Topeng Kaca

Saya bukan orang gaul yang selalu up to date dalam hampir semua hal. Misalnya saja, saya baru membuat akun Friendster saat Facebook sudah mulai diminati. Lantas atas ‘paksaan’ dari teman-teman yang sudah berfacebook ria. saya pun memiliki akun Facebook justru saat yang lain sibuk berpindah ke Twitter. Akun twitter saya buat tanpa menggunakannya dengan aktif setelah pembuatannya. Yahh…begitulah, saya memang bukan seorang sosialita yang selalu mengikuti perkembangan zaman.

Blog pun demikian. Sejak lama teman-teman saya memiliki blog di Multiply. Saya adalah pembaca setia blog-blog mereka itu. Tanpa ada keberanian saya melakukan hal yang sama. Selain menjadi pengunjung MP teman-teman, saya juga rajin membaca blog-blog orang terkenal. Sebut saja penulis favorit saya Dewi Lestari, atau penulis-penulis lainnya seperti Fira Basuki, Asma Nadia, Raditya Dika, Ninit Yunita, hingga Yoris Sebastian dan Sujiwo Tedjo.

Saya memang suka menulis, bukan berarti bisa menulis ya, mungkin karena saya cenderung pendiam, sehingga seringkali saya ‘menyuarakan’ pendapat saya lewat tulisan. Tapi sebelumnya selalu untuk konsumsi saya sendiri. Hingga suatu waktu, saya cukup rajin menulis di sebuah milis. Lantas kemudian ada seorang teman yang menyukai tulisan-tulisan saya itu, dan meminta saya menjadi salah satu kontributor penulis di blog yang dikelolanya. jadilah tulisan-tulisan saya yang sudah terpublish di milis tersebut, kemudian akan muncul lagi di blog teman ini, yang beralamat di blogspot dan satu blog lainnya dengan domain berbayar.

Entah kenapa saya mulai enggan menulis ‘serius’ di milis tersebut. Dan dengan demikian, berhenti pula lah ‘sumbangan’ tulisan-tulisan saya di blog sang teman, bahkan blog berdomain itu hilang dalam peredaran, tetapi yang blogspot masih dikelola dengan baik. Ada jeda yang cukup lama saya tidak menulis lagi, hingga pada akhirnya saya begitu rindu untuk menulis. Itulah kenapa saya berpikir untuk mulai memberanikan diri memiliki blog saya sendiri. Voila…lahirlah blog ini Februari 2010 atas bantuan seorang sahabat, saya kelola hingga sekarang dan mudah-mudahan akan bertahan sampai saya tidak mampu menulis lagi.

Apa hubungannya dengan Topeng Kaca?

Sahabat pernah tahu komik Topeng Kaca? Saya membacanya saat SMU dulu. Kisah Maya Kitajima dan Ayumi Himekawa dalam komik tersebut selalu saya ingat hingga sekarang. Mereka adalah para pemain drama yang bisa memainkan semua peran. Seolah mereka memiliki sebuah topeng dari kaca, yang bisa menyembunyikan diri asli mereka, dan berubah menjadi apapun dan siapapun di atas panggung dalam pertunjukkan drama yang mereka mainkan. Dan proses menyelami suatu karakter untuk dimainkan, telah menjadikan mereka pribadi-pribadi yang bertumbuh tanpa mereka sadari.

Blog ini adalah topeng kaca saya.

Mungkin saja terlalu absurd, tetapi melalui menulis di blog saya telah bertumbuh. Saya bisa menjadi apa saja dan siapa saja saat menulis, tidak ada aturan apapun karena ini adalah blog saya sendiri bukan? Tapi justru dengan cara itu pulalah, saya telah menjadi pribadi yang berbeda. Kenapa? Tidak bisa saya jelaskan dengan mudah.

Tapi yang jelas, ngeblog memungkinkan saya yang (agak) pendiam ini memiliki banyak sahabat maya. Saya yang di dunia nyata akan sangat malu untuk mengajak berkenalan terlebih dulu, dengan ajaibnya bisa sangat berani menyapa dan berteman dengan sang pemilik blog yang saya hinggahi.

Dengan membaca tulisan-tulisan sahabat yang beragam, secara tidak langsung mempengaruhi cara menulis saya. Jika sebelumnya tulisan saya cenderung serius dan mendayu-dayu, belakangan saya ternyata bisa juga menulis dengan gaya menulis ringan bahkan (mungkin) lucu. Sebuah fakta yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Blog ini telah berhasil dengan sukses memaksa saya untuk terus menulis, mengharuskan saya untuk mencari ‘topeng’ lain saat mengikuti kontes atau lomba tertentu, sebuah paksaan manis yang menggembirakan.

Tumbuh. Karena pada awal pembuatannya saya hanya ingin menjadikannya semacam ‘diary digital’ bagi kehidupan saya. Yang kemudian saya sadari blog ini telah bergerak menuju sesuatu yang lebih dari itu. Entah apa, saya belum bisa menemukan kata yang bermakna sama.

Banyak yang belum saya pelajari dalam dunia per-bloger-an ini, dan hal tersebut membuat saya akan betah berlama-lama di sini, berbeda saat saya terpesona para jejaring sosial yang sensasinya -bagi saya- cenderung hanya sesaat. Sehingga saya bisa tetap berpetualang mencari topeng kaca-topeng kaca berikutnya. Semoga πŸ™‚

***

Tulisan ini disertakanΒ  dalam Blogger Return Contest, yang diselenggarakan olehΒ  Mbak Anazkia, yang disponsori oleh Denaihati.

24 thoughts on “Topeng Kaca

  1. horeee kontes lagi,,,,, πŸ˜€
    smoga sukses ya bun kontesnya…

    dan saya suka postingan ini,,, πŸ™‚
    terus menulis bun, sampai titik darah penghabisan,, halaaah.. πŸ™‚

    Orin : sampai titik darah penghabisan?? hohoho… I like that Mab πŸ˜‰ Tengkyu yaa

    Like

  2. Salam kenal ya..saya juga pendiam tapi kalau lagi bo2 hehe..wah,saya juga penggemar topeng kaca,tapi sayang ceritanya gak tuntas2…moga menangnya

    Orin : hahaha…yakeeen kalo lg bobo jadi pendiam :p

    Like

  3. aku juga punya twitter tapi gak update, aku bukan orang yang selalu mengupdate semua kegiatan ke orang lain πŸ™‚

    Orin : sama mba Lid, Orin jg tidak se-narsis itu *halah* he he

    Like

  4. Kalau saya …
    Selalu berusaha untuk menjadi diri saya sendiri …
    dengan tetap mengedepankan prinsip
    tidak nyontek – tidak bohong dan tidak jorok …

    Sukses di perhelatan Blogger Return Orin

    Salam saya

    Orin : Prinsipnya keren banget Om. Orin tiru gpp yaa…

    Like

  5. tapi blog Mbak Orin keren banget lho..
    akumulasi kegemaran membaca kayaknya

    Orin : hah? dibilang keren oleh blogger secanggih mas Gie??? speechless saya…
    Terima kasih banyak ya mas πŸ™‚

    Like

  6. topeng kaca … topeng yg tembus pandang dunk?
    realitanya, orin akan selalu berpegang pada prinsip ‘transparansi yang terukur .., πŸ˜›

    Orin : “transparansi yang terukur”, canggih banget statemennya Om he he.. Tengkyuuu πŸ˜‰

    Like

  7. alasan awalku ngeblog dulu di taun 2005 jg kek gitu teh, diary. Karena pendiam, semua uneg-uneg, kata-kata yang susah aku luapkan, semua tumpah di situ πŸ™‚

    Orin : Salaman ah sm mba Phiy hehehehe

    Like

  8. Jadi tau deh sejarahnya Orin nge-blog πŸ™‚

    Saya sependapat kalo blog itu seperti diary digital, tapi tentu saja nggak se-ekstrim itu, di buku harian yang cuma dibaca sendiri kita lebih bebas berekspresi, tapi di blog pasti ada norma-norma yang harus dipatuhi…hihihihi…komentar sok pinter nih πŸ˜›

    Orin : Sepakaattt.. Itu dia maksud Orin Bu Ir ‘topeng kaca’ walaupun transparan, tapi tidak terlihat *halah*

    Like

  9. jadi deg-deg an sama Orin nih, ternyata bisa jadi siapa saja πŸ˜‰
    saya cuma emak-emak yang ga bisa kamuflase πŸ˜€
    sukses di kontesnya ya.

    Orin : hihihi…tapi Orin bukan bunglon lho Mak πŸ˜€

    Like

  10. Aku kok ya belum pernah baca topeng kaca itu, Rin. Malesa banget, kepanjangan serinya. Aku lebih suka Pop Corn, hehehe…
    Hmm… pengen ikutan kontes ini juga ah.. biar saingan lagi sama kamuh πŸ˜†

    Orin : hihihih…iya ya Kak, dulu jg aku loncat2 bacanya, makluuum, modal minjem doang πŸ˜›

    Like

  11. Tapi…buka dulu topengmu…biar kulihat wajahmu….*peterpan mode*
    congrats buat kontesnya…..

    Orin : Eits…ada Ariel neeh hihihi
    Tengkyu mas Necky πŸ˜‰

    Like

  12. Topeng kaca, sepatu kaca, rumah kaca, ataupun kaca mata semua malah membuat semarak dunia keragaman dunia blogosphare kita. Dan dengan adanya topeng kaca ini sudah menambah koleksi topeng di musium topeng kaca-kaca yang lain πŸ˜†

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Orin : Waduh, masuk musium topeng ya mas hihihihi

    Like

  13. hahh…orin pendiam? masa sechh? kayaknya orangnya supel kalo liat dr fotonya ….kalo saya mah emang pendiam asli dan pemalu…makanya kalo mo koppdar-an suka bingung mo ngomong apa yach heheheh….

    Orin : Hehe, iya mba Nia, saya cenderung pendiam, kalo ga diajak ngobrol duluan, saya cuma senyum2 aja, ga berani memulai pembicaraan πŸ˜€

    Like

  14. Pingback: Final Daftar Peserta Lomba « Catatan Anazkia

  15. oh kamu ikut juga ya di kontes ini..kok, saya nggak ngeh ya..padahal di atas itu komentar dari saya. hehehe….sudah lupa kalo saya pernah baca artikel ini. dasar fanny pikun

    Orin : hahaha…bukan pikun mba, aku jg suka gitu kok, pas bewe bilang “salam kenal” pdhl mah sblmnya udh pernah ke sana hahaha… *eh…apa sama2 pikun ya kita?* hihihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s