Tentang Judul

April 9th, 2012 § 38 Comments

Entah kenapa, saya sulit sekali menentukan judul sebuah tulisan yang saya buat. Entah itu fiksi atau curcol belaka seperti kali ini. Bahkan, judul skripsi saya tempo hari pun terkena imbas dari penyakit akut serupa, dan menjadi salah satu bagian yang harus direvisi *ups* hihihi…

Ada beberapa tulisan yang muncul ide judulnya terlebih dulu sebelum isinya, tapi ya begitulah, prosentase-nya kecil sekali. Itulah kenapa saya sukkkkka sekali saat si judul sudah ditentukan, sehingga saya hanya tinggal berimajinasi berkhayal termenung menuliskan isinya. Hadeuh…lebay surabay pisan :P

Nah, beberapa hari yang lalu saya menulis semacam FF, dan tahu dunk maksud saya berikutnya? hohoho… Seorang teman sudah menyumbang judul bertajuk ‘Tanah Merah’, saya pun menyukainya, tapi siapa tahu, ada ide judul yang lebih yahud he he :D

Selain masukan untuk judul, silahkan lho dikritik fiksi berikut ini *wink…wink…*

Pada akhirnya, setiap orang akan mati. Semegah apapun hidup yang pernah kau alami sebelumnya, semerana apapun kehidupan berlaku pada raga saat jantungmu berdenyut. Suatu saat –entah kapan- kau tetap akan menjadi mayat, tak bisa bernafas, tak mampu bergerak, mati. Dengan atau tanpa peti, kau akan terkubur sekian meter di dalam tanah, untuk kemudian digerogoti cacing dan teman sebangsanya. Seperti itulah, tidak mungkin menolak, tak ada pilihan lain.

Lantas, kenapa pemakaman kali ini harus sedikit berbeda? Kenapa banyak sekali kamera? Kenapa banyak sekali karangan bunga? Owh, rupanya seorang bintang yang kini harus aku kuburkan.

Prosesi pemakaman berjalan dengan dramatis. Banyak teriakan meratap, deraian air mata juga bertabur jeritan pilu. Blah. Berlebihan. Sang jenazah tak bisa lagi mendengar, dia tak lagi peduli, dan tak mungkin juga dia bangkit lagi, ‘kan? Toh mereka –yang berteriak menjerit menangis- itu, juga hanya tinggal menunggu giliran untuk dimasukkan ke dalam tanah seperti wanita ini. Drama ini entah kenapa menjadi memuakkan bagiku. Kematian adalah kembalinya seorang manusia ke dalam pelukan Tuhan, kenapa harus ditangisi sedemikian rupa? Tapi biarkan saja orang-orang ini berekspresi, toh mereka tidak menggangguku.

Marina? Rasanya aku tahu bintang film ini. Yeah, walaupun tentu saja aku tidak mungkin menonton film-filmnya. Lagipula untuk apa menghabiskan uangku untuk sebuah cerita picisan yang tak masuk akal? Cinta? Pengkhianatan? Tak ada waktu memikirkan hal semacam itu saat aku harus berpikir bagaimana membeli sebungkus nasi penyambung hidup setiap harinya.

Tapi tentu saja,Marina-si jenazah yang kini hampir tertimbun tanah- tidak pernah merasakannya. Hidupnya tentu selalu cemerlang benderang, tidak gulita seperti hidupku. Beruntung sekali dia, baru merasakan kegelapan saat jiwanya tak lagi bersamanya.

Baiklah, aku terlalu sinis. Maafkan keluhan-keluhanku tadi. Toh suatu saat nanti aku pun akan juga terbenam dalam tanah sepertinya. Walaupun tanpa kamera-wartawan-karangan bunga seperti ini, kepergianku kelak mungkin tetap menyisakan lara kehilangan dari istri dan anak-anakku ‘kan? Serupa dengan perginya seorang Marina sang mantan bintang film terkenal yang kini telah tertimbun sempurna. Tanah merah basah itu kini pun bertabur bunga sepenuhnya.

“Pak, terima kasih banyak tadi ya.” Seorang pemuda gagah berbusana hitam –dan juga berkaca mata hitam- menepuk pundakku saat pemakaman kembali beranjak sunyi. Seraya menyalamiku, terselip di tangannya sebuah amplop putih yang cukup tebal untuk ukuranku.

Ah, amplop tebal ini lah yang membedakan kematian seorang bintang dengan orang kebanyakan. Tak bisa tidak bibirku tersenyum tanda berterima kasih pada sang pemuda. Dan siang itu pun cangkulku terasa lebih ringan daripada biasanya dengan segepok uang tersimpan aman di saku celanaku.

Bagaimana? Ada ide judul tidak? he he

Happy Monday, Pals ;)

Pengakuan

March 31st, 2012 § 36 Comments

Akhirnya sampai juga aku di sini. Sebuah restoran di tepi sungai Chao Phraya bernama ‘In Love’.

Mencintai seorang Renata bagiku adalah petaka. Bidadari seperti dia tidak mungkin mencintai seorang jelata sepertiku. Tapi katanya cinta tak pernah memilih, bukan?

“Suatu saat, aku akan pergi ke negera bersalju.” Kudengar kamu pernah berkata begitu pada sahabatmu. Kala itu kita masih berseragam putih abu, dan aku jatuh cinta padamu di detik pertama aku melihatmu.

“Kenapa Re?” Tanya sang sahabat.

“Aku ingin menyentuh serpihan putih itu dengan tanganku, menggigil nikmat karena sensasi dinginnya, dan memakai penutup telinga yang lucu itu.” Lantas kalian terbahak. Aku ikut tersenyum dalam sunyi, dan berucap dalam hati semoga kelak harapanmu itu terwujud.

Lantas sekian tahun berlalu, aku pun melihat foto cantikmu di belantara salju, berdiri dengan mantel tebal -dan tutup telinga- di depan indahnya pegunungan Mount Blanc yang tampak jauh sekaligus dekat. Ingin rasanya aku juga berada disana. Tapi pergi ke Perancis buatku bagaikan mengembalikan bubur menjadi nasi.

Foto empat musimmu yang lain membuatku semakin merindukanmu. Rambut indahmu yang melambai lembut di bawah pohon sakura yang bermekaran diKyoto, membuatku juga ikut berbunga-bunga.

Foto dirimu yang bertelanjang kaki di pesisir pantai Bondi negeri kanguru itu, menjadikanku seolah merasa bisa menikmati musim panas disana.

Kamu yang bertopi jerami di Vermont road yang lengang dengan pohon entah apa berwarna orange itu di kanan kiri jalan, menerbangkanku ke khayalan tentang berjalan bersisian denganmu di jalan yang sama.

Sepertinya aku sudah gila. Dan akan semakin gila jika pengakuan ini -bahwa aku mencintaimu entah sejak kapan- tak bisa juga aku nyatakan padamu. Maka disinilah aku, di negeri gajah putih yang belum pernah aku pijak, berharap bisa menjumpaimu, sebelum kau pergi lebih jauh lagi entah ke belahan bumi yang mana. Tabunganku hanya cukup menerbangkanku ke sini.

Aku tidak tahu bagaimana atau pada siapa aku harus bertanya. Yang aku tahu -seperti yang kau tulis di ocehanmu melalui si burung- kau menjadi seorang penyanyi di restoran ini. Aku tahu kau menyanyi bukan untuk uang, kau menyanyi karena kau menyukainya ‘kan? Uang tak pernah menjadi masalah buatmu. 

Tapi sudah sesore ini panggung kecil di pojok sana itu masih sepi. Apakah nanti malam kau baru datang Re?

“Ardin?” Terkejut saat namaku disebut, lamunanku tentangmu terhenti seketika. Wanita yang sebelumnya ada di kepalaku kini berdiri di depanku. Menawan seperti seharusnya.

“Re…Kamu tahu siapa aku?” Tanyaku takjub. Selama ini aku pikir dia tidak pernah tahu kalau aku ada.

“Tahu laaah. Tidak ada temanku yang selalu mem-favorite setiap ocehanku di twitter selain kamu.” Aku tertangkap basah!

“A…aku…”

“Apakah kamu menyukaiku Din?” Hah?

“Iya…” Biarlah dia menertawakan ketotolanku, si Ardin anak penjaga sekolah mencintai Renata sang primadona? Tidak ada kisah cinta seperti itu di dunia nyata. Tapi yang penting aku sudah menyatakan rasa yang aku pendam sekian lama.

“Aku juga menyukaimu Din, sejak dulu. Sejak kau memperhatikanku diam-diam. Sejak kau menulis puisi tentangku di mading. Sejak kau menyimpan bunga anggrek di laci mejaku.” Aku terpana, kamu tersenyum.

“Kamu…”

“Iya Din, aku juga cinta sama kamu.”

Senja tidak pernah seindah ini dalam hidupku.

@In Love restaurant, Bangkok, 5 February 2012

“Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Satu Tahun dari blog celoteh .:tt:. “.

***

Note : 500 kata

#FFHore : Semangkuk Bakso Tahu

March 27th, 2012 § 37 Comments

Jalanan lengang. Rupanya semua orang pergi berdemo. Mereka berjuang berteriak mengiba agar BBM tak perlu dinaikkan katanya. Siapa pula yang peduli? Siapa yang akan mendengarkan? Setidaknya, aku tidak peduli dan tidak ingin mendengarkan.

“Djarum-nya satu bang.” seorang sopir angkot memanggilku.

“Sewa lancar bang?” tanyaku basa basi. Yang hanya dia jawab dengan dengusan sebal. Membuatku berlalu setelah menerima recehan yang sebelumnya berserak di dashboard. Aku juga tak peduli padanya. Biarkan saja angkotnya sepi penumpang, yang penting satu batang rokokku terjual.

“Bang, nuker donk.” Kali ini seorang anak SMA jangkung berkacamata menjawil bahuku seraya menyodorkan selembar uang biru bergambar Ngurah Rai. Kali ini aku yang menjawab -dan menolak- si abege dengan dengusan tak suka. Kalau saja aku punya uang semacam itu, meski hanya satu lembar, maka tak perlu aku berbohong pada Bapak yang sedang sakit, bahwa mang Iyan -si penjual bakso tahu- tidak jualan kemarin.

Rahangku mengeras saat menatap anak lelaki bercelana abu-abu ketat yang beranjak menjauh itu, betapa senang hidupnya, yang bisa menikmati bermangkuk-mangkuk bakso tahu mang Iyan dengan mudah. Sementara aku? Kepingan uang logam di tas pinggangku rasanya belum seberapa. Apakah nanti malam aku juga harus kembali berbohong mang Iyan tak jualan? Jika membawa Bapak ke dokter adalah mukjizat bagiku, apakah juga perlu keajaiban untuk sekedar membelikannya semangkuk bakso tahu?

“Bang, aqua gelasnya satu.” seorang wanita muda bermandi peluh memanggilku dari halte. Aku menghampirinya gontai. Tambahan keping lima ratus perak darinya masih jauh dari anganku atas semangkuk bakso tahu untuk Bapak.

“Tissue ada bang?” tanyanya lagi. Aku sodorkan sebungkus tissue padanya. “Permen juga deh.” katanya lagi. Siang yang terik ini terasa sedikit lebih sejuk buatku kini. Selembar lima ribuan kini pindah ke tanganku. “Kembaliannya buat abang aja,” kembali si wanita muda berkata. Oh, ternyata Tuhan memang ada!

Tersenyum aku berlalu tanpa kata dari hadapan si wanita muda. Tak perlu menunggu sampai malam. Uang ini akan segera aku tukarkan untuk semangkuk bakso tahu mang Iyan yang diidamkan Bapak. Tergambar di kepalaku betapa bapak akan menikmati setiap suapnya nanti.

Saat beberapa langkah lagi kakiku sampai di warung bakso tahu mang Iyan, Asep -tetangga rumah petakku- berlari tergopoh menghampiriku.

Kunaon Sep?” tanyaku cepat.

“Kang Ujang… Bapak pupusnembe pisan..” jawab Asep perlahan.

***

Note :  359 kata

* kunaon = kenapa

** pupus = meninggal dunia

*** nembe pisan = baru saja

Hadiah Istimewa Untuk Budhe

February 20th, 2012 § 19 Comments

“Kenapa Beib? Sepertinya ada yang dipikirkan.”

“Hari ini Budhe ulang tahun.”

“Oh ya? Biasanya kalian makan nasi tumpeng untuk makan malam ‘kan?”

“Iya.”

“Budhemu itu hebat ya. Merawatmu sejak kau kecil sekali.”

“Iya, Budhe seperti ibu sekaligus ayah buatku, bisa dibilang Budhe adalah segalanya, sudah pernah ku bilang Budhe tidak mau menikah karena aku ‘kan?”

“Alasan yang tidak bisa aku mengerti.”

“Aku juga, tapi aku pikir karena Budhe juga mencintai ayahku.”

“Ah… yang benar saja.”

“Konon anak kembar cenderung begitu.”

“Oh ya, mana hadiahmu untuk Budhe.”

“Ada, tapi bukan yang Budhe inginkan.

“Maksudnya?”

“Aku belum bisa memberikan yang Budhe minta kali ini.”

“Memangnya apa itu?”

“Budhe ingin… ah, nanti kau tanya sendiri lah ke Budhe ya.”

Dan Budhe memang sudah berdiri di depan pintu menyambut kami. Rupanya suara mobil mas Fajar sudah mulai terdengar khas bagi Budhe,

“Selamat ulang tahun Budhe, semoga panjang umur, sehat dan bahagia selalu.” Ucap mas Fajar tulus, aku pun mengucapkan hal yang sama, seraya berdoa pashmina yang sudah aku masukkan ke dalam kotak berpita cantik itu bisa menggantikan keinginan Budhe untuk melihatku segera menikah.

“Budhe, sebelum kita makan tumpeng, boleh saya mengatakan sesuatu?” tanya kekasihku itu lagi saat kami memasuki ruang tamu.”

“Monggo, kalau begitu kita duduk di sini dulu.” Jawab Budhe untuk menunggu apa yang ingin diucapkan mas Fajar. Apa ya yang akan mas Fajar sampaikan ke Budhe? Aku sendiri tidak tahu.

“Budhe…izinkan saya menikahi Rani, Budhe.” Suara mas Fajar terdengar entah di telingaku, benarkah? Bahagiaku tak terkira.

“Nak Fajar, Rani, ini adalah hadiah teristimewa yang pernah Budhe terima.” Ucap Budhe, tak kalah bahagia memelukku erat, yang sedang menatap mas Fajar dengan hati membuncah.

*Note : 271 kata

Artikel ini dikutsertakan dalam Kontes Menulis Cerita Mini

Amerta

February 14th, 2012 § 24 Comments

Namaku Amerta. Aku tidak tahu siapa atau kenapa aku dinamai demikian. Tapi nama itu lah yang semua orang serukan saat memanggilku, tanpa ada satu pun yang bertanya padaku, apakah aku menyukai nama itu atau tidak. Dan aku tidak pernah merasa namaku itu luar biasa, hingga saat aku bertemu dengannya. Dia, lelaki malaikat yang memberitahukanku tentang surga.

“Kau pernah berpikir tidak, kenapa Tuhan menciptakan Hawa?”

“Untuk menemani Adam di surga, bukan?”

“Hmm… Mungkin saja.”

“Mungkin saja? Menurutmu tidak begitu?”

“Menurutku sedikit berbeda.”

“Bagaimana?”

“Karena surga tak bermakna tanpa kehadiran Hawa.”

“Wow.”

“Iya, seperti aku yang tak ingin berada di surga, jika di sana tak ada dirimu.”

“Ah, itu gombal.”

“Terserah apa katamu. Tapi bagiku dirimu abadi.”

“Maksudnya?”

“Seperti arti namamu. Amerta.”

“Memangnya apa arti namaku?”

“Kau tak pernah tahu arti namamu?”

“Tak ada yang memberitahuku.”

“Dan kau tidak mencari tahu?”

“Untuk apa? Toh aku bukan siapa-siapa.”

“Hei, kau adalah segalanya bagiku.”

“Benarkah?”

“Ya. Amerta-ku. Amerta yang tidak dapat mati. Amerta yang abadi. Amerta yang tidak terlupakan.”

“Itukah arti namaku?”

“Benar sekali. Indah bukan?”

“Entahlah…”

“Kenapa? Kau tidak menyukainya?”

“Tapi untuk apa hidup selamanya? Kenapa harus tidak terlupakan? Bagaimana aku bisa menikmati hidup jika aku tidak bisa mati?”

“Ah…kau telah melupakan surga, rumah kelahiranmu. Tempat di mana semuanya tak pernah mati, abadi dan tak terlupakan.”

“Surga? Tempat yang sama saat Adam dan Hawa diciptakan itu?”

“Tempat semua berasal dan kembali.”

“Maukah kau mengajakku kesana?”

“Ke surga?”

“Iya.”

Lantas kau hanya tersenyum dan sesaat kemudian menghilang. Meninggalkanku yang tak dapat mati, abadi, dan tidak terlupakan. Untuk apa amerta-ku itu jika tanpamu?

Sekali lagi aku tatap dirimu yang kini hanyalah sebentuk abu pengisi botol kecil dalam genggamanku. Wahai lelakiku, izinkan aku menjadi debu sepertimu, dan segera kita akan berjumpa disana. Di surga. Tempat semua berasal dan kembali. Dan aku pun menari bersama api yang memelukku, hangat.

*Note : 301 kata

***

Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka. Ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

Sepenggal Senja di Senggigi

January 31st, 2012 § 29 Comments

Halo, ini masih saya, yang tentu saja masih berada di Jakarta bagian Cakung saat ini *halah*. Pusing binti pening untuk persiapan besok, mengantar saya untuk berimajinasi, mencoba berkhayal menikmati Senggigi yang belum pernah saya pijak, tapi entah kenapa semakin menguat dalam imaji saya. Dan sekali lagi saya membuktikan, betapa menulis selalu bisa menjadi wisata hati bagi seorang saya.

Haiyaaa…kelamaan. Sok silahkan dinikmati. Ini ceritanya coba-coba ikutan proyek27, bukan FF jadi agak panjang (710 kata), kalau sedang sibuk mah skip ajah, tidak terlalu penting kok hihihihi.

Bagi yang ingin tahu info-nya dan atau berminat ikutan, sila cek di sini ya ;)

***

Menikmati senja di Senggigi adalah mimpiku yang sempurna, begitu katamu dulu padaku. Dan kini, saat mimpi itu mewujud di pangkuanmu, bolehkah aku bermimpi kau akan memaafkanku, Andini?

“Terima kasih sudah memaksaku ke sini Bram.”

“Sudah seharusnya Din.”

“Ini indah sekali. Tak ada kata yang bisa mewakili rasa saat sebentuk mimpi tak lagi hanya ada dalam imaji.”

“Aku bahagia jika kau menyukainya.”

“Walaupun, kau tak perlu melakukan ini Bram, sungguh.”

“Seharusnya aku melakukan ini sejak lama, saat kita masih…”

“Sudahlah Bram. Mari kita nikmati saja senja ini”

Aku menatap siluetmu dalam bayangan senja yang menjingga. Apakah kau tahu kau selalu secantik itu saat senja seperti ini, Andini? Aku mencoba menikmati nyanyian ombak yang diantarkan angin menyapa pasir, meraba kaki telanjangku, membuat tepi rokmu membasah. Mungkinkah ombak yang sama juga mampu menyentuh hatimu?

“Apakah maafku tak pernah bisa cukup bagimu, Andini?”

“Aku sudah lelah bertengkar denganmu Bram.

“Tapi Din…”

“Aku memaafkanmu. Dan harus berapa kali lagi aku ucapkan itu?”

“Baiklah…”

Aku merasa entah. Senja di Senggigi seharusnya tidak seperti ini. Kudengarkan lagi suara semesta di sekelilingku. Kenapa membuatku semakin sunyi? Kau masih ada di sisiku, tapi hingga kapan? Hidup tak akan pernah sama tanpamu, Din.

“Maafkan jika sikapku menyakitimu, Bram.”

“Tak mengapa, toh aku yang lebih dulu menyakitimu.”

“Aku tidak sedang membalas dendam atau sejenisnya.”

“Aku tahu Din.”

“Hanya saja, aku belum sanggup melupakannya.”

“Aku mengerti…”

Aku tahu, akulah yang menyakitimu dengan sangat. Dan aku pun mengerti, seberapa kali pun aku meminta maaf tidak akan pernah cukup menghapus perih yang telah kugores kuat di hatimu.

“Seandainya saja aku bisa memutar kembali waktu.” Desisku pelan, bergumam untuk diriku sendiri.

“Sayangnya itu tidak bisa ya Bram.” Ujarmu, juga pelan, seolah memang ditujukan untuk dirimu sendiri.

“Seandainya aku tak pernah melakukan kesalahan itu, dan tidak perlu menyakitimu seperti itu…”

“Aku sempat berpikir seperti itu juga Bram.”

“Benarkah?”

“Ya, seandainya saja kau tak mengkhianati setiaku…”

Senja yang jingga membuatku semakin merana. Apakah Senggigi tetap sudi menemaniku saat menyaksikanmu pergi?

“Aku tidak akan pernah mengulanginya lagi Din.”

“Sudahlah Bram. Yang sudah berlalu biarkan menjadi masa lalu.”

“Aku tahu aku salah. Aku menyadarinya, aku menyesalinya, aku masih dan selalu mencintaimu, aku…”

“Hentikan Bram!”

Aku membisu mematung. Menatapmu yang berjuang menahan tangis dalam sunyi, memandang rahangmu mengeras menguatkan hati. Sangat menyakitkan melihatmu tersakiti seperti itu olehku.

“Maafkan aku Din, untuk yang ke sekian kalinya…” kau menjawabnya dengan senyuman. Senyuman yang sepertinya akan kurindukan. Senyuman yang sepertinya tidak lagi menjadi milikku.

“Bram, kau lebih suka memandang pelangi, kenapa kau menemaniku menikmati senja kali ini?”

Aku hanya ingin bersamamu Din, dengan atau tanpa pelangi, senja atau bukan, aku tak lagi peduli. Dan apa maksud pertanyaanmu itu sebetulnya? Secepat itukah kau melupakan apa yang baru saja terjadi?

“Kau tidak suka aku menemanimu di sini?”

“Tidak. Hanya saja, seingatku kau tak pernah menyukai senja sebelumnya.”

“Aku berubah Din, seperti juga setiap individu yang pasti bermetamorfosa, begitu kan katamu dulu?”

“Ah…rupanya kau masih mengingatnya.” Lagi, kau tersenyum. Tapi aku rasa senyum itu untuk senja yang selalu kau cinta. Senyum itu terhenti saat sesosok mungil memelukmu dari belakang.

“Bundaaa….” Kau terkejut dan kemudian tertawa riang. Lantas sosok itu juga mendekatiku, untuk mendekapku dengan mesra. “Ayaaahhh…” Aku menciumnya takzim. Satu-satunya yang tersisa dari cinta kita, mungkinkah dia yang akan mewujudkan mimpiku untuk kembali padamu?

“Nak, beritahu Bunda. Kau lebih suka pelangi atau senja?” tanyamu pada sosok mungil itu, yang kini duduk di antara kita berdua, saat tangan kecilnya menggenggam tanganku, tangan yang lainnya memeluk lenganmu. Pertanyaanmu sungguh menyakiti hatiku. Apakah itu berarti tak ada lagi jalan bagiku untuk pulang padamu? Pada kita?

“Bunda, namaku ‘kan Langit, tempat di mana senja dan pelangi berada.” Ujarnya lucu. “Seperti Bunda, dan Ayah, yang akan selalu ada di diri aku. Iya ‘kanYah?” mata malaikat itu menatapku. “Aku tidak bisa memilih pelangi atau senja, karena aku adalah Langit.” Katamu lagi, lugu.

Kau mendekap Langit dengan air mata yang tak bisa lagi kau bendung, membuat Langit menatapmu tak mengerti, kemudian hanya merebahkan kepalanya ke dadamu.

“Bunda, Langit sayang Bunda.” Malaikat kecil tampan itu membelai lengan yang memelukmu lembut. “Ayah, Langit sayang Ayah.” matanya memandangku hening.

Perlahan aku memelukmu yang sedang memeluknya, mendekap kalian, untuk kemudian berdoa dalam sunyi, berharap senja ini hanyalah sepenggal episode dalam kehidupan kita bertiga. Dan akan selalu ada senja-senja lain yang bisa aku nikmati, bersamamu, bersama Langit, dengan atau tanpa pelangi.

Soto Koya

January 27th, 2012 § 19 Comments

“Soto koya? Yang kayak gimana tuh?”

“Kamu ngga tau?”

“Ngga.”

“Enak lho.”

“Masa sih? Namanya ga keren gitu ah.”

“Keren?”

“Iya, ravioli, dimsum, raclette, sushi, poffertjes, lebih keren kan namanya?”

“Ah…nasionalismenya mana?”

“Hahahaha… aku suka juga makanan lokal kok, pecinta tahu gejrot sejati nih.”

“Hoh? Tahu gejrot? Emang enak?”

“Enaaaaakk, daripada soto koya.”

“Emang udah pernah nyicip soto koya?”

“Emang kamu udah pernah nyicip tahu gejrot?”

Kamu tertawa. Aku tertawa. Soto koya dan tahu gejrot pun ternyata bisa membuat kita bahagia. Apakah kamu tahu aku begitu bahagia menatap ekspresi tawamu itu? Apakah kamu menyadari hatiku menghangat saat mendengar tawamu yang renyah itu? Apakah kamu tahu…

“Heh, kok ngeliatin aku begitu banget sih?”

“Ga boleh ya?”

“Bayaaar.”

“Ish…komersil banget.”

“Biarin.”

“Kamu tahu ngga?”

“Ngga.”

“Euuh…makanya dengerin dulu.”

Kembali, aku tertawa, dan kemudian kamu pun tertawa, lantas semesta seolah ikut tertawa bersama kita.

“Apa? Terusin yang tadi, mau bilang apa?”

“Aku sukkka banget sama soto koya.”

“Kenapa?”

“Karena enak.”

“Selain itu?”

“Mmmm…ngga tau juga ya kenapa.”

“Kok aneh?”

“Aneh gimana?”

“Karena menurutku harus ada alasan untuk segala sesuatu.”

Ugh…rasanya aku tak punya alasan untuk menyukai soto koya, ataupun alasan untuk menyukaimu. Tapi tentu saja kau tidak akan mengerti.

“Hei, Bro. Tengkyu ya udah nemenin Maya gue.” Maya gue, oh crap.

“No problemo. Jadi kalian kencan ke mana malam ini?”

“Paling makan di manaa gituh.”

“Pastinya bukan makan soto koya.” Sahutmu kocak.

“Eh?Ada apa dengan soto koya?” Tanya Reza padamu.

“Ada deeeehh… rahasia kita ya Cal?” kedipmu padaku.

“Hah? Punya rahasia nih sama si Ical?”

Aku tertawa. Kamu tertawa. Reza –pacar sialanmu yang adalah sahabat baikku itu- tertawa. Tapi aku tetap tidak mengerti kenapa kamu lebih memilih Reza daripada soto koya. Ralat, daripada aku maksudku. Reza menggandeng tanganmu mesra, meninggalkan aku merana sendirian di kostan buluk ini.

Yeah, malam minggu selalu kelabu untuk jomblo sepertiku. Baiklah, aku akan mencari soto koya yang selalu mengerti aku.

 ***

*Note : 312 kata.

Ketagihan nge-FF, dengan judul request yumin yang entah kenapa rupanya ngidam soto koya hihihihi

Day#15b Menikahlah Denganku

January 26th, 2012 § 28 Comments

(semacam) sekuel dari cerita sebelumnya.

***

Menikahlah denganku Ra, pintamu saat itu. Dan aku menjawab pertanyaan itu dengan menamparmu, keras. Lantas meninggalkanmu yang terpana tak mengerti. Tahukah kamu Bayu? Kalimat itu mengingatkanku akan luka yang tak pernah mengering?

Menikmati pantai Senggigi saat senja yang jingga, seharusnya adalah eksotisme yang romantis, tapi aku merasa entah. Mungkinkah aku telah menyakiti diriku sendiri? Aku tahu luka itu akan tetap berada di sana, tapi aku tetap berhak untuk bahagia, bukan? Aku memandang cakrawala di atas pasir dalam sunyi.

”Ra…”

“Bayu?”

“Jangan lari dariku lagi, Ra. Kumohon…”

“Kau tak perlu mencariku, Bay.”

“Tidak bisa kah kau buka hatimu untukku?”

“Tidak bisa kah kau meninggalkan aku?

“Please Ra, jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain.

“Aku tidak punya hati lagi Bay.”

Debur ombak menyapa pasir memecah hening yang seolah abadi.

“Aku tahu mungkin ini sulit bagimu, tapi…izinkan aku mencintaimu, Ra.”

Aku menghentikan inderaku menyentuh senja, ku tatap matamu yang sedang memandangku. Cintakah yang ada di sana? Pantaskah aku menerima cinta itu?

“Kenapa kau mencintaiku, Bay?”

“Perlukah alasan untuk itu?”

“Menurutmu tidak perlu?”

“Aku mencintaimu karena aku mencintaimu. Cukupkah itu bagimu?”

“Itu absurd!”

“Ra, aku bukan Adrian…” Semesta di sekelilingku membeku, rasa sakit itu datang lagi, membuatku menggigil memeluk lutut, aku tidak ingin selamanya seperti ini. Aku pun ingin bahagia, mungkin kah?

Dan kemudian hangat perlahan menjalar di tubuhku saat Bayu mendekapku erat, membelai rambutku lembut, menggenggam tanganku kuat.

“Menikahlah denganku Ra, dan aku akan memelukmu seperti ini, selamanya.” Bisik Bayu lirih di telingaku. Aku terdiam menatap jingga yang semakin temaram. Kurebahkan kepalaku di dadamu, mencoba menikmati rasa hangat ini meresap hingga sanubari. 5 tahun mungkin sudah lebih dari cukup bagiku hidup dalam luka yang terus ku pelihara. Mungkin aku memang pantas menerima cintamu, mungkin aku pun pantas mencecap bahagia bersamamu.

Senggigi beranjak menggelap. Tapi aku tahu, hidupku telah mulai benderang karenamu.

***

*Note : 298 kata.

Yippiee…selesaaaai *tari pom-pom*. Terima kasih telah menemani perjalanan saya ya temans ;)

Day#15a Sah!

January 26th, 2012 § 11 Comments

Berdebar aku menatap bayanganku sendiri di cermin. Sesosok wanita yang terpantul di sana begitu memukau, begitu bersinar, begitu bahagia, benarkah itu aku? Tak berapa lama lagi aku akan sah menjadi Nyonya Adrian! Aku tersenyum pada bayanganku sendiri, tersipu.

“Siap-siap ya Neng. Akadnya jam 11 kan? Harusnya 15 menit lagi rombongan pengantin pria datang.” Bu Ratih –periasku- datang tergesa, mengecek riasan wajahku yang rasanya sudah sempurna. Aku hanya mengangguk.

“Neng keluar setelah ijab kabul, saat itu Neng sudah sah menjadi istri.” Ucapnya lagi menggodaku, seraya membetulkan rangkaian melati yang menghias rambutku. Lagi, aku hanya mengangguk, kali ini dengan tersenyum gugup.

“Nanti Ibu panggil ya.” Katanya lagi sebelum beranjak, kudengar kesibukan di luar kamarku saat bu Ratih membuka pintu sekejap, dan kemudian kembali sunyi.

Kamarku kini begitu indah, penuh aneka bunga berwarna putih tertata, seprai cantik yang juga berwarna putih, semuanya serba putih, tak berlebihan rasanya aku berangan sedang berada di surga, dan aku adalah bidadari satu-satunya di sana. Ah, selalu seperti ini kah perasaan si pengantin?

15 menit ini seperti selamanya. Tapi 15 menit seharusnya tidaklah selama ini. Kenapa Ibu Ratih tak juga memanggilku? Jam berapa sebetulnya sekarang?

Aku tak bisa melihat ke halaman depan dari jendela kamarku ini, aku pun tak punya keberanian untuk membuka pintu itu dan bertanya kenapa keriuhan tadi pagi kini terdengar ramai dengan aura yang berbeda? Maka aku hanya terpaku menatap sebentuk kolam dengan ikan-ikan kecil berenang-renang ke sana ke mari di luar jendela. Kau pasti datang ‘kan Adrian? Tanyaku pedih.

Adzhan Ashar sayup terdengar. Aku masih mematung menatap ikan warna warni yang seolah tak bisa diam di kolam itu. Aku tahu Bunda berdiri sunyi di belakangku dalam isaknya yang tertahan.

“Ra… Yang kuat ya Sayang?” perlahan Bunda mengambil satu per satu melati di rambutku.

“Apa salah Rara, Bunda?” tanyaku akhirnya. Dan kemudian Bunda hanya memelukku erat dalam tangisnya yang kini menderas. Sementara aku hancur mendebu.

“Sah!” kata itu hanya menggema berdengung dalam imajiku. Selalu ada di sana tanpa pernah bisa melenyap. Aku mengerti, satu-satunya kesalahanku adalah pernah mempercayai lelaki brengsek sepertimu, Adrian.

***

*Note : 337 kata

Rupanya karena ini hari terakhir, kami ditantang untuk membuat 2 judul FF sekaligus! *pengsan*. Saya coba buat sekuel saja untuk cerita berikutnya, karena berimajinasi dan menuliskannya saat menikmati kram perut ternyata tidak mudah hehehe…

Day#14 Ini Bukan Judul Terakhir

January 25th, 2012 § 15 Comments

Rizal

Sungguh tak sabar aku ingin membaca email balasan dari Cleo. Tapi tetap saja, aku harus cukup bersabar menunggu Sarah tertidur untuk kemudian masuk ruang kerjaku diam-diam.

To : Ivan

Subject : Rindu

Hi Darl, miss you much.

Lebay ya, seperti ababil saja hihihi. Tapi begitulah Van, aku pun tidak mengerti perasaan ini. Bagaimana mungkin aku merindumu, jika kita berdua bahkan belum pernah bersua. Tapi jika bukan rindu, apa ini namanya? Rasa dimana aku selalu mengingatmu, dan kemudian menginginkanmu. Mungkinkan itu Van?

 With love,

Cleo

Aku termenung menatap layar laptop yang kini berpendar-pendar oleh screen saver. Aku, menjadi Ivan bagi Cleo, yang katanya merindukanku. Dan aku pun –entah sebagai Rizal ataupun Ivan- juga merindu wanita itu, wanita yang belum pernah kutemui, wanita yang jauh berada di Vienna sana, tak terjangkau imajiku. Aku merasa bagaikan Kahlil Gibran zaman millennium, mencinta May Ziadah yang tak pernah sekalipun ditemuinya, dan bercinta hanya lewat sekian ratus surat. Untukku –Ivan maksudku- dan Cleo, surat itu kini tergantikan email.

“Mas…ayo tidur” kudengar Sarah memanggilku dari kamar.

“Iya Dek…” jawabku cepat. Secepat aku menarikan jari-jariku di atas keyboard membalas email Cleo. Seraya berharap tak pernah aku menggumamkan namanya saat aku tertidur di sisi Sarah. Karena aku mencintai istriku, sangat.

-o-

Sarah

Pukul 4 pagi, aku terbangun tanpa alarm, seperti biasa. Memandang Rizal yang terlelap damai di sampingku. Lelaki yang Tuhan titipkan untuk menjadi suamiku. Lelaki yang aku cinta sepenuh jiwa.

Tanpa suara aku menghidupkan kembali laptop itu.

To : Cleo

Subject : Merindumu (juga)

Hi Dear, Miss you too, more than much.

Cleo sayang, cinta tak mengenal usia, begitu katanya. Maka tak apa kita bagai anak muda yang baru jatuh cinta. Karena ternyata aku pun begitu, merindukan sosokmu di sisiku. Mungkinkah kita berdua gila? :)

 Love you,

Ivan

Aku termenung di ruang kerja gelap itu. Suara pagi mulai terdengar, sayup. Aku yang memulai kegilaan ini, entah apa yang merasuki diriku saat itu, menciptakan seorang Cleo di kepalaku. Dan entah kenapa pula ada seorang Ivan yang rupanya dirimu mulai menyapaku. Kegilaan Cleo dan Ivan sudah terlalu gila buatku. Haruskah kubuka rahasia ini padamu? Bahwa Cleo adalah aku, dan aku tahu Ivan adalah dirimu? Dan cinta kita tak perlu terbagi pada seseorang yang tak pernah ada?

Tapi Cleo dalam diriku berbisik “ini bukan judul terakhir, Sarah!”, maka aku pun mengetik pelan membalas emailmu, dan mengirimkannya tepat sebelum kau terbangun.

“Pagi cantik.” sapamu memelukku.

“Sayang mau sarapan apa pagi ini?” tanyaku mesra balas memeluknya. Dan mentari pagi itu mulai menyapa hangat.

***

*Note : 409 kata, dan saya tidak menyukai tulisan ini, entah kenapa…

Well, happy Wednesday Pals ;)

Where Am I?

You are currently browsing the Fiction category at Rindrianie's Blog.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 90 other followers