Menulis Fiksi Itu…

Tak tergambarkan dengan kata-kata *lebay dot com*.

Tapi itu betul, setidaknya bagi saya ya hehehe. Berhasil mengikuti tantangan #15HariNgeblogFF adalah pencapaian tersendiri bagi saya. Ternyata, saya bisa mengalahkan mood menulis saya yang masih suka berfluktuasi sesuka hati itu, dan resepnya sama kok, cuma satu dan cukup sederhana : komitmen. Walaupun -bagi saya- aplikasinya selalu lebih sulit daripada sekedar dikatakan.

Saya salut kepada beliau berdua yang kepikiran dan memfasilitasi program seperti ini. Bagi penulis amatiran seperti saya, menentukan judul adalah hal terberat. Maka saat si judul sudah ditentukan, saya akan bersenang hati berpetualang dalam imajinasi di kepala saya untuk menuliskan sebuah cerita. Dari ke-16 cerita yang berhasil saya buat, tidak semuanya memuaskan bagi saya, tapi ya tetap saja, saya menepuk pundak saya sendiri menghormati apa yang sudah berhasil saya lakukan, walaupun masih belum apa-apa sepertinya ya :p

Konon, penggagas tantangan ini mba @WangiMS dan mas @momo_DM, akan membukukan beberapa FF terpilih dari setiap judul. Saya tidak berharap banyak ada tulisan saya yang terpilih, wong cerita saya kebanyakan geje begitu ya *sadar diri*, tapi sekali lagi, ini adalah pencapaian saya pribadi, yang sungguh sangat syukuri, karena saya sedang berproses dan bertumbuh, di jalan -yang semoga- tepat.

Saya ingin berterima kasih pada masmin dan yumin, serta teman-teman yang bersedia membaca cerita-cerita geje saya tersebut, khususnya bagi yang mengapreasiasinya dengan tulus. Entah saya pernah membaca di mana, “kritikan adalah vitamin, pujian adalah cemilan” bagi penulis, yang keduanya bisa menyehatkan, tetapi bisa juga mematikan jika berlebihan, bukan?

Tapi tetap saja, menulis pada awalnya adalah untuk diri sendiri, begitu yang dikatakan Maggie (guru saya waktu pelatihan) waktu itu. Dan saya mengamininya, karena terlepas tulisan itu disukai pembaca atau tidak, proses menulis -dari mulai menelaah ide, berimajinasi, mencari tokoh, memilih karakter, menentukan plot dan setting, menciptakan dialog dan narasi, de es be- itu, adalah kesenangan tersendiri bagi si penulis. Ish…meni gaya ya bahasa saya hahahaha.

Well, impian terbesar saya masih tetap sama, yaitu melihat nama saya di kaver sebuah novel. Pertanyaan berikutnya adalah : kapan? Ugh…izinkan saya ngumpet dulu ya temans mihihihi..

Advertisement

14 thoughts on “Menulis Fiksi Itu…

  1. Bismillah, semangat terus Orin, Insya Allah akan segera terwujud sebuah karyanya. aku missed nih di acara itu, Insya Allah kalau ada lagi berusaha sekuat tenaga untuk ikuan. Sukses buat Neng Orin

    Like

  2. Di facebook banyak diadakan audisi menulis, Teh. tapi ya itu, untuk antologi. Sebaiknya mbak Orin nulis saja sendiri, saya perhatikan ( walau tidak di semuanya saya berkomentar ), kemampuan menulis Teh Orin tak meragukan. Ayo semangat! saya dan sahabat lainnya mendukung!

    Like

  3. saya setuju dengan tulisan ” proses menulis -dari mulai menelaah ide, berimajinasi, mencari tokoh, memilih karakter, menentukan plot dan setting, menciptakan dialog dan narasi, de es be- itu, adalah kesenangan tersendiri bagi si penulis”.
    karena dengan cara itu, kita jadi ngerti..seperti apa gaya bertutur kita dan akhirnya hanya kita sendiri yg bisa menilai batas kemampuan menulis diri sendiri..:)
    shake hand teh..congrats 🙂

    Like

  4. ngumpet sambil nulis novel.. hehe.. semoga cita2 dan harapan terwujud yah RIn…

    selamat dong RIn, menulis fiksi itu nggak mudah… dan hadiah terbesar kan apresiasi buat diri sendiri… 🙂

    semoga sukses ya Rin,, i like your stories 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s