Buku versus waktu membaca

Terkadang, keberadaan sebuah buku tidak selalu berbanding lurus dengan kesediaan waktu untuk membacanya. Agree with me, don’t you? 😀

“… that when you’re buying books, you’re optimistically thinking you’re buying the time to read them.
(Paraphrase of Schopenhauer)”

Yang diterjemahkan bebas dalam buku materi mata kuliah Filsafat saya menjadi “Alangkah baiknya membeli buku-buku, jika orang dapat sekaligus membeli waktu untuk membaca buku-buku itu”.

Nah kan? Bahkan filsuf Jerman sekaliber Arthur Schopenhauer itu pun mengakui kok soal ini, dengan berandai-andai bisa membeli sebuah buku sekaligus waktu untuk membacanya, persis seperti yang sedang mengganggu saya sekarang. Banyak sekali buku yang belum saya baca, bukan karena saya malas membacanya, apalagi kehilangan minat untuk membacanya, tetapi ya itu tadi, rasanya saya kekurangan waktu untuk membacanya.

Saya tidak ingin menyalahkan ‘peran’ baru sebagai seorang istri yang menyebabkan hal ini terjadi. Walaupun tidak bisa juga dipungkiri faktor ini sedikit banyak ikut andil. Jika saya masih sedang asyik membaca di kamar, lantas ada sebuah suara yang berseru “Honey, matiin lampunya duuunk, aku mau tidur”, saya harus menyudahi acara membaca saya itu bukan? (ngeles, padahal mah bisa aja pindah ke tempat lain hehehe :P).

Intinya, tulisan ini saya buat untuk reminder bagi saya sendiri, bahwa masih banyak ‘PR’ berupa buku-buku yang sudah saya pilih untuk saya baca. Berikut adalah buku-buku yang baru saya baca setengah, baru saya baca beberapa halaman, baru saya baca daftar isi-nya saja, baru saya bolak balik lihat gambarnya, bahkan beberapa buku belum tersentuh sama sekali alias masih tersampul plastik dengan baik.

Saya memang jarang fokus membaca 1 buah buku hingga selesai, dan baru melanjutkan ke buku lain. Tentu ada buku-buku -biasanya novel- tertentu yang bisa saya baca dari awal sampai akhir tanpa henti karena begitu memukau, misalnya saja Perahu Kertas-nya Dewi Lestari yang bisa saya selesaikan dalam waktu 3 jam 🙂

Selain bosan, beragamnya jenis buku yang saya baca pun, mungkin menjadi penyebab seringnya saya beralih bacaan. Novel putih yang tergeletak paling depan itu misalnya, adalah novel pinjaman dari seorang teman yang menceritakan seorang JAG lawyer officer,  novel serial karya Brian Haig yang menegangkan, penuh intrik, sekaligus lucu. Cara penuturan novel ini yang sangat membuat pembacanya penasaran, seringkali membuat saya sulit untuk memberhentikan diri ini untuk melanjutkan membaca. Tapi, apalah daya, novel itu masih dalam bahasa aslinya, dan membacanya habis sekaligus hanya akan membuat saya pingsan dengan mulut berbusa hihihihihi.

Well, malam ini saya ingin melanjutkan membaca buku Habibie&Ainun itu. Kisah cinta sejati Pak Habibie dan Ibu Ainun yang indah. Masih tertahan di halaman 148 dari 323 halaman yang ada. Semoga ada pertambahan halaman yang signifikan. Semangaaaatt.

Happy reading, Pals 🙂

7 thoughts on “Buku versus waktu membaca

    • Waah, ada mba Iyha, silahkan…silahkan… Iya nih mba, aku malah aru dapet tambahan PR dari Pak Dhe, 2 buku sekaligus! hohohoho. Semangaaaat

      Like

  1. wow..kaget pas baca kutipan nya Schopenhauer gituu. hehehehehhee…
    btw teh, aku juga samma. ada beberapa buku yang masih teronggok dengan manisnya. masih belon di baca. padahal waktu ada lohh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s