Si Anak Manis

Acara Ospek Fakultas. Jam 7 lebih 10 menit. Kampus Biru.

“Heh, anak baru udah berani telat. push up kamuuuuuuu” suara menggelegar dari seorang Yakuza berwajah hitam.

Huh, mana ada yakuza item begitu. Crap. Kenapa gue mesti telat begini sih ya. Push up begini mah tapi cemen laah.. sok mau berapa kali?? Sigh.

“Kamu juga. Kelamaan dandan ya!! cepetan push up 100 kaliiii…. ” kali ini suara cempreng mirip Teteh Kunti yang terdengar.

Ah, kasian sekali si anak manis yang telat ini, pasti karena dia cantik, si Yakuza cempreng ini sirik banget jadi ngasih hukuman begitu, Beuh.

“Ngapain Kamu lirik-lirik segala, hah?” Si item dekil itu kembali berkoar. “Jalan monyet sanah!!!”

Setdah, ini mahasiswa senior apa preman terminal Cicaheum sih? Najis.

Seharian itu, para Yakuza -alias tim keamanan- Ospek kampus itu seolah berlomba berteriak. Seolah kami -para mahasiswa baru- selalu dan selalu berbuat salah. Tak ada yang terpikirkan olehku, selain suatu saat aku akan melakukan pembalasan yang setimpal pada mereka.

Tapi setidaknya, ada si anak manis yang membuat ospek itu layak untuk dijalani.

***

Seminggu setelah Ospek. Ba’da Ashar. Kampus Biru

“Hai, inget aku ga? Waktu itu kita sama-sama telat lho.” Sapaku ramah. Aku bertemu lagi dengan si anak manis itu, di halaman mushola. Wajahnya masih terlihat basah selepas sholat. Tambah manis.

“Oh? Aku tahu, kamu yang di depanku waktu itu yah? Yang disuruh jalan monyet bolak balik?” Jawabnya seraya mengulurkan tangan hangat, dan menahan tawa.

Crap. kenapa yang dia ingat justru jalan monyet terkutuk itu ya? hhh… tapi tak apa. Yang terpenting perasaan senasib sepenanggungan itu berhasil membuat kami  bersahabat.

“Aku Bram.”

“Aku Melati, panggil saja Mel. Kita bersahabat ya, Bram?” Aku mengangguk mantap. Si anak manis tersenyum, senyum yang manis, namanya pun manis. Senja yang manis.

Sejak saat itu, kami berdua nempel layaknya lem dan perangko. Terlebih ternyata kami kuliah di jurusan yang sama. Tak ada hari terlewat di kampus tanpa kami saling berinteraksi. Entah sekedar makan siang bareng, mengerjakan tugas, bolos kuliah dari para dosen killer, hingga sekedar curhat-curhat ga jelas.

Seharusnya persahabatan itu untuk selamanya. Setidaknya sebelum perasaanku berubah jadi ingin memilikinya. Mencintai sahabatku sendiri? Awalnya buatku terlalu absurd. Tapi faktanya demikian, aku mencintai si anak manis itu. Entah sejak kapan. Entah sampai kapan.

***

Akhir semester. Suatu siang yang cerah. Kantin yang lengang di kampus biru.

“Baaaangg…” si anak manis itu memang memanggilku ‘Abang’, panggilan sayang untukku, begitu jelasnya. Apapun lah, aku tak keberatan.

“Kenapa Mel?” Sahutku cuek.

“Kenalin neh pacar gue. Baru dateng dari Amrik”

Whaatttttt???Crap. Ternyata si anak manis udah punya cowok ?? Kok gue sampe ga tau yah? Oh iya, tadi dia kan bilang si pacar baru dateng dari Amrik. Bloody stupid!! Tapi kenapa si anak manis itu ga pernah cerita? Hhh…

“Oooh….” Semoga muka lempengku bisa berbohong menipu si anak manis yang tengah jatuh cinta itu. Matanya berpijar, bangga mengenalkan sang pacar padaku.

“Sayang, ini si Abang, yang sering aku ceritain itu lhooo… Pokonya dia sahabatku di kampus ini. Iya kan Bang?” Aku hanya bisa mengangguk.

Sayang? si Abang? Hhhh….what an unfair world.

“Bram, alias Abang.” Ucapku kaku. Mencoba tersenyum. Menyodorkan tangan, bersalaman dengan si pacar. Semoga dia tidak tahu tanganku sebetulnya bergetar.

“Daru. Makasih udah jagain Mel di kampus ya Bang.” Pria itu menjabat erat tanganku santun. Tersenyum ramah.

Lu pikir gue satpam apa??? Huft. Tapi si Daru ini emang ganteng, mirip model iklan Axe. Ah, crap. Mereka pasangan yang cocok. Dan siapa gue yang sok-sokan ngiri dengan kebersamaan mereka?

“Bang, kita pacaran dulu yee…” Si anak manis tersenyum manis menggandeng si pacar yang ganteng, melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan si aku yang merana. Menyedihkan.

Crap. Seharusnya memang gue ngga suka apalagi cinta sama sahabat sendiri seperti ini ya. Terkadang hidup itu memang kejam. Tapi, seperti janji kita di pelataran mushola senja itu, Mel. Gue akan tetap menjadi sahabat lo. Lo akan tetap jadi ‘si anak manis’ itu buat gue.

Semoga.

***

Ikut meramaikan “Seperti Janji Kita”-nya mba Yessi Greena 🙂


41 thoughts on “Si Anak Manis

  1. ehem ciee ciee pengalaman pribadi nih kayaknya.. *plaaak..
    sedih yah ternyata udah punya cowok, bisa bayangin gimana perasaan itu cowok.

    goodluck kontesnya yaaak!!

    Like

  2. aoooowww….pedihh…dan sedih seperti tertusuk duri….waduh..gak kuat saya membayangkan kalau diposisi si abang….mana saingannya ganteng banget…dari amrik pula…ga kuaaaatttt !!…heheeeee…cerita yang bagus…

    salam 🙂

    Like

  3. waw kerenn ceritanya..
    ospek..kampus biru..
    ah..mengingatkan daku pada seseorang..
    sukses yah rin di kontesnya Mba Yessi..
    aku ga bisa bikin cerita fiksiii..
    jadi ga ikutan ahh..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s