Kewalahan
April 28th, 2012 § 38 Comments
Postingan ini terinspirasi dari komentar Teh Anny di WeBe sebagai berikut :
Ternyata, kontes Kartinian yang membludak itu membuat saya -yang konon banci kontes ini- kewalahan sodara-sodara hihihihi. Terbukti dengan belum satu postingan pun yang saya tulis untuk meramaikan hajatan blogger ini. Dari beberapa sahabat blogdetik yang menyelenggarakan kontes, saya baru ikut kontesnya Bibi Titi Teliti saja, itu pun karena kebetulan hanya harus menjawab di kotak komentar dan -kebetulan juga- ada ide yang melintas di kepala pada saat berkunjung ke sana.
Mohon dimaafkan ya, Teh Anny, Kak Jul, Teh Nchie, Ami Osar, Melly, mba Yun kalau pada akhirnya saya tidak menemukan ide untuk ikut kontes yang kalian adakan. Sungguh, diriku tidak bermaksud demikian, tapi apalah daya, sepertinya saya betul-betul kewalahan nih untuk ikut berkontes ria *lebay surabay*.
Pagi tadi, karena hari ini memang jadwal ngantor di hari Sabtu, saya berniat memposting borongan untuk diikutkan lomba, tapi pekerjaan saya ternyata tetap banyak hingga sesore ini. Jadi ya sudahlah yaa…diikhlaskan saja hadiah-hadiah yang menggiurkan iman itu hohohoho.
Jika tahun lalu saya menulis Kartini dan Hari Bumi, dan sebelumnya menulis Poetry in Motion di bulan April, ternyata tahun ini saya malah kewalahan ya hahaha. Tak apa ‘kan?
Selamat berakhir pekan temans
Tenggang Rasa
April 26th, 2012 § 44 Comments
Judulnya mengingatkan ke pelajaran PMP atau PPKN ya hihihihi.
Sedikit prolog, sekitar 2 minggu ini kami akhirnya berlangganan TV kabel. Walaupun waktu menonton TV sangat terbatas bagi saya dan suami, tapi tetap saja sinetron-infotainment-acara tidak jelas di stasiun TV kita belakangan ini membuat kami merasa terdzalimi *halah*:P Dan pasca punya TV kabel, lumayan lah ya ada hiburan di rumah dengan banyak sekali pilihan menarik. Suami saya sih favoritnya nonton acara-acara di History atau NatGeo Channel, atau Biography, yang semacam itulah. Saya lebih suka nonton film (seri ataupun fim lepas), walaupun seasonnya sudah lewat sepertinya ya hahaha.
Nah, topik si tenggang rasa ini muncul saat semalam saya menonton salah satu episode Grey’s anatomy. Ada scene terakhir saat si Christina Yang -yang baru saja memutuskan pacaranya si Owen Hunt- terbaring diam di tempat tidur. Lantas masuk Meredith Grey -yang baru saja dilamar oleh Derek Sheperd- ke kamar itu. Kemudian ada dialog (yang kurang lebih) seperti ini : “Aku tunangan”, kata si Grey. “Aku baru putus” kata si Yang. Lantas mereka tidur deh tuh berdua.
Terbayang tidak sih adegannya? hihihihi. Tapi yang ingin saya sampaikan adalah, betapa si kedua sahabat itu memiliki tenggang rasa yang tinggi. Yang satu tidak egois mengumbar penderitaan yang dirasakannya, yang satu juga tidak egois menceritakan kebahagiaan yang baru dialaminya.
Dan saya jadi teringat dulu, saya pernah mengalami adegan serupa. Saat itu saya ingin sekali mengabarkan keberangkatan saya ke Thailand pada seorang sahabat. Hal itu membahagiakan saya, jangankan ke luar negeri, wong naik pesawat saja belum pernah. Begitu kami bertemu, sang sahabat mengatakan kontrak kerjanya tidak diperpanjang, dan beberapa hari ke depan dirinya terancam jobless. Lantas berita business trip saya ke Thailand yang ingin saya ceritakan itu hanya saya informasikan sambil lalu.
Adegan lain, saat itu saya sedang patah hati, diputuskan sepihak tanpa alasan yang jelas membuat saya lebih pendiam. Tapi saya tahu si sahabat saya yang satu itu sedang jatuh cinta karena baru jadian. Saya pun meminta dia menceritakan ini itu tentang si dia yang membuatnya lebih sering tersenyum. Sang sahabat menolak, dia bilang tidak enak hati berbahagia saat saya bersedih hati. Walaupun kemudian kami sepakat membagi semua yang ada, karena konon kebahagiaan yang dibagi akan bertambah, dan kesedihan yang dibagi akan berkurang. Simbiosis mutualisme, bukan?
Kenapa saya menuliskan hal ini? Karena saat ini ada satu sahabat saya yang dengan egoisnya selalu, selalu, dan selalu curhat di segala suasana. Saat dia jatuh cinta, ataupun saat dia patah hati, sang sahabat selalu menceritakannya tanpa pernah peka atau peduli kalau yang dicurhati pun memiliki masalahnya sendiri. Ish, kenapa jadi curcol ya hahahaha
Maksud saya, sahabat yang terakhir saya ceritakan ini, kok sepertinya tidak memiliki tenggang rasa ya? Saya mengerti, mungkin dia sangat perlu untuk membagi semua yang ada di hati atau dialaminya. Tapi yaa…seharusnya bisa lihat-lihat situasi kan ya, karena tidak setiap saat saya selalu dalam kondisi “siap sedia menerima curhatan” kan?
Hmm…sepertinya harus dicek ulang nih pelajaran si tenggang rasa ini ya hehe.
Well, have a great Thursday, Pals
Buku di Hari Buku
April 23rd, 2012 § 44 Comments
Hai temans.
Tanggal 23 April ternyata Hari Buku ya? Baru tahu lho saya *inpo ga fenting* hihihi. Tapi yang akan saya sampaikan ini penting, setidaknya bagi saya
Beberapa menit yang lalu Pak OB menyerahkan paket JNE ke meja saya. Setelah saya lihat, kertas merah pembungkusnya bertuliskan Nulisbuku.com. Yeaayyy, pesanan buku saya ternyata sudah sampai. Dan ini bagian pentingnya sodara-sodara : dalam buku ini ada tulisan saya ! hohohoho. Maafkan ya temans, setelah Si Odol Masochist tempo hari, postingan ini pun hanyalah episode norak saya berikutnya hihihihi.
Tidak, saya tidak bermaksud mempromosikan buku itu kok. Toh cerpen saya yang tercetak di sana bisa dengan mudah teman-teman baca di sini. Walaupun tentu saja jika berkenan membelinya saya senang sekali, karena keuntungan dari penjualan buku ini disumbangkan untuk Taman Bacaan Rumah Unyil di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Silahkan kunjungi nulisbuku.com, atau langsung mengirimkan email ke admin[at]nulisbuku[dot]com jika berminat ya.
Saya tahu, banyak sekali teman-teman yang sudah menerbitkan bukunya, jadi kalau mau dibanding-bandingkan, saya mah kalah telak lah ya. Tapi sekali lagi, ini merupakan sebuah pencapaian tersendiri bagi saya, yang begitu membahagiakan, yang sangat mengharukan, yang ingin saya syukuri dengan khidmat *mulai lebay
*. Pokoknya mah saya senang sekali, semoga buku saya sendiri bisa juga segera diterbitkan. Aamiin..
Jadi begitulah, semoga kehadiran buku kecil itu ikut menyemarakkan perbukuan dunia
Weekly Photo Challenge : Sun
April 23rd, 2012 § 25 Comments
Untukmu Matahariku
April 19th, 2012 § 44 Comments
Ini hanyalah catatan kecil yang mungkin tidak bermakna, tapi tetap akan kutuliskan untukmu. Karena bagiku, keberadaanmu dalam kehidupanku telah menggenapiku. Aku berharap semoga, hadirku juga telah sanggup melengkapimu.
Izinkan aku berterima kasih padamu, karena telah memilihku untuk mendampingimu. Aku juga tak lupa berterima kasih padaNYA, karena telah memilihkanmu untuk bersamaku. Semoga pilihan kita akan membawa kita ke surga kelak, ya?
Kau masih ingat tidak? Kemarin kau bilang padaku, sebagian besar penghuni surga berusia 32 tahun, seperti usiamu di hari ini. Dan aku bilang, semoga saja saat kau di sana -di surga itu-, aku yang menjadi bidadari untuk menemanimu. Dan kau tertawa, aku pun tertawa, lucu ya
Ingatkan aku untuk mengabadikan rupa menawanmu hari ini dengan kotak ajaibku
Nah, seperti kubilang, catatanku semakin tidak jelas. jadi aku ingin mengakhirinya saja. Aku hanya ingin kau tahu, dalam setiap doaku, selalu ada namamu, semua yang terbaik aku daraskan untukmu. Semoga Beliau Yang Maha Segala, semakin menyayangimu, wahai suamiku.
Happy milad, Luv
Kapan (?)
April 18th, 2012 § 40 Comments
Sering sekali saya mendapat pertanyaan diawali dengan kata tanya ini, dengan berbagai macam kontek kalimat dan tujuan bertanya. Juaranya sih waktu masih jomblo dulu, tahu dunk pertanyaan sejuta umat yang terkadang menyebalkan bagi para single itu? Tapi ternyata pertanyaan “Kapan nikah?” itu tidak akan berhenti begitu saja, karena selanjutnya “Kapan hamil?” “Kapan punya mobil?” dan berjuta kapan lain akan selalu mengikuti. Hmm… sedikit menyebalkan bukan? hehehehe.
Saya mengerti, karena waktu saya di dunia ini terbatas, pertanyaan ‘kapan’ (mungkin) menjadi sangat relevan untuk diajukan. Entah sebagai pengingat, pemacu semangat, atau sekedar himbauan. Tujuannya sama, untuk segera memulai aksi, untuk cepat mengambil langkah, untuk tidak menunda melakukan. Karena jika tidak sekarang, besok-nanti-kelak itu belum tentu bisa saya sapa.
Ish, ini ngobrolin apa sih Rin?
Maafkan ya temans, saya sebetulnya sih sedang curcol belaka (seperti biasa), karena sedang merasa jenuh akan pertanyaan ‘kapan’ yang -entah kenapa- rasanya akhir-akhir ini sering sekali saya terima. Ada yang bisa saya jawab dengan mudah. Banyak yang justru membuat saya sendiri bertanya ‘kapan’ pada diri saya sendiri. Sebagian yang lain menyebalkan sehingga tidak ingin saya jawab. Dan beberapa memang tidak perlu saya jawab karena hanya Sang Maha Tahu yang berwenang menentukan waktunya.
Lantas, beberapa hari yang lalu saat saya mempublish si postingan “tentang judul” itu, muncul lah quote dari Stephen King ini, yang sengaja saya simpan sebagai penawar saat saya terganggu oleh pertanyaan kapan saya itu.
Tentu saja, quote ini hanya bisa diaplikasikan pada hal-hal yang bisa saya tentukan sendiri waktunya. Ketika deadline sudah dibuat, asumsinya saya tahu kapan harus memulai ‘kan ya? Nah, kalau terus-terusan khawatir -iya deh ngaku, takut begini begitu- tidak jelas, bukannya si deadline itu akan semakin dekat tanpa action yang berarti? Kapan dong beresnya?
Haiyaaahhh tambah mbulet
Disudahi dulu ya temans, doakan saya untuk bisa segera mulai tanpa perlu takut, karena mungkin ketakutan itu sendiri tidak perlu, dan hanya ada karena saya belum memulainya, persis seperti yang Stephen King bilang hehehe.
Happy Wednesday, Pals
Weekly Photo Challenge : Two Subjects
April 16th, 2012 § 34 Comments
Weekly Photo Challenge : Journey
April 12th, 2012 § 31 Comments
Tentang Judul
April 9th, 2012 § 38 Comments
Entah kenapa, saya sulit sekali menentukan judul sebuah tulisan yang saya buat. Entah itu fiksi atau curcol belaka seperti kali ini. Bahkan, judul skripsi saya tempo hari pun terkena imbas dari penyakit akut serupa, dan menjadi salah satu bagian yang harus direvisi *ups* hihihi…
Ada beberapa tulisan yang muncul ide judulnya terlebih dulu sebelum isinya, tapi ya begitulah, prosentase-nya kecil sekali. Itulah kenapa saya sukkkkka sekali saat si judul sudah ditentukan, sehingga saya hanya tinggal berimajinasi berkhayal termenung menuliskan isinya. Hadeuh…lebay surabay pisan
Nah, beberapa hari yang lalu saya menulis semacam FF, dan tahu dunk maksud saya berikutnya? hohoho… Seorang teman sudah menyumbang judul bertajuk ‘Tanah Merah’, saya pun menyukainya, tapi siapa tahu, ada ide judul yang lebih yahud he he
Selain masukan untuk judul, silahkan lho dikritik fiksi berikut ini *wink…wink…*
Pada akhirnya, setiap orang akan mati. Semegah apapun hidup yang pernah kau alami sebelumnya, semerana apapun kehidupan berlaku pada raga saat jantungmu berdenyut. Suatu saat –entah kapan- kau tetap akan menjadi mayat, tak bisa bernafas, tak mampu bergerak, mati. Dengan atau tanpa peti, kau akan terkubur sekian meter di dalam tanah, untuk kemudian digerogoti cacing dan teman sebangsanya. Seperti itulah, tidak mungkin menolak, tak ada pilihan lain.
Lantas, kenapa pemakaman kali ini harus sedikit berbeda? Kenapa banyak sekali kamera? Kenapa banyak sekali karangan bunga? Owh, rupanya seorang bintang yang kini harus aku kuburkan.
Prosesi pemakaman berjalan dengan dramatis. Banyak teriakan meratap, deraian air mata juga bertabur jeritan pilu. Blah. Berlebihan. Sang jenazah tak bisa lagi mendengar, dia tak lagi peduli, dan tak mungkin juga dia bangkit lagi, ‘kan? Toh mereka –yang berteriak menjerit menangis- itu, juga hanya tinggal menunggu giliran untuk dimasukkan ke dalam tanah seperti wanita ini. Drama ini entah kenapa menjadi memuakkan bagiku. Kematian adalah kembalinya seorang manusia ke dalam pelukan Tuhan, kenapa harus ditangisi sedemikian rupa? Tapi biarkan saja orang-orang ini berekspresi, toh mereka tidak menggangguku.
Marina? Rasanya aku tahu bintang film ini. Yeah, walaupun tentu saja aku tidak mungkin menonton film-filmnya. Lagipula untuk apa menghabiskan uangku untuk sebuah cerita picisan yang tak masuk akal? Cinta? Pengkhianatan? Tak ada waktu memikirkan hal semacam itu saat aku harus berpikir bagaimana membeli sebungkus nasi penyambung hidup setiap harinya.
Tapi tentu saja,Marina-si jenazah yang kini hampir tertimbun tanah- tidak pernah merasakannya. Hidupnya tentu selalu cemerlang benderang, tidak gulita seperti hidupku. Beruntung sekali dia, baru merasakan kegelapan saat jiwanya tak lagi bersamanya.
Baiklah, aku terlalu sinis. Maafkan keluhan-keluhanku tadi. Toh suatu saat nanti aku pun akan juga terbenam dalam tanah sepertinya. Walaupun tanpa kamera-wartawan-karangan bunga seperti ini, kepergianku kelak mungkin tetap menyisakan lara kehilangan dari istri dan anak-anakku ‘kan? Serupa dengan perginya seorang Marina sang mantan bintang film terkenal yang kini telah tertimbun sempurna. Tanah merah basah itu kini pun bertabur bunga sepenuhnya.
“Pak, terima kasih banyak tadi ya.” Seorang pemuda gagah berbusana hitam –dan juga berkaca mata hitam- menepuk pundakku saat pemakaman kembali beranjak sunyi. Seraya menyalamiku, terselip di tangannya sebuah amplop putih yang cukup tebal untuk ukuranku.
Ah, amplop tebal ini lah yang membedakan kematian seorang bintang dengan orang kebanyakan. Tak bisa tidak bibirku tersenyum tanda berterima kasih pada sang pemuda. Dan siang itu pun cangkulku terasa lebih ringan daripada biasanya dengan segepok uang tersimpan aman di saku celanaku.
Bagaimana? Ada ide judul tidak? he he
Happy Monday, Pals
Valentina Orin
April 4th, 2012 § 39 Comments
Bukan, judul di atas bukan nama baru saya kok. Nama tersebut diberikan kepada saya oleh seorang teman, pasca dirinya saya bonceng dengan si kupi sepulang kami kuliah dulu. Menurutnya, saya ngebut sekali, sehingga pantas diberi julukan ‘Valentina Orin’, maksudnya tidak lain tidak bukan seolah-olah saya kembar (tidak) identik dengan Valentino Rossi sang pembalap itu *halah*
Mari kita analisa terlebih dulu definisi ‘ngebut’ ini, karena setiap orang memiliki standar tersendiri untuk segala sesuatu bukan? Ngebut bagi saya adalah jika sang motor berlari dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam. Dibawah itu mah yaa…’cepat’ saja, belum termasuk kategori ngebut he he.
Tapi jarum speedometer si kupi menyentuh angka 100 pun jarang-jarang kok, hanya dalam waktu-waktu tertentu saja, misalnya saya sudah sangat terlambat, atau berkendara di malam hari dimana saya sudah mengantuk. Iya, agar supaya saya tetap ‘alert’ dan adrenalin tetap tinggi maka saya akan ngebut hingga kecepatan 100 km/jam. Kalau normal-normal saja mah yaa…rata-rata di kecepatan 60-80 km/jam saja. Kalau macet? Beuh…kadang menyentuh angka 20 km/jam pun tidak
Belajar mengendarai motor pertama kali adalah saat saya kelas 3 SMP. Saya bahkan lupa saat itu motor Bapak saya apa, tapi bukan jenis motor gede berkopling seperti biasanya, juga bukan motor matic karena zaman itu rasanya motor jenis ini belum ada. Jadi belajar lah saya mengganti-ganti gigi di sebuah lapangan bola dengan Bapak saya sebagai guru.
Puas berkeliling lapangan (dan dianggap lulus), saya langsung diajak ke jalan kecil dengan Bapak ikut membonceng di belakang. Saya ingat sekali, saat itu sore hari, dimana jalanan cukup ramai. Sehingga saat saya belok kanan ke sebuah gang, sang motor menabrak segerombolan anak-anak sebaya saya yang sedang bersepeda. Tidak ada yang serius dari ‘kecelakaan’ tersebut karena kecepatan motor memang selamban siput
Sejak itu rasanya tidak ada peristiwa berarti dari episode-episode saya mengendarai si roda dua. Mungkin karena saya memang sudah terbiasa bersepeda ria sejak kecil ya, jadi saat belajar motor langsung bisa dan lancar-lancar saja. Jalanan mulus -dan lengang- di kampung saya pun membuat saya berjiwa pembalap, dan terbawa-bawa saat saya berpetualang ke Jakarta.
Sekitar tahun 2004, saya dipinjami (semacam) motor operasional untuk datang ke sekolah (saat itu saya jadi pengajar bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus). Maka pada fase ini pun, kapan pun di manapun jika memungkinkan (baca : jalanan tidak macet dan kondisi jalan mulus), saya akan cenderung memacu si motor dengan cepat. Begitu juga saat saya memakai motor-motor pinjaman lainnya (termasuk yang berkopling), saya akan memiliki kecenderungan untuk cepatjika situasinya memungkinkan.
Dan tidak ada satu pun episode terjatuh dari motor seperti yang Mamah Rafi ceritakan di postingan ini. Tapi karena postingan ini memang terinspirasi dari postingan tersebut, maka tentu saja saya pernah terjatuh dari motor.
Saat itu saya sudah memiliki motor sendiri, bukan si kupi, tapi kakaknya si BeATy boop *haiyaa…maafkan penamaan motor-motor saya itu ya temans hihihi*. Saya masih nge-kost di daerah Rawamangun, dan rute menuju kantor adalah melewati pintu 3 Kelapa Gading menuju ‘jalan kangkung’ (sebuah jalan kecil yang tidak dilalui angkot rute manapun, yang -dulu- ditanami kangkung di kanan kiri jalan, sekarang sudah sedikit lebih lebar karena dibangun perumahan elite), sebelum belok kanan ke jalan Tipar Cakung untuk sampai di kantor.
Pagi itu entah kenapa jalan kangkung ini muacet buanged, lalu lintas merayap. Karena itu memang jalanan kecil tapi dipakai 2 arah, terbayang lah ya bagaimana chaosnya he he. Terpinggirkan oleh mobil-mobil pribadi dan motor-motor lainnya, saya pun mlipir ke arah paling kiri jalan. Malam sebelumnya hujan, dan jalanan kecil yang beraspal seadanya itu licin oleh tanah merah yang terbawa air hujan dari kanan kirinya yang belum beraspal.
Saat sedikit demi sedikit merayap itulah, entah bagaimana kejadian detailnya, tiba-tiba saja mobil di sebelah kanan saya maju ke arah saya, membuat saya kehilangan keseimbangan, dan terjatuh di ruang kosong di sebelah kanan yang tadinya adalah si mobil tadi. Ish…lebay surabay ya hihihi. Intinya, saat itu saya terjatuh, dengan lutut mencium tanah, hingga celana jeans saya robek dan lutut saya berdarah-darah, membuat kemacetan di belakang saya semakin menjadi-jadi sebelum saya bisa kembali melaju dengan menahan sakit.
Jadi inti postingan ini apa Rin? Hmm…tidak ada sih, hanya sekedar ingin bercerita *plaaaak*.
Selain mengingatkan untuk selalu berdoa dan kemudian berhati-hati saat berkendara, peristiwa itu selalu memberi pemahaman baru bagi saya untuk menghargai waktu, lengkapnya pernah saya tulis di sini *aih malah promosi
*. Disudahi saja kalau begitu ya
Happy Wednesday Pals











