Sang Tokoh Berinisial “A” itu adalah…

Mungkin kah Agung Rangga itu? Atau Asop sang mahasiswa ITB? Atau Neng Ais Ariani the dramaqueen? Oh, atau Abdul Cholik sang komandan BlogCamp? Hehehe… maafkan, saya yang sedang ngaco ini teman.

Saya memang tidak terlalu suka  mengikuti berita, hanya sekedar tahu garis besarnya saja (baca : Cuma nonton semacam headlines news he he). Tapi karena seharian ini saya di rumah dan suami tercinta hampir selalu menonton berita, tahu lah saya soal Pak Anu dari partai anu yang mengatakan bahwa tokoh berinisial “A” dari partai anu mencoba untuk anu *halah*. Begitulah, para pecinta berita pasti tahu siapa dan apa yang saya maksud bukan?

Tidak, saya tidak ingin membahas kasus tersebut. Mau pengalihan masalah lah, mau politik adu domba lah, sak karepmu wae  lah he he. Saya hanya  sedang mencoba belajar untuk memaknainya.

Saya percaya, segala sesuatu yang terjadi pada saya –seburuk apapun itu- adalah atas izin Beliau Sang Maha Segala, yang tujuannya tak lain dan tak bukan, adalah untuk memuliakan saya, menaikkan kelas saya, menjadikan saya sebagai saya yang lebih baik dari sebelumnya.

Pemikiran itu kembali timbul saat saya mendengar pernyataan Pak Anu tadi. Tentang fitnah. Tentang menjadi ‘korban’ dari kesewenangan orang lain. Tentang menjadi sang obyek penderita. Tentang menjadi  terdakwa atas kesalahan yang tak pernah dilakukan. Pernahkah sahabat mengalaminya? Jika pernah, bagaimana sahabat menghadapinya?

I’ve been there once.  Dituduh melakukan sesuatu yang tidak saya lakukan. Marah? Tidak, saya hanya merasa sedih, karena (mungkin) itu berarti saya telah melakukan kesalahan dan ‘ditegur’ dengan fitnah tersebut. Juga sedih karena ternyata saya salah mempercayai teman. Tapi karena saya memang tidak melakukan hal yang dituduhkan, fitnah itu menguap begitu saja, tak berbekas, bahkan nyaris saya lupakan, hingga mencuat kembali sesaat setelah menonton berita tadi.

Alhamdulillah, pernyataan Pak Anu tadi membuat saya mengingat ‘pelajaran’ itu di hari libur begini he he.

Well, have a great long weekend, Pals (bagi yang berlibur, bagi yang tidak, saya temani, saya juga ngantor kok 😀 😀 :D)

27 thoughts on “Sang Tokoh Berinisial “A” itu adalah…

  1. tumben bisa pertama nih….saya udah lama banget ga mau ilutin berita tivi…bikin penyakit aja….minimal tekanan darah tinggi….karena kesel…kesel….kesel….

    Orin : Persis mas Necky, saya merasakan hal yg sama, makanya sangat jarang sekali menonton berita.

    Like

  2. Jadi obyek fitnah sih sering tapi kucuekin saja. Yang penting tidak. Dijelasin akan jadi seperti membela diri, dibiarkan juga kasian di pemfitnah. Tapi… prinsipnya sih jika dia rela memfitnah, tentu tahu konsekueansinya, dong. Jadi lupakan dan maafkan.
    Hmm.. jadi ingat kalimat ini membuatku pernah diblacklist sahabat facebook & kena fitnah. Saatnya kembali ke Maafkan dan lupakan, ya…

    Orin : Dilematis memang ya mba, waktu itu yg beramai-ramai menjelaskan justru teman2 saya, saya mah diem2 aja, wong ga salah ya he he.
    Yup, mungkin seharusnya memaafkan dan melupakan dengan ikhlas 🙂

    Like

  3. pernah dulu saya difitnah,,tapi namanya kebenaran itu memang membutuhkan kesabaran dan keuletan untuk membuktikan kita tidak bersalah,,jangan hanya pasrah itu keliru,,kita harus berusaha untuk merubah keadaan,,dan hasilnya alhamdulillah clear

    Orin : Semoga ke depannya kita dijauhkan dari ujian Fitnah ini ya Sofyan 🙂 Aamiin

    Like

  4. Itu mah gonthok-gonthokan memperebutkan jatah bagain yang gak pas diterima. Wes saya gak ikutan yang beginian 😦

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Orin : Sama mas, saya jg ga mau ikutan ah >_<

    Like

  5. Tapi kadang pilihannya jika kita merasa sesuatu dikatakan tidak baik tentang kita yang kenyataan tidak demikian, apakah akan kembali menyampaikan apa yang sebenarnya, atau membiarkannya berlalu begitu saja.

    Orin : Dilematis ya Bli, karena menurut saya, tujuan fitnah memang bukan untuk mencari kebenaran, jadi tidak akan berpengaruh banyak untuk si pemfitnah entah kita menjelaskannya atau hanya mendiamkannya.

    Like

  6. jadi objek pemfitnahan memang menyakitkan.. tapi kita harus yakin bahwa Allah maha tahu siapa yang benar dan salah..

    salam kenal dari saya yang juga berinisial ‘A”.. hehe..

    Orin : heuheu…maaf ya mas Anank, meminjam inisial namamu 😀

    Like

  7. Aku jarang ngikutin berita kayak beginian, Rin… males.. cukup headline news aja… selebihnya mending nonton Disney… menghibur.. hehehe…

    setuju Teh Orin… kejadian buruk di masa lalu mudah2an bisa ada hikmahnya utk qta skrg ya… *sedang introspeksi*

    btw, senasib nih Rin qta… aku jg masuk kerja… yo wis ora opo… semangaaat…! hehehe…

    Orin : hahaha…sesama pecinta Headline News nih.. Ayo semangaaaaat 😉

    Like

  8. Jadi omongan orang sungguh tak nyaman (bagi yg blom tebal muka / kuping, hehe…) Kalau aku, selama mereka ngomong dibelakangku yo wis lah, gimana lagi, kecuali mereka langsung nanya ke aku barulah disitu aku jelaskan panjang lebar… Halaah opo to iki, malah ngelantur… Sori Rien…

    Orin : iya Auntie, aku pikir jg harusnya begitu, kalo ada yg nanya baru dijelasin he he

    Like

  9. Bhwahaha, soal berita pak anu partai anu ngaliin anu nuduh anu dan jadi polemik anu, itu anuku setiap hari… Makanan maksudnya. \m/

    Orin : hebat banget mba Is makanan sehari2nya anu hihihihi

    Like

  10. sudah jemu dengan berita seperti itu Rin,
    makanya timbul artikel berpikir positif berkomentar positif beberapa hari lalu

    Orin : Sepakat Bun, kita ambil positifnya aja yuks 😉

    Like

  11. Untung aku inisialnya M, hihihi…

    Bunda Aisyah, r.a. aja difitnah sampe jatuh sakit… Apalagi yang imannya masih lemah kaya aku ya…
    Na’udzubillah…

    Orin : Hai Mida, kemana aja Jeng? kalo aku malah R Mid *halah*
    Aamiin, semoga kita terhindar dari fitnah ya..

    Like

  12. Saya juga berinisial “A”. Hehehehe

    >>>Nitip pesan buat semua:
    Saya ada tantangan buat para blogger Indonesia, ki. Yang siap bisa langsung ceck TKP di blog saya.

    Orin : Eh, ada mas Alam, kesuwun sudah berkenan mampir mas. Tadi saya udah kesana, InsyaALLAH nanti ikutan, ta’ cari wangsit dulu he he

    Like

  13. Hahahahaaha kok saya sih? 😆

    Jadi, siapa ya Mbak, yang jadi sumber penebar fitnah di tipi2 itu?
    *penasaran*

    Orin : Ups…maabh ya Sop hihihihi..
    Nah, sok kamu cari tau, kalo udah tau kasih tau aku deh hahaha…

    Like

  14. Kalau mengalami hal itu, biasanya reaksi pertama saya adalah nangis…*cengeng forever*.

    Setelah itu saya juga meyakinkan diri sendiri, setelah ada sesuatu yang tidak menyenangkan, biasanya ada hadiah yang membahagiakan. Jadi dijalani saja sambil terus bertahan.

    Yang ketiga, saya belajar buat ikhlas dan berjanji dalam hati, tidak mau melakukan perbuatan serupa pada orang lain…
    🙂

    Orin : Nangis mah alamiah Bu Ir, bukan indikator cengeng he he.
    Suka banget dengan point ke-3, reminder yg bagus memang ya 🙂

    Like

  15. Untunglah selama ini saya belum pernah menjadi korban fitnah…dan mudah2an gak akan pernah mengalami hal seperti itu……soale saya akan sangat galak kalo ngga merasa salah tapi disalahin…makanya ngga ada yg berani memfitnah saya hehehe…

    Orin : jadi pengen belajar galak sm mba Nia nih..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s