#FFHore : Semangkuk Bakso Tahu

Jalanan lengang. Rupanya semua orang pergi berdemo. Mereka berjuang berteriak mengiba agar BBM tak perlu dinaikkan katanya. Siapa pula yang peduli? Siapa yang akan mendengarkan? Setidaknya, aku tidak peduli dan tidak ingin mendengarkan.

“Djarum-nya satu bang.” seorang sopir angkot memanggilku.

“Sewa lancar bang?” tanyaku basa basi. Yang hanya dia jawab dengan dengusan sebal. Membuatku berlalu setelah menerima recehan yang sebelumnya berserak di dashboard. Aku juga tak peduli padanya. Biarkan saja angkotnya sepi penumpang, yang penting satu batang rokokku terjual.

“Bang, nuker donk.” Kali ini seorang anak SMA jangkung berkacamata menjawil bahuku seraya menyodorkan selembar uang biru bergambar Ngurah Rai. Kali ini aku yang menjawab -dan menolak- si abege dengan dengusan tak suka. Kalau saja aku punya uang semacam itu, meski hanya satu lembar, maka tak perlu aku berbohong pada Bapak yang sedang sakit, bahwa mang Iyan -si penjual bakso tahu- tidak jualan kemarin.

Rahangku mengeras saat menatap anak lelaki bercelana abu-abu ketat yang beranjak menjauh itu, betapa senang hidupnya, yang bisa menikmati bermangkuk-mangkuk bakso tahu mang Iyan dengan mudah. Sementara aku? Kepingan uang logam di tas pinggangku rasanya belum seberapa. Apakah nanti malam aku juga harus kembali berbohong mang Iyan tak jualan? Jika membawa Bapak ke dokter adalah mukjizat bagiku, apakah juga perlu keajaiban untuk sekedar membelikannya semangkuk bakso tahu?

“Bang, aqua gelasnya satu.” seorang wanita muda bermandi peluh memanggilku dari halte. Aku menghampirinya gontai. Tambahan keping lima ratus perak darinya masih jauh dari anganku atas semangkuk bakso tahu untuk Bapak.

“Tissue ada bang?” tanyanya lagi. Aku sodorkan sebungkus tissue padanya. “Permen juga deh.” katanya lagi. Siang yang terik ini terasa sedikit lebih sejuk buatku kini. Selembar lima ribuan kini pindah ke tanganku. “Kembaliannya buat abang aja,” kembali si wanita muda berkata. Oh, ternyata Tuhan memang ada!

Tersenyum aku berlalu tanpa kata dari hadapan si wanita muda. Tak perlu menunggu sampai malam. Uang ini akan segera aku tukarkan untuk semangkuk bakso tahu mang Iyan yang diidamkan Bapak. Tergambar di kepalaku betapa bapak akan menikmati setiap suapnya nanti.

Saat beberapa langkah lagi kakiku sampai di warung bakso tahu mang Iyan, Asep -tetangga rumah petakku- berlari tergopoh menghampiriku.

Kunaon Sep?” tanyaku cepat.

“Kang Ujang… Bapak pupusnembe pisan..” jawab Asep perlahan.

***

Note :  359 kata

* kunaon = kenapa

** pupus = meninggal dunia

*** nembe pisan = baru saja

Advertisements

38 thoughts on “#FFHore : Semangkuk Bakso Tahu

  1. akhirnya teteh ikutan.. mel malah belum dapat pangsit nih teh.. hiks.. semoga besok belum terlambat buat meramaikan 😀

    Orin : iya nih Mel, setelah skip banyak judul hihihihi

    Like

  2. Lain kali kalau orangtua minta sesuatu segera penuhi sepanjang masuk akal. Siapa tahu itu adalah permintaannya yang terakhir.
    Kasep FFnya. Saya mau mbuat ach, belajar dari nak Orin

    Salam sayank selalu

    Orin : heuheu…FF yg kasep. matur nuwun sanget Pakdhe ^^

    Like

  3. innalilahi teh. sedih atuh ending na. banyak yang menolak keinakan BBM ya teh. banyak juga yang gak peduli sih..semoga ada jalan lebih baik ah, amin..

    Orin : cuma fiksi kok Minx 🙂

    Like

  4. Salam Takzim
    Mau dong Jarumnya bang sebatang buat nemenin neduh nih di rumah mbak Orin
    Selamat berkarya mbak Orin
    Salam Takzim Batavusqu

    Orin : Aaah senangnya kak Isro mampir lg. Banyak jarum di rumahku kang, jarum jahit tapi hihihihi

    Like

  5. Ateu Orin doyan baso tahu ya…??
    Rafi juga kok…
    hehehe…

    langganan qta baso tahu Imam Bonjol…
    mau nyoba…??

    Orin : Asyik, nanti kalo ateu ke bandung ajakin ngebakso tahu imam bonjol yaa 😉

    Like

  6. hix, kok mendadak sedih sih mbak.. tapi sukaaa, mbak Yin sekarang luar biasa dah kalo soal FF.. dhe belum jago mbak, niat bikin FF tapi sering kebablasan, dan berakhir menjadi cerpen.. hehe

    Orin : masing2 ada tantangannya tersendiri ya Dhe, seru pokonya mah 😀

    Like

  7. innalillahi wa inna ilaihi rojiuun…..
    akhir kisah yang mengharukan dan ini menunjukan kemampuan Teh Orin ber ff yang semakin mantap. Lanjutkan, Teh. Dan hanya di cerita fiksi kita bisa membuat ending yang ‘sesuka hati’

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s