I’m Proud of You

February 17, 2012 § 32 Comments

Dearest me,

Ini aku, dirimu di 8 (atau 9 ?) tahun kemudian, yang baik-baik saja setelah yang kita alami saat itu, dan bahagia. Dan surat ini aku buat untukmu, sebagai rasa terima kasihku, karena telah begitu kuat, karena telah begitu tegar, karena telah begitu tabah saat itu. Terima kasih banyak ya.

Oh iya, surat ini akan sedikit panjang, luangkan waktumu untuk membacanya ya. Please?

Ah, mungkin kamu akan bertanya-tanya kenapa aku harus berterima kasih padamu sedemikian rupa. Maka mari aku ceritakan sebuah kisah, tentang kita -kamu yang adalah aku- di masa itu. Sebuah episode kehidupan yang membuat kita -aku yang dulunya kamu- seperti sekarang ini.

Saat itu Agustus 2003, bulan kelulusanmu. Setelah berupaya keras selama 3 tahun kurang sedikit, akhirnya kamu berhasil menyandang Sarjana Muda dengan IPK 3,85. Saat itu -dengan idealisme mudamu yang sampai saat ini pun tidak bisa kumengerti- kamu sempat tidak ingin mengikuti prosesi wisuda di aula Dipati Ukur itu, untunglah kamu tidak menuruti kata hatimu itu. Kenapa? Karena Bapak begitu terharu saat seutas tali yang bertengger di topi togamu itu di alih-posisikan oleh Pak Rektor langsung, karena kamu cukup pintar untuk duduk di ruangan khusus bagi lulusan terbaik, karena kamu telah membuatnya bangga. Iya, Bapak memang tidak mengucapkannya padamu, bahkan tidak juga diucapkannya padaku sekarang atau nanti. Tapi tak mengapa, terkadang tak perlu kata untuk mengucap cinta, bukan?

Sebagian sahabat-sahabatmu segera melanjutkan S1, dan kau tidak punya pilihan lain selain mencari sebuah pekerjaan untuk melepaskan diri dari beban orang tua kita. Padahal aku sangat tahu, saat itu kamu masih begitu ingin belajar. Tapi hidup memang tak selalu memberi yang kita inginkan, seperti kamu si anak sulung dengan 3 orang adik yang masih sekolah, dan Bapak yang seorang pensiunan PNS. Maka perjuanganmu yang sebenarnya pun dimulai.

Kamu tentunya ingat, sejak semester akhir kuliah kamu ‘menumpang’ hidup di rumah adiknya Bapak, karena kamu hanya mampu membayar kamar kost-an untuk 6 bulan pertama. Tekanan untuk segera mandiri pun bertambah, dengan status ‘sudah lulus’ tidak mungkin lagi menumpang hidup seperti ini, begitu pikirmu. Walaupun Mamang sangatlah baik, Bibi pun sangat baik, ke-tiga adik sepupumu itu juga sangat baik. Tapi aku mengerti, berada di sana pastilah tetap terasa sangat asing.

Beberapa panggilan interview datang padamu karena sebelum lulus pun kamu rajin mengirimkan surat lamaran. Dengan IPK yang sedemikian tinggi, kamu cukup percaya diri untuk bisa segera mendapatkan sebuah pekerjaan yang bagus. Tapi terkadang Tuhan menyayangi kita dengan caraNYA sendiri, karena justru penolakan demi penolakan yang kamu terima.

Aku masih ingat perusahaan Garment di Cileunyi itu, seorang interviewer bertanya apakah kamu bersedia melepaskan jilbabmu jika bekerja di sana? Kenapa, tanyamu saat itu, seberapa mengganggu kah selembar kain penutup kepala saat seorang wanita bekerja? Dan jawaban mereka tak memuaskanmu, hingga kamu pun menolak mengikuti ujian berikutnya.

Lebaran tahun itu jatuh di bulan Desember. Kamu pulang ke rumah orang tua kita, dengan pikiran kalut karena masih saja menjadi pengangguran. Kamu menjadi penyendiri, menghindar bertemu orang-orang karena takut ditanya sudah bekerja atau belum. Aku ingat, kamu mulai merasa hidup tak adil padamu saat itu, bahkan menyangka Tuhan tak menyayangimu. Kamu tahu? Saat itu mungkin kamu hanya merasa malu lho. Tapi sudah lah ya, kita lanjutkan saja ceritanya.

Seorang sahabat SMPmu, yang meneruskan kuliah di Jakarta, berkunjung ke rumah bersilaturahim Lebaran. Dan dia ‘menantangmu’ untuk berpetualang di Jakarta. Jakarta? Sebuah tempat yang sama sekali tidak ada di bayanganmu sebelumnya. Sebuah tempat yang tidak ingin kamu datangi kecuali untuk perjalanan sesaat. Sebuah tempat yang terasa tidak mungkin. Tapi kamu ingin berlari, dan kamu memberanikan diri melawan semua perasaan takutmu sendiri. Kamu menyetujui tantangan itu.

Mamah sangat khawatir tentu saja. Kamu memang terbiasa tak pernah ada di rumah. SMU di Cirebon, kuliah di Jatinangor, sudah biasa. Tapi Jakarta? Bukankah konon kota ini lebih kejam daripada ibu tiri?  Tapi seperti biasa, kekeraskepalaanmu saat telah memutuskan sesuatu -baiklah, aku akui sekarang pun masih begitu :P- tidak bisa diganggu gugat, walaupun oleh larangan Mamah. Syukurlah Bapak menghormati keputusanmu itu (seperti biasanya ya :) ), percaya sepenuhnya bahwa kamu adalah wanita dewasa yang tahu apa yang diinginkannya.

Berangkatlah kamu ke Jakarta bersama sang sahabat. Menginjak terminal Pulo Gadung untuk pertama kalinya, menumpang metromini 45 jurusan Pondok Gede, menuju kostan sang teman di daerah kampus Unkris. Menghirup polusi Jakarta yang pekat, bersentuhan dengan auranya yang entah kenapa selalu terasa kompetitif, merasakan panasnya yang tidak pernah tidak menyengat. Aku begitu ingat rasamu saat itu. Takut, sekaligus bersemangat. Khawatir tetapi optimis. Jalan di depanmu seperti lapangan luas yang kosong, tapi karena begitu terang, kamu tak bisa melihat apapun.

Tapi kamu tidak akan tinggal di kamar kostan sang sahabat, karena salah satu adik Mamah -yang pernah tinggal dan disekolahkan keluarga kita- memintamu tinggal bersamanya. Berhijrah lagilah kamu ke Bekasi, ke rumah petak Mamang yang betul-betul hanya satu petak. Berbagi oksigen dengan istrinya dan seorang bayi keponakan yang baru berusia beberapa bulan. Kamar tidur hanya satu, maka lantai di depan TV adalah tempatmu berbaring. Kamar mandi pun di luar yang dipakai bersama-sama. Rumah kita di kampung memang jauh dari kata mewah, tapi rumah petak itu dengan segera membangkitkan rindumu untuk pulang ke sana.

Bulan-bulan awal 2004 mungkin bisa dibilang salah satu episode terberat kita. Entah sudah berapa ratus surat lamaran yang kamu kirimkan, entah sudah berapa puluh kali juga kamu menjalani test ini dan wawancara itu, tapi entah kenapa belum juga membuahkan hasil. Lagi-lagi, beberapa alasan penolakan itu adalah jilbabmu. Aku ingat, kamu pernah marah pada Tuhan karena hal itu. “Aku patuh pada perintahMU untuk menutup auratku, kenapa KAU tidak memudahkan pintu rezeki padaku?” Kamu ingat pernah menuliskan itu di buku kecilmu?

Memang kamu tidak perlu memikirkan uang makan dan bayar kostan karena beruntung bisa ikut di rumah Mamang, tapi tetap saja uang sakumu pemberian Bapak yang tak seberapa itu segera habis. Untuk mengeprint CV dan surat lamaran itu. Untuk ongkos bus menuju Sudirman-Thamrin-Cikarang itu. Untuk sekedar membeli pulsa agar hapemu tetap hidup. Tapi tetap saja uang itu habis, dan kamu harus pulang kembali ke rumah untuk meminta uang tambahan. Aku bisa mengerti jika kamu sering menangis di dalam bus karena hal itu. Malu, karena kamu merasa telah menjadi anak yang gagal. Aku ingat, saat bus dari terminal Bekasi itu melintasi rumah makan Ampera sebelum masuk tol, kamu bergumam dalam hati, “Sekembalinya aku ke sini besok, aku akan pergi ke sana, menawarkan diri menjadi pelayan, atau tukang cuci piring, atau apapun selama bisa menghasilkan uang, tidak meminta uang seperti ini lagi”, ah…aku mengerti sakit hatimu saat itu.

Kemudian, entah berapa hari setelah kau kembali datang ke Bekasi, seorang teman Mamang memberitahumu ada lowongan kasir yang harus bisa berbahasa Jepang di restoran Robata Komachi, di mal Kepala Gading. Kamu segera ke sana pagi-pagi, tersesat karena salah naik angkot dari Pulo Gadung (malah ke Senen :p), tapi masih harus menunggu beberapa jam karena konon sang manager sedang meeting.

Setelah bertemu pun, lagi-lagi mereka memintamu melepas jilbab, karena itu adalah restoran Jepang dengan sebagian besar pengunjung expatriate Jepang. Saat kamu menolak, mereka bilang itu biasa, ada beberapa karyawan mereka yang berjilbab juga, tapi saat bekerja yang mereka melepasnya. Sakit hati tapi putus asa, kamu mengajukan diri untuk menjadi tukang cuci piring di sana. Sang manager menertawakanmu, bahasa Jepangmu tidak terpakai kalau jadi tukang cuci piring. Dan kamu pun berlalu dari sana dengan rasa yang entah.

Kamu tahu, bertahun-tahun kemudian, aku -yang adalah kamu- seringkali bersantap di sana? Well, sebetulnya menemani para bos itu meeting dinner, dan harus hati-hati sekali memilih menu, terkadang hanya ngemil takoyaki ditemani ocha (haha). Tapi saat berada di sana, aku mengingatmu, untuk kemudian berterima kasih padamu. Karena dengan keteguhan hatimu, aku tak menemukanmu di sana sebagai seorang kasir dengan rambut terurai.

Ada kalanya, Mamang dan atau orang-orang di sekelilingmu menyarankan untuk menggunakan konsep ‘memancing’. Dimana kamu harus mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan uang. Hei, kalau aku punya uang, untuk apa aku mencari uang? Teriakmu lantang. Aku mengagumi keberanianmu itu, karena tentu saja sikapmu mengundang cibiran, sok suci lah, idealis lah, apa lah. Dan biasanya berakhir dengan penghakiman kamu tak akan pernah mendapatkan sebuah pekerjaan dengan cara sejujur itu.

Tapi kemudian di April 2004, kemenangan kecil itu terraih olehmu. Kamu melamar sebagai staf administrasi di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris. Mengerjakan soal-soal keuangan sederhana, tapi sang manager rupanya tertarik pada sosokmu yang (sepertinya) terlihat sabar. Dia memintamu ikut micro teaching bersama para calon teacher. Mengejutkan tentu saja, bahasa inggrismu sekedar praktis, manalah kamu mengerti tentang teori dan semacamnya yang diperlukan untuk menjadi seorang guru untuk mengajar bahasa Inggris?

Mungkin kesempatan tak selalu datang dua kali, maka kamu pun mengiyakan tawaran itu. Tanpa persiapan apapun, kamu mencoba menjelaskan dengan gemetar -di depan para calon ‘teacher’ sungguhan, bahkan di antaranya dosen di universitas- perbedaan I-me-my-mine-myself yang kamu tidak tahu apa itu istilahnya dalam tata bahasa Inggris. Aku ingat, salah satu kandidat mencecarmu dengan sangat, membuatmu mati kutu karena memang tidak tahu. Walaupun tetap saja, kamu lah yang terpilih di antara mereka. Kenapa? Tak perlu dipertanyakan, itu hanya kasihNYA padamu.

Dimulai lah episode menjadi seorang freelance teacher di lembaga itu. Kamu menerima dua belas ribu rupiah untuk mengajar 1,5 jam untuk satu kelas. Satu kelas itu hanya 2 kali pertemuan satu minggu. Dan awal-awal kamu di sana, kamu hanya dipercayakan mengajar untuk 2 kelas saja. Hahaha, ya, aku -kita maksudku- bisa menertawakan kepedihan itu sekarang. Air mata dan tawa pun berputar seperti roda kehidupan :)

Tetapi menjadi seorang guru lepas yang mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak kecil bukanlah impianmu. Sehingga itu bukanlah akhir dari perjalanan, kamu tetap menebarkan banyak CV dan surat lamaran ke sana ke sini. Walaupun demikian, tetap saja orang-orang terdekatmu mengajukan pertanyaan yang sama, “Sudah kerja belum?” seolah menjadi freelance teacher tidak layak dianggap sebagai sebuah pekerjaan, dan seolah kamu merencanakan hidup berhenti di sana.

Abaikan kenangan yang itu. Seiring dengan kelasmu yang sedikit bertambah, Bibi -istri dari Mamangmu yang tadinya baik itu- entah kenapa menjadi sedikit ‘kejam’. Mulai menyindirmu, membiarkan jemuran pakaianmu kehujanan, dan sebagainya dan sebagainya. Padahal kamu selalu mencuci-setrika pakaian mereka sekeluarga, memasak sebelum berangkat kerja, mengepel membereskan rumah dan semuanya. Tapi mungkin itu belum cukup. Membuatmu sadar keberadaanmu di rumah petak itu sudah kadaluarsa, kamu mengusir dirimu sendiri dari sana.

Lantas kamu kembali ke kamar kostan sahabat kecilmu itu. Uang sewa kamar dibayar berdua, biaya-biaya lain pun ditanggung bersama. Tapi entah kenapa, sang sahabat pun rupanya tidak lagi nyaman dengan kamu di sekitarnya. Sinyal-sinyal itu kamu mengerti dengan jelas. Walaupun itu tidak pernah melukai persahabatan kalian, aku mengerti kamu terluka oleh keadaan, karena penghasilan bulananmu yang tak seberapa itu belumlah memungkinkan untuk hidup mandiri seutuhnya.

Maka, puasa senin kamis menjadi salah satu pilihan. Sarapan hanya dengan teh manis, makan siang sekaligus malam antara jam 3 sore, hingga berjalan kaki demi menghemat seribu dua ribu rupiah pun kamu lakukan. Tentu saja kamu pun jadi harus berhutang, karena apalah yang bisa dihemat jika sebetulnya si uang itu tak ada?

Sekitar Oktober (atau November? aku lupa), kamu menerima tawaran dari lembaga kursus lain untuk juga mengajar di tempat mereka. Kabar yang menggembirakan, karena itu berarti kamu bisa sesekali membeli telur bahkan ayam untuk menu makan, tak melulu tumis kangkung-tempe-tahu seperti sebelumnya. Kamu tak lagi harus gali lubang tutup lubang meminjam uang. Bahkan kemudian kamu pun mengajar private, yang memungkinkanmu bisa membeli baju baru walaupun yang 25.000an itu. Hahaha…aku masih mengingat saat kita belanja di pasar Pondok Gede itu :D

Rupanya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena keberuntunganmu itu tidak menyenangkan sang manager yang dulu memintamu untuk ikut test menjadi teacher. Saat itu dia memintamu memilih, tetap bekerja di situ, atau keluar jika masih tetap ingin bekerja di sana. Kenapa? protesmu, toh kamu hanyalah freelance teacher, yang tidak terikat kesepakatan apapun. Tapi sang manager mengatakan teacher adalah aset bagi lembaga, dan kamu dianggap tidak bermoral karena tidak memiliki loyalitas. Harga dirimu terusik, kamu yang merasa tidak melakukan kesalahan apapun detik itu juga mengudurkan diri. Padahal, rasio penghasilan di lembaga itu dengan yang di sana adalah 70 : 30. Kamu kembali ke titik harus berhemat habis-habisan dan menderita.

Tapi itu adalah keputusan yang tepat, dan -sekali lagi- aku berterima kasih padamu untuk itu. Setelah tidak lagi bekerja pada lembaga yang telah ‘memecatmu’, si tempat kursus yang baru ini memberikanmu tanggung jawab lebih. Kamu dipercaya menjadi staf akademik, yang bertugas membuat jadwal mengajar para guru, membuat kurikulum bahan ajar, hingga menghitung jam kerja semua guru.

Tugas ini membuatmu menerima sejumlah gaji tetap -yang tetap saja jumlahnya seuprit hihihihi- di luar fee mengajarmu.  Bahkan, karena di lembaga ini para guru yang harus mendatangi murid (bekerja sama dengan SD-SD, sebagai les tambahan setelah pulang sekolah) kamu diberikan sebuah motor operasional selama jam kerja untuk pergi ke sana sini sehingga bisa menghilangkan sejumlah biaya transportasi.

Episode itu cukup menyenangkan juga buatku. Walaupun tetap saja kamu keukeuh menebar CV dan surat lamaran di setiap kesempatan. Hingga akhirnya kamu berhasil bekerja di kantorku sekarang ini 8 tahun lalu. Memang sudah terlalu lama aku di sini, tapi kamu harus tahu, ini pun bukanlah titik terakhir kita. Karena aku -seperti juga kamu dulu- selalu bermimpi untuk bisa menggapai bintang yang lebih tinggi.

Setidaknya, aku bisa memberitahumu episode kelabu itu sudah berlalu detik ini. Kita sudah cukup ‘berhasil’. Kamu sudah menjadikanku mandiri secara finansial, kamu sudah berhasil membalas budi kepada orang tua kita (walaupun tentunya tidak akan pernah cukup), kamu sudah memberiku jalan mewujudkan apa-apa yang dulu hanya mampu kamu angankan.

Dearest me,

Terima kasih ya, tanpamu, tanpa semua sikapmu itu, tanpa segala keputusanmu itu, tanpa ketegaran-keteguhan-ketabahanmu itu, aku tidak akan pernah seperti ini. I am so proud of you.

Dari aku -yang dulu adalah kamu- yang selalu mencintaimu

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with #ForYoungerMe at Rindrianie's Blog.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,155 other followers