A Thousand Years
May 28th, 2012 § 12 Comments
Hari ini, ke-tiga teman kubikel saya kompakan tidak ngantor dengan alasan sakit. Selain sibuk bin riweuh karena saya harus -sedikit banyak- mengerjakan tugas yang tidak bisa ditunda dari ke-tiga teman tadi, terasa aneh ternyata ya di kubikel sendirian, tidak bisa mengobrol sodara-sodara hihihihi.
Paragraf tadi cuma prolog saja kok, saya tidak bermaksud menceritakan kesendirian saya hari ini seperti seribu tahun lamanya. Ish, itu mah lebay pisan
Saya cuma sedang suka sekali mendengarkan lagu Christina Perri ini. Mendengarkannya berulang-ulang gantian dengan I will be-nya Avril Lavigne dan Paradise-nya Coldplay di laptop seharian ini. Dan jadilah saya menuliskan postingan geje ini. *hadeuh, pengulangan ‘ini’ hingga 3 kali
*
Tidak, saya bukan pecinta Twilight-Edward Cullen-Vampire blinkblik-manusia serigala dan semua derivasinya. Biasa saja. Saya dipinjami novel Twilight oleh seorang teman bertahun lalu, hingga buku ke-2, tidak terlalu penasaran sehingga saya tidak ingin membeli novel berikutnya sendiri. Jadi, kalau ada yang bersedia meminjamkan ya dengan senang hati diterima lho hihihihi.
Nonton filmnya pun (yang pertama) hanya di DVD yang -sekali lagi- dipinjami seorang teman. Film kedua nonton di Fox, yang berikutnya belum nonton dan dipastikan tidak akan menyengajakan diri nonton di bioskop. Kalau gratisan mah lain hal lah ya hahahaha *teuteuuup pelit
*
Saya mendengarkan lagu ini di radio, dan baru ngeh merupakan salah satu soundtrack Twilight-Saga setelah melihat video klipnya. Tapi berhubung ada adegan-adegan yang -bagi saya- tidak lulus sensor, video liriknya saja ya hihihihi *peace*.
Tapi, perhatikan kalimat ini deh :”How can I love, when I’m afraid to fall”,lucu ya
Mengingatkan saya tentang curhatan seorang sahabat yang tidak ingin jatuh cinta karena takut tersakiti, dikecewakan, dikhinati, bahkan ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Mungkin bisa dibilang itu adalah sindrom orang patah hati ya, tapi saat itu, sahabat saya ini tidak sedang atau baru patah hati, sampai si pernyataan itu diucapkan, dia tidak pernah punya kekasih.
Maka, ketika dia mengabari saya dirinya akan menikah, saya mengembalikan pernyataannya bertahun lalu itu padanya, dan (kurang lebih) begini jawaban sang sahabat “gue pengen berenang Rin, kalo gue takut basah, kapan gue bisa berenang?” hihihihi… sedikit absurd, tapi yaa okelah ya
So temans, sebelum saya semakin geje lagi, intinya tak perlu takut segala lah ya untuk jatuh cinta (kenapa harus ‘jatuh’ sih by the way?), dinikmati saja seluruh perasaan-perasaan yang menyertai proses itu. Rindu, berdebar-debar, bahagia, sering tersenyum, dan masih banyak lagi implikasi positif dari sebuah proses “jatuh cinta”, kalau ternyata tersandung dan kemudian nyungsep *halah* toh selalu bisa bangkit lagi kan?
Baiklah, saya akan benar-benar menyudahinya. Have a lovely life with your loved ones, Pals
Berlibur di Negeri Sendiri
May 21st, 2012 § 33 Comments
Seorang sahabat pergi berlibur ke Singapore saat akhir pekan kemarin, dan menurutnya, banyak sekali orang Indonesia yang ditemuinya di sana. Belanja belanji di Orchard Road, bernarsis ria di depan Patung Merlion, berjejalan di Universal Studio, hingga mengantri di Marina bay Sky Park.
Saya belum pernah ke sana, dan berharap suatu saat bisa melihat sendiri ‘kehebohan’nya. Tapi kemudian saya teringat keindahan matahari terbit di puncak Bromo, ademnya telaga warna di Dieng, menawannya sunset di pantai Ujung Genteng, atau serunya belanja di pasar kaget Gasibu. Lantas kenapa semua objek wisata yang -menurut saya- menawan itu terkalahkan pamornya sekedar dengan patung singa menyemburkan air mancur ya?
Rasanya tidak perlu menyalahkan pihak ini atau departemen itu atau kementerian anu kenapa hal semacam demikian bisa terjadi. Saya lebih suka bertanya pada diri saya sendiri, dengan pertanyaan sederhana seperti “kenapa saya lebih tertarik berlibur ke luar negeri ya?”
Saya baru menginjakkan kaki di negara Gajah Putih, itupun hanya di Bangkok saja. Tapi JJ market atau pasar Catuchak itu sangat bersih dan teratur dibandingkan pasar Gasibu. Walaupun memang tidak berair jernih, sungai Chao Phraya tetap mudah ditempuh dengan BTS yang murah meriah dan bebas macet, jauh lebih mudah dibandingkan perjalanan saya ke Pulau Umang yang hanya ada di Banten tapi memerlukan waktu kurang lebih 7 jam (padahal sudah lewat jalan tol) dengan kondisi jalan yang kurang bagus. Mungkin daftar perbandingannya akan menjadi semakin panjang jika harus dibanding-bandingkan sedemikian rupa.
Fakta tersebut membuat saya sedikit berkhayal.
Seandainya banyak di antara kita yang ingin berlibur ke tempat-tempat wisata yang -katakanlah- berkategori ‘kurang terkenal’ semacam Pulau Umang atau Pantai Ujung Genteng, mungkin pemda -atau siapapun yang berwenang- akan malu dan kemudian mulai berpikir untuk memperbaiki sarana transportasi dari dan menuju tempat tersebut.
Homestay, hotel sederhana, atau bahkan restoran kecil dengan kuliner khas setempat akan banyak didirikan di lokasi wisata itu, yang tidak hanya memudahkan para wisatawan, tetapi sekaligus menjadi lahan rezeki lain para penduduk setempat untuk tidak melulu bermigrasi ke kota-kota besar.
Seandainya saja setiap orang yang telah berkesempatan datang ke tempat-tempat indah ini, mau menceritakan kembali betapa negeri Indonesia pun memiliki pesona yang tak kalah jelita, mungkin para sosialita yang menghabiskan es krim potong di negara Singa itu justru akan beralih tertarik pada manisan carica khas Dieng yang maknyus itu.
Semoga saja, khayalan saya itu suatu saat nanti -entah kapan- akan betul-betul mewujud. Semoga saja, upaya saya menuliskan tulisan ini di sini, bisa dianggap sebagai salah satu ‘jalan’ menuju impian itu. Dan semoga saja, pariwisata Indonesia kelak akan menjadi primadona bagi para warganya sendiri. Semoga ya
Masih terlalu sedikit tempat-tempat indah yang sempat saya datangi. Yuk temans, kita berlibur di negeri sendiri

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bangkit di BlogCamp.
Tenggang Rasa
April 26th, 2012 § 44 Comments
Judulnya mengingatkan ke pelajaran PMP atau PPKN ya hihihihi.
Sedikit prolog, sekitar 2 minggu ini kami akhirnya berlangganan TV kabel. Walaupun waktu menonton TV sangat terbatas bagi saya dan suami, tapi tetap saja sinetron-infotainment-acara tidak jelas di stasiun TV kita belakangan ini membuat kami merasa terdzalimi *halah*:P Dan pasca punya TV kabel, lumayan lah ya ada hiburan di rumah dengan banyak sekali pilihan menarik. Suami saya sih favoritnya nonton acara-acara di History atau NatGeo Channel, atau Biography, yang semacam itulah. Saya lebih suka nonton film (seri ataupun fim lepas), walaupun seasonnya sudah lewat sepertinya ya hahaha.
Nah, topik si tenggang rasa ini muncul saat semalam saya menonton salah satu episode Grey’s anatomy. Ada scene terakhir saat si Christina Yang -yang baru saja memutuskan pacaranya si Owen Hunt- terbaring diam di tempat tidur. Lantas masuk Meredith Grey -yang baru saja dilamar oleh Derek Sheperd- ke kamar itu. Kemudian ada dialog (yang kurang lebih) seperti ini : “Aku tunangan”, kata si Grey. “Aku baru putus” kata si Yang. Lantas mereka tidur deh tuh berdua.
Terbayang tidak sih adegannya? hihihihi. Tapi yang ingin saya sampaikan adalah, betapa si kedua sahabat itu memiliki tenggang rasa yang tinggi. Yang satu tidak egois mengumbar penderitaan yang dirasakannya, yang satu juga tidak egois menceritakan kebahagiaan yang baru dialaminya.
Dan saya jadi teringat dulu, saya pernah mengalami adegan serupa. Saat itu saya ingin sekali mengabarkan keberangkatan saya ke Thailand pada seorang sahabat. Hal itu membahagiakan saya, jangankan ke luar negeri, wong naik pesawat saja belum pernah. Begitu kami bertemu, sang sahabat mengatakan kontrak kerjanya tidak diperpanjang, dan beberapa hari ke depan dirinya terancam jobless. Lantas berita business trip saya ke Thailand yang ingin saya ceritakan itu hanya saya informasikan sambil lalu.
Adegan lain, saat itu saya sedang patah hati, diputuskan sepihak tanpa alasan yang jelas membuat saya lebih pendiam. Tapi saya tahu si sahabat saya yang satu itu sedang jatuh cinta karena baru jadian. Saya pun meminta dia menceritakan ini itu tentang si dia yang membuatnya lebih sering tersenyum. Sang sahabat menolak, dia bilang tidak enak hati berbahagia saat saya bersedih hati. Walaupun kemudian kami sepakat membagi semua yang ada, karena konon kebahagiaan yang dibagi akan bertambah, dan kesedihan yang dibagi akan berkurang. Simbiosis mutualisme, bukan?
Kenapa saya menuliskan hal ini? Karena saat ini ada satu sahabat saya yang dengan egoisnya selalu, selalu, dan selalu curhat di segala suasana. Saat dia jatuh cinta, ataupun saat dia patah hati, sang sahabat selalu menceritakannya tanpa pernah peka atau peduli kalau yang dicurhati pun memiliki masalahnya sendiri. Ish, kenapa jadi curcol ya hahahaha
Maksud saya, sahabat yang terakhir saya ceritakan ini, kok sepertinya tidak memiliki tenggang rasa ya? Saya mengerti, mungkin dia sangat perlu untuk membagi semua yang ada di hati atau dialaminya. Tapi yaa…seharusnya bisa lihat-lihat situasi kan ya, karena tidak setiap saat saya selalu dalam kondisi “siap sedia menerima curhatan” kan?
Hmm…sepertinya harus dicek ulang nih pelajaran si tenggang rasa ini ya hehe.
Well, have a great Thursday, Pals
Kapan (?)
April 18th, 2012 § 40 Comments
Sering sekali saya mendapat pertanyaan diawali dengan kata tanya ini, dengan berbagai macam kontek kalimat dan tujuan bertanya. Juaranya sih waktu masih jomblo dulu, tahu dunk pertanyaan sejuta umat yang terkadang menyebalkan bagi para single itu? Tapi ternyata pertanyaan “Kapan nikah?” itu tidak akan berhenti begitu saja, karena selanjutnya “Kapan hamil?” “Kapan punya mobil?” dan berjuta kapan lain akan selalu mengikuti. Hmm… sedikit menyebalkan bukan? hehehehe.
Saya mengerti, karena waktu saya di dunia ini terbatas, pertanyaan ‘kapan’ (mungkin) menjadi sangat relevan untuk diajukan. Entah sebagai pengingat, pemacu semangat, atau sekedar himbauan. Tujuannya sama, untuk segera memulai aksi, untuk cepat mengambil langkah, untuk tidak menunda melakukan. Karena jika tidak sekarang, besok-nanti-kelak itu belum tentu bisa saya sapa.
Ish, ini ngobrolin apa sih Rin?
Maafkan ya temans, saya sebetulnya sih sedang curcol belaka (seperti biasa), karena sedang merasa jenuh akan pertanyaan ‘kapan’ yang -entah kenapa- rasanya akhir-akhir ini sering sekali saya terima. Ada yang bisa saya jawab dengan mudah. Banyak yang justru membuat saya sendiri bertanya ‘kapan’ pada diri saya sendiri. Sebagian yang lain menyebalkan sehingga tidak ingin saya jawab. Dan beberapa memang tidak perlu saya jawab karena hanya Sang Maha Tahu yang berwenang menentukan waktunya.
Lantas, beberapa hari yang lalu saat saya mempublish si postingan “tentang judul” itu, muncul lah quote dari Stephen King ini, yang sengaja saya simpan sebagai penawar saat saya terganggu oleh pertanyaan kapan saya itu.
Tentu saja, quote ini hanya bisa diaplikasikan pada hal-hal yang bisa saya tentukan sendiri waktunya. Ketika deadline sudah dibuat, asumsinya saya tahu kapan harus memulai ‘kan ya? Nah, kalau terus-terusan khawatir -iya deh ngaku, takut begini begitu- tidak jelas, bukannya si deadline itu akan semakin dekat tanpa action yang berarti? Kapan dong beresnya?
Haiyaaahhh tambah mbulet
Disudahi dulu ya temans, doakan saya untuk bisa segera mulai tanpa perlu takut, karena mungkin ketakutan itu sendiri tidak perlu, dan hanya ada karena saya belum memulainya, persis seperti yang Stephen King bilang hehehe.
Happy Wednesday, Pals
Si Odol Masochist
March 26th, 2012 § 33 Comments
Iya, ini adalah tentang salah satu tulisan #15HariNgeblogFF saya yang dibukukan. Berikut penampakan si buku yang baru saja saya terima tadi siang. Tulisan saya yang cuma seuprit itu ada di halaman 118-119. Yup, cuma 2 halaman thok sodara-sodara! hihihihi

Impian terbesar saya saat ini, adalah melihat nama saya (hanya nama saya!
) yang tercetak di jilid sebuah buku, untuk kemudian menemukannya di gerai-gerai toko buku yang bisa saya jumpai di manapun. Dan, saat menggenggam buku mungil di atas dengan kedua tangan, membaca huruf demi huruf tulisan saya yang tercetak di sana, membuat saya merasa impian itu kini seolah sedikit lebih dekat. Semoga
Oke, kita sudahi saja edisi norak saya. Mari kita bicarakan tentang si Odol Masochist itu ya temans.
Sebagai seorang penulis *jiaahhh…meni gaya
*, saya sedikit bingung kenapa si odol ini yang terpilih masmin dan yumin #15HariNgeblogFF, apakah saking absurd-nya ya? hihihihi. Tapi menurut seorang sahabat saya, tulisan mengenai si odol ini sangat bermakna filosofis. Entahlah itu bisa saya anggap sebagai pujian, atau justru keprihatinan sang teman terhadap si odol. Tapi, mungkin -hanya mungkin- cerita itu memang bisa mengingatkan kita, bahwa terkadang kita merelakan diri untuk tersakiti saat mencintai. Aiiih, masih kurang absurd apa coba?
Seorang Ahmad Tohari, yang telah menuliskan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang fenomenal itu, pernah mengatakan bahwa kehadiran ke-tiga novel tersebut adalah akibat ‘hamil sastra’ yang dialaminya. Maka setiap karya (tulisan) yang ‘dilahirkan’ adalah wajib dihormati, begitu menurut pemikiran saya dari ungkapannya itu.
Sehingga -walaupun kisah FF saya tentunya teramat sangat tidak sebanding dengan novel keren itu- saya ingin tetap menghormatinya. Saya ingin tetap berpikir bahwa mereka adalah ‘anak-anak’ saya, yang tidak mungkin saya pilih dan putuskan si sulung lebih baik daripada si bungsu, atau saya lebih suka si adek daripada si kakak. Karena mereka saya ‘lahirkan’ dengan perjuangan terbaik yang saya mampu, termasuk si Odol masochist ini
Tapi sebagai pembaca, favorit saya adalah Halo, Siapa Namamu dan Ada Dia Di Matamu, karena -bagi saya- cerita itu sedikit berbeda dari cerita-cerita lainnya yang pernah saya baca. Saya juga suka cara bercerita Aku Maunya Kamu, Titik, atau Senyum Untukmu yang Lucu. Tentu saja saya juga menikmati kelucuan Dag Dig Dug, tak terduganya Jadilah Milikku, Mau? atau Inilah Aku Tanpamu. Selebihnya so-so, estede alias biasa-biasa saja rasanya heuheu.
Tapi sekali lagi, buku mungil dengan image post it biru yang bertebaran itu terus mengingatkan saya untuk terus bermimpi, karena walaupun apapun, buku ini adalah achievement tersendiri bagi saya yang sebelumnya tidak pernah berpikir ‘bisa’ menulis.
Dan saya merasa sangat beruntung nekat memiliki impian sedemikian rupa, karena dengannya saya telah menjadi manusia pembelajar, yang mengerti dan paham Tuhan tidak akan menyimpan sebuah keinginan di hati hambaNYA, jika tidak dibekaliNYA juga dengan kemampuan untuk mewujudkan ingin itu.
Mbulet ya?
Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah, untuk tidak perlu berhenti bermimpi, hingga mimpi itu mewujud dan tergantikan mimpi berikutnya yang lebih cemerlang. (Ehem, ini mah pengingat bagi saya sendiri sih sebetulnya
)
Keep dreaming, Pals
“Tulisan ini sebagai Inspirasi untuk Catatan Hati 10 Maret 2012 – @yankmira #1 Giveaway”
Memilih Takdir
February 21st, 2012 § 25 Comments
Temans, mari kita bicara cinta (lagi).
Pertanyaan untuk hari ini adalah sebagai berikut :
“Cinta itu takdir atau pilihan?”
Wuidiiihhh…. menurut saya mah itu pertanyaan yang sulit. Ralat, pertanyaannya mudah, menjawabnya yang sulit ya hihihi… Dan membuat saya berpikir, kenapa ya kadang kita (saya lebih tepatnya) seringkali mempertanyakan sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan? Haiyaahhh…malah mbulet
Tapi berbincang mengenai takdir selalu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Sehingga membahasnya di postingan ini pun seperti tidak mungkin adanya. Maka izinkan saya ‘melihatnya’ dari sudut pandang yang lain, bahwa saya -dan juga para pecinta di dunia ini- diberi kewenangan untuk memilih, tidak terkecuali memilih takdir dalam cinta.
Kemudian pertanyaan lain pun muncul, bukankah takdir itu definisinya adalah ketetapan Sang Maha Segala yang tidak akan pernah memungkinkan kita ketahui? Dan akan saya coba jawab dengan : justru karena saya tidak tahu takdir saya seperti apa, maka saya bisa memilih, yang semoga saja pilihan saya tersebut adalah ketetapan baik (baca : takdir) yang diridloiNYA. Saat ternyata saya salah memilih (karena bukan itu takdir terbaik bagi saya), maka Tuhan tidak akan mengizinkan pilihan itu mewujud.
Pusing? Sama dunk hahahaha… Ehem, mungkin memang tidak perlu menjawab sebuah pertanyaan yang tidak perlu dipertanyakan ya? *tambah pening* qiqiqiqi.
Tapi pembelajaran bagi saya nih, untuk lebih berlatih menulis dengan tema ‘serius’. Kali ini disudahi saja dulu ya
Happy Tuesday, Pals
I’m Proud of You
February 17th, 2012 § 32 Comments
Dearest me,
Ini aku, dirimu di 8 (atau 9 ?) tahun kemudian, yang baik-baik saja setelah yang kita alami saat itu, dan bahagia. Dan surat ini aku buat untukmu, sebagai rasa terima kasihku, karena telah begitu kuat, karena telah begitu tegar, karena telah begitu tabah saat itu. Terima kasih banyak ya.
Oh iya, surat ini akan sedikit panjang, luangkan waktumu untuk membacanya ya. Please?
Ah, mungkin kamu akan bertanya-tanya kenapa aku harus berterima kasih padamu sedemikian rupa. Maka mari aku ceritakan sebuah kisah, tentang kita -kamu yang adalah aku- di masa itu. Sebuah episode kehidupan yang membuat kita -aku yang dulunya kamu- seperti sekarang ini.
Saat itu Agustus 2003, bulan kelulusanmu. Setelah berupaya keras selama 3 tahun kurang sedikit, akhirnya kamu berhasil menyandang Sarjana Muda dengan IPK 3,85. Saat itu -dengan idealisme mudamu yang sampai saat ini pun tidak bisa kumengerti- kamu sempat tidak ingin mengikuti prosesi wisuda di aula Dipati Ukur itu, untunglah kamu tidak menuruti kata hatimu itu. Kenapa? Karena Bapak begitu terharu saat seutas tali yang bertengger di topi togamu itu di alih-posisikan oleh Pak Rektor langsung, karena kamu cukup pintar untuk duduk di ruangan khusus bagi lulusan terbaik, karena kamu telah membuatnya bangga. Iya, Bapak memang tidak mengucapkannya padamu, bahkan tidak juga diucapkannya padaku sekarang atau nanti. Tapi tak mengapa, terkadang tak perlu kata untuk mengucap cinta, bukan?
Sebagian sahabat-sahabatmu segera melanjutkan S1, dan kau tidak punya pilihan lain selain mencari sebuah pekerjaan untuk melepaskan diri dari beban orang tua kita. Padahal aku sangat tahu, saat itu kamu masih begitu ingin belajar. Tapi hidup memang tak selalu memberi yang kita inginkan, seperti kamu si anak sulung dengan 3 orang adik yang masih sekolah, dan Bapak yang seorang pensiunan PNS. Maka perjuanganmu yang sebenarnya pun dimulai.
Kamu tentunya ingat, sejak semester akhir kuliah kamu ‘menumpang’ hidup di rumah adiknya Bapak, karena kamu hanya mampu membayar kamar kost-an untuk 6 bulan pertama. Tekanan untuk segera mandiri pun bertambah, dengan status ‘sudah lulus’ tidak mungkin lagi menumpang hidup seperti ini, begitu pikirmu. Walaupun Mamang sangatlah baik, Bibi pun sangat baik, ke-tiga adik sepupumu itu juga sangat baik. Tapi aku mengerti, berada di sana pastilah tetap terasa sangat asing.
Beberapa panggilan interview datang padamu karena sebelum lulus pun kamu rajin mengirimkan surat lamaran. Dengan IPK yang sedemikian tinggi, kamu cukup percaya diri untuk bisa segera mendapatkan sebuah pekerjaan yang bagus. Tapi terkadang Tuhan menyayangi kita dengan caraNYA sendiri, karena justru penolakan demi penolakan yang kamu terima.
Aku masih ingat perusahaan Garment di Cileunyi itu, seorang interviewer bertanya apakah kamu bersedia melepaskan jilbabmu jika bekerja di sana? Kenapa, tanyamu saat itu, seberapa mengganggu kah selembar kain penutup kepala saat seorang wanita bekerja? Dan jawaban mereka tak memuaskanmu, hingga kamu pun menolak mengikuti ujian berikutnya.
Lebaran tahun itu jatuh di bulan Desember. Kamu pulang ke rumah orang tua kita, dengan pikiran kalut karena masih saja menjadi pengangguran. Kamu menjadi penyendiri, menghindar bertemu orang-orang karena takut ditanya sudah bekerja atau belum. Aku ingat, kamu mulai merasa hidup tak adil padamu saat itu, bahkan menyangka Tuhan tak menyayangimu. Kamu tahu? Saat itu mungkin kamu hanya merasa malu lho. Tapi sudah lah ya, kita lanjutkan saja ceritanya.
Seorang sahabat SMPmu, yang meneruskan kuliah di Jakarta, berkunjung ke rumah bersilaturahim Lebaran. Dan dia ‘menantangmu’ untuk berpetualang di Jakarta. Jakarta? Sebuah tempat yang sama sekali tidak ada di bayanganmu sebelumnya. Sebuah tempat yang tidak ingin kamu datangi kecuali untuk perjalanan sesaat. Sebuah tempat yang terasa tidak mungkin. Tapi kamu ingin berlari, dan kamu memberanikan diri melawan semua perasaan takutmu sendiri. Kamu menyetujui tantangan itu.
Mamah sangat khawatir tentu saja. Kamu memang terbiasa tak pernah ada di rumah. SMU di Cirebon, kuliah di Jatinangor, sudah biasa. Tapi Jakarta? Bukankah konon kota ini lebih kejam daripada ibu tiri? Tapi seperti biasa, kekeraskepalaanmu saat telah memutuskan sesuatu -baiklah, aku akui sekarang pun masih begitu
– tidak bisa diganggu gugat, walaupun oleh larangan Mamah. Syukurlah Bapak menghormati keputusanmu itu (seperti biasanya ya
), percaya sepenuhnya bahwa kamu adalah wanita dewasa yang tahu apa yang diinginkannya.
Berangkatlah kamu ke Jakarta bersama sang sahabat. Menginjak terminal Pulo Gadung untuk pertama kalinya, menumpang metromini 45 jurusan Pondok Gede, menuju kostan sang teman di daerah kampus Unkris. Menghirup polusi Jakarta yang pekat, bersentuhan dengan auranya yang entah kenapa selalu terasa kompetitif, merasakan panasnya yang tidak pernah tidak menyengat. Aku begitu ingat rasamu saat itu. Takut, sekaligus bersemangat. Khawatir tetapi optimis. Jalan di depanmu seperti lapangan luas yang kosong, tapi karena begitu terang, kamu tak bisa melihat apapun.
Tapi kamu tidak akan tinggal di kamar kostan sang sahabat, karena salah satu adik Mamah -yang pernah tinggal dan disekolahkan keluarga kita- memintamu tinggal bersamanya. Berhijrah lagilah kamu ke Bekasi, ke rumah petak Mamang yang betul-betul hanya satu petak. Berbagi oksigen dengan istrinya dan seorang bayi keponakan yang baru berusia beberapa bulan. Kamar tidur hanya satu, maka lantai di depan TV adalah tempatmu berbaring. Kamar mandi pun di luar yang dipakai bersama-sama. Rumah kita di kampung memang jauh dari kata mewah, tapi rumah petak itu dengan segera membangkitkan rindumu untuk pulang ke sana.
Bulan-bulan awal 2004 mungkin bisa dibilang salah satu episode terberat kita. Entah sudah berapa ratus surat lamaran yang kamu kirimkan, entah sudah berapa puluh kali juga kamu menjalani test ini dan wawancara itu, tapi entah kenapa belum juga membuahkan hasil. Lagi-lagi, beberapa alasan penolakan itu adalah jilbabmu. Aku ingat, kamu pernah marah pada Tuhan karena hal itu. “Aku patuh pada perintahMU untuk menutup auratku, kenapa KAU tidak memudahkan pintu rezeki padaku?” Kamu ingat pernah menuliskan itu di buku kecilmu?
Memang kamu tidak perlu memikirkan uang makan dan bayar kostan karena beruntung bisa ikut di rumah Mamang, tapi tetap saja uang sakumu pemberian Bapak yang tak seberapa itu segera habis. Untuk mengeprint CV dan surat lamaran itu. Untuk ongkos bus menuju Sudirman-Thamrin-Cikarang itu. Untuk sekedar membeli pulsa agar hapemu tetap hidup. Tapi tetap saja uang itu habis, dan kamu harus pulang kembali ke rumah untuk meminta uang tambahan. Aku bisa mengerti jika kamu sering menangis di dalam bus karena hal itu. Malu, karena kamu merasa telah menjadi anak yang gagal. Aku ingat, saat bus dari terminal Bekasi itu melintasi rumah makan Ampera sebelum masuk tol, kamu bergumam dalam hati, “Sekembalinya aku ke sini besok, aku akan pergi ke sana, menawarkan diri menjadi pelayan, atau tukang cuci piring, atau apapun selama bisa menghasilkan uang, tidak meminta uang seperti ini lagi”, ah…aku mengerti sakit hatimu saat itu.
Kemudian, entah berapa hari setelah kau kembali datang ke Bekasi, seorang teman Mamang memberitahumu ada lowongan kasir yang harus bisa berbahasa Jepang di restoran Robata Komachi, di mal Kepala Gading. Kamu segera ke sana pagi-pagi, tersesat karena salah naik angkot dari Pulo Gadung (malah ke Senen :p), tapi masih harus menunggu beberapa jam karena konon sang manager sedang meeting.
Setelah bertemu pun, lagi-lagi mereka memintamu melepas jilbab, karena itu adalah restoran Jepang dengan sebagian besar pengunjung expatriate Jepang. Saat kamu menolak, mereka bilang itu biasa, ada beberapa karyawan mereka yang berjilbab juga, tapi saat bekerja yang mereka melepasnya. Sakit hati tapi putus asa, kamu mengajukan diri untuk menjadi tukang cuci piring di sana. Sang manager menertawakanmu, bahasa Jepangmu tidak terpakai kalau jadi tukang cuci piring. Dan kamu pun berlalu dari sana dengan rasa yang entah.
Kamu tahu, bertahun-tahun kemudian, aku -yang adalah kamu- seringkali bersantap di sana? Well, sebetulnya menemani para bos itu meeting dinner, dan harus hati-hati sekali memilih menu, terkadang hanya ngemil takoyaki ditemani ocha (haha). Tapi saat berada di sana, aku mengingatmu, untuk kemudian berterima kasih padamu. Karena dengan keteguhan hatimu, aku tak menemukanmu di sana sebagai seorang kasir dengan rambut terurai.
Ada kalanya, Mamang dan atau orang-orang di sekelilingmu menyarankan untuk menggunakan konsep ‘memancing’. Dimana kamu harus mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan uang. Hei, kalau aku punya uang, untuk apa aku mencari uang? Teriakmu lantang. Aku mengagumi keberanianmu itu, karena tentu saja sikapmu mengundang cibiran, sok suci lah, idealis lah, apa lah. Dan biasanya berakhir dengan penghakiman kamu tak akan pernah mendapatkan sebuah pekerjaan dengan cara sejujur itu.
Tapi kemudian di April 2004, kemenangan kecil itu terraih olehmu. Kamu melamar sebagai staf administrasi di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris. Mengerjakan soal-soal keuangan sederhana, tapi sang manager rupanya tertarik pada sosokmu yang (sepertinya) terlihat sabar. Dia memintamu ikut micro teaching bersama para calon teacher. Mengejutkan tentu saja, bahasa inggrismu sekedar praktis, manalah kamu mengerti tentang teori dan semacamnya yang diperlukan untuk menjadi seorang guru untuk mengajar bahasa Inggris?
Mungkin kesempatan tak selalu datang dua kali, maka kamu pun mengiyakan tawaran itu. Tanpa persiapan apapun, kamu mencoba menjelaskan dengan gemetar -di depan para calon ‘teacher’ sungguhan, bahkan di antaranya dosen di universitas- perbedaan I-me-my-mine-myself yang kamu tidak tahu apa itu istilahnya dalam tata bahasa Inggris. Aku ingat, salah satu kandidat mencecarmu dengan sangat, membuatmu mati kutu karena memang tidak tahu. Walaupun tetap saja, kamu lah yang terpilih di antara mereka. Kenapa? Tak perlu dipertanyakan, itu hanya kasihNYA padamu.
Dimulai lah episode menjadi seorang freelance teacher di lembaga itu. Kamu menerima dua belas ribu rupiah untuk mengajar 1,5 jam untuk satu kelas. Satu kelas itu hanya 2 kali pertemuan satu minggu. Dan awal-awal kamu di sana, kamu hanya dipercayakan mengajar untuk 2 kelas saja. Hahaha, ya, aku -kita maksudku- bisa menertawakan kepedihan itu sekarang. Air mata dan tawa pun berputar seperti roda kehidupan
Tetapi menjadi seorang guru lepas yang mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak kecil bukanlah impianmu. Sehingga itu bukanlah akhir dari perjalanan, kamu tetap menebarkan banyak CV dan surat lamaran ke sana ke sini. Walaupun demikian, tetap saja orang-orang terdekatmu mengajukan pertanyaan yang sama, “Sudah kerja belum?” seolah menjadi freelance teacher tidak layak dianggap sebagai sebuah pekerjaan, dan seolah kamu merencanakan hidup berhenti di sana.
Abaikan kenangan yang itu. Seiring dengan kelasmu yang sedikit bertambah, Bibi -istri dari Mamangmu yang tadinya baik itu- entah kenapa menjadi sedikit ‘kejam’. Mulai menyindirmu, membiarkan jemuran pakaianmu kehujanan, dan sebagainya dan sebagainya. Padahal kamu selalu mencuci-setrika pakaian mereka sekeluarga, memasak sebelum berangkat kerja, mengepel membereskan rumah dan semuanya. Tapi mungkin itu belum cukup. Membuatmu sadar keberadaanmu di rumah petak itu sudah kadaluarsa, kamu mengusir dirimu sendiri dari sana.
Lantas kamu kembali ke kamar kostan sahabat kecilmu itu. Uang sewa kamar dibayar berdua, biaya-biaya lain pun ditanggung bersama. Tapi entah kenapa, sang sahabat pun rupanya tidak lagi nyaman dengan kamu di sekitarnya. Sinyal-sinyal itu kamu mengerti dengan jelas. Walaupun itu tidak pernah melukai persahabatan kalian, aku mengerti kamu terluka oleh keadaan, karena penghasilan bulananmu yang tak seberapa itu belumlah memungkinkan untuk hidup mandiri seutuhnya.
Maka, puasa senin kamis menjadi salah satu pilihan. Sarapan hanya dengan teh manis, makan siang sekaligus malam antara jam 3 sore, hingga berjalan kaki demi menghemat seribu dua ribu rupiah pun kamu lakukan. Tentu saja kamu pun jadi harus berhutang, karena apalah yang bisa dihemat jika sebetulnya si uang itu tak ada?
Sekitar Oktober (atau November? aku lupa), kamu menerima tawaran dari lembaga kursus lain untuk juga mengajar di tempat mereka. Kabar yang menggembirakan, karena itu berarti kamu bisa sesekali membeli telur bahkan ayam untuk menu makan, tak melulu tumis kangkung-tempe-tahu seperti sebelumnya. Kamu tak lagi harus gali lubang tutup lubang meminjam uang. Bahkan kemudian kamu pun mengajar private, yang memungkinkanmu bisa membeli baju baru walaupun yang 25.000an itu. Hahaha…aku masih mengingat saat kita belanja di pasar Pondok Gede itu
Rupanya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena keberuntunganmu itu tidak menyenangkan sang manager yang dulu memintamu untuk ikut test menjadi teacher. Saat itu dia memintamu memilih, tetap bekerja di situ, atau keluar jika masih tetap ingin bekerja di sana. Kenapa? protesmu, toh kamu hanyalah freelance teacher, yang tidak terikat kesepakatan apapun. Tapi sang manager mengatakan teacher adalah aset bagi lembaga, dan kamu dianggap tidak bermoral karena tidak memiliki loyalitas. Harga dirimu terusik, kamu yang merasa tidak melakukan kesalahan apapun detik itu juga mengudurkan diri. Padahal, rasio penghasilan di lembaga itu dengan yang di sana adalah 70 : 30. Kamu kembali ke titik harus berhemat habis-habisan dan menderita.
Tapi itu adalah keputusan yang tepat, dan -sekali lagi- aku berterima kasih padamu untuk itu. Setelah tidak lagi bekerja pada lembaga yang telah ‘memecatmu’, si tempat kursus yang baru ini memberikanmu tanggung jawab lebih. Kamu dipercaya menjadi staf akademik, yang bertugas membuat jadwal mengajar para guru, membuat kurikulum bahan ajar, hingga menghitung jam kerja semua guru.
Tugas ini membuatmu menerima sejumlah gaji tetap -yang tetap saja jumlahnya seuprit hihihihi- di luar fee mengajarmu. Bahkan, karena di lembaga ini para guru yang harus mendatangi murid (bekerja sama dengan SD-SD, sebagai les tambahan setelah pulang sekolah) kamu diberikan sebuah motor operasional selama jam kerja untuk pergi ke sana sini sehingga bisa menghilangkan sejumlah biaya transportasi.
Episode itu cukup menyenangkan juga buatku. Walaupun tetap saja kamu keukeuh menebar CV dan surat lamaran di setiap kesempatan. Hingga akhirnya kamu berhasil bekerja di kantorku sekarang ini 8 tahun lalu. Memang sudah terlalu lama aku di sini, tapi kamu harus tahu, ini pun bukanlah titik terakhir kita. Karena aku -seperti juga kamu dulu- selalu bermimpi untuk bisa menggapai bintang yang lebih tinggi.
Setidaknya, aku bisa memberitahumu episode kelabu itu sudah berlalu detik ini. Kita sudah cukup ‘berhasil’. Kamu sudah menjadikanku mandiri secara finansial, kamu sudah berhasil membalas budi kepada orang tua kita (walaupun tentunya tidak akan pernah cukup), kamu sudah memberiku jalan mewujudkan apa-apa yang dulu hanya mampu kamu angankan.
Dearest me,
Terima kasih ya, tanpamu, tanpa semua sikapmu itu, tanpa segala keputusanmu itu, tanpa ketegaran-keteguhan-ketabahanmu itu, aku tidak akan pernah seperti ini. I am so proud of you.
Dari aku -yang dulu adalah kamu- yang selalu mencintaimu
Cinta = Happy
February 16th, 2012 § 34 Comments
Mari kita berbicara tentang cinta temans
Saya percaya, cinta seharusnya memberikan efek bahagia bagi para pelakunya. Nah, jika salah satu -atau keduanya- merasa tersakiti, masih pantas kah itu disebut cinta? Uhuk, ngomongin apa sih ini Rin? qiqiqiqi.
Jadi begini temans, ada sebuah pertanyaan yang harus dijawab seperti berikut :
![]()
Maka saya ingin menjawabnya dengan => seharusnya tak ada sakit hati dalam cinta, kecuali memang orang-orang Masochist ya, yang merasa bahagia saat disakiti *halah* hihihi… Tapi saya pun mengerti, justru orang-orang yang saya cintai-lah yang sangat berpotensi melukai dan menyakiti. Lho? kenapa jadi kontradiktif begini ya?
Ada sahabat saya, yang seringkali menangis saat bercerita tentang kekasihnya. Dia yang (sepertinya) berselingkuh lah, dia yang tidak perhatian lah, dia yang suka kasar lah, dan sebagainya dan seterusnya. Saya bertanya pada sang sahabat, “kenapa cinta yang menyakitimu seperti itu dipertahankan?”, kurang lebih seperti itu lah kalimatnya ya.
Karena menurut saya, cinta seharusnya membuat kita lebih bahagia, lebih bergembira, lebih sering tertawa, lebih banyak bersyukur, lebih segalanya. Maka jika cinta lebih sering membuatmu menangis, kecewa, terluka, apalagi sakit hati, bukankah itu artinya ada sesuatu yang ‘salah’ dari cinta tersebut?
Karena menurut saya, saat kita marah, atau tidak setuju, atau merasa kecewa pada seseorang yang kita cinta, maka cara-cara yang dilakukan untuk menunjukkan perasaan ‘negatif’ itu pastilah akan tetap santun, memperbaiki bukan menghakimi, mengingatkan bukan melemahkan.
Karena menurut saya, walaupun untuk berbahagia tak perlu syarat apapun termasuk cinta, tapi bersentuhan dengan cinta sepantasnya membuat seseorang bahagia, bukankah demikian tujuan Sang Maha Cinta menciptakan sebentuk cinta?
Hadeuuuh, membaca kembali barisan kalimat di atas berhasil membuat saya tertawa sendiri ha ha. Sudahlah ya, sepertinya saya memang tidak terlalu berbakat bicara tentang cinta
My Heart is Afraid to Suffer
February 15th, 2012 § 29 Comments
Seringkali, banyak yang ingin diceritakan justru menghasilkan tak satu pun cerita. Setidaknya itu terjadi pada seorang saya, berkali-kali, dan terkadang memang menyebalkan, seperti sekarang.
Tapi ya sudahlah ya, dinikmati saja. Dan untuk postingan kali ini, saya hanya ingin menuliskan kembali, salah satu penggalan dalam buku the Alchemist yang saya ambil dari sini. Membacanya kembali membuat saya ‘nyengir’ berulang kali, malu hati ceritanya, karena masih saja merasa takut-kecewa-gagal-sedih-sakit hati bla bla bla. Padahal itu mah cuma perasaan saja, yang memang selalu lebay berlebihan.
Ah, kebanyakan basa basi, maafkan ya temans
Sok silahkan dinikmati saja tulisannya om Coelho ini
“Why do we have to listen to our hearts?” the boy asked, when they had made camp that day.
“Because, wherever your heart is, that is where you’ll find your treasure.”
“But my heart is agitated,” the boy said. “It has its dreams, it gets emotional, and it’s become passionate over a woman of the desert. It asks things of me, and it keeps me from sleeping many nights, when I’m thinking about her.”
“Well, that’s good. Your heart is alive. Keep listening to what it has to say.”
“My heart is a traitor,” the boy said to the alchemist, when they had paused to rest the horses. “It doesn’t want me to go on.”
“That makes sense. Naturally it’s afraid that, in pursuing your dream, you might lose everything you’ve won.”
“Well, then, why should I listen to my heart?”
“Because you will never again be able to keep it quiet. ”
“You mean I should listen, even if it’s treasonous?”
“Treason is a blow that comes unexpectedly. If you know your heart well, it will never be able to do that to you. Because you’ll know its dreams and wishes, and will know how to deal with them.
“My heart is afraid that it will have to suffer,” the boy told the alchemist one night as they looked up at the moonless sky.
“Tell your heart that the fear of suffering is worse than the suffering itself. And that no heart has ever suffered when it goes in search of its dreams, because every second of the search is a second’s encounter with God and with eternity.”
Got the point on the bold one? Have a brave life then, Pals ^^
Menulis Fiksi Itu…
January 27th, 2012 § 14 Comments
Tak tergambarkan dengan kata-kata *lebay dot com*.
Tapi itu betul, setidaknya bagi saya ya hehehe. Berhasil mengikuti tantangan #15HariNgeblogFF adalah pencapaian tersendiri bagi saya. Ternyata, saya bisa mengalahkan mood menulis saya yang masih suka berfluktuasi sesuka hati itu, dan resepnya sama kok, cuma satu dan cukup sederhana : komitmen. Walaupun -bagi saya- aplikasinya selalu lebih sulit daripada sekedar dikatakan.
Saya salut kepada beliau berdua yang kepikiran dan memfasilitasi program seperti ini. Bagi penulis amatiran seperti saya, menentukan judul adalah hal terberat. Maka saat si judul sudah ditentukan, saya akan bersenang hati berpetualang dalam imajinasi di kepala saya untuk menuliskan sebuah cerita. Dari ke-16 cerita yang berhasil saya buat, tidak semuanya memuaskan bagi saya, tapi ya tetap saja, saya menepuk pundak saya sendiri menghormati apa yang sudah berhasil saya lakukan, walaupun masih belum apa-apa sepertinya ya :p
Konon, penggagas tantangan ini mba @WangiMS dan mas @momo_DM, akan membukukan beberapa FF terpilih dari setiap judul. Saya tidak berharap banyak ada tulisan saya yang terpilih, wong cerita saya kebanyakan geje begitu ya *sadar diri*, tapi sekali lagi, ini adalah pencapaian saya pribadi, yang sungguh sangat syukuri, karena saya sedang berproses dan bertumbuh, di jalan -yang semoga- tepat.
Saya ingin berterima kasih pada masmin dan yumin, serta teman-teman yang bersedia membaca cerita-cerita geje saya tersebut, khususnya bagi yang mengapreasiasinya dengan tulus. Entah saya pernah membaca di mana, “kritikan adalah vitamin, pujian adalah cemilan” bagi penulis, yang keduanya bisa menyehatkan, tetapi bisa juga mematikan jika berlebihan, bukan?
Tapi tetap saja, menulis pada awalnya adalah untuk diri sendiri, begitu yang dikatakan Maggie (guru saya waktu pelatihan) waktu itu. Dan saya mengamininya, karena terlepas tulisan itu disukai pembaca atau tidak, proses menulis -dari mulai menelaah ide, berimajinasi, mencari tokoh, memilih karakter, menentukan plot dan setting, menciptakan dialog dan narasi, de es be- itu, adalah kesenangan tersendiri bagi si penulis. Ish…meni gaya ya bahasa saya hahahaha.
Well, impian terbesar saya masih tetap sama, yaitu melihat nama saya di kaver sebuah novel. Pertanyaan berikutnya adalah : kapan? Ugh…izinkan saya ngumpet dulu ya temans mihihihi..









