Dan Yang Beruntung Adalah…

Sebentar, prolog dulu dunk ya *halah* qiqiqi.

Kuis tebak judul yang tempo hari iseng saya buat rupanya banyak juga yang ikutan, jadi terharu gimanaaa gituh sayah hohoho. Sebelum saya umumkan yang beruntung menebak dengan betul, berikut adalah ketiga judul fiksi saya yang ada dalam kumpulan cerita “Obituari Oma” :

4. Biografi Sang Primadona

8. Tanah Merah

14. Senyuman Terakhir

Yahh…namapun saya ini sangat tidak bisa membuat judul, jadi judulnya memang tidak cetar membahana, sebegitu juga udah uyuhan kalo kata temen saya mah qiqiqiqi *yang ngga ngerti bahasa Sunda silakan tanya temennya :P*.

Baiklah, yang menebak dengan jitu adalah berikut :

riana

Eksak

(Agak-agak curiga sebetulnya, mereka berdua ini sering berlatih nebak togel ngga sih? *ups* qiqiqiqiqi.)

Nah, berhubung sebentar lagi puasa (ngga ada hubunganya sih sebetulnya :P), yang berhasil menebak 2 judul dengan benar juga akan mendapat hadiah. Β Lumayan banyak juga nih yang beruntung πŸ˜‰

eMak

Yuni

mba Chi

Noorma

So, teman-teman yang namanya disebutkan di atas, sila email ke saya di rinrin.indrianie@gmail.com bukunya saya kirimkan ke alamat mana, Oke? πŸ˜‰

Sebagai penutup, berikut adalah ‘Tanah Merah’, sebetulnya pernah saya post di sini, tapi mungkin banyak yang belum baca ya hehehe.

Pada akhirnya, setiap orang akan mati. Semegah apapun hidup yang pernah kau alami sebelumnya, semerana apapun kehidupan berlaku pada raga saat jantungmu berdenyut. Suatu saat –entah kapan- kau tetap akan menjadi mayat, tak bisa bernafas, tak mampu bergerak, mati. Dengan atau tanpa peti, kau akan terkubur sekian meter di dalam tanah, untuk kemudian digerogoti cacing dan teman sebangsanya. Seperti itulah, tidak mungkin menolak, tak ada pilihan lain.

Lantas, kenapa pemakaman kali ini harus sedikit berbeda? Kenapa banyak sekali kamera? Kenapa banyak sekali karangan bunga? Owh, rupanya seorang bintang yang kini harus aku kuburkan.

Prosesi pemakaman berjalan dengan dramatis. Banyak teriakan meratap, deraian air mata juga bertabur jeritan pilu. Blah. Berlebihan. Sang jenazah tak bisa lagi mendengar, dia tak lagi peduli, dan tak mungkin juga dia bangkit lagi, β€˜kan? Toh mereka –yang berteriak menjerit menangis- itu, juga hanya tinggal menunggu giliran untuk dimasukkan ke dalam tanah seperti wanita ini. Drama ini entah kenapa menjadi memuakkan bagiku. Kematian adalah kembalinya seorang manusia ke dalam pelukan Tuhan, kenapa harus ditangisi sedemikian rupa? Tapi biarkan saja orang-orang ini berekspresi, toh mereka tidak menggangguku.

Marina? Rasanya aku tahu bintang film ini. Yeah, walaupun tentu saja aku tidak mungkin menonton film-filmnya. Lagipula untuk apa menghabiskan uangku untuk sebuah cerita picisan yang tak masuk akal? Cinta? Pengkhianatan? Tak ada waktu memikirkan hal semacam itu saat aku harus berpikir bagaimana membeli sebungkus nasi penyambung hidup setiap harinya.

Tapi tentu saja,Marina-si jenazah yang kini hampir tertimbun tanah- tidak pernah merasakannya. Hidupnya tentu selalu cemerlang benderang, tidak gulita seperti hidupku. Beruntung sekali dia, baru merasakan kegelapan saat jiwanya tak lagi bersamanya.

Baiklah, aku terlalu sinis. Maafkan keluhan-keluhanku tadi. Toh suatu saat nanti aku pun akan juga terbenam dalam tanah sepertinya. Walaupun tanpa kamera-wartawan-karangan bunga seperti ini, kepergianku kelak mungkin tetap menyisakan lara kehilangan dari istri dan anak-anakku β€˜kan? Serupa dengan perginya seorang Marina sang mantan bintang film terkenal yang kini telah tertimbun sempurna. Tanah merah basah itu kini pun bertabur bunga sepenuhnya.

β€œPak, terima kasih banyak tadi ya.” Seorang pemuda gagah berbusana hitam –dan juga berkaca mata hitam- menepuk pundakku saat pemakaman kembali beranjak sunyi. Seraya menyalamiku, terselip di tangannya sebuah amplop putih yang cukup tebal untuk ukuranku.

Ah, amplop tebal ini lah yang membedakan kematian seorang bintang dengan orang kebanyakan. Tak bisa tidak bibirku tersenyum tanda berterima kasih pada sang pemuda. Dan siang itu pun cangkulku terasa lebih ringan daripada biasanya dengan segepok uang tersimpan aman di saku celanaku.

Happy day, All πŸ˜‰

21 thoughts on “Dan Yang Beruntung Adalah…

  1. kalo yg tanah merah, sy emang udah ada feeling itu punya Orin karena penah baca di blog ini. Sementara yg dua lagi asli nebak bgt. Eh, ternyata beruntung. Tumben bgt sy beruntung sm masalah tebakan hahaha. Tengkyu, Rin. Nanti sy email alamatnya πŸ™‚
    ___
    hohohoho….beneran sedang beruntung berarti mba Chi ya^^

    Like

  2. aku kemarin tuh jadi nebak nggak ya, pas jaringan lagi lelet tuh..
    tp yang yakin benar itu Tanah Merah karena udah pernah baca
    selamat buat yg jadi pemenang…
    eh emak menang, ..kalau udah baca pinjem ya mak..he..he..
    ___
    wahhh…pas inet lelet kmrn itu ya Bun heuheu

    Like

  3. Wah … aku gak jadi nebak keknya … πŸ˜€
    Selamat buat yang menang ..
    Btw itu Emak jago nebak juga rupanya he he
    ___
    mihihihi…iya Kang,hebat nih eMak nebaknya πŸ˜€

    Like

  4. Horee dapat buku.., Mbak Orin baik banget, walaupun salah 1, tapi dimenangin juga hehe..
    Sama sih seperti teman-teman, aku pernah baca yang Tanah Merah di blog. Kalau judul lainnya meraba-raba aja, ngikutin ciri khas tulisannya Mbak. Dan ternyata rabaanku berhasil πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s