[Review] Letters to Aubrey

Judul Buku : Letters to Aubrey

Penulis: Grace Melia

Penerbit: Stiletto Book

Tebal Buku: 266 Halaman

No ISBN: 978-602-7572-27-0

Sinopsis

Congenital Rubella Syndrome merupakan kumpulan kelainan bawaan akibat virus rubella yang menginfeksi kehamilan seorang perempuan.

Melalui buku ini, penulis mengajak kita masuk dalam perjalanan yang penuh warna ketika dia membesarkan putrinya yang berkebutuhan khusus–akibat terinveksi virus rubella. Ada penolakan, kecewa, dan juga letih yang lambat laun menjadi rasa ikhlas dan optimis. Sebagai ketua komunitas Rumah Ramah Rubella, penulis juga membuka wawasan kita tentang TORCH pada umumnya dan rubella pada khususnya. Dia pun menyerukan pesan kepada orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk terus optimis karena mereka tidak berjuang sendirian.

Semua informasi, pesan, serta rasa cintanya pada sang anak dituangkan dalam bentuk kumpulan surat dengan kata-kata yang ringan dan penuh makna. Buku ini sarat akan cinta seorang ibu pada anaknya. Lewat kumpulan surat ini, penulis ingin putrinya mengerti bahwa ia dicintai dan dibanggakan sebagaimana adanya.

???????????????????????????????

Review

Membaca Letters to Aubrey merupakan sebuah anomali bagi saya. Kenapa? Karena sudah lamaaaaa sekali bacaan saya hanyalah buku-buku fiksi belaka heuheu. Tapi bagi seorang fiction freak semacam saya, buku ini tetap asyik dibaca, kumpulan surat-surat sederhana yang ditulis dengan sangat jujur oleh Ges (panggilan sayang sang penulis) untuk Aubrey Naym Kayacinta a.k.a. Ubii sang buah hati tercinta di dalamnya, sangat jauh dari kata membosankan. Meskipun waktu yang saya perlukan untuk menghabiskan buku ini cukup lama, itu semata adalah karena saya seringkali menangis dan memaksa saya berhenti membaca *pembaca cengeng* he he.

Banyak ketakutan yang mengangguku. Aku mau jadi ibu yang baik buat kamu, Sayang. Ibu yang selalu hadir, percaya, tapi tidak menghakimi. Ibu yang selalu mencintai namun tidak ketinggian berekspektasi. Ibu yang tidak mungkin bisa sempurna tapi bisa selalu mencoba untuk dekat dengan sempurna. (halaman 19)

Berisi 92 surat (satu surat terakhir adalah dari Aditya, Papinya Ubii), pembaca sudah dibuat terharu atas sebuah harapan dari seorang calon ibu di surat pertama. Tapi Ubii yang tidak langsung menangis saat lahir ke dunia rupanya hanyalah satu dari sekian banyak kekhawatiran lain yang harus dihadapi Ges.

Saat Ubii terlelap, Mami dan Papi meletuskan balon-balon itu tepat di atas telinga Ubii. Ubii sama sekali nggak bangun…. What’s wrong with you, Princesss?  (halaman 28)
Hasilnya, di otak Ubii ada bercak-bercak putih. Seharusnya bercak-bercak putih itu nggak ada karena otak anak yang sehat akan tampak bening dan bersih. (halaman 39)
Ternyata area yang memerah sebanyak 15 mm. Ketika Mami menunjukkan hasilnya pada Professor, beliau berkata, “Wah, 8 mm saja bagi saya sudah positif, Bu. Lha ini 15mm. Ini, sih, positif pakai banget.” (halaman 118)

Diawali dengan Profound Hearing Loss, USG otak hingga pelaksanaan Mantoux Test untuk mendeteksi kuman tuberkolosis, jelas sudah bahwa Ubii menderita Congenital Rubella Syndrome yang merupakan kumpulan kelainan bawaan akibat virus rubella (campak Jerman) yang dulu pernah dialami Ges saat mengandung Ubii.

Maka surat-surat berikutnya adalah bercerita bagaimana Ges dan Ubii sama-sama berjuang untuk mengatasi semua hal itu. Tidak pernah mudah tentu saja, tapi mereka tidak menyerah. Saya bisa merasakan saat Ges merasa putus asa saat tak ada perkembangan berarti pada Ubii setelah banyak fisioterapi yang sudah dilakukan, tapi kemudian saya juga bisa ikut tersenyum bahagia saat Ges bercerita dalam salah satu suratnya, bahwa Ubii terjatuh dari kasur, karena itu artinya Ubii sudah bisa bergerak sendiri.

Selalu ada yang bisa disyukuri dari setiap kejadian, pun kondisi Ubii yang seringkali mematahkan semangat Ges dan suami. Misalnya, mereka diundang menjadi salah satu nara sumber dalam acara Kick Andy yang inspiratif, hingga Ges mendirikan Rumah Ramah Rubella untuk menyebarluaskan bahaya TORCH sekaligus tempat berbagi support untuk ibu yang memiliki putra putri spesial seperti Ubii. Dan bahkan ujian yang dihadiahkan pada Ges yang masih sangat muda (Jeng penulis ini baru berusia 25 tahun sodara-sodara!) ini memang adalah berkah dari Tuhan.

Lewat Ubii, Tuhan menjawab pertanyaan besar yang dulu sering Mami ucapkan. Ubii pengin tahu apa pertanyaan Mami? DUlu Mami sering bertanya, “Why do I exist, God? For what reason?” Dengan adanya Ubii di hidup Mami, Mami tahu jawabannya, “Mommy exists simply because Ubii needs Mommy.”

And that’s all Mommy needs to know for now. Period. (halaman 221).

Apalagi dalam surat terakhir, Papinya Ubii juga ikut menuliskan surat, yang lagi-lagi membuat saya mrebes mili, karena walau bagaimanapun, seorang lelaki-suami-ayah adalah juga manusia biasa ya, yang tidak bisa selalu kuat-tegar-tangguh seperti kelihatannya.

“Andai saja Ubii nggak sakit, Papi bisa lebih konsen di kerjaan.”

“Andai saja Ubii nggak lahir…”

Maafkan Papi. Papi sendiri belum bisa memaafkan diri Papi gara-gara pernah berpikiran seperti itu. Sekuat-kuatnya Papi, Papi cuma manusia biasa yang butuh waktu buat ikhlas menerima keadaan. (halaman 264).

Nah, berencana ke toko buku dalam waktu dekat? Sila masukkan Letters to Aubrey ke dalam daftar ya, karena dengan membacanya kita seolah diingatkan kembali, bahwa setiap individu, setiap pasangan, setiap keluarga, memiliki ujiannya masing-masing. Dan tidak perlu memohon untuk ujian yang lebih ringan, karena seringkali Tuhan sudah menguatkan bahu kita terlebih dulu.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Review #LetterstoAubrey”

[Semacam] Review : Everlasting – Cinta Tak Akan Pernah Lupa

EVERLASTING DEPAN

Judul Novel : Everlasting – Cinta tak akan pernah lupa

Penulis: Ayu Gabriel

Penerbit: Stiletto Book

Tebal Buku: 323 Halaman

No ISBN: 978-602-7572-25-6

Blurb

Kayla, 22 tahun, jatuh cinta kepada Aidan. Setiap kali Aidan yang punya bokong seksi itu lewat di depannya, Kayla langsung belingsatan. Namun, Kayla tidak tahu bagaimana caranya menunjukkan perasaannya karena Aidan adalah bos di kantornya -usinya lebih tua 11 tahun. Ia hanya bisa mengamati dari jauh secara diam-diam sambil mencatat semua hal tentang Aidan di sebuah buku rahasia.

Dengan bantuan Pira, sahabat baiknya, Kayla mulai berusaha mendapatkan cinta Aidan. Kayla pun mengubah dirinya menjadi seperti perempuan impian Aidan : mengubah potongan rambutnya, menato tubuhnya, sampai mengubah selera musiknya.

Ketika Kayla sedang berusaha merebut hati bosnya itu, Dylan, cinta pertama Kayla, tiba-tiba muncul. Kayla sebenarnya sudah lupa siapa Dylan karena dia pernah bersumpah untuk tidak mengingatnya lagi semenjak Dylan dan keluarganya pindah dari Jakarta, 10 tahun lalu. Keinginannya terkabul. Ia tidak ingat sama sekali tentang Dylan atau cinta mereka. Dylan pun memutuskan untuk mendapatkan kembali cinta Kayla yang ia yakini masih bersemayam di hati gadis itu kalau saja ia bisa mengingatnya.

Review

Membaca blurb yang demikian, entah bagaimana saya sudah antipati duluan dengan si tokoh utama Kayla. Bukannya apa-apa, saya paling tidak suka seseorang yang tidak menjadi dirinya sendiri hanya karena dia sedang jatuh cinta semacam itu. Tapi si Kayla ini baru 22 tahun sih ya, dan inipun novel, jadi ya terserah yang nulis lah ya karakter si tokoh mau seperti apa qiqiqiqi.

???????????????????????????????

Terbagi dalam dua puluh dua bab (tidak termasuk prolog dan epilog), novel ini terbilang cukup tebal, apalagi font hurufnya lumayan kecil. Di halaman-halaman awal, saya sudah menemukan keunikan novel ini, karena Kayla membuat daftar ‘hal-hal yang bisa membuatnya bahagia’ seperti terlihat dalam foto di atas. Hal-hal sederhana semacam diskon, mendapat taksi kosong di Jum’at malam, atau sekadar melihat Aidan -bos sekaligus gebetannya- tertawa.

Keunikan lainnya ada dalam karakter Kayla, yang tidak seperti kebanyakan gadis pada umumnya, dia mengumpat dengan kalimat “saus kacang” setiap ada sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. Lucu saja sih, membuat saya sedikit berpikir apa gerangan yang dilakukan si saus kacang pada Kayla sehingga bisa-bisanya dijadikan frasa mengumpat *abaikan*.

Konflik dalam novel ini seolah ada dua, yaitu upaya Kayla yang mencoba merebut perhatian Aidan, dan bagaimana Dylan -si cinta pertama Kayla yang terlupakan- mencoba merebut kembali cinta Kayla. Semacam cinta segitiga jenis baru gitu sih ya hihihi. Tapi seru kok, dengan diksi yang tidak biasa dan berbagai dialog cenderung kocak, novel ini tidak membosankan meskipun tebal.

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memanjakan mataku lagi. ia memakai kemeja hijau muda dan terlihat begitu tampan. Aku mendesah diam-diam. Ia menggiurkan seperti es teh lemon di tengah hari yang panas di bulan puasa. (hal 28)
 
Dylan tersenyum lembut. Itu senyum yang sangat berbahaya -jenis yang bisa membuat perempuan rela melakukan apa saja demi melihatnya lagi. (hal 239)

 

Dan yang paling saya suka adalah, penulis secara implisit memasukkan pesan moral tanpa menggurui pada pembaca. Misalnya saja perkataan Dylan pada Kayla berikut, yang secara tidak langsung mengingatkan kembali pada pembaca bahwa sudah seharusnya cinta itu memang tidak bersyarat.

“Jadi, laki-laki itu baru bisa menyukai kamu kalau kamu punya tato, begitu?” ejeknya. “Dia nggak bisa menyukai kamu apa adanya?” (hal 153)

Atau, kalimat Pira berikut, bahwa seorang pencinta -yang terlanjur terbutakan cinta- seringkali tidak menyadari bahwa mereka tidak betul-betul mencintai seseorang, katakanlah, mereka cuma merasa ‘terpikat’ :).

“You don’t love him, you just love the idea of loving him” (hal 215)

Jika ada sesuatu yang ‘mengganggu’ dalam novel ini, adalah tentang hilangnya ingatan Kayla atas Dylan. Meskipun saya yakin Mbak Ayu Gabriel sudah melakukan riset tersendiri untuk hal ini, sebagai orang awam saya kurang bisa menerima bahwa seseorang bisa melupakan masa lalunya begitu saja. Satu folder yang berisi Dylan (bahkan keluarganya) seolah ter-delete dan tidak ada lagi di ingatan Kayla. Padahal, bukankah kejadian yang traumatis itu justru susah dilupakan? Kecuali Kayla memang menjalani hypnotherapy atau apalah ya, tapi seingat saya hal ini tidak dijelaskan dalam novel. Kayla hanya tidak ingin mengingat kejadian saat Dylan pergi sepuluh tahun lalu, dan voila, dia pun melupakan semuanya. Bagi saya, hal ini terlampau ajaib.

Tapi ganjalan di atas tidak membuat saya tidak bisa menikmati novel ini secara keseluruhan. Karakter tiap tokoh sangat kuat, bahkan untuk karakter Jessica sebagai ‘pemain figuran’ seksi yang menjadi rival Kayla dalam mencari perhatian Aidan, misalnya. Saya bahkan sangat menyukai karakter Pira, sahabat Kayla yang selalu jujur mengatakan ketidaksetujuannya demi kebaikan Kayla.

Ya sudah, demikianlah [semacam] review ini, Everlasting cocok sebagai bacaan ringan di penghujung hari menemani secangkir teh hangat, bisa membuat Anda tergelak, gemes, sebel, gregetan, dan kemudian tersenyum puas atas endingnya yang menyenangkan :).

PS : Pssstt, mbak Ayu, spesial request nih, novel selanjutnya kisah Pira sama Pras ya hihihihi.

Semusim, dan Semusim Lagi

Iya, di postingan sebelumnya memang saya mengatakan sedang terhipnotis Murakami dengan 1Q84 hingga tahan tidak ‘lompat’ ke buku lain. Tapi memasuki jilid 3, ternyata saya bosan juga ha ha :P.

Jadi, seharian tadi saya membaca novel pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012, dan langsung selesai! Memang tidak terlalu tebal sih, cuma 230 halaman saja. Buku ini merupakan hadiah dari Indah karena cerpen saya konon jadi pemenang favorit dalam Giveaway yang diadakannya bulan lalu, terima kasih banyak ya Ndah *ketjup*.

Tapi maafkan saya temans, ini bukan postingan resensi atau review buku. Saya hanya akan menceritakan kesan saya terhadap novel yang memang sangat layak menjadi pemenang ini.

Keunikan pertama, seperti Gadis Pantai-nya Pramudya Ananta Toer, novel ini juga tetap merahasiakan si tokoh aku, hingga cerita berakhir, saya tidak tahu ‘si aku’ dalam novel bernama siapa.

Keunikan berikutnya, novel ini -menurut saya- nyaris tanpa konflik yang berarti, alurnya tenang mengalir tapi begitu mengikat. Setiap adegan seperti memiliki fungsinya sendiri-sendiri (yang memang sudah seharusnya fiksi yang baik ditulis demikian), hingga si pembaca tidak bisa melepaskan diri, karena lengah sedikit, dia bisa kehilangan ‘momen’, setidaknya bagi saya ya, karena saya betul-betul skip makan siang tadi hihihihi.

Keunikan terakhir, setelah membacanya, saya masih terbayang-bayang *halah…ndangdut banget sih istilahnya :P* pada beberapa tokoh dalam cerita, J.J. Henry, Muara, Joe, terutama si Sobron, yang mana hanyalah seekor ikan mas koki! Tentu saja, karena terbayang-bayang itu tadi, saya jadi punya banyak pertanyaan ini itu, karena sulit percaya ‘si aku’ bisa begini dan penasaran kenapa dia tidak begitu. Dan itu berakhir dengan ingin membuat ending versi saya sendiri #eeaaa.

gambar pinjam dari goodreads

Beberapa waktu yang lalu, saya hampir saja bisa ngobrol-ngobrol dengan Andina di sebuah acara, tapi sayang saya harus segera pulang hingga melewatka momen itu. Padahal, saya ingin sekali menanyakan banyak hal yang ada di benak saya setelah membaca novel itu padanya. Misalnya saja, seberapa jauh riset yang dilakukannya hingga bisa mendeskripsikan penjara dan Rumah Sakit Jiwa dengan demikian nyata.

*Hedehhh…penasaran sayah -__-“*

Jadi begitulah temans, jika ingin membaca sebuah novel yang ‘berbeda’, Semusim, dan Semusim Lagi karya gadis muda ini sangat layak diperhitungkan masuk dalam daftar bacaan Anda ;).

Amba dan Pulang

*Warning : bukan resensi atau review novel :)

2013-08-19 14.03.30

Amba dan Pulang, di atas meja kerja saya di kantor yang berantakan :P

Itu adalah dua buah judul novel yang saya selesaikan beberapa waktu lalu. Dua-duanya ditulis oleh penulis perempuan, dua-duanya bersetting (berkisar) pada tragedi 1965, dua-duanya memasukkan unsur pewayangan dalam ceritanya, dua-duanya tipe novel yang membuat ‘candu’.

Nah, berhubung saya memang tidak sedang mencoba membuat review, tulisan ini semata-mata adalah ‘kesan’ saya setelah membaca keduanya.

Amba

Seperti judulnya, tokoh utama novel yang ditulis Laksmi Pamuntjak ini bernama Amba Kinanti, seorang wanita jelita bermata kenari yang berasal dari sebuah desa bernama Kadipura di Jawa Tengah. Lantas kemudian dia tak sengaja bertemu Bhisma Rashad, seorang dokter lulusan Universitas Karl Marx, Leipzig Jerman Timur di rumah sakit Kediri. Seperti sudah bisa diduga, mereka berdua jatuh cinta, padahal Amba sudah bertunangan dengan Salwani Munir, dosen muda yang mengajar di Gadjah Mada. Tapi seperti dalam kisah pewayangan, Amba memilih Bhisma sebagai kekasihnya.

Berikutnya, sebuah penyerangan di Yogya di tahun 1965 membuat mereka terpisah, berakhir dengan ‘kepergian’ Bhisma ke Pulau Buru, dan tak pernah meninggalkan tempat itu hingga akhir hayatnya. Tak bisa menemukan Bhisma, Amba kemudian pergi ke Jakarta. bertemu dengan Adalhard lantas menikah dengannya. Saat Adalhard meninggal dunia, dia bersama Zulfikar -teman Bshima saat di Buru- bertemu dengan Samuel yang kelak menjadi guide mereka di kapal Lambelu menuju Namlea, demi menemukan Bhisma di Pulau Buru, hidup atau mati.

Novel setebal 491 halaman ini alurnya melompat-lompat, berawal dari 2006, saat Amba baru datang di Buru, kemudian mundur ke tahun 1956-1965 yang menceritakan kehidupan Amba di Kadipura, sebelum akhirnya dia berpetualang ke Yogya untuk kuliah bahasa Inggris di UGM, lantas kembali ke tahun 2006, bahkan berakhir di pameran Srikandi, anak perempuan Amba. Menggunakan Point of View orang ketiga, hampir semua tokoh ini sempat ‘bercerita’, walaupun banyak juga cerita yang disampaikan dalam bentuk surat.

Saya cukup lama menyelesaikan novel ini, mungkin sekitar 2 bulan, selain karena saya memang suka ‘loncat-loncat’ saat membaca buku (maksudnya tidak dihabiskan satu judul terlebih dulu sebelum mulai membaca judul lain), novel ini juga -bagi saya- terlalu berat, karena banyak istilah-istilah politis di dalamnya. Jadi walaupun saya penasaran apa yang terjadi selanjutnya, ada sedikit rasa sungkan (baca : males hihihihi) saat harus bertemu dengan informasi-informasi yang sanggup membuat saya mengerutkan kening.

Tapi untungnya, banyak juga ilmu-ilmu lain yang saya peroleh saat membaca novel ini, selain belajar sejarah tragedi 1965 dan Pulau Buru, juga belajar bahasa Jerman, menikmati cerita pewayangan Mahabrata hingga ikut-ikutan membaca serat Chentini dan puisi-puisi klasik dunia. Owesome! :)

Pulang

Novel ini lebih tipis, cuma 449 halaman (dengan ukuran buku yang lebih kecil daripada Amba) dan bisa saya selesaikan hanya dalam 2 hari saja. Selain karena saya membacanya saat masih libur ngantor, novel ini memiliki kekuatan magis *halah* yang membuat saya tidak berhenti membacanya jika tidak sangat sangat sangat terpaksa, padahal tokoh dalam novel ini buanyak, tapi saya merasa punya keterikatan khusus dengan masing-masing tokoh sehingga tidak gampang melupakan mereka.

Tokoh sentral dalam novel ini adalah Dimas Suryo, seorang wartawan yang ‘terjebak’ di Paris karena tragedi 1965 yang tidak memungkinkannya pulang kembali ke Indonesia. Jatuh cinta pada seorang wanita Perancis bernama Vivienne Deveraux, yang melahirkan gadis jelita yang diberi nama Lintang Utara. Saat masih muda, cinta pertama Dimas Suryo jatuh pada Surti Anandari, walaupun Surti memilih menikah dengan Hananto Prawiro, seorang pria pro ‘kiri’ yang sudah seperti kakak bagi Dimas Suryo.

Alur dan setting dalam novel ini juga melompat-lompat. Prolognya bersetting di Jalan Sabang tahun 1968, untuk kemudian pindah ke Perancis saat demo mahasiswa di Universitas Sorbonne di tahun yang sama. Lantas melompat (dan kemudian berakhir) di tahun 1998 saat Presiden Soeharto lengser, dan endingnya bersetting di pemakaman Karet.

Dalam novel ini saya belajar bahasa Perancis, tahu berbagai macam kuliner khas Indonesia, cerita pewayangan Mahabrata (lagi), hingga mupeng menjadi Flaneur (baca : pengelana) yang menjelajahi Terre D’asile dan Cimetiere du Pere Lachaise, Le Grand Palais, sungai Seine hingga toko Shakespeare & Co di Paris sana. Bahkan karena restoran ‘Empat Pilar Tanah Air’ (yang memang didirikan oleh eksil politik) betul-betul ada, membuat saya ingin berkunjung ke sana untuk mencicipi ikan pindang serani.

Mungkin karena saya pernah bertemu dengan Leila S. Chudori, dan mendengarkan penjelasannya tentang menulis, saya membaca novel ini dengan perasaan yang berbeda. Saya bisa merasakan riset-riset yang dilakukan, atau tajamnya karakter-karakter tokoh yang dikumpulkan. Dan mungkin karena Leila adalah seorang wartawan senior Tempo, informasi-informasi sejarah tentang 1965 maupun 1998 begitu akurat sekaligus tidak terasa ‘berat’ untuk dicerna. Sepertinya saya akan membaca ulang novel ini kapan-kapan hihihihi.

Jadi begitulah temans, jika Anda menyukai novel sejarah, mungkin Amba dan Pulang bisa dijadikan daftar baca berikutnya. Tapi tenang saja (psssttt…rahasia ini mah ya :P), kedua novel ini juga penuh dengan cerita cinta lengkap dengan adegan berkategori (sedikit) ‘panas’ di dalamnya *ups*, jadi tetap bisa dianggap bacaan yang menghibur hahaha.

Nah, novel apa yang terakhir temans baca? ;)

Bertumbuh Bersama Mizan

Hobi saya sejak kecil memang membaca. Belum berubah hingga sekarang, dan sepertinya akan tetap sama hingga waktu-waktu yang akan datang.

Seingat saya, sejak TK saya sudah bisa (dan suka) membaca. Maka saat kelas 2 SD, saya tidak terpilih ibu guru untuk mewakili sekolah dalam lomba membaca antar sekolah, saya sempat merasa sakit hati. Lantas melampiaskannya dengan membaca apapun yang bisa saya baca, termasuk kertas bekas pembungkus cabe merah di dapur mamah saya :P

Tapi saya memang pemimpi, sehingga jenis bacaan saya pun dari dulu lebih banyak yang berupa fiksi, dengan semua derivasinya. Masa-masa SD, saya membaca dongeng rakyat seperti Sangkuring atau semacam legenda terbentuknya Situ Bagendit, misalnya. Novel Trio detektif dan Lima Sekawan, hingga cerita-cerita di majalah Bobo dan Si Kuncung.

Beranjak SMP, saya membaca Wiro Sableng, komik-komik Jepang, bahkan pernah membaca roman-roman lama seperti Layar Terkembang, Atheis, hingga Siti Nurbaya. Walaupun yang terakhir ini tidak sampai habis karena masih menggunakan ejaan lama, membuat saya menyerah karena tidak terbiasa :D

Saat SMU, saya tinggal di asrama putri. Ibu asrama saya ternyata mengoleksi banyak sekali novel. Mulailah saya melahap novel-novel Shidney Sheldon, Agatha Christie, Danielle Steel, hingga John Grisham, Kahlil Gibran dan Rumi. Walaupun saya tetap juga membaca komik serial cantik (ada yang tahu kan ya komik jenis ini? hehehe), atau majalah-majalah remaja yang ada saat itu.

Kuliah di Fakultas Sastra membuat saya juga ikut-ikutan (sok) nyastra. Saya mulai berkenalan dengan Pramudya Ananta Toer, Taufik Ismail, NH. Dini, Remy Silado, hingga Leo Tolstoy dan Karl May. Di masa-masa ini juga, saya banyak membaca buku-buku islami yang ditulis Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Gola Gong, Pipiet Senja dan yang lainnya.

Pasca kuliah, saya membaca hampir semua buku yang memungkinkan untuk bisa saya pinjam. Saya berkenalan dengan Paulo Coelho, Torey Haiden, Mitch Albom dan serial Harlequin. Sebelumnya saya memang peminjam buku sejati, di sekolah dan kampus, petugas perpustakaan akan dipastikan cukup mengenal saya karena intensitas peminjaman buku saya. Saya pun akan berupaya berteman baik dengan teman-teman kolektor buku. Bukan saya pelit tidak mau membeli buku, tapi memang karena saat itu dananya belum ada hihihihi.

Alhamdulillah, sekarang saya bisa membeli sendiri dan mengoleksi buku-buku yang saya sukai. Seringkali, saya membeli buku yang dulu sudah pernah saya baca. Kalau betul-betul dikumpulkan, mungkin sudah mencapai satu kamar penuh. Walaupun kenyataannya buku-buku tersebut sudah ‘tersebar’. Saya simpan di rumah orang tua saya di Majalengka, beberapa buku yang kurang saya suka biasanya saya hibahkan, banyak yang dipinjam teman dan belum (atau tidak?) dikembalikan, hingga banyak buku juga terpaksa saya buang karena rusak terkena banjir tempo hari.

Sebagian buku yang terselamatkan

Sebagian buku yang terselamatkan

*Buku Dunia Sophie itu pernah saya baca saat kuliah bertahun-tahun lalu (sekitar tahun 2000), tapi baru saya beli sekitar 2 tahun lalu :)

Usia saya dan Mizan sepertinya tidak terpaut terlalu jauh, usia saya 30 tahun lebih sedikit kok hehehe. Jadi saya merasa kami betul-betul bertumbuh bersama. Dalam periode yang saya sebutkan sebelumnya, pasti banyak buku-buku terbitan Mizan group yang sudah saya baca, sama seperti foto di atas, yang hampir setengahnya merupakan terbitan Mizan.  Membaca novel-novel islami yang ditulis Asma Nadia dkk semasa kuliah dulu itu, telah menimbulkan keinginan untuk berhijab. Tak perlu lama, memasuki semester tiga saya memutuskan untuk memakai kerudung.

Membaca karya-karya fiksi Dewi Lestari, Tasaro GK, Khrisna Pabichara dan penulis fiksi Mizan lainnya membuat saya tidak pernah berhenti bermimpi suatu saat bisa memiliki karya sebaik mereka. Bahkan tempo hari saya memberanikan diri untuk ikut mengirimkan novel roman saya saat Qanita mengadakan lomba, walaupun tentu saja belum jadi pemenang ya hehehe.

Tapi saya percaya, membaca dan menulis itu seperti dua sisi dalam mata koin yang sama. Tidak bisa dipisahkan untuk berdiri sendiri dan saling terikat satu sama lain. Sehingga membuat saya berkesimpulan, bacaan yang baik akan juga memungkinkan saya menulis dengan sama baiknya. Saya berpengharapan baik, dengan buku-buku terbaik yang diproduksi Mizan, akan menemani saya untuk bertumbuh. Bahkan bukan tidak mungkin, kelak saya bisa menjadi salah satu penulis Mizan (?) :)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba MizanAndMe.

(Semacam) Review Buku : Cerita di Balik Noda

Judul Buku : Cerita Di Balik Noda – 42 kisah inspirasi jiwa

Jenis buku  : Novel

Genre            : Non fiksi

Penulis         : Fira Basuki

Penerbit      : Kepustakaan Populer Gramedia (KPU)

Tebal Buku : 235 Halaman

No ISBN      : 9 789799 105257

Buku ini berisi 42 kisah, yang masing-masing cerita memiliki benang merah yang sama, yaitu menyetujui jargon cantik bertajuk : berani kotor itu baik. Baik karena kotor tidak bisa dihindari dalam sebuah proses kreatifitas. Baik karena kotor terkadang bisa menjadi indikasi niat tulus dari kebaikan hati. Baik karena dari sebuah makna ‘kotor’-lah kita bisa memahami definisi bersih.

Dalam cerita Koki Cilik misalnya, diceritakan bagaimana Nisa yang ceria belajar membuat cupcake bersama mamanya. Proses pembuatan kue ini tentu saja membuat baju kesayangannya bernoda cokelat dan tepung. Tapi Nisa tidak menyesal dan justru senang, karena ternyata dia menyukai prosesi masak memasak dan membuat kue. Bahkan, kesukaannya ini menjadi peluang bagi Nisa untuk belajar  berbisnis ‘kue Nisa’, menerima pesanan kue-kue dari tetangga yang membuat tabungannya gemuk.

Atau, cerita Master Piece yang menawan. Tentang Aninda yang sedari kecil suka sekali mencorat-coret. Tidak hanya di atas kertas atau buku, tapi juga di lantai, di dinding, di atas seprai putih, di manapun. Sang Ibu melihat ‘ketidakdisiplinan’ tersebut sebagai sebuah bakat, maka dia mendorong Aninda untuk les menggambar, mengikutkannya ke berbagai lomba melukis, dan berhasil. Aninda betul-betul pintar menggambar dan memenangkan banyak piala dari sana, bahkan kemudian menjaci (calon) pelukis yang hanya mencorat-coret di atas kanvas.

(Jadi teringat zaman kecil dulu, saya juga suka sekali mencorat coret dinding, tapi kenapa saya tidak jadi pelukis ya? *abaikan* :P)

Lantas, dalam cerita berjudul Boneka Beruang Zidan. Sang tokoh utama Zidan adalah seorang anak berkebutuhan khusus, dia istimewa karena ke-hiperaktif-annya. Tapi, berkat si Teddy -boneka beruang yang diberikan tantenya- lambat laun Zidan bisa berkomunikasi dengan bonekanya itu, menatap si boneka dengan pandangan yang tidak kosong seperti biasanya, bahkan dia bisa hujan-hujanan sambil tertawa bersama si teddy. Hal tersebut membuatnya juga bisa berinteraksi dengan sekitarnya dengan lebih baik lagi.

Walaupun, ada kalimat yang sangat kontradiktif dalam cerita Boneka Beruang Zidan ini (di halaman 128) : Sering juga saat berlarian ke sana kemari dia tertidur di karpet. Mungkin seharusnya kata ‘setelah’ yang dicantumkan di sana untuk menggantikan kata ‘saat’ ya. Atau dalam cerita Sarung Ayah, ada inkonsistensi penokohan, di awal diceritakan si anak bernama Dewi, tapi kemudian berubah menjadi Wulan hingga cerita berakhir. Mungkin bisa diperbaiki editor dan penerbit untuk cetakan berikutnya :)

Cerita-cerita lainnya pun tak kalah menarik, selalu ada ‘sesuatu’ yang bisa kita ambil, menginspirasi bahwa terkadang noda dan ataupun kotor, memang harus dilalui untuk mendapat hasil yang diinginkan. Setiap kisah diceritakan tidak terlalu panjang, tidak bertele-tele dan to the point, cocok bagi mereka yang ingin bacaan singkat tapi berisi.

Dan ternyata, kumpulan Cerita di Balik Noda ini memang ditulis ulang oleh Fira basuki. Fakta ini menjawab rasa penasaran saya saat membaca setiap cerita, kenapa mereka memiliki ‘suara’ tulisan yang sama padahal ditulis oleh orang-orang yang berbeda. Walaupun (menurut saya), akan lebih menarik jika gaya bahasa dan ataupun cara bercerita dibuat beragam agar pembaca tidak bosan.

Postingan (semacam) review Buku Cerita Di Balik Noda dan Berani Kotor itu Baik ini saya tulis untuk mengikuti   Kontes Ngeblog Reiew Buku “Cerita Di Balik Noda” 15 Maret 2013 – 10 April 2013 yang di selenggarakan oleh KEB.

 

Kukila

gambar dipinjam dari gramedia

Jika dulu saya membeli Test Pack dan Remember When karena kepincut covernya yang unyu-unyu, maka kali ini saya tertarik pada Kukila karena ‘kukila’nya itu. Menggelitik rasa ingin tahu apa (atau siapa) kah Kukila? Berkenalanlah saya dengan M. Aan Mansyur yang langsung merebut hati saya *tsaaaah*.

Buku setebal 184 halaman ini merupakan kumpulan cerita, ada 16 cerita pendek di dalamnya, yang masing-masing memiliki keunikan sendiri yang terkadang memabukkan. Ini bukan lebay, karena -bagi saya- sang penulis pintar sekali memilih dan memadu-padankan kata, menjalinnya sedemikian rupa sehingga melarutkan si pembaca ke dalam cerita.

Cerita pendek pertama tentu saja Kukila (Rahasia Pohon Rahasia), bertokohkan seorang wanita bernama Kukila, yang membenci September dan pohon mangga, karena mengingatkannya pada mantan suaminya Rusdi, juga kekasih masa remajanya yang bernama Pilang. Cerita ini cukup panjang, baru habis di halaman 67, berisi penggalan-penggalan surat dari para tokohnya, sebagian besar adalah surat Kukila bagi ketiga anaknya.

Kukila -yang rupanya bermakna burung- jatuh cinta pada seorang Pilang -nama lain pohon akasia dengan nama latin Acacia leucophloea- walaupun akhirnya menikah dengan Rusdi. Mereka bertiga…nah, tidak seru kalau saya ceritakan plotnya, silahkan baca sendiri saja lah ya hehehe. Ada satu paragraf dari surat salah satu anak Kukila itu, yang mengingatkan saya pada puisinya Sapardi, walaupun dengan nuansa yang sedikit berbeda.

Seorang lelaki telah membuatku rela jadi rumput kering di bawah sol sepatunya. Aku mencintainya, Ibu. Aku mencintainya seperti burung kepada angin yang membantunya terbang. Seperti penulis kepada huruf-huruf yang membuatnya dibaca. Seperti sungai kepada laut yang menampung lelah perjalanannya. Seperti laut kepada langit yang menjatuhkan dan mengisapnya berkali-kali.

Uhuk, manis ya :)

Cerita berjudul Setengah Lusin Ciuman Pertama juga lucu, berkisah tentang pemaparan si ‘aku’ tentang ciuman pertamanya dengan cara yang berbeda, jangan dibayangkan vulgar atau panas seperti novel-novel harlequin ya, penuturannya lucu walaupun endingnya membuat miris. Dalam cerita Cinta (Kami) seperti Sepasang Anjing dan Kucing, lagi-lagi saya terpukau dengan nama salah satu tokohnya : Nanti Kinan! Nama yang tidak biasa, bukan?

Membaca buku ini membuat saya ‘berkenalan’ dengan sang penulis, menjadi followernya di @hurufkecil, dan menjadi silent reader di blognya http://hurufkecil.wordpress.com/ dan http://aanmansyur.tumblr.com/. Membaca tulisan-tulisannya belakangan ini sepertinya cukup mempengaruhi saya, contohnya adalah postingan #postcardfiction yang saya tulis kemarin itu, walaupun tentu saja masih jauh lah ya dengan Aan Mansyur yang karyanya sudah bejibun ituh *ngumpet*.

Begitulah temans, buku ini cocok dibaca saat bersantai. Dan bagi teman-teman yang suka menulis fiksi, mungkin bisa dijadikan salah satu referensi pemilihan diksi yang bagus :)

Well, happy Tuesday yaa.. ;)

Photobucket

 

 

PS : Postingan ini diikutsertakan dalam “2012 End of Year Book Contest”.