -Alhamdulillah- diterbitkan oleh nulisbuku.com dalam buku ke-3 #ProyekMenulis Kejutan Sebelum Ramadhan, bukan berada dalam buku terbaik sih memang, tapi tetap menyenangkan bagi saya. Doakan kelak buku saya bisa mejeng di toko buku-toko buku di kota Anda ya temans *halah* hihihihi. Eh, Aamiin ya robbal’alamiin (yang ikut meng-Amin-kan saya beri senyuman manis hehehehe).

Ya sudah begitu saja dulu ya. Happy day, Pals 😉

24 thoughts on “Pulang

  1. gak usah disesali, Dang.. yang penting kudu cepat pulang.
    gantikeun tugas abah ngangon kambing, ngurus sawah jeung kebon..

    fikisinya jempol, Orin..!
    ___
    Hatur nuhun Mak 😉

    Like

  2. Pulang yang multi makna. Selamat ya Neng Oriiin, prestasinya kian membukit nih. Sebentar lagi muncul buku karya tunggal. Salam
    ___
    Aamiin ya robbal’alamin, makasih doanya ibuuu^^

    Like

  3. wah… setelah dibaca, ternyata hebat…. padahal ngebacanya terasa singkat banget, bahkan penjiwaannya juga gak muluk muluk banget… tapi esensinya itu makjleb banget dalemnya…. ini bener-bener cerpen hikmah yang sangat singkat… menarik sekali… keren banget ^___^ #acungJempol buat mimin yang pandai ini ^_^
    ___
    ceritanya memang singkat kok, cuma sekitar 800an kata hehehe. Terima kasih apreasiasinya^^

    Like

  4. Wah…. kok hari ini banyak yang pakek judul “pulang” ya? Barusan tdi dari blog sebelah itu juga….. 🙂 kyaknya lg rame yang kangen ortu ni.. 🙂
    ___
    hehehe, ikutan kangen pulang ngga? 🙂

    Like

  5. Suatu saat, pasti ada buku Orin di toko buku terdekat dengan rumah saya ..*tetep we jauh, kudu ka kota .. hehehe
    ___
    Aamiin… hahahaha meni gitu ih ibu, kan Parongpong jg kota 😛

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s