Remember When

Setelah Test Pack-nya Teh Ninit Yunita, lagi-lagi saya membeli sebuah buku hanya karena tertarik dengan covernya yang kiyut bin unyu-unyu.

Remember When

Tapi saya sama sekali tidak menyesal lho, bahkan saya sangat menyukainya. Winna Efendi –yang masih sangat muda inih, baru 26 tahun bow usianya :D- telah menuliskannya dengan sangat baik. Cerita sederhana tentang empat remaja (5 sebetulnya, tapi yang satu ini -namanya Erik- tidak terlalu banyak porsinya dalam cerita) berseragam abu, mereka adalah Freya-Gia-Moses-Adrian.

Remember when bagi saya novel remaja yang unik, karena tidak hanya berkisah tentang persahabatan dan cinta (segi empat) *halah*, tapi juga banyak terselip pesan bijak. Misalnya saja, tentang sikap tanggung jawab, bahwa setiap pilihan keputusan selalu beriringan dengan konsekuensi yang harus dipikul.

Openingnya sangat menarik, yaitu saat Freya menemukan selembar foto buram bergambar 2 perempuan dan 2 laki-laki berseragam SMU di sana, mengisahkan satu per satu individu dalam gambar, kemudian  flash back yang diramu apik karena cerita perlahan mengalir dari sana.

Mungkin kesan awalnya klise ya, Gia yang seorang cewek populer di sekolah pacaran dengan Adrian si jago basket nan tampan. Sementara Moses yang sangat pintar dan pendiam pacaran dengan Freya yang tidak kalah pintar tapi juga introvert. Gia bersahabat baik dengan Freya, Moses dan Adrian pun adalah teman dekat. Persahabatan yang solid karena sahabat mereka berpacaran dengan sahabat pacarnya *errr….mengertilah ya maksutnyah hihihihi*.

Hingga diam-diam ternyata Freya menyimpan rasa yang lain pada Adrian, walaupun perasaan itu hanya rahasia bagi dirinya sendiri. Tapi di satu titik, Adrian pun ternyata mencintai Freya, dan keduanya memilih tetap menjaga persahabatan mereka dengan Gia dan Moses walaupun artinya harus mengabaikan rasa cinta yang ada. Oh iya, Erik -yang merupakan sahabat kecilnya Freya- juga sangat mencintai Gia. Hubungan cinta yang lumayan pabalieut lah ya 🙂

Maka kisah ini pun dibumbui dengan berbagai emosi dari tiap tokoh tentang dilema memilih cinta dan persahabatan, pengkhianatan, pengorbanan, dan pada akhirnya keikhlasan untuk melepaskan.

Endingnya -bagi saya- kurang dramatis, mungkin karena saya lebih suka ending ‘ngegantung’ atau bikin ‘nyesek’ ya (hahahaha0, tapi ending Remember When sangat manis dan message-nya sampai ke pembaca. Dan yang masih ‘menempel’ pada saya hingga sekarang, bahwa cinta adalah sebuah perasaan yang sangat jujur, entah rasa itu bisa membuat si penderita bahagia atau berduka, tapi cinta itu sendiri selalu jujur dan apa adanya *tsaaaah* :P.

Anyway, novel ini ditulis dengan pilihan diksi yang menawan dan dialog cerdas, membuat kisah yang (sepertinya) menye-menye ini tetap bermakna dan jauh dari kesan cheesy. Apalagi cara bercerita di novel ini dibangun dari sudut pandang masing-masing tokoh, sehingga fluktuatif perasaan si tokoh betul-betul terasa.

Intinya, saya jadi ingin belajar sama dek Winna *deuuuh, sok akrab :P* bagaimana bisa menulis seindah itu, jadi tidak sabar ingin membaca buku “Darf 1” ini 🙂

Akhirnyaaaa, bisa juga menulis (semacam) review buku yang sudah saya baca, padahal hampir tiap minggu selesai baca buku baru tapi tidak pernah ditulis *merasa bersalah* 😦

Nah, apa buku yang sedang kamu baca temans? 😉

21 thoughts on “Remember When

  1. Moses?
    Sepertinya pernah ddengar nama itu, jagoannya mba sari bukan? 😆

    Waah, lagi2 rumput tetangga lebih terlihat WAW daripada rumput halama sendiri. . . 😉

    Kalau denger kata “keikhlasan untuk melepaskan” koq tiba2 rasanya badan ini seperti taidak bertulang, Teh . . .wkwkwkw

    Aku lagi baca buku Haji Ngeteng, oleh2 dari Om belalang. 🙂
    ___
    Waduh? pengalaman ya? *ups* hihihihi…
    Nanti haji ngeteng-nya direview jg ya Idah 😉

    Like

  2. kalo kata Jonru, memang, sebuah tulisan atawa cerita or novel, pada dasarnya bukan karena “Jalan Cerita”nya yg menarik minat pembaca, tapi karena gaya bahasa, pengolahan konflik, dan kemasan dari isi cerita itu yg kemudian -meski dg tema yg klise- tapi akan terasa ‘berasa’ dan gak hambar untuk dibaca, ya gak Teh? 😀

    jd pengen baca juga nih, hehehe
    ___
    Sepakat Sarah, tema yg biasa bgt jg kalo nulisnya bagus jadi asyik dibaca ya 😉

    Like

  3. Wuih keren yaa mbak kisah cinta anak sma, jdai inget lagu tangga, tak ada kisah tentang cinta yang bisa terhindar dari air mata 😀

    hayoo cinta dibahas gag ada abisnya mbak, eeh itu moses anaknya mbak sari emak2 blogger yee 😀
    ___
    hahahaha….iya Niar, ngomongin cinta ga abis2 ya 😀

    Like

  4. buku fiksi udah lama nggak baca deh….

    aku lagi baca buku 3 sekaligus, tapi udah lama nggak selesai2 he…he.., tentang perjalanan dan kisah nyata
    lebih banyak bw Rin
    ___
    aku jg kalo baca pasti keroyokan gitu lho BunMon, di kantor baca buku A, di rumah baca buku B, di tas bawa2 buku C. tapi yg paling cepet selesai ya si buku B itu karena sblm tidur biasanya pasti baca.
    bw emang lebih seru ya Bun hihihihi

    Like

  5. lagi gak baca buku apapun Rin 😦
    lagi males blas
    parah deh pokoknya
    stoknya gak berkurang2 huhuhu
    ___
    kalo udh kena virus males emang ga bisa berkutik ya Kak heuheuheu
    semoga segera ‘sembuh’ 😉

    Like

  6. Ayoo Riin semangat. Pengen bikin posting resensi bukunya Orin nih. 🙂
    Bersedia jadi draft reader dan tetep beli bukunya kalo terbit loh.. Hehehehehe.. 😀
    ___
    Draft reader? duh…duh…jd terharu ginih sih Dan hahahahaha.
    Aamiin…semoga ya *cengar cengir*

    Like

  7. Wahh,, review yg menarik..
    Saya lagi baca anak2 Totto chan. Bacanya keroyokan dengn beberapa novel Sandra Brown..
    Salam kenal mbak..
    ___
    salam kenal Matris. Totto-chan itu jd novel bahan skripsi saya hehehe.
    happy reading ya 😉

    Like

  8. saya kurang suka buku fiksi yg tentang cinta mbak

    kalo tentang adventure, pasti saya baca

    semangat ya bak utk baca2 dan ngreview lagi
    ___
    kalo cowok biasanya memang kurang suka cerita cinta2an ya heuheuheu.
    kalo baca hampir tiap hari baca sih, tapi ngereviewnya itu yg angin2an 😦

    Like

  9. buku apa yg sedang eike baca?
    hwahahahahah….
    ga tau deh neng, ga bisa jawab nih…
    banyak buku tebel yg akhirnya cuma ada di sisi kiri dan kanan tempat tidur…
    ___
    Gpp Teh, fungsi lain sebuah buku -apalagi yg tebal- memang buat bantal tambahan kok
    hihihihihi…

    Like

  10. bunda baru aja kelar baca buku :Tuan Besar” yang dibeli minggu lalu ,Orin
    bukunya bagus banget , bunda suka semua cerita yg ada didalamnya , yg diangkat dari kisah nyata.
    kebetulan hari ini bunda publish di blog review bukunya 🙂
    salam

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s