[BeraniCerita #2] Jalan Berkabut

Anisa

Suara klakson bertubi-tubi menghentikan lamunanku seketika. Halte itu kosong, hanya aku yang duduk di sana satu jam terakhir, mengabaikan kopaja-metromini-angkot-taksi yang berseliweran. Maka saat Juke putih itu mengklakson, aku tak menyangka ternyata dialamatkan untukku.

“Nis…” kaca jendela mobil terbuka sepenuhnya, ternyata Joshua.  “Cepeten naik.” Klakson-klakson lain mulai menyalak, aku tak punya pilihan lain.

“Ganti mobil lagi Jo?”

“He-eh.” Jawabnya pendek, khas seorang Joshua.

Jeda yang canggung. Bagi Jo, berganti mobil semudah berganti kaos kaki. Sementara aku? Seharusnya tadi aku tak perlu naik..

-o-

Joshua

“Lo kenapa?”

“Kenapa apanya Jo?”

“Lagi ada masalah?” 

“Gue seperti buku terbuka yang mudah dibaca buat lo ya?” Pertanyaan retorik yang tak perlu jawaban. Aku hanya  diam menunggu, menanti lampu merah berkedip hijau, menanti Anisa bercerita. “Gue dipecat Jo…”

Detik berikutnya Anisa terisak, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, sekuat tenaga menahan diri hingga tubuhnya terguncang. Tak ada yang bisa aku lakukan, selain menyodorkan berlembar-lembar tissue ke arahnya.

-o-

Anisa

Entah kali ke berapa aku menangis seperti ini di depan Jo.

“Lo pasti bisa dapet kerjaan lain Nis.”

“Lo ngga kepengen tau kenapa gue dipecat Jo?”

“Gue yakin itu bukan salah lo.” Hanya Jo yang mempercayaiku seperti itu.

Kami berhenti di lampu merah ke sekian, Jo kini menatapku yang sedang memandangnya, “Lo harus yakin lo pasti bisa dapet kerja lagi, lo masih bisa ngirimin uang ke nyokap buat biaya sekolah adek-adek lo, lo masih bisa nabung buat nerusin kuliah kayak impian lo. Lo pasti bisa Nis!”

Aku tahu, mungkin itu nasehat klise, tapi Jo tulus, dia selalu ada saat aku membutuhkannya, dia seperti tiang tempatku bersandar, dia adalah bahu untuk aku tangisi. Seandainya saja dia…

-0-

Joshua

“Tengkyu Jo…” ucapnya setelah sekian detik berlalu dalam sunyi.

Aku tersenyum sekilas, lega rasanya bisa membuat gadis ini kembali sedikit ceria, seperti seharusnya. “Stel radio ya…” ucapnya riang, musik selalu membuatnya gembira. Aku hanya mengangguk. Aku akan mengizinkan dia melakukan apapun yang dia inginkan.

“Lo ga pulang ke Surabaya?” di antara suara Buble melagukan ‘Home’, dia bertanya.

“Ngapain?”

“Besok kan imlek..” Ah, pertanyaan retorik berikutnya. Maka aku hanya terdiam. Aku ingin pulang padamu Nis, rasanya ingin aku mengucap kalimat itu. Aku tahu dia pun merasakan hal yang sama denganku, aku yakin dia pun bersedia menjadi rumah bagiku, aku…

-o-

Anisa

“Males…” ucap Jo akhirnya. Seperti yang sudah kuduga.

“Sampai kapan lo begitu Jo?” Lelaki itu hanya mengedikkan bahu, tak peduli. “Seenggaknya lo masih punya ayah Jo…” ucapku hati-hati.

“Dia udah mati bagi gue, persis saat nyokap gue kehilangan nyawa karena perbuatannya Nis.” Jo mengulang cerita yang telah aku hafal, suaranya bergetar, tatapan matanya murka. Detik-detik seperti itu selalu membuatku ingin memeluknya, membelai rambutnya, menenangkan jiwanya, me…

“Udah maghrib Nis, kita berhenti di mesjid depan ya?” ucap Jo kembali, datar. Aku hanya bisa mengangguk, seraya mengenyahkan anganku tentang Jo.

Selanjutnya adalah hening yang janggal, sang waktu berlarian mencuri kata-kata. Jalan terlalu berkabut bagiku dan Jo. Mungkin kami tetap bisa bersisian, tapi tak bisa berada di satu jalan yang sama.

***

Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.

Note : 485 kata

30 thoughts on “[BeraniCerita #2] Jalan Berkabut

  1. lah, eta kang Buble malah nyanyi didieu.. 😛

    tadi mak mau pasang home-nya buble di LJ.. tapi kerasa tll melow swallow.

    seperti kmrn juga, fiksi yang bagus.. lanjutkan Orin..!
    ___
    Iyah Mak, lg Home memang slow melow swallow pisaaan, jd pengen bobo #eh? qiqiqiqi

    Like

  2. Pingback: Hello Again « Ilham.Menulis

  3. Doooh, saya mah nggak berani komentar kalo Orin udah nulis fiksi…kereeeen!
    Dan tentang cinta di jalan yang berbeda, tapi tetap bersisian…susah pasti, karena seharusnya cinta itu berada di satu jalan 😉
    ___
    Iya Bu ir, kalo jalannya sendiri2 mendingan jd sahabat aj ya hehehehe

    Like

  4. “Detik-detik seperti itu selalu membuatku ingin memeluknya, membelai rambutnya, menenangkan jiwanya, me…”

    ingin me.. apaaa? Hihi.. Udah ah jadian ajah jgn ttm.. *pembaca yg gampang bgt gregetan :p
    ___
    mihihihi…met gregetan ya mba *nyengir*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s