Sebuah Doa Sunyi

Di suatu senja yang muram.

“Kenapa kau termenung begitu kawan?”

“Aku merasa sedih…”

“Sedih? Karena senja yang muram ini kah?”

“Tidak, aku selalu menjadi pecinta senja. Tidakkah kau tahu banyak keajaiban terjadi saat malam belum benar-benar datang sementara siang sudah hampir menghilang?”

“Ya, dan kau sudah menceritakan kisah ajaib itu padaku, entah berapa ratus kali, aku tak ingin mendengarnya lagi. Setidaknya tidak sekarang.”

Jeda yang membingungkan.

“Jadi, apa yang membuatmu sedih.”

“Bumi yang kita pijak ini penuh darah dan air mata. Udara yang kita hirup dengan bebas ini dulu beraroma kematian. Kau tentu tahu itu bukan?”

“Ya, aku menjadi satu dari sekian banyak saksi saat itu terjadi. Tapi apa hubungannya dengan kesedihanmu?”

“Tidakkah kau sadari tak ada lagi yang peduli akan perjuangan dan pengorbanan itu?”

“Maksudmu? Bukankah mereka itu masih upacara bendera saat 17 Agustus? Hari pahlawan masih diperingati setiap tanggal 10 Nopember, kau juga pasti tahu ada patung Jenderal Sudirman yang sangat besar di jalan sana kan?”

“Ah…itu cara yang sangat dangkal. Kosong. Tidak ada esensinya.”

“Aku masih tidak mengerti.”

“Kau lihat para pejabat di gedung megah itu? Mereka menodai perjuangan sekian ribu nyawa untuk kemerdekaan bangsa ini dengan korupsi, korupsi, dan korupsi!!!”

“Hmm…”

“Lihat mereka, para pemuda di jalanan itu. Kakek-nenek mereka dulu mungkin terpisah karena perang, menderita berbulan-bulan kekurangan makan, harus berjuang dengan fasilitas seadanya, untuk kemudian gugur dan dimakamkan tanpa nisan. Tapi apa yang mereka lakukan sebagai balasan untuk itu semua? Dugem? Narkoba? Hidup yang hedonis? Tak berguna!”

“Hei…kenapa se-apatis itu kawan? Tidak semuanya begitu lho.”

“Oh ya???”

“Lihat anak kecil itu, dia menghiasi sepeda roda tiganya dengan bendera merah putih dari kertas, bahkan dia memakai kaos berlambang burung Garuda. Bagimu mungkin terlihat sebagai simbol belaka, tapi bukankah dia diajarkan untuk segera paham bahwa Sang Saka dan Garuda itu yang harus dia bela kelak?”

“Hmm…”

“Lihat sekumpulan anak muda itu. Mereka tidak hanya bisa berdemo membawa spanduk dan berteriak-teriak dengan toa ke sana ke mari, tetapi mereka juga berkarya, juara olimpiade Fisika mengalahkan negara-negara lain, berhasil membuat robot canggih, bahkan menjadi enterpreneur yang mampu membuka lapangan kerja. Tidakkah itu bisa diartikan mereka selalu mencintai tanah kelahirannya?”

“Maafkan, sepertinya aku telah memakai kacamata kuda yang salah, memandang semuanya sama belaka, padahal selalu ada yang berbeda di setiap masa.”

“Tak mengapa teman, karena aku juga melihatnya. Banyak sekali kebobrokan di sana sini. Tak akan cukup waktu kita memperbincangkannya, bahkan hingga senja kembali menjelang esok hari,karena  daftarnya terlalu panjang.”

“Betul kawan, tak berguna juga mengeluh dan memaki sepertiku tadi. Tapi apa yang bisa kita lakukan?”

“Berdoa, kita selalu bisa berdoa. Untuk kemerdekaan tanah yang kita pijak ini, untuk kebebasan udara yang kita hirup ini. Doa sederhana yang tulus akan didengarNYA.”

“Tapi aku hanyalah sebatang pohon tua, dan kau hanyalah seekor burung pipit yang juga renta. Akankah Tuhan mendengar doa kita berdua?”

“Kenapa tidak? Bukankah kita pun adalah makhukNYA? Doa sunyi kita mungkin tak terdengar mereka, tapi Tuhan Yang Maha akan selalu mengerti.”

“Kau benar! Mari kita berdoa untuk INDONESIA yang lebih baik.”

“Aamiin…”

Gemintang berkerlip, rembulan muncul perlahan, malam datang dengan sempurna.

***

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Mba Nia, Teh Lidya, Pakde Abdul Cholik.

Sponsored By :

29 thoughts on “Sebuah Doa Sunyi

  1. Terimakasih atas partisipasi sahabat dalam kontes CBBP
    Artikel sudah lengkap…..
    Siap untuk dinilai oleh tim Juri….
    Salam hangat dari Jakarta…..

    Orin : Eh, ada ibu juri. Terima kasih sudah diresmikan ya Bu hihihi

    Like

  2. Gemintang berkerlip, rembulan muncul perlahan, malam datang dengan sempurna.
    Dan akupun tertidur dalam damainya malam yg sunyi… hihihih

    mantap bun,,,,
    sudah kaya sastrawan aja…. 😀

    Orin : hahahaha….endingnya yg luar biasa Mab hihihi… Sastrawan apaan, wong ngasal begituh 😛
    merdekaaa.. !!!

    Like

  3. Tuhan mendengar doa siapa saja, karena semua adalah mahluk ciptaan-Nya. Nah, yuk kita berdoa rame rame untuk negeri ini.

    Hehehe.. itu penegasan dari postingan ini Mbak. Semoga menang ya Mbak Orin..

    Orin : Berdoaaa : mulai…
    hehehe…tengkyu masbro, sukses jg untuk dirimu ya 😉

    Like

  4. lam kenal yach…jd terharu nich…smoga qt slalu di lindungi oleh allah swt ….amiennn..jgn lupa mampir2 yach …

    Orin : Terima kasih sudah berkenan mampir 🙂

    Like

  5. biarlah do’a ini mengalir kita sematkan pada para pejabat koriuptor yang tidak amanah, Insya Alloh masih ada intelektual bersih yang membangkitkan negara ini dari keterpurukan

    Orin : Sepakat Pak Ies, semoga para intelektual bersih semakin bertambah ya Pak. Aamiin…

    Like

  6. Subhanallah… Sebatang pohon dan seekor burung pun turut berdoa untuk negeri… Ahya, kenapa harus dilihat yang negatif? kenapa nggak lihat yang positif..?
    begitu banyak anak muda cerdas di negeri ini, justru merekalah yang patut mendapat sorotan ya…

    Orin : Terkadang bnyak yg sudah skeptis bin apatis ya mba, pdhl masih banyak harapan kok, harus selalu optimis untuk kebangkitan negeri kita tercinta 😉

    Like

  7. Aku juga turut berdo’a untuk Indonesiaku…
    *gak mau kalah sama pipit dan pohon 😀
    Semoga sukses pada kontesnya ya, Rin… 🙂

    Orin : mari berdoa sama2 Ka ^^ Tengkyu Kakaaaa, ceritamu mannna?? *judes*

    Like

  8. suka dg kalimat ini,,,

    Tapi aku hanyalah sebatang pohon tua, dan kau hanyalah seekor burung pipit yang juga renta. Akankah Tuhan mendengar doa kita berdua?”

    “Kenapa tidak? Bukankah kita pun adalah makhukNYA? Doa sunyi kita mungkin tak terdengar mereka, tapi Tuhan Yang Maha akan selalu mengerti.”

    teteh mmuaaahhh…^^

    Orin : muaach jg Put hehehe… tengkyu ya Neng 😉

    Like

  9. langsung terbakar gelora saya pas baca artikel ini.. maklum juga pakai kaos garuda nih di sini.. serius saya membacanya.. ehm ternyata yang dialog sebuah pohon tua dan burung pipit toh.. yah, jika saja merka mau berdoa supaya negeri ini menjadi lebih baik, kenapa kita enggan juga mau berdoa?

    yo wis ayo bareng-bareng berdoa semoga negeri ini diberi kemudahan dalam hal apa saja.. yang melarat bisa segera terangkat, yang suka main embat duit rakyat juga mau segera bertobat..

    amiin..amiin.. ya Robbal Alamin

    tertanda,
    Ketua pengajian kampung Melawai Jember

    Orin :
    Kepada yg terhormat ketua pengajian kampung Melawai Jember
    Terima kasih banyak untuk apresiasi dan doa baiknya… Yuuuk mariii kita berdoa bersama2 untuk negeri kita tercintah ini ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s