Semusim, dan Semusim Lagi

March 10, 2014 § 22 Comments

Iya, di postingan sebelumnya memang saya mengatakan sedang terhipnotis Murakami dengan 1Q84 hingga tahan tidak ‘lompat’ ke buku lain. Tapi memasuki jilid 3, ternyata saya bosan juga ha ha :P.

Jadi, seharian tadi saya membaca novel pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012, dan langsung selesai! Memang tidak terlalu tebal sih, cuma 230 halaman saja. Buku ini merupakan hadiah dari Indah karena cerpen saya konon jadi pemenang favorit dalam Giveaway yang diadakannya bulan lalu, terima kasih banyak ya Ndah *ketjup*.

Tapi maafkan saya temans, ini bukan postingan resensi atau review buku. Saya hanya akan menceritakan kesan saya terhadap novel yang memang sangat layak menjadi pemenang ini.

Keunikan pertama, seperti Gadis Pantai-nya Pramudya Ananta Toer, novel ini juga tetap merahasiakan si tokoh aku, hingga cerita berakhir, saya tidak tahu ‘si aku’ dalam novel bernama siapa.

Keunikan berikutnya, novel ini -menurut saya- nyaris tanpa konflik yang berarti, alurnya tenang mengalir tapi begitu mengikat. Setiap adegan seperti memiliki fungsinya sendiri-sendiri (yang memang sudah seharusnya fiksi yang baik ditulis demikian), hingga si pembaca tidak bisa melepaskan diri, karena lengah sedikit, dia bisa kehilangan ‘momen’, setidaknya bagi saya ya, karena saya betul-betul skip makan siang tadi hihihihi.

Keunikan terakhir, setelah membacanya, saya masih terbayang-bayang *halah…ndangdut banget sih istilahnya :P* pada beberapa tokoh dalam cerita, J.J. Henry, Muara, Joe, terutama si Sobron, yang mana hanyalah seekor ikan mas koki! Tentu saja, karena terbayang-bayang itu tadi, saya jadi punya banyak pertanyaan ini itu, karena sulit percaya ‘si aku’ bisa begini dan penasaran kenapa dia tidak begitu. Dan itu berakhir dengan ingin membuat ending versi saya sendiri #eeaaa.

gambar pinjam dari goodreads

Beberapa waktu yang lalu, saya hampir saja bisa ngobrol-ngobrol dengan Andina di sebuah acara, tapi sayang saya harus segera pulang hingga melewatka momen itu. Padahal, saya ingin sekali menanyakan banyak hal yang ada di benak saya setelah membaca novel itu padanya. Misalnya saja, seberapa jauh riset yang dilakukannya hingga bisa mendeskripsikan penjara dan Rumah Sakit Jiwa dengan demikian nyata.

*Hedehhh…penasaran sayah -__-”*

Jadi begitulah temans, jika ingin membaca sebuah novel yang ‘berbeda’, Semusim, dan Semusim Lagi karya gadis muda ini sangat layak diperhitungkan masuk dalam daftar bacaan Anda ;).

Amba dan Pulang

August 29, 2013 § 21 Comments

*Warning : bukan resensi atau review novel :)

2013-08-19 14.03.30

Amba dan Pulang, di atas meja kerja saya di kantor yang berantakan :P

Itu adalah dua buah judul novel yang saya selesaikan beberapa waktu lalu. Dua-duanya ditulis oleh penulis perempuan, dua-duanya bersetting (berkisar) pada tragedi 1965, dua-duanya memasukkan unsur pewayangan dalam ceritanya, dua-duanya tipe novel yang membuat ‘candu’.

Nah, berhubung saya memang tidak sedang mencoba membuat review, tulisan ini semata-mata adalah ‘kesan’ saya setelah membaca keduanya.

Amba

Seperti judulnya, tokoh utama novel yang ditulis Laksmi Pamuntjak ini bernama Amba Kinanti, seorang wanita jelita bermata kenari yang berasal dari sebuah desa bernama Kadipura di Jawa Tengah. Lantas kemudian dia tak sengaja bertemu Bhisma Rashad, seorang dokter lulusan Universitas Karl Marx, Leipzig Jerman Timur di rumah sakit Kediri. Seperti sudah bisa diduga, mereka berdua jatuh cinta, padahal Amba sudah bertunangan dengan Salwani Munir, dosen muda yang mengajar di Gadjah Mada. Tapi seperti dalam kisah pewayangan, Amba memilih Bhisma sebagai kekasihnya.

Berikutnya, sebuah penyerangan di Yogya di tahun 1965 membuat mereka terpisah, berakhir dengan ‘kepergian’ Bhisma ke Pulau Buru, dan tak pernah meninggalkan tempat itu hingga akhir hayatnya. Tak bisa menemukan Bhisma, Amba kemudian pergi ke Jakarta. bertemu dengan Adalhard lantas menikah dengannya. Saat Adalhard meninggal dunia, dia bersama Zulfikar -teman Bshima saat di Buru- bertemu dengan Samuel yang kelak menjadi guide mereka di kapal Lambelu menuju Namlea, demi menemukan Bhisma di Pulau Buru, hidup atau mati.

Novel setebal 491 halaman ini alurnya melompat-lompat, berawal dari 2006, saat Amba baru datang di Buru, kemudian mundur ke tahun 1956-1965 yang menceritakan kehidupan Amba di Kadipura, sebelum akhirnya dia berpetualang ke Yogya untuk kuliah bahasa Inggris di UGM, lantas kembali ke tahun 2006, bahkan berakhir di pameran Srikandi, anak perempuan Amba. Menggunakan Point of View orang ketiga, hampir semua tokoh ini sempat ‘bercerita’, walaupun banyak juga cerita yang disampaikan dalam bentuk surat.

Saya cukup lama menyelesaikan novel ini, mungkin sekitar 2 bulan, selain karena saya memang suka ‘loncat-loncat’ saat membaca buku (maksudnya tidak dihabiskan satu judul terlebih dulu sebelum mulai membaca judul lain), novel ini juga -bagi saya- terlalu berat, karena banyak istilah-istilah politis di dalamnya. Jadi walaupun saya penasaran apa yang terjadi selanjutnya, ada sedikit rasa sungkan (baca : males hihihihi) saat harus bertemu dengan informasi-informasi yang sanggup membuat saya mengerutkan kening.

Tapi untungnya, banyak juga ilmu-ilmu lain yang saya peroleh saat membaca novel ini, selain belajar sejarah tragedi 1965 dan Pulau Buru, juga belajar bahasa Jerman, menikmati cerita pewayangan Mahabrata hingga ikut-ikutan membaca serat Chentini dan puisi-puisi klasik dunia. Owesome! :)

Pulang

Novel ini lebih tipis, cuma 449 halaman (dengan ukuran buku yang lebih kecil daripada Amba) dan bisa saya selesaikan hanya dalam 2 hari saja. Selain karena saya membacanya saat masih libur ngantor, novel ini memiliki kekuatan magis *halah* yang membuat saya tidak berhenti membacanya jika tidak sangat sangat sangat terpaksa, padahal tokoh dalam novel ini buanyak, tapi saya merasa punya keterikatan khusus dengan masing-masing tokoh sehingga tidak gampang melupakan mereka.

Tokoh sentral dalam novel ini adalah Dimas Suryo, seorang wartawan yang ‘terjebak’ di Paris karena tragedi 1965 yang tidak memungkinkannya pulang kembali ke Indonesia. Jatuh cinta pada seorang wanita Perancis bernama Vivienne Deveraux, yang melahirkan gadis jelita yang diberi nama Lintang Utara. Saat masih muda, cinta pertama Dimas Suryo jatuh pada Surti Anandari, walaupun Surti memilih menikah dengan Hananto Prawiro, seorang pria pro ‘kiri’ yang sudah seperti kakak bagi Dimas Suryo.

Alur dan setting dalam novel ini juga melompat-lompat. Prolognya bersetting di Jalan Sabang tahun 1968, untuk kemudian pindah ke Perancis saat demo mahasiswa di Universitas Sorbonne di tahun yang sama. Lantas melompat (dan kemudian berakhir) di tahun 1998 saat Presiden Soeharto lengser, dan endingnya bersetting di pemakaman Karet.

Dalam novel ini saya belajar bahasa Perancis, tahu berbagai macam kuliner khas Indonesia, cerita pewayangan Mahabrata (lagi), hingga mupeng menjadi Flaneur (baca : pengelana) yang menjelajahi Terre D’asile dan Cimetiere du Pere Lachaise, Le Grand Palais, sungai Seine hingga toko Shakespeare & Co di Paris sana. Bahkan karena restoran ‘Empat Pilar Tanah Air’ (yang memang didirikan oleh eksil politik) betul-betul ada, membuat saya ingin berkunjung ke sana untuk mencicipi ikan pindang serani.

Mungkin karena saya pernah bertemu dengan Leila S. Chudori, dan mendengarkan penjelasannya tentang menulis, saya membaca novel ini dengan perasaan yang berbeda. Saya bisa merasakan riset-riset yang dilakukan, atau tajamnya karakter-karakter tokoh yang dikumpulkan. Dan mungkin karena Leila adalah seorang wartawan senior Tempo, informasi-informasi sejarah tentang 1965 maupun 1998 begitu akurat sekaligus tidak terasa ‘berat’ untuk dicerna. Sepertinya saya akan membaca ulang novel ini kapan-kapan hihihihi.

Jadi begitulah temans, jika Anda menyukai novel sejarah, mungkin Amba dan Pulang bisa dijadikan daftar baca berikutnya. Tapi tenang saja (psssttt…rahasia ini mah ya :P), kedua novel ini juga penuh dengan cerita cinta lengkap dengan adegan berkategori (sedikit) ‘panas’ di dalamnya *ups*, jadi tetap bisa dianggap bacaan yang menghibur hahaha.

Nah, novel apa yang terakhir temans baca? ;)

Bertumbuh Bersama Mizan

April 12, 2013 § 31 Comments

Hobi saya sejak kecil memang membaca. Belum berubah hingga sekarang, dan sepertinya akan tetap sama hingga waktu-waktu yang akan datang.

Seingat saya, sejak TK saya sudah bisa (dan suka) membaca. Maka saat kelas 2 SD, saya tidak terpilih ibu guru untuk mewakili sekolah dalam lomba membaca antar sekolah, saya sempat merasa sakit hati. Lantas melampiaskannya dengan membaca apapun yang bisa saya baca, termasuk kertas bekas pembungkus cabe merah di dapur mamah saya :P

Tapi saya memang pemimpi, sehingga jenis bacaan saya pun dari dulu lebih banyak yang berupa fiksi, dengan semua derivasinya. Masa-masa SD, saya membaca dongeng rakyat seperti Sangkuring atau semacam legenda terbentuknya Situ Bagendit, misalnya. Novel Trio detektif dan Lima Sekawan, hingga cerita-cerita di majalah Bobo dan Si Kuncung.

Beranjak SMP, saya membaca Wiro Sableng, komik-komik Jepang, bahkan pernah membaca roman-roman lama seperti Layar Terkembang, Atheis, hingga Siti Nurbaya. Walaupun yang terakhir ini tidak sampai habis karena masih menggunakan ejaan lama, membuat saya menyerah karena tidak terbiasa :D

Saat SMU, saya tinggal di asrama putri. Ibu asrama saya ternyata mengoleksi banyak sekali novel. Mulailah saya melahap novel-novel Shidney Sheldon, Agatha Christie, Danielle Steel, hingga John Grisham, Kahlil Gibran dan Rumi. Walaupun saya tetap juga membaca komik serial cantik (ada yang tahu kan ya komik jenis ini? hehehe), atau majalah-majalah remaja yang ada saat itu.

Kuliah di Fakultas Sastra membuat saya juga ikut-ikutan (sok) nyastra. Saya mulai berkenalan dengan Pramudya Ananta Toer, Taufik Ismail, NH. Dini, Remy Silado, hingga Leo Tolstoy dan Karl May. Di masa-masa ini juga, saya banyak membaca buku-buku islami yang ditulis Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Gola Gong, Pipiet Senja dan yang lainnya.

Pasca kuliah, saya membaca hampir semua buku yang memungkinkan untuk bisa saya pinjam. Saya berkenalan dengan Paulo Coelho, Torey Haiden, Mitch Albom dan serial Harlequin. Sebelumnya saya memang peminjam buku sejati, di sekolah dan kampus, petugas perpustakaan akan dipastikan cukup mengenal saya karena intensitas peminjaman buku saya. Saya pun akan berupaya berteman baik dengan teman-teman kolektor buku. Bukan saya pelit tidak mau membeli buku, tapi memang karena saat itu dananya belum ada hihihihi.

Alhamdulillah, sekarang saya bisa membeli sendiri dan mengoleksi buku-buku yang saya sukai. Seringkali, saya membeli buku yang dulu sudah pernah saya baca. Kalau betul-betul dikumpulkan, mungkin sudah mencapai satu kamar penuh. Walaupun kenyataannya buku-buku tersebut sudah ‘tersebar’. Saya simpan di rumah orang tua saya di Majalengka, beberapa buku yang kurang saya suka biasanya saya hibahkan, banyak yang dipinjam teman dan belum (atau tidak?) dikembalikan, hingga banyak buku juga terpaksa saya buang karena rusak terkena banjir tempo hari.

Sebagian buku yang terselamatkan

Sebagian buku yang terselamatkan

*Buku Dunia Sophie itu pernah saya baca saat kuliah bertahun-tahun lalu (sekitar tahun 2000), tapi baru saya beli sekitar 2 tahun lalu :)

Usia saya dan Mizan sepertinya tidak terpaut terlalu jauh, usia saya 30 tahun lebih sedikit kok hehehe. Jadi saya merasa kami betul-betul bertumbuh bersama. Dalam periode yang saya sebutkan sebelumnya, pasti banyak buku-buku terbitan Mizan group yang sudah saya baca, sama seperti foto di atas, yang hampir setengahnya merupakan terbitan Mizan.  Membaca novel-novel islami yang ditulis Asma Nadia dkk semasa kuliah dulu itu, telah menimbulkan keinginan untuk berhijab. Tak perlu lama, memasuki semester tiga saya memutuskan untuk memakai kerudung.

Membaca karya-karya fiksi Dewi Lestari, Tasaro GK, Khrisna Pabichara dan penulis fiksi Mizan lainnya membuat saya tidak pernah berhenti bermimpi suatu saat bisa memiliki karya sebaik mereka. Bahkan tempo hari saya memberanikan diri untuk ikut mengirimkan novel roman saya saat Qanita mengadakan lomba, walaupun tentu saja belum jadi pemenang ya hehehe.

Tapi saya percaya, membaca dan menulis itu seperti dua sisi dalam mata koin yang sama. Tidak bisa dipisahkan untuk berdiri sendiri dan saling terikat satu sama lain. Sehingga membuat saya berkesimpulan, bacaan yang baik akan juga memungkinkan saya menulis dengan sama baiknya. Saya berpengharapan baik, dengan buku-buku terbaik yang diproduksi Mizan, akan menemani saya untuk bertumbuh. Bahkan bukan tidak mungkin, kelak saya bisa menjadi salah satu penulis Mizan (?) :)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba MizanAndMe.

(Semacam) Review Buku : Cerita di Balik Noda

April 8, 2013 § 4 Comments

Judul Buku : Cerita Di Balik Noda – 42 kisah inspirasi jiwa

Jenis buku  : Novel

Genre            : Non fiksi

Penulis         : Fira Basuki

Penerbit      : Kepustakaan Populer Gramedia (KPU)

Tebal Buku : 235 Halaman

No ISBN      : 9 789799 105257

Buku ini berisi 42 kisah, yang masing-masing cerita memiliki benang merah yang sama, yaitu menyetujui jargon cantik bertajuk : berani kotor itu baik. Baik karena kotor tidak bisa dihindari dalam sebuah proses kreatifitas. Baik karena kotor terkadang bisa menjadi indikasi niat tulus dari kebaikan hati. Baik karena dari sebuah makna ‘kotor’-lah kita bisa memahami definisi bersih.

Dalam cerita Koki Cilik misalnya, diceritakan bagaimana Nisa yang ceria belajar membuat cupcake bersama mamanya. Proses pembuatan kue ini tentu saja membuat baju kesayangannya bernoda cokelat dan tepung. Tapi Nisa tidak menyesal dan justru senang, karena ternyata dia menyukai prosesi masak memasak dan membuat kue. Bahkan, kesukaannya ini menjadi peluang bagi Nisa untuk belajar  berbisnis ‘kue Nisa’, menerima pesanan kue-kue dari tetangga yang membuat tabungannya gemuk.

Atau, cerita Master Piece yang menawan. Tentang Aninda yang sedari kecil suka sekali mencorat-coret. Tidak hanya di atas kertas atau buku, tapi juga di lantai, di dinding, di atas seprai putih, di manapun. Sang Ibu melihat ‘ketidakdisiplinan’ tersebut sebagai sebuah bakat, maka dia mendorong Aninda untuk les menggambar, mengikutkannya ke berbagai lomba melukis, dan berhasil. Aninda betul-betul pintar menggambar dan memenangkan banyak piala dari sana, bahkan kemudian menjaci (calon) pelukis yang hanya mencorat-coret di atas kanvas.

(Jadi teringat zaman kecil dulu, saya juga suka sekali mencorat coret dinding, tapi kenapa saya tidak jadi pelukis ya? *abaikan* :P)

Lantas, dalam cerita berjudul Boneka Beruang Zidan. Sang tokoh utama Zidan adalah seorang anak berkebutuhan khusus, dia istimewa karena ke-hiperaktif-annya. Tapi, berkat si Teddy -boneka beruang yang diberikan tantenya- lambat laun Zidan bisa berkomunikasi dengan bonekanya itu, menatap si boneka dengan pandangan yang tidak kosong seperti biasanya, bahkan dia bisa hujan-hujanan sambil tertawa bersama si teddy. Hal tersebut membuatnya juga bisa berinteraksi dengan sekitarnya dengan lebih baik lagi.

Walaupun, ada kalimat yang sangat kontradiktif dalam cerita Boneka Beruang Zidan ini (di halaman 128) : Sering juga saat berlarian ke sana kemari dia tertidur di karpet. Mungkin seharusnya kata ‘setelah’ yang dicantumkan di sana untuk menggantikan kata ‘saat’ ya. Atau dalam cerita Sarung Ayah, ada inkonsistensi penokohan, di awal diceritakan si anak bernama Dewi, tapi kemudian berubah menjadi Wulan hingga cerita berakhir. Mungkin bisa diperbaiki editor dan penerbit untuk cetakan berikutnya :)

Cerita-cerita lainnya pun tak kalah menarik, selalu ada ‘sesuatu’ yang bisa kita ambil, menginspirasi bahwa terkadang noda dan ataupun kotor, memang harus dilalui untuk mendapat hasil yang diinginkan. Setiap kisah diceritakan tidak terlalu panjang, tidak bertele-tele dan to the point, cocok bagi mereka yang ingin bacaan singkat tapi berisi.

Dan ternyata, kumpulan Cerita di Balik Noda ini memang ditulis ulang oleh Fira basuki. Fakta ini menjawab rasa penasaran saya saat membaca setiap cerita, kenapa mereka memiliki ‘suara’ tulisan yang sama padahal ditulis oleh orang-orang yang berbeda. Walaupun (menurut saya), akan lebih menarik jika gaya bahasa dan ataupun cara bercerita dibuat beragam agar pembaca tidak bosan.

Postingan (semacam) review Buku Cerita Di Balik Noda dan Berani Kotor itu Baik ini saya tulis untuk mengikuti   Kontes Ngeblog Reiew Buku “Cerita Di Balik Noda” 15 Maret 2013 – 10 April 2013 yang di selenggarakan oleh KEB.

 

Kukila

December 11, 2012 § 24 Comments

gambar dipinjam dari gramedia

Jika dulu saya membeli Test Pack dan Remember When karena kepincut covernya yang unyu-unyu, maka kali ini saya tertarik pada Kukila karena ‘kukila’nya itu. Menggelitik rasa ingin tahu apa (atau siapa) kah Kukila? Berkenalanlah saya dengan M. Aan Mansyur yang langsung merebut hati saya *tsaaaah*.

Buku setebal 184 halaman ini merupakan kumpulan cerita, ada 16 cerita pendek di dalamnya, yang masing-masing memiliki keunikan sendiri yang terkadang memabukkan. Ini bukan lebay, karena -bagi saya- sang penulis pintar sekali memilih dan memadu-padankan kata, menjalinnya sedemikian rupa sehingga melarutkan si pembaca ke dalam cerita.

Cerita pendek pertama tentu saja Kukila (Rahasia Pohon Rahasia), bertokohkan seorang wanita bernama Kukila, yang membenci September dan pohon mangga, karena mengingatkannya pada mantan suaminya Rusdi, juga kekasih masa remajanya yang bernama Pilang. Cerita ini cukup panjang, baru habis di halaman 67, berisi penggalan-penggalan surat dari para tokohnya, sebagian besar adalah surat Kukila bagi ketiga anaknya.

Kukila -yang rupanya bermakna burung- jatuh cinta pada seorang Pilang -nama lain pohon akasia dengan nama latin Acacia leucophloea- walaupun akhirnya menikah dengan Rusdi. Mereka bertiga…nah, tidak seru kalau saya ceritakan plotnya, silahkan baca sendiri saja lah ya hehehe. Ada satu paragraf dari surat salah satu anak Kukila itu, yang mengingatkan saya pada puisinya Sapardi, walaupun dengan nuansa yang sedikit berbeda.

Seorang lelaki telah membuatku rela jadi rumput kering di bawah sol sepatunya. Aku mencintainya, Ibu. Aku mencintainya seperti burung kepada angin yang membantunya terbang. Seperti penulis kepada huruf-huruf yang membuatnya dibaca. Seperti sungai kepada laut yang menampung lelah perjalanannya. Seperti laut kepada langit yang menjatuhkan dan mengisapnya berkali-kali.

Uhuk, manis ya :)

Cerita berjudul Setengah Lusin Ciuman Pertama juga lucu, berkisah tentang pemaparan si ‘aku’ tentang ciuman pertamanya dengan cara yang berbeda, jangan dibayangkan vulgar atau panas seperti novel-novel harlequin ya, penuturannya lucu walaupun endingnya membuat miris. Dalam cerita Cinta (Kami) seperti Sepasang Anjing dan Kucing, lagi-lagi saya terpukau dengan nama salah satu tokohnya : Nanti Kinan! Nama yang tidak biasa, bukan?

Membaca buku ini membuat saya ‘berkenalan’ dengan sang penulis, menjadi followernya di @hurufkecil, dan menjadi silent reader di blognya http://hurufkecil.wordpress.com/ dan http://aanmansyur.tumblr.com/. Membaca tulisan-tulisannya belakangan ini sepertinya cukup mempengaruhi saya, contohnya adalah postingan #postcardfiction yang saya tulis kemarin itu, walaupun tentu saja masih jauh lah ya dengan Aan Mansyur yang karyanya sudah bejibun ituh *ngumpet*.

Begitulah temans, buku ini cocok dibaca saat bersantai. Dan bagi teman-teman yang suka menulis fiksi, mungkin bisa dijadikan salah satu referensi pemilihan diksi yang bagus :)

Well, happy Tuesday yaa.. ;)

Photobucket

 

 

PS : Postingan ini diikutsertakan dalam “2012 End of Year Book Contest”.

Remember When

September 25, 2012 § 21 Comments

Setelah Test Pack-nya Teh Ninit Yunita, lagi-lagi saya membeli sebuah buku hanya karena tertarik dengan covernya yang kiyut bin unyu-unyu.

Remember When

Tapi saya sama sekali tidak menyesal lho, bahkan saya sangat menyukainya. Winna Efendi –yang masih sangat muda inih, baru 26 tahun bow usianya :D- telah menuliskannya dengan sangat baik. Cerita sederhana tentang empat remaja (5 sebetulnya, tapi yang satu ini -namanya Erik- tidak terlalu banyak porsinya dalam cerita) berseragam abu, mereka adalah Freya-Gia-Moses-Adrian.

Remember when bagi saya novel remaja yang unik, karena tidak hanya berkisah tentang persahabatan dan cinta (segi empat) *halah*, tapi juga banyak terselip pesan bijak. Misalnya saja, tentang sikap tanggung jawab, bahwa setiap pilihan keputusan selalu beriringan dengan konsekuensi yang harus dipikul.

Openingnya sangat menarik, yaitu saat Freya menemukan selembar foto buram bergambar 2 perempuan dan 2 laki-laki berseragam SMU di sana, mengisahkan satu per satu individu dalam gambar, kemudian  flash back yang diramu apik karena cerita perlahan mengalir dari sana.

Mungkin kesan awalnya klise ya, Gia yang seorang cewek populer di sekolah pacaran dengan Adrian si jago basket nan tampan. Sementara Moses yang sangat pintar dan pendiam pacaran dengan Freya yang tidak kalah pintar tapi juga introvert. Gia bersahabat baik dengan Freya, Moses dan Adrian pun adalah teman dekat. Persahabatan yang solid karena sahabat mereka berpacaran dengan sahabat pacarnya *errr….mengertilah ya maksutnyah hihihihi*.

Hingga diam-diam ternyata Freya menyimpan rasa yang lain pada Adrian, walaupun perasaan itu hanya rahasia bagi dirinya sendiri. Tapi di satu titik, Adrian pun ternyata mencintai Freya, dan keduanya memilih tetap menjaga persahabatan mereka dengan Gia dan Moses walaupun artinya harus mengabaikan rasa cinta yang ada. Oh iya, Erik -yang merupakan sahabat kecilnya Freya- juga sangat mencintai Gia. Hubungan cinta yang lumayan pabalieut lah ya :)

Maka kisah ini pun dibumbui dengan berbagai emosi dari tiap tokoh tentang dilema memilih cinta dan persahabatan, pengkhianatan, pengorbanan, dan pada akhirnya keikhlasan untuk melepaskan.

Endingnya -bagi saya- kurang dramatis, mungkin karena saya lebih suka ending ‘ngegantung’ atau bikin ‘nyesek’ ya (hahahaha0, tapi ending Remember When sangat manis dan message-nya sampai ke pembaca. Dan yang masih ‘menempel’ pada saya hingga sekarang, bahwa cinta adalah sebuah perasaan yang sangat jujur, entah rasa itu bisa membuat si penderita bahagia atau berduka, tapi cinta itu sendiri selalu jujur dan apa adanya *tsaaaah* :P.

Anyway, novel ini ditulis dengan pilihan diksi yang menawan dan dialog cerdas, membuat kisah yang (sepertinya) menye-menye ini tetap bermakna dan jauh dari kesan cheesy. Apalagi cara bercerita di novel ini dibangun dari sudut pandang masing-masing tokoh, sehingga fluktuatif perasaan si tokoh betul-betul terasa.

Intinya, saya jadi ingin belajar sama dek Winna *deuuuh, sok akrab :P* bagaimana bisa menulis seindah itu, jadi tidak sabar ingin membaca buku “Darf 1″ ini :)

Akhirnyaaaa, bisa juga menulis (semacam) review buku yang sudah saya baca, padahal hampir tiap minggu selesai baca buku baru tapi tidak pernah ditulis *merasa bersalah* :(

Nah, apa buku yang sedang kamu baca temans? ;)

Buku di Hari Buku

April 23, 2012 § 44 Comments

Hai temans.

Tanggal 23 April ternyata Hari Buku ya? Baru tahu lho saya *inpo ga fenting* hihihi. Tapi yang akan saya sampaikan ini penting, setidaknya bagi saya :)

Beberapa menit yang lalu Pak OB menyerahkan paket JNE ke meja saya. Setelah saya lihat, kertas merah pembungkusnya bertuliskan Nulisbuku.com. Yeaayyy, pesanan buku saya ternyata sudah sampai. Dan ini bagian pentingnya sodara-sodara : dalam buku ini ada tulisan saya ! hohohoho. Maafkan ya temans, setelah Si Odol Masochist tempo hari, postingan ini pun hanyalah episode norak saya berikutnya hihihihi.

Tidak, saya tidak bermaksud mempromosikan buku itu kok. Toh cerpen saya yang tercetak di sana bisa dengan mudah teman-teman baca di sini. Walaupun tentu saja jika berkenan membelinya saya senang sekali, karena keuntungan dari penjualan buku ini disumbangkan untuk Taman Bacaan Rumah Unyil di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Silahkan kunjungi nulisbuku.com, atau langsung mengirimkan email ke admin[at]nulisbuku[dot]com jika berminat ya.

Saya tahu, banyak sekali teman-teman yang sudah menerbitkan bukunya, jadi kalau mau dibanding-bandingkan, saya mah kalah telak lah ya. Tapi sekali lagi, ini merupakan sebuah pencapaian tersendiri bagi saya, yang begitu membahagiakan, yang sangat mengharukan, yang ingin saya syukuri dengan khidmat *mulai lebay :P*. Pokoknya mah saya senang sekali, semoga buku saya sendiri bisa juga segera diterbitkan. Aamiin..

Jadi begitulah, semoga kehadiran buku kecil itu ikut menyemarakkan perbukuan dunia :)

Winter Dreams

December 8, 2011 § 41 Comments

Winter Dreams adalah judul novel karya Maggie Tiojakin yang baru saja saya selesaikan semalam.

Iyaa, Maggie yang pernah saya ceritakan di postingan ini. Maggie yang telah memilih saya menjadi salah satu muridnya dalam creative writing class yang dia adakan bersama fiksi lotus. Maggie yang berhasil membuat saya semakin ingin menulis sebuah novel (semoga keinginan ini tidak hanya omdo alias omong doang ya, tapi bisa betul-betul dilaksanakan) :P. Maggie yang mengenalkan saya pada Anton Chekov, Ernest Hemmingway, Ben Loory, Richard Bausch, Italo Calvino dan banyak sekali nama penulis besar dunia yang sebelumnya sangat asing bagi telinga saya.

Thanks for everything Mag!

Di bawah ini adalah suasana prosesi belajar kami di salah satu sudut Urban Kitchen – Plaza Indonesia yang dingin sangat, selama akhir pekan di November kemarin, tepatnya 6 kali pertemuan, karena ada 2 kali sabtu kelas diliburkan atas kesepakatan bersama karena satu dan lain hal. Baru berfoto-foto di hari terakhir belajar (27 November), saat mba Hetih Rusli -seorang editor Gramedia Pustaka Utama- sempat datang lagi untuk mengobrol ini itu.

I miss the class. Much…

Faye, saya, Maggie, Hetih

(barisan depan) Deste, Rieke, Vera

Hari minggu tanggal 4 Desember lalu, novel Winter Dreams ini dilaunching di Pasar Festival. Kami -para murid yang baik, kecuali Faye- tentu saja datang ke sana he he. Bagi saya pribadi ini adalah hal yang sama sekali baru, menyenangkan sekali berada di sana dan menyaksikan ‘kelahiran’ sebuah novel ke dunia :)

Alhamdulillah yaa..dapet novel gratis ;)

Terlepas dari saya mengenal sang penulis atau tidak (karena rasanya tidak mungkin mengenal seseorang hanya dengan 6 kali pertemuan bukan?), Winter Dreams adalah novel tanpa plot yang -menurut saya- sangat menarik.

Nicky F. Rompa -sang tokoh utama- merupakan sosok anti-hero yang berkarakter manusia biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Selalu ada konflik tentu saja, seperti kehidupan setiap manusia yang pasti diwarnai dengan masalah, begitu juga perjalanan Nicky. Akan tetapi ke-biasa-an perjalanan Nicky itu lah yang menjadikan novel ini luar biasa. Setidaknya saya jarang -kalau tidak dikatakan belum pernah- membaca novel berjenis seperti ini.

Terbagi dalam “lima buku” yang membagi stage kehidupan Nicky, novel ini bersetting mulai dari Jakarta, kemudian menuju dan berakhir di Boston. Pembaca juga disuguhkan pengalaman camping dan canoeing di Maine,hiruk pikuk New York, berlayar dengan kapal ke Provincetown, mengintip isi Museum of Fine Arts, pemandangan sungai Charles, hingga hebohnya Marathon Monday yang merupakan acara terbesar se-Massachusetts.

Tokoh-tokoh yang bersinggungan dengan kehidupan Nicky diantaranya adalah para imigran yang sangat beragam. Pemilik toko tempat Nicky bekerja Mr & Mrs. Fong adalah imigran asal Vietnam. Richard Klaus -pacar sepupunya Nicky dan menawarinya menjadi sopir limousine kemudian- lahir di Berlin. Ada juga Pollina si gadis Rusia bermata hijau yang memukau Nicky. Roomate Nicky -Dev Akhtar- adalah pria kelahiran Quetta-Pakistan yang besar di Westwood. Guru menulis Nicky -Artin Rucci- adalah keturunan Albania. Sementara Esmeralda de Luca Garcia (atau Esme) -kekasih Nicky- yang merupakan imigran ilegal (seperti juga Nicky)  berasal dari Culiacan, Meksiko. Dan banyak tokoh unik lain yang membuat kisah ini sangat berwarna.

Pengalaman membaca -dan juga menulis- memang personal. Maka apa yang kita alami saat membaca Winter Dreams, dan semua buku lainnya, pasti berbeda. Yang saya alami sesaat setelah saya membaca tulisan “SELESAI” di halaman 287 atas kisah Nicky adalah, merenungkan kembali perjalanan hidup saya sendiri. Mengingat-ingat episode kehidupan saya di awal 20an dulu, kenaifan saya, kenekatan saya, keingintahuan saya, keputusan-keputusan salah yang saya buat tapi entah kenapa tidak saya sesali, dan sebagainya dan seterusnya. Biasa saja mungkin ya, tapi berhasil membuat saya baru bisa tertidur pukul 1 untuk terbangun 3 jam kemudian :P. Karena belajar dari Nicky, seharusnya saya bisa lebih cepat mengerti ada beberapa hal yang saya inginkan tapi mungkin tidak bisa termiliki.

Kisah Nicky bisa dikatakan sama sekaligus berbeda dengan kehidupan saya (atau mungkin kehidupan manusia pada umumnya) yang tidak selalu berada di titik terendah ataupun melulu berbunga-bunga. Tapi kisah-kisah bittersweet itu tetap bermakna, mampu membuat saya menjadi seorang pembelajar, dan mensyukuri setiap yang terjadi -dan tidak terjadi- dalam kehidupan yang dititipkan Sang Maha Segala pada saya.

“Life has a strange sense of humor, and sometimes God makes up for it by working in mysterious ways” yang tertulis di salah satu bab membuat saya tersenyum. Dan saya sepakat bahwa “Waktu berlalu. Banyak hal yang akan berubah. Hidup terus bergulir seperti mimpi”.

Oh iya, teman-teman bisa membaca Behind the page-nya Maggie untuk novel ini di sini, Winter Dreams akan segera beredar di toko-toko buku mulai 15 Desember nanti, ada yang mau pinjam punya saya juga boleh kok, tapi sedikit keriting karena kemarin kami (saya, tas, dan si Kupi) basah kuyup kehujanan dalam perjalanan pulang :)

Book Review : Kicau Kacau

October 11, 2011 § 36 Comments

Anda kenal Indra Herlambang? Iyaa…salah satu host acara infotainment (Insert kalau tidak salah ya?) itu. Apa jadinya jika seorang Indra Herlambang menulis? Jawabannya bisa Anda dapatkan setelah membaca bukunya yang berjudul Kicau Kacau ini.

Pertama kali saya ‘menemukan’ tulisan Indra adalah di sebuah majalah yang tidak dijual bebas bernama Free Magazine, saat itulah saya memiliki pandangan lain dari seorang Indra Herlambang, karena ternyata dia lebih cerdas daripada sekedar menggosipkan para selebriti di TV.

Buku yang saya miliki adalah cetakan ke-tujuh (Juli 2011), laris manis karena cetakan pertamanya pun baru terbit di bulan Februari 2011. Dicetak ulang untuk ke-tujuh kalinya dalam 6 bulan? Pasti ada ‘sesuatu’ dalam buku ini, kan? (Yup, salah satu yang saya perhatikan saat membeli sebuah buku adalah sudah edisi ke berapa si buku tersebut dicetak he he).

Seperti judulnya, setiap artikel di dalamnya diawali dengan sebuah kicauannya di akun twitternya @indraherlambang. Misalnya saja twit berbunyi “Pesawatnya telat. Curiga hamil”, atau “Love doesn’t hurt. People do”, atau “Masa lalu bisa terdengar mirip dengan masalah lu. Go figure”, atau yang ini “Butuh kesabaran untuk bisa belajar sabar. Ngeri ga tuh?”. 50 twit yang terkesan asal binti lebay itulah yang mengawali setiap tulisan sederhana yang -menurut saya- cukup dalam maknanya saat kita sampai di akhir tulisan.

Dikelompokkan menjadi 4 bab besar, yaitu kicauan tentang gaya hidup, relationship, Jakarta, dan keluarga. Buku setebal 332 halaman ini cocok bagi Anda yang sedang tidak ingin terlalu ‘mikir’ saat membaca, tapi tetap bisa mendapat ‘sesuatu’ dari bacaan tersebut.

Dari tulisan berjudul “Mengingat Lupa” misalnya, Indra mencermati teman-temannya yang hampir selalu mengabadikan (atau merekam) segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Dengan dalih untuk kenang-kenangan, untuk bernostalgia suatu saat nanti, seolah menolak untuk ‘lupa’. Di paragraf terakhir Indra menulis begini :

Saya sih cukup yakin bahwa manusia dibikin untuk bisa lupa demi kebaikan kita sendiri. Karena ada banyak hal yang lebih baik dilupakan supaya kita bisa tetap waras. Lupa menurut saya, adalah anugerah terbesar dari Sang maha. Bayangin kalau kita bisa dan selalu ingat semua hal? Apa ngga ribet hidup kita? (hal : 37)

Apakah Sahabat setuju dengan pendapat tersebut? :)

***

Artikel ini diikutsertakan pada Book Review Contest di BlogCamp

The Winner Stands Alone

September 8, 2011 § 22 Comments

Sejak membaca The Alchemist bertahun-tahun lalu, saya selalu menyukai Paulo Coelho hingga saat ini. Menurut saya, Coelho adalah penulis yang tidak membosankan, karena setiap novelnya selalu menjanjikan cara bercerita yang berbeda, dan dengan ending yang seringkali sangat mengejutkan. Contohnya novel ke-13nya yang baru saja saya baca ini. The Winner Stands Alone.

(gambar dipinjam dari sini)

Novel ini bersetting Festival Film Cannes di Perancis sana, tokoh utamanya Igor, seorang miliuner Rusia, yang datang ke sana demi mendapatkan kembali cinta seorang Ewa, sang mantan istri yang kini bersuamikan Hamid Husein, seorang couturier kaya dari gurun.

Selain Ewa dan Hamid Husein, misi Igor ini bersinggungan jalan dengan Gabriela, seorang aktris yang berjuang keras mendapatkan sebuah peran dalam sebuah film, Javits seorang distributor film yang berpengaruh, Maureen sang sutradara idealis, Jasmine Tiger model cantik dari Rwanda, juga Olivia seorang gadis penjual pernak pernik di trotoar. Pertemuan mereka dengan Igor telah mengubah hidup mereka untuk selamanya.

Novel setebal 468 halaman ini diawali pukul 03.17 pagi dan tamat saat pukul 13.55 siang keesokan harinya. Waktu yang sangat singkat untuk sebuah novel yang bisa saja bersetting hingga ’10 tahun kemudian’ he he. Tapi di dalamnya kita bisa berkelana berpetualang dan mengetahui banyak hal. Kehidupan para Superclass, teknik beladiri Rusia bernama Sambo, seluk beluk produksi film, hingga cara kerja racun Cianida.

Tidak hanya petualangan Igor yang mencengangkan, novel ini tapi juga mengajak pembaca mengkaji kembali tujuan dan arti hidup, bagaimana seharusnya mimpi yang kita miliki di perjuangkan, atau betapa pencapaian finansial tidak pernah bisa menjadi indikator bahagia atau tidaknya seseorang. Novel yang sangat ‘kaya’.

Mungkin karena saya memang suka Paulo Coelho ya, jadi menurut saya novel ini bagus dan menarik, seperti novelnya yang lain yang pernah saya baca. Ingin sekali membaca novel terbarunya Oleph, tapi sepertinya belum masuk Indonesia nih :(

Oh iya, saya copas-kan sebuah dongeng yang diingat oleh Ewa di salah satu episod. Makna di balik dongeng ini -bagi saya- begitu dalam, walaupun mungkin tidak bisa ‘ditemukan’ secara eksplisit.

Seekor camar sedang terbang melintasi pantai ketika matanya tertumbuk pada seekor tikus:

“Dimana sayapmu?”

Setiap binatang bicara dengan bahasa masing-masing, jadi si tikus tidak memahami pertanyaan itu, ia hanya menatap dua benda besar dan aneh yang tampak menyatu dengan tubuh makhluk tersebut.

“Pasti dia sakit” Pikir si tikus.

Si camar melihat si tikus memerhatikan sayapnya dan berpikir:

“Kasihan. Pasti binatang itu sudah diserang monster yang membuatnya tuli dan merampas sayapnya.”

Karena iba melihat tikus itu, si camar memungutnya dengan paruh dan membawa si tikus jalan-jalan di udara. “Mungkin tikus ini rindu rumah,” pikir si camar saat mereka terbang. Lalu, dengan hati-hati, si camar mengembalikan tikus itu ke tanah.

Selama berbulan-bulan berikutnya, si tikus tenggelam dalam depresi; ia teringat pengalamannya berada di tempat -tempat tinggi dan melihat dunia luas yang indah. Namun lambat laun tikus itu pun kembali terbiasa menjadi tikus lagi dan mulai percaya bahwa keajaiban yang sempat terjadi dalam hidupnya hanyalah mimpi belaka.

Nah, apakah sahabat tertarik membaca novel ini? ;)

Where Am I?

You are currently browsing the The books category at Rindrianie's Blog.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,152 other followers