Ketika keikhlasan teruji

“Mel, aku akan segera menikah.” Ucap Lintang ceria. Kacamatanya yang besar menjadi terlihat lucu saat bibirnya tersenyum lebar, matanya yang bulat menyipit. Aku hanya mampu terbelalak kaget, dan detik berikutnya memeluk tubuh mungilnya dengan erat.

“Ya ampun Lin, kapan? Sama siapa? Kok belum dikenalin sama aku? Kayak gimana orangnya? Ketemunya dimana sih?” Pertanyaan ‘borongan’ku membuat Lintang tergelak. Dan tanpa perlu menunggu lama, mengalirlah cerita indah itu.

Bahwa lelaki beruntung itu bernama Damar, yang digambarkan Lintang sebagai sosok yang bisa menjaga surga hatinya, bagai ‘damar’ yang akan menjadikan hidupnya lebih cemerlang. Masih kuliah tingkat akhir -itu berarti jauh lebih muda darinya sekitar 3 tahun-, tapi dengan cepat dia tambahkan bahwa Damar lebih dewasa daripada Lintang sendiri, dan tentu saja sudah memiliki penghasilan cukup sebagai pengajar freelance untuk kehidupan mereka kelak. Merupakan anak tunggal dari sebuah keluarga baik yang tinggal di seberang rumah Lintang !

Ah, rupanya cinta selalu memilih jalan yang unik untuk berbunga. Sejak SMP Lintang ikut Ayahnya pindah ke Bandung, hanya sesekali saja mereka sekeluarga pulang ke rumah di Jakarta ini, dan Lintang tetap disana hingga lulus kuliah, lama setelah tugas almarhum Ayahnya di Bandung selesai. Tetapi 3 bulan lalu, setelah Lintang memutuskan untuk ‘pulang kampung’ dengan bekerja di Jakarta, teman masa kecilnya itu hadir kembali, membawa ceria yang sama saat mereka bocah dulu.

Dan kini mereka sudah bertumbuh menjadi dua insan dewasa yang mengerti bagaimana seharusnya keceriaan itu dibingkai. Saat pendar kasih itu menyeruak, mereka sepakat memutuskan bahwa rasa sesuci itu, akan lebih indah dalam sebuah pernikahan.

Tak ada yang mampu aku komentari, segala sesuatunya terdengar sempurna.

“Pokoknya nanti kamu harus datang ya Mel, kalau ngga aku ngambek ah” sahut Lintang sambil menjawil hidungku.

“Iya lah, pasti aku datang Lin, masa pernikahan sahabat sendiri dilewatkan.” Jawabku cepat. Dan segera mencatat tanggal pernikahan mereka di notes kecilku.

“Lin…” ada satu pertanyaan penting yang ingin aku dengar jawabannya dari Lintang.

“Hmm? Apa Amelia Sayang?” Jawabnya kocak.

“Apa yang membuatmu yakin Damar adalah jodohmu? Bahwa dia adalah lelaki yang Tuhan pilihkan untukmu?”

“Wah, pertanyaan serius tuh Mel.” Dan aku memang serius ingin tahu jawabannya.

“Begini Mel,” setelah jeda yang agak lama, Lintang menjawab “Aku ingin menikah dengannya karena dia lelaki yang baik, setidaknya baik bagiku, melengkapiku, membuatku sempurna. Hingga detik ini aku selalu ber’diskusi’ dengan Tuhan, dan.. entah bagaimana aku harus menjelaskannya padamu, tapi yang jelas rasanya hatiku seolah selalu tertuju padanya. Seakan Beliau menggerakkan hatiku untuk memilihnya”

Jawaban itu tidak memuaskanku.

“Aku tahu mungkin bagimu itu absurd, tidak masuk akal, atau apapun.” Lintang seolah bisa membaca pikiranku. “Tetapi cinta memang tidak selamanya logis Mel, apalagi cinta seorang hamba pada Tuhan-nya. Bukankah menikah itu ‘diperintahkan’?”

Aku masih terdiam.

“Aku ingin beribadah dengan jalan menikah, Mel.”

Ah, kalimat itu tidak bisa aku bantah. Mungkin kekhawatiranku memang terlalu berlebihan. Dan aku hanya bisa berharap sahabatku Lintang menjemput kebahagiaannya dengan Damar, lelaki yang dipilihkan Tuhan untuknya.

***

5 bulan berlalu saat sms itu datang.

Mel, maaf ganggu. Aq Damar suaminya Lintang. Bs ktemuan g?

Oh? Damar? Kok bisa tahu nomorku? Pasti Lintang yang memberitahu lah ya. Tapi, kenapa ingin bertemu aku? Hmm…

Ada apa ya Mar?

Lama tak ada jawaban. Hingga akhirnya aku nyaris tak lagi menunggu balasannya.

Ad yg mw aq omongin. Mo mnt tolong, soal lintang. Penting!

Wah? Apa yang terjadi? Apakah Lintang baik-baik saja? Segera aku mencari nomor Lintang bermaksud meneleponnya, saat handphone-ku berdering, dari Damar!

“Hai Mel.”

“Hai, pa kabar? Lintang kenapa Mar?”

“Dia baik-baik aja kok Mel.”

“Tapi tadi kamu bilang…”

“Bukan yang seperti kamu pikirkan.”

“Jadi?”

“Aku ke rumahmu nanti malam bisa?” Hah? Untuk apa?

“Untuk?”

“Ada yang ingin bicarakan Mel, pleaseee… Ini penting buat aku.”

“Mengenai?”

“Nanti aku jelaskan pas kita ketemu ya.” Aneh…

“Tapi Mar, aku..”

“Please Mel, aku sangat butuh bantuanmu. Dan kamu satu-satunya sahabat Lintang yang tinggal di Jakarta. Tolong aku, pleaseee…”

“Oke…oke… tapi kamu tidak perlu ke rumahku. Kita ketemu di restoran aja.”

“Kenapa ga di rumahmu aja Mel?” Because you’re my friend’s husband ! ugh… tak habis pikir aku Damar masih menanyakannya.

“Karena lebih dekat dari arah kantorku Mar.” Jawabku akhirnya.

Jeda yang aku pikir-tidak seharusnya ada.

“Baiklah kalau begitu, Mel. Aku tunggu ya. Tapi tolong jangan beritahu Lintang kalau aku meneleponmu seperti ini.”

Sesaat setelah menutup telepon, segera aku menelepon Lintang. Tak kupedulikan permintaan Damar untuk merahasiakan hal ini darinya. Tapi entah Lintang mematikan handphone-nya, atau battery handphone-nya habis, atau rusak, atau entah kenapa, aku tidak berhasil menghubunginya.

Dan sekarang, disanalah Damar, dengan secangkir kopi di depannya, dan rokok ditangan kiri. Aku baru tahu Damar perokok, dan –maaf- I do really hate a smoker! Bagiku mereka individu egois yang kejam, dan bagaimana mereka bisa mencintai orang lain jika mereka bahkan tidak bisa menyayangi tubuh mereka sendiri dengan merokok?

Oke, kembali ke Damar. Setelah memintanya mematikan rokok, dia pun mulai bercerita. Singkat kata, menurutnya Lintang ternyata bukanlah istri yang selama ini dia idam-idamkan, Lintang seringkali mengabaikan pendapat dan keinginannya sebagai seorang suami, Lintang sering bepergian tanpa seizinnya dan tidak memberitahu apa yang dia lakukan, Lintang begini dan Lintang tidak begitu, bla…bla…bla…

Wow… dan deskripsi panjang lebarnya itu rasanya bukanlah gambaran seorang Lintang yang aku kenal. Ya, memang aku hanya mengenalnya karena kami satu kelas selama 4 tahun masa perkuliahan kami. Tapi penjelasan Damar mengenai Lintang barusan, terlalu jauh dari sosok Lintang dalam persahabatan kami.

“Lintang seperti pemberontak di kerajaan kami, Mel. Aku tidak mungkin menjadi nakhoda yang baik dalam kapal pernikahan kami jika Lintang tidak bisa bekerja sama denganku, kan?”

“Apakah sudah kau bicarakan hal ini pada Lintang, Damar?” Akhirnya aku berkomentar setelah semua penjelasan Damar yang bagiku sungguh tak masuk akal itu.

“Lintang selalu menghindar saat aku ingin mengajaknya berbicara.”

“Oh ya ? Kenapa?”

“Itulah yang tidak aku mengerti, Mel.”

‘‘Lintang yang aku kenal tidak pernah lari dari masalah seperti itu.”

‘‘Terserah lah Mel, yang jelas Lintang yang ‘ini’ tidak seperti itu.’’

‘‘Oke. Lantas ?’’

‘‘Maukah kau membantuku membujuknya, Mel ?’’

‘‘Membujuknya untuk membicarakan masalah kalian ?” Ya ampuun… Aku tidak ingin terlibat apalagi melibatkan diri. ‘‘Damar, Lintang adalah wanita dewasa yang bisa bersikap. Aku yakin dia punya alasan atas apapun sikapnya terhadapmu.” Damar terdiam, menatapku tajam dalam diamnya itu. Membuatku takut dan menyesali keputusanku menemuinya. Kenapa aku harus terlibat dalam konflik rumah tangga sahabatku seperti ini?

“Jadi… maksudmu alasan Lintang berbuat begitu, adalah karena aku? Aku yang kau salahkan Mel?” Aku bisa mencium bau tembakau dari mulut Damar. Oh God, itu berarti dia mencondongkan tubuhnya ke arahku!

“Bukan itu yang aku katakan tadi, tapi ya, mungkin saja begitu.” Ucapku memberanikan diri, dan reflek menggeser kursiku ke samping, berusaha menjauhinya. Hembusan nafas beratnya menggangguku. Aku ingin adegan ini segera berakhir. Aku tidak suka.

“Lintang ingin bercerai Mel.” Jeda yang mengagetkanku. “Kau dengar aku Mel? Lintang ingin mengakhiri pernikahan kami !! Dan aku berharap kau bisa membujuk dia untuk membatalkan keinginan bodohnya itu. Aku tidak akan pernah menceraikannya, Mel. Tidak akan ! Titik !”

Suara Damar yang semakin menggelegar tidak lebih mengejutkanku daripada esensi kalimat yang baru saja ungkapkan. Bercerai?? Ugh… sungguh kata itu begitu menyakitkan bagiku. Dan Lintang, sahabatku yang imut-imut dan selalu ceria itu ingin bercerai?? Jam pasir kehidupanku seolah berhenti mengalir…

***

Dan, disinilah kami sekarang -aku dan Lintang- menyusuri hutan buatan di Bandung untuk 1 jam ke depan dengan langkah-langkah santai kami. Aktifitas favoritku ‘melarikan diri’ dari hiruk pikuk dan pekak-nya Jakarta, memanjakan pernafasan dan telinga kami dengan udara sejuk dan keheningan, pelarian yang hanya bisa aku lakukan bersama Lintang.

Entah bagaimana memulai pembicaraan itu tanpa harus menyinggung hatinya, atau menyedihkan perasaannya. Tentang Damar yang menemuiku tanpa sepengatahuannya, tentang permasalahan rumah tangga mereka yang Damar ceritakan padaku, tentang keingintahuanku atas kenapa dan bagaimana itu bisa terjadi padanya.

“Aku tahu apa yang ingin kau bicarakan, Mel.” Deg, aku lupa Lintang bisa mem’baca’ku dengan mudah. You’re like an open book, begitu dia pernah menilaiku.

Dan aku hanya mampu terdiam, menunggunya melanjutkan, menunggunya siap untuk bercerita, atau tidak mengucapkan satu huruf pun.

“Entah aku harus memulainya darimana, atau bagaimana aku harus menceritakan ini padamu.

“Kau tidak perlu bercerita jika tidak menginginkannya Lin. It’s Okay.” Kataku. We can make a silent conversation, dulu kami pernah sama-sama bersepakat demikian. Karena keheningan yang terjadi adalah manifestasi dialog hati dalam jiwa seseorang.

“Tidak, Mel. Siap ataupun tidak aku harus menceritakannya. Aku sungguh berharap Damar tidak menemuimu. Aku tahu trauma itu masih menyakitimu hingga detik ini. Aku sendiri tidak ingin ini terjadi dalam kehidupanku, Mel. Aku…” Lintang jatuh terduduk. Aku memapahnya ke padang rumput yang menghampar disisi kami.

“Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, Lin.” Desisku perlahan.

“Tidak usah berkata apapun, Mel. Dengarkanlah saja aku, dan tetaplah disini. OK?”

“Rasanya aku bisa melakukannya untukmu, Lin.” Senyumku berhasil membuat Lintang tersenyum.

“Aku tidak tahu apa saja yang sudah Damar katakan padamu.” Oh…Jadi Lintang tahu Damar menemuiku. “Aku tidak ingin tahu, sungguh. Aku hanya ingin menyampaikan cerita yang mungkin sama dari kacamata seorang aku. Terserah kau nanti menilainya bagaimana.” Lintang meraih botol minumnya, tetapi batal meminum air didalamnya.

“Aku tidak akan menyalahkannya, Mel. Tapi tolong jangan juga menjadikan hal ini sebagai kesalahanku. Seperti juga kedua orang tua-mu, aku dan Damar pun tak ingin bercerai.”

Kilas balik peristiwa demi peristiwa itu kembali mencuat demi mendengar kalimat Lintang itu. Kerusuhan dan kericuhan ayah dan ibuku sebelum mereka bercerai, terjadi tepat didepan mataku entah berapa tahun lalu, tetapi seringkali masih saja aku merasa seolah itu terjadi sekarang, dimanapun aku berada saat mengingatnya. Kenangan pahit yang tak ingin aku ingat, sekaligus tak bisa aku lupakan.

“Damar ingin kami memiliki rumah sendiri. Aku setuju, Mel. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Mama, dan entah kenapa Damar tidak bisa mengerti itu.” Kali ini Lintang meminum air mineral itu beberapa saat.

“Aku tahu seorang istri harus mengikuti kemanapun suaminya pergi, tapi apakah salah jika aku ingin menjadi anak yang berbakti pada orang tua-ku yang hanya tinggal seorang diri itu, Mel?” Aku tahu aku tidak perlu menjawab pertanyaannya.

“Kedua kakakku sudah tinggal di luar kota, dan Mama tidak mau meninggalkan rumah kami sekarang, rumah yang mampu membuatnya bertahan hidup dengan semua kenangan indah bersama Papa. Jika aku pun pergi dari rumah, siapa yang akan merawatnya, Mel? Bukan Mama yang melarangku pergi, berkali beliau bilang bahwa beliau akan baik-baik saja bersama si Mbak yang menemaninya. Tapi aku ingin menemaninya, Mel. Salahkah?” Lagi-lagi pertanyaan yang tidak perlu aku jawab.

“Dan yang membuatku ingin berpisah dari Damar adalah, dia menyuruhku memilih antara Mama atau dia. Aku tidak bisa menerima seorang lelaki yang mau menjadi suamiku, tetapi enggan menjadi anak lelaki dari ibu-ku. Tidak bisa Mel !”

Ya, tentu saja, setiap cinta memiliki ‘warna’nya tersendiri. Bukan untuk dipilih seperti itu. Siapa Damar berani-beraninya dia mengajukan opsi demikian? Aku menyatakan persetujuanku dalam diam. Lintang kini menangis. Sodoran tissu-ku membuat isakannya perlahan menghilang.

“Maaf Lin, bukannya aku meragukan kapasitasmu mencari jalan terbaik untuk masalahmu, tetapi apakah kau sudah membicarakannya dengan Damar ? dengan hati dan kepala dingin untuk kebaikan kalian berdua? “

Lintang terdiam, seolah mencerna pertanyaanku, lantas tertunduk berujar tanpa melihatku.

“Kau boleh menertawakanku, menganggapku bodoh, atau apapun Mel. Tapi Damar -lelaki yang aku harapkan menjadi imamku itu- begitu ringan tangan saat sesuatu tak sesuai dengan hatinya. ‘’ Whattt???

“Tidak ada istilah hati dan kepala dingin berdiskusi dengan bijak, saat tanganmu panas ingin memukul atau menampar, Mel. Dan aku berhenti menyerahkan diriku dihinakan seperti itu olehnya.’’ Aku masih tak sanggup berkata-kata.

“Ya, sampai detik ini pun aku tak menyangka Damar seperti itu, Mel. Damar yang aku kenal saat kami kecil dulu memang badung, tapi kebandelannya aku pikir wajar untuk anak seusia kami saat itu.“ Lintang masih tertunduk entah menatap apa, sementara aku masih tak percaya pada apa yang aku dengar beberapa menit terakhir ini.

“Salahku sendiri Mel, aku jatuh hati dan melabuhkan jiwaku pada Damar yang aku kenal dulu. Seharusnya aku tahu, bahwa Damar pasti sudah bertransformasi menjadi seseorang yang tidak akan pernah sama dengan Damar kecil sekian tahun lalu, seperti juga diriku sendiri yang sudah bermetamorfosis menjadi Lintang yang kau kenal hari ini. “

Hening… Aku tahu Lintang belum selesai bicara. Tapi aku juga bisa merasakan kelelahannya, dan keinginannya untuk ber’istirahat’, mungkin sejenak, mungkin untuk beberapa lama.

“Aku tidak tahu harus berkomentar apa Lin.” Ucapku akhirnya, memecahkan kesunyian kami. Yang dijawab Lintang dengan senyum ceria-nya, senyum yang ‘Lintang banget’. Sungguh aku berharap senyum itu adalah indikator bahwa dia baik-baik saja.

“Tak perlu berkomentar apapun, Mel. Aku hanya berharap kau mengerti kenapa aku memilih bercerai dari Damar.”

“Ya, aku akan melakukan hal yang sama jika aku berada di posisi itu, Lin.” Benarkah? Aku bahkan tidak berani menjalin sebuah hubungan, apalagi menikah, hanya karena aku tidak ingin ‘perceraian’ itu terjadi lagi dalam kehidupanku. Aku berbohong pada Lintang, aku sungguh tidak tahu apa yang aku lakukan jika aku betul-betul berada di posisi itu.

Lagi-lagi, Lintang tersenyum penuh arti menatapku. Ah…aku tahu dia pasti tahu aku bohong. Dan kami pun terbahak.

“Keputusan pahit yang harus aku ambil, Mel. Aku sama sekali tidak bangga melakukannya. Impianku sama dengan semua orang,  sama dengan impianmu, menikah sekali untuk seumur hidup. Tetapi ketika faktanya tidak seperti itu, toh aku harus membangun mimpi-mimpiku yang lain, walaupun bukan dengan Damar.” Wow…aku tak menyangka sahabatku Lintang berpikir se-dewasa itu. Tak salah Tuhan menimpakan ujian itu padanya, karena Beliau tahu Lintang jauh lebih kuat dari masalah yang menimpanya.

“Aku takjub dengan ketegaranmu, Lin.” Ucapku tulus.

“Keihklasanku sedang diuji, Mel” Tukas Lintang cepat.

“Apakah kau tidak merasa sedih, Lin?” Lintang menjawab pertanyaanku dengan tertawa terbahak-bahak. Seolah aku telah melontarkan joke super lucu.

“Aku tahu kau tidak menyukai Anang dengan ‘separuh jiwaku pergi’-nya itu, Mel.” Hah? Apa hubungannya dengan Anang?

“Tapi begitulah adanya. Pernikahan kami hanya 5 bulan, Mel. Tapi sebuah pernikahan yang disatukan atas izin Tuhan jauh berbeda dari sekedar saat kau pacaran.” Aku tidak bisa menebak kemana arah pembicaraan Lintang.

“Ya. Jawabannya adalah ‘ya’, Mel. Aku sedih. Aku merasa sangat sedih. Kau tidak akan ingin tahu berapa liter air mataku untuk hal ini.

“Aku tidak tahu kau bisa menangis, Lin.” Hahahaha…. dan kami pun kembali terbahak bersama.

“Pertanyaan terakhirku, Lin.”

“Ya?”

“Will you be happier?” Karena aku pikir hidup akan lebih menyenangkan saat ada seseorang yang selalu ada disisimu, menyayangi dan mencintaimu. Dan saat kau bercerai, kau akan sendiri lagi, menghadapi hidup dan kehidupan. Mungkinkah itu bermakna kebahagiaanmu akan terkurangi?

“Pertanyaan macam apa itu, Mel?”

“Hahaha… entahlah, mungkin pertanyaan bodoh dari seorang Amelia.”

“Apakah harus tetap aku jawab?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin kau tetap bahagia.”

“Ya, Mel. Aku akan tetap berbahagia. Bukankah kau bilang kebahagiaan adalah keputusan hati? Kebahagiaanku tidak seharusnya ditentukan oleh ada atau tidak-nya Damar, iya kan?”

Entah kenapa aku merasa lega. Ibu selalu bercerita dia merasa lebih berbahagia saat Ayah masih bersama kami. Dan beberapa kali aku menemui Ayah setelah bercerai dengan Ibu, rasanya beliau tidak tampak lebih bahagia dengan hidupnya tanpa kehadiran Ibu. Aku bahagia jika sahabatku Lintang bisa tetap bahagia.

“Hmm… jadi nanti kita hunting cowok bareng lagi dunk, Lin?” Godaku akhirnya. Yang kami tutup dengan tawa renyai, disaksikan beratus pohon pinus yang menjulang disekitar kami, dan jalan setapak yang akan kami lewati di depan. Buatku, simbolik perjalanan hidup

————

Photo Note :

Sebuah ruas jalan di Dago Pakar, Hutan Raya Juanda-Bandung, saya ambil saat kami ber-hiking ria liburan akhir tahun lalu.It reminds me that life is a wonderful journey 😀

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s