Day#2 Pagi Kuning Keemasan

Cerita sebelumnya, day #1

***

Anak muda itu turun dari mercusuar dan langsung berlari mengejar ombak dengan girang, bagai anak kecil yang belum pernah pergi ke pantai. Pasti dia yang sabar menunggu matahari terbit di puncak mercusuar shubuh tadi. Pelancong yang bahagia sepertinya menjadikan pagi yang kuning keemasan ini tampak istimewa.

“Sepi sekali pulau ini ya, Bu?” tanya si anak muda, kaki telanjangnya berpasir, baju dan rambutnya basah. Rupanya dia bermain air.

“Iya nak, masih belum banyak yang tahu Pulau Lengkuas. Lagipula tidak banyak wisatawan yang berani ke pulau ini dengan menumpang perahu nelayan.” Dengan isyarat yang sudah aku mengerti, aku meracik kopi pesanan si anak muda. “Dari mana asalmu?”

“Kampung Aur, Ibu. Bukittinggi, di Padang sana.” Kali ini dia telentang di atas pasir, memakai kaca mata hitamnya dan menikmati mentari pagi yang mulai meninggi.

“Tak ada pantai di sana, Nak?”

“Ada, tapi lebih banyak danau dan air terjun.” Anak muda itu tersenyum. “Saya seperti pemilik pulau imut ini ya Bu. Hanya ada kita berdua di sini, dan pak penjaga mercusuar tentunya.” Kini dia tertawa. “Rumah ibu di mana? Tidak ada apapun di sini kecuali mercusuar menjulang dan toilet mungil itu.”

“Rumah Ibu di Tanjung Kelayang, yang menjaga Mercusuar itu suami ibu, nanti sore baru digantikan temannya yang lain.” Si anak muda mengangguk-angguk sambil menikmati kopinya.

“Jadi sebetulnya Ibu membawa termos dan kopi itu untuk suami Ibu ya? Bukan untuk dijual?” Malu juga rasanya tebakan anak muda ini benar. Dia tertawa melihatku diam saja.

“Apakah Mercusuar itu mengingatkanmu akan jam gadang?” Tanyaku mengubah topik.

“Suatu saat nanti datanglah ke tempat saya, Ibu akan menemukan saya dengan kamera polaroid di taman jam gadang. Nanti saya akan foto Ibu. Gratis.” Jawabnya riang. Membuatku tersenyum kecut. Perjalananku hanya sampai Manggar, itupun tak sampai satu minggu sekali. Pergi ke Padang? Seberapa jauh itu dari Belitong? Tidak bisa aku bayangkan.

“Jadi apa yang membawamu ke sini, Nak?”

“Juergen si orang Frankfurt, dan Bundo Rahmi.” Hah? Jerigen dan perut? Jangankan lidahku, otakku pun tidak bisa mengucapkan kata-kata aneh itu. Dan siapa Bundo Rahmi? “Apakah Ibu pernah melihat wanita ini?” si anak muda kembali bertanya, lantas memberiku selembar potret.

Wanita cantik yang ada di potret itu, sekelilingnya samar, mungkin hanya karena mata tuaku saja. Tapi wajahnya sangat jelas, wajah yang tersenyum, ramah. Potret itu membuatku teringat Sarah, putriku. Mungkin si wanita dalam potret itu memang seusia dengan Sarah.

“Tidak. Ibu belum pernah lihat, Nak.” Kukembalikan potret itu, si anak muda terlihat kecewa. “Itu Bundo Rahmi?” Dia hanya mengangguk. “Kau ke sini untuk mencarinya?” Anak muda itu ragu, tapi kemudian mengangguk. Aku kehabisan pertanyaan. Maksudku, tidak enak rasanya terus-terusan menanyainya. Mungkin wanita dalam potret itu kakaknya, atau kekasihnya? Aku memilih diam.

“Sebelum Juergen kembali ke Frankfurt, dia memberikan potret ini pada saya. Lantas Bundo menjumpai saya dalam mimpi, katanya dia ingin sekali melihat matahari terbit di atas mercusuar.” Aku terdiam mencerna kalimat demi kalimat si anak muda. Apakah si Bundo ini hilang di mercusuar? Kenapa anak muda ini mencarinya di mercusuar Pulau Lengkuas?

“Kemudian esoknya, tiba-tiba saja Datuk Ramli menyuruh saya menyampaikan sesuatu untuk kerabatnya di Belitong ini. Saya meninggalkan Padang untuk pertama kalinya dalam 23 tahun usia saya. Berpetualang hingga akhirnya bisa menyeberang ke pulau Lengkuas ini.” Aku menyimak tanpa komentar. “Bundo Rahmi hilang, Ibu. Saya memang tidak berharap bisa menemukannya di sini, apalagi Bundo hilang sudah sejak berbulan-bulan lalu. Tapi berkat Bundo, saya bisa menjejakkan kaki di surga seperti ini.” Si anak muda merentangkan tangannya ke arah angin berhembus, memejamkan matanya, menikmati ‘surga’ di depannya dengan syahdu. Aku masih berteman baik dengan sunyi. Tidak mengerti.

“Baiklah Ibu, petualangan saya di surga bernama Pulau Lengkuas sepertinya sudah habis. saya harus kembali menjadi manusia biasa si tukang foto di taman Jam Gadang.” Kata si anak muda riang, berpamitan setelah membayarkan kopinya, dan menaiki perahu nelayan yang menjemputnya.

“Hati-hati, Nak.” ucapku tulus. Kami, saling melambaikan tangan hingga perahu itu menghilang dari pandangan. Aku membereskan gelas kopi si anak muda, saat seseorang menepuk bahuku lembut.

“Boleh minta dibuatkan kopi, Ibu?” aku menoleh cepat, bingung karena perahu nelayan yang menjemput si anak muda tadi tidak menurunkan pelancong baru. Dan di depanku, berdirilah dia, si wanita cantik dalam potret anak muda dari Minang.

“Bundo Rahmi?” Tanyaku ragu. Wanita itu hanya tersenyum.

Note : 693 kata, bersambung ke day #3

Advertisement

36 thoughts on “Day#2 Pagi Kuning Keemasan

  1. Makin penasaran dengsn bundo rahmi, ini ffnya sambungan kemarin rin?
    ___
    Iya Teh, mo dibikin sambung menyambung aja lah 15 episod *mabok sigana da* hahahahaha

    Like

  2. awalnya kukira yang menjadi tokoh utama/si pencerita adalah orang ketiga, tapi ternyata ‘Si Aku’ yah 😀 aku sebenernya penasaran Teh dg alasan knp tidak banyak wisatawan yang berani ke pulau Lengkuas dengan menumpang perahu nelayan??? coba dijelaskan singkat saja, pasti seru 😀 #tampaknya akan terus berlanjut yah kisah Si Bundo Rahmi 😀
    ___
    Logikanya sih ya karena takut (tidak aman) Sarah, perahu nelayan kan berbeda dg perahu boat atw kapal yang biasa dipakai menyeberangkan wisatawan, aku memang tidak ingin menjelaskan sepertinya he he.
    Tengkyu eniwey untuk masukannya yaa *kiss…kiss…*

    Like

  3. #ah, serius dia.. #bundo rahmi berpetualang #selama 15 hari.

    makasih nak,
    jikapun bukan bundo rahmi nama perempuan itu
    ff ini tetap luar biasa, orin

    nanti mak ke sini lagi ya
    #speechless..
    ___
    Huwaaa…Bundo rahmi muncul qiqiqiqi. Terima kasih untuk eMak yg sudah menginspirasi, walopun entah ini kelanjutan (apalagi ending)-nya gimana. Seru2an aja ya Mak he he he

    Like

    • meskipun eMak gagal casting AADC
      setidaknya di sini berhasil jadi pemeran siluman.

      #pemeran siluman bisa hilang dan muncul kapan saja.. 😛
      ___
      hahahaha…maaf ya Mak, nanti Orin bagi deh royaltinya *halah* qiqiqiqi

      Like

  4. Ah, si tukang foto berasal dari Aur, Bukittinggi, daerah asalku, hahhaa.
    salam kenal btw
    ___
    Nah, berarti dirimu tetanggaan sm Bundo Rahmi ‘beneran’ hihihihi
    salam kenaaal, terima kasih sudah berkunjung ya 😉

    Like

  5. haa…?? kok tiba-tiba nongol? Pasti Bundo Rahmi punya ilmu meringankan tubuh dan bisa menghilang *keracunan novel Wiro Sableng* 😀

    Keren bang’ggeeett…! *masih menunggu novel pertama Orin*
    ___
    Qiqiqiqi…sepertinya cerita Wiro Sableng mengendap di alam bawah sadarku mba Dew *tsaaaah*
    Aamiin…siapa tau besok2 ada novel berjudul “Bundo Rahmi” di toko2 buku 😉

    Like

  6. Eh.. bunda Rahmi udeh ketemu, cepetan mbakk.. kasih tau ke anak muda tadi #ehh 🙂

    besok pasti ada lanjutan ff ini *pantengin terus akh..*
    ___
    hehehe..iya nanti aku panggil si anak muda Nay 😀

    Like

  7. Aiiiii…Penasaran..Ngapain Bundo Rahmi tiba-tiba muncul disana ya? Dan kapan pulak datangnya..Ayuh diteruskan Teh hehehe…
    ___
    Dia memang suka datang dan pergi sesuka hatinya Uni hihihihihi

    Like

  8. waduuh…padahal si tukang poto keburu pergi ya? asyik..nunggu cerita lanjutannya *apakah kali ini si ibu penjual yg jalan2 entah kemana?*
    ____
    kelanjutannya gmn ya Auntie? *binun*

    Like

  9. huhuhu tadi nulis komen tapi emailnya salah dari tab 😀 ternyata ceritanya nyambung ya rin
    ___
    iya Teh, keknya disambungin ajalah smp 15 episod hihihihi

    Like

  10. Pingback: Kepada Ummi.. « LJ.returns

  11. Idiiiih, cerita serem-kah ini, Orin?
    😦

    Apapun itu, gaya berceritanya ok lo, wawasan Orin pasti luas…dan, ehm…kreativitas Orin untuk membuat alur cerita itu bikin saya kagum…keren!
    😀
    ___
    ga bermaksud serem sih Bu Ir, entahlah jadinya begitu hihihihi. Terima kasih Ibuuu, msh belajar ini 😀

    Like

  12. Duucchhh Orin laju kepiawaianmu dalam menulis FF makin tak bisa kukejar ;(

    Aku kok tak kenal dengan Bundo Rahmi, qiiqqiii…
    ___
    Ish Ummi, kan ga perlu kejar2an kita hihihihi. Sok atuh kenalan dulu sm Bundo Rahmi 😀

    Like

  13. Owh, kereeeeennnn…..seperti biasaa… 😀
    Segera mbalik nyari yang day one 😛

    (mbacanya kebalik, Orin 😀 )
    ___
    makacih bu Cho *tersapu2 malu*. Kebolak jg gpp kk bacanya bu heuheuheu

    Like

  14. *ambil nafas, mengejar ketertinggalan FF apik ini*

    “Siapa gerangan anak muda itu, Bu”, tanya perempuan itu sambil menyeruput kopinya.

    “Dia mencari Bundo Rahmi, katanya”

    “Untuk apa?”

    “Entahlah.. barangkali dia terlalu mengidolakan Bundo. Mungkin menurutnya Bundo Rahmi mirip dengan Nirina Zubir…”

    Like

  15. Pingback: Kepada Ummi.. « LJ.returns

  16. Pingback: CerBung – Cerita Bersambung | danikurniawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s