Tentang Kehilangan

Konon, setiap manusia di muka bumi memiliki ketakutannya sendiri.

Takut gelap. Takut menjadi jomblo selamanya. Takut bertubuh gendut. Takut tidak punya uang. Takut pada kerutan di ujung mata. Takut Ujian Nasional. Takut mati. Takut tidak bisa bangun pagi. Takut hantu dan teman-temannya. Takut bayi yang merengek. Takut pada kecoa. Takut tak bisa bahagia. Takut merasa takut. Takut apa sajalah, kau bisa memilihnya sendiri sesuka hati apa ketakutanmu dalam hidup.

Tapi tentu saja kau tahu apa ketakutan terbesarku.

Ya, aku takut kehilanganmu. Teramat sangat takut hingga memikirkannya pun sanggup membuat tubuhku menggigil, wajahku memucat, air mataku meleleh tak terbendung, dan dalam sekejap nyaris lupa bernapas.

Berlebihan katamu? Mungkin saja, tapi aku tidak mau –dan tidak akan bisa- kehilanganmu. Itu saja. Titik.

“Tapi setiap manusia, pada akhirnya, akan mati, La. Begitu pun aku,” katamu.

“Aku tahu.”

“Jadi izinkan aku pergi.”

“Tapi mungkin kau tak kembali.”

“Mungkin saja. Tapi aku ingin pulang, karena kau adalah rumah bagiku.”

Aku menoleh ke arah lain, tak kuat menatap matamu yang tengah menatap mataku. Memikirkan bahwa besok, atau malam nanti, atau satu jam lagi, atau mungkin beberapa menit ke depan, aku tidak akan bisa memandang mata bening bulat milik Jo itu lagi, membuat hatiku mencelos.

“La?”

Aku tetap menunduk, menatap lantai dan ujung sepatuku, lantas memaksa mataku terpejam. Jika kau tetap pergi, aku tak ingin menyaksikannya.

“Pergilah, Jo,” kataku nyaris berbisik. “Dan tak perlu kembali.”

“Kau sudah berhenti mencintaiku, La?”

“Kau yang tak bisa hidup hanya dengan mencintaiku, Jo.”

Aku beranjak, meninggalkan Jo yang masih mematung tak mengerti.

Aku masih takut kehilangan dirimu. Tapi tak pernah benar-benar memilikimu adalah kehilangan lebih besar yang lebih menyakitkan. Pulanglah pada istrimu, dan biarkan aku jadi pemberani meski memiliki rasa takut.

***
Note : 281 kata, untuk MFF Prompt #48 : Tentang Kehilangan.

About these ads

22 thoughts on “Tentang Kehilangan

  1. wow…. celingkuh ya ternyata, hihihi
    dah lama gak kemari, Teh Orin ganti cat rumah, ciamik. simple tp elegan #apacoba :D
    selalu suka dg gaya bahasanya, love it :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s