A Thousand Years
May 28th, 2012 § 12 Comments
Hari ini, ke-tiga teman kubikel saya kompakan tidak ngantor dengan alasan sakit. Selain sibuk bin riweuh karena saya harus -sedikit banyak- mengerjakan tugas yang tidak bisa ditunda dari ke-tiga teman tadi, terasa aneh ternyata ya di kubikel sendirian, tidak bisa mengobrol sodara-sodara hihihihi.
Paragraf tadi cuma prolog saja kok, saya tidak bermaksud menceritakan kesendirian saya hari ini seperti seribu tahun lamanya. Ish, itu mah lebay pisan
Saya cuma sedang suka sekali mendengarkan lagu Christina Perri ini. Mendengarkannya berulang-ulang gantian dengan I will be-nya Avril Lavigne dan Paradise-nya Coldplay di laptop seharian ini. Dan jadilah saya menuliskan postingan geje ini. *hadeuh, pengulangan ‘ini’ hingga 3 kali
*
Tidak, saya bukan pecinta Twilight-Edward Cullen-Vampire blinkblik-manusia serigala dan semua derivasinya. Biasa saja. Saya dipinjami novel Twilight oleh seorang teman bertahun lalu, hingga buku ke-2, tidak terlalu penasaran sehingga saya tidak ingin membeli novel berikutnya sendiri. Jadi, kalau ada yang bersedia meminjamkan ya dengan senang hati diterima lho hihihihi.
Nonton filmnya pun (yang pertama) hanya di DVD yang -sekali lagi- dipinjami seorang teman. Film kedua nonton di Fox, yang berikutnya belum nonton dan dipastikan tidak akan menyengajakan diri nonton di bioskop. Kalau gratisan mah lain hal lah ya hahahaha *teuteuuup pelit
*
Saya mendengarkan lagu ini di radio, dan baru ngeh merupakan salah satu soundtrack Twilight-Saga setelah melihat video klipnya. Tapi berhubung ada adegan-adegan yang -bagi saya- tidak lulus sensor, video liriknya saja ya hihihihi *peace*.
Tapi, perhatikan kalimat ini deh :”How can I love, when I’m afraid to fall”,lucu ya
Mengingatkan saya tentang curhatan seorang sahabat yang tidak ingin jatuh cinta karena takut tersakiti, dikecewakan, dikhinati, bahkan ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Mungkin bisa dibilang itu adalah sindrom orang patah hati ya, tapi saat itu, sahabat saya ini tidak sedang atau baru patah hati, sampai si pernyataan itu diucapkan, dia tidak pernah punya kekasih.
Maka, ketika dia mengabari saya dirinya akan menikah, saya mengembalikan pernyataannya bertahun lalu itu padanya, dan (kurang lebih) begini jawaban sang sahabat “gue pengen berenang Rin, kalo gue takut basah, kapan gue bisa berenang?” hihihihi… sedikit absurd, tapi yaa okelah ya
So temans, sebelum saya semakin geje lagi, intinya tak perlu takut segala lah ya untuk jatuh cinta (kenapa harus ‘jatuh’ sih by the way?), dinikmati saja seluruh perasaan-perasaan yang menyertai proses itu. Rindu, berdebar-debar, bahagia, sering tersenyum, dan masih banyak lagi implikasi positif dari sebuah proses “jatuh cinta”, kalau ternyata tersandung dan kemudian nyungsep *halah* toh selalu bisa bangkit lagi kan?
Baiklah, saya akan benar-benar menyudahinya. Have a lovely life with your loved ones, Pals
Senggigi, Tunggu Aku!
May 23rd, 2012 § 42 Comments
*Maafkanlah kelebayan judulnya ya temans
*
Tapi keindahan Senggigi pasti tidak lebay bukan? Maka jika suatu saat saya bisa berkesempatan berlibur ke Lombok, mungkin pantai ini lah yang ingin saya kunjungi pertama kali. Walaupun tentu saja gunung Rinjani yang menawan itu pun sangat menggoda iman *halah*.
Ada alasan lain kenapa pantai Senggigi harus berada di urutan pertama. Tidak lain tidak bukan adalah karena saya ingin tahu apakah senja di Senggigi memang seindah ‘khayalan’ saya tentangnya saat menuliskan cerpen Sepenggal Senja di Senggigi itu, walaupun kalau di lihat dari fotonya Depz ini tidak diragukan lagi keindahannya ya.
Senggigi, tunggu aku yaa
Kewalahan
April 28th, 2012 § 38 Comments
Postingan ini terinspirasi dari komentar Teh Anny di WeBe sebagai berikut :
Ternyata, kontes Kartinian yang membludak itu membuat saya -yang konon banci kontes ini- kewalahan sodara-sodara hihihihi. Terbukti dengan belum satu postingan pun yang saya tulis untuk meramaikan hajatan blogger ini. Dari beberapa sahabat blogdetik yang menyelenggarakan kontes, saya baru ikut kontesnya Bibi Titi Teliti saja, itu pun karena kebetulan hanya harus menjawab di kotak komentar dan -kebetulan juga- ada ide yang melintas di kepala pada saat berkunjung ke sana.
Mohon dimaafkan ya, Teh Anny, Kak Jul, Teh Nchie, Ami Osar, Melly, mba Yun kalau pada akhirnya saya tidak menemukan ide untuk ikut kontes yang kalian adakan. Sungguh, diriku tidak bermaksud demikian, tapi apalah daya, sepertinya saya betul-betul kewalahan nih untuk ikut berkontes ria *lebay surabay*.
Pagi tadi, karena hari ini memang jadwal ngantor di hari Sabtu, saya berniat memposting borongan untuk diikutkan lomba, tapi pekerjaan saya ternyata tetap banyak hingga sesore ini. Jadi ya sudahlah yaa…diikhlaskan saja hadiah-hadiah yang menggiurkan iman itu hohohoho.
Jika tahun lalu saya menulis Kartini dan Hari Bumi, dan sebelumnya menulis Poetry in Motion di bulan April, ternyata tahun ini saya malah kewalahan ya hahaha. Tak apa ‘kan?
Selamat berakhir pekan temans
Untukmu Matahariku
April 19th, 2012 § 44 Comments
Ini hanyalah catatan kecil yang mungkin tidak bermakna, tapi tetap akan kutuliskan untukmu. Karena bagiku, keberadaanmu dalam kehidupanku telah menggenapiku. Aku berharap semoga, hadirku juga telah sanggup melengkapimu.
Izinkan aku berterima kasih padamu, karena telah memilihku untuk mendampingimu. Aku juga tak lupa berterima kasih padaNYA, karena telah memilihkanmu untuk bersamaku. Semoga pilihan kita akan membawa kita ke surga kelak, ya?
Kau masih ingat tidak? Kemarin kau bilang padaku, sebagian besar penghuni surga berusia 32 tahun, seperti usiamu di hari ini. Dan aku bilang, semoga saja saat kau di sana -di surga itu-, aku yang menjadi bidadari untuk menemanimu. Dan kau tertawa, aku pun tertawa, lucu ya
Ingatkan aku untuk mengabadikan rupa menawanmu hari ini dengan kotak ajaibku
Nah, seperti kubilang, catatanku semakin tidak jelas. jadi aku ingin mengakhirinya saja. Aku hanya ingin kau tahu, dalam setiap doaku, selalu ada namamu, semua yang terbaik aku daraskan untukmu. Semoga Beliau Yang Maha Segala, semakin menyayangimu, wahai suamiku.
Happy milad, Luv
Tentang Judul
April 9th, 2012 § 38 Comments
Entah kenapa, saya sulit sekali menentukan judul sebuah tulisan yang saya buat. Entah itu fiksi atau curcol belaka seperti kali ini. Bahkan, judul skripsi saya tempo hari pun terkena imbas dari penyakit akut serupa, dan menjadi salah satu bagian yang harus direvisi *ups* hihihi…
Ada beberapa tulisan yang muncul ide judulnya terlebih dulu sebelum isinya, tapi ya begitulah, prosentase-nya kecil sekali. Itulah kenapa saya sukkkkka sekali saat si judul sudah ditentukan, sehingga saya hanya tinggal berimajinasi berkhayal termenung menuliskan isinya. Hadeuh…lebay surabay pisan
Nah, beberapa hari yang lalu saya menulis semacam FF, dan tahu dunk maksud saya berikutnya? hohoho… Seorang teman sudah menyumbang judul bertajuk ‘Tanah Merah’, saya pun menyukainya, tapi siapa tahu, ada ide judul yang lebih yahud he he
Selain masukan untuk judul, silahkan lho dikritik fiksi berikut ini *wink…wink…*
Pada akhirnya, setiap orang akan mati. Semegah apapun hidup yang pernah kau alami sebelumnya, semerana apapun kehidupan berlaku pada raga saat jantungmu berdenyut. Suatu saat –entah kapan- kau tetap akan menjadi mayat, tak bisa bernafas, tak mampu bergerak, mati. Dengan atau tanpa peti, kau akan terkubur sekian meter di dalam tanah, untuk kemudian digerogoti cacing dan teman sebangsanya. Seperti itulah, tidak mungkin menolak, tak ada pilihan lain.
Lantas, kenapa pemakaman kali ini harus sedikit berbeda? Kenapa banyak sekali kamera? Kenapa banyak sekali karangan bunga? Owh, rupanya seorang bintang yang kini harus aku kuburkan.
Prosesi pemakaman berjalan dengan dramatis. Banyak teriakan meratap, deraian air mata juga bertabur jeritan pilu. Blah. Berlebihan. Sang jenazah tak bisa lagi mendengar, dia tak lagi peduli, dan tak mungkin juga dia bangkit lagi, ‘kan? Toh mereka –yang berteriak menjerit menangis- itu, juga hanya tinggal menunggu giliran untuk dimasukkan ke dalam tanah seperti wanita ini. Drama ini entah kenapa menjadi memuakkan bagiku. Kematian adalah kembalinya seorang manusia ke dalam pelukan Tuhan, kenapa harus ditangisi sedemikian rupa? Tapi biarkan saja orang-orang ini berekspresi, toh mereka tidak menggangguku.
Marina? Rasanya aku tahu bintang film ini. Yeah, walaupun tentu saja aku tidak mungkin menonton film-filmnya. Lagipula untuk apa menghabiskan uangku untuk sebuah cerita picisan yang tak masuk akal? Cinta? Pengkhianatan? Tak ada waktu memikirkan hal semacam itu saat aku harus berpikir bagaimana membeli sebungkus nasi penyambung hidup setiap harinya.
Tapi tentu saja,Marina-si jenazah yang kini hampir tertimbun tanah- tidak pernah merasakannya. Hidupnya tentu selalu cemerlang benderang, tidak gulita seperti hidupku. Beruntung sekali dia, baru merasakan kegelapan saat jiwanya tak lagi bersamanya.
Baiklah, aku terlalu sinis. Maafkan keluhan-keluhanku tadi. Toh suatu saat nanti aku pun akan juga terbenam dalam tanah sepertinya. Walaupun tanpa kamera-wartawan-karangan bunga seperti ini, kepergianku kelak mungkin tetap menyisakan lara kehilangan dari istri dan anak-anakku ‘kan? Serupa dengan perginya seorang Marina sang mantan bintang film terkenal yang kini telah tertimbun sempurna. Tanah merah basah itu kini pun bertabur bunga sepenuhnya.
“Pak, terima kasih banyak tadi ya.” Seorang pemuda gagah berbusana hitam –dan juga berkaca mata hitam- menepuk pundakku saat pemakaman kembali beranjak sunyi. Seraya menyalamiku, terselip di tangannya sebuah amplop putih yang cukup tebal untuk ukuranku.
Ah, amplop tebal ini lah yang membedakan kematian seorang bintang dengan orang kebanyakan. Tak bisa tidak bibirku tersenyum tanda berterima kasih pada sang pemuda. Dan siang itu pun cangkulku terasa lebih ringan daripada biasanya dengan segepok uang tersimpan aman di saku celanaku.
Bagaimana? Ada ide judul tidak? he he
Happy Monday, Pals
Gado-gado
March 15th, 2012 § 23 Comments
Bukan, ini bukan tentang gado-gado lontong atau sejenisnya. Postingan ini saya beri judul demikian karena yang akan saya tuliskan sangatlah gado-gado, campur sari, random, acak, semacam itulah. Persis apa yang sedang terjadi dalam keseharian saya akhir-akhir ini. Tak bertema *halah…bilang aja mau curcol ya
*
Seorang teman satu divisi baru saja resign. Membuat saya -mau tidak mau- kecipratan sebagian pekerjaan yang dulu menjadi tugasnya. Sibuk? Jangan ditanya, riweuuuuh. Itulah kenapa saya jarang posting, dan atau hanya memajang foto, sekedar untuk membuat blog ini tetap ‘hidup’.
Nge-net di rumah pun tak sanggup lagi, belum lagi jika ada setumpuk baju kotor, atau lantai dekil yang wajib dipel, atau baju kerja suami yang perlu diseterika, atau menu sarapan yang harus disiapkan. Ngeles? Begitulah hihihihi.
Tapi semoga saja masa transisi ini akan segera berlalu. Saya bisa menyesuaikan diri dengan tugas-tugas baru di kantor, terbiasa dengannya, dan bisa kembali ke ritme semula.
Maka saya pun ingin meminta maaf, pada sahabat-sahabat shohibul kontes, mba Susindra, mama Sedja, dan temans penyelenggara kontes lainnya, jika saya belum bisa ikut berpartisipasi dalam hajatannya. Mohon maaf yaa…
Padahal, saya ingin sekali mengikuti beberapa lomba mengumpulkan cerpen yang akan dibukukan itu. Atau lomba menulis novel yang sangat menantang itu. Atau PR dari guru menulis saya untuk membuat 3 cerpen yang harus diselesaikan sebelum tanggal 25 Maret itu. Arrrggghhhh… dengan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 2 tangan + 10 jari, dan nikmat memiliki ‘isi kepala’ yang luar biasa dari Sang Pencipta, masa sih saya tidak bisa melakukannya ?
Tuh kan, curcol jadinya?
Sudahlah ya, Alhamdulillah setidaknya saya bisa menyelesaikan postingan pendek tak bertema ini. Semoga harimu menyenangkan temans
Peralatan Perang
March 2nd, 2012 § 38 Comments
Masih episode pindahan rumah.
Salah satu alasan waktu pindahan yang terus mundur, adalah Mamah dan Bapak ingin juga datang untuk membantu kami. Alhamdulillah, hari Jum’at minggu lalu beliau berdua -bersama adik bungsu saya- bisa datang, dan ikut heboh dengan semua pernak pernik pindahan, termasuk menyaksikan saya dan Aa berantem *ups* hihihi.
Rumah kontrakan kami dulu, sudah dilengkapi dengan kulkas, rak piring, lemari baju 2 pintu, kitchen set, lemari gantung di ruang keluarga, bahkan meja makan makan dengan dua kursi. Maka barang-barang kami cenderung sedikit. Harta benda (eyampun harta benda bo ! ha ha :p) yang tergolong besar hanyalah tempat tidur, lemari pakaian 3 pintu, mesin cuci, TV dan kompor. Plus berkardus-kardus baju dan buku
Lantas, maksud peralatan perang itu apa?
Ceritanya, Mamah saya ingin membuat lemper sebagai penganan sahabat-sahabat yang membantu kami pindahan. Bahkan Mamah membawa si beras ketan dari Majalengka! *tepok jidat*. Disinilah masalah itu muncul, saya tidak punya ‘peralatan perang’ utama dalam prosesi pembuatan lemper.
Saya tidak punya dandang aliasan kukusan hohoho
Alat masak yang saya miliki masih minimalis lah pokonya mah. Sering sih buat pepes tahu, tapi ya ikutan dipepes di ricecooker imut saja, tidak di dandang khusus gitu. Saya juga tidak punya baskom (bahasa Indonesia-nya baskom bukan sih?
) untuk tempat menyimpan si nasi ketan itu nantinya. Apalagi tampah! bah… apa pula itu? qiqiqiqi
Jadilah Mamah dan saya berbelanja si peralatan perang ini sesaat sebelumnya. Dan hasilnya, sekarang saya punya peralatan perang yang cukup lengkap, tapi belum punya rak piring! hahahaha…
Nah, berhubung (akhirnya) saya punya dandang, sepertinya wiken besok saya bisa membuat sesuatu dengan peralatan perang yang satu itu. Semoga.
Met berwiken ria ya temans ^^
New Year, New Me
November 28th, 2011 § 45 Comments
Selamat tahun baru Islam 1433 Hijriah, teman. Maafkan keterlambatannya
Bukan, postingan ini bukan merupakan postingan giveaway mba Tia dan Ummi Yunda itu, belum ada sebaris gurindam pun di kepala saya saat ini, semoga besok atau lusa saya bisa menjelma menjadi Raja Ali Haji yang piawai bergurindam itu. Tulisan ini hanyalah episode lain dari kegalauan saya *halah*
Saya memang tidak terbiasa ber-resolusi dengan membuat daftar detail apa pencapaian saya sebelumnya, dan menuliskan apa-apa saja harapan-keinginan-impian saya di tahun berikutnya saat pergantian tahun seperti ini. Saya hanya mencatat daftar-daftar itu dalam hati dan kepala saja, seraya berupaya untuk selalu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Klise ya, bahkan garing
Tapi hijrah selalu bermakna pindah, saya menyadarinya sejak lama, tapi entah kenapa kali ini terasa jauh lebih sulit. Entah karena saya terlalu terlena dalam keadaan saya di ‘tempat’ sebelumnya, entah karena saya belum siap menjadi seseorang yang lebih ‘baru’, entah karena ‘anak tangga’ yang sedang saya naiki ini terlalu tinggi, entahlah. Atau mungkin saja, alasannya sederhana, yaitu karena saya memang penakut! hiks
Well, bagaimanapun, saya ingin menjadikannya momentum dalam kehidupan saya. Semoga kebaruan ini juga mendorong saya menjadi saya yang baru, yang lebih baik. Doakan saya ya temans
Rahasia
November 15th, 2011 § 39 Comments
Adakah di antara sahabat yang memiliki sebuah -atau banyak- rahasia?
(Rasanya sih) saya tidak punya rahasia, dan kalaupun ada, tidak mungkin juga saya ceritakan di sini bukan? hihihi. Lantas? Kenapa judulnya rahasia? Begini maksud saya teman-teman.
Bagi beberapa sahabat, saya adalah sahabat yang cukup dipercaya sehingga mereka bisa bercerita tentang rahasia-rahasia mereka pada saya. Karena saat mereka berpesan “Rahasia ya Rin, jangan bilang siapa-siapa” atau kalimat lain sejenis, maka saya akan menjaga rahasia tersebut dengan baik. Dan jika suatu saat rahasia itu rupanya diketahui oleh orang lain, sahabat-sahabat saya percaya, pasti bukan saya yang membocorkan rahasia mereka itu. Alhamdulillah yaa…
Tapi sebagai wanita (maaf ya bawa-bawa gender segala :p) yang suka sekali bercerita, hobby bercoletah dan senang ngobrol, terkadang sulit sekali untuk tetap diam menyimpan sang rahasia. Apalagi jika saat obrolan menyerempet ke rahasia sang sahabat, yang saya tahu sebetulnya berita (atau gossip?) tersebut tidak betul. Ingin sekali saya ‘meluruskan’, tapi terbentur janji untuk tetap menjaga rahasia yang sudah diamanahkan. Duh…
Itu baru satu kasus ya, karena rahasia yang saya pegang cukup banyak, terkadang rasanya ingin meledak saat harus memendamnya sendiri. Akhirnya, saya pun menceritakan rahasia tersebut ke…suami saya. Entah ini dibenarkan atau tidak, tapi bagi saya setidaknya saya telah ‘membagi beban’ itu padanya. Sehingga saya merasa sedikit lega, karena saya tahu rahasia itu tetap aman (tidak mungkin kan suami saya cerita-cerita, apalagi kadang suami saya juga tidak selalu tahu teman-teman saya he he), tapi saya tetap bisa bebas bercerita-berceloteh-ngobrol tentang rahasia itu dengannya.
Dan, saya akan memberitahu sahabat-sahabat saya sang pemilik rahasia, bahwa saya menceritakan rahasia mereka pada suami saya, dengan alasan saya tidak selalu kuat untuk menjadikan rahasia itu diketahui saya sendiri. Biasanya sih mereka bisa mengerti dan memaklumi tindakan saya tersebut. Mungkin karena mereka juga bisa memahami bagaimana sulitnya menjaga rahasia ya?
Tapi…. kadang, hanya sesekali saja, rahasia-rahasia itu menjadi inspirasi saya dalam menulis cerita fiksi *ups*.
Psst…jangan bilang siapa-siapa ya


