Buku di Hari Buku
April 23rd, 2012 § 44 Comments
Hai temans.
Tanggal 23 April ternyata Hari Buku ya? Baru tahu lho saya *inpo ga fenting* hihihi. Tapi yang akan saya sampaikan ini penting, setidaknya bagi saya
Beberapa menit yang lalu Pak OB menyerahkan paket JNE ke meja saya. Setelah saya lihat, kertas merah pembungkusnya bertuliskan Nulisbuku.com. Yeaayyy, pesanan buku saya ternyata sudah sampai. Dan ini bagian pentingnya sodara-sodara : dalam buku ini ada tulisan saya ! hohohoho. Maafkan ya temans, setelah Si Odol Masochist tempo hari, postingan ini pun hanyalah episode norak saya berikutnya hihihihi.
Tidak, saya tidak bermaksud mempromosikan buku itu kok. Toh cerpen saya yang tercetak di sana bisa dengan mudah teman-teman baca di sini. Walaupun tentu saja jika berkenan membelinya saya senang sekali, karena keuntungan dari penjualan buku ini disumbangkan untuk Taman Bacaan Rumah Unyil di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Silahkan kunjungi nulisbuku.com, atau langsung mengirimkan email ke admin[at]nulisbuku[dot]com jika berminat ya.
Saya tahu, banyak sekali teman-teman yang sudah menerbitkan bukunya, jadi kalau mau dibanding-bandingkan, saya mah kalah telak lah ya. Tapi sekali lagi, ini merupakan sebuah pencapaian tersendiri bagi saya, yang begitu membahagiakan, yang sangat mengharukan, yang ingin saya syukuri dengan khidmat *mulai lebay
*. Pokoknya mah saya senang sekali, semoga buku saya sendiri bisa juga segera diterbitkan. Aamiin..
Jadi begitulah, semoga kehadiran buku kecil itu ikut menyemarakkan perbukuan dunia
Book Review : Kicau Kacau
October 11th, 2011 § 36 Comments
Anda kenal Indra Herlambang? Iyaa…salah satu host acara infotainment (Insert kalau tidak salah ya?) itu. Apa jadinya jika seorang Indra Herlambang menulis? Jawabannya bisa Anda dapatkan setelah membaca bukunya yang berjudul Kicau Kacau ini.

Pertama kali saya ‘menemukan’ tulisan Indra adalah di sebuah majalah yang tidak dijual bebas bernama Free Magazine, saat itulah saya memiliki pandangan lain dari seorang Indra Herlambang, karena ternyata dia lebih cerdas daripada sekedar menggosipkan para selebriti di TV.
Buku yang saya miliki adalah cetakan ke-tujuh (Juli 2011), laris manis karena cetakan pertamanya pun baru terbit di bulan Februari 2011. Dicetak ulang untuk ke-tujuh kalinya dalam 6 bulan? Pasti ada ‘sesuatu’ dalam buku ini, kan? (Yup, salah satu yang saya perhatikan saat membeli sebuah buku adalah sudah edisi ke berapa si buku tersebut dicetak he he).
Seperti judulnya, setiap artikel di dalamnya diawali dengan sebuah kicauannya di akun twitternya @indraherlambang. Misalnya saja twit berbunyi “Pesawatnya telat. Curiga hamil”, atau “Love doesn’t hurt. People do”, atau “Masa lalu bisa terdengar mirip dengan masalah lu. Go figure”, atau yang ini “Butuh kesabaran untuk bisa belajar sabar. Ngeri ga tuh?”. 50 twit yang terkesan asal binti lebay itulah yang mengawali setiap tulisan sederhana yang -menurut saya- cukup dalam maknanya saat kita sampai di akhir tulisan.
Dikelompokkan menjadi 4 bab besar, yaitu kicauan tentang gaya hidup, relationship, Jakarta, dan keluarga. Buku setebal 332 halaman ini cocok bagi Anda yang sedang tidak ingin terlalu ‘mikir’ saat membaca, tapi tetap bisa mendapat ‘sesuatu’ dari bacaan tersebut.
Dari tulisan berjudul “Mengingat Lupa” misalnya, Indra mencermati teman-temannya yang hampir selalu mengabadikan (atau merekam) segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Dengan dalih untuk kenang-kenangan, untuk bernostalgia suatu saat nanti, seolah menolak untuk ‘lupa’. Di paragraf terakhir Indra menulis begini :
Saya sih cukup yakin bahwa manusia dibikin untuk bisa lupa demi kebaikan kita sendiri. Karena ada banyak hal yang lebih baik dilupakan supaya kita bisa tetap waras. Lupa menurut saya, adalah anugerah terbesar dari Sang maha. Bayangin kalau kita bisa dan selalu ingat semua hal? Apa ngga ribet hidup kita? (hal : 37)
Apakah Sahabat setuju dengan pendapat tersebut?
***
Artikel ini diikutsertakan pada Book Review Contest di BlogCamp
The Winner Stands Alone
September 8th, 2011 § 21 Comments
Sejak membaca The Alchemist bertahun-tahun lalu, saya selalu menyukai Paulo Coelho hingga saat ini. Menurut saya, Coelho adalah penulis yang tidak membosankan, karena setiap novelnya selalu menjanjikan cara bercerita yang berbeda, dan dengan ending yang seringkali sangat mengejutkan. Contohnya novel ke-13nya yang baru saja saya baca ini. The Winner Stands Alone.

(gambar dipinjam dari sini)
Novel ini bersetting Festival Film Cannes di Perancis sana, tokoh utamanya Igor, seorang miliuner Rusia, yang datang ke sana demi mendapatkan kembali cinta seorang Ewa, sang mantan istri yang kini bersuamikan Hamid Husein, seorang couturier kaya dari gurun.
Selain Ewa dan Hamid Husein, misi Igor ini bersinggungan jalan dengan Gabriela, seorang aktris yang berjuang keras mendapatkan sebuah peran dalam sebuah film, Javits seorang distributor film yang berpengaruh, Maureen sang sutradara idealis, Jasmine Tiger model cantik dari Rwanda, juga Olivia seorang gadis penjual pernak pernik di trotoar. Pertemuan mereka dengan Igor telah mengubah hidup mereka untuk selamanya.
Novel setebal 468 halaman ini diawali pukul 03.17 pagi dan tamat saat pukul 13.55 siang keesokan harinya. Waktu yang sangat singkat untuk sebuah novel yang bisa saja bersetting hingga ’10 tahun kemudian’ he he. Tapi di dalamnya kita bisa berkelana berpetualang dan mengetahui banyak hal. Kehidupan para Superclass, teknik beladiri Rusia bernama Sambo, seluk beluk produksi film, hingga cara kerja racun Cianida.
Tidak hanya petualangan Igor yang mencengangkan, novel ini tapi juga mengajak pembaca mengkaji kembali tujuan dan arti hidup, bagaimana seharusnya mimpi yang kita miliki di perjuangkan, atau betapa pencapaian finansial tidak pernah bisa menjadi indikator bahagia atau tidaknya seseorang. Novel yang sangat ‘kaya’.
Mungkin karena saya memang suka Paulo Coelho ya, jadi menurut saya novel ini bagus dan menarik, seperti novelnya yang lain yang pernah saya baca. Ingin sekali membaca novel terbarunya Oleph, tapi sepertinya belum masuk Indonesia nih
Oh iya, saya copas-kan sebuah dongeng yang diingat oleh Ewa di salah satu episod. Makna di balik dongeng ini -bagi saya- begitu dalam, walaupun mungkin tidak bisa ‘ditemukan’ secara eksplisit.
Seekor camar sedang terbang melintasi pantai ketika matanya tertumbuk pada seekor tikus:
“Dimana sayapmu?”
Setiap binatang bicara dengan bahasa masing-masing, jadi si tikus tidak memahami pertanyaan itu, ia hanya menatap dua benda besar dan aneh yang tampak menyatu dengan tubuh makhluk tersebut.
“Pasti dia sakit” Pikir si tikus.
Si camar melihat si tikus memerhatikan sayapnya dan berpikir:
“Kasihan. Pasti binatang itu sudah diserang monster yang membuatnya tuli dan merampas sayapnya.”
Karena iba melihat tikus itu, si camar memungutnya dengan paruh dan membawa si tikus jalan-jalan di udara. “Mungkin tikus ini rindu rumah,” pikir si camar saat mereka terbang. Lalu, dengan hati-hati, si camar mengembalikan tikus itu ke tanah.
Selama berbulan-bulan berikutnya, si tikus tenggelam dalam depresi; ia teringat pengalamannya berada di tempat -tempat tinggi dan melihat dunia luas yang indah. Namun lambat laun tikus itu pun kembali terbiasa menjadi tikus lagi dan mulai percaya bahwa keajaiban yang sempat terjadi dalam hidupnya hanyalah mimpi belaka.
Nah, apakah sahabat tertarik membaca novel ini?
Karena Cinta itu Sempurna
June 8th, 2011 § 17 Comments
Kalimat yang indah bukan?
Itu adalah judul novel kedua Indi. Belum kenal dengan beliau? Silahkan berkunjung ke dunia kecil-nya yang menakjubkan itu. ‘Perkenalan’ pertama saya dengannya adalah sebuah kebetulan, karena saya tertarik dengan buku tipis berkaver lucu berjudul “Waktu Aku Sama Mika” saat berpetualang di toko buku. Buku itu membuat saya bisa memaknai sebuah cinta tanpa syarat, buku kecil yang berdampak cukup besar, setidaknya bagi saya saat itu.
Dan, “Karena Cinta itu Sempurna” adalah novel kedua Indi yang masih sedang saya baca, ingin saya habiskan novel itu sekaligus malam tadi, tetapi apa daya suami tercinta itu meminta saya untuk segera tidur *ups*.

gambar diambil dari sini
Novel ini berbeda dengan novel pertama, tetapi tetap memiliki ke-khas-an seorang Indi yang menawan itu. Bahasanya ringan, tidak njelimet bin memusingkan, tetapi dalam dan sarat makna. Saya akan menghabiskannya malam ini, tidak bisa tidak! *sigh*
Kenapa Novel-novel itu istimewa? Karena Indi -yang juga memang istimewa- menulisnya dengan cinta yang sempurna. Saat banyak manusia biasa lainnya mengeluh-kecewa-marah-sakit hati-hancur dan sebagainya dan seterusnya menjalani kehidupan yang memang tidak selalu indah, Indi justru memaknai hidup (yang sempat dikiranya sebagai bencana) ‘istimewa’nya dengan menemukan sebuah tujuan hidup yang begitu indah seperti Menjalani, Bersyukur, dan Menjadi bahagia.
Seorang Indi, yang jauh lebih muda dari seorang saya -yang bukan siapa-siapa dan belum menjadi apa-apa ini- telah mengajari saya banyak hal. Coba bayangkan ini teman. Indi divonis mengidap scoliosis di usia (belum sampai) 13 tahun, dan menjadi anak ‘aneh’ karena harus memakai ‘baju besi’ untuk scoliosisnya itu. Lantas, saat ada Mika -seorang pria berhati malaikat- jatuh cinta padanya, pria yang menjadikan Indi lebih ceria menjalani hidup, meninggal karena HIV/AIDS yang dideritanya, kepergian Mika sempat membuat Indi lebih hancur dari sebelumnya.
Aku tidak tahu kapan akan bangkit. Aku bahkan tidak mau tahu, sampai aku berhasil mengurutkan petunjuk-petunjuk Tuhan sebagai reaksi berantai untuk mengetahui tujuan hidupku. Scoliosis ternyata membuatku menjadi manusia yang kuat. Bisa bertoleransi dengan rasa sakit yang hampir datang setiap saat. Lalu kehadiran Mika membuatku melupakan kesakitanku dan menambah kekuatanku. Sedangkan AIDS membuatku mengerti bahwa manusia tidak memiliki otak yang seragam, terkadang berselisih meski hanya karena salah pengertian dan perbedaan sudut pandang. Menakutkan… Tapi aku mendapatkan pelajaran yang berharga dari sana. Bahkan dari kepergian Mika aku belajar bagaimana cara menikmati hidup, bersyukur, dan bangkit dengan perasaan yang lebih bahagia.
Begitu yang Indi tulis dalam pengantar Karena Cinta itu Sempurna. Saya tidak tahu apakah saya bisa setegar Indi jika saya berada dalam posisi yang demikian. Dan membuat saya berpikir Tuhan memang tidak pernah salah menunjuk seseorang atas apa yang dikehendakiNYA. melalui seorang Indi, saya lebih mengerti ke-Maha Cinta-an Tuhan yang Sempurna. Seperti yang Indi berkali-kali katakan dalam novel itu, Karena Cinta itu Sempurna..
Have a perfect love, Pals!
***
Tulisan ini saya buat khusus untuk Indi dalam first giveaway-nya. Happy birthday Indi
Test Pack
April 15th, 2011 § 69 Comments
Yup, ini maksudnya memang alat mengetes kehamilan itu, tapi maaf, postingan ini hanyalah semacam review sebuah novel berjudul sama yang saya baca wiken lalu
Novel karya Ninit Yunita ini sebetulnya pertama kali terbit tahun 2005, dan buku yang saya beli ini cetakan ke-sepuluh! Sudah lama juga saya tahu mengenai novel ini, tapi saya baru beli seminggu lalu karena suka sekali dengan cover sang novel yang baru. Yeah…Alasan yang konyol sepertinya ya he he.
Tapi Alhamdulillah saya tidak menyesal, bahkan bersyukur membaca novel ini. Tokoh utama dari novel ini adalah Tata, lengkapnya Arista Natadiningrat, seorang pengacara di sebuah lawfirm, yang bersuamikan psikolog bernama Rahmat Natadiningrat, yang dipanggil Tata dengan sebutan ‘Kakang’. Ada peristiwa ‘lucu’ dalam profesi mereka berdua ini.
Diceritakan Kakang memiliki seorang pasien (Pak Sutoyo) yang berkonsultasi mengenai kekecewaannya yang merasa gagal sebagai seorang suami, istrinya minta cerai dan anaknya menjadi pemadat. Alasannya adalah karena mereka menganggap Pak Sutoyo terlalu gila kerja sehingga melupakan mereka. Padahal dalam pengakuannya, Pak Sutoyo bekerja keras seperti itu adalah demi keluarganya.
Di lain sisi, sang istri (Ibu Sutoyo) rupanya menjadi klien Tata, meminta bantuan lawyer ini untuk mengurus proses perceraian dengan suaminya dengan alasan ketidakbahagiaan rumah tangganya. Ironis bukan? Tapi dari pasangan Sutoyo ini pula mereka belajar ‘sesuatu’ pada akhirnya. Apa itu? Silahkan baca novelnya
Tapi yang menjadi tema besar dalam novel ini adalah penantian Tata akan hadirnya si buah hati dalam 7 tahun pernikahannya dengan Kakang. Bahkan keinginan ini menjadikannya seorang kurator test pack! Tata begitu terobsesi untuk bisa hamil, dan melakukan berbagai macam cara kecuali melakukan tes ovulasi. Tapi 7 tahun berlalu tanpa satu kali pun koleksi test pack-nya menunjukkan 2 garis penanda dirinya positif hamil. Sehingga Tata pun bersedia menjalani tes ovulasi, lantas Kakang pun dimintanya melakukan tes sperma. Hasilnya? Silahkan baca novelnya he he*kabuuuur…*
Membaca novel ini, saya merasa sedang ‘membaca’ diri saya sendiri dalam perjalanan hidup Tata di novel itu. Saya merasakan kesalnya Tata saat ada yang menuduhnya menunda kehamilan demi karier. Saya memahami sedihnya Tata saat sahabat dekatnya diberi kenikmatan untuk hamil anak ke-dua sementara dirinya belum dikaruniai satu pun. Saya bahkan bisa mengerti kesebalan dia melihat kucing tetangga yang sedang hamil.
Saya merasa menemukan seorang ‘teman seperjuangan’. Saya pun kesal saat ada yang menuduh saya ber-KB. Saya sedih saat teman-saudara-kenalan yang sudah hamil padahal saya yang lebih dulu menikah. Dan saya juga sebal melihat kucing yang berkeliaran di kantin tempat saya makan di kampus sedang hamil (boong ini mah he he). Ya, saya sudah menikah 7 bulan dan belum hamil. Sama kan dengan tokoh Tata? Well, beda ujung doang laaah, sama-sama 7 hihihihi.
Anyway, saya bocorkan salah satu kalimat yang -menurut saya- indah dalam novel ini.
“Saya sayang kamu, Ta… saya ingin kamu jadi dunia saya. Kamu mau kan?” => kalimat Kakang saat menembak Tata.
“Bagi dunia, kamu mungkin ‘hanya’ seseorang. Tapi bagi saya, kamu adalah dunia yang selama ini saya cari.” => Jawaban Tata 4 hari kemudian.
So sweet, huh
Selanjutnya, yang bisa saya pelajari setelah membaca novel ini adalah keajaiban sebuah komitmen. Bahwa alasan apapun saat kita mendeklarasikan mencintai seseorang, seharusnya adalah karena kita menginginkannya, bukan karena alasan lain. Bahwa setiap individu, setiap pasangan, setiap keluarga, memiliki ujiannya masing-masing, dan cinta yang akan menjawab semua kemelut itu *tsaaaahhh*.
Entah bagaimana menghubungkannya, membaca kisah cinta Kakang dan Tata mengingatkan saya akan kisah cinta Kahlil Gibran dan May Ziadah. Saya ingin sekali membaca kembali buku kumpulan surat Kahlil Gibran ini, surat-surat cintanya untuk sang kekasih May Ziadah yang belum sekalipun dia temui selama hidupnya. Ada yang mau membelikan atau meminjamkan? he he he.
Well, “I love you… because I want to” , say it to your love one, Pals
***
PS : gambar diambil dari web resmi Ninit Yunita.
PS (lagi) : tulisan ini diikutsertakan di Kita Berbagi, giveaway-nya Neng Inge
Buku versus waktu membaca
March 16th, 2011 § 7 Comments
Terkadang, keberadaan sebuah buku tidak selalu berbanding lurus dengan kesediaan waktu untuk membacanya. Agree with me, don’t you?
“… that when you’re buying books, you’re optimistically thinking you’re buying the time to read them.
(Paraphrase of Schopenhauer)”
Yang diterjemahkan bebas dalam buku materi mata kuliah Filsafat saya menjadi “Alangkah baiknya membeli buku-buku, jika orang dapat sekaligus membeli waktu untuk membaca buku-buku itu”.
Nah kan? Bahkan filsuf Jerman sekaliber Arthur Schopenhauer itu pun mengakui kok soal ini, dengan berandai-andai bisa membeli sebuah buku sekaligus waktu untuk membacanya, persis seperti yang sedang mengganggu saya sekarang. Banyak sekali buku yang belum saya baca, bukan karena saya malas membacanya, apalagi kehilangan minat untuk membacanya, tetapi ya itu tadi, rasanya saya kekurangan waktu untuk membacanya.
Saya tidak ingin menyalahkan ‘peran’ baru sebagai seorang istri yang menyebabkan hal ini terjadi. Walaupun tidak bisa juga dipungkiri faktor ini sedikit banyak ikut andil. Jika saya masih sedang asyik membaca di kamar, lantas ada sebuah suara yang berseru “Honey, matiin lampunya duuunk, aku mau tidur”, saya harus menyudahi acara membaca saya itu bukan? (ngeles, padahal mah bisa aja pindah ke tempat lain hehehe
).
Intinya, tulisan ini saya buat untuk reminder bagi saya sendiri, bahwa masih banyak ‘PR’ berupa buku-buku yang sudah saya pilih untuk saya baca. Berikut adalah buku-buku yang baru saya baca setengah, baru saya baca beberapa halaman, baru saya baca daftar isi-nya saja, baru saya bolak balik lihat gambarnya, bahkan beberapa buku belum tersentuh sama sekali alias masih tersampul plastik dengan baik.
Saya memang jarang fokus membaca 1 buah buku hingga selesai, dan baru melanjutkan ke buku lain. Tentu ada buku-buku -biasanya novel- tertentu yang bisa saya baca dari awal sampai akhir tanpa henti karena begitu memukau, misalnya saja Perahu Kertas-nya Dewi Lestari yang bisa saya selesaikan dalam waktu 3 jam
Selain bosan, beragamnya jenis buku yang saya baca pun, mungkin menjadi penyebab seringnya saya beralih bacaan. Novel putih yang tergeletak paling depan itu misalnya, adalah novel pinjaman dari seorang teman yang menceritakan seorang JAG lawyer officer, novel serial karya Brian Haig yang menegangkan, penuh intrik, sekaligus lucu. Cara penuturan novel ini yang sangat membuat pembacanya penasaran, seringkali membuat saya sulit untuk memberhentikan diri ini untuk melanjutkan membaca. Tapi, apalah daya, novel itu masih dalam bahasa aslinya, dan membacanya habis sekaligus hanya akan membuat saya pingsan dengan mulut berbusa hihihihihi.
Well, malam ini saya ingin melanjutkan membaca buku Habibie&Ainun itu. Kisah cinta sejati Pak Habibie dan Ibu Ainun yang indah. Masih tertahan di halaman 148 dari 323 halaman yang ada. Semoga ada pertambahan halaman yang signifikan. Semangaaaatt.
Happy reading, Pals
Setengah isi setengah kosong
October 2nd, 2010 § 2 Comments
Kalimat tersebut merupakan sebuah judul buku yang ditulis seorang Parlindungan Marpaung, berisi kumpulan tulisan sarat makna, yang intinya bagaimana kita menyikapi sebuah ‘gelas’ yang terisi setengahnya, apakah dia “setengah isi” atau “setengah kosong”?
Saya membacanya entah bertahun lalu. Dan bagi saya buku ini bagus, sehingga entah sudah berapa teman saya hadiahkan buku ini. Dengan harapan beliau-beliau bisa juga merasakan energi positif -seperti yang pernah saya rasakan- setelah membaca tulisan-tulisan didalamnya.
Dan sebuah peristiwa mengingatkan saya akan ungkapan “setengah isi setengah kosong” ini, walaupun kali ini justru ‘kasus’nya adalah “gelas yang sudah penuh”.
Saya berdiskusi dengan seorang sahabat, mengenai teman kami yang sulit sekali menerima pendapat, masukan, ide apalagi kritik dari orang lain. Kami sependapat bahwa teman ini bisa dikategorikan gelas (kecil) yang (selalu) penuh. Bisa dibayangkan kan? Sebuah gelas yang sudah penuh tidak bisa diisi lagi!
Sahabat saya berpendapat bahwa teman kami ini seharusnya memperbesar gelas (kecil)nya, sehingga memungkinkan ilmu, masukan, kritik membangun, dan sebagainya bisa mengisi gelas miliknya.
Sementara saya berpendapat bahwa, terlalu sombong bagi kita -sebagai manusia-, jika sudah merasa gelas kita penuh. Entah gelas kita besar atau kecil, tapi bukankah ilmu yang kita pikir kita miliki, faktanya hanyalah se-per sekian persennya (baca : sedikit sekali) dari pengetahuan Beliau Sang Pemilik Segala?
Well, entah pendapat siapa yang paling tepat, tapi pastikan kita memiliki sebuah ‘gelas’ untuk diisi ya.
**Hasil iseng saat bosan ditengah-tengah konferensi menemani si boss
Jeda
September 3rd, 2010 § 2 Comments

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah Ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah Ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang makin berdekatan, tapi Ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Nafas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat, janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.
Puisi tersebut berjudul Spasi, karya Dewi Lestari yang bisa sahabat temukan dalam bukunya ‘Filosofi Kopi’.
Saya membacanya entah bertahun lalu, tetapi entah juga bagaimana, hari ini puisi itu singgah menyapa ingatan saya. Apakah karena memang alam bawah sadar saya menginginkan sebuah jeda? Apakah karena jiwa saya membutuhkan suatu spasi? Atau otak saya yang sedang memerlukan sepetak ruang? Mungkin saja, entahlah..
Akan tetapi,
Jika setiap pemberhentian adalah titik awal untuk memulai perjalanan baru yang menakjubkan, mungkin memang sudah sepantasnya saya beristirahat sejenak.
Jika ada pohon-pohon rindang dalam lintasan perjalanan hidup saya, mungkin memang sebaiknya saya berteduh bersandar bersantai sebentar dibawah dedaunan rimbunnya.
Jika selalu ada gelap yang bertugas bergiliran menggantikan sang mentari, mungkin sudah saatnya saya berhenti berlari untuk sesaat.
Ya, karena saya manusia, yang membutuhkan jeda, menginginkan spasi, dan berharap ruang.
** Aih…aih… kok bisa-bisanya jadi puitis ginih (LOL).
Insanity & Misery
July 30th, 2010 § Leave a Comment
Love walks on two feet just like a human being
It stands up on tiptoes of insanity and misery
Puisi ini bisa sahabat temukan dalam dwilogi novel terbaru Andrea Hirata-Padang Bulan. Puisi ini dikisahkan ditulis oleh Ibu Indri -guru bahasa Inggris Enong- untuk Ikal, bujang melayu asli Belitong yang hanya dan akan selalu mencintai seorang perempuan Tionghoa bernama A Ling.
Sebagai salah satu fans berat Andrea Hirata, saya selalu mengagumi berbagai macam karakter khas beliau dalam novel-npvelnya. Cara beliau bertutur menggambarkan setiap tokoh maupun peristiwa sangat ‘unik’ karena mampu membuat kita terharu miris ataupun terbahak, cara beliau melihat suatu titik cerita dengan kacamata yang tak terpikirkan, belum lagi ‘sisipan-sisipan’ ilmu yang secara tidak langsung beliau masukkan kedalam kisahnya, membuat prosesi membaca itu tidak saja hanya menghibur, tetapi sang pembaca mampu mengambil sesuatu dari yang dibacanya. Setidaknya bagi saya
Yang menarik kali ini, dan telah membuat saya berpikir saat membaca 2 baris puisi diatas adalah kata insanity-kegilaan- dan misery-kesengsaraan. Tentunya saya tidak akan menceritakan kembali apa dan bagaimana puisi –dan kata- ini dimaknai oleh seorang Andrea Hirata (silahkan baca saja sendiri novelnya yaa hehehe..), tetapi pengertian baru yang saya dapat sesaat setelah mencoba memaknainya. Ternyata, Ikal –sang tokoh- adalah pecinta sejati, karena ‘pemujaan’nya terhadap A Ling telah membuktikan usaha dan upaya dia untuk terlalu gila bahkan untuk selalu sengsara dalam cintanya.
Lantas saya mengamati orang-orang disekeliling saya, adakah di antara orang-orang yang saya kenal, yang memiliki insanity dan misery ini dalam kisah cinta mereka. Dan berikut adalah beberapa ‘kasus’ yang berhasil saya analisa :
Seorang sahabat membayar tagihan kartu pasca bayar-nya sejumlah (rata-rata) 1,3 juta per bulan untuk bertelepon ria dengan sang kekasih –padahal mereka bekerja di kantor yang sama, dan tak kurang dari 8 jam mereka bisa saling berbicara satu sama lain!
Sahabat yang lain pulang dengan kereta api Jakarta-Surabaya selama kurang lebih dari 12 jam setiap Jum’at sore ke kampung halamannya di Bojonegoro, untuk kembali ke Jakarta pada Minggu sore setelah bercengkrama sesaat dengan istri dan putri-nya dan langsung ke kantor di senin pagi dari stasiun !
Sahabat saya yang lain, akan segera menikah beberapa bulan lagi, untuk ditinggalkan istrinya itu belajar selama 1 tahun ke depan di Belanda, ‘hanya’ satu minggu setelah pernikahan mereka !
Sahabat berikutnya yang bertempat tinggal di Tangerang, harus melewati 3 propinsi dari Senin hingga Jum’at untuk bekerja di daerah Karawang, karena tidak ingin meninggalkan atau berjauhan dengan keluarganya.
Insanity? misery? Saya pikir dalam ‘kegilaan-kegilaan’ itu memang terselubung secara samar ‘kesengsaraan’ -yang dibuat secara sadar oleh si pelaku- di dalamnya. Gila dan sengsara karena cinta? Ugh, sedikit lebay ya? hehehe.
Akan tetapi, “jika tidak gila, itu bukan cinta” begitu seorang sahabat pernah berkata. Walaupun tentunya definisi ‘gila’ ini pun akan berbeda bagi setiap orang atau pasangan, tetapi pasti terbayang makna dasarnya kan? (saya pikir) segala sesuatu yang tidak pernah terpikirkan akan bisa kita lakukan sebelumnya, dan ternyata menjadi sering kita lakukan karena dan untuk seseorang yang kita cintai, itulah ‘gila’ yang dimaksud.
Sedangkan ‘kesengsaraan’ adalah, apapun sikap atau kondisi yang biasanya akan kita hindari dan memilih hal lain yang lebih menyenangkan, tapi entah kenapa itu tidak berlaku lagi saat kita mencinta, dan tetap melakukannya dalam kesengsaraan yang sangat.
Hmm… analisa saya mungkin salah, dan mungkin sebetulnya sangat tidak tepat disebut sebagai ‘analisa’, karena saya hanya mengamati dan mencermati beberapa orang sahabat terdekat saya saja. Tapi intinya adalah, saya berkesimpulan bahwa untuk menjadi seorang pecinta sejati seperti Ikal yang hanya mencintai A Ling seorang, saya hanya harus mempelajari insanity dan misery dalam Cinta.








