The Speed of Leaving Our Class

Tulisan ini saya buat 26 Mei 2009 lalu. Saya teringat akan tulisan ini saat pagi tadi melihat Corolla hitam sahabat saya diparkiran kantor. Mengingat kenangan-kenangan diantara saya, sahabat saya -Ilma Aulia Zaim-, sang Corolla hitam, dan si Beat Putih (halah… :P).

Wilujeng ah..

Seorang sahabat saya yang terbiasa menyetir mobilnya sendiri ke kantor, suatu hari ‘nebeng’ membonceng motor saya karena mobilnya tersebut sedang diperbaiki di bengkel. Tak lama kemudian sahabat saya ini meminta saya untuk mengurangi kecepatan, karena menurutnya saya terlalu ngebut. Padahal, kecepatan yang tertera di speedometer hanyalah 60 km/jam ! Lantas saya katakan padanya bahwa kecepatan tersebut merupakan kecepatan normal, sangat aman, dan jauh dari kategori ‘ngebut’. Tapi tetap saja beliau bersikeras, bahwa dengan kecepatan tersebut beliau merasa ketakutan dan meminta saya untuk mengurangi kecepatan.

Dilain pihak, saya pun tetap pada pendirian saya, bahwa 60 km/jam adalah kecepatan standar yang rata-rata. Lantas saya bertanya pada sahabat saya ini “Berapa kecepatanmu saat mengendarai mobil?”, lantas beliau terdiam, dan mengakui bahwa seringkali beliau pun memang menggunakan kecepatan yang persis sama, bahkan lebih cepat lagi.

Dan akhirnya kami sampai pada kesimpulan yang sama, bahwa dengan kecepatan 60 km/jam yang sama, desain mobil dan motor yang berbeda memungkinkan sang pengendara merasa seolah-olah kecepatannya  berbeda.

Sahabat, dengan analogi yang sama -bahwa kecepatan tiap pribadi kita adalah 60 menit/jam, bukankah kita pun seringkali berada di kelas-kelas yang berbeda?

Orang yang hebat pada usia 40 tahun dan orang yang menyedihkan dalam usia 40 tahun, kecepatan hidupnya sama.

Orang yang hebat bisa mendapatkan lebih banyak, karena yang dilakukannya memang lebih banyak

daripada yang dilakukan orang kebanyakan.

Lantas, di kelas manakah kita berada sekarang?

Dalam sebuah kesempatan seorang guru saya pernah menasehatkan, bahwa sesungguhnya pribadi kita adalah sama, yang membedakan kita adalah apa yang kita lakukan. Pertanyaan berikutnya, Apakah yang sudah ‘banyak’ kita lakukan adalah sesuatu yang bisa menempatkan kita di kelas-kelas terbaik kehidupan?

Saat kehidupan seolah menempatkan kita di kelas yang tampak sama dan tidak bertumbuh, mari kita bersama memeriksa kembali, ber’cermin’ di kedalaman hati, dan merenung dengan ketulusan jiwa, sudah tepatkah yang kita lakukan selama ini untuk memantaskan kita naik kelas? Bagaimanakah mungkin kita bisa menjadi seorang ‘murid SMU’ jika ilmu kita hanya setara ‘murid SD’? Bukankah seringkali kita diingatkan bahwa selalu ada kepantasan untuk segala sesuatu?

Jika dengan kecepatan 60 menit/jam yang sama, seorang Bunda Teresa mampu menjadi seorang pengasih yang telah menempatkannya di kelas mulia, mengapa tidak kita coba untuk sekedar tersenyum ramah pada setiap orang yang kita jumpai hari ini? Mungkin, dari hal-hal kecil bermakna yang kita lakukan dengan tulus setiap hari, akan mampu menaikkan kita ke kelas-kelas impian kita.

Semoga, setiap detik waktu yang kita lampaui, mampu mencermerlangkan hidup kita. Sehingga saat jiwa kita kembali pada Beliau Sang Pemilik Segala, kita pantas ditempatkan di sisi Beliau Yang Maha Mulia. Amin…

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s