Bertumbuh Bersama Mizan

April 12, 2013 § 30 Comments

Hobi saya sejak kecil memang membaca. Belum berubah hingga sekarang, dan sepertinya akan tetap sama hingga waktu-waktu yang akan datang.

Seingat saya, sejak TK saya sudah bisa (dan suka) membaca. Maka saat kelas 2 SD, saya tidak terpilih ibu guru untuk mewakili sekolah dalam lomba membaca antar sekolah, saya sempat merasa sakit hati. Lantas melampiaskannya dengan membaca apapun yang bisa saya baca, termasuk kertas bekas pembungkus cabe merah di dapur mamah saya :P

Tapi saya memang pemimpi, sehingga jenis bacaan saya pun dari dulu lebih banyak yang berupa fiksi, dengan semua derivasinya. Masa-masa SD, saya membaca dongeng rakyat seperti Sangkuring atau semacam legenda terbentuknya Situ Bagendit, misalnya. Novel Trio detektif dan Lima Sekawan, hingga cerita-cerita di majalah Bobo dan Si Kuncung.

Beranjak SMP, saya membaca Wiro Sableng, komik-komik Jepang, bahkan pernah membaca roman-roman lama seperti Layar Terkembang, Atheis, hingga Siti Nurbaya. Walaupun yang terakhir ini tidak sampai habis karena masih menggunakan ejaan lama, membuat saya menyerah karena tidak terbiasa :D

Saat SMU, saya tinggal di asrama putri. Ibu asrama saya ternyata mengoleksi banyak sekali novel. Mulailah saya melahap novel-novel Shidney Sheldon, Agatha Christie, Danielle Steel, hingga John Grisham, Kahlil Gibran dan Rumi. Walaupun saya tetap juga membaca komik serial cantik (ada yang tahu kan ya komik jenis ini? hehehe), atau majalah-majalah remaja yang ada saat itu.

Kuliah di Fakultas Sastra membuat saya juga ikut-ikutan (sok) nyastra. Saya mulai berkenalan dengan Pramudya Ananta Toer, Taufik Ismail, NH. Dini, Remy Silado, hingga Leo Tolstoy dan Karl May. Di masa-masa ini juga, saya banyak membaca buku-buku islami yang ditulis Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Gola Gong, Pipiet Senja dan yang lainnya.

Pasca kuliah, saya membaca hampir semua buku yang memungkinkan untuk bisa saya pinjam. Saya berkenalan dengan Paulo Coelho, Torey Haiden, Mitch Albom dan serial Harlequin. Sebelumnya saya memang peminjam buku sejati, di sekolah dan kampus, petugas perpustakaan akan dipastikan cukup mengenal saya karena intensitas peminjaman buku saya. Saya pun akan berupaya berteman baik dengan teman-teman kolektor buku. Bukan saya pelit tidak mau membeli buku, tapi memang karena saat itu dananya belum ada hihihihi.

Alhamdulillah, sekarang saya bisa membeli sendiri dan mengoleksi buku-buku yang saya sukai. Seringkali, saya membeli buku yang dulu sudah pernah saya baca. Kalau betul-betul dikumpulkan, mungkin sudah mencapai satu kamar penuh. Walaupun kenyataannya buku-buku tersebut sudah ‘tersebar’. Saya simpan di rumah orang tua saya di Majalengka, beberapa buku yang kurang saya suka biasanya saya hibahkan, banyak yang dipinjam teman dan belum (atau tidak?) dikembalikan, hingga banyak buku juga terpaksa saya buang karena rusak terkena banjir tempo hari.

Sebagian buku yang terselamatkan

Sebagian buku yang terselamatkan

*Buku Dunia Sophie itu pernah saya baca saat kuliah bertahun-tahun lalu (sekitar tahun 2000), tapi baru saya beli sekitar 2 tahun lalu :)

Usia saya dan Mizan sepertinya tidak terpaut terlalu jauh, usia saya 30 tahun lebih sedikit kok hehehe. Jadi saya merasa kami betul-betul bertumbuh bersama. Dalam periode yang saya sebutkan sebelumnya, pasti banyak buku-buku terbitan Mizan group yang sudah saya baca, sama seperti foto di atas, yang hampir setengahnya merupakan terbitan Mizan.  Membaca novel-novel islami yang ditulis Asma Nadia dkk semasa kuliah dulu itu, telah menimbulkan keinginan untuk berhijab. Tak perlu lama, memasuki semester tiga saya memutuskan untuk memakai kerudung.

Membaca karya-karya fiksi Dewi Lestari, Tasaro GK, Khrisna Pabichara dan penulis fiksi Mizan lainnya membuat saya tidak pernah berhenti bermimpi suatu saat bisa memiliki karya sebaik mereka. Bahkan tempo hari saya memberanikan diri untuk ikut mengirimkan novel roman saya saat Qanita mengadakan lomba, walaupun tentu saja belum jadi pemenang ya hehehe.

Tapi saya percaya, membaca dan menulis itu seperti dua sisi dalam mata koin yang sama. Tidak bisa dipisahkan untuk berdiri sendiri dan saling terikat satu sama lain. Sehingga membuat saya berkesimpulan, bacaan yang baik akan juga memungkinkan saya menulis dengan sama baiknya. Saya berpengharapan baik, dengan buku-buku terbaik yang diproduksi Mizan, akan menemani saya untuk bertumbuh. Bahkan bukan tidak mungkin, kelak saya bisa menjadi salah satu penulis Mizan (?) :)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba MizanAndMe.

(Semacam) Review Buku : Cerita di Balik Noda

April 8, 2013 § 4 Comments

Judul Buku : Cerita Di Balik Noda – 42 kisah inspirasi jiwa

Jenis buku  : Novel

Genre            : Non fiksi

Penulis         : Fira Basuki

Penerbit      : Kepustakaan Populer Gramedia (KPU)

Tebal Buku : 235 Halaman

No ISBN      : 9 789799 105257

Buku ini berisi 42 kisah, yang masing-masing cerita memiliki benang merah yang sama, yaitu menyetujui jargon cantik bertajuk : berani kotor itu baik. Baik karena kotor tidak bisa dihindari dalam sebuah proses kreatifitas. Baik karena kotor terkadang bisa menjadi indikasi niat tulus dari kebaikan hati. Baik karena dari sebuah makna ‘kotor’-lah kita bisa memahami definisi bersih.

Dalam cerita Koki Cilik misalnya, diceritakan bagaimana Nisa yang ceria belajar membuat cupcake bersama mamanya. Proses pembuatan kue ini tentu saja membuat baju kesayangannya bernoda cokelat dan tepung. Tapi Nisa tidak menyesal dan justru senang, karena ternyata dia menyukai prosesi masak memasak dan membuat kue. Bahkan, kesukaannya ini menjadi peluang bagi Nisa untuk belajar  berbisnis ‘kue Nisa’, menerima pesanan kue-kue dari tetangga yang membuat tabungannya gemuk.

Atau, cerita Master Piece yang menawan. Tentang Aninda yang sedari kecil suka sekali mencorat-coret. Tidak hanya di atas kertas atau buku, tapi juga di lantai, di dinding, di atas seprai putih, di manapun. Sang Ibu melihat ‘ketidakdisiplinan’ tersebut sebagai sebuah bakat, maka dia mendorong Aninda untuk les menggambar, mengikutkannya ke berbagai lomba melukis, dan berhasil. Aninda betul-betul pintar menggambar dan memenangkan banyak piala dari sana, bahkan kemudian menjaci (calon) pelukis yang hanya mencorat-coret di atas kanvas.

(Jadi teringat zaman kecil dulu, saya juga suka sekali mencorat coret dinding, tapi kenapa saya tidak jadi pelukis ya? *abaikan* :P )

Lantas, dalam cerita berjudul Boneka Beruang Zidan. Sang tokoh utama Zidan adalah seorang anak berkebutuhan khusus, dia istimewa karena ke-hiperaktif-annya. Tapi, berkat si Teddy -boneka beruang yang diberikan tantenya- lambat laun Zidan bisa berkomunikasi dengan bonekanya itu, menatap si boneka dengan pandangan yang tidak kosong seperti biasanya, bahkan dia bisa hujan-hujanan sambil tertawa bersama si teddy. Hal tersebut membuatnya juga bisa berinteraksi dengan sekitarnya dengan lebih baik lagi.

Walaupun, ada kalimat yang sangat kontradiktif dalam cerita Boneka Beruang Zidan ini (di halaman 128) : Sering juga saat berlarian ke sana kemari dia tertidur di karpet. Mungkin seharusnya kata ‘setelah’ yang dicantumkan di sana untuk menggantikan kata ‘saat’ ya. Atau dalam cerita Sarung Ayah, ada inkonsistensi penokohan, di awal diceritakan si anak bernama Dewi, tapi kemudian berubah menjadi Wulan hingga cerita berakhir. Mungkin bisa diperbaiki editor dan penerbit untuk cetakan berikutnya :)

Cerita-cerita lainnya pun tak kalah menarik, selalu ada ‘sesuatu’ yang bisa kita ambil, menginspirasi bahwa terkadang noda dan ataupun kotor, memang harus dilalui untuk mendapat hasil yang diinginkan. Setiap kisah diceritakan tidak terlalu panjang, tidak bertele-tele dan to the point, cocok bagi mereka yang ingin bacaan singkat tapi berisi.

Dan ternyata, kumpulan Cerita di Balik Noda ini memang ditulis ulang oleh Fira basuki. Fakta ini menjawab rasa penasaran saya saat membaca setiap cerita, kenapa mereka memiliki ‘suara’ tulisan yang sama padahal ditulis oleh orang-orang yang berbeda. Walaupun (menurut saya), akan lebih menarik jika gaya bahasa dan ataupun cara bercerita dibuat beragam agar pembaca tidak bosan.

Postingan (semacam) review Buku Cerita Di Balik Noda dan Berani Kotor itu Baik ini saya tulis untuk mengikuti   Kontes Ngeblog Reiew Buku “Cerita Di Balik Noda” 15 Maret 2013 – 10 April 2013 yang di selenggarakan oleh KEB.

 

Kukila

December 11, 2012 § 24 Comments

gambar dipinjam dari gramedia

Jika dulu saya membeli Test Pack dan Remember When karena kepincut covernya yang unyu-unyu, maka kali ini saya tertarik pada Kukila karena ‘kukila’nya itu. Menggelitik rasa ingin tahu apa (atau siapa) kah Kukila? Berkenalanlah saya dengan M. Aan Mansyur yang langsung merebut hati saya *tsaaaah*.

Buku setebal 184 halaman ini merupakan kumpulan cerita, ada 16 cerita pendek di dalamnya, yang masing-masing memiliki keunikan sendiri yang terkadang memabukkan. Ini bukan lebay, karena -bagi saya- sang penulis pintar sekali memilih dan memadu-padankan kata, menjalinnya sedemikian rupa sehingga melarutkan si pembaca ke dalam cerita.

Cerita pendek pertama tentu saja Kukila (Rahasia Pohon Rahasia), bertokohkan seorang wanita bernama Kukila, yang membenci September dan pohon mangga, karena mengingatkannya pada mantan suaminya Rusdi, juga kekasih masa remajanya yang bernama Pilang. Cerita ini cukup panjang, baru habis di halaman 67, berisi penggalan-penggalan surat dari para tokohnya, sebagian besar adalah surat Kukila bagi ketiga anaknya.

Kukila -yang rupanya bermakna burung- jatuh cinta pada seorang Pilang -nama lain pohon akasia dengan nama latin Acacia leucophloea- walaupun akhirnya menikah dengan Rusdi. Mereka bertiga…nah, tidak seru kalau saya ceritakan plotnya, silahkan baca sendiri saja lah ya hehehe. Ada satu paragraf dari surat salah satu anak Kukila itu, yang mengingatkan saya pada puisinya Sapardi, walaupun dengan nuansa yang sedikit berbeda.

Seorang lelaki telah membuatku rela jadi rumput kering di bawah sol sepatunya. Aku mencintainya, Ibu. Aku mencintainya seperti burung kepada angin yang membantunya terbang. Seperti penulis kepada huruf-huruf yang membuatnya dibaca. Seperti sungai kepada laut yang menampung lelah perjalanannya. Seperti laut kepada langit yang menjatuhkan dan mengisapnya berkali-kali.

Uhuk, manis ya :)

Cerita berjudul Setengah Lusin Ciuman Pertama juga lucu, berkisah tentang pemaparan si ‘aku’ tentang ciuman pertamanya dengan cara yang berbeda, jangan dibayangkan vulgar atau panas seperti novel-novel harlequin ya, penuturannya lucu walaupun endingnya membuat miris. Dalam cerita Cinta (Kami) seperti Sepasang Anjing dan Kucing, lagi-lagi saya terpukau dengan nama salah satu tokohnya : Nanti Kinan! Nama yang tidak biasa, bukan?

Membaca buku ini membuat saya ‘berkenalan’ dengan sang penulis, menjadi followernya di @hurufkecil, dan menjadi silent reader di blognya http://hurufkecil.wordpress.com/ dan http://aanmansyur.tumblr.com/. Membaca tulisan-tulisannya belakangan ini sepertinya cukup mempengaruhi saya, contohnya adalah postingan #postcardfiction yang saya tulis kemarin itu, walaupun tentu saja masih jauh lah ya dengan Aan Mansyur yang karyanya sudah bejibun ituh *ngumpet*.

Begitulah temans, buku ini cocok dibaca saat bersantai. Dan bagi teman-teman yang suka menulis fiksi, mungkin bisa dijadikan salah satu referensi pemilihan diksi yang bagus :)

Well, happy Tuesday yaa.. ;)

Photobucket

 

 

PS : Postingan ini diikutsertakan dalam “2012 End of Year Book Contest”.

Remember When

September 25, 2012 § 21 Comments

Setelah Test Pack-nya Teh Ninit Yunita, lagi-lagi saya membeli sebuah buku hanya karena tertarik dengan covernya yang kiyut bin unyu-unyu.

Remember When

Tapi saya sama sekali tidak menyesal lho, bahkan saya sangat menyukainya. Winna Efendi –yang masih sangat muda inih, baru 26 tahun bow usianya :D – telah menuliskannya dengan sangat baik. Cerita sederhana tentang empat remaja (5 sebetulnya, tapi yang satu ini -namanya Erik- tidak terlalu banyak porsinya dalam cerita) berseragam abu, mereka adalah Freya-Gia-Moses-Adrian.

Remember when bagi saya novel remaja yang unik, karena tidak hanya berkisah tentang persahabatan dan cinta (segi empat) *halah*, tapi juga banyak terselip pesan bijak. Misalnya saja, tentang sikap tanggung jawab, bahwa setiap pilihan keputusan selalu beriringan dengan konsekuensi yang harus dipikul.

Openingnya sangat menarik, yaitu saat Freya menemukan selembar foto buram bergambar 2 perempuan dan 2 laki-laki berseragam SMU di sana, mengisahkan satu per satu individu dalam gambar, kemudian  flash back yang diramu apik karena cerita perlahan mengalir dari sana.

Mungkin kesan awalnya klise ya, Gia yang seorang cewek populer di sekolah pacaran dengan Adrian si jago basket nan tampan. Sementara Moses yang sangat pintar dan pendiam pacaran dengan Freya yang tidak kalah pintar tapi juga introvert. Gia bersahabat baik dengan Freya, Moses dan Adrian pun adalah teman dekat. Persahabatan yang solid karena sahabat mereka berpacaran dengan sahabat pacarnya *errr….mengertilah ya maksutnyah hihihihi*.

Hingga diam-diam ternyata Freya menyimpan rasa yang lain pada Adrian, walaupun perasaan itu hanya rahasia bagi dirinya sendiri. Tapi di satu titik, Adrian pun ternyata mencintai Freya, dan keduanya memilih tetap menjaga persahabatan mereka dengan Gia dan Moses walaupun artinya harus mengabaikan rasa cinta yang ada. Oh iya, Erik -yang merupakan sahabat kecilnya Freya- juga sangat mencintai Gia. Hubungan cinta yang lumayan pabalieut lah ya :)

Maka kisah ini pun dibumbui dengan berbagai emosi dari tiap tokoh tentang dilema memilih cinta dan persahabatan, pengkhianatan, pengorbanan, dan pada akhirnya keikhlasan untuk melepaskan.

Endingnya -bagi saya- kurang dramatis, mungkin karena saya lebih suka ending ‘ngegantung’ atau bikin ‘nyesek’ ya (hahahaha0, tapi ending Remember When sangat manis dan message-nya sampai ke pembaca. Dan yang masih ‘menempel’ pada saya hingga sekarang, bahwa cinta adalah sebuah perasaan yang sangat jujur, entah rasa itu bisa membuat si penderita bahagia atau berduka, tapi cinta itu sendiri selalu jujur dan apa adanya *tsaaaah* :P .

Anyway, novel ini ditulis dengan pilihan diksi yang menawan dan dialog cerdas, membuat kisah yang (sepertinya) menye-menye ini tetap bermakna dan jauh dari kesan cheesy. Apalagi cara bercerita di novel ini dibangun dari sudut pandang masing-masing tokoh, sehingga fluktuatif perasaan si tokoh betul-betul terasa.

Intinya, saya jadi ingin belajar sama dek Winna *deuuuh, sok akrab :P * bagaimana bisa menulis seindah itu, jadi tidak sabar ingin membaca buku “Darf 1″ ini :)

Akhirnyaaaa, bisa juga menulis (semacam) review buku yang sudah saya baca, padahal hampir tiap minggu selesai baca buku baru tapi tidak pernah ditulis *merasa bersalah* :(

Nah, apa buku yang sedang kamu baca temans? ;)

Buku di Hari Buku

April 23, 2012 § 44 Comments

Hai temans.

Tanggal 23 April ternyata Hari Buku ya? Baru tahu lho saya *inpo ga fenting* hihihi. Tapi yang akan saya sampaikan ini penting, setidaknya bagi saya :)

Beberapa menit yang lalu Pak OB menyerahkan paket JNE ke meja saya. Setelah saya lihat, kertas merah pembungkusnya bertuliskan Nulisbuku.com. Yeaayyy, pesanan buku saya ternyata sudah sampai. Dan ini bagian pentingnya sodara-sodara : dalam buku ini ada tulisan saya ! hohohoho. Maafkan ya temans, setelah Si Odol Masochist tempo hari, postingan ini pun hanyalah episode norak saya berikutnya hihihihi.

Tidak, saya tidak bermaksud mempromosikan buku itu kok. Toh cerpen saya yang tercetak di sana bisa dengan mudah teman-teman baca di sini. Walaupun tentu saja jika berkenan membelinya saya senang sekali, karena keuntungan dari penjualan buku ini disumbangkan untuk Taman Bacaan Rumah Unyil di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Silahkan kunjungi nulisbuku.com, atau langsung mengirimkan email ke admin[at]nulisbuku[dot]com jika berminat ya.

Saya tahu, banyak sekali teman-teman yang sudah menerbitkan bukunya, jadi kalau mau dibanding-bandingkan, saya mah kalah telak lah ya. Tapi sekali lagi, ini merupakan sebuah pencapaian tersendiri bagi saya, yang begitu membahagiakan, yang sangat mengharukan, yang ingin saya syukuri dengan khidmat *mulai lebay :P *. Pokoknya mah saya senang sekali, semoga buku saya sendiri bisa juga segera diterbitkan. Aamiin..

Jadi begitulah, semoga kehadiran buku kecil itu ikut menyemarakkan perbukuan dunia :)

Winter Dreams

December 8, 2011 § 41 Comments

Winter Dreams adalah judul novel karya Maggie Tiojakin yang baru saja saya selesaikan semalam.

Iyaa, Maggie yang pernah saya ceritakan di postingan ini. Maggie yang telah memilih saya menjadi salah satu muridnya dalam creative writing class yang dia adakan bersama fiksi lotus. Maggie yang berhasil membuat saya semakin ingin menulis sebuah novel (semoga keinginan ini tidak hanya omdo alias omong doang ya, tapi bisa betul-betul dilaksanakan) :P . Maggie yang mengenalkan saya pada Anton Chekov, Ernest Hemmingway, Ben Loory, Richard Bausch, Italo Calvino dan banyak sekali nama penulis besar dunia yang sebelumnya sangat asing bagi telinga saya.

Thanks for everything Mag!

Di bawah ini adalah suasana prosesi belajar kami di salah satu sudut Urban Kitchen – Plaza Indonesia yang dingin sangat, selama akhir pekan di November kemarin, tepatnya 6 kali pertemuan, karena ada 2 kali sabtu kelas diliburkan atas kesepakatan bersama karena satu dan lain hal. Baru berfoto-foto di hari terakhir belajar (27 November), saat mba Hetih Rusli -seorang editor Gramedia Pustaka Utama- sempat datang lagi untuk mengobrol ini itu.

I miss the class. Much…

Faye, saya, Maggie, Hetih

(barisan depan) Deste, Rieke, Vera

Hari minggu tanggal 4 Desember lalu, novel Winter Dreams ini dilaunching di Pasar Festival. Kami -para murid yang baik, kecuali Faye- tentu saja datang ke sana he he. Bagi saya pribadi ini adalah hal yang sama sekali baru, menyenangkan sekali berada di sana dan menyaksikan ‘kelahiran’ sebuah novel ke dunia :)

Alhamdulillah yaa..dapet novel gratis ;)

Terlepas dari saya mengenal sang penulis atau tidak (karena rasanya tidak mungkin mengenal seseorang hanya dengan 6 kali pertemuan bukan?), Winter Dreams adalah novel tanpa plot yang -menurut saya- sangat menarik.

Nicky F. Rompa -sang tokoh utama- merupakan sosok anti-hero yang berkarakter manusia biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Selalu ada konflik tentu saja, seperti kehidupan setiap manusia yang pasti diwarnai dengan masalah, begitu juga perjalanan Nicky. Akan tetapi ke-biasa-an perjalanan Nicky itu lah yang menjadikan novel ini luar biasa. Setidaknya saya jarang -kalau tidak dikatakan belum pernah- membaca novel berjenis seperti ini.

Terbagi dalam “lima buku” yang membagi stage kehidupan Nicky, novel ini bersetting mulai dari Jakarta, kemudian menuju dan berakhir di Boston. Pembaca juga disuguhkan pengalaman camping dan canoeing di Maine,hiruk pikuk New York, berlayar dengan kapal ke Provincetown, mengintip isi Museum of Fine Arts, pemandangan sungai Charles, hingga hebohnya Marathon Monday yang merupakan acara terbesar se-Massachusetts.

Tokoh-tokoh yang bersinggungan dengan kehidupan Nicky diantaranya adalah para imigran yang sangat beragam. Pemilik toko tempat Nicky bekerja Mr & Mrs. Fong adalah imigran asal Vietnam. Richard Klaus -pacar sepupunya Nicky dan menawarinya menjadi sopir limousine kemudian- lahir di Berlin. Ada juga Pollina si gadis Rusia bermata hijau yang memukau Nicky. Roomate Nicky -Dev Akhtar- adalah pria kelahiran Quetta-Pakistan yang besar di Westwood. Guru menulis Nicky -Artin Rucci- adalah keturunan Albania. Sementara Esmeralda de Luca Garcia (atau Esme) -kekasih Nicky- yang merupakan imigran ilegal (seperti juga Nicky)  berasal dari Culiacan, Meksiko. Dan banyak tokoh unik lain yang membuat kisah ini sangat berwarna.

Pengalaman membaca -dan juga menulis- memang personal. Maka apa yang kita alami saat membaca Winter Dreams, dan semua buku lainnya, pasti berbeda. Yang saya alami sesaat setelah saya membaca tulisan “SELESAI” di halaman 287 atas kisah Nicky adalah, merenungkan kembali perjalanan hidup saya sendiri. Mengingat-ingat episode kehidupan saya di awal 20an dulu, kenaifan saya, kenekatan saya, keingintahuan saya, keputusan-keputusan salah yang saya buat tapi entah kenapa tidak saya sesali, dan sebagainya dan seterusnya. Biasa saja mungkin ya, tapi berhasil membuat saya baru bisa tertidur pukul 1 untuk terbangun 3 jam kemudian :P . Karena belajar dari Nicky, seharusnya saya bisa lebih cepat mengerti ada beberapa hal yang saya inginkan tapi mungkin tidak bisa termiliki.

Kisah Nicky bisa dikatakan sama sekaligus berbeda dengan kehidupan saya (atau mungkin kehidupan manusia pada umumnya) yang tidak selalu berada di titik terendah ataupun melulu berbunga-bunga. Tapi kisah-kisah bittersweet itu tetap bermakna, mampu membuat saya menjadi seorang pembelajar, dan mensyukuri setiap yang terjadi -dan tidak terjadi- dalam kehidupan yang dititipkan Sang Maha Segala pada saya.

“Life has a strange sense of humor, and sometimes God makes up for it by working in mysterious ways” yang tertulis di salah satu bab membuat saya tersenyum. Dan saya sepakat bahwa “Waktu berlalu. Banyak hal yang akan berubah. Hidup terus bergulir seperti mimpi”.

Oh iya, teman-teman bisa membaca Behind the page-nya Maggie untuk novel ini di sini, Winter Dreams akan segera beredar di toko-toko buku mulai 15 Desember nanti, ada yang mau pinjam punya saya juga boleh kok, tapi sedikit keriting karena kemarin kami (saya, tas, dan si Kupi) basah kuyup kehujanan dalam perjalanan pulang :)

Book Review : Kicau Kacau

October 11, 2011 § 36 Comments

Anda kenal Indra Herlambang? Iyaa…salah satu host acara infotainment (Insert kalau tidak salah ya?) itu. Apa jadinya jika seorang Indra Herlambang menulis? Jawabannya bisa Anda dapatkan setelah membaca bukunya yang berjudul Kicau Kacau ini.

Pertama kali saya ‘menemukan’ tulisan Indra adalah di sebuah majalah yang tidak dijual bebas bernama Free Magazine, saat itulah saya memiliki pandangan lain dari seorang Indra Herlambang, karena ternyata dia lebih cerdas daripada sekedar menggosipkan para selebriti di TV.

Buku yang saya miliki adalah cetakan ke-tujuh (Juli 2011), laris manis karena cetakan pertamanya pun baru terbit di bulan Februari 2011. Dicetak ulang untuk ke-tujuh kalinya dalam 6 bulan? Pasti ada ‘sesuatu’ dalam buku ini, kan? (Yup, salah satu yang saya perhatikan saat membeli sebuah buku adalah sudah edisi ke berapa si buku tersebut dicetak he he).

Seperti judulnya, setiap artikel di dalamnya diawali dengan sebuah kicauannya di akun twitternya @indraherlambang. Misalnya saja twit berbunyi “Pesawatnya telat. Curiga hamil”, atau “Love doesn’t hurt. People do”, atau “Masa lalu bisa terdengar mirip dengan masalah lu. Go figure”, atau yang ini “Butuh kesabaran untuk bisa belajar sabar. Ngeri ga tuh?”. 50 twit yang terkesan asal binti lebay itulah yang mengawali setiap tulisan sederhana yang -menurut saya- cukup dalam maknanya saat kita sampai di akhir tulisan.

Dikelompokkan menjadi 4 bab besar, yaitu kicauan tentang gaya hidup, relationship, Jakarta, dan keluarga. Buku setebal 332 halaman ini cocok bagi Anda yang sedang tidak ingin terlalu ‘mikir’ saat membaca, tapi tetap bisa mendapat ‘sesuatu’ dari bacaan tersebut.

Dari tulisan berjudul “Mengingat Lupa” misalnya, Indra mencermati teman-temannya yang hampir selalu mengabadikan (atau merekam) segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Dengan dalih untuk kenang-kenangan, untuk bernostalgia suatu saat nanti, seolah menolak untuk ‘lupa’. Di paragraf terakhir Indra menulis begini :

Saya sih cukup yakin bahwa manusia dibikin untuk bisa lupa demi kebaikan kita sendiri. Karena ada banyak hal yang lebih baik dilupakan supaya kita bisa tetap waras. Lupa menurut saya, adalah anugerah terbesar dari Sang maha. Bayangin kalau kita bisa dan selalu ingat semua hal? Apa ngga ribet hidup kita? (hal : 37)

Apakah Sahabat setuju dengan pendapat tersebut? :)

***

Artikel ini diikutsertakan pada Book Review Contest di BlogCamp

The Winner Stands Alone

September 8, 2011 § 21 Comments

Sejak membaca The Alchemist bertahun-tahun lalu, saya selalu menyukai Paulo Coelho hingga saat ini. Menurut saya, Coelho adalah penulis yang tidak membosankan, karena setiap novelnya selalu menjanjikan cara bercerita yang berbeda, dan dengan ending yang seringkali sangat mengejutkan. Contohnya novel ke-13nya yang baru saja saya baca ini. The Winner Stands Alone.

(gambar dipinjam dari sini)

Novel ini bersetting Festival Film Cannes di Perancis sana, tokoh utamanya Igor, seorang miliuner Rusia, yang datang ke sana demi mendapatkan kembali cinta seorang Ewa, sang mantan istri yang kini bersuamikan Hamid Husein, seorang couturier kaya dari gurun.

Selain Ewa dan Hamid Husein, misi Igor ini bersinggungan jalan dengan Gabriela, seorang aktris yang berjuang keras mendapatkan sebuah peran dalam sebuah film, Javits seorang distributor film yang berpengaruh, Maureen sang sutradara idealis, Jasmine Tiger model cantik dari Rwanda, juga Olivia seorang gadis penjual pernak pernik di trotoar. Pertemuan mereka dengan Igor telah mengubah hidup mereka untuk selamanya.

Novel setebal 468 halaman ini diawali pukul 03.17 pagi dan tamat saat pukul 13.55 siang keesokan harinya. Waktu yang sangat singkat untuk sebuah novel yang bisa saja bersetting hingga ’10 tahun kemudian’ he he. Tapi di dalamnya kita bisa berkelana berpetualang dan mengetahui banyak hal. Kehidupan para Superclass, teknik beladiri Rusia bernama Sambo, seluk beluk produksi film, hingga cara kerja racun Cianida.

Tidak hanya petualangan Igor yang mencengangkan, novel ini tapi juga mengajak pembaca mengkaji kembali tujuan dan arti hidup, bagaimana seharusnya mimpi yang kita miliki di perjuangkan, atau betapa pencapaian finansial tidak pernah bisa menjadi indikator bahagia atau tidaknya seseorang. Novel yang sangat ‘kaya’.

Mungkin karena saya memang suka Paulo Coelho ya, jadi menurut saya novel ini bagus dan menarik, seperti novelnya yang lain yang pernah saya baca. Ingin sekali membaca novel terbarunya Oleph, tapi sepertinya belum masuk Indonesia nih :(

Oh iya, saya copas-kan sebuah dongeng yang diingat oleh Ewa di salah satu episod. Makna di balik dongeng ini -bagi saya- begitu dalam, walaupun mungkin tidak bisa ‘ditemukan’ secara eksplisit.

Seekor camar sedang terbang melintasi pantai ketika matanya tertumbuk pada seekor tikus:

“Dimana sayapmu?”

Setiap binatang bicara dengan bahasa masing-masing, jadi si tikus tidak memahami pertanyaan itu, ia hanya menatap dua benda besar dan aneh yang tampak menyatu dengan tubuh makhluk tersebut.

“Pasti dia sakit” Pikir si tikus.

Si camar melihat si tikus memerhatikan sayapnya dan berpikir:

“Kasihan. Pasti binatang itu sudah diserang monster yang membuatnya tuli dan merampas sayapnya.”

Karena iba melihat tikus itu, si camar memungutnya dengan paruh dan membawa si tikus jalan-jalan di udara. “Mungkin tikus ini rindu rumah,” pikir si camar saat mereka terbang. Lalu, dengan hati-hati, si camar mengembalikan tikus itu ke tanah.

Selama berbulan-bulan berikutnya, si tikus tenggelam dalam depresi; ia teringat pengalamannya berada di tempat -tempat tinggi dan melihat dunia luas yang indah. Namun lambat laun tikus itu pun kembali terbiasa menjadi tikus lagi dan mulai percaya bahwa keajaiban yang sempat terjadi dalam hidupnya hanyalah mimpi belaka.

Nah, apakah sahabat tertarik membaca novel ini? ;)

Karena Cinta itu Sempurna

June 8, 2011 § 17 Comments

Kalimat yang indah bukan? :)

Itu adalah judul novel kedua Indi. Belum kenal dengan beliau? Silahkan berkunjung ke dunia kecil-nya yang menakjubkan itu. ‘Perkenalan’ pertama saya dengannya adalah sebuah kebetulan, karena saya tertarik dengan buku tipis berkaver lucu berjudul “Waktu Aku Sama Mika” saat berpetualang di toko buku. Buku itu membuat saya bisa memaknai sebuah cinta tanpa syarat, buku kecil yang berdampak cukup besar, setidaknya bagi saya saat itu.

Dan, “Karena Cinta itu Sempurna” adalah novel kedua Indi yang masih sedang saya baca, ingin saya habiskan novel itu sekaligus malam tadi, tetapi apa daya suami tercinta itu meminta saya untuk segera tidur *ups*.

gambar diambil dari sini

Novel ini berbeda dengan novel pertama, tetapi tetap memiliki ke-khas-an seorang Indi yang menawan itu. Bahasanya ringan, tidak njelimet bin memusingkan, tetapi dalam dan sarat makna. Saya akan menghabiskannya malam ini, tidak bisa tidak! *sigh*

Kenapa Novel-novel itu istimewa? Karena Indi -yang juga memang istimewa- menulisnya dengan cinta yang sempurna. Saat banyak manusia biasa lainnya mengeluh-kecewa-marah-sakit hati-hancur dan sebagainya dan seterusnya menjalani kehidupan yang memang tidak selalu indah, Indi justru memaknai hidup (yang sempat dikiranya sebagai bencana)  ‘istimewa’nya dengan menemukan sebuah tujuan hidup yang begitu indah seperti Menjalani, Bersyukur, dan Menjadi bahagia.

Seorang Indi, yang jauh lebih muda dari seorang saya -yang bukan siapa-siapa dan belum menjadi apa-apa ini- telah mengajari saya banyak hal. Coba bayangkan ini teman. Indi divonis mengidap scoliosis di usia (belum sampai) 13 tahun, dan menjadi anak ‘aneh’ karena harus memakai ‘baju besi’ untuk scoliosisnya itu. Lantas, saat ada Mika -seorang pria berhati malaikat- jatuh cinta padanya, pria yang menjadikan Indi lebih ceria menjalani hidup, meninggal karena HIV/AIDS yang dideritanya, kepergian Mika sempat membuat Indi lebih hancur dari sebelumnya.

Aku tidak tahu kapan akan bangkit. Aku bahkan tidak mau tahu, sampai aku berhasil mengurutkan petunjuk-petunjuk Tuhan sebagai reaksi berantai untuk mengetahui tujuan hidupku. Scoliosis ternyata membuatku menjadi manusia yang kuat. Bisa bertoleransi dengan rasa sakit yang hampir datang setiap saat. Lalu kehadiran Mika membuatku melupakan kesakitanku dan menambah kekuatanku. Sedangkan AIDS membuatku mengerti bahwa manusia tidak memiliki otak yang seragam, terkadang berselisih meski hanya karena salah pengertian dan perbedaan sudut pandang. Menakutkan… Tapi aku mendapatkan pelajaran yang berharga dari sana. Bahkan dari kepergian Mika aku belajar bagaimana cara menikmati hidup, bersyukur, dan bangkit dengan perasaan yang lebih bahagia.

Begitu yang Indi tulis dalam pengantar Karena Cinta itu Sempurna.  Saya tidak tahu apakah saya bisa setegar Indi jika saya berada dalam posisi yang demikian. Dan membuat saya berpikir Tuhan memang tidak pernah salah menunjuk seseorang atas apa yang dikehendakiNYA. melalui seorang Indi, saya lebih mengerti ke-Maha Cinta-an Tuhan yang Sempurna. Seperti yang Indi berkali-kali katakan dalam novel itu, Karena Cinta itu Sempurna..

Have a perfect love, Pals!

***

Tulisan ini saya buat khusus untuk Indi dalam first giveaway-nya. Happy birthday Indi ;)

Test Pack

April 15, 2011 § 69 Comments

Yup, ini maksudnya memang alat mengetes kehamilan itu, tapi maaf, postingan ini hanyalah semacam review sebuah novel berjudul sama yang saya baca wiken lalu :D

Novel karya Ninit Yunita ini sebetulnya pertama kali terbit tahun 2005, dan buku yang saya beli ini cetakan ke-sepuluh! Sudah lama juga saya tahu mengenai novel ini, tapi saya baru beli seminggu lalu karena suka sekali dengan cover sang novel yang baru. Yeah…Alasan yang konyol sepertinya ya he he.

Lucu kan covernyaaa?? ;)

Tapi Alhamdulillah saya tidak menyesal, bahkan bersyukur membaca novel ini. Tokoh utama dari novel ini adalah Tata, lengkapnya Arista Natadiningrat, seorang pengacara di sebuah lawfirm, yang bersuamikan psikolog bernama Rahmat Natadiningrat, yang dipanggil Tata dengan sebutan ‘Kakang’. Ada peristiwa ‘lucu’ dalam profesi mereka berdua ini.

Diceritakan Kakang memiliki seorang pasien (Pak Sutoyo) yang berkonsultasi mengenai kekecewaannya yang merasa gagal sebagai seorang suami, istrinya minta cerai dan anaknya menjadi pemadat. Alasannya adalah karena mereka menganggap Pak Sutoyo terlalu gila kerja sehingga melupakan mereka. Padahal dalam pengakuannya, Pak Sutoyo bekerja keras seperti itu adalah demi keluarganya.

Di lain sisi, sang istri (Ibu Sutoyo) rupanya menjadi klien Tata, meminta bantuan lawyer ini untuk mengurus proses perceraian dengan suaminya dengan alasan ketidakbahagiaan rumah tangganya. Ironis bukan? Tapi dari pasangan Sutoyo ini pula mereka belajar ‘sesuatu’ pada akhirnya. Apa itu? Silahkan baca novelnya :D

Tapi yang menjadi tema besar dalam novel ini adalah penantian Tata akan hadirnya si buah hati dalam 7 tahun pernikahannya dengan Kakang. Bahkan keinginan ini menjadikannya seorang kurator test pack! Tata begitu terobsesi untuk bisa hamil, dan melakukan berbagai macam cara kecuali melakukan tes ovulasi. Tapi 7 tahun berlalu tanpa satu kali pun koleksi test pack-nya menunjukkan 2 garis penanda dirinya positif hamil. Sehingga Tata pun bersedia menjalani tes ovulasi, lantas Kakang pun dimintanya melakukan tes sperma. Hasilnya? Silahkan baca novelnya he he*kabuuuur…*

Membaca  novel ini,  saya merasa sedang ‘membaca’ diri saya sendiri dalam perjalanan hidup Tata di novel itu. Saya merasakan kesalnya Tata saat ada yang menuduhnya menunda kehamilan demi karier. Saya memahami sedihnya Tata saat sahabat dekatnya diberi kenikmatan untuk hamil anak ke-dua sementara dirinya belum dikaruniai satu pun. Saya bahkan bisa mengerti kesebalan dia melihat kucing tetangga yang sedang hamil.

Saya merasa menemukan seorang ‘teman seperjuangan’. Saya pun kesal saat ada yang menuduh  saya ber-KB. Saya sedih saat teman-saudara-kenalan yang sudah hamil padahal saya yang lebih dulu menikah. Dan saya juga sebal melihat kucing yang berkeliaran di kantin tempat saya makan di kampus sedang hamil (boong ini mah he he). Ya, saya sudah menikah 7 bulan dan belum hamil. Sama kan dengan tokoh Tata? Well, beda ujung doang laaah, sama-sama 7 hihihihi.

Anyway, saya bocorkan salah satu kalimat yang -menurut saya- indah dalam novel ini.

“Saya sayang kamu, Ta… saya ingin kamu jadi dunia saya. Kamu mau kan?” => kalimat Kakang saat menembak Tata.

“Bagi dunia, kamu mungkin ‘hanya’ seseorang. Tapi bagi saya, kamu adalah dunia yang selama ini saya cari.” => Jawaban Tata 4 hari kemudian.

So sweet, huh ;)

Selanjutnya, yang bisa saya pelajari setelah membaca novel ini adalah keajaiban sebuah komitmen. Bahwa alasan apapun saat kita mendeklarasikan mencintai seseorang, seharusnya adalah karena kita menginginkannya, bukan karena alasan lain. Bahwa setiap individu, setiap pasangan, setiap keluarga, memiliki ujiannya masing-masing, dan cinta yang akan menjawab semua kemelut itu *tsaaaahhh*.

Entah bagaimana menghubungkannya, membaca kisah cinta Kakang dan Tata mengingatkan saya akan kisah cinta Kahlil Gibran dan May Ziadah. Saya ingin sekali membaca kembali buku kumpulan surat Kahlil Gibran ini, surat-surat cintanya untuk sang kekasih May Ziadah yang belum sekalipun dia temui selama hidupnya. Ada yang mau membelikan atau meminjamkan? he he he.

Well, “I love you… because I want to” , say it to your love one, Pals ;)

***

PS : gambar diambil dari web resmi Ninit Yunita.

PS (lagi) : tulisan ini diikutsertakan di Kita Berbagi, giveaway-nya Neng Inge ;)

Where Am I?

You are currently browsing the The books category at Rindrianie's Blog.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 613 other followers