Kopi Pahit
May 15th, 2012 § 33 Comments
Pagi ini, saat saya mengambil minum di pantry, mba OG sedang sibuk membuat bercangkir-cangkir kopi untuk tamu yang datang. Datang Pak OB, dan kemudian ada percakapan -yang menurut saya- cukup menarik.
Pak OB : “Nambah 3 cangkir lagi, kopi pahit.”
Mba OG : “Kopi pahit? mesti ini Bosnya yang minta.”
Saya : (penasaran) “Kok bisa yakin mba kalo kopi pahit pasti bosnya yang minta?”
Mba OG : “Iyalah mba, ga ada anak buah minta kopi pahit, wong hidupnya sendiri udah pahit kok, masa minum kopi aja ga pake gula, susu, atau krimer.”
Saya : (melongo dan kemudian terbahak)
hihihihihi….
Saya tahu, kebanyakan orang Jepang -setidaknya para Nihon jin di kantor saya- penyuka kopi pahit, terlepas mereka-mereka itu ‘betul-betul’ bos atau bukan ya. Saya juga tahu, dari sekian orang tamu yang datang pagi ini, hanya ada 1 orang Jepang. Jadi saya berasumsi -jika mengikuti analisa mba OG- kedua cangkir kopi pahit sisanya adalah untuk orang Indonesia yang masuk ke dalam kategori “bos”.
Pertanyaannya adalah, apakah para bos ini dulu -saat masih menjadi karyawan biasa- juga tidak pernah meminum (dan minta dibuatkan) kopi pahit ? *pertanyaan ngga penting blas
*
Maafkan ke-geje-an postingan ini ya temans, kehidupan di dunia nyata sedikit ‘rusuh’ akhir-akhir ini, membuat saya ingin menulis sesuatu walaupun tanpa ide sebagai terapi hati.
Tapi yang jelas, sebagai penikmat kopi amatir, saya tidak ingin status karyawan biasa saya, mempengaruhi pahit atau tidaknya kopi -atau teh, atau apapun jenis minuman- saya. Setuju tidak? *halah*.
Well, selamat menikmati kopi -atau teh atau minuman lainnya- mu hari ini ya temans
Liburan Pacaran
May 9th, 2012 § 55 Comments
Ehem, maafkan jika postingan ini akan menimbulkan efek mupeng (baca : muka pengen) dan atau semacam perasaan ngiri dot com atau sebagainya ya temans. Tidak bermaksud begitu kok hihihi..
Abaikan prolog tidak penting tadi itu
Saya dan sang matahari memang sepakat untuk menyempatkan diri berlibur dalam kesibukan kami. Minimal setahun sekali lah, atau bahkan sesering mungkin? *ngarep dot com*. Kami punya (semacam) tabungan khusus untuk hal ini. Jadi financial flow tidak akan berantakan walaupun ada sekian rupiah yang kami alokasikan untuk menyenangkan diri sendiri, walaupun liburannya terbatas yang dekat-dekat dengan harga promo hihihi. Yang penting bukan kemana atau di mana tapi dengan siapa, betul? *menghibur diri*
Sekali lagi, abaikan info tidak penting tadi itu.
Jadi, saya ingin sekali bercerita perjalanan kami kemarin ke Dieng, tepatnya tanggal 4-6 Mei lalu. Yup, neng Iqoh lagi-lagi berhasil mengompori kami melakukan perjalanan tersebut. Tapi kami tidak menyesal kok, berterima kasih malah, dikau memang tukang foto kami bu *ups* hehehehe…
Sedikit informasi, kami ke sana bersama SmartTrip Comunity, harganya 445.000 rupiah saja per orang (tidak termasuk makan). Dengan bus, homestay dan itinerary ke berbagai tempat di Dieng yang sudah mereka atur, bagi saya harga sekian termasuk murah. Apalagi para koordinator kwartet Yudha-Abel-Dedi-Jamil yang kocak dan sangat ramah membuat kami seperti sahabat lama yang akrab. Begitu juga peserta lainnya yang seru bin gokil dan tentu saja memiliki tingkat narsis stadium kecamatan. Lengkap lah perjalanan ini menjadi sangat mengesankan bagi kami
Hmm…sebetulnya mah masih banyak sekali yang ingin saya ceritakan, walaupun pastinya tidak akan sedetail mas Gaphe atau semenarik mama Hilsya saat bercerita tentang ‘petualangan’ mereka ya he he. Mudah-mudahan saja besok-besok saya bisa menuliskannya ya. Untuk sementara, selamat menikmati foto-foto selama liburan pacaran kami ya temans
This slideshow requires JavaScript.
Nah, apakah dirimu ingin berlibur temans?
Buku di Hari Buku
April 23rd, 2012 § 44 Comments
Hai temans.
Tanggal 23 April ternyata Hari Buku ya? Baru tahu lho saya *inpo ga fenting* hihihi. Tapi yang akan saya sampaikan ini penting, setidaknya bagi saya
Beberapa menit yang lalu Pak OB menyerahkan paket JNE ke meja saya. Setelah saya lihat, kertas merah pembungkusnya bertuliskan Nulisbuku.com. Yeaayyy, pesanan buku saya ternyata sudah sampai. Dan ini bagian pentingnya sodara-sodara : dalam buku ini ada tulisan saya ! hohohoho. Maafkan ya temans, setelah Si Odol Masochist tempo hari, postingan ini pun hanyalah episode norak saya berikutnya hihihihi.
Tidak, saya tidak bermaksud mempromosikan buku itu kok. Toh cerpen saya yang tercetak di sana bisa dengan mudah teman-teman baca di sini. Walaupun tentu saja jika berkenan membelinya saya senang sekali, karena keuntungan dari penjualan buku ini disumbangkan untuk Taman Bacaan Rumah Unyil di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Silahkan kunjungi nulisbuku.com, atau langsung mengirimkan email ke admin[at]nulisbuku[dot]com jika berminat ya.
Saya tahu, banyak sekali teman-teman yang sudah menerbitkan bukunya, jadi kalau mau dibanding-bandingkan, saya mah kalah telak lah ya. Tapi sekali lagi, ini merupakan sebuah pencapaian tersendiri bagi saya, yang begitu membahagiakan, yang sangat mengharukan, yang ingin saya syukuri dengan khidmat *mulai lebay
*. Pokoknya mah saya senang sekali, semoga buku saya sendiri bisa juga segera diterbitkan. Aamiin..
Jadi begitulah, semoga kehadiran buku kecil itu ikut menyemarakkan perbukuan dunia
Kapan (?)
April 18th, 2012 § 40 Comments
Sering sekali saya mendapat pertanyaan diawali dengan kata tanya ini, dengan berbagai macam kontek kalimat dan tujuan bertanya. Juaranya sih waktu masih jomblo dulu, tahu dunk pertanyaan sejuta umat yang terkadang menyebalkan bagi para single itu? Tapi ternyata pertanyaan “Kapan nikah?” itu tidak akan berhenti begitu saja, karena selanjutnya “Kapan hamil?” “Kapan punya mobil?” dan berjuta kapan lain akan selalu mengikuti. Hmm… sedikit menyebalkan bukan? hehehehe.
Saya mengerti, karena waktu saya di dunia ini terbatas, pertanyaan ‘kapan’ (mungkin) menjadi sangat relevan untuk diajukan. Entah sebagai pengingat, pemacu semangat, atau sekedar himbauan. Tujuannya sama, untuk segera memulai aksi, untuk cepat mengambil langkah, untuk tidak menunda melakukan. Karena jika tidak sekarang, besok-nanti-kelak itu belum tentu bisa saya sapa.
Ish, ini ngobrolin apa sih Rin?
Maafkan ya temans, saya sebetulnya sih sedang curcol belaka (seperti biasa), karena sedang merasa jenuh akan pertanyaan ‘kapan’ yang -entah kenapa- rasanya akhir-akhir ini sering sekali saya terima. Ada yang bisa saya jawab dengan mudah. Banyak yang justru membuat saya sendiri bertanya ‘kapan’ pada diri saya sendiri. Sebagian yang lain menyebalkan sehingga tidak ingin saya jawab. Dan beberapa memang tidak perlu saya jawab karena hanya Sang Maha Tahu yang berwenang menentukan waktunya.
Lantas, beberapa hari yang lalu saat saya mempublish si postingan “tentang judul” itu, muncul lah quote dari Stephen King ini, yang sengaja saya simpan sebagai penawar saat saya terganggu oleh pertanyaan kapan saya itu.
Tentu saja, quote ini hanya bisa diaplikasikan pada hal-hal yang bisa saya tentukan sendiri waktunya. Ketika deadline sudah dibuat, asumsinya saya tahu kapan harus memulai ‘kan ya? Nah, kalau terus-terusan khawatir -iya deh ngaku, takut begini begitu- tidak jelas, bukannya si deadline itu akan semakin dekat tanpa action yang berarti? Kapan dong beresnya?
Haiyaaahhh tambah mbulet
Disudahi dulu ya temans, doakan saya untuk bisa segera mulai tanpa perlu takut, karena mungkin ketakutan itu sendiri tidak perlu, dan hanya ada karena saya belum memulainya, persis seperti yang Stephen King bilang hehehe.
Happy Wednesday, Pals
Valentina Orin
April 4th, 2012 § 39 Comments
Bukan, judul di atas bukan nama baru saya kok. Nama tersebut diberikan kepada saya oleh seorang teman, pasca dirinya saya bonceng dengan si kupi sepulang kami kuliah dulu. Menurutnya, saya ngebut sekali, sehingga pantas diberi julukan ‘Valentina Orin’, maksudnya tidak lain tidak bukan seolah-olah saya kembar (tidak) identik dengan Valentino Rossi sang pembalap itu *halah*
Mari kita analisa terlebih dulu definisi ‘ngebut’ ini, karena setiap orang memiliki standar tersendiri untuk segala sesuatu bukan? Ngebut bagi saya adalah jika sang motor berlari dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam. Dibawah itu mah yaa…’cepat’ saja, belum termasuk kategori ngebut he he.
Tapi jarum speedometer si kupi menyentuh angka 100 pun jarang-jarang kok, hanya dalam waktu-waktu tertentu saja, misalnya saya sudah sangat terlambat, atau berkendara di malam hari dimana saya sudah mengantuk. Iya, agar supaya saya tetap ‘alert’ dan adrenalin tetap tinggi maka saya akan ngebut hingga kecepatan 100 km/jam. Kalau normal-normal saja mah yaa…rata-rata di kecepatan 60-80 km/jam saja. Kalau macet? Beuh…kadang menyentuh angka 20 km/jam pun tidak
Belajar mengendarai motor pertama kali adalah saat saya kelas 3 SMP. Saya bahkan lupa saat itu motor Bapak saya apa, tapi bukan jenis motor gede berkopling seperti biasanya, juga bukan motor matic karena zaman itu rasanya motor jenis ini belum ada. Jadi belajar lah saya mengganti-ganti gigi di sebuah lapangan bola dengan Bapak saya sebagai guru.
Puas berkeliling lapangan (dan dianggap lulus), saya langsung diajak ke jalan kecil dengan Bapak ikut membonceng di belakang. Saya ingat sekali, saat itu sore hari, dimana jalanan cukup ramai. Sehingga saat saya belok kanan ke sebuah gang, sang motor menabrak segerombolan anak-anak sebaya saya yang sedang bersepeda. Tidak ada yang serius dari ‘kecelakaan’ tersebut karena kecepatan motor memang selamban siput
Sejak itu rasanya tidak ada peristiwa berarti dari episode-episode saya mengendarai si roda dua. Mungkin karena saya memang sudah terbiasa bersepeda ria sejak kecil ya, jadi saat belajar motor langsung bisa dan lancar-lancar saja. Jalanan mulus -dan lengang- di kampung saya pun membuat saya berjiwa pembalap, dan terbawa-bawa saat saya berpetualang ke Jakarta.
Sekitar tahun 2004, saya dipinjami (semacam) motor operasional untuk datang ke sekolah (saat itu saya jadi pengajar bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus). Maka pada fase ini pun, kapan pun di manapun jika memungkinkan (baca : jalanan tidak macet dan kondisi jalan mulus), saya akan cenderung memacu si motor dengan cepat. Begitu juga saat saya memakai motor-motor pinjaman lainnya (termasuk yang berkopling), saya akan memiliki kecenderungan untuk cepatjika situasinya memungkinkan.
Dan tidak ada satu pun episode terjatuh dari motor seperti yang Mamah Rafi ceritakan di postingan ini. Tapi karena postingan ini memang terinspirasi dari postingan tersebut, maka tentu saja saya pernah terjatuh dari motor.
Saat itu saya sudah memiliki motor sendiri, bukan si kupi, tapi kakaknya si BeATy boop *haiyaa…maafkan penamaan motor-motor saya itu ya temans hihihi*. Saya masih nge-kost di daerah Rawamangun, dan rute menuju kantor adalah melewati pintu 3 Kelapa Gading menuju ‘jalan kangkung’ (sebuah jalan kecil yang tidak dilalui angkot rute manapun, yang -dulu- ditanami kangkung di kanan kiri jalan, sekarang sudah sedikit lebih lebar karena dibangun perumahan elite), sebelum belok kanan ke jalan Tipar Cakung untuk sampai di kantor.
Pagi itu entah kenapa jalan kangkung ini muacet buanged, lalu lintas merayap. Karena itu memang jalanan kecil tapi dipakai 2 arah, terbayang lah ya bagaimana chaosnya he he. Terpinggirkan oleh mobil-mobil pribadi dan motor-motor lainnya, saya pun mlipir ke arah paling kiri jalan. Malam sebelumnya hujan, dan jalanan kecil yang beraspal seadanya itu licin oleh tanah merah yang terbawa air hujan dari kanan kirinya yang belum beraspal.
Saat sedikit demi sedikit merayap itulah, entah bagaimana kejadian detailnya, tiba-tiba saja mobil di sebelah kanan saya maju ke arah saya, membuat saya kehilangan keseimbangan, dan terjatuh di ruang kosong di sebelah kanan yang tadinya adalah si mobil tadi. Ish…lebay surabay ya hihihi. Intinya, saat itu saya terjatuh, dengan lutut mencium tanah, hingga celana jeans saya robek dan lutut saya berdarah-darah, membuat kemacetan di belakang saya semakin menjadi-jadi sebelum saya bisa kembali melaju dengan menahan sakit.
Jadi inti postingan ini apa Rin? Hmm…tidak ada sih, hanya sekedar ingin bercerita *plaaaak*.
Selain mengingatkan untuk selalu berdoa dan kemudian berhati-hati saat berkendara, peristiwa itu selalu memberi pemahaman baru bagi saya untuk menghargai waktu, lengkapnya pernah saya tulis di sini *aih malah promosi
*. Disudahi saja kalau begitu ya
Happy Wednesday Pals
Mute
March 20th, 2012 § 39 Comments
Hai temans, apa kabar?
Pernahkah teman menonton film Click-nya Adam Sandler itu? Iya, film komedi yang cukup serius, tentang memiliki sebuah remote ajaib multifungsi yang bisa mem-fast forward, bahkan mem-slow motion-kan adegan di sekelilingmu. Intinya, film ini -secara tidak langsung- mengingatkan sang penonton untuk menikmati hidup di hari ini, di jam ini, di detik ini. Mensyukuri yang sedang -dan atau tidak- terjadi, karena memang waktu tidak bisa dihentikan apalagi diputar ulang.
Tapi Minggu sore, tidak bisa tidak saya ingin sekali memiliki si remote ajaib itu. Saya berandai berkhayal untuk bisa sekali saja menekan tombol “mute” di sana untuk menghilangkan suara-suara menyebalkan di depan rumah. Kenapa? Begini ceritanya temans.
Oh iya, sebelumnya saya mohon maaf, saya tidak bermaksud untuk bersikap SARA atau semacamnya di sini ya. Postingan ini murni tulisan semi curcol saya atas sebuah adegan yang ingin sekali saya mute sekejap minggu sore itu.
Suami saya sedang sakit. Dari Sabtu sore demam, panasnya turun naik turun. Tapi teuteup bandel tidak mau ke dokter, asumsinya hanya flu biasa karena lelah. Ya sudahlah saya minta istirahat saja setelah minum obat warung. Dan seharian itu, saya melakukan ini itu dengan sebisa mungkin menghilangkan semua bunyi dan suara. Radio disetel sayup-sayup, saat menonton TV pun suaranya bisik-bisik, singkat kata, saya berusaha untuk tidak mengganggu waktu istirahat suami.
Nah, setelah lelah menyeterika dan sholat Ashar, saya pun ikut-ikutan merebahkan badan di kasur, syukur-syukur bisa tertidur sebentar. Tapi kemudian terdengar ‘keributan’ di rumah depan yang teramat sangat mengganggu.
Rupanya calon penghuni rumah depan datang berkunjung. Ayah, ibu dan 2 orang anak. Setelah saya intip, yang sulung anak lelaki sekitar kelas 1 SD, adiknya perempuan mungkin 2 tahun lebih muda. Dan ya ampuuuun, berisik! Mereka membawa ‘bekal’ sebuah bola yang (sepertinya) dimain-mainkan ke sana ke mari di rumah yang masih kosong itu. Berlarianlah mereka dengan berteriak menjerit. Si adik merengek minta abangnya membiarkan dia main, si abang juga balas teriak tidak mau, menangislah si adik dengan kencangnya. Kemudian, sang ibu -juga dengan teriakan nyaring- memarahi mereka berdua. Hening sesaat, dan kemudian berulang kembali berulang kembali berulang kembali.
Cerita belum berakhir hingga di situ teman.
Tak berapa lama terdengar suara motor lain mendekat. Kali ini rupanya pak mandor, tukang, atau mungkin kontraktor semacamnya lah yang datang. Si Bapak mengobrol dengan mas-mas yang baru datang ini. Dari percakapan mereka yang terdengar jelas karena suaranya begitu lantang walaupun tanpa toa, keluarga itu rupanya orang Medan, dan si mas-mas ini orang Madura. (sekali lagi, maafkan ya, tidak bermaksud SARA lho). Bercakap-cakaplah bapak, ibu dan mas-mas itu dengan volume maksimal, ditemani teriakan jeritan kedua bocah. Merusak suasana sore yang seharusnya bisa kami pakai beristirahat dengan aman damai sentausa.
Lebay? Iya sih memang
Tapi tetap saja, saya berimajinasi betapa bahagianya jika saya bisa me-mute suara-suara tak diinginkan yang terjadi saat itu heuheu.
Walaupun, selalu ada hikmah yang bisa diambil dari setiap peristiwa. Setidaknya, saya sudah (dipaksa keadaan) mengikuti anjuran Nabi untuk tidak tidur siang setelah Ashar. Setidaknya suami saya akhirnya mau diajak ke dokter karena keributan itu membuat kepalanya pusing bin pening selain panas yang tetap naik turun. Setidaknya kami bisa menyiapkan diri (dan hati), untuk kemudian membiasakan diri jika calon tetangga betul-betul pindah di rumah itu nanti.
Dan yang paling penting, bersyukur atas kedua telinga yang masih diberi kenikmatan mendengar dengan baik ini. Alhamdulillah…
Have a great Tuesday, Pals
PS : Oh iya, sampai hari ini matahari saya itu masih beristirahat di rumah. Panasnya di Minggu sore itu cuma 37 derajat, tapi karena naik turun tetap dikhawatirkan typus. Doakan besok sudah bisa ngantor dan beraktifitas seperti biasa ya temans
29 Februari
February 29th, 2012 § 43 Comments
Judulnya ‘ngga’ banget deh
Tapi tak apa lah ya, karena -seperti biasa- saya memang bingung memberi judul sebuah postingan. Toh 29 Februari juga hanya ada empat tahun sekali, sepertinya layak didaulat menjadi sebuah judul postingan he he. Dan sekedar informasi, postingan ini hanyalah curhat ga penting belaka, silahkan diskip saja jika sedang sibuk
Akhirnya, hari Minggu lalu tanggal 26 Februari 2012, setelah beberapa kali diundur, saya -dan suami tentunya
– resmi menempati rumah ‘baru’ kami. Kenapa ‘baru’ dengan tanda kutip? Karena sebetulnya rumah tersebut adalah rumah lama yang direnovasi sebelum kami beli (baca : cicil). Karena rumah itu baru akan betul-betul termiliki setelah sekian tahun mencicil sekian rupiah tiap bulannya *halah*. Tapi ya disyukuri saja, setidaknya tidak perlu lagi jadi kontraktor. Mudah-mudahan bisa sambil menabung untuk kelak bisa memiliki sebuah rumah impian yang begini dan begitu (yang ikutan meng-Amin-kan saya doakan panjang umur lho hihihi)
Selain keinginan untuk ‘mengisi’ si rumah dengan ini itu, memperbaiki rumah agar tidak terlalu begini dan sedikit lebih begitu, ada yang sedikit saya khawatirkan dengan perubahan baru ini. Yaitu tentang bertetangga.
Saya bukan orang yang pintar berbasa basi-ngobrol-berceloteh dengan para tetangga. Di kostan dulu, di rumah kontrakan kemarin, bahkan di rumah orang tua saya di Majalengka sana, saya jarang sekali berkomunikasi dengan para tetangga. Interaksi saya dengan mereka sekedar menyapa sedikit dan tersenyum ramah, yang sepertinya tidak cukup saya lakukan dalam lingkungan yang sekarang, karena saya sudah betul-betul menjadi bagian dari komunitas ini, bukan?
(Rasanya) saya bukan orang yang sombong kok. Mungkin, lebih tepat jika saya ini cenderung pemalu, sehingga sangat sungkan -dan akhirnya bingung- untuk berbincang banyak dengan para tetangga. Misalnya saja nih, percakapan saya (S) dengan tetangga (T) di rumah kontrakan biasanya hanya seperti berikut :
S : Pagi Bu… (sambil tersenyum)
T : Ngantor mba? (sambil nyapu atau jemur pakaian atau manasin motor/mobil juga)
S : Iya… (tetap tersenyum). Mari bu saya duluan.
T : Mari….
***
S : Rajin Pak… (menyapa si bapak tetangga yang sedang mencuci mobil, dengan tersenyum tentu saja).
T : Iya nih mba, hujan terus.
S : … (Bingung, hanya berhasil nyengir)
T : Baru pulang mba?
S : Iya. Mari Pak saya masuk dulu.
T : Silahkan mba.
Yahh…semacam itulah, garing duraring pisan kaaan?
Eh? masih baca ya? *terharu*. Doakan ya temans, agar ke depannya saya bisa bertetangga dengan lebih baik, sedang belajar untuk lebih ‘cerewet’ nih, mudah-mudahan berhasil
Bangkok Trip
February 24th, 2012 § 39 Comments
Mmm…maafkan kemarahan saya di postingan sebelumnya ya temans. Terima kasih banyak dukungan dan doa baiknya. Saya baik-baik saja kok hehehe *siapa juga yang nanya ya
*
Yeah, Februari akan segera berakhir, dan dengan alasan yang selalu terdengar klise, ‘janji’ saya untuk bercerita ini itu perjalanan saya (1-10 Februari) ke Bangkok tak kunjung terpublish.
Saya tidak ingin lagi menunda, tapi karena alasan klise yang sama, saya pun tak bisa berpanjang-panjang kata *halah*. Maafkan jika hanya foto-foto ini yang mewakili ya temans
This slideshow requires JavaScript.
PS :
Thank you very much for my great friends.
Meena ‘Kookkai’ Namjaidee, Nutchuda ‘Jib’ Sinsuwan, Kornvena ‘One’ Saengchaypiengpen, Sasima ‘Yok’ Kongyoo, Aekarat ‘First’ Ratanachamnong, Chompoonuch ‘Koy’ Nontanum, Wanthani ‘Pae’ Ganchanatharn, Benja ‘Mam’ Suan-anantapum, Watcharin ‘Tack’ Chengchin.
Also Kab san, Deo san, Fai san, Buay san,Pop san, Bright san, Kang san, Ant san, Pui san, Pe san, Preaw san, Ice san, Bung san, Nat san, Tar san, June san, Aom, san, Yagi san, Ananchai san, Tor san …
Glad to have all of you there Pals ^^
*hadeuuuh…ini nama temen-temenku bikin pusing qiqiqiqiqi*
Have a great weekend Pals
Basa Basi Busuk
February 22nd, 2012 § 35 Comments
Maafkan kemarahan yang secara eksplisit tergambar dalam judul postingan kali ini temans. Tapi saya hanyalah manusia biasa yang terkadang sulit (bahkan tidak bisa) menahan emosi negatif. Salah satunya adalah saat seseorang yang tidak terlalu mengenal saya -bertemu pun mungkin hanya bisa dihitung jari, jarang berkomunikasi satu sama lain, dan sebagainya dan sebagainya- tapi kemudian bertanya ini itu sok perhatian yang hanya sekedar basa basi dan tersampaikan dengan rasa busuk di sisi saya. blah!
Astagfirulloh… *tarik nafas panjang*
Well, seperti yang sering diingatkan sang matahari pada saya saat saya uring-uringan seperti ini, bahwa “seseorang terkadang diperankan sebagai ujian bagi seseorang yang lainnya”, maka saya -mau tidak mau- harus memaafkan ya, bahkan mungkin berterima kasih pada si Bapak yang baru saja membuat saya senewen itu, karena sudah ‘menguji’ kesabaran saya. Walaupun sepertinya kali ini saya tidak lulus ujian! ha ha :p
Setidaknya, peristiwa tersebut bisa menjadi peringatan bagi saya, untuk menghindarkan diri dari kekejaman berbasa basi busuk pada sesama.
Sekian.
Ingin Bernostalgia
February 20th, 2012 § 23 Comments
“Kamu ingin ke mana?” Una bertanya padaku. Pertanyaan sederhana, tapi tetap saja aku bingung menjawabnya. Karena rasanya aku ingin pergi ke banyak tempat.
“Maksudmu?” aku malah bertanya padanya. Una memperbaiki letak kacamatanya yang baik-baik saja. Mungkin dia heran akan kebodohanku, yang tidak juga mengerti pertanyaan sederhananya.
“Gini lho mba, aku tuh tanya, kamu kepingin pergi ke mana. Ke Paris kah, ke New York, apa ke Kyoto ngono loh mba. Piye sih gitu aja kok ga dhong.” Ugh, sepertinya Una mulai bete. Tapi aku masih bingung. Paris memang manis, New York juga pastinya seru, Kyoto pun aku yakin cantik.
Tapi keindahan dalam negeri pun baru secuil aku jelajahi. Aku ingin menjejakkan kaki di Bangka Belitung negeri para laskar Pelangi itu. Aku juga ingin sekali menikmati senja di Senggigi, pantai yang sering sekali menginspirasiku. Aku juga ingin mengecap keindahan Karimun Jawa yang katanya eksotis. Aku juga ingin suatu saat bisa bagai Ariel si putri duyung menatap takjub dunia bawah laut di Bunaken. Aku juga ingin…
“Jadi piye mba? Mau ke mana?” Lagi-lagi Una bertanya. Rupanya dia sudah tak sabar ingin tahu aku ingin ke mana.
“Harus sekarang ya Na?”
“Apanya?”
“Jawabnya…”
“Wis ga mau njawab juga ya gapapa toh mba.” Una sudah bete kuadrat hihihi…
“Hmmm…”
“Kalo ngga, mba pengen pergi ke suatu masa ga? masa kecil dulu misalnya, atau malah masa depan gitu?”
“Oh. boleh juga Na?”
“Sakarepmu mba, mau pilih yang mana?” Tiba-tiba jawaban Una memberiku inspirasi.
“Kalo dua-duanya boleh Na?”
“Boleeeehhh.”
“Kalo gitu aku pengen ke kampusku dulu Na, ke zaman aku kuliah dulu. Pengen nostalgia.”
“Hoh?”
“Iya, gara-gara kemarin aku nulis surat buat diri sendiri itu, aku kok ya jadi keingetan masa lalu. Salah satunya ya pas kuliah D3 di sana itu.”
“Emangnya kenapa toh mba sampe pengen ke sana segala?”
“Wahhh…kalo diceritain ya mesti dua hari dua malam toh Na.”
“Lha ya diperpendek aja gitu lho mba.”
“Coba kamu lihat foto ini deh Na, jadul banget kan ya?”
“Walaaahhh…ini mesti masih pake kamera analog ya mba?”
“Persis! Yang ga bisa di delete kalo salah motret ituuuuh.” hahahaha…akhirnya Una berhasil aku buat tertawa. Dan hatiku menghangat, mengingat individu-individu yang tertangkap kamera ini.
“Itu temen-temenmu tah mba?”
“Iya, temen sekelas. Kelas C angkatan 2000.”
“Waduh…aku tahun 2000 masih unyu-unyu mba.”
“Tapi rambutmu udah kriwil kriwil kek gitu toh?” hahahaha… kami kembali tergelak.
“Hayooo…kamu masih inget ga nama-nama yang ada di foto mba?”
“Walaahhh…ngetes kamu? ya hapal lah… nih ya, dari kiri ke kanan yang cewek-cewek itu Indri, Deby, Dina, aku, Iqoh, Dedeh, Nur, Ikhie, Lusy.”
“Eh? kamu masih kurus waktu itu ya mba?”
“Wis toh ga usah diungkit-ungkit soal berat badan.” hahaha… Una menertawakanku
“Beuh ngambek. Trus yang cowok-cowok siapa?”
“Itu Faisal, Asep, Ridwan, Yunan, Yusuf, Budi. Paling depan kaos item itu Lutfi, nah yang ga pake kaos Rangga.”
“Seksi tenan temenmu itu mba, ada yang telanjang dada gitu.”
“Itu anak-anak cowok baru pada maen basket Na, di lapangan depan gedung dekanat. Jadi ya gitu deh.”
“Trus kenapa kok pengen ke sana mba?”
“Sejak lulus aku belom pernah ke sana lagi Na.”
“Walaaahhh… kok bisa?”
“Iyaa, makanya kangen banget aku. Pasti sekarang banyak banget yang berubah. Aku kangen PSBJ, genkan, shokudo, student center, mushola, toshokan, kansas, lab bahasa, tanjakan cinta di sebelah FISIP itu, sampe gerbang UNPAD yang dulu mah dipenuhi tukang martabak mini atau lumpiah basah. Ih…kangen aku.”
“Trus… trus…kenapa pengen ke masa itu mba?”
“Menyenangkan Na. Saat itu hidup selalu terasa menyenangkan. Iya, memang harus tetap bekerja keras sih, banyak PR, kuis, ujian, tapi ya tetap aja ga ada beban. Hidup saat itu hanya untuk dijalani dan dinikmati. Kamu juga ngerasa gitu toh?”
“Ish… ga mau jawab aku mba.” hahaha… kini aku yang menertawakan Una. “Banyak kenangan indah pastinya di sana ya mba.”
“Pastinya Na. Kamu lihat di foto itu, ada 8 orang cewek yang berjilbab kan? Entah siapa yang pertama kali bilang, tapi kita ber-delapan terkenal dengan nama ‘geng thaliban’.” hahaha…aku tertawa mengenangnya.
“Wuihh…serem juga nama gengnya hihihi… ngapain aja sama mereka mba?”
“Wahh…ga terhitung saking banyaknya Na. Kita belajar bareng, makan bareng, tapi ga nyontek bareng lho ya he he. Sering banget bikin keributan, berisik gitu maksutnyah sampe ditegor atawa diomelin dosen. Ah, jadi inget Nani Sensei yang langsung sensi kalo ada kita-kita hihihi.”
“Seru ya mba?”
“Persahabatannya seru banget Na. Makanya ngangenin.”
“Kalo kisah cinta mba?”
“Wis tah, anak kecil jangan nanya cinta-cintaan.”
“Laahhh, ga laku tah?” hahaha…Una menertawakanku, tapi kubiarkan saja. Biarkan ku kenang sendiri pernah menyukai seseorang yang malah jadian sama orang lain, atau para pengagum yang selalu mengejar-ngejarku ituh ha ha. Lucu sekali masa-masa itu.
“Jadi gitu Na, pokonya kalo memungkinkan nih, aku pengen ke kampus Jatinangor lagi, trus ketemu sahabat-sahabatku lagi kek waktu itu. Wuiihhh itu mah pasti membahagiakan banget buatku Na.”
“Oh ngono tah. Jadi kalo aku mau kasih tiket ke Bali ga mau tah?” Canda Una sambil kabur berlari.
“Unaaaa…” Akan aku tangkap dirimu *sigh*



