Weekly Photo Challenge : Thankful

Hedehhh….susah temanya ya. Padahal kan niat dan tujuan saya suka (sok) ikut-ikutan WPC adalah agar supaya masih bisa tetap posting walaupun hanya memajang foto. Lah…kalau temanya susyeh begini?? *ngomelngomelsendiri* hihihihi

Tapi ya sudahlah ya, semoga foto berikut bisa dijadikan salah satu interpretasi dari tema minggu ini, walaupun mungkin tidak nyambung πŸ˜›

Sebagian orang berpendapat bahwa memberi sedekah pada pengemis, peminta-minta, anak-anak jalanan, atau pengamen, adalah sebuah aktivitas tidak mendidik yang justru membuat mereka manja, malas bekerja dan akhirnya ‘menggantungkan’ hidupnya dari belas kasihan orang lain.

Bahkan kalau tidak salah ingat, dulu sempat ada kebijakan pemerintah DKI yang melarang warga memberikan sedekah pada mereka. Pertimbangannya lebihΒ serius, karena disinyalir ada semacam sindikat tertentu, yang memang mengorganisir mereka dengan kesepakatan dan ‘tarif’ khusus, yang kemudian dijadikan (semacam) profesi oleh mereka yang terlibat di sana.

Konon ada yang sampai bisa membeli sebuah mobil dan membangun rumah megah di kampung halaman dari jerih payah mengemis. Hebat juga dunk ya. Mari kita buat perhitungan kasarnya. Misalnya nih, tiap menit ada yang memberi 500 perak, maka satu jam meminta-minta mereka berpotensi menerima Β 30.000, kalau satu hari jam kerjanya 8 jam seperti pegawai kantoran, sudah 240.000 lho.

Dengan standar KHL (Kebutuhan Hidup Layak) yang ditetapkan di angka 1,98 juta per bulan, sudah sangat jauh melampaui. 240.000 x 22 hari (rata-rata working day per bulan) = 5.280.000 *Ini bener ngitungnya atau ngga salahkan saja kalkulator saya ya mihihihihihi*. Pantas saja ‘profesi’ ini menggiurkan, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, tidak perlu pakai ‘kostum’ khusus yang memerlukan biaya tambahan untuk bekerja, tidak perlu lembur kalau tidak mau… *errr…. kok curcol begini ya*.Β Maafkan, jadi ngelantur kemana-kemana πŸ˜›

Saya termasuk pada orang-orang yangΒ bersyukur mereka-mereka ini ada. Entah si ibu (yang saya temui di pasar kaget Gasibu-Bandung) di atas termasuk sindikat, atau menjadi pengemis ‘kagetan’ seminggu sekali saat si pasar beroperasi tiap minggu pagi, atau betul-betul terpaksa menengadahkan tangan karena tidak ada pilihan lain baginya sebagai penyambung hidup. Alasan manapun yang dipilihnya, adalah tanggung jawabnya sendiri.

Saya berterima kasih pada si ibu karena sudah membuat saya bersyukur bisa datang ke sana untuk belanja belanji dan bersenang-senang. Saya berterima kasih karena keberadaannya membuat saya bisa ‘membersihkan’ harta saya dengan memberinya beberapa keping uang. Saya berterima kasih padanya karena telah mengizinkan tangan saya berada di ‘atas’ tangannya. Saya berterima kasih karena si ibu mengingatkan saya untuk tidak pernah membiarkan ibu saya harus mengalami keadaan serupa.

Dan tentu saja saya berterima Β kasih padanya karena telah menjadi obyek kamera saku saya dan menjadi bahan postingan ini πŸ™‚

Sepertinya semakin ngawur ya, mari kita sudahi saja. Terima kasih sudah mampir ya temans..

HappyΒ Tuesday, Pals πŸ˜‰

 

 

28 thoughts on “Weekly Photo Challenge : Thankful

  1. terlepas berapa pendapatan pengemis tapi emang negliat mereka bikin kita jadi bersyukur… karena berapapun pendapatan mereka, kita gak mau kan jadi pengemis? πŸ˜€
    ___
    pastinya mas, ga mau lah jadi pengemis πŸ˜€

    Like

  2. Iyaa memang ada tu profesi pengemis yg di jadikan bisnis oleh orang2 tertentu:-D
    Kunjungan siang nee
    Ditunggu kunjungan baliknya:-)
    ___
    Itu urusan mereka sm Tuhan kyknya ya πŸ˜€

    Like

  3. tapi saya tetap tidak tertarik untuk meminta2, masih lebih mulia yg memberi kan? Meskipun cuma memberi selembar uang bergambar patimura
    ___
    Iyalah, jauh lebih mulia klo ‘bekerja’ dg definisi yg sesungguhnya kan..

    Like

  4. bersyukur karena masih menjadi tangan yang di atas..
    benar banget, rin.

    semoga kita diberi kekuatan untuk itu,
    kita punya hak meminta, yaitu minta sebanyak2nya pd Allah..
    selagi mampu, tangan usahakan terus di atas.. semangat..! πŸ™‚
    ___
    Iya Mak, walopun kadang kita suka pelit ya minta sm ALLAH, mintanya sedikit dan kecil, padahal DIA Maha Kaya πŸ™‚

    Like

  5. hoohohohoo 5 jeti mbak, keren banget ngemis ajah itu yaa, ckckkckkc πŸ˜€

    iyaa niar pernah denger kok sampek kakinya pura2 pincang segala, mukanya di kucelin gitu , astagfirullah
    ___
    qiqiqiqi…entah bener entah ngga itu ngitungnya Niar πŸ˜›

    Like

  6. Mungkin sindikat begituan memang ada tapi tetap aja ya rasanya kasian aja apalagi kalau nenek2 spt itu.

    Ayo banyak2 bersyukur πŸ™‚
    ___
    Iya Haya, yg sindikat begitu mah urusan mereka masing2, yg penting kita msh diberi kesempatan untuk memberi ya πŸ™‚

    Like

  7. nyambung banget ko Rin fotonya, yang suka bikin hati gw mencelos adalah ibu-ibu tua atau ibu-ibu dengan anaknya. bahkan gw pernah nangis liat bapak-bapak seumuran gw ngamen sambil gendong balita. Tapi yang suka bikin heran ya, para pemangkal (peminta yang mangkal) itu ko bisa konsisten di satu spot as if terorganisir jam, tempat dan waktunya..
    ___
    Iya Dan, yg terorganisir aka sindikat itu sptnya ada aja ya, tapi kalo kita beneran strict ga mau ngasih, kan kesian sm mereka2 yg emang ga punya pilihan lain selian itu ya..

    Like

  8. bersyukur juga..tak harus mengais rejeki dengan menengadahkan tangan…dan terus berusaha agar orang2 terkasih terhindar juga dari keterpaksaan itu..
    ___
    Aamiin… semoga bisa begitu ya auntie..

    Like

  9. Meski demikian, tangan yang di atas selalu lebih baik daripada tangan yang di bawah. Kalau mereka tahu dan bisa menghayati itu, pasti mereka gak akan mau menjadi pengemis apalagi koruptor.
    ___
    Iya mas, tangan di atas lebih baik ya πŸ™‚

    Like

  10. Widiw.. πŸ˜€ 5 jeti ya ??!!!.
    yupz, terlepas dari itu semua, aku setuju banget sama posting nya Mba Orin… Keberadaan mereka menjadi pengingat akan pentingnya bersyukur dan berbagi (untuk membersihkan harta dan jiwa kita0.. πŸ™‚ *pencitraan*.
    ___
    hehehehe….bukan pencitraan kok Sarip, kan memang harus saling mengingatkan dalam kebaikan πŸ˜‰

    Like

  11. Setuju….selalu bersyukur msh jd tangan yg diatas ya teh orin πŸ™‚ tfs ya…jd ngingetin lg utk lebih sering beramal dan bersedekah
    ___
    Iya Idang, alhamdulillah msh ada mereka yg bisa jadi ladang amal dan sedekah kita ya πŸ™‚

    Like

  12. Aku kalau lihat embah2 meminta2 seperti itu koq ya jadi sedih, Teh. Entah tergolong dadakan atau yang lainnya. Aku cuma ngebayangin aja, kalau yang berdiri dan membawa tongkat itu adalah embahku.

    Memang miris, tapi kalau diperumakan seperti itu, kita akan lebih tau makna dari berbagi.

    Kira2 embah2 itu sudah makan belum ya? πŸ™‚
    Terimakasih, Teh. Telah memberiku pelajaran hari ini. Terimakasih Embah Uti. . . πŸ™‚
    ___
    Iya Idah…jangan sampai orang2 terdekat kita seperti si ibu dalam foto ya, Aamiin…

    Like

  13. Saya pernah lihat di kota P pada hari Jumat ada yang turun 1 truk lantas menyebar. Sejak itu di kota P itu saya gak pernah kasih lagi.
    Btw potonya cakep πŸ™‚
    ___
    ugh…beneran berarti ya kang si sindikat2 ituh 😦

    Like

  14. Teh aku tak memberi sedekah pada penggemis anak-anak, lelaki sehat, dan ibu-ibu yang bawa anak-anak. Tapi orang cacat dan jompo seperti ibu diatas adalah pengeculian saya..:)
    ___
    Kalo ada di depan aku, aku ga tega untuk ga ngasih tante, kecuali untuk si lelaki sehat ya..

    Like

  15. Aku sendiri lebih suka kasih pada mereka yang kuanggap pantas diberi, seperti ibu-ibu tua renta dan ada sakit/cacatnya. Yang disable. Atau kasih ke tukang sampah atau pemulung…
    ___
    aku pernah mau ngasih uang ke pemulung yg kebetulan pas aku keluar rumah dia lg nyari2 di tempat sampah rumahku, dan dia ga mau terima lho, masih bia kerja katanya. trus aku roti, mau deh dia πŸ™‚

    Like

  16. JIka saya ?
    Untuk urusan pengemis / peminta-minta …

    Saya pake hati …
    kalo hati saya tersentuh … saya akan kasih …
    kalo hati saya berkata lain … saya tidak akan kasih …

    bagaimanapun penampilannya …

    Salam saya Orin
    ___
    betul jg ya Om, hati pasti tidak akan salah menganalisa^^

    Like

    • Ia saya sama dengan Om Nh, bukannya bagaimana…saya ngak asalan ngasi pengemis…dulu mungkin ia, mereka tergilas keadaan, tapi sekarang jamannya udah beda banget..banyak diantara mereka yang menggunakan kesempatan.

      Kalau hati saya berkata…kamu kasi dia, saya akan ngasi, kalau hati saya bilang…ngak usah kamu kasi, saya ngak akan ngasi. Mendingan saya belanja di lapaknya anak-anak yatim (kelompok anak yatim yang jualan di pinggir jalan).

      Karena saya pernah dikecewakan oleh oknum pengemis mbak..setelah saya ngasi duit..ngak lama saya liat orang tersebut beli nasi bungkus dan sebotol aqua tanggung…lalu dia cuci tangan dengan air mineral tersebut, padahal di sebelah dia duduk makan, ada kran umum.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s