Surat Ujang untuk Pak Presiden

Assalamu’alaikum Pak Presiden,

Maaf jika saya mengganggu kesibukan Bapak ya. Ibu guru saya yang menyuruh menulis surat ini untuk Bapak. Kata Bu Ani, surat ini adalah PR Bahasa Indonesia kami, jadi harus ditulis dengan EYD yang betul, dan harus ditulis tangan, sehingga tidak ada yang bisa copy paste, begitu katanya.

Ibu guru menyuruh saya dan teman-teman, menulis tentang apa saja ke Pak Presiden, yang penting isi surat itu adalah sebuah permintaan dari kami. Karena kata Ibu guru, Pak Presiden akan mendengarkan semua permintaan anak kecil seperti saya. Terima kasih sebelumnya ya Pak 🙂

Nama saya Ujang, saya tinggal bersama Abah, Ambu dan Asep, adik saya yang baru berumur 3 tahun. Saya, eh maksudnya Abah, punya seekor kerbau jantan yang besar, namanya si Jalu. Saya dan Abah kadang-kadang mencari rumput bersama-sama ke hutan untuk memberi makan si Jalu. Kata Abah, si Jalu sudah banyak membantu keluarga kami, ikut memberi nafkah keluarga kami sejak lama.

Betul Pak Presiden, Abah dan si Jalu bekerja sama membajak sawah-sawah milik orang kaya di kampung kami. Sawah Pak Haji Somad, sawah Pak Camat, sawah Ibu Juju, sawah Ko Halim, sawah Mbah Jiran, dan sawah-sawah lainnya. Saat saya kecil, saya sering ikut juga membajak sawah, menemani Abah dan si Jalu. Tapi sejak saya sekolah, Abah melarang saya ikut. Abah menyuruh saya belajar saja yang rajin, membuat PR, atau membaca buku supaya pintar. Abah baik ya Pak Presiden?

Kata Abah, kalau saya pandai, sudah besar nanti saya bisa jadi Presiden. Waah… Pak Presiden tidak apa-apa kan, kalau nanti saya gantikan? he he he

Tapi, akhir-akhir ini Abah sering sedih Pak Presiden. Sekarang ini jarang sekali juragan-juragan sawah meminta Abah dan si Jalu untuk membajak sawah-sawah mereka. Kata Abah, Pak Haji Somad sudah memiliki traktor untuk membajak sawahnya, Pak Camat dan Ibu Juju juga sudah punya, mungkin juragan sawah yang lain nanti beli traktor juga. Jadi, Abah dan si Jalu sudah tidak diperlukan lagi, karena katanya traktor lebih hebat, lebih cepat, lebih bagus. Saya jadi ikutan sedih Pak Presiden.

Permintaan saya Pak, bisakah Bapak melarang juragan-juragan sawah di kampung saya memiliki traktor? Jadi, Abah dan si Jalu masih bisa bekerja di sawah-sawah mereka, Pak. Bisa ya Pak? Permintaan saya pasti bisa dengan mudah Bapak penuhi, kan Pak? Kasihan si Jalu kalau di kandang terus Pak. Kasihan juga Abah kalau harus bekerja serabutan terus. Itu saja permintaan saya Pak.

Terima kasih banyak Pak Presiden yang baik hati 🙂

Wassalamu’alaikum..

Ujang

16 thoughts on “Surat Ujang untuk Pak Presiden

  1. Dilema banget, Orin…
    Kemajuan teknologi ternyata nggak selalu menguntungkan 😦

    Suratnya menyentuh, Orin.
    Permintaan sederhana Ujang ini, kira-kira bisa dikabulkan Bapak Presiden nggak ya 😉

    Like

    • Iya ya Bu, selalu saja ada korban, hiks.
      Hehehe…pak Presiden sibuk sepertinya Bu, kita tunggu aja nanti pas Ujang yg jadi presiden *ups…hihih*

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s