Belum ada judul

“Bu…bu…sabar bu..”

“Perempuan kurang ajaaarr…”

“Pergi kamu wanita tua!”

Bising. Ribut. Pekak.

Lantas senyap sesaat.

Dan sirine meraung.

Ambulance, mobil polisi, wartawan, tetangga kanan-kiri-depan-belakang, para bocah kecil, pedagang tak tahu diri, pemulung tak tahu adat.

Aku mendekat mengendap. Terkadang informasi bisa terserap tanpa harus bercakap-cakap. Aku harus ada tanpa terlihat. Dan disinilah aku berdiri diam, mendengar, menyimak, memperhatikan.

“Itu lho Jeng, ternyata Bu Wulan itu istri simpanan!”

“Istri kedua, begitu?”

“Ya entah ke-dua entah ke-empat lah. Sama aja kan?”

“Hah? masa sih? Jadi selama ini dia bohong sama kita?”

“Dia bilang suaminya kerja di luar negeri jadi jarang dirumah. Gimana toh?”

“Bohoooong, itu tuh yang mati, istri tua, ngelabrak. Baru tahu kayaknya ya.”

“Suaminya pejabat lho.”

“Pejabat?? Pantesan banyak banget Polisinya. Siapa toh? Anggota DPR? Menteri?”

“Katanya Pengusaha Jeng, bukan pejabat. Pak Brata siapaaa gitu lho, lumayan terkenal sering ada di TV.”

“Lah? Pejabat apa Pengusaha yang betul?”

“Apa pengusaha yang jadi pejabat? Atau pejabat yang aji mumpung jadi pengusaha?”

“Ngga jelas… Ngga penting juga. Yang pasti kaya lah ya.”

hahahaha…ramai terbahak.

“Eh…beneran mati si istri pertama itu?”

“Wong ditusuk pake piso buat daging itu lho.”

“Emangnya kamu liat toh Mbakyu?”

“Mana berani aku liat langsung Jeng, tuh kata si mba penyiar itu tuh.”

“Trus Mba, ngapain ada ambulance kalo mati?”

“Lah…emangnya itu mayat mau dibawa pake bajaj?”

hahahaha…. ramai tergelak.

“Jadi si Bu Wulan bakalan dipenjara dunk.”

“Ya pastinya.”

“Aih…arisan kita gimana ini nantinya Ibu-ibu?”

“Tapi kan suaminya pejabat, pasti dibantuin biar ga dipenjara, nyogok polisi, nyuap hakim. Gampaaaang..”

“Belum tentu lah. Siapa tau dicuekin, trus nyari bini baru deh.”

hihihihi….ramai cekikikan.

“Maaf Ibu-ibu, ada yang mengenal Ibu Wulan dan Ibu Ratna?”

“Bu Ratna?”

“Betul, korban pembunuhan ini.”

“Saya tidak kenal Bu Wulan dan Bu Ratna, Pak.”

“Saya juga tidak Pak.”

“Saya tidak kenal Pak, sungguh.”

“Lho? bukannya Ibu-ibu tinggal disini? Ibu-ibu bertetangga dengan Ibu Wulan, bukan.”

Diam. Senyap. Sunyi.

“Bu… Tolong Ibu jawab pertanyaan saya….” (menghilang)

Aku menyingkir.  Berlalu tanpa suara. Ratna mati tanpa harus aku singkirkan. Sekarang bagaimana caranya melenyapkan Wulan? Karena aku ingin Brata hanya untukku sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s